Three Reasons Why You Shouldn’t Do Social Media Detox

For some reasons, doing social media detox is a great idea, but there are some other reasons why you should not do that anymore. Or at least, too much. Please have your seat here, listening to this old grandma speaking.

1. You need social media to live

We can’t undo technology development. It goes somewhere each day. People use social media to socialize in this era. You also read news mostly through the link/share on social media these days and I am not planning to be left out by the world. Not because the fear of missing out but I need to socialize to live. Man is a homo-socius, right? Take it away of your life, and you somehow feel empty. We, human, are called to socialize, to have a companion, to create a relationship and yes to maintain it, and, today we do it through social media.

2. You’re called to share.

Following my first point above, in order to maintain a relationship, you have to share. We share our thoughts, to sharpen others’ and be sharpened. We share our encouragement to strengthen others’ faith. We share our struggle, to be cheered & strengthened. We share jokes, to feel joy. We share dreams, to recognize hope. And yes, we share love, to love. A relationship lasts because we share, and we can do it through social media.

3. You love through social media.

What is the biggest and the most important thing among faith, hope, and love? It is love. If I speak with human eloquence and angelic ecstasy but don’t love, I’m nothing but the creaking of a rusty gate. If I speak God’s Word with power, revealing all his mysteries and making everything plain as day, and if I have faith that says to a mountain, “Jump,” and it jumps, but I don’t love, I’m nothing. If I give everything I own to the poor and even go to the stake to be burned as a martyr, but I don’t love, I’ve gotten nowhere. So, no matter what I say, what I believe, and what I do, I’m bankrupt without love.

And believe it or not, social media is created for us also to love. Show your love when you see people’s need they’ve shown on social media. Don’t be busy judging them.

At least those are three reasons I found during my already half-way period of doing my social media detox. I feel drained. At first I thought this is a bad sign of me and my behavior, you know, am I taking social media use too much with bad motives or something?

But then I realize, it’s not. But commitment is a commitment, I will enjoy some days ahead still detoxing. I learn and experience many things tho lately.

Advertisements

#250WordsToday – Hati-hati, hati.

Ketika TUHAN menetapkan akan memilih Daud sebagai raja bagi Israel, ada yang menarik bagi saya. Ini pasti menarik juga bagi kebanyakan dari kita karena prinsip yang dipakai TUHAN untuk memilih Daud adalah melihat hatinya dan bukan penampakannya dari luar. Padahal, tetap dicatat juga bahwa Daud itu berparas elok, matanya indah, serta kemerah-merahan. Ini menunjukkan bahwa mau tidak mau kita akan melihat penampilan luar, jelas, itu yang berada dalam ‘jangkauan’ kita sebagai manusia. Dalam penerapan lebih luas, itu bisa saja bukan hanya perkara fisik, tetapi apa pun yang dapat kita lihat dengan jelas dari diri kita maupun orang lain.

Tetapi, kita tidak dapat memungkiri bahwa Tuhan melihat hati kita.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa dimulai dari penglihatannya, buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula, pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Dari mata jatuh ke hati, huft.

Setelah kisah memilukan ini muncullah kisah hati lain seperti pada Kain (Kej 4:5–“hati Kain menjadi sangat panas”), kondisi manusia sebelum TUHAN menurunkan air bah (Kej 6:5–“segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”), dan seterusnya.

Prinsip ‘Tuhan melihat hati’ ini seringkali diterapkan dalam masa-masa pemberian tugas pelayanan/regenerasi pelayanan kristiani sehingga membuat pekerjaan ini betul-betul krusial karena kita harus bertanya kepada Tuhan, “Siapakah yang Kaupilih dan Kausebut nama-Nya?” karena hanya Ia yang bisa melihat hati manusia yang berdosa.

Tetapi kali ini, saya belajar menerapkan prinsip ini bagi diri saya sendiri. Seperti kata Mazmur 139:23, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”

Mungkin saja saya pun salah melihat diri sendiri.

Membuang Sampah, Menyambut Anugerah

Tidak selamanya apa yang kita sebut ‘sampah’ adalah hal-hal yang jelek, tidak berguna, dan tidak kita perlukan lagi. Pernahkah saudara berpikir bahwa ‘sampah’ juga dapat berupa hal-hal yang baik dan sebenarnya diperlukan dan berguna dalam kehidupan kita? Apa maksudnya?

Mari membuka Alkitab pada bagian Surat Paulus kepada jemaat di Filipi, pasal ke-3 ayat 1-16.


Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus untuk jemaat di Filipi, suatu jemaat pertama yang ia bangun di Eropa. Hal ini dapat kita lihat dalam Kisah Para Rasul pasal 16:6-40. Pada saat itu, dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan supaya jemaat menurutinya. Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia, begitu pula ketika mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, Roh Kudus tidak mengizinkan mereka. Pada malam hari, tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan di mana ada seorang Makedonia berdiri dan berseru, memintanya untuk menyeberang dan menolong orang-orang Makedonia. Dari penglihatan inilah Paulus dan Silas menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil mereka untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di Makedonia, dan mereka pergi ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia, yang merupakan kota perantauan orang Roma.

Dalam Filipi 3:1-2 Paulus berpesan agar jemaat Filipi berhati-hati terhadap anjing-anjing, yakni pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat palsu. Siapakah yang Paulus maksud dengan anjing-anjing tersebut? Mereka adalah kaum Yudaisme. Beberapa orang Yahudi ini juga suka menjuluki orang-orang non-Yahudi dengan sebutan ‘anjing’ yang mana sering mereka anggap ‘jorok’. Namun ironinya, Paulus membalikkan julukan tersebut kepada orang-orang Yahudi itu sendiri dan bahkan menyebut mereka juga sebagai pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat palsu.

Apa yang mereka lakukan sehingga Paulus menjuluki mereka demikian?

Hal tersebut dapat kita lihat dalam ayat ke-3, mereka manaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Hal-hal lahiriah dalam ayat ini sama dengan kedagingan (flesh dalam terjemahan Inggris). Kalimat dalam ayat 3 ini “karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus” memberi kita gambaran apa yang sebenarnya dipercayai oleh kaum Yudaisme ini: yakni sunat, dan inilah yang menjadi salah satu ancaman bagi jemaat di Filipi akan kepercayaan mereka yang mana disebut Paulus sebagai orang-orang bersunat sesungguhnya yakni yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus.

Tiga ayat pertama dalam Pasal 3 ini memberi pesan peringatan sekaligus penegasan akan status jemaat Filipi serta apa yang menjadi sumber status tersebut: yakni oleh Roh Allah dan di dalam Kristus Yesus. Sangat berbeda dengan apa yang menjadi kepercayaan kaum Yudaisme: yakni hal lahiriah semacam sunat.

Selanjutnya pada ayat 4-6 Paulus seolah ingin mengatakan “hei, kalau pun kalian, kaum Yudaisme, ingin percaya pada hal-hal lahiriah seperti itu, aku pun bisa saja, bahkan aku lebih layak untuk membanggakannya!” Di dalam 3 ayat ini Paulus mendaftarkan 7 hal lahiriah yang ia miliki. Tujuh hal ini terdiri dari 2 kategori, kategori pertama adalah being-nya dalam artian apa yang memang menjadi keberadaannya, yakni:
  1. disunat pada hari ke-8
  2. dari bangsa Israel
  3. dari suku Benyamin
  4. orang Ibrani asli
  5. Farisi

Lalu 2 hal berikutnya; tentang kegiatan, adalah penganiaya jemaat, dan tentang kebenaran mentaati hukum Taurat, ia tidak bercacat.

Tujuh hal ini sesungguhnya dapat menjadi alasan kuat bagi Paulus untuk percaya dan bermegah di dalamnya. Bagaimana tidak? Orang Yahudi mana yang tidak ingin memiliki ke-Yahudi-an seperti Paulus? Paulus disunat pada hari ke-8, sesuai dengan peraturan dalam Perjanjian Lama, tepatnya dalam Imamat 12:3. Ia berasal dari bangsa Israel, tepatnya dari suku Benyamin, ia orang Ibrani asli. Ia juga berasal dari kelompok agama yang paling strict. Kamus Alkitab memberi penjelasan tentang orang Farisi sebagai kelompok orang yang menaati seluruh hukum dan peraturan secara mutlak.

Tidak hanya itu, Paulus juga menegaskan status atau being-nya tersebut dengan tindakan nyata, yakni sebagai penganiaya jemaat (pengikut Kristus) serta sungguh-sungguh tidak bercacat dalam mentaati hukum Taurat.

Kesempurnaan Paulus tampaknya tidak dapat ditandingi oleh orang Yahudi mana pun termasuk mereka yang menjadi ancaman bagi jemaat di Filipi.

Namun ada yang menarik pada ayat 7 ketika dikatakan bahwa “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi.” Paulus jelas mengakui bahwa 7 hal yang ia miliki tadi adalah hal yang menguntungkan baginya. Tapi itu dulu.

Jika kita kembali melihat 7 hal yang dimiliki oleh Paulus di atas, kesamaan apa yang saudara lihat dari hal-hal tersebut?

Itu adalah hal-hal yang baik. Paulus memiliki warisan keluarga Yahudi yang jelas, status sosial yang baik, bahkan pemahaman firman yang baik (secara, dia Farisi), bahkan dia sangat gigih dalam kegiatan-kegiatan keagamaannya, serta secara moral, tidak bercacat. Ini adalah kebaikan yang sangat sempurna. Tetapi itu dulu. Bagaimana Paulus memandang hal-hal tersebut sekarang?

RUGI. LOSS.

“sekarang kuanggap rugi” ayat 7.

Why? Apa yang membuat Paulus berubah pikiran? Ayat 8 melanjutkan, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.”

Bukan hanya ke-7 hal tadi yang dianggap Paulus sebagai kerugian, melainkan sekarang, segala sesuatu dianggapnya rugi karena 1 hal. Satu hal yang sangat powerful karena sanggup membuat Paulus berubah perspektif yakni: pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan, yang lebih mulia dari pada semuanya itu.

Pastor David Platt mengatakan dalam kotbahnya tentang perikop ini, “it weren’t bad things that keep Paul away from Christ, it were good things.” Bukan hal-hal yang buruk yang menjauhkan Paulus dari Yesus, Sang Mesias, dan Allah yang sejati. Melainkan hal-hal yang baik. Bukan hal-hal yang buruk yang menjadi sampah bagi Paulus, melainkan hal-hal yang baik. Kata ‘sampah’ ini sendiri dalam bahasa aslinya lebih tepat diartikan dengan “kotoran”.

Bayangkan, bagaimana bisa Paulus menganggap hal-hal menguntungkannya sebagai orang Yahudi sebagai kotoran? Dalam hal ini Paulus seolah menantang siapa pun kaum Yudaisme yang ingin mengadu ‘kesalehan’ dalam Yahudi, dengannya.

Paulus menekankan bahwa saat ini, ketika ia sudah menyadari kemuliaan pengenalan akan Yesus Kristus dibanding seluruh kesalehannya, ia pun mengakui bahwa itu ia peroleh bukan dengan kebenarannya sendiri karena mentaati hukum Taurat. Jadi tidak ada ‘sambilan’ atau ‘sekaligus’ atau hubungan ‘sebab-akibat’ antara kesalehan Paulus dan bagaimana ia kini berada di dalam Kristus. Di dalam ayat 9 Paulus menyatakan, “dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.”

Anugerah; sebuah kata kunci yang menjadi alasan Paulus berada di dalam Kristus, yang berarti, menerima keselamatan. Anugerah, alasan ia pun beroleh pengenalan akan Kristus yang jauh lebih mulia dari segala kesalehan yang ia miliki. Ternyata, kesalehan Paulus pada masa lampau tidak sampai membuatnya mengenal siapa Mesias yang dijanjikan. Sebaliknya, ia dibutakan oleh kesalehannya, dan menganiaya Kristus.

Ayat 10-11 memberi kita pengertian tentang apa yang menjadi kehendak Paulus saat ini, karena anugerah tersebut. Ia ingin mengenal Kristus, dan kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana ia menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian-Nya supaya ia beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Pengenalan akan Kristus yang dianugerahkan Allah kepadanya membuat Paulus makin ingin mengenal Kristus, dan mengenal Kristus berarti mengenal bahwa Kristus adalah Mesias yang menderita bahkan sampai mati, demi misinya bagi umat manusia. Pengenalan yang sejati akan Kristus akan membuahkan kerinduan untuk menjadi serupa dengan-Nya. Paulus yang dahulu menganiaya pengikut Kristus, kini seolah ingin mengatakan “kalau pun aku juga harus dianiaya karena Kristus, aku rela, karena Kristus sendiri pun telah dianiaya karena aku.” Paulus tidak bisa melihat hal ini dulu ketika ia begitu salehnya beragama, ketika ia begitu bermoralnya di kalangannya.

Ayat 1-11 ini menjadi sebuah pesan yang sangat powerful bagi jemaat di Filipi ketika Paulus meminta mereka berhati-hati terhadap orang-orang yang mau mengguncang iman mereka dengan segala daya upaya menyuruh mereka harus melakukan ini dan itu untuk selamat, untuk memperoleh kebenaran, untuk memperoleh hidup. Powerful karena Paulus, yang saat penulisan surat ini sedang berada di dalam tahanan rumah di Roma, dan seumur hidupnya yang baru di dalam Kristus, telah mengalami banyak penderitaan karena Kristus dan Injil-Nya. Pesan ini menjadi powerful karena Paulus dengan nyata menunjukkan bahwa ia memang melepaskan keuntungan-keuntungannya terdahulu dan menganggapnya sampah. Ia tidak lagi bermegah dalam ke-Yahudi-annya, melainkan dalam Kristus dan pekerjaan baik yang sudah Ia siapkan baginya. Ia memberitakan Injil ke begitu banyak orang, begitu banyak tempat pada masa itu. Pesan Paulus ini bukanlah omong kosong apalagi omong doang.


Perikop ini ditutup dengan penjelasan Paulus bahwa anugerah Allah baginya juga diresponsnya dengan tepat ketika dalam ayat 12-14 Paulus menyatakan bahwa dia bukannya sudah sempurna, melainkan ia terus berproses; Allah terus berproses di dalamnya, dan ia perlu merespons dengan terus mengarahkan dirinya kepada panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Paulus menunjukkan bahwa ia melepaskan segala hal yang dulu merupakan keuntungan baginya namun kini tidak ada apa-apanya dibanding dengan pengenalan akan Yesus Kristus dan persekutuan dengan-Nya.


Brian Littrell adalah salah satu anggota grup band terkenal asal Amerika, The Backstreet Boys, yang meniti popularitasnya sejak tahun 1993-2001. Di dalam kesuksesan band-nya, Brian dengan jelas mengatakan bahwa itu adalah berkat Tuhan baginya. Ketika ia pun memutuskan untuk memulai debut solonya di musik kristiani, ia tidak segan untuk menunjukkan iman percayanya kepada Kristus. Dia mengatakan bahwa imannya selalu menjadi benteng dalam hidup dan keluarganya. Bagi Brian, Tuhanlah yang telah memberinya kesempatan luar biasa untuk menyentuh orang lewat musik melalui Backstreet Boys maupun karir solonya.Di saat banyak artis populer meninggalkan iman Kristen dan mengejar banyak keuntungan dalam dunia hiburan, Brian Littrel melakukan yang sebaliknya. Dia memilih tetap memperjuangkan imannya dan akhirnya meninggalkan ketenarannya di dunia musik populer.

Sekalipun banyak orang menganggap Brian telah berjalan mundur dalam hidupnya, Brian malah menganggap dia justru sedang maju dan melangkah terus ke mana Tuhan memimpinnya. Banyak lagu kristiani yang ia ciptakan, salah satunya yang terkenal adalah ‘In Christ Alone’—yang menceritakan tentang popularitas, ketenaran, atau kebanggaan apa pun tidak dapat menandingi kasih karunia di dalam Kristus.

Apa yang saat ini saudara anggap menjadi keuntungan? Status sosial? Prestasi di kampus? Prestasi di pelayanan? Kesalehan-kesalehan yang mengagumkan? Apakah saudara dapat menganggap itu semua sampah dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus Yesus? Apa yang menyulitkan saudara?

Berdoa, dan mintalah anugerah kepada Allah, serta responslah dengan tepat. Buanglah sampah, sambutlah anugerah.

12 books from favorite TEDWomen speakers, for your summer reading list — TED Blog

We all have a story to tell. And in my work as curator of the TEDWomen conference, I’ve had the pleasure of providing a platform to some of the best stories and storytellers out there. Beyond their TED Talk, of course, many TEDWomen speakers are also accomplished authors — and if you liked them on the…

via 12 books from favorite TEDWomen speakers, for your summer reading list — TED Blog

three brown wooden letters wall decor
Photo by rawpixel.com on Pexels.com

I’m just chilling in my room, planned to do more prioritized tasks than sitting in front of my laptop and typing here. Yep, I failed to be a bit productive today. But anyway, I really want to say something through this post. For over 1 month, I’ve already been consistently observing my blog’s statistics and found some viewers from outside of Indonesia. This is not my point but, finding viewers from Canada, regularly visit my blog since May until now, makes me like… I want to say HELLO to you (whoever you are!) *insert happy emojis here

I have no clue why did you come here, or how, especially, do you even understand what I post here since I post in probably a different language from you. Or, are you maybe Indonesians? Hahaha!

I honestly feel glad if I know there are people out there who choose to (by any reason–even accidentally and coincidentally) view my page. It’s like having people to welcome, to share your thought, experience, and your encouragement, that probably will lighten their days up.

Or, challenge their own :3

I hope you all enjoy reading my mind which I choose to throw here (because it rarely happens). Please let me know in any comment section of my posts, who you are so we can get engaged a lil bit. Of course, I’d like to know your thought and experience too according to that post.

Also, please welcome, my new series on blog: #250WordsToday

Halo, apa kabar?

Saat ini saya sedang merasa seperti Kathleen Lights yang guilty abis karena udah lama nggak upload beauty video ke channel YouTube-nya. Sungguh. Setelah bulan-bulan yang cukup sibuk ini akhirnya saya memutuskan menulis beberapa hal yang lagi kepikiran di kepala saya. Biasalah, random thoughts, super-scattered thoughts on different topics, yang emang biasa terjadi di kepala orang-orang yang kebanyakan mikir tapi nggak memanfaatkan ruang & waktu untuk membagikannya. Sekaligus juga untuk membagi kabar saya kepada pembaca-pembaca saya yang budiman dan budiwoman.

Pertama, saya harus mengingatkan sekali lagi, bahwa tulisan ini akan menjadi tulisan yang nggak punya flow, cukup messy, dan agak tidak terstruktur. Saya rasa beginilah beberapa orang memulai kembali kebiasaan menulisnya yang sudah cukup lama ditinggalkan.

Kedua, saya akan bicara soal rekonsiliasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi 1 arti untuk rekonsiliasi (/re·kon·si·li·a·si/ /rékonsiliasi/ n) sebagai perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan. Saya lebih akrab dengan definisi lain dari kata ini: pendamaian. Saya harus mengakui bahwa absennya rekonsiliasi di antara 2 atau lebih pihak terkait apa pun yang mengakibatkan perubahan hubungan yang semula, akan menghasilkan perasaan-perasaan yang nggak enak. Apalagi jika itu dipendam baik intentionally or not. Saya menyayangkan sikap manusia yang demen berpura-pura, pura-pura semuanya fine, menyenangkan, tidak bermasalah, dan sebagainya.

Kalau kau merasa ada yang tidak beres, bicaralah. Jangan lukai orang lain bahkan ketika itu masih berada di dalam pikiranmu saja dengan membelokkan fakta lewat asumsi-asumsimu, di dalam pikiranmu yang kotor. Bagi saya itu cukup tidak manusiawi. Kalau kau memutuskan nggak akan membicarakan masalah itu, setidaknya bertanggungjawablah kepada dirimu sendiri dengan memaklumi (bahkan memaafkan orang lain dan situasi tersebut). Ini persoalan integritas, bukan? Segala pikiran, perasaan, perbuatan, dan perkataanmu menyatu dalam cerita yang sama. Belakangan ini begitu marak kalimat “berdamai dengan diri sendiri”, tetapi entah apa pengertian orang-orang di balik kalimat tersebut, atau setidaknya pada kata ‘berdamai’ itu sendiri. Jelas-jelas, seperti kata KBBI, rekonsiliasi/pendamaian itu merupakan perbuatan menyelesaikan perbedaan-perbedaan, maka, pandanglah, di bagian mana di dalam dirimu kau sedang tidak selaras dalam 1 cerita yang sama. Jangan buru-buru menempatkan orang lain pada meja preparatmu, berbaringlah sendiri di sana.

Ketiga, saya ingin berbicara soal dikotomi ibadah dan kehidupan sehari-hari. Beberapa orang menganggap ibadah ritual lebih rohani dibanding dengan segala aktivitas sehari-hari. Beberapa yang lain menganggap lebih baik berfokus pada dunia yang sedang menuju kesudahannya ini daripada menumpuk di dalam rumah-rumah peribadatan. Saya tidak berada pada kedua pihak ini. Bagi saya, (thanks to #WOWC2018 yang sudah menjawab pergumulan belakangan) tindakan membeda-bedakan tersebut bukanlah cara kita menempatkan perspektif. Ini sederhana, Tuhan tidak menciptakan manusia mula-mula dalam kurungan dinding-dinding rumah ibadah. Adam & Hawa diciptakan di dalam taman yang jelas-jelas dipenuhi hadirat Allah; mereka hidup dalam penyembahan yang sejati lewat diri mereka sendiri kepada Allah yang menciptakan mereka seturut gambar dan rupa-Nya. Adam & Hawa dibentuk untuk menyembah Allah dan mewujudkannya dengan mengerjakan mandat budaya mereka di taman Eden, bagi bumi yang sudah Ia ciptakan.

Maka, jangan biarkan kejatuhan mereka ke dalam dosa mengaburkan perspektif kita yang utuh tentang hidup–karena bahkan Allah sendiri telah mendamaikan kita (yang percaya kepada Kristus) dengan diri-Nya supaya kita kembali memandang diri kita sebagaimana awalnya kita dirancang.

Hiduplah menyembah Tuhan dan mewujudkan karakter-Nya yang kaulihat di dalam penyembahanmu itu di dalam kehidupanmu ber-dunia. Beribadah secara ritual sama pentingnya dengan berkehidupan di dunia ini. Semuanya satu-kesatuan yang berakar dan bermuara pada Allah dan segenap kehendak-Nya. Bergerejalah, ber-PMK-lah, bersekutulah, karena di sana ada kasih karunia berlimpah yang menyatakan Allah dan kehendak-Nya secara eksplisit lewat firman dan kesatuan tubuh Kristus. Karena di dalam ibadah ritual yang kaumaknai sungguh-sungguh ini, kau tahu bahwa Allah mau kaunyatakan Ia kepada sesamamu di luar gedung-gedung ibadah tersebut, di luar kelompok-kelompok orang tersebut.

Jangan terlalu sering menghakimi orang yang sungguh-sungguh mau beribadah & bahkan mendedikasikan dirinya di dalam pelayanan ibadah ritual–dengan mengatakannya sok kudus. Dia memang kudus–dikuduskan.

Tidak hanya itu, hiduplah ber-dunia dengan sungguh-sungguh juga. Kautahu apa yang Tuhan mau bagi dunia, kaumengerti hati-Nya bagi dunia ini, kasih & kemurahan-Nya, kerendahan hati serta kedaulatan-Nya, hiduplah menyatakan itu kepada orang-orang di sekitarmu–bukan hanya kepada sesamamu yang seiman, namun juga kepada sesamamu yang tidak seiman. Pada hakikatnya kita semua sama-sama orang yang berdosa. Perbuatan baik apa pun tidak membuat kita lebih diperkenan Allah–sekalipun Ia memanggilmu untuk berbuat baik. Lagi-lagi, hanya Roh-Nya yang memampukanmu melakukannya, jikalau pun kaumelakukannya. Lihat dunia dalam perspektif ibadah, bahwa di tengah-tengahnya kau sedang menunjukkan siapa yang kausembah sesungguh-sungguhnya.

Berhentilah mengagung-agungkan aksi sosial, kalau sebenarnya kita tidak sampai pada pemahaman bahwa Allah mengasihi dunia ini. Berhentilah, jika aksi sosialmu sebenarnya hanyalah wujud lain dari kecintaanmu terhadap diri sendiri–upayamu mengaktualisasikan diri, saja.

Keempat, saya ingin menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan. Biarlah ini menjadi kesaksian bagi setiap kalian yang membaca bahwa hidup yang diserahkan kepada Tuhan adalah hidup yang memang melelahkan, tentu saja, tetapi begitu penuh sukacita dan damai sejahtera yang tidak tergambarkan. Saya bersyukur karena ada begitu banyak pengetahuan yang Ia berikan kepada saya untuk menunjang pekerjaan saya saat ini bagi kaum intelektual muda. Tantangan terbesar bagi saya adalah bagaimana untuk tetap rooted (in God’s word) and relevant (in reaching out today’s generation); menolak dengan tegas pemikiran-pemikiran abu-abu di area hitam dan putih, sekalipun begitu ‘baik’ tampaknya. Hidup di zaman post-truth benar-benar menguji iman dan pengetahuan akan apa yang diimani.

Note to self: jangan rooted di perubahan zaman dan dunia, lalu malah ‘merelevan-relevan’-kan firman Tuhan–padahal tidak membicarakan hal yang sama maupun seimbang.

Kelima, saya merasakan sekali lagi dan berkali-kali lagi, betapa sesak dan ‘menyedihkan’-nya Jakarta. Sudah seminggu ini saya diperhadapkan dengan kesenjangan sosial yang nyata lewat cerita seorang driver Grabbike yang baru saja kecurian motor (pada waktu itu ia memakai motor saudaranya) dan betapa semakin susahnya ia mencari nafkah mengingat cicilan motor itu pun belum lunas. Kemudian lewat wajah senyum beberapa driver ojek online ketika menerima kelebihan ongkos dari saya, padahal bagi saya mungkin itu tidak seberapa. Serta dari wajah seorang bapak tua yang menjual sandal di pinggir Plaza Kalibata yang di tengah teriknya matahari menampilkan senyumnya ketika saya juga menambahkan sedikit dari harga sandal yang saya beli. Kembali ke kalimat pertama dalam paragraf ini, sepertinya bukan hanya di Jakarta, ya? :”( Indonesia kita memang begini keadaannya dan itu cukup memilukan hati. Itu baru 3 contoh, belum lagi contoh-contoh yang lain yang tidak saya lihat.

Jujur saja, ketika melihat wajah mereka pada waktu itu, saya tidak tahan untuk tidak menangis, maka saya pun langsung buru-buru membalikkan badan saya sementara mereka masih tersenyum. Saya merenungkan perjuangan mereka yang sulit bahkan untuk hidup sehari-hari diri mereka sendiri, belum lagi bagi mereka yang berkeluarga. Di sisi yang sama saya bersyukur Tuhan yang baik kepada semua orang itu memelihara mereka lewat cara-cara-Nya yang sederhana–dan sekaligus mengajarkan kepada saya apa yang harus saya lakukan sebagai sesama manusia. Saya memang tidak berbuat hal-hal spektakuler, tetapi bahkan itu menghasilkan pemahaman dan pelajaran yang besar bagi saya.


 

Keenam, saya ingin menyampaikan bahwa saya akan kembali melakukan detoks sosial media. Tetapi kali ini adalah yang terlama, yakni 2 bulan. Dimulai dari hari ini, 3 Juni 2018 sampai dengan 3 Agustus 2018. It’s sooooo exciting ketika saya tiba di keputusan ini setelah pertimbangan yang cukup panjang. Sebenarnya alasan saya kali ini adalah karena saya mau reorienting mindset & behavior saya dalam penggunaan sosial media–mengingat semakin ke sini, saya semakin tidak semangat–meski pada faktanya saya cukup sering menggunakannya. Saya mulai merasa seperti autopilot saja dalam bersosial-media.

Sebagai seorang INFJ sejati, hahahaha, dan mengingat beberapa tugas, mandat, panggilan yang harus saya kerjakan di sepanjang 2 bulan ini, saya merasa perlu banyak waktu untuk bersosial-realita saja.

(Duh, saya rasa alasan saya terlalu lebay, padahal sebenarnya saya cuma lagi capek aja sih, -_-).

Sosial media yang akan saya tidurkan penggunaannya adalah Instagram, WhatsApp Story, Facebook, dan Twitter. Jika ada yang perlu dan kamu tidak punya kontak seluler pribadi saya, kamu bisa menghubungi saya di email elisabethyosephine@yahoo.com.

So, that’s all! Thank you for reading.

Pikiran Pagi

Membaca firman Tuhan dalam saat teduh pagi ini (2 Timotius 3:10-17) membuatku kembali menyadari beberapa hal penting di bawah ini:

  1. Firman Tuhan adalah sumber yang berkuasa untuk membentuk orang percaya menjadi semakin sempurna hari lepas hari. Membayangkan bahwa nasihat untuk terus hidup di dalam pengajaran akan firman Tuhan yang diberikan oleh Paulus kepada Timotius ketika Paulus berada di dalam penjara di Roma memberi kesan bahwa betapa pentingnya hal tersebut untuk diingat oleh sang penerus pelayanan, Timotius. Dari sekian banyak yang bisa disampaikan Paulus pada masa-masa akhir pelayanannya, mengapa bagian ini yang ia tekankan? Karena memang firman Tuhan adalah pemberian Allah yang berkuasa untuk mengajar, menegur, mengoreksi, dan mendidik orang dalam kebenaran. Firman Tuhan sendirilah yang akan menjadi alat-Nya untuk memperlengkapi pelayan-Nya dalam segala pekerjaan baik.
  2. Teladan hidup yang baik juga menjadi penggerak yang bisa menolong sang penerus pelayanan untuk menjalani pelayanannya ke depan. Paulus bukanlah orang yang bisanya ngomong doang; dia benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Tidak ada alasan bagi Timotius untuk bilang, “ah, ngapain gue ngelakuin yang dibilang Om Paulus, toh dia sendiri hidupnya nggak bener?” Timotius melihat sendiri bagaimana Paulus menghidupi imannya sebagai pengikut Kristus.
  3. Dalam meregenerasikan pelayanan, terlihat jelas betapa pentingnya mengajak sang penerus pelayanan untuk ikut dalam pelayanan kita; melihat dan mengamati. Seperti poin ke-2 di atas, Timotius adalah orang yang mengikuti Paulus juga di dalam pelayanannya, dan jelas, Timotius menyaksikan banyak hal yang akan berguna baginya dalam melanjutkan pelayanan tersebut nantinya.

Dengan itu, saya berdoa, ini dialami oleh ‘mereka’, secara khusus, adik-adikku di PO FHUI, dan juga kita semua secara umum.

Semangat memikirkan regenerasi pelayanan yang baik, demi Injil terus diberitakan.