AUSSIE 2018

I wanted to post this picture to my Instagram feed, thought it was really beautiful and yeah quite fancy but I didn’t. Because I want to keep this ‘excitement’ just for me and that means, I am the one & only human being who knows what’s behind these pictures (and many more pictures in my gallery).

First of all, this is not a holiday for me. I was attending a training for student ministry in Australia located in Canberra, specifically in Exhibition Park in Canberra, or EPIC. And yes that’s superbly epic to be one of more than 2000 participants in this training. Second, I think some people think this was for free and I just need to get my bags off and, voila! This is Australia. No, it wasn’t. Me & my friends do fundraising and use our own (little) money because we’re not going to Bogor. Third, it’s not full exciting experiences I had there actually, to be honest, some are sad and on some nights my heart screamed “I want to go homeeee!” I still remember those days in Clovelly. Oh and that screaming happened in Randwick Avenue Apartment by the way.

But, I still want to thank God for this opportunity. You know guys, there was a lot of things happened that made me feel like it’s not going to happen. Even right before our departure, I left my phone in online car transportation, overweighed baggage, late check-in, but He made it through. I also thank God for speaking to me in every kind of situation there. I went with questions and thankfully go back with answers. I have faith that this training will help me much here in Indonesia.

Sincerely,

Missing Macquarie and Epping so much.

Advertisements

16.43 WIB

My life is being surrounded by influencers. Entah itu di dunia maya atau pun tidak. Mereka adalah orang-orang yang aktif di bidangnya masing-masing dengan kesukaannya masing-masing. Mereka membuat instagram story tentang kegiatan yang mereka ikuti atau tentang pendapat mereka atas sebuah isu (atau beragam isu). Mereka mengunggah foto-foto likeable di feed instagram mereka–foto-foto yang sangat inspiratif, menggugah keinginan untuk membaca caption mereka yang panjang-panjang dan kemudian meletakkan komentar: “panutanqu”, atau “junjunganqu”, atau “inspirasiqu” di unggahan tersebut. Sorry, not being sarcastic, I try.

Sementara aku? Jika kulihat-lihat lagi feed instagram-ku, kebanyakan isinya adalah foto diriku sendiri dengan caption yang mengundang emosi: karena tidak lucu. Belakangan ini aku memang jarang berminat nge-post sesuatu yang serius-serius dengan caption panjang-panjang andalanku, atau menunjukkan isi kegiatanku (yang kebanyakan adalah pelayanan ke sekolah/kampus di sekitaran Jakarta), atau opiniku terhadap isu-isu yang sedang banyak di bangsa ini. Jujur saja, aku tidak tertarik lagi melakukannya. Aku juga bingung apa alasannya.

Berulangkali aku ingin seperti teman-teman yang aktif tersebut, misalnya dengan menceritakan apa yang sedang kukerjakan di sepanjang hari, merekam jejak-jejak pelayananku setiap hari, mengunggah foto-foto inspiratif berjudul pendapatku terhadap situasi terkini bangsa, dan sebagainya, namun kuurungkan juga niat itu. Entahlah, aku sedikit bermasalah dengan motivasiku belakangan ini. Setelah kutelaah lagi isi hatiku, tidak kutemukan ketulusan di beberapa motivasi tersebut. Tidak jarang bahkan, aku hanya ingin memeroleh ‘perhatian’ lewat respons orang-orang; baik melalui like maupun komentar mereka. Bahkan, pernah juga aku ingin melakukannya agar followers-ku bertambah. Ya, ini adalah salah satu kelemahanku. Sejak kecil aku sering berada di mana ‘spot-light’ berada sehingga aku mudah tergiur untuk melakukan hal-hal yang mengundang perhatian seperti itu.

But please don’t mess my sharing with any comment like “tapi kan sebagai seorang Kristen kamu memang harus ‘terlihat’?” Karena ini bukan tentang itu, namun tentang motivasi. Ini mirip dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus ketika Ia berkhotbah di bukit tentang ‘tidak melakukan kewajiban-kewajiban agama (seperti bersedekah dan berdoa) dengan tujuan untuk dilihat orang’. So, to me, if I do something, it has to be such work that I do with enthusiasm, as to the Lord and not for people. Masalahnya bukan terletak pada ‘aku tidak mau dilihat orang’ namun terletak di ‘kenapa aku mau dilihat orang’, dan yang terakhir ini benar-benar menggangguku.

Not saying it’s everyone’s problem, maybe it’s just me, but I’d rather stop than continuing in such manner. To be honest, I’m done thinking myself to influence people, that’s not the case. My being is already influential, because I’m saved and I’m the salt and the light of the world. It’s not what I do that makes me influential, it’s why & how I do it. Itu yang membedakan semua buah yang akan dihasilkan dan kepada siapa hormat & kemuliaan itu dihaturkan. God knows, surely knows, buddies.

Ini sangat membebaskanku. Aku tidak lagi tertekan terhadap tuntutan-tuntutan generasi atau zaman di dunia tanpa batas ini, aku dianugerahkan hikmat dan Roh Kudus yang terus-menerus sanggup memurnikanku dari segala motivasi buruk dan menuntunku kepada apa yang harus kulakukan di dalam hidup ini, serta tentunya bagaimana aku melakukannya.

Kalau aku hidup, aku hidup untuk memberi buah dan itu tidak bergantung pada platform mana yang kugunakan (sekalipun setiap platform dapat berkontribusi sesuai levelnya masing-masing).

I don’t want to just influence, I want to give, to truly give my life to other people. I don’t want to just influence, I want to sow even if none truly cares, none considered it’s influential.

Not Bewilderment

I don’t know how it feels to be crucified on a cross. Yet I know that it was the worst form of executing and I feel terribly sad. My Lord was accused of being a criminal by the real criminals. I can’t hold my tears. But, the torment of Him, though being anticipated by him at the garden Gethsemane, which was the way He had to go through, fulfilling His purpose on coming down to this earth, really inconceivable.

What then happened? The curtain between the Holy Place and the Most Holy place was torn in two. At the same time, earthquake. God’s wrath and His love for the world He created was shown. He offers forgiveness to the world by forsaking his only Son on that gloomy Friday.

Did my Lord die just to make me cry this time?

Did my Lord die just to make me realise no other love like that?

No.

My Lord died for me to come into the fellowship with God the Father, to embrace the plan He has for me eternally.

Hari-hari Kelabu

Apa yang selama ini kuantisipasi akhirnya terjadi. Sayangnya, aku tidak berhasil menghadapinya dengan bijak. Kupikir perasaanku bahwa keputusan ini adalah tepat cukup untuk menjadi modal dalam menghadapi apa yang terjadi kemarin. Kupikir imanku bahwa ini adalah jalan yang harus kutempuh membebaskanku dari situasi sulit yang menghadang di sepanjang perjalanan ini.

Aku salah besar.

Lelah juga aku melewati malam-malam yang mendung dan harus kuisi dengan tangisan. Sebagai seseorang yang memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bagi orang lain, aku tidak bisa memungkiri bahwa sisa-sisa waktu yang seharusnya dapat kupakai untuk ‘merawat’ diri ini harus kulewati dengan sedih.

Cukup menyakitkan.

Aku bertanya-tanya, kenapa ini harus terjadi? Bukankah mama sudah setuju? Bukankah mama sudah sepakat akan mendukungku di sini? Kenapa perdebatan ini harus terjadi lagi? Aku lelah menghadapinya karena itu berarti menghadapi kekecewaannya–perempuan yang paling kukasihi.

Seumur hidup, sebelum akhir-akhir ini, memang hampir tidak pernah kami berselisih paham terhadap berbagai keputusan yang kuambil. Mama selalu mengenalku sebagai anaknya yang paling dapat dipercaya dan diandalkan. Bagaimana tidak? Pencapaian dan prestasi-prestasiku di masa lampau yang kuperoleh dengan mandiri bahkan tanpa harus diawasi orang tua telah membuatnya begitu berharap akan masa depanku.

“Harusnya kan kau bisa masuk sana”

“Kalau waktu itu kau gagal aku yakin itu bukan karena kau bodoh tapi karena kau memang nggak mau masuk ke sana, kan?”

“Kau nggak ingat dulu kita bahagia sekali waktu lihat pengumuman masuk kuliah?”

“Apa sih yang ada di pikiranmu sampai kau nggak mau bekerja di dunia hukum?”

“Mama nggak habis pikir.”

😥

Bahkan untuk mengetik kalimat-kalimat di atas sudah membuat hatiku sangat sesak. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan mama. Dia sangat pantas untuk melontarkannya. Yang membuatku juga sesak untuk menjawab satu per satu pertanyaan itu adalah karena aku juga tidak dapat mendeskripsikan dengan jelas kenapa semuanya berubah. Satu hal yang kutahu, perubahan tersebut pun lumayan menyakiti diriku tatkala membayangkan apa-apa saja yang harus kutinggalkan untuk saat ini.

Yang juga membuatku sesak adalah pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku yang seolah menudingku sebagai orang yang tidak mau berpartisipasi di lahan yang sulit di bidang-bidang hukum, menudingku bahwa aku memang tidak mau berjuang lebih keras, karena aku memilih menyangkali kemampuan dan kekuatan Tuhan, menudingku seolah aku hanya memilih jalan yang lebih mudah.

Lebih mudah? Siapa bilang pilihan ini lebih mudah daripada berbakti di bidang hukum? Sama sekali tidak. Bahkan aku lebih banyak stress menghadapi tanggung jawabku di pilihan ini dibandingkan dulu ketika aku masih di kantor hukum.

Namun sesakit apa pun batin ini menghadapi hari-hari, satu hal yang selalu kurindu adalah bergerak seturut pimpinan-Nya. Ke mana pun dan kapan pun, aku hanya ingin menjalaninya dengan iman. Karena sejatinya, hidupku adalah karena kasih karunia. Di dalam tiap-tiap detiknya, aku tahu kemuliaan hanya bagi-Nya, baik aku di gedung nan megah di daerah elit ibukota, atau pun di sekolah dan kampus-kampus sederhana. Baik aku dipuji orang maupun dipertanyakan orang. Baik aku berlebih maupun pas-pasan. Yang kutahu Tuhan tetap pegang tanganku.

Hari-hari kelabu ini tidak akan pernah sanggup mengaburkanku dari keyakinan bahwa terlebih utama Dia yang memanggilku sebelum pilihan-pilihan itu. Akhir hidupku dalam apa pun pilihan tersebut, adalah kekekalan bersama-Nya.

#Rangkul25: Tanpa Penyesalan

Suatu kali seseorang datang dan bertanya kepada perempuan itu, “apa yang membuatmu begitu kuat seperti ini, setelah semua yang telah kau alami?” Perempuan itu pun menjawab,

Aku tidak pernah berpikir bahwa aku telah begitu kuat. Karena yang sehari-hari aku lakukan adalah berdiam diri dan merenungkan berbagai pertanyaan. Aku bertanya-tanya, “kenapa harus seperti ini? Ternyata aku sesalah itu, ya? Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa orang-orang harus mengorbankanku dengan menimpakan kesedihan ini kepadaku? Tidak bisakah dipilihnya saja orang lain?”

Sehari-hari aku banyak menangis, meratapi nasib, kata orang. Bahkan, kadang-kadang air mata itu mengalir begitu saja tanpa pernah aku rencanakan. Aku lagi belajar, air mataku menetes. Aku lagi makan, air mataku juga menetes. Aku bahkan merasa jangan-jangan ketika aku tidur pun ada air mata yang menetes. Aku dikuras habis pada waktu itu.

Aku jadi bingung, kenapa kau bilang aku sekuat ini? Kalau kau tau yang sebenarnya, kau akan berpikir ulang untuk mengatakan itu.

Yang kuingat adalah aku telah menjadi begitu lemah. Tidak ada lagi bagian dari diriku yang sanggup aku andalkan. Seluruh akalku dipatahkan, segenap perasaanku diputarbalikkan. Semua yang kupikir akan terjadi, tidak terjadi. Aku betul-betul cupu pada waktu itu. Untuk menghadapi matahari pagi saja aku ragu. Begitu juga dengan malam, hampir selalu dapat kupastikan, aku melewati malam dengan tertidur karena menangis.

Aku makin bingung, di bagian mana kau lihat aku kuat?

Namun, ada 1 hal yang kusaksikan. Pada waktu itu aku betul-betul berserah kepada Allah, Tritunggal Maha Berkarya, dalam setiap pertanyaan dan air mataku. Dalam pertanyaan-pertanyaanku, aku menyerah bahwa aku tidak punya jawabannya. Sedikit pun. Dalam tetes demi tetes air mata itu aku menyerah bahwa aku tidak bisa mengendalikan apa pun. Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku menyerah, semenyerah-menyerahnya. Tidak bersisa.

Di saat itulah, dalam keraguanku menatap pagi, aku mampu juga melewatinya. Bahkan masih dengan senyum, yang sederhana. Di saat itulah, dalam keenggananku mendapatkan malam, aku tetap tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk apa pun.

Aku tidak ingin bilang bahwa aku bahagia pada waktu itu. Aku bukan orang yang pintar berpura-pura dan bermulut manis. Tetapi jika kau minta aku memilih untuk harus mengalami itu ataukah tidak, aku tetap akan memilih “harus”. Kulihat, dengan cara itulah Allah meneruskan karya-Nya di dalamku hingga aku tiba di usia ke-25 ini.

Aku akan terus berserah di hadapan-Nya. Karena aku tau, buahnya manis dan dengan ini kuingatkan kau, buah itu tidak dapat direka-reka. Orang-orang pun dapat membedakan, mana yang sejati, mana yang dibuat-buat. Penyerahan diri ini tidak akan meninggalkan penyesalan.

#Rangkul25

Three Reasons Why You Shouldn’t Do Social Media Detox

For some reasons, doing social media detox is a great idea, but there are some other reasons why you should not do that anymore. Or at least, too much. Please have your seat here, listening to this old grandma speaking.

1. You need social media to live

We can’t undo technology development. It goes somewhere each day. People use social media to socialize in this era. You also read news mostly through the link/share on social media these days and I am not planning to be left out by the world. Not because the fear of missing out but I need to socialize to live. Man is a homo-socius, right? Take it away of your life, and you somehow feel empty. We, human, are called to socialize, to have a companion, to create a relationship and yes to maintain it, and, today we do it through social media.

2. You’re called to share.

Following my first point above, in order to maintain a relationship, you have to share. We share our thoughts, to sharpen others’ and be sharpened. We share our encouragement to strengthen others’ faith. We share our struggle, to be cheered & strengthened. We share jokes, to feel joy. We share dreams, to recognize hope. And yes, we share love, to love. A relationship lasts because we share, and we can do it through social media.

3. You love through social media.

What is the biggest and the most important thing among faith, hope, and love? It is love. If I speak with human eloquence and angelic ecstasy but don’t love, I’m nothing but the creaking of a rusty gate. If I speak God’s Word with power, revealing all his mysteries and making everything plain as day, and if I have faith that says to a mountain, “Jump,” and it jumps, but I don’t love, I’m nothing. If I give everything I own to the poor and even go to the stake to be burned as a martyr, but I don’t love, I’ve gotten nowhere. So, no matter what I say, what I believe, and what I do, I’m bankrupt without love.

And believe it or not, social media is created for us also to love. Show your love when you see people’s need they’ve shown on social media. Don’t be busy judging them.

At least those are three reasons I found during my already half-way period of doing my social media detox. I feel drained. At first I thought this is a bad sign of me and my behavior, you know, am I taking social media use too much with bad motives or something?

But then I realize, it’s not. But commitment is a commitment, I will enjoy some days ahead still detoxing. I learn and experience many things tho lately.

#250WordsToday – Hati-hati, hati.

Ketika TUHAN menetapkan akan memilih Daud sebagai raja bagi Israel, ada yang menarik bagi saya. Ini pasti menarik juga bagi kebanyakan dari kita karena prinsip yang dipakai TUHAN untuk memilih Daud adalah melihat hatinya dan bukan penampakannya dari luar. Padahal, tetap dicatat juga bahwa Daud itu berparas elok, matanya indah, serta kemerah-merahan. Ini menunjukkan bahwa mau tidak mau kita akan melihat penampilan luar, jelas, itu yang berada dalam ‘jangkauan’ kita sebagai manusia. Dalam penerapan lebih luas, itu bisa saja bukan hanya perkara fisik, tetapi apa pun yang dapat kita lihat dengan jelas dari diri kita maupun orang lain.

Tetapi, kita tidak dapat memungkiri bahwa Tuhan melihat hati kita.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa dimulai dari penglihatannya, buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula, pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Dari mata jatuh ke hati, huft.

Setelah kisah memilukan ini muncullah kisah hati lain seperti pada Kain (Kej 4:5–“hati Kain menjadi sangat panas”), kondisi manusia sebelum TUHAN menurunkan air bah (Kej 6:5–“segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”), dan seterusnya.

Prinsip ‘Tuhan melihat hati’ ini seringkali diterapkan dalam masa-masa pemberian tugas pelayanan/regenerasi pelayanan kristiani sehingga membuat pekerjaan ini betul-betul krusial karena kita harus bertanya kepada Tuhan, “Siapakah yang Kaupilih dan Kausebut nama-Nya?” karena hanya Ia yang bisa melihat hati manusia yang berdosa.

Tetapi kali ini, saya belajar menerapkan prinsip ini bagi diri saya sendiri. Seperti kata Mazmur 139:23, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”

Mungkin saja saya pun salah melihat diri sendiri.