The primary thought in the area of religion is— keep your eyes on God, not on people. Your motivation should not be the desire to be known as a praying person. Find an inner room in which to pray where no one even knows you are praying, shut the door, and talk to God in secret. Have no motivation other than to know your Father in heaven. It is impossible to carry on your life as a disciple without definite times of secret prayer.

Saturday, September 16.

utmost.org

Advertisements

Doa untuk RPI PO FHUI 2017

Kepada Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus,

Tritunggal mahamulia, pemilik hidup dan segenap keberadaanku.

Ya Tuhan, aku bersyukur kalau akhirnya, setelah melalui banyak tantangan, Engkau tetap mengizinkan retreat ini diadakan kembali di tahun ini. Engkau tahu bahwa tadinya jadwal retreat ini bentrok dengan EPT UI yang membuat kami belum mendapat kepastian sampai H-2, apakah RPI dapat tetap diadakan dengan jadwal semula/tidak. Engkau tahu kekhawatiran yang ada saat itu. Kekhawatiran yang membuat kami justru semakin kuat di dalam doa, baik sesama mahasiswa maupun alumni. Kekhawatiran yang justru membangunkan iman kami dan mengajar kami berserah kepada-Mu. Engkau juga yang tahu kelelahan yang didera adik-adikku panitia untuk membicarakan hal ini ke Dekanat.

Engkau juga yang tahu betapa bersukacitanya kami ketika mengetahui bahwa jadwal EPT-lah yang akan disesuaikan dan kami dapat tetap RPI dengan jadwal dan persiapan yang sudah ada. Engkau yang tahu, Tuhan.

Tuhan, aku bersyukur kalau melalui peristiwa itu Engkau mau menunjukkan otoritas dan kehendak-Mu. Bahwa Engkaulah yang paling rindu mahasiswa baru PO FHUI 2017 dapat mengikuti retreat ini & mendengarkan Injil. Bahwa Engkau sangat mengasihi mereka satu per satu, dengan kasih yang besar dan tidak terbagi.

Tuhan, aku bersyukur karena dengan menyadari kerinduan hati-Mu, kami, aku pribadi semakin menyadari pula bahwa ini semua adalah anugerah. Aku sudah menyaksikan penyertaan-Mu atas PO FHUI sejak 2011. Aku menyaksikan bagaimana persekutuan ini mengalami kekeringan yang sangat memilukan di tahun-tahun awal aku menginjakkan kakiku di sana. Tetapi aku juga menyaksikan bagiamana persekutuan ini Engkau bawa pada pengalaman iman yang hebat. Engkau mengerjakan banyak sekali hal baik bagi PO FHUI, ya Tuhan. Engkau mengizinkan kami menyaksikan pertumbuhan rohani yang Engkau adakan di sana.

Tuhan, aku mau bersyukur atas kesempatan melihat dan mengalami penyertaan-Mu itu. Aku bersyukur karena aku dapat mengimani bahwa di tahun ini pun Engkau akan menunjukkan penyertaan-Mu bagi PO FHUI. Engkau akan menjaga dan merawat setiap maba sejak RPI ini ketika di dalam doa kami, mereka dapat menerima Injil dan percaya kepada Yesus.

Tuhan, aku berdoa, adakanlah pertobatan bagi maba PO FHUI 2017 ini. Bangkitkanlah angkatan ini menjadi angkatan yang mengasihi Tuhan lebih dari apa pun dan membenci dosa lebih dari apa pun. Biarlah dari angkatan ini lahir mahasiswa-mahasiswi yang menyadari betul anugerah keselamatan dari-Mu dan berjuang mengerjakan keselamatan itu di dalam hidupnya. Biarlah dari angkatan ini lahir banyak hamba yang juga rindu melayani-Mu di kampus, melalui PO FHUI.

Tuhan, kuatkanlah juga hati adik-adikku yang melayani sebagai panitia, pengurus, dan PKK. Kiranya mereka pun Kau anugerahkan hati seorang hamba. Kiranya mereka pun mengalami pengenalan yang benar akan Engkau melalui setiap musim hidup mereka, terlebih ketika mereka Kaupakai untuk melayani di RPI ini.

Segala hal dapat kuminta, namun terlebih indahlah yang ada di dalam rancangan-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus yang berkuasa, aku berdoa.

Amin.

Tidak banyak yang akan menyangka bahwa di balik kehebohan seorang Elisabeth dan juga kejayusannya, sesungguh-sungguhnya setiap malam ia banyak menghabiskan waktu untuk merenung yang sering berujung pada tangisan. Apa lagi sejak beberapa bulan ke belakang ini. Kalau dihitung-hitung, rasanya ada banyak hal yang membuatku bersedih, bukan hanya di kantor, namun juga di kehidupan pelayanan rohani.

Rasa-rasanya aku ingin menguraikan semua kesedihan itu dengan mendetil di halaman ini, namun kubatalkan karena jika kulakukan, tidak mungkin aku tidak ‘mencemarkan’ mereka di ranah publik seperti ini—dan tentulah itu tidak pernah merupakan pilihanku. Biarlah kesedihan itu diselesaikan di tempat pribadi dan sekarang aku berfokus pada bagaimana aku mengahadapinya. Ini bukan kesedihan satu atau dua hari, melainkan kesedihan sejak berbulan-bulan lalu. Aku tidak tahu apa kalian bisa membayangkan seberapa ‘berat’ pikiran dan hatiku saat ini dan tentunya, seberapa ‘lega’ aku ketika itu berhasil diangkat dariku.

Hal pertama yang kulakukan manakala kesedihan demi kesedihan itu datang adalah berdiam diri. Ini kulakukan bukan hanya karena aku seorang INFJ (lah emang INFJ suka diem -_-), haha, tetapi memang karena aku percaya bahwa di dalam diam itu aku bisa menenangkan diriku, menelisik apa yang sedang terjadi dan memilah-milah, mana yang pantas disedihkan dan yang tidak. Banyak orang tidak mengerti mengapa aku diam, sebagian mungkin menganggap aku sedang marah, semarah itu. Padahal tidak demikian adanya. Diam tidak sama dengan marah. Diam justru merupakan salah satu bentuk penundukan diri yang bisa membuka ruang penyerahan diri yang lebar bagi intervensi Roh Kudus agar tidak diam-diam lalu stress dan depresi. Diam bagiku adalah langkah menguasai diri supaya tidak jatuh dalam dosa.

Di dalam masa-masa diam itu aku mendengar tangisan hatiku dengan lebih jelas dan mendengar apa yang Tuhan ajarkan di sepanjang tangisan itu. Ya, aku bersyukur, melalui itu aku mengerti bahwa yang kutangisi ini memang patut ditangisi dan tentunya, patut diperjuangkan kembali. Memang ada beberapa hal yang sampai saat ini belum dapat kumengerti dan tentunya belum bisa membuatku melangkah lebih jauh. Yang kumengerti adalah di dalam ketidakmengertian pun, aku tetap harus taat pada firman Tuhan. (Mau tidak mau harus ada sedikit clue ternyata) Meskipun sulit dan menyakitkan, pemuridan harus tetap dikerjakan dengan kerendahan hati dan kebergantungan penuh kepada Allah. Meskipun aku dihina dan kepadaku difitnahkan segala yang jahat (lah, berlebihan, tapi ada benernya dikit), tetapi aku harus tetap mengampuni dan maju mengasihi. Meskipun pekerjaan menumpuk dan menguras energi, aku harus tetap bersyukur dan mengevaluasi diri. Meskipun tidak ada yang tampaknya sungguh-sungguh memberi perhatian kepadaku, tetapi aku harus tetap taat pada Allah yang perhatiannya berlimpah-limpah bagiku, dan tidak menjadi manja di hadapan dunia ini.

Tempat di sekitarku gelap sekali, aku tidak boleh bersembunyi di bawah gantang.

Akhirnya, di dalam waktu diam dan menjadi tenang itulah aku pun mampu berdoa. Biarlah Tuhan saja yang tahu seberapa cengengnya Elisabeth dan seberapa rumitnya pikirannya, serta seberapa bapernya hatinya. Biarlah Tuhan sendiri yang mendidik Elisabeth juga di masa-masa bersedih ini dan menunjukkan apa yang harus dilakukannya, ke mana ia harus melangkah, mengapa ia harus melakukan ini dan itu. Di dalam doa-doa itu juga aku justru menyadari bahwa jawaban doa tidak lebih utama daripada Allah. Dialah kekuatan hatiku dan bagianku selama-selamanya.

Dengan demikian, aku bersyukur atas semua kesedihan yang sudah terjadi belakangan ini—terutama kesedihan yang sedikit memendungi momen EARC 2017 kemarin. Karena melalui itu aku justru semakin melihat bahwa memang hanya Tuhanlah yang menjadi kekuatan dan bagianku. Kekecewaan karena manusia justru konfirmasi besar bahwa hanya Tuhan yang dapat diandalkan dan hanya Ia tempat berlindung. Dengan demikianlah kutanamkan di dalam hatiku bahwa di dalam dunia ini aku akan bersedih selalu, namun hatiku akan dikuatkan-Nya karena Ia telah mengalahkan dunia.

Damai sejahtera Tuhan bagiku dan bagimu.

PHDT: Pizza Hut Delivery Tips – 2

Maafin judulnya, ya.

Setelah pernah menulis tentang PHDT (Pasangan Hidup Dalam Tuhan) pada 2015 lalu (silakan klik di sini untuk membaca), saya merasa perlu menulis lagi versi lanjutannya di blog ini. Alasannya sederhana, saya merasa perlu membebaskan pikiran-pikiran dan perasaan saya mengenai hal ini; menguraikan benang kusut di kepala saya serta berharap setidak-tidaknya saya mengerti dengan lebih jelas apa yang saya tahu dan alami tentang ini. Jadi, mari kita mulai!

Bermula pada obrolan-obrolan yang membangkitkan ingatan saya akan beberapa kesedihan di masa lalu, saya memutuskan untuk membereskan ingatan-ingatan tersebut agar tidak lagi menorehkan luka baru di hati saya saat ini. Inilah cara saya membereskannya:

Dulu saya menganggap bahwa jawaban “tidak” yang berasal dari Tuhan adalah kesedihan yang begitu besar yang implikasinya terhenti pada saya dan diri saya sendiri: tentang bagaimana saya harus menangisi hal tersebut, menjalani hari-hari dengan ketegaran yang dibuat-buat, serta impian-impian agar segera melupakan dan move on. Betapa sempitnya cara saya melihat pekerjaan dan kedaulatan Tuhan pada masa itu. Saya berpikir ini semua tentang saya saja, padahal ini pun adalah tentang Tuhan dan apa yang mau Ia lakukan untuk menggenapkan rencana-Nya.

Ini adalah tentang Tuhan dan apa yang mau Ia lakukan untuk menggenapkan rencana-Nya.

Kalau Tuhan tidak ingin saya berpacaran dengan dia, tentulah itu karena Tuhan ingin menggenapkan rencana-Nya bagi saya–dan rencana-Nya selalulah damai sejahtera, bukan kecelakaan. Di bagian mana saya punya justifikasi untuk terlarut dalam kesedihan? (cie, larut, kayak garam)

Sudah, saya sudah menangis, bahkan, banyak menangis untuk hal itu. Sudah, saya pun sudah lama sekali berhenti menangisinya. Semua itu karena Tuhan menaruh di dalam hati saya damai sejahtera yang Ia maksudkan. Sehingga sekalipun obrolan-obrolan pembangkit cerita itu datang lagi, saya sudah tidak merasakan lagi kesedihan yang sama. Malahan saya bersyukur dan bisa berkata, “memang harus seperti ini ya, Tuhan.”

Oke, kembali ke Tuhan yang mau menggenapkan rencana-Nya, termasuk melalui relasi anak-anak yang dikasihi dan mengasihi-Nya.

Saya tidak tahu dengan kalian, tetapi bagi saya, jauh di dalam lubuk hati saya, saya selalu rindu pada akhirnya nanti akan memiliki pasangan hidup yang juga melayani Tuhan dan sesama–spesifik sekali, yakni menggembalakan sesama. Saya berdoa kepada Tuhan semoga ini bukan ambisi pribadi namun memang respons saya terhadap panggilan Tuhan bagi saya dan pasangan hidup saya nantinya. Terlepas dari apa pun yang kami kerjakan, mandat Injil tetaplah harus kami lakukan. Itulah doa dan kerinduan hati saya. Sepertinya terlalu tidak tahu diri jika saya berhenti meneruskan kasih Tuhan yang menyelamatkan saya dan yang menganugerahkan hidup yang sangat berharga dan kekal ini.

Dengan itu jugalah saya akan menguji calon pasangan hidup yang Tuhan izinkan berlalu-lalang di masa belum menikah ini. Kalau kita mengerti betul hal di atas, saya rasa kita akan lebih objektif dalam menjalani hari-hari dan tidak akan membiarkan perasaan semata (sehidung, setelinga) memimpin kita. Secara individu, kita sebaiknya sudah sadar bahwa kepuasan sejati kita hanya ada di dalam Tuhan, bahwa mengenal Dia secara pribadi dan mengalami kuasa kebangkitan-Nya adalah satu-satunya kemegahan kita, bahwa yang menjadi tempat perlindungan dan sumber kekuatan kita adalah Tuhan saja, serta tidak ada yang kita sembah selain Tuhan. Apa yang membuat berpacaran (dan bahkan menikah) mengubah iman dan pengakuan-pengakuan kita tersebut? Tidak ada. Pasangan yang tidak membuat kita semakin mengimani dan melakukan hal-hal tersebut bukanlah pasangan yang tepat. Hubungan pacaran dan pernikahan nanti haruslah mengarahkan kita untuk semakin mengasihi Tuhan yang terutama dan semakin taat kepada-Nya.

Ini jugalah yang akan menentukan sikap hati dan penundukan kita dalam menetapkan kriteria pasangan hidup. Cantik? Ganteng? Pintar? Berwawasan luas? Banyak uang? Satu suku? Satu Nusa? Satu Bangsa? Satu Bahasa Kita? Apa pun itu, jikalau kita melupakan kriteria yang paling menentukan separuh hidup kita yakni apakah (singkatnya) ia seorang murid yang mau bertumbuh dan yang setia pada Tuhan/tidak–kita akan tertatih-tatih memenuhi panggilan Tuhan dalam hidup kita. Banyak orang menempatkan kriteria-kriteria sekunder sebagai yang utama dan menggampangkan kriteria kerohanian. Bahkan, menyamakan kebaikan-kebaikan moral dengan pertumbuhan rohani di dalam Tuhan.

Ini jugalah yang akan menentukan tindakan, kesabaran dan kewaspadaan kita akan penantian pasangan hidup yang sungguh-sungguh dari Tuhan, bukan dari setan. Kita nggak akan terburu-buru dalam bertindak, tidak akan merasa hopeless kalau di usia segini belum punya pacar, dan bahkan tahu kapan harus memulai lebih dahulu (uhuk! cemangat ea!). Ketika kita menyadari bahwa kita sedang mencari partner untuk mengusahakan berbagai hal dalam mengerjakan panggilan Tuhan, segera saja kita akan menempatkan gengsi dan ego diri sendiri ini di nomor ke-sekian. Ini untuk Tuhan, kan?

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya bahas lagi, tetapi saya hentikan di sini saja. Kalau ada yang ingin bertanya, silakan di kolom comment, ya!

Selamat mencari dan menguji!

EARC 2017 – Bagian 1

Ada yang menarik ketika saya mengetik judul tulisan ini: saya tersenyum lebar dan benar-benar merasa bahagia. Tidak seperti kebanyakan tulisan saya yang lain yang kemungkinan besar diawali dengan kening berkerut. Hehe :/

EARC (East Asia Regional Conference) 2017 adalah salah satu doa saya yang dikabulkan Tuhan. Tahun lalu, tepatnya pada bulan Oktober, saya sempat berbisik di dalam hati & berdoa agar saya diikutsertakan ke EARC 2017 yang diselenggarakan di Korea Selatan. Ketika itu saya spontan saja berdoa sehabis mendengar bahwa EARC akan diadakan kembali. Saya juga belum sempat menyelidiki apa motivasi saya di kala itu–dan nggak lama kemudian, saya berbisik lagi, "Ah, itu kan untuk mahasiswa. Kamu siapa, Beth?" Saya tidak berharap banyak dan memilih melupakannya saja.

Rupanya Tuhan menjawab doa tersebut dan mengizinkan saya diikutsertakan sebagai salah satu peserta perwakilan Indonesia untuk diperlengkapi dengan berlimpah-limpah melalui acara ini. Saya sangat yakin Tuhan nggak main-main melibatkan saya di sini. Ya sekalipun rencana-Nya tidak bergantung pada yakin/tidaknya saya, sih. Saya bersyukur dan tulisan ini adalah salah satu wujud rasa syukur saya kepada Tuhan karena di sini saya akan merangkum beberapa hal yang mengena di hati saya sebagai pengingat pribadi, serta berharap mereka yang membaca juga beroleh berkat.

Saya akan membaginya ke dalam 2 bagian: bagian 1 adalah tentang apa yang berkesan secara personal kepada saya melalui bible exposition & plenary session, dan bagian 2 adalah tentang all the fun I had in EARC.

Selamat membaca!

Karakter Nabi Yeremia
Yeremia adalah seorang nabi yang kreatif. Kreativitasnya ditunjukkan melalui caranya menyampaikan firman TUHAN: drawing pictures, making images, & using poetry. Ia juga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kondisi masyarakat (punya passion terhadap orang-orang), serta memiliki keyakinan yang kuat akan panggilannya. Belajar dari Yeremia, saya perlu mengenali dan mengevaluasi diri sendiri, apa yang saya belum miliki? Saya rasa ini penting mengingat konteks yang ada saat ini tidak persis sama dengan yang dihadapi Yeremia. Sebagai utusan Tuhan dalam melayani sesama, saya yakin Tuhan ingin kita menjadi relevan agar firman-Nya tetap dapat diterima tanpa mengurangi kedalaman pesannya. Lagi, sudah jarang saya berpikir kreatif untuk menyampaikan firman Tuhan–padahal itu dapat mempermudah sesama saya dalam memahaminya. Saya memilih menyampaikannya plek-plek-an saja tanpa memerhatikan apakah cara itu membuat sesama saya mengerti maksud Tuhan dalam firman tersebut. Saya menyadari bahwa seseorang yang mau menyampaikan firman Tuhan adalah seseorang yang tidak boleh tidak berpikir panjang dan dalam, semata-mata demi keutuhan firman dapat tetap disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. It's not enough to be masters in the word of God, we need to be also masters in the world of God.

The Weeping Prophet
Lima puluh tahun Yeremia menyampaikan firman TUHAN dan tidak ada satu pun yang percaya. Mereka memilih percaya kepada nabi-nabi palsu yang menyampaikan hal-hal palsu. Tetapi Yeremia tetap bertahan pada panggilan Tuhan baginya: menyampaikan apa yang TUHAN taruh di dalam hatinya. Yeremia banyak menangis dan kesal di sepanjang pelayanannya karena perilaku orang-orang ke mana TUHAN mengutusnya. Sekalipun begitu, Yeremia terus saja menyampaikan kebenaran. Truth matters than popularity. Dia ditolak, mengalami kesendirian, dihina, bahkan dipenjara dan hampir dibunuh, namun hal itu tidak membuat Yeremia mencari jalan aman. Benar adanya bahwa, we cannot follow God and stay on the margins & we cannot be disciples while staying neutral.

God is a God that can be provoked into anger
Yeremia adalah nabi yang serius merespons dosa yang dilakukan bangsanya. Dia menyampaikannya dengan jelas dan eksplisit. Tidak ada yang diperindahnya. Dosa pada hakikatnya adalah busuk, dan itulah yang ia ungkapkan. Rupanya status "bangsa perjanjian" telah dilupakan oleh bangsa pilihan ini dan mereka hanya mau berkat Tuhan tanpa ketaatan. Sungguh mirip dengan kita, ya? Yeremia menjadi utusan TUHAN untuk menyampaikan bahwa Ia marah akan dosa-dosa mereka dan jangan pikir itu membuat Allah terlihat jahat; justru itu adalah konfirmasi kasih-Nya kepada umat.

Knowing God means doing justice
Eksploitasi orang-orang yang lemah bukanlah hal baru. Kitab Yeremia sudah mencatatkan hal itu sebagai dosa yang dilakukan oleh umat TUHAN dan Ia membenci hal tersebut. Ia adalah Allah yang adil. Siapa pun yang mengaku mengenal Allah haruslah menegakkan keadilan. You can't claim to know God while not caring for the poor. Tidak harus berlangsung di pengadilan atau lembaga-lembaga berbau hukum lain, ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang melakukan cinta-kasih dan keadilan.

Di mana Tuhan? Kenapa rasanya Dia diam saja?
TUHAN di sana, bersama orang-orang Israel: God speaks in exile, God is not a tribal/national God, God is not bound by geography/a building, and God is now in exile with His people. Saya jadi semakin yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya karena keberadaan-Nya tidak bergantung pada saya, melainkan pada Dia sendiri. Manusia terlalu sok tahu ketika menuding Tuhan sedang diam atau pergi padahal bagian yang seharusnya ia lakukan adalah mencari dan datang kepada Tuhan, serta terus menyediakan waktu untuk berbicara kepada-Nya, apa pun kondisinya.

"Seek the peace and prosperity of the city"
Sejak awal, bagian ini adalah salah satu yang susah saya mengerti dan lakukan. Sebutlah saya sedang mengalami "pembuangan" ke mana saya merasa "dibuang". Saya pasti tidak serta-merta dapat memikirkan kesejahteraan tempat tersebut. Boro-boro, saya pasti ingin langsung pergi saja dari sana. Puji Tuhan, saya bukan Tuhan. Tuhan saya justru meminta saya mengusahakan kesejahteraan tempat itu karena kesejahteraannya adalah kesejahteraan saya juga. Tuhan saya meminta untuk tidak membalas kejahatan yang saya terima di tempat itu. Seperti Daniel, misinya bukanlah misi Babel, misinya adalah misi ke Babel dan dia tahu, misi itu datangnya dari Tuhan. Tuhan menempatkan saya di berbagai tempat bukan untuk duduk diam dan protes, mengeluh sana-sini, melainkan untuk bekerja.

IT'S OKAY TO CRY
Beberapa orang malu menangis karena merasa itu adalah pertanda bahwa ia lemah. Tetapi ternyata kita tetap perlu menangis & meratap. Ada 4 makna ratapan: 1) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana adanya, 2) ratapan sebagai cara melihat sesuatu yang bukan sebagaimana adanya, 3) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana ia seharusnya, dan 4) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana jadinya nanti. Lament is not only about grief but also hope. Kalau kita nggak sedih, mungkin saja kita belum merasa helpless dan membutuhkan Tuhan. Seperti Yeremia, hati yang hancur miliknya adalah hati yang hancur karena hal-hal yang juga menghancurkan hati Tuhan.

Masih Ada Harapan!
Harapan menjadi mungkin karena natur Tuhan. Ia adalah Tuhan yang menepati janji dan Tuhan yang kasih. He is the betrayed lover who continues to love. :") Remember, God is making all things new, not making all new things. Tuhan sanggup membawa pembaharuan terhadap setiap kerusakan yang sudah terjadi (baik di diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan seluruh dunia). Namun, kita tetap memerlukan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita. Forgiveness is needed for any new beginnings dan itulah yang dianugerahkan kepada kita melalui Kristus. Dialah Mesias yang melakukan setiap hal yang gagal dilakukan oleh raja-raja sebelumnya. He will deal wisely, do justice, righteousness, salvation and dwell securely. Sehingga, sebagai seorang murid, sudah sepantasnyalah kita mengikuti teladan Guru kita; menjadi instrumen-Nya dalam membawa pembaharuan di bidang kita masing-masing.

(Cont'd)

Semua Karena Keripik Pisang

Ini adalah cerita tentang pengalaman saya menjalani operasi kecil pencabutan gigi yang diakibatkan oleh kebanyakan makan keripik pisang. Saya akan berusaha menceritakannya sesingkat dan sejelas mungkin. Bersiaplah, jika akhirnya tidak singkat dan agak kurang jelas. -_-


Beberapa tahun lalu gigi geraham bungsu sebelah kiri saya mulai tumbuh. Tumbuhnya tidak sakit, hanya ngilu-ngilu sedikit. Menurut beberapa orang, tumbuhnya gigi geraham bungsu akan menimbulkan rasa sakit yang cukup mengesalkan, namun saya rasa hal itu tidak terjadi pada saya. Memang ada hal yang sedikit aneh ketika gigi itu tumbuh: dia seperti tidak bisa keluar sepenuhnya karena ada gusi di atasnya. Akhirnya, gusi itu pun seperti sedikit menutupi permukaan mahkota gigi geraham bungsu saya. Saya pengen kasih gambarnya, tapi lebih baik tidak. Ngeri.

Saya tidak pernah terlalu peduli dengan kondisi itu karena saya nggak ngerasain ada gangguan apa pun juga (meskipun sebenarnya gusi yang menutupi geraham tadi semacam bisa dibuka-buka kayak tudung saji gitu, kebayang nggak?). Pengabaian itu berlangsung sampai beberapa waktu lalu terjadilah hal yang tidak diinginkan.

Ceritanya saya lagi makan (((keripik pisang))) super keras, lebih keras dari kehidupan ini. Makannya cukup banyak. Pas lagi ngunyah, rasanya seperti ada yang sakit gitu, tapi saya biarin aja. Saya tetap makan dengan bersemangat. Pesona keripik pisang memang luar biasa. Keesokan harinya, saya ngerasa gusi sebelah kiri saya tadi sakit dan agak bengkak, tapi lagi-lagi, saya biarin begitu saja. Hari berikutnya bengkaknya pun mulai membuat khawatir, sampai kelihatan dari luar pipi kiri–semacam ada buah sawo nempel di dinding mulut. Males banget :{

Akhirnya saya cuma minum ponstan. Saya nggak kepikiran macem-macem karena…ya elah gusi bengkak mah biasa. Yang bikin saya khawatir sebenarnya 2 hari ke depan saya akan memimpin ibadah alumni dan gimana coba kalau gusinya makin bengkak. :”( Saya nggak mau disangka lagi makan mic…

Saya tetap latihan walaupun dengan kondisi gusi bengkak dan pipi agak gembung (biasanya juga gembung sih). Saya berdoa sama Tuhan; yang saya minta cuma supaya gusinya nggak bengkak lagi waktu saya mimpin ibadah nanti. Tuhan mengabulkan doa saya dan beneran deh, gusinya nggak bengkak (bahkan nggak ngilu sama sekali) di hari Jumat itu–hari di mana saya harus memimpin ibadah. Memang Tuhan bisa aja. Ajaib.

Lalu saya mulai merasa di atas angin. Hari Sabtunya saya memutuskan untuk makan McD, minum es krim, dan minum chatime–tanpa saya sadari ternyata gusi tadi belum sepenuhnya sembuh–dan saya tidak berhati-hati ketika mengunyah sehingga gigi atas saya berulangkali menggigit gusi saya tersebut dan jadilah di hari Minggunya pipi saya gembung lagi. *hosh* *tarik napas* *panjang juga* Saya sedih.

Sakit kali ini berbeda dengan yang kemarin–ini lebih parah. Kalau yang kemarin saya masih bisa latihan alias harus nyanyi-nyanyi tanpa gangguan berarti, kali ini bahkan untuk membuka mulut pun rasanya cukup sakit. Tetapi saya memang susah dibilangin, saya malah tetap makan Ikkudo Ichi pedas dan panas serta minum ocha dingin. Saya pikir tidak akan terjadi apa-apa.

Hari Rabu pagi–hari pertama libur lebaran kantor saya–saya mendapati pembengkakan gusi tadi semakin menjadi-jadi; kali ini disertai darah dan ada bagian yang sudah menghitam. 😥 Saya histeris karena saya juga ngeri melihat gigi geraham bungsu tadi seperti akan tenggelam karena ditutupi gusi yang semakin membengkak. Saya langsung berpikiran yang aneh-aneh. Hari pertama libur pun saya jalani dengan konsultasi ke dokter gigi di bagian periodental Paviliun Khusus RSGM UI Salemba (hasil rekomendasi teman saya).

Konsultasi di bagian periodental – Paviliun Khusus RSGM UI Salemba

Mulut saya dibuka lebar-lebar–saya tidak pernah ingat pernah membuka mulut selebar itu–ya iyalah–dan dokter pun memeriksa bagian gusi yang bengkak. Beliau mengatakan bahwa terjadi infeksi di gusi saya yang diakibatkan oleh terlalu tajamnya gigi bagian atas yang sejajar dengan gusi itu sehingga ketika mengunyah, akan terasa sakit karena mereka bersinggungan. Dokter juga bilang tumbuhnya gigi geraham bungsu di balik gusi itu sebenarnya tidak pada posisi yang tepat karena ruangan yang sempit sehingga dia membuat gusi saya membengkak. Berdasarkan rekomendasi dokter, saya diminta melakukan observasi dulu selama seminggu sambil menggunakan obat kumur Tantum Verde sepanjang observasi. Jika masih sakit, maka saya harus menjalani operasi kecil pencabutan gigi geraham bungsu. Katanya, harus ada sedikit gusi dan sedikit tulang yang dipotong. Saya ngeri membayangkannya.

Tapi saya tidak puas. Saya merasa lebih baik sekarang saja dioperasi. Di sisi lain saya memilih mengikuti kata dokter untuk observasi dulu selama seminggu ini. Tiba-tiba saya kepikiran untuk scalling gigi karena sudah lama tidak scalling. Ya, biar sepulangnya dari RSGM ini ada sesuatu yang signifikan terjadi di rongga mulut saya. Dokter itu pun mengizinkan scalling keseluruhan gigi saya dan saya bisa pulang dengan sedikit bahagia.

Sesampainya di kost, saya makan nasi padang yang saya sudah beli sebelumnya. Bisa-bisanya saya berani memutuskan untuk makan nasi dan rendang yang pedas itu. Saya nggak habis pikir. Jangan ditiru ya. Akibatnya gusi saya makin pedih. Saya mencoba menggunakan obat kumur tadi dan berharap ada sesuatu yang signifikan terjadi, misalnya, gusi saya langsung kempes dan sakitnya hilang–ha ha ha–bercanda.

Sore harinya, kondisi gusi saya bukan membaik, malahan memburuk dan saya menyaksikan sendiri ada darah keluar dari bagian gusi yang bengkak itu. Saya makin histeris dan akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi kecil keesokan harinya. Apalagi setelah berkonsultasi dengan teman-teman saya yang lulusan FKG UI, kondisi gusi karena gigi impaksi (itu namanya) tadi memang cepat/lambat akan menimbulkan keluhan dan mau tidak mau harus tetap dilakukan pencabutan gigi yang impaksi. Saya mengumpulkan keberanian karena… pertama kali dalam hidup ini, saya berurusan dengan dokter dan rumah sakit, harus operasi (meskipun namanya operasi kecil), lalu… jauh dari orang tua dan keluarga. Saya bersyukur Gohan mau nemenin saya untuk operasi dan bahkan ngebawain makanan buatan mamanya untuk saya makan di hari operasi itu. Katanya saya akan kesulitan makan setelah operasi sehingga sebelum operasi dilangsungkan saya harus makan yang banyak.

Operasi Kecil di Bagian Bedah Mulut Residen RSGM UI Salemba

Yang paling saya takutkan adalah saya tidak bisa menahan kengerian yang divisualisasikan otak saya sepanjang proses operasi berlangsung.

“Yak.. kita potong dulu ya Mbak gusinya sedikit…”

“Sekarang kita mau potong tulangnya sedikit dulu ya Mbak…”

“Nah udah deh, sekarang kita mau cabut giginya ya Mbak…”

Saya ngeri membayangkan itu di kepala saya. Saya menangis di sepanjang operasi karena saya takut mereka tidak memberikan obat bius yang baik, peralatannya tidak steril… atau mereka salah potong. 😥 Bukan underestimate sih, tapi namanya manusia bisa aja salah, kan…

Saya berdoa sama Tuhan dan berharap Tuhan yang lancarkan proses operasi ini dan memberikan dokter terbaik, peralatan terbaik, dan obat bius terbaik untuk membawa kebaikan dan kesembuhan bagi saya. Saya juga berdoa supaya Tuhan memberikan obat anti radang dan antibiotik terbaik untuk saya supaya gusi saya tidak membengkak pasca operasi. Saya tidak tahu proses biologisnya, yang saya tahu dan saya mau, jangan sampai ada pembengkakan dan jangan ada rasa sakit yang terlalu menyedihkan pasca operasi. Tuhan tahu banget saya ngeri membayangkan kalau sampai pembengkakan itu terjadi karena 5 orang yang saya tanya (yang pernah mengalami hal yang sama dengan saya) bilang bahwa mereka selalu mengalami pembengkakan pasca operasi. Sebenarnya adalah hal yang wajar sebagai reaksi dari tubuh.

Pasca Operasi

Efek anestesi masih terasa selama beberapa hari ke depan (disuntikkan cukup banyak karena saya nangis kesakitan mulu katanya) sehingga saya masih bisa makan tanpa keluhan yang cukup berarti. Hanya sedikit perih kalau bagian bekas operasi tadi terkena minuman/makanan. Tapi saya tetap cuma bisa makan yang lembut, dingin, tidak pedas dan tidak asam. Sulit banget untuk nyari makanan yang seperti itu di tengah bulan puasa kemarin. Yang bikin sulit sebenarnya entah kenapa nafsu makan saya tidak berkurang sama sekali. Bahkan meningkat. 😥

Saya terus memerhatikan manakala ada pembengkakan yang tidak diinginkan pasca operasi ini seperti yang teman-teman saya bilang. Ternyata, tidak ada pembengkakan sama sekali sampai saya kembali ke RSGM UI untuk buka jahitan. Saya jadi bingung. Saya bertanya ke dokter yang menangani operasi saya, ke teman-teman FKG saya, dan bahkan ke teman saya yang dokter umum–apakah kondisi yang saya alami ini termasuk wajar atau malah ada sesuatu yang aneh. Saya bersyukur dari jawaban mereka sebenarnya kondisi saya adalah hal yang wajar yang bisa terjadi jika memang peralatan yang digunakan ketika operasi steril, tidak terlalu banyak gusi/tulang yang dipotong–sehingga radangnya sedikit, obat anti radangnya bagus, antibiotiknya bekerja dengan bagus, dan tentunya sanitasi di rongga mulut yang juga bagus (saya jadi ingat sebelumnya saya memutuskan untuk scalling gigi dan saya benar-benar teratur kumur-kumur).

Selain karena hal-hal itu, saya percaya bahwa pemulihan gusi saya terjadi karena Tuhan sendiri yang bekerja bersama segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi saya. Saya masih ingat doa yang saya ucapkan di setiap pagi dan malam pasca operasi,

“Tuhan, buatlah obat anti radang dan antibiotik ini bekerja dengan bagus supaya bekas operasi ini bisa pulih dengan cepat tanpa menimbulkan rasa sakit yang parah. Tuhan, aku takut kalau sampai bengkak, itu pasti sakit banget, kan? Karena itu, sepanjang biusnya masih ada, tolong Tuhan percepat regenerasi tulang dan gusi yang dipotong tadi serta beberapa luka yang disebabkan sepanjang operasi tadi. Berikanlah sel terbaik untuk mengganti apa yang sudah dipotong tadi dan izinkanlah aku mengalami kesembuhan total dengan cepat. Aku percaya, Tuhan yang membentuk setiap sel dalam tubuhku dan Tuhan pasti tahu cara untuk memulihkannya dengan sempurna seperti sedia kala.”

Begitulah kira-kira. Saya memang khawatir sekali pasca operasi kemarin. Mungkin berlebihan bagi sebagian orang–tapi saya bersyukur memiliki Tuhan yang mengerti kekhawatiran saya & memberi kelegaan untuk saya. Tuhanku baik! :’) Puji Tuhan.

Sekarang

Saya makin memerhatikan kebersihan rongga mulut saya. Saya tidak mau lagi membiarkan keluhan/keanehan di gusi/gigi yang mungkin akan saya rasakan di depan nanti. Saya juga makin memerhatikan apa yang saya makan dan minum karena selama ini saya sudah mengabaikan kesehatan gigi dan gusi saya,

…dan kini, saya tidak bisa lagi memandang keripik pisang dengan cara yang sama.

Monolog

“Udah mau 1 Juni, nih. Udah jadi nulis buat Hari Pancasila?”


Aku bimbang, apakah aku harus menulisnya sekarang di kala pengetahuanku belum cukup untuk menulis tentang Pancasila sesuai dengan tujuan dan poin-poin sasaran yang ingin kubahas, ataukah aku tunda saja dan membiarkan momentum hari lahirnya Pancasila di tahun ini berlalu?

Tanpa perlu berlama-lama, nurani langsung menyuarakan maksudnya.

“Tidak usahlah menulis untuk tepat 1 Juni ini. Bukankah kau baru saja kepikiran beberapa hal lain yang mau diriset dan dianalisis lagi tentang Pancasila? Lagian, kalau mengandalkan buku-buku itu saja, tulisanmu nanti tak ubahnya salin-tempel saja. Sedihnya, kau sendiri belum paham betul. Kau juga masih menyisakan banyak halaman yang belum dibaca, kan? Keputusan terbijak yang bisa kauambil adalah menundanya. Kalau kau memaksakan menulis sekarang dengan waktu hanya 1 hari, kurasa kau hanya ingin mengejar ‘target’ dan momentum. Kasihan pembaca, 5 menitnya terbuang dengan tidak terlalu berkualitas. Sekalipun ini momen yang baik untuk menulis tentang Pancasila, hati-hati, jika terlalu kaku pada prinsip ini, kau tidak menganggap hari dan momen lain juga baik untuk membahas Pancasila. Hati-hati, semangatmu hanya semangat rutinitas perayaan. Padahal jauh sebelum Pak Jokowi protes soal terlalu monoton dan rutinitasnya kita, Bung Karno sudah mengingatkan dunia tentang itu di tahun 1960.

Lagi, kamu punya kesempatan untuk membaca-baca terlebih dahulu ulasan orang-orang terkait hari Pancasila nanti–percaya deh, pasti akan ada banyak tautan yang akan mengarahkanmu ke sana. Setelah kaubaca, kau bisa berusaha menambal lubang yang masih ada dari tulisan-tulisan mereka. Bukankah dengan begitu, kalian semua akan saling memperlengkapi? Asalkan kau tidak merasa tulisanmu yang paling benar. Sebab, perasaan paling benar seperti ini, berbahaya. Kau sudah lihat sendiri buktinya.

Selain karena alasan-alasan tersebut di atas, kau juga masih belum beres dalam menilai dan merespons tekanan. Kau tidak ingat kemarin kau baru saja bercerita panjang sambil menahan tangis yang akhirnya membuatmu sesak, tentang beberapa tekanan yang kaurasa? Tidak ingat berapa banyak kau mengeluh, marah, dan begitu egois kemarin? Iya, aku tahu, kau masih bingung apakah kondisi seperti ini adalah kondisi yang benar yang harus tetap kausyukuri dengan cara yang tepat, ataukah ini pertanda bahwa kau harus menghindari tekanan-tekanan seperti itu–entahkah kau harus berontak, atau pergi saja. Aku tahu kau bingung. Maka dari itu aku tak menyarankanmu untuk menulis di tengah tekanan dan kebingungan seperti itu. Apalagi kau punya topik yang kompleks seperti ini untuk ditulis. Jangan, tidak usah menulis dulu. Aku takut, kau menulis sebagai bentuk pelarian diri dari prioritas yang sesungguh-sungguhnya harus kauselesaikan. Aku takut, pikiranmu tidak jernih, tidak logis, dan tidak rendah hati dalam menulis nanti. Lagi-lagi, kasihan pembaca.

Wah, barusan lagi otakmu berargumen, “kau tidak sedang mengejar kesempurnaan pada tulisanmu nanti, kan?” Kau mau tahu jawabanku? Aku tidak akan pernah menjadi sempurna di dunia ini, pun tulisan-tulisanku juga demikian. Tetapi kalau kubilang aku mau mengejar kesempurnaan, itu berarti sebaik-baiknya aku menulis apa yang sesuai dengan maksud dan tujuanku, itu saja. Tidak perlu lagi berdebat soal kesempurnaan. Kau tidak sadar, memperdebatkan kesempurnaan berarti kau membuka ruang bahwa tidak ada satu cacat pun yang terjadi di dunia ini? Belum lagi berbicara tentang apa yang menjadi standarmu tentang kesempurnaan. Bagaimana bisa manusia yang tidak sempurna membuat standar tentang kesempurnaan? Atau jangan-jangan, kau merasa sempurna? Baiklah, otak, kau sudah tahu jawabannya sekarang. Aku hanya mau belajar lagi saja. Oh, ya. Juga, bersabar. Kau tahu karya yang dibuat dengan terburu-terburu sebenar-benarnya tengah melukai pembuatnya?

Lalu, apakah ini pembenaran bahwa aku gagal menulis hari ini? Bukan, ini adalah alasan mengapa aku gagal menulis hari ini. Aku bisa saja memaksakan diri. Tetapi untungnya, aku masih mau mengedukasi diri sendiri. Aku sadar, aku ini impulsif. Maka dari itu aku selalu waspada manakala monolog semacam ini tidak terjadi di jiwaku. Demikian juga bagi setiap orang, siapa pun yang mengaku manusia di dunia ini. Usahakan selalu berpikir dan memikirkan ulang sebelum melakukan apa pun, termasuk berkata-kata. Kita harus menguji segala sesuatunya, termasuk apa yang hendak kita perkatakan. Ujilah, ujilah dirimu, keinginanmu, motivasimu, ambisimu. Uji, ujilah ilmumu. Kendalikan dirimu. Kasihan pembaca jika tidak mendapat pengetahuan yang benar dari tulisanmu. Jika ia tidak mendapat arahan emosi yang tepat dari ulasanmu. Jika sudah demikian, tekunlah di dalam kesemuanya–dalam saling mencintai satu dengan yang lain: kau dan mereka yang akan membaca. Iya, kau tak pernah tahu seberapa baik tulisan bisa menjadi caramu mencintai. Mungkin juga, menjadi alasan mengapa kau dicintai. 

Kalau pun kau harus memaknai hari lahirnya Pancasila dengan bermonolog seperti ini, berterima kasihlah pada semesta dan Pencipta.

Monolog ini adalah inisiatif dan cara-Nya untuk memenuhi ‘kebutuhan’-mu (mungkin juga orang lain) hari ini.