Categories
Life

Kasih yang Begitu Menakjubkan

Oleh: Elisabeth Yosephine Maria Tambunan, SH. (FH UI 2011) Asisten Staf Mahasiswa Sebagai seseorang yang bertobat melalui pemberitaan Injil di persekutuan mahasiswa Kristen, satu ayat yang selalu saya ingat adalah Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan […]

Source: Kasih yang Begitu Menakjubkan

Categories
Life

Dear Guy: “My friends and I bond by complaining, but it’s getting me down” — ideas.ted.com

 

Welcome to “Dear Guy,” TED’s advice column from psychologist Guy Winch. Every month, he answers readers’ questions about life, love and what matters most. Please send them to dearguy@ted.com; to read his previous columns, go here. Dear Guy: By starting to examine my own life in the context of the thoughts that rise and fall…

via Dear Guy: “My friends and I bond by complaining, but it’s getting me down” — ideas.ted.com

Aku makin yakin bahwa Tuhan itu tahu setiap kegelisahan yang kualami. Bukan hanya tahu, Dia juga mau menolongku memahami dan menghadapi kegelisahan tersebut. Dia pun bisa menolongku dengan banyak cara, contohnya melalui artikel yang kutemukan di dashboard blog ini.

Belakangan ini aku sering berada pada suatu emosi yang jujur sulit untuk kuidentifikasi. Dibilang kesal, nggak juga. Dibilang marah, nggak juga. Dibilang stress, hmm, nggak juga. Intinya, emosi itu bukan emosi yang menyenangkan. Ketika kupikir-pikir apa yang menjadi pemicunya, aku sampai ke suatu kesimpulan: aku tidak tahan mendengar orang-orang yang suka complain–to be precise, yang kerjaannya Tanya complain, complain, dan complain. 

Setiap aku membuka Twitter, emosi itu muncul. Setiap aku berbicara dengan sekelompok orang dan orang-orang tertentu, emosi yang sama juga muncul. Sebab kesamaan yang dimiliki Twitter dan sekelompok orang ini adalah: sebagian besar isinya hanyalah complain.

Sebelum membaca tulisan di atas, aku memang sempat berpikir, “lha, nggak mungkinlah hidup nggak ada complain-nya? Justru beberapa hal harus memang harus di-complain, bukan?”

Aku terus berpikir apa batasan sampai kemudian complain menjadi tidak sehat bagi seseorang dan bahkan membuat orang sepertiku tidak nyaman. Apakah aku tidak nyaman karena hidupku absen dari complain? Tidak juga. I complain too. Tapi ternyata penting untuk belajar how to complain and how to respond to complain, plus, when to stop. 

Aku senang, ternyata kegelisahanku bukan suatu keanehan, melainkan dapat dijelaskan secara ilmiah. Salah satu takeaway dari tulisan ini adalah: hidup yang melulu berisi keluhan ternyata bisa menjadi pertanda bahwa seseorang sedang mengalami depresi dan/atau gangguan kecemasan.

Kalian juga perlu membaca artikel ini supaya diri dan lingkungan kita jadi lebih sehat dan less-depressing. Please!

Categories
KDrama Life

Dear, Ik-Jun:

1

Do you think it’ll work the way you’ve planned?

Don’t you think it’s too late?

Where was that courage you’ve probably needed the most?

Song-Hwa must’ve been tired all this time and I don’t think she will ever come back to you–again.

But, I’m glad that, you, at least, try.

Categories
Life

Virus Corona & Menikah (1)

Diem. Jangan ketawa. Aku tau judulnya emang kurang indah untuk disandingkan bersama.

Sabar. Jangan marah. Aku juga bukan bermaksud membuat clickbait. 

Tulisan ini bener-bener tentang kaitan antara virus corona dan pernikahan–something I never thought I’d ever written about. 


Salah satu hal yang tidak dijelaskan dengan detail tentang pernikahan ketika aku menghadiri seminar-seminar atau pembinaan-pembinaan rohani adalah betapa berisikonya pernikahan itu. Saking berisikonya, mungkin seseorang harus lebih berjaga-jaga saat akan memikirkan pernikahan, merencanakan atau bahkan akan menjalaninya–ketimbang saat ia mengawasi nilai investasi sahamnya.

Hm, begini, secara umum, adanya risiko dalam suatu hubungan pernikahan memang bukan hal yang asing bagi banyak orang. Namun sebagian besar risiko yang dimaksud adalah ketidakmampuan secara ekonomi dan pendidikan untuk membangun sebuah keluarga serta adanya kemungkinan perceraian di masa depan. Ternyata banyak sekali orang yang menjadikan alasan finansial sebagai dasar penundaan pernikahan atau bahkan untuk hidup selamanya sendirian.

Jujur, seminar-seminar dan pembinaan yang pernah kuikuti tidak terlalu banyak membahas mengenai hal itu. Sehingga sekalipun tahu, aku pribadi tidak pernah begitu memikirkannya dan menjadikan ‘iman’ dan ‘pemeliharaan Allah’ sebagai tamengku. Tanpa bermaksud mengecilkan iman dan pemeliharaan Allah, aku harus berkata, tanpa disadari, kebiasaan menutup diskusi dan pembahasan tentang hal-hal seperti itu ternyata menimbulkan keyakinan semu di kemudian hari.

Namun, yang ingin aku bahas di sini bukanlah risiko dalam pengertian di atas. Sebab, dan inilah kaitannya, wabah virus corona ini telah memberikan suatu kesempatan langka untukku dalam memikirkan risiko lain dalam pernikahan–yang bagiku, jauh lebih menakutkan daripada yang sebelumnya. Dikarantina karena corona selama berminggu-minggu ternyata bisa berdampak segininya.

Aku memulai dengan kalimat ini, “pernikahan menjadi menakutkan karena manusia telah jatuh ke dalam dosa dan bahkan tinggal di dunia yang belum sempurna karena dosa.”

Kesatuan yang dimiliki oleh Adam dan Hawa sebelum Kejadian 3 adalah kesatuan indah yang seharusnya menjadi pembuka bagi masa-masa indah bukan hanya bersama satu sama lain, namun juga bersama anak-anak mereka kelak, serta tentunya Allah. Ironis, kesatuan sempurna yang tidak akan pernah dialami oleh manusia-manusia berikutnya selama tinggal di dunia yang berdosa ini.

Dosa telah membuat maut menjadi satu-satunya kepastian bagi sang pembuat lagi penikmatnya. Pun mereka yang kemudian berbalik kepada Allah yang benar oleh Kristus, tidak dapat menghindari pertentangan antara keingingan daging dan keinginan Roh yang begitu nyata–sampai-sampai tidak jarang menjadi sama menyeramkannya dengan berada di ambang kematian. Kondisi ini benar-benar menjadikan pernikahan sebagai sebuah perjuangan panjang lagi berat sekalipun ada kesadaran bahwa Kristus yang memahami perjuangan tersebut–mendasari pernikahan orang percaya tersebut.

Aku akan membagi tulisan ini menjadi 2 bagian berdasarkan poin di atas, 1) maut sebagai kepastian dan 2) pertentangan antara keinginan daging-Roh dalam pernikahan yang banyak kupikirkan selama masa karantina ini.

Bagian (1): Maut sebagai Kepastian

Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku bergumam, “aku takut menikah.”

Bahkan jika boleh jujur, aku sempat bertanya, “haruskah aku menikah?”

Padahal dulu, bersama dengan segala risiko yang ada, aku tetap sangat excited memikirkan pernikahan (entah dengan siapa pun nanti, pikirku). Rasa-rasanya sudah tidak sabar mengurus rumah tangga sekalipun baru ada tangganya. -_-

Tapi, itu dulu.

Sekarang, bagiku, memasuki pernikahan berarti berkata “siap” untuk menguburkan siapa pun yang mendahului kita nantinya. Bukan hanya pasangan suami-istri, bahkan anak-anak yang kemudian menjadi keturunan di dalam pernikahan tersebut. Kalau ini hanya urusan teknis, mungkin mudah saja. Banyak seksi acara dan calon panitia yang bisa membantu. Kita bisa mendelegasikannya kepada mereka.

Tapi, bukankah sangat berat menjadi pihak yang ditinggalkan lebih dulu? Hati siapa yang tidak akan sesak mengetahui kekasih hatinya pergi selama-lamanya? Tubuh siapa yang tidak melemah ketika berpisah dengan anak-anak atau orang tuanya karena maut tersebut?

Aku, aku selalu kelu berbicara tentang kematian. Sekalipun aku tahu bahwa kematian bukanlah akhir di dalam iman Kristen, tapi dalamnya pengetahuan dan hebatnya praktik tetap bukanlah suatu hal yang otomatis terjadi. Ada banyak proses dan waktu yang diperlukan untuk menjalani hidup yang  pasti tidak sama lagi. Ada banyak pertanyaan-tanpa-jawaban yang setiap hari mungkin harus diutarakan sampai letih sendiri.

Namun aku bersyukur aku kelu membicarakannya. Sebab kematian bukanlah hal yang patut dimulia-muliakan–justru harus direngkuh kebenarannya, bahwa ia adalah sesuatu yang karena dosa, tidak bisa kita hindari. Itu adalah hukuman. Kematian adalah pengingat paling nyata bahwa ada kudeta terbesar dan tertua terjadi di dalam sejarah; manusia yang tidak cukup diciptakan dalam rupa Allah dan ingin menjadi Allah–upaya merebut kuasa Allah atas dirinya.

Pernikahan juga membuatku harus berpikir serius, mau dibawa ke mana keturunanku nantinya? Menghadapi kematian tanpa Kristus atau dengan Kristus? Tampak seperti biasa-biasa dan sama saja, terutama bagi mereka yang tidak memiliki pengharapan akan langit baru & bumi baru, tapi ya… pikirkan sajalah. Please, doubt your doubts. 

Saat ini aku masih terus memikirkan hal di atas. Ketika menulis pun aku sedang berproses, jauh dari mengerti dan menerima bahkan keyakinan-keyakinan iman yang ada. Masa-masa dan virus corona ini sendiri telah membuat hampir sebagian besar manusia harus menerima sekali lagi, bahwa kematian itu memang tidak enak. Kalau enak, kenapa sulit-sulit membuat kebijakan ini-itu? Kenapa stress kalau orang masih aja kumpul-kumpul?

Aku sedang terus menghadapi fakta dan pendapat kepalaku sendiri tentang kematian & mimpi buruk yang ia tawarkan. Masih tidak ingin mengulang kesalahan yang sama yakni membiarkan hal-hal nyata namun sulit ini berlalu begitu saja dan menimbun pasir-pasir keyakinan semu yang gampang terbawa angin dan arus nantinya.

Saat ini bisa dikatakan, prosesnya ternyata too intense to be true. Aku menyimpulkannya dalam 1 kalimat, “I think, in life, it’s better to attach nothing but files”. Aku jadi memikirkan ulang attachment yang sudah dan mungkin ada di dalam hidupku. Buat yang nggak ngeh, attachment yang kumaksud itu kira-kira bersinonim dengan pengertian ‘kedekatan” atau “keterikatan”. 

Semakin banyak kedekatan dan keterikatan dengan orang lain, semakin sulit menepis mimpi buruk karena kematian. Bukan begitu? Tentu saja, sebaliknya. Semakin sedikit attachment dengan orang lain, semakin kecil kemungkinan akan mengalami mimpi buruk tersebut.

Namun ketika memikirkan ini, aku juga ingat bahwa tidak ada kekristenan tanpa attachment yang proporsional dengan sesamanya. Sebab, ketika percaya kepada Kristus, kasih menjadi kata kerja wajib yang melekat dengan kita sebagai subjek. Sehingga, harus kuakui bahwa ketakutan untuk memiliki attachment ternyata erangan yang kuat dari daging yang lemah yang tidak mau berjuang mengasihi. Tidak mau berjuang hidup dalam relasi dengan orang lain karena sadar harus bertatapan dengan betapa pastinya kematian. 

Aku belum sanggup melanjutkannya. Aku masih terus merenungkan paragraf terakhir di atas. Tapi aku bersyukur bisa berbagi sampai di sini. Aku tidak takut memperlihatkan pergumulan ini karena aku percaya bukan hanya aku yang patut memikirkannya. Pernikahan dan hidup pada umumnya memanglah hal yang kompleks, dan aku hanya sedang menguraikan satu benang kecil yang kadang-kadang menjadi penyebab pernikahan tidak dipandang sebagaimana seharusnya.

Rangkullah suka dan dukanya, jika sedang mempertimbangkan untuk menikah.

Doakanlah, agar suka-duka itu menemukan maknanya di dalam Kristus. Semua ada waktunya, semua ada masanya. Tapi satu yang pasti, relasi pernikahan hanya ada di dunia ini. Di langit baru dan bumi yang baru tidak ada pernikahan. Bukankah terlalu sementara untuk memikirkan bahwa pernikahan itu bertujuan for the sake of pernikahan itu saja?

There’s something more to marriage–perhaps many divinely things.

Kalau kata salah satu buku berjudul Sacred Marriage, “pernikahan adalah sarana pengudusanmu sebagai anak Allah”.  Setiap orang yang diselamatkan Allah pasti akan dibentuk hari lepas hari, menikah atau tidak menikah. Jika menikah, pandanglah itu sebagai ‘arena’ pengudusan yang paling nyata yang bisa ditemukan oleh tiap-tiap ‘peserta janji’ di dalamnya.

Aku,

Aku mau melihatnya demikian.

 

 

Categories
Jesus Life

“Oleh Karena Nama-Nya”

Yesaya 48:9-11

Oleh karena nama-Ku Aku menahan amarah-Ku
dan oleh karena kemasyhuran-Ku Aku mengasihani engkau,
sehingga Aku tidak melenyapkan engkau.
Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak,
tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.
Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri,
sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan?
Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!”

 

Allah sudah tahu sejak awal bahwa bangsa yang menyebut dirinya Israel dan keturunan Yakub adalah bangsa yang tegar tengkuk. Artinya, pemberontakan dan kedegilan hati mereka bukanlah hal baru yang mengagetkan bagi Allah. Tetapi Allah tetap memilih mereka. Allah bahkan menahan amarah-Nya terhadap Israel karena nama-Nya dibawa oleh bangsa ini.

Pernah melihat orang tua yang tidak jadi menghukum anaknya di depan umum karena ‘malu’ orang lain akan melihat dia sebagai orang tua yang tidak baik? Tentu ilustrasi ini tidak sempurna dalam memahami apa yang Allah katakan bahwa Ia tidak ingin “kemuliaan-Nya” diberikan kepada orang lain atau hal lain. Tapi kira-kira seperti itu.

Bagi umat perjanjian baru, amarah mutlak yang Allah miliki akibat dosa umat-Nya harus ditumpahkan ke atas Diri-Nya sendiri–Kristus, anak Bapa menanggung semuanya bagi orang yang percaya. Benar, itu semua karena kasih-Nya kepada dunia. Namun, penghukuman tidak diberikan juga karena nama-Nya yang kudus yang telah menciptakan manusia sebagai gambar dan rupa-Nya.

Sehingga, kita tidak pernah bisa menghayati penebusan Kristus sebelum kita memahami betapa sentral diri kita sebagai gambar dan rupa Allah. Bagaimana Allah tidak menyayangkan ciptaan-ciptaan yang Ia maksudkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya di muka bumi ini?

Jadi, aku pertama-tama mau menghayati, dalam kasih-Nya, ada kemuliaan-Nya yang Ia tidak ingin berikan kepada ilah-ilah dunia ini. Menghayati penebusan Kristus hanya karena kasih-Nya akan membuat kita menjadi pengikut-pengikut yang susah berdisiplin. Karena, bukankah enak sekali dikasihi begitu rupa sampai Seseorang harus mati bagi kita? Namun ketika kita menghayati penebusan Kristus karena kasih dan kemuliaan Allah yang Ia mau nyatakan, kita akan menjadi pengikut-pengikut yang berjuang menghidupi tujuan penebusan itu: pemulihan sang ciptaan yang dimampukan oleh kasih karunia-Nya untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Karena itu penting bagi kita mengingat, kita ini yang percaya kepada Kristus, adalah ciptaan baru. Sebab yang lama telah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Sumber belajar:

For the Sake of God’s Name

Categories
Life

Life-updates (1): Elisabeth loves to cook!

You rock!

Halo semua! Apa kabar? Setelah lama tidak berjumpa, sekalinya nge-post malah foto makanan! Terhitung sejak Desember 2019 lalu, memasak sudah menjadi kebiasaanku. Yang dulunya hanya sekadar angan-angan, kini bisa juga jadi kenyataan! Ini adalah masakanku hari ini, guys! Bubur kacang ijo resep rumah, daging babi saksang (tanpa darah), dan kue-cokelat-yang-harusnya-muffin-tapi-ngga-ada-cup-nya-jadinya-begini. These three-meal are approved by my mom, not only because of her recipe alone, but also it turned out great and delicious! I’m so proud of my self (and my mom, of course). Anyway, aku juga belajar banyak hal selama beberapa bulan terakhir sejak rajin memasak. Setelah ini akan kubagikan ya!

기대 해주세요! 🙂

Categories
Life

Biar bagaimana pun, aku butuh sahabat

Kepada mereka yang mengira aku sekuat itu untuk menjalani hidup…

Kepada mereka yang mencariku untuk menanyakan ini dan itu…

Kepada mereka yang menyebutku sahabatnya…

Kepada mereka, aku harus jujur.

Pernahkah sejenak kautanyakan dirimu, taukah kau apa yang sedang kualami?

Pernahkah sejenak kaupastikan hatimu, pedulikah kau padaku?

Pernahkah kau menangis karena lukaku?

Pernahkah rasamu ingin berada di dekatku untuk sekadar memelukku?

Pernahkah hancur hatimu karena kacaunya diriku?

Pernahkah kau peduli bagaimana aku melalui hari yang berat ini?

Sakitkah kaurasa ketika mendengar diamku?

 

Aku tau kau punya masalah. Aku pun juga. Tidak ada yang tidak.

Tapi, kapankah aku menerima waktumu?

Bolehkah aku yakin kalau aku dikasihi karena hadirmu?

Di mana kau,

di mana mereka?

 

Tuhan, mereka tau, kan,

Biar bagaimana pun, aku butuh sahabat

Aku juga manusia

 

Categories
Life

huruf kecil kecuali untuk Tuhan

suatu kali seorang gadis datang dan bertanya,

“kenapa susah sekali menjadi aku?”

aku menepi dan menemaninya sejenak.

“susah bagaimana?”


“beberapa tahun lalu aku menyukai seorang pria dan kupikir dia adalah yang terbaik. aku mulai memikirkan ‘what-ifs’ dan itu adalah hal terakhir yang ingin kulakukan di dunia ini. sebab aku tidak suka. aku ingin mencoba memastikannya saja, tanpa jeda. tidak sabar. sampai akhirnya keputusanku sendiri yang membawaku kepada kenyataan yang sulit kuterima.

semuanya berjalan seperti biasa, bagi sebagian besar orang, tapi tentu tidak bagiku. aku seperti berada di suatu situasi yang melawanku, apa pun yang ingin kulakukan. tapi, toh, kujalani saja. kata seseorang, aku tidak sesalah itu, aku hanya baru tahu bahwa aku telah salah sejak awal. jadi aku belajar mengakui bahwa aku tidak cukup bijak. bahkan untuk waktu yang berbulan-bulan.

perlahan, aku rasa aku mulai berdamai pada kenyataan bahwa aku tidak bijak. di dunia yang kompetitif ini, mengakui kebodohan diri sendiri mungkin tidak menyenangkan bagi sebagian besar orang. tunggu, mengakuinya betul-betul sebagai kebodohan, tanpa pemanis apa pun. sebab orang zaman sekarang lihai sekali mengubah sesuatu yang jelas-jelas kebodohan total seolah hanya khilaf semata.”


aku masih mendengarkannya, ingin memotong, tapi aku tahu dia anti terhadap itu.

“beberapa tahun kemudian, kupikir aku sudah baik-baik saja dan merdeka dari permasalahan ini. namun aku salah. aku suka bingung, kenapa ya, sesuatu kadang hadir tanpa memberi tahu alasan untuk apa dia hadir? apa Tuhan pikir aku masih sanggup menerka-nerka, ya? kenapa hal yang sama terulang?”

apa yang membuatnya berpikir itu hal yang sama?

“aku kembali bertemu dengan seseorang yang membuatku memikirkan banyak ‘bagaimana jika’ dan ‘seandainya’. kadang-kadang aku bisa lupa tentangnya. namun kadang-kadang aku sangat memikirkannya. kadang-kadang aku ingin berhenti saja, namun seperti ada dorongan dalam diriku, ayo, doakanlah. 


jadi, inikah yang membuatnya berpikir bahwa susah sekali menjadi dirinya?

“mendoakan seseorang telah menjadi begitu menakutkan bagiku, kak.”

katanya.

aku mencoba mengerti maksud kalimat itu. meski aku tidak akan betul-betul memahami ketakutannya. biar bagaimana pun, dia pernah sangat menyayangi seseorang karena mendoakannya dengan tekun. dan menjadi sangat terluka pula karena mendoakannya dengan tekun.

lagi katanya,

“aku semacam tidak lagi meyakini akan ada yang berbeda kalau aku berdoa.”

lalu aku terdiam. aku menunduk, mengiyakan apa yang ia katakan.

aku mencoba berkata-kata, semampuku.

“ketakutanmu berdoa sebenarnya sedang menunjukkan keraguanmu pada Tuhan dan kuasa-Nya. mungkin juga sedang menunjukkan betapa kaburnya kau sekarang melihat doa. kau pikir berdoa adalah selalu tentang mengubah sesuatu? tidak. kadang-kadang doa juga tentang menunjukkan bagaimana sesuatu itu sesungguh-sungguhnya. mungkin dirimu, mungkin dirinya, mungkin keadaanmu, mungkin Tuhan. sesuatu yang sebenarnya sama, namun baru kau lihat semakin utuh ketika kau mendoakannya. seperti, bahwa kau ternyata meragukan Tuhan. mungkin kalau kau berdoa dengan tekun, yang kau lihat bukan keraguanmu, namun ketetapan Tuhan–yang dengan ketekunanmu, Ia berketetapan: tidak. mungkin kalau kau berhenti secepat ini, kau sebenarnya telah melihat bahwa kau tidak benar-benar membutuhkan hal ini. membutuhkan dia. 

dia terdiam.

“doa mengubah segala sesuatu, bisa jadi. tapi doa juga bisa tidak mengubah segala sesuatu, melainkan membuatmu melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, sebenar-benarnya, seutuh yang diizinkan-Nya. jadi, mungkin kau perlu mengubah mind-set-mu dalam berdoa. kalau kau ingin melihat dengan lebih jelas, berdoalah. satu yang pasti: Ia pasti membukakan apa yang akan menyatakan kekudusan Nama-Nya, kedatangan kerajaan-Nya, dan kejadian kehendak-Nya, yang sama, di bumi dan di surga. kalau kau ingin menyaksikan itu semua, berdoalah dengan benar.”

dia masih terdiam. tidak apa, aku pikir dia butuh waktu. seperti aku juga butuh waktu, saat ini, seperginya dia.

Categories
Life

Dengar!

Ibrani 3:7-19


Kita mungkin sering mendengar kisah orang Kristen yang pindah agama. Alasannya bisa macam-macam. Mungkin karena tertarik dengan agama lain, pasangan hidup, atau karena menolak apa yang kekristenan ajarkan kepadanya. Lalu kita bertanya, “Bagaimana dengan orang yang seperti itu? Apakah keselamatan mereka hilang?”, “Bukankah mereka sudah percaya dan berada di dalam Kristus?”

Hari ini kita akan belajar dari firman Tuhan di dalam Ibrani 3:7-19 dan melihat berdasarkan ayat-ayat di dalam perikop tersebut, “bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang itu sungguh-sungguh percaya kepada Kristus?”

Kita tidak mengetahui siapa penulis surat Ibrani, namun dari pengajaran yang terdapat di dalamnya, kita melihat bahwa pengajaran tersebut sesuai dengan ajaran para Rasul. Banyak orang mengatakan penulisnya adalah Paulus, namun kalau diperhatikan sungguh-sungguh, terdapat beberapa perbedaan gaya menulis serta cara mengajukan argumen antara penulis dan Paulus. Namun tampaknya ia adalah seseorang yang dekat dengan rasul dan rekan sepelayanan para rasul. Sebagai contoh, di penutup surat ini penulis menyebut nama ‘Timotius’ yang diyakini kuat sebagai Timotius yang kita kenal sebagai rekan pelayanan Paulus.

Namun kita bisa mengetahui dengan jelas siapa penerima surat ini. Mereka adalah orang-orang Kristen-Yahudi. Hal itu dapat kita ketahui dengan melihat banyaknya referensi ke Perjanjian Lama yang dikutip oleh penulis dan dengan demikian kita mengasumsikan bahwa penerima suratnya pasti mengetahui isi Perjanjian Lama dengan baik.

Bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang sungguh-sungguh percaya kepada Allah?

  1. Tidak mengeraskan hatinya terhadap suara Allah
  2. Teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman sejak semula di dalam Kristus

Tidak mengeraskan hatinya terhadap suara Allah

Penulis surat Ibrani mengutip Mazmur 95:7-11 untuk menunjukkan kegagalan orang Israel saat mereka keluar dari Mesir. Generasi ini gagal merespons dengan setia penebusan dan penyelamatan yang sudah Allah lakukan untuk mengeluarkan mereka dari perbudakan di Mesir.

Bangsa Israel ini adalah bangsa yang selalu bersungut-sungut di hadapan Allah, selalu protes pada cara Allah membebaskan mereka. Mereka bahkan merasa lebih baik tetap hidup sebagai budak di tanah Mesir, menikmati kehidupan yang nyaman, daripada kemerdekaan sebagai umat pilihan Allah dan mengikuti pembentukan iman serta karakter yang Allah berikan selama mereka mengembara di padang gurun.

Pada kitab Keluaran dan Bilangan kita membaca dengan jelas bagaimana umat ini seperti umat yang tidak bersyukur atas keselamatan yang Allah sudah berikan. Padahal Allah sudah menunjukkan berbagai macam perbuatan ajaib untuk menyelamatkan mereka. Ke-10 tulah di Mesir untuk membuat Firaun membiarkan orang Israel pergi, tiang awan, tiang api, terbelahnya laut Teberau ketika bangsa Mesir mengejar mereka, manna sebagai makanan mereka, namun bangsa ini tetap dikatakan mencobai Allah dan tidak mau mendengarkan suara-Nya.

Apa tanggapan Allah terhadap bangsa yang seperti ini? Ayat 16-19: mereka telah membangkitkan amarah Allah, dimurkai Allah selama 40 tahun lamanya, berbuat dosa dan dibinasakan di padang gurun. Merekalah generasi yang tidak taat dan ayat 19, “demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.’ Mereka bukanlah orang yang percaya kepada Allah. Mereka mengeraskan hatinya terhadap suara Allah; tidak mendengarkannya dan mentaatinya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Allah di dalam Kristus yang sudah menyelamatkan kita dari perbudakan dosa? Apakah kita masih mengeraskan hati jika kita mendengarkan suara Allah melalui firman-Nya, memanggil kita untuk bertobat dan percaya kepada-Nya?

Jika di masa itu Allah berbicara melalui hamba-Nya, Musa, bahwa Allah ingin menyelamatkan bangsa Israel, bagaimana dengan kita, yang di masa kini mendengarkan Allah telah menyelamatkan kita dari perbudakan dosa, melalui Kristus yang berkorban di kayu salib? Kristus yang adalah firman Allah yang hidup? Kalau kamu sungguh-sungguh percaya, kamu akan menyadari bahwa hatimu tidak dikeraskan terhadap firman Allah. Bagaimana kita mengetahui apakah kita sungguh-sungguh orang percaya kepada Allah? Ketika kita mau mendengarkan suara-Nya dan mentaatinya.

Orang yang mengeraskan hati adalah orang yang lebih percaya pada kebohongan yang dikatakan dosa daripada kepada kebenaran yang dinyatakan firman Allah. Dosa berkata, “Ah, Tuhan itu tidak patut kamu sembah”, “Ah, Tuhan itu tidak layak mendapatkan totalitas hidupmu”, “Ah, lebih enak, kan, hidup sesuka hati dan berbahagia di dalam dosa-dosa kita?” Dengan itulah hati kita menjadi keras terhadap suara Allah dan tidak mau percaya kepada-Nya.

Di ayat 12 penulis mengatakan, “waspadalah!”. Ini adalah warning bagi setiap pembaca di masa itu dan di masa sekarang. Apakah bisa di antara persekutuan atau jemaat seperti ini ada orang yang tidak percaya? Tentu saja. Karena itu, peringatan ini adalah ajakan penulis supaya pembacanya menguji dirinya sendiri di hadapan Allah, “apakah aku orang yang sungguh-sungguh percaya?”

Teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman sejak semula di dalam Kristus

Kemudian yang ke-2, bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang sungguh-sungguh percaya kepada Allah? Yakni jika ia teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan imannya yang sejak semula di dalam Kristus. Apa artinya? Kalau ia setia sampai akhir kepada Kristus. Itu yang dapat kita lihat di ayat 13-14.

Kehidupan orang Kristen yang sejati akan ditunjukkan melalui ketabahan/ketahan-ujian imannya di sepanjang perjalanan hidupnya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa keselamatan orang percaya di dalam Kristus tidak akan hilang. Keselamatan orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus adalah pasti. Itu jaminan yang kita imani dari Yohanes 10:27-29.

Keteguhan iman kita terwujud ketika kita menghadapi kesulitan, pencobaan, serta penderitaan. Baca Yakobus 1:2-4. Sehingga, seringkali Allah membiarkan kita menghadapi banyak kesulitan untuk menunjukkan siapa Allah yang kita sembah dan bagaimana iman percaya kita kepada-Nya. Seperti yang Ia lakukan terhadap bangsa Israel, pengembaraan mereka yang berat di padang gurun dilakukan Allah untuk menunjukkan bahwa Allahlah yang menuntun mereka dengan kekuatan-Nya, bahwa Allah tidak pernah salah dalam berencana demi kebaikan umat-Nya, bahwa Allah ingin umat Israel tahu bagaimana kesungguhan iman mereka kepada Allah.

Namun kenyataannya apa? Pengembaraan itu diisi dengan banyak sungut-sungut dari umat Israel. Mereka bahkan pernah berkata, “adakah Allah di tengah-tengah kita?” Padahal sudah jelas-jelas Allah menunjukkan diri dan kekuatan-Nya melalui banyak cara dan mukjizat. Apa yang kita lihat dari sini? Mereka tidak taat karena mereka tidak percaya. Mereka tidak teguh berpegang pada iman mereka sejak semula karena mereka tidak percaya.

Kita bisa membaca di dalam kitab Bilangan bagaimana generasi ini binasa di padang gurun karena tidak percayanya. Bahkan dari ke-12 pengintai ke Kanaan, hanya Kaleb dan Yosua yang memasuki tanah perjanjian beserta umat lain yang Allah tentukan untuk tetap memasuki tanah Kanaan. Sungut-sungut mereka dicatat sebagai ‘mencobai Allah’ dan itu adalah dosa di hadapan Allah. Mereka meragukan keberadaan Allah dan meragukan kekuasaan-Nya atas mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sedari awal tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Allah karena mereka tidak teguh di dalam iman mereka dan malah memberontak dan mencobai Allah.

Orang Kristen yang sejati tidak akan mengeraskan hati, melainkan bertekun, setia sampai akhir kepada Kristus. Mendengarkan suara Allah dengan memegang firman-Nya, janji-Nya, dan melakukannya. Tanpa ketekunan iman dan ketaatan sampai akhir, kita meragukan apakah seseorang sungguh-sungguh telah percaya dan beroleh bagian di dalam Kristus. You can fake your Christian ritual, but you can’t fake your salvation. Karena keselamatan itu adalah anugerah Tuhan dan bagian kita adalah percaya.

Apa yang dapat kita lakukan sebagai sesama umat percaya di dalam persekutuan mahasiswa? Lihat ayat 13, “nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya (keras hatinya) karena tipu daya dosa.” Inilah perintah yang diberikan penulis bagi kita. Karena itu penting sekali ada pemuridan yang berpusat pada Injil. Pemuridan yang terus-menerus diisi oleh Firman Tuhan. Dengan cara apa kita menjauhkan diri dari tipu daya dosa? Tentu dengan cara mendekatkan diri kepada kebenaran yang berkuasa mengubahkan hidup kita.

Kehadiran teman-teman yang percaya dan saling membangun di dalam firman dipakai Allah untuk menolong kita. Pertama, menolong kita mengevaluasi iman percaya kita kepada Allah, apakah ketika firman Allah (suara Allah) diperdengarkan, saya mau mendengar dan melakukannya? Ataukah saya mengeraskan hati? Kedua, menolong kita bertekun di dalam iman kepada Kristus sampai akhir.

Di dalam persekutuan yang berpusat pada firman Allah-lah kita saling menguatkan dan mengingatkan kalau pencobaan, kesulitan, dan kejatuhan kita dalam dosa mulai membuat kita lupa pada janji-janji Allah. Kalau kita lupa pada janji Allah, pada kebenaran, bahwa Allah menjamin hidup kita, Allah sanggup mengangkat dan menolong kita, kita bisa berlarut di dalam dosa. Sehingga, perdengarkanlah suara Allah melalui firman-Nya di dalam persekutuanmu, dalam relasimu satu dengan yang lain. Serta, janganlah menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan di mana kamu dapat mendengarkan suara Allah. Hadir dan berikanlah dirimu dikuatkan dan dijaga oleh firman itu.

Categories
Inspiration Jesus Life

I Once Thought I Knew So Much About This Samaritan Woman

Samaritan…turns out I’m wrong. Masih ada banyak sekali yang belum saya ketahui dan dapat saya pelajari serta terapkan melaluinya.

Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria ini “stands out” setidaknya karena 3 hal:

  • Percakapan terpanjang yang dicatat antara Yesus dan siapa pun bahkan dengan murid-murid-Nya
  • Letak pasal ini setelah percakapan Yesus dengan Nikodemus. Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi. Namanya dicatat di Yohanes 3. Dia pasti religius, bermoral, dan berpengaruh. Sedangkan perempuan Samaria ini, tidak diketahui namanya, satu-satunya highlight tentang dia dari perikop kita adalah ketidakbermoralannya. Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa “there’s no one beyond the needs of grace and there’s no one beyond the rich of grace”. Nikodemus dan perempuan Samaria, dua tipe orang yang paling berlawanan; bermoral dan tidak, berpengaruh, serta bahkan harus menimba di sumur di jam-jam paling sepi.
  • Mengonfirmasi tujuan Injil Yohanes dicatat: Yohanes 20:30-31. Supaya pembaca percaya bahwa Yesuslah Mesias yang dinantikan itu, Dialah Anak Allah, yang menyelamatkan pendosa-pendosa, dan supaya oleh iman, mereka yang percaya itu beroleh hidup di dalam nama-Nya

Beroleh hidup di dalam nama-Nya. Ini mengindikasikan bahwa mereka, siapa pun, yang di luar Kristus, pada hakikatnya adalah mati. Tentu bukan mati secara jasmani, melainkan secara rohani. Injil Yohanes menunjukkan betapa pentingnya Yesus Kristus untuk diberitakan, bahwa Ia adalah Mesias yang memberikan hidup dan itulah yang dialami oleh perempuan Samaria ini; hidup.

Yohanes memulai catatannya dengan menjelaskan setting/latar dari percakapan tersebut, pada ayat 1-3. Catatan ini mengingatkan kita pada apa yang terjadi sebelumnya di pasal 3:25-26 tentang murid-murid Yohanes Pembaptis yang berselisih karena melihat banyak yang dibaptis oleh Yesus (yang kemudian di perikop hari ini kita ketahui bahwa bukan Yesus yang membaptis melainkan murid-murid-Nya). Kemudian, Yesus memutuskan meninggalkan Yudea untuk kembali ke Galilea. Kita tahu, di awal Injil Yohanes dicatatkan bahwa Yesus telah melayani di Galilea dan mengadakan mukjizat air menjadi anggur di Kana.

Yesus memilih rute tercepat untuk berangkat ke Galilea, yakni melalui Samaria. Rute tercepat ini bukan rute yang biasa diambil oleh orang Yahudi karena harus melintasi Samaria. Hal itu terjadi karena mereka tidak mau tercemar dengan orang Samaria yang bukan Yahudi asli. Sudah ada percampuran budaya dengan non-Yahudi dan pernikahan dengan para penjajah Mesopotamia. Akibatnya, orang Yahudi biasanya harus memutar dari sebelah timur menyeberangi sungai Yordan untuk tiba di Galilea.

Namun, penggunaan kata ‘harus’ atau ‘had to pass’ mengindikasikan adanya kepentingan ilahi. Kata ‘dei’ dalam bahasa Yunani untuk kata ‘harus’ ini sering digunakan untuk menunjukkan kepentingan ilahi. Yesus memiliki rencana di dalam kedaulatan Allah. Sehingga keputusan Yesus untuk melewati Samaria bukan semata karena geographical reason, melainkan kerena Dia sedang on mission.

Ketika Yesus tiba di sebuah kota di Samaria, yakni Sikhar, yang letaknya di dekat tanah yang diberikan Yakub kepada anaknya, Yusuf, Yohanes mencatat bahwa Yesus sangat letih. Panas terik, tidak hujan badai, jam 12 siang, pasti haus sekali. Ingat, dulu belum ada Go-Jek atau Go-Food. Yesus kemungkinan berjalan kaki di siang hari, dan itu pasti sangat melelahkan. Ini menunjukkan meskipun Dia adalah Mesias, Anak Allah yang memberi hidup, Dia adalah manusia sejati. Dia bisa letih, bisa haus. Firman menjadi daging.

Ibrani 4:15, “sebab Imam Besar yang kita miliki, yaitu Yesus Kristus, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Saya dikuatkan oleh ayat ini dan catatan Yohanes yang mengonfirmasi bahwa Yesus yang memanggil kita untuk melayani-Nya adalah Yesus yang dapat merasakan keletihan kita, kelaparan dan kehausan kita. Dia mengerti dan karena itu kita dapat terus dengan penuh keberanian, menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Itulah setting sebelum percakapan di antara Yesus dan perempuan Samaria itu dimulai. Percakapan tersebut dapat kita lihat di ayat 7-26. Percakapan itu sendiri dapat dibagi menjadi 2 bagian besar: 1) 7-15 tentang air hidup, 2) 16-26 tentang penyembahan.

Kita melihat di ayat 7 perempuan Samaria yang datang hendak menimba air, siang-siang, sekitar pukul 12. Mungkin dia nggak expect akan ketemu Yesus. Tapi di sanalah Yesus, memutuskan melewati Samaria, karena ada perempuan ini yang membutuhkan hidup. Sebenarnya tidak ada masalah dengan jam yang ia pilih. Hanya saja, itu bukanlah waktu yang umum di mana perempuan pergi untuk menimba air. Biasanya perempuan pergi pagi-pagi atau sore-sore. Yang lebih menarik dari masalah jamnya adalah, apa yang dikatakan Yesus kepada perempuan itu.

“Berilah Aku minum.” Yesuslah yang memulai percakapan tersebut. Percakapan ini sebenarnya sangat kontroversial. Ibarat kata kalau zaman sekarang mungkin bisa masuk ke Instagram gossip seperti Lambe Turah. Kontroversialnya bisa kita lihat dari jawaban perempuan itu berikutnya, penegasan dari Yohanes, dan juga dari respons murid-murid Yesus sekembalinya mereka dari shopping.

Respons perempuan itu terdapat di ayat 9 yang ditegaskan lagi oleh Yohanes, seolah-olah respons perempuan ini belum cukup untuk menunjukkan betapa tidak biasanya hal tersebut. Setidaknya ada beberapa alasan: Yesus orang Yahudi, perempuan itu orang Samaria, Yesus laki-laki, perempuan itu ya perempuan (-.-). Alasan ini masing-masing saja sudah tidak biasa dan mengherankan, apalagi digabung: laki-laki Yahudi meminta minum dari perempuan Samaria. Tidak ada di pikiran Yesus tentang pencemaran karena asimilasi budaya whatsoever.

Namun yang menarik lagi di ayat 10 kita melihat tadinya Yesus asking for water, sekarang malah offering water. Dari percakapan sederhana tentang air minum, menjadi sebuah percakapan yang deep dan bermakna. “Jika kamu tahu…. niscaya engkau telah meminta.” If you knew…. you would have asked.” Karunia Allah = the gift of God. Kalau kamu tahu, berarti kamu telah meminta. Jadi, air hidup yang Yesus berikan membuat perempuan ini tahu pemberian dan membuatnya tahu siapa Yesus Kristus. Di dalam Yohanes 17:3 dikatakan hidup kekal adalah mengenal Bapa dan Kristus yang Ia utus, itulah hidup yang kekal. Jadi ayat 10 ini tidak sekadar berbicara tentang air biasa, melainkan dikatakan air hidup, karena berarti hidup yang kekal.

Namun tidak berbeda dengan Nikodemus yang sangat beragama sekalipun, perempuan Samaria ini juga tidak dapat mengerti apa yang dibicarakan oleh Yesus. Yesus berbicara tentang hal-hal rohani, namun perempuan ini menyangka bahwa Yesus masih berbicara tentang air dari sesuatu seperti sumur Yakub. Mungkin perempuan ini berpikir, “lah, bukannya dia tadi minta air minum sama gue, kenapa sekarang dia mau ngasih air? Berarti dia sebenarnya punya timba atau mungkin dia lebih hebat kali ya dari Yakub, punya tanah sendiri yang sumur yang airnya lebih berlimpah?”

Yesus melanjutkan pembicaraan di ayat 13-14 tentang sumber dan natur air hidup itu. Pertama, itu bersumber dari Diri-Nya sendiri, Dialah yang memberikannya. Kedua, air hidup itu akan sangat memuaskan bahkan membuat hidup orang yang memilikinya seperti mata air yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Tidak akan haus untuk selama-lamanya, tapi bahkan segar seperti mata air yang terus-menerus, memancar sampai kehidupan kekal. Enak kali ya, minum sekali, puas selama-lamanya dan tetap segar seperti mata air, tidak dehidrasi.

Apa yang dimaksud dengan air hidup ini adalah Roh Kudus, Allah sendiri (Yoh 7:37-38). Begitulah hidup seseorang yang memiliki Roh Kudus di dalam hidupnya. Tidak akan haus untuk selama-lamanya, dan menjadi mata air yang terpancar terus lewat buah Roh dan karunia-karunia Roh di dalam hidupnya. Saya sangat diingatkan lewat bagian ini, terutama ketika saya mulai mencari lagi air minum rohani di tempat lain selain Yesus. Ini tuh bukan kayak minum air biasa yang mana ada masa akan haus lagi, lalu butuh minum. Ini adalah kebenaran identitas mereka yang percaya. Jadi, kalau ada perasaan-perasaan “apa aku mulai mencari kepuasan di tempat lain?” melawannya adalah dengan mengingat ayat ini bahwa kita sudah dipuaskan, ada Roh Kudus di dalam kita. Bagian kita adalah berserah untuk dipimpin-Nya tiap-tiap hari.

Di ayat 15 perempuan ini masih merespons, bahkan mengingat ucapan Yesus di ayat 10 untuk meminta. Namun dia masih belum mengerti. Jesus keeps talking about heavenly things, she keeps responding with earthly things.

Namun Yesus tabah, Dia meminta perempuan itu memanggil suaminya. Tentu, ini dilakukan Yesus dengan tujuan untuk membuka realita terdalam dari perempuan tersebut. Untuk mengalami indahnya kabar baik, kehidupan kekal dari Allah, kita perlu menyadari busuknya dosa-dosa kita. H. B. Charles mengatakan “Good news, if it’s to be enjoyed, must be preceded by us embracing the bad news of sins.” Untuk bisa melihat amazing grace, kita perlu melihat dan mengakui betapa kita adalah pendosa yang besar.

Itulah yang Yesus lakukan selanjutnya, menolong si perempuan ini melihat kenyataan hidupnya. Dia berkata “aku tidak bersuami” dan benar, tepat, itulah jawaban yang dikehendaki Yesus. Sehingga Yesus berkata “tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami.” Dari sinilah Yesus menunjukkan keilahiannya. Yesus tahu dahaga jiwa perempuan yang ingin diberikan-Nya hidup ini.

Apa yang menjadi respons perempuan tersebut? Dia mulai melihat Yesus sebagai nabi. Yesus yang kelelahan dan kehausan ini adalah juga Allah, karena Ia maha tahu. Bahkan masa lalu seseorang pun Ia tahu. Begitu perempuan ini menganggap Yesus sebagai nabi, ia mulai switch ke masalah penyembahan. Namun di ayat ke-21-24 Yesus menegaskan, bahwa penyembahan yang sejati tidak bergantung pada tempat. Penyembahan sejati dilakukan di dalam roh dan kebenaran, dilakukan karena pengenalan kepada Allah yang menyelamatkan. Itu terjadi ketika Allah berinkarnasi, Sang Firman yang menjadi daging, menjumpai pendosa-pendosa yang sering menggali kolam bocor bagi dirinya. Penyembahan dimulai karena Allah yang mencari manusia-manusia berdosa, memberikan karunia-Nya, melahirkan kembali, memberi Roh-Nya, untuk dapat menyembah Allah yang adalah Roh. Karena Allah adalah Roh, maka penyembahan kepada-Nya tidak dapat dibatasi oleh ritual, tempat, upacara keagamaan, budaya, seperti yang dipahami oleh perempuan Samaria tersebut. Bukankah itu memberikan kejutan baginya dan bagi orang-orang Yahudi yang membaca? Dengan demikian, dengan percaya kepada Kristus (21), semua orang, tanpa sekat-sekat suku dan ras, golongan dan stereotip, adalah penyembah-penyembah Allah yang benar. Ini mengantisipasi keesaan gereja secara universal. (Saya bertanya-tanya apakah Yesus akan menanyakan “apa denominasi gerejamu?” ketika orang percaya berjumpa dengan-Nya muka dengan muka).

Menyembah di dalam kebenaran berarti berdasarkan pada penyataan ilahi Allah melalui firman-Nya, melalui Yesus Kristus Sang Firman yang hidup, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Penyembahan orang percaya didasarkan pada iman kepada Kristus. Di luar itu, mungkin ada banyak yang menyebut dirinya sebagai penyembah, namun Alkitab menegaskan, itu bukanlah penyembah Allah yang benar.

Di ayat ke-25 dan 26 kita melihat perempuan ini mulai berpikir apakah Yesus itulah Kristus, Mesias yang dinantikan yang akan memberitakan segala sesuatu kepada manusia. Tadi dia mengatakan bahwa Yesus adalah nabi, kini Ia mulai berpikir apakah Yesus itu Mesias? Kemudian Yesus mengonfirmasi di ayat 26. “I am He”, Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau. Inilah yang mengawali 7 I am di dalam Injil Yohanes. Pasal 6, I am the bread of life, Pasal 8 dan 9, I am the light of the world, Pasal 10, I am the door of the sheep, I am the good shepherd, Pasal 11, I am the resurrection and the life, Pasal 14, I am the way, the truth, and the life, Pasal 15, I am the true vine. Tujuh kali Injil Yohanes mencatat bahwalah Jesus is The Great I Am. Ia ada bahkan sebelum Abraham ada (Yoh 8:58), Dialah Firman yang ada sejak semula, yang bersama-sama dengan Allah, dan yang adalah Allah. The Great I am itu datang untuk memberi hidup kekal bagi mereka yang percaya, the great sinners.

Kiranya Dialah yang selalu menjadi berita yang kita bagikan di dalam pelayanan kita. Kiranya kita bisa menolong orang yang seperti perempuan ini ‘bercakap-cakap’ dengan Yesus. Mereka yang immoral, broken reality, atau mereka yang seperti Nikodemus, sangat beragama dan terpandang, namun kedua mati di luar Kristus.