Finding my serenity: life & friendship

I thought a lot about life for some time. Gosh, life?

I mean, I thought about what I was currently doing as my job, I thought about how long I would work in that place, I also thought about what vision I had at this time when I decided to attend staff orientation in the middle of this year?

Err, not planning to go further with that, okay, it’s a quite serious topic.

I also think a lot more about people. I just realised I had lost a lot of relationships in my 25. Some of the best friends I had in the past, have really been beyond reach. Some of the people I used to fight for, I have to give up now because in fact, I’m not strong enough to hold them. I had too much to handle right now until I finally had to let go of a few, or maybe this is just…the right time to do so. I used to insist on keeping everything in my hands and the idea of ​​giving them up was a bad thing back then. However, for some reason that kind of thing no longer exists. I begin to accept it.

Maybe my thoughts about these people have taken up more portions in recent days. For example, I no longer have excessive sadness when I see some old friends upload their photos or videos about their lives right now. Though they are the ones who have filled my days with happiness since my elementary days, middle school, high school, and even college days, I’m fine. Before getting to this point, I had several times found myself saddened by the reality that this friendship wouldn’t last long. Not because I don’t love them anymore, but sometimes I feel they also can’t stand this friendship with me. I don’t know of any factors, but that’s the reality I saw. I hope I wasn’t assuming.

I’ve heard people say, the older we get, the smaller our circle of friends. Whether it’s true or not, it looks like it’s going to happen to me, at this perfect now. As someone who struggles to be sincere in any friendship, I initially insisted on rejecting that saying, even though over time, the words sounded even more real. Because it turns out, friendship, a deeper one, demands the same commitment and totality from both parties. If I say I am a friend of someone, I need to think again, do I commit? A question rises then, what standard is used to define whether I am a committed friend or not?

I choose the Bible among many standards that this world has to offer. I could choose other books, but I believe the Bible will explain it more fundamentally to me. Of course. The Bible is the authority that determines all standards in my life. One of the things the Bible says about being a friend is “a friend loves at all times”.

From this point I thought, “have I become a friend who loves at all times?” and if yes, “to whom do I give that love?” These two questions helped me to see whether I was a friend of someone or a handful of people. Then I thought about the next question, “who are the people who love me at all times?”, because hey, they are my friends. Hi, guys-I-have-in-mind!

I am not sad and I won’t be, if I find the fact that only a few people have the same commitment as me about this friendship thingy. Still going to thank God that I have them anyway. They are my literally “through thick and thin” friends. Time reveals.

So, it’s okay to have smaller (s)inner-circle, it’s okay, we’re just human who are too limited to be true. It’s okay to choose the ones you want to keep; make sure to keep those who sharpen you. It’s okay to lose some (not-really-our) friends–in the light of this context–it is really okay. The best we can do is, to love at all times those we choose to be our friends.

Phew, I’m relieved.

Advertisements

Si Sombong

“Humility is perfect quietness of heart. It is to expect nothing, to wonder at nothing that is done to me, to feel nothing done against me. It is to be at rest when nobody praises me, and when I am blamed or despised. It is to have a blessed home in the Lord, where I can go in and shut the door, and kneel to my Father in secret, and am at peace as in a deep sea of calmness, when all around and above is trouble.” 

Ini adalah kutipan dari Andrew Murray, seorang penulis, guru, dan pendeta Kristen Afrika Selatan. Pertama kali membacanya saya merasa kutipan ini berlebihan dan cenderung ke titik ekstrem yang sepertinya tidak akan pernah terjadi. Tetapi beberapa peristiwa belakangan ini menunjukkan kepada saya bahwa kutipan ini bisa menjadi bahan evaluasi yang baik bagi seseorang karena di baliknya ada pernyataan/pertanyaan tersirat yang sebenarnya berujung pada apa yang akhirnya disimpulkan Murray dalam kutipan ini.

Apakah mungkin seseorang mengalami ketenangan sempurna di dalam hatinya (perfect quietness of heart?) Ketenangan bagaimana? Murray melanjutkan.

Ketenangan hati di mana seseorang tidak berekspektasi apa pun–tidak bertanya-tanya pada apa pun yang diperlakukan orang terhadapnya; bisa tidak merasa apa pun yang dilakukan terhadapnya. Kerendahan hati adalah bisa merasa tenang dan beristirahat ketika tidak ada seorang pun yang memujinya, dan ketika pun seseorang itu disalahkan atau dihina.

Apakah hal ini benar merupakan gambar seseorang yang rendah hati? Ya, saya setuju. Lantas apakah orang yang rendah hati adalah orang yang mati rasa? Sebab gambaran ini seolah-olah menunjukkan demikian. Saya mencoba melihat ke diri saya dan apa yang saya alami beberapa waktu belakangan. Ternyata saya menemukan kondisi di mana saya pernah berekspektasi akan sesuatu dan alih-alih memikirkan bahwa tentu kamu butuh ekspektasi, saya malah menemukan ternyata ekspektasi itu berdasar pada alasan ‘agar saya dipandang baik ketika ekspektasi itu dipenuhi.’ BOOM!

That’s what an expectation can do to your life. 

Selain itu saya juga pernah jadi salah satu orang yang ‘baper’ ketika saya menemukan komentar-komentar yang dibuat orang terkait apa yang sedang saya kerjakan. Sebab komentar-komentar itu bukan komentar yang baik–melainkan komentar yang jelek dan membuat saya bertanya-tanya, “Emang saya salah di mana? Kok kamu bisa berpikir seperti itu sih?” Tebak, apa yang sebenarnya menjadi pernyataan terdalam saya?

“Kamu salah! Kamu yang tidak mengerti apa yang saya kerjakan. Kamu pikir saya tanpa pertimbangan memutuskan ini semua?!” BOOM! part 2.

Tadi kita sudah bicara tentang ‘komentar jelek’, lalu melanjutkan apa yang Murray katakan tentang kerendahan hati, saya juga menemukan saya terlalu bahagia ketika ada yang memuji pekerjaan saya dan diberkati oleh pekerjaan itu. Di saat bersamaan, saya juga bertanya-tanya, “Kok hanya segini yang memberi pujian? Kenapa dia dan yang lain tidak melakukan yang sama? Kenapa malah fokus sama hal jeleknya?” Saya mungkin tidak selalu mengatakan ini secara langsung, namun percayalah, ini beberapa isi pikiran saya pada waktu itu.

Pada waktu itu saya bersembunyi di balik kalimat-kalimat rohani seperti, “Harusnya kita bersyukur kepada Tuhan dan bukannya seperti ini”, padahal di hati saya yang terucap sebenarnya adalah “Kamu tidak tahu saya sudah bersusah-payah memikirkan ini dan kamu masih bisa bilang seperti itu? Kamu tidak menghargai saya!” BOOM! part 3.

Sampai di sini, saya sangat sadar, saya bukan orang yang rendah hati. Kenangan buruk di masa lalu membuat saya mudah memahami hal ini. I suffered a lot about humility in the past. Bertahun-tahun menjadi orang yang terbaik di keluarga dan sekolah dengan segudang prestasi telah membuat saya begitu sombong, sebelum kemudian di kelas XI, Tuhan menyatakan kepada saya apa yang dapat Ia lakukan terhadap itu semua. Itu sekolah pertama saya tentang kerendahan hati, di mana ternyata benar apa yang kata orang, “Tuhan bisa mengambil itu semua dalam sekejap.”

Sekolah kedua saya adalah ketika di kampus, masuk sebagai mahasiswa baru dengan 100 mimpi (literally 100 mimpi karena waktu itu panitia OKK UI 2011 mewajibkan kami membuat 100 mimpi–dari mimpi yang masuk akal sampai yang agak gila seperti ‘menonton langsung Piala Dunia 2014 di Brasil pun saya masukkan ke daftar itu. Semua cita-cita baik saya pada masa itu–yang ternyata juga dimotivasi oleh keinginan buruk yakni agar dipandang pintar–harus saya tinggalkan.

Lucu rasanya membayangkan perbedaan antara seorang Elisabeth sebelum dan ketika kuliah. Ah sudahlah.

“…It is to have a blessed home in the Lord, where I can go in and shut the door, and kneel to my Father in secret, and am at peace as in a deep sea of calmness, when all around and above is trouble.” 

Susah ya untuk menjadi pribadi yang rendah hati? Tentu saja. Tetapi saya rasa orang yang malah berfokus dan mengupayakan segala cara dan menganggap itu adalah kunci dari keberhasilannya menjadi rendah hati malah menunjukkan sebaliknya. Menurut saya kalimat terakhir di atas adalah rahasia yang sadar/tidak sadar dimiliki oleh seseorang yang terus bertumbuh dalam kerendahan hati: hubungan yang erat dan dalam antara dia dan Bapa di surga. Karena di sanalah hati manusia menemukan pemuasnya yang sejati: Tuhan, sang pencipta. Tidak akan pernah ia merasa kekurangan apa pun, yang ada hanya damai sejahtera meski di sekitarnya banyak masalah. Mungkinkah ini terjadi? Tentu saja.

Firman Tuhan sudah menyatakannya:

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. —Yohanes 14:27

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.– Filipi 4:7

Seseorang yang mengalami damai sejahtera yang sejati tidak akan pernah memusingkan segala sesuatu yang ujung-ujungnya hanya untuk dirinya sendiri, “aku, aku, dan aku.” Pujian, kritik, apa pun, semua yang ujungnya adalah tentang diri sendiri jelas bukanlah ciri dari kerendahan hati.

True humility is not thinking less of yourself; it is thinking of yourself less.

C. S. Lewis.

Saya bersyukur kutipan ini menolong saya mengevaluasi diri saya dan menawarkan saya cara terbaik untuk terus mengalami pertumbuhan rohani–termasuk kerendahan hati–yaitu berada dalam hubungan yang erat dan dalam dengan Tuhan. Saya tidak perlu menanti-nanti kapan saya akan mendapatkannya karena itu adalah kedaulatan Tuhan semata.

Lagipula, bukankah berelasi erat dengan Tuhan saja itu sudah cukup? Itu adalah rahasia dari segala hal baik yang dapat kita lakukan bagi diri sendiri dan dunia ini.

Setidaknya hari ini saya mengerti satu hal: saya berada di jalan yang tepat. Setidaknya dalam keterbatasan saya, saya yakin tidak ada jalan lain yang lebih baik dari ini. Setidaknya saya dibuat yakin, bahwa Dia yang sempurna tidak pernah salah berencana.

Thank God It’s Monday

Thanking God in this Monday for speaking to my heart.

Firstly from the live-experience this morning when I wanted to buy my breakfast. I was tempted to use online application just because it offered me discount. The problem is, if I was about to buy breakfast online because I ran out of cash money, I could only think about junk-food, like the Big Mac one or the Big Breakfast. Uh-huh, I knew it, I knew it. And, it surely would be more expensive than buying some at Warteg nearby.

I only had 12.000 rupiahs in my pocket. What could I buy with this money?

But I remembered the coins! LOL I have so many coins in my other little pocket for coins and I can even buy Big Mac with those coins but no. So I decided not to buy any junk-food or firstly not using that online application that will exceed my ‘instant’ habit and not testing my patience. I started to take some coins I might need and went out finding breakfast. Turned out, that breakfast worth only 12.000 rupiahs. -_-

God provides indeed. I even still have my coins. Hahahaha.

And the second is from today’s devotional from Jeremiah 9:23-26. From these verses I know that God to whom my praise and devotion go, the God I serve in Jesus name, is the God who indeed exercises kindness, justice, and righteousness. For in these He delights. So if I have any doubt of Him just because I look at my situation that maybe doesn’t look like there is no kindness, justice, or righteousness, that’s not His fault. That’s my limit or my ignorance of not knowing who He says He is.

Therefore, saying that I serve the Lord as such should make me also inherit the attitude of His heart towards what He delights. I must be a servant who delights in goodness, justice and truth. I must hate crime, injustice, and lies. If I am numb about these things, there is something wrong with my understanding of what God has revealed in His word.

Through this contemplation, I am also more convinced of who I am before God. I’m not someone who should boast in my wisdom, in my intelligence, especially in my wealth, because to be honest I’m not rich, friends. Those are not the first ones God delights in, compared to the understanding of Himself. No matter how wise and smart someone is, if she/he doesn’t live a life that pursues God & the understanding of Him in His word, it’s a ‘no’.

This is what makes me love serving students. So that they are not only wise and clever in sciences, but more importantly, they know God, the true and living God, in Jesus name, and that inspires how they use their wisdom and intelligence in this life.

Menyerah

Ketika mengingat bahwa aku akan menyampaikan perenungan firman di weekend doa panitia Retret Koordinator XVIII besok, aku takut. Aku berusaha mengelak. Aku tidak berani mengambil tugas yang begitu penting di tengah kondisiku yang sedang tidak baik ini. Apa yang harus kubagikan? Keyakinan akan bagian firman mana yang harus aku sampaikan? Masalahnya, aku sedang ragu. Aku sedang tidak punya kepercayaan yang kuat bahwa Tuhan sanggup menyelesaikan ini bagiku. Aku sedang bertanya-tanya, apakah ini semua sesuai dengan kehendak Tuhan? Aku bertanya-tanya, Tuhan ada di mana di dalam persiapan retret ini? Kenapa aku sering merasa sendirian dalam mengerjakannya? Kenapa aku sering tertekan di dalam jiwaku setiap kali aku memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan retret ini?

Aku tidak tahu dengan panitia yang lain, tapi ini yang sedang kurasakan. Aku tidak malu mengakuinya. Aku betul-betul sedang berada dalam fase aneh yang jarang sekali terjadi padaku. Aku sampai lupa kapan terakhir kali seperti ini. Beberapa malam belakangan ini kulalui dengan berurai air mata, setiap kali aku mengingat betapa besar tanggung jawab yang kupikul di dalam retret ini. Air mata kian mengalir setiap kali aku menyadari ada begitu banyak ekspektasi yang tidak sesuai dengan realitas. Aku kecewa terhadap beberapa kondisi dan di saat bersamaan aku mengecewakan beberapa orang, mungkin. Aku menangis tiap kali menghadapi pergantian hari karena itu berarti semakin dekatlah hari penyelenggaraan retret ini.

Dalam kondisi yang seperti ini, sulit sekali untukku datang kepada Tuhan di dalam doa yang jujur. Jujur mengakui bahwa si hamba ini telah menjadi begitu lemah dan ragu saat ini. Di kepalanya muncul berjuta tudingan iblis yang berbisik, “berani-beraninya kamu membuat retret dengan tema “Berjumpa dengan Kristus, Memimpin bagi Kristus”? “Kau pikir itu adalah sesuatu yang bisa kau pastikan?” “Kau tahu, kan, perjumpaan itu kedaulatan Allah?”

Sekilas pertanyaan-pertanyaan itu tidak begitu bertentangan dengan firman Tuhan, kecuali 1 kata ulang pertama. “Berani-beraninya”. Kata inilah yang telah mematahkan semangatku berulang-ulang tiap kali aku mengingat apa yang menjadi tema retret ini. Kata inilah yang dimanipulasi iblis menjadi pengguncang imanku.

“Berani-beraninya.”

Di tengah keraguan dan ketakutan yang ada, aku bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apakah Engkau menerima keberadaanku saat ini, yang sedang terus bertanya-tanya kepada-Mu? Tuhan apakah Engkau akan memaklumi kondisiku & membawaku keluar dari sini? Tuhan, adakah seorang hamba tidak boleh mengalami kebingungan-kebingungan akan pelayanannya?”

Aku melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu sambil terus membuka Alkitabku, sekilas membaca judul-judul perikop yang tertangkap mataku.

Sampai kemudian aku tiba pada Mazmur 131. Hanya 3 ayat, namun 3 ayat yang menyimpulkan apa yang kuperlukan saat ini.

Menyerah kepada TUHAN, itulah judul perikop ini. Itulah aku, itulah yang sebenarnya dilontarkan hatiku yang terdalam. Itulah yang sebenarnya menjadi ucapan batinku di balik semua ragu & tanya yang tersampaikan mulutku. Aku menyerah kepada-Mu, Tuhan. 

Mazmur 131

Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Bagian pembuka Mazmur ini menggambarkan kerendahan hati layaknya seorang yang beriman: hati & matanya tidak ia angkat sebagaimana ekspresi dari kesombongan dan kebanggaan diri. Dia juga tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang terlalu besar dan ajaib baginya–dalam arti–segala hal di luar kesanggupan pemahaman manusia. Seperti apa yang dimaksudkan di dalam ayat ini:

Ulangan 29:29 

Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.

Hal-hal besar dan ajaib bagi Pemazmur bukan tentang apa yang bisa dilihat mata, bukan hal yang masih berada dalam jangkauannya sebagai manusia, melainkan sebaliknya, apa yang tidak lagi menjadi bagiannya. Aku teringat dengan lagu ini: I stand in awe of You.

You are beautiful beyond description. Tuhan, Engkau indah, melampaui segala deskripsi.
Too marvelous for words. Terlalu menakjubkan untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Too wonderful for comprehension. Terlalu hebat untuk dipahami.
Like nothing ever seen or heard. Bagaikan sesuatu yang tidak pernah dilihat atau didengar.
Who can grasp you infinite wisdom? Siapa yang bisa memahami hikmat-Mu yang tak terbatas?
Who can fathom the depth of your love? Siapa yang bisa mengukur kedalaman cinta-Mu?
You are beautiful beyond description. Engkau indah, melampaui segala deskripsi.
Majesty enthroned above. Keagungan yang dinobatkan di surga.

And I stand, I stand in awe of you. Dan aku berdiri, berdiri dalam kekaguman akan Engkau.
I stand, I stand in awe of you. Aku berdiri, berdiri dalam kekaguman akan-Mu.
Holy God to whom all praise is due. Allah yang Kudus, yang kepada-Nya seluruh pujian disampaikan. 
I stand in awe of you. Aku berdiri dalam kekaguman akan Engkau. 


Aku mengizinkan iblis menakut-nakutiku dengan tudingan “berani-beraninya kamu membuat retret dengan tema “Berjumpa dengan Kristus, Memimpin bagi Kristus”? “Kau pikir itu adalah sesuatu yang bisa kau pastikan?” “Kau tahu, kan, perjumpaan itu kedaulatan Allah?”

Sekali lagi kutekankan, kata “berani-beraninya”. Kata-kata ini seolah membuatku memikirkan ulang apa yang sudah kudoakan dan kupersiapkan dalam retret ini. Dalam beberapa malam ketika tudingan ini terlintas, aku mengakui bahwa aku menjawabnya dengan “aku tidak berani, aku takut.” Padahal, yang pertama-tama adalah, itu sama sekali bukan tudingan yang tepat dalam konteks retret ini. Ini bukan tentang berani atau tidak berani, ternyata.

Perjumpaan dengan Kristus jelas bukan dalam kendaliku. Perjumpaan dengan Kristus jelas tidak pernah bergantung padaku, itu betul, sepenuhnya kedaulatan Allah. Ini adalah salah satu hal yang sudah jelas, seperti pemazmur katakan, hal yang terlalu besar dan terlalu ajaib bagiku, dan aku tidak sepatutnya menyibukkan diriku dengan itu.

Berani-beraninya? Ini bukan tentang berani/tidak. Ini tentang mengerti betul bahwa semuanya adalah kedaulatan Allah, dan kami sebagai panitia hanyalah mereka yang mempersiapkan ruang bagi perjumpaan itu. Berjumpa dengan Kristus dan Memimpin bagi Kristus adalah doa kami seraya kami mempersiapkan ruang-ruang perjumpaan.

Yesaya 55:6-7

Seperti kata Ulangan 29:29 tadi, apa yang dinyatakan ialah bagi kita… maka inilah salah satu yang Ia nyatakan: umat diminta mencari-Nya selama Ia berkenan ditemui, diminta berseru kepada-Nya selama Ia dekat…. sebab Ia memberi pengampunan dengan limpah-Nya.

Kami hanyalah orang-orang yang menyediakan akomodasi, transportasi, ruang-ruang ibadah, pelayan firman, pemimpin pujian, pemusik, dan pendoa di mana peserta dapat mencari Allah, di mana peserta dapat terus berseru kepada Allah. Kami hanyalah orang-orang yang menyiapkan tempat tidur terbaik serta makanan dan minuman yang bergizi agar mereka bisa beristirahat dengan baik dan bisa mencari Allah dengan segenap kekuatannya.

Kami hanyalah orang-orang yang mencari dana agar semua ini dapat disediakan.


Aku tidak perlu takut lagi. Ini bukan tentang berani-beraninya, atau tidak berani-tidak beraninya. Ini adalah soal mengerti betul apa yang Allah nyatakan dalam firman-Nya dan mengimani hal tersebut. Karena yang kutahu, terlalu tidak terbatas hikmat-Nya dan terlalu dalam kasih-Nya. Ketakterbatasan dan kedalaman itu pun melampaui apa yang bisa kuukur dan kubayangkan. Di luar deskripsi apa pun tentang berhikmat dan kasih. “Berjumpa dengan Kristus, Memimpin bagi Kristus” adalah doa yang kami sampaikan sebagai anak-anak Allah kepada Bapa kami di surga. Kami tahu relasi inilah yang membuat kami dapat menaikkan doa dan kerinduan hati kami kepada-Nya.

Kami anak-anak-Nya, Dia adalah Bapa kami.


“Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.”

Pemazmur telah menenangkan dan mendiamkan dirinya seperti seorang bayi yang begitu tenang dalam pelukan ibunya, hanya dengan adanya kehadiran sang ibu di dekatnya. Seperti itulah sepatutnya orang yang benar dan yang beriman kepada Allah di mana ia dapat tenang dalam hadirat Allah, bahkan sekalipun ia memiliki banyak hal yang ia harapkan dapat dijelaskan Tuhan kepada-Nya.

Ketenangan dan keyakinan seperti itulah yang membuat pemazmur dapat mengatakan ayat ke-3 ini: Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya! Ia meletakkan pengharapannya pada seorang Pribadi, Pribadi yang tepat, bukan pada hal-hal yang ia sibukkan. Bukan pada hal yang bukan Allah.

Tentu, inilah yang juga kini menjadi keyakinanku dalam mempersiapkan retret ini. Aku tidak akan lagi menyibukkan diriku dengan perkara-perkara yang tersembunyi yang merupakan milik Allah. Aku akan berdiam dengan tenang di dalam hadirat-Nya dan berharap penuh kepada Allah, Pribadi yang setia, Pribadi yang tidak berubah. Pribadi yang tetap mencari anak-anak-Nya yang hilang, Gembala yang tetap mencari domba-dombanya yang hilang, yang mungkin saja ada di daftar peserta retret ini.

Aku berharap kepada-Mu, Tuhan!

Aku menyerah, untuk berserah, pasrah sempurna kepada Allah.

Soli Deo Gloria.

 

 

AUSSIE 2018

I wanted to post this picture to my Instagram feed, thought it was really beautiful and yeah quite fancy but I didn’t. Because I want to keep this ‘excitement’ just for me and that means, I am the one & only human being who knows what’s behind these pictures (and many more pictures in my gallery).

First of all, this is not a holiday for me. I was attending a training for student ministry in Australia located in Canberra, specifically in Exhibition Park in Canberra, or EPIC. And yes that’s superbly epic to be one of more than 2000 participants in this training. Second, I think some people think this was for free and I just need to get my bags off and, voila! This is Australia. No, it wasn’t. Me & my friends do fundraising and use our own (little) money because we’re not going to Bogor. Third, it’s not full exciting experiences I had there actually, to be honest, some are sad and on some nights my heart screamed “I want to go homeeee!” I still remember those days in Clovelly. Oh and that screaming happened in Randwick Avenue Apartment by the way.

But, I still want to thank God for this opportunity. You know guys, there was a lot of things happened that made me feel like it’s not going to happen. Even right before our departure, I left my phone in online car transportation, overweighed baggage, late check-in, but He made it through. I also thank God for speaking to me in every kind of situation there. I went with questions and thankfully go back with answers. I have faith that this training will help me much here in Indonesia.

Sincerely,

Missing Macquarie and Epping so much.

16.43 WIB

My life is being surrounded by influencers. Entah itu di dunia maya atau pun tidak. Mereka adalah orang-orang yang aktif di bidangnya masing-masing dengan kesukaannya masing-masing. Mereka membuat instagram story tentang kegiatan yang mereka ikuti atau tentang pendapat mereka atas sebuah isu (atau beragam isu). Mereka mengunggah foto-foto likeable di feed instagram mereka–foto-foto yang sangat inspiratif, menggugah keinginan untuk membaca caption mereka yang panjang-panjang dan kemudian meletakkan komentar: “panutanqu”, atau “junjunganqu”, atau “inspirasiqu” di unggahan tersebut. Sorry, not being sarcastic, I try.

Sementara aku? Jika kulihat-lihat lagi feed instagram-ku, kebanyakan isinya adalah foto diriku sendiri dengan caption yang mengundang emosi: karena tidak lucu. Belakangan ini aku memang jarang berminat nge-post sesuatu yang serius-serius dengan caption panjang-panjang andalanku, atau menunjukkan isi kegiatanku (yang kebanyakan adalah pelayanan ke sekolah/kampus di sekitaran Jakarta), atau opiniku terhadap isu-isu yang sedang banyak di bangsa ini. Jujur saja, aku tidak tertarik lagi melakukannya. Aku juga bingung apa alasannya.

Berulangkali aku ingin seperti teman-teman yang aktif tersebut, misalnya dengan menceritakan apa yang sedang kukerjakan di sepanjang hari, merekam jejak-jejak pelayananku setiap hari, mengunggah foto-foto inspiratif berjudul pendapatku terhadap situasi terkini bangsa, dan sebagainya, namun kuurungkan juga niat itu. Entahlah, aku sedikit bermasalah dengan motivasiku belakangan ini. Setelah kutelaah lagi isi hatiku, tidak kutemukan ketulusan di beberapa motivasi tersebut. Tidak jarang bahkan, aku hanya ingin memeroleh ‘perhatian’ lewat respons orang-orang; baik melalui like maupun komentar mereka. Bahkan, pernah juga aku ingin melakukannya agar followers-ku bertambah. Ya, ini adalah salah satu kelemahanku. Sejak kecil aku sering berada di mana ‘spot-light’ berada sehingga aku mudah tergiur untuk melakukan hal-hal yang mengundang perhatian seperti itu.

But please don’t mess my sharing with any comment like “tapi kan sebagai seorang Kristen kamu memang harus ‘terlihat’?” Karena ini bukan tentang itu, namun tentang motivasi. Ini mirip dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus ketika Ia berkhotbah di bukit tentang ‘tidak melakukan kewajiban-kewajiban agama (seperti bersedekah dan berdoa) dengan tujuan untuk dilihat orang’. So, to me, if I do something, it has to be such work that I do with enthusiasm, as to the Lord and not for people. Masalahnya bukan terletak pada ‘aku tidak mau dilihat orang’ namun terletak di ‘kenapa aku mau dilihat orang’, dan yang terakhir ini benar-benar menggangguku.

Not saying it’s everyone’s problem, maybe it’s just me, but I’d rather stop than continuing in such manner. To be honest, I’m done thinking myself to influence people, that’s not the case. My being is already influential, because I’m saved and I’m the salt and the light of the world. It’s not what I do that makes me influential, it’s why & how I do it. Itu yang membedakan semua buah yang akan dihasilkan dan kepada siapa hormat & kemuliaan itu dihaturkan. God knows, surely knows, buddies.

Ini sangat membebaskanku. Aku tidak lagi tertekan terhadap tuntutan-tuntutan generasi atau zaman di dunia tanpa batas ini, aku dianugerahkan hikmat dan Roh Kudus yang terus-menerus sanggup memurnikanku dari segala motivasi buruk dan menuntunku kepada apa yang harus kulakukan di dalam hidup ini, serta tentunya bagaimana aku melakukannya.

Kalau aku hidup, aku hidup untuk memberi buah dan itu tidak bergantung pada platform mana yang kugunakan (sekalipun setiap platform dapat berkontribusi sesuai levelnya masing-masing).

I don’t want to just influence, I want to give, to truly give my life to other people. I don’t want to just influence, I want to sow even if none truly cares, none considered it’s influential.