Tuhan Sembuhkanku

“Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan. Kekuatan perbuatan-perbuatan-Mu yang dahsyat akan diumumkan mereka, dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan.” – Mazmur 145:5-6

Seminggu lalu aku merasakan sakit di bagian dada yang membuatku cukup khawatir. Sakitnya tidak terlalu memberatkanku karena hanya timbul sesekali saja, misalnya jika aku meregangkan badan, jika aku tidur, jika aku menekuk badan, jika aku terlalu banyak berbicara, serta jika aku ingin bernapas kuat-kuat. Di luar itu, semuanya seperti baik-baik saja.

Aku sempat berpikir aneh-aneh, apakah ini angin duduk, TBC, ataukah beberapa penyakit lain yang di dalam keterbatasanku kupikir bisa saja sedang kuderita.

Tapi ada yang tidak biasa pada Selasa, 31 Oktober 2017 lalu. Kalau biasanya sakitnya hanya muncul sesekali, saat itu sakitnya malah konstan kurasakan, tidak peduli aku sedang apa. Aku tidak tenang karena kala itu sakitnya cukup menggangguku yang sedang berada di kantor. Salah seorang temanku menyarankan agar aku melakukan medical-checkup, manakala ada hal-hal yang lebih baik kuketahui sejak dini. Oke, saran itu akan kulakukan, tetapi permasalahannya saat itu aku butuh sesuatu untuk setidaknya meredakan rasa sakit yang ada.

Malamnya pun, aku jadi ragu apakah aku datang ke konser JPCC Worship “Made Alive” atau aku pulang saja dan beristirahat. Aku enggan pulang karena tidak nyaman jika kondisi sakitku harus kulewati sendirian di kamar. Tetapi pergi ke konser juga sebenarnya tidak terlalu baik karena itu berarti aku akan berdesak-desakan dengan banyak orang (setidaknya untuk masuk ke hall-nya) serta aku akan kena AC lagi. Masuk angin lagi deh.

Tapi aku tetap datang karena dorongan yang kuat untuk memuji Tuhan melalui beberapa lagu yang secara personal telah menjadi sarana-Nya dalam menguatkan satu keputusan yang telah kuambil saat itu.

Sakitnya belum membaik apalagi hilang.

Pada beberapa lagu di awal konser itu pun aku masih bernyanyi sambil meringis sakit dan memegangi sweater yang kupakai menutupi bagian depan badanku. Aku masih ingat saat itu aku bergumam kira-kira, “Lha, kok sakitnya malah jadi ngeselin, ya?”

Sampailah pada saat salah satu personil JPCC Worship mengajak kami untuk berdoa dan menyatakan syukur kepada Tuhan. Di saat yang lain mungkin sedang memanjatkan syukur, aku memutuskan berdoa memohon kesembuhan dari Tuhan.

Aku ingat pada saat itu aku bilang, “Tuhan, aku tahu saat ini Tuhan bisa sembuhkan sakit yang sedang kurasakan ini. Aku mohon, angkatlah sakit ini dan pulihkanlah aku ya Tuhan. Sakit ini membuatku khawatir sekali, Tuhan tahu itu, dan membuatku berpikir yang aneh-aneh. Tuhan, aku tahu Tuhan adalah Tabib di atas segala tabib dan Tuhan sanggup menyembuhkanku pada saat ini. Namun, jika pun Tuhan berkehendak lain, berilah aku kekuatan untuk melaluinya. Amin.”

Selesai berdoa, aku kembali menikmati konser seperti biasa. Masih ada sekitar 1,5 jam lagi sampai selesainya konser tersebut; waktu yang cukup panjang untuk kulewati jika masih harus dengan rasa sakit tadi. Aku memilih tidak mengkhawatirkan rasa sakitnya karena aku sudah menyerahkannya kepada Tuhan dan fokus menyanyikan lagu-lagu di sepanjang konser tadi. Aku tidak lantas menunggu-nunggu kapan doaku dijawab Tuhan dan lalu berhenti menyembah Tuhan melalui lagu-lagu di konser itu.

Selang beberapa menit, aku mulai tidak merasakan rasa sakit itu. Aku berpikir, “Hm, oke, jangan senang dulu, jangan banyak gerak dulu, nikmati saja kalau saat ini Tuhan memang sedang mengerjakan kesembuhan yang kau doakan tadi.” Meski begitu, tidak bisa kupungkiri aku jadi banyak senyum di sepanjang lagu. Sempat terucap, “Secepat itukah?” Sembari terus bernyanyi dan tidak berfokus pada rasa sakit tadi (dan bahkan kesembuhan yang mulai kurasakan), aku merasakan Tuhan menguatkanku dan benar-benar meneguhkanku atas keputusan yang telah kuambil beberapa waktu lalu serta mendapati diriku begitu rendah dan tidak bisa tidak memanjatkan syukur dan sembahku pada-Nya–tujuan awal aku bersemangat datang ke konser ini.

Ini lagu yang paling kuat berbicara untukku:

Konser pun selesai dan aku pulang. Biasanya di kamar aku akan mulai diganggu oleh rasa sakit itu tapi kali ini tidak. Tidak ada sedikit pun sakit bahkan ketika kucoba meregangkan badanku. Aku terharu. Aku berkata di dalam hati, “jika besok dan seterusnya tidak lagi kurasakan sakit itu, aku berjanji akan menceritakan ini kepada orang lain.”

Benar saja, bahkan sampai sekarang tidak ada lagi rasa sakit yang kurasakan. Bagaimana aku menjelaskan ini? Aku tidak melakukan pengobatan apa pun di sepanjang konser ketika rasa sakit itu masih nyata kurasakan. Bukan berarti pengobatan dan medical-checkup menjadi tidak penting, tetapi kalau memang Tuhan berkenan dan berkehendak menyembuhkan, dengan atau pun tanpa itu, kurasakan dia bisa hadirkan kesembuhan bagi kita.

Mungkin manusia bisa menjelaskan secara medis kesembuhan yang kualami, tetapi aku tetap akan percaya bahwa perbuatan tangan Tuhan sangat ajaib dan dahsyat, dan dengan ini kuumumkan kepada kalian.

Aku berdoa, semoga siapa pun yang membaca cerita ini, baik yang sedang sakit jasmani/rohani, atau pun memiliki orang-orang terkasih yang sedang mengalami sakit, tetap percaya dan mengandalkan Tuhan, tetap berserah dan tidak berhenti menyembah dan memuji Tuhan. Semoga kita yang dalam penantian akan kesembuhan-kesembuhan itu bisa mengenal Pribadi Tuhan dan dimampukan berserah kepada-Nya. Dengan begitu, sembuh atau pun tidak, kita sudah kenal bahwa Tuhan tidak bersalah dalam setiap keputusan-Nya. Itu adalah yang terbaik untuk kita.

Soli Deo Gloria.

 

Advertisements

Hidup di Masa Kini dengan Membuka Mata Lebar-Lebar

Hari-hari ke belakang sejujurnya berpotensi menyulitkan saya untuk memercayai bahwa Allah sungguh-sungguh memerhatikan saya. Beberapa hal yang menyulitkan saya tersebut di antaranya adalah kondisi-kondisi tidak ideal (salam kenal, saya ini idealis), yang tampaknya tidak ‘dihadiri’ Allah seperti: kerja lembur-lembur sampai pagi, orang-orang yang hobi marah-marah, mereka yang kurang peka dan peduli dengan nasib sesama, kebingungan-kebingungan di antara 2 pilihan, ego diri yang mengharapkan perhatian manusia–yang akhirnya dikecewakan oleh harapan itu, dan masih ada hal lain.

Namun saya bersyukur ada juga hal-hal yang menolong saya untuk memercayai perhatian-Nya. Hal-hal itu di antaranya: masih ada waktu-waktu teduh untuk diam dan tenang, kembali mengingat firman-firman Tuhan, membaca dan menggalinya, masih ada waktu untuk berdoa, mencari dan mendengarkan lagu-lagu rohani yang alkitabiah, berefleksi akan apa yang sudah dilalui di sepanjang hari dan mengingat kebaikan-kebaikan yang terjadi, serta menyadari kesehatan yang masih dapat dirasakan meski sepatutnya badan ini remuk dan mungkin saja jatuh sakit. Tidak hanya itu, saya ditolong kembali memercayai bahwa Allah memerhatikan saya melalui persekutuan rohani (hai, Persekutuan Oikumene FHUI, hai TPPM Perkantas!), di mana saya bisa mempunyai kesempatan emas untuk ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang bertumbuh dalam Kristus juga.

Pagi tadi saya memutuskan untuk melakukan penggalian Alkitab dari Matius 6:19-34 dibantu oleh buku PA karya Juanita Ryan dengan judul “BUSYNESS”. Saya menetapkan hati untuk melakukan ini karena saya benar-benar sangat sibuk sudah hampir sebulan ini dan hampir tidak punya waktu untuk berdiam mendengar Tuhan bercakap-cakap dengan saya, one on one, melalui penggalian Alkitab secara pribadi. Saya juga semangat memulai penggalian Alkitab ini karena saya yakin Tuhan mau menyatakan sesuatu untuk saya dan kesibukan saya saat ini.

Saya membaca Matius 6:19-34, bagian yang sudah cukup sering saya baca, tetapi tidak pernah berhenti mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik saya dalam kebenaran. Beberapa poin yang saya pelajari dari bagian tersebut akan saya tuangkan dalam tulisan ini, sesuai dengan poin pembahasan yang ada pada buku PA yang saya pakai.

Matius 6:19-24:

Yesus mengajar saya dan Anda untuk tahu apa yang menjadi prioritas bagi orang-orang yang mengaku dirinya pengikut Kristus yakni: mengumpulkan harta di surga, bukan di bumi–mencari kerajaan Allah dan kebenarannya.

Perbedaan antara harta di bumi dan harta di surga adalah bahwa di bumi, harta itu dapat dirusak oleh ngengat dan karat [by the way, tahu wujudnya ngengat itu gimana, ngga? Kalau ngga, klik di sini ((helpful banget kan))]. Harta di bumi juga bisa dibongkar sama pencuri dan…tentunya dicuri. Kalo dibongkar terus dipandang-pandangin doang sih ngga masalah, ya.

Yang terlintas di benak saya ketika memikirkan harta di bumi dan di surga adalah: harta di bumi ya literally harta di bumi yang notabene bernilai buat dunia ini seperti uang, materi, prestasi, pengakuan, penghargaan, kenyamanan hidup, dan sebagainya.

Harta di surga ini yang cukup kompleks buat saya. Ketika saya merenungkan apa sih yang dimaksud dengan harta di surga, saya teringat pada beberapa khotbah di bukit lainnya yang di dalamnya ada kata “upah”–kira-kira upah adalah harta kan, ya? Lalu saya coba menguraikan beberapa hal yang menghasilkan upah (harta) di surga, di antaranya:

  • dianiaya oleh sebab kebenaran (Mat 5:10-12)
  • mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka (Mat 5:44-48)
  • memberikan sedekah secara ‘tersembunyi’ (Mat 6:4)
  • berdoa tidak seperti orang munafik yang bertele-tele (Mat 6:5-7)
  • dan masih banyak lagi.

Poin menggelitik bagi saya dari masalah pengumpulan harta ini adalah: karena di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. Sungguh amat benar. Melalui kalimat Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Aramaic: ‘wealth’ atau ‘property)”, kita diajar untuk hanya mengabdi kepada Allah saja. Dengan itulah kita bisa benar-benar mengasihi-Nya dan setia kepada-Nya.

“Money is not instrinsically evil. The wise person works hard and makes financial provision for lean times (Prov 6:6-8). Believers have a responsibility to provide for their needy relatives (1 Tim 5:8) and to be generous with others in need (Prov 13:22; 2 Cor 12:14). We can enjoy what God has given us (1 Tim 4:3-4; 6-17). What Jesus forbade here was selfishness. Misers hoard more than they need (James 5:2-3). Materialists always want more. It’s the love of money that is a root of all kinds of evil (1 Tim 6:10).” – Constable’s Note.

Pernah menemukan diri seperti ‘biasa’ saja melakukan hal yang menyakiti hati-Nya? Pernah menemukan diri ‘putus-nyambung’ dalam berelasi dengan-Nya? Atau, pernah menemukan diri lebih suka melakukan dosa daripada melakukan firman-Nya? Jika ya, sepertinya kita tidak sungguh-sungguh hanya bertuhankan Kristus.


Hidup di masa kini berisi banyak godaan yang mungkin tidak terang-terangan, melainkan samar-samar maupun tersembunyi, terkait mengejar harta duniawi dan menjadi hamba uang. Saya pun tidak luput dari godaan itu. Dua hal yang sedang banyak menggoda saya adalah godaan membeli handphone baru (yang super mahal–ya ampun ada juga ya handphone semahal itu) karena melihat teman saya membeli handphone baru. Itu refleks aja sih, meskipun setelah saya pikir-pikir (dan melihat dompet) tampaknya saya baru saja bermimpi. Ketika itu saya sempat bertanya pada teman saya, “apa pendapat kalian terkait orang-orang yang mau membeli iPhone 8?” Salah satu dari mereka menjawab, “ya ngga apa-apalah, kalau uangnya ada 1 trilliun, ya ngga masalah mau beli iPhone 8.” Kemudian saya merenung, apakah perilaku kita sebagai konsumen ditentukan terutama oleh berapa uang yang kita miliki? Oke, mungkin saja. Tetapi sebagai konsumen kristiani, ada Roh Kudus yang mengambil peran utama dalam menentukan handphone mana yang sebaiknya kita beli. Roh Kudus yang bahkan sanggup menelisik sampai ke alasan dan motivasi terbesar kita untuk membeli. Ada pengendalian diri yang menjadi buah pertumbuhan rohani kita.

Godaan samar-samar kedua adalah ketika saya melihat foto-foto travelling di Instagram feed orang-orang, baik yang saya kenal maupun tidak. Saya harus akui, secara estetika memang bagus-bagus sih yang mereka post (ya iyalah, posenya di tempat-tempat bagus, coba mereka foto di sebelah tong sampah di bengkel tua Mexico City, pasti berasa lagi foto di sebelah Soto Ngawi Matraman deh -_-) Oke, balik ke godaannya. Beberapa kali (jujur, ngga sering sih) saya menggumam, wah pengen deh tahun depan ke situ, ke sana, ke mari, tanpa saya tahu kenapa dan untuk apa. Jangan-jangan cuma untuk di-post di Instagram. Duh, kehidupan masa kini.

Matius 6:25-34: Jangan kuatir akan hidupmu

Kita gagal mengutamakan dan hanya mengabdi kepada Allah karena kita sering kuatir akan hidup kita. Ini adalah wujud kealpaan kepercayaan pada Allah yang sesungguhnya sedang memelihara hidup kita. Kekuatiran kita tidak berdasar.

Pada bagian ini Yesus mengingatkan agar kita tidak kuatir akan hidup ini, akan apa yang hendak kita makan atau minum, dan agar tidak kuatir pula akan tubuh, akan apa yang hendak kita pakai. Yesus mengajak kita melihat dari perspektif-Nya–melihat pada pemeliharaannya akan dunia ini–dengan meminta kita memandang burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapa. Yesus juga meminta kita memerhatikan bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, yang bahkan Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

“God’s providential grace should not make the disciple lazy, but confident that He will similarly provide for His children’s needs. God often dresses the simplest field more beautifully than Israel’s wealthiest king could adorn himself. Therefore, anxiety about the essentials of life really demonstrates lack of (“little”) “faith” in God.” – Constable’s Note.

Kebanyakan dari kita sibuk mengumpulkan harta di dunia karena kita merasa kuatir akan masa depan kita. Ini yang membuat kita tidak menganggap perlu hal-hal yang spiritual, atau ya, terlibat sekadarnya saja. Ketika kuliah, kita tidak mau dibina di persekutuan mahasiswa Kristen karena kita selalu merasa sibuk dengan impian-impian dan ambisi-ambisi; kita kuatir CV kita tidak cukup meyakinkan para pemberi pekerjaan untuk hire kita. Lihatlah, kenapa ya kegigihan kita justru disetir oleh kekuatiran dan bukan karena persembahan bagi Allah, yang memberikan kesempatan kuliah buat kita?

Ketika sudah bekerja kita mulai meninggalkan persekutuan rohani (dan bahkan anak-anak rohani kita) karena kita berpikir, ini saatnya saya mempersiapkan masa depan saya; saya akan bekerja di sini selama sekian tahun, lalu ke sana sekian tahun, lalu akan menikah dengan orang yang seperti ini pada tahun sekian, dan sebagainya. Semua perencanaan itu kita dasarkan karena kita kuatir tidak punya harta cukup untuk hidup di dunia ini.

Akhirnya apa? Sudah terlalu sibuk untuk memikirkan harta di surga.

“The man who feeds his heart on the record of what God has done in the past will never worry about the future.” – Barclay.

Kekuatiran berdampak serius bagi iman kita. Saya copy Matius 13:22 (BIS):

Benih yang jatuh di tengah-tengah semak berduri ibarat orang-orang yang mendengar kabar itu, tetapi khawatir tentang hidup mereka dan ingin hidup mewah. Karena itu kabar dari Allah terhimpit di dalam hati mereka sehingga tidak berbuah.

Mungkin kita tetap membaca firman, tetapi kita kuatir tentang hidup kita. Dampaknya, firman itu terhimpit dan tidak menghasilkan pertumbuhan yang baik untuk memberi buah bagi kemuliaan Tuhan. Jelas dan sinkron, karena hidup yang penuh kekuatiran sebenarnya adalah hidup yang mengabaikan Allah dan pemeliharaan-Nya. Bagaimana bisa firman tersebut menjadi iman dan berbuah?

Yang terjadi jika saya dan Anda mengkuatirkan masa depan dan di saat yang bersamaan tidak tinggal dalam pemeliharaan Allah adalah hidup kita berangsur-angsur menjadi sama seperti orang yang tidak mengenal Allah, jauh dari persekutuan dengan Allah. Kita selalu mengabaikan-Nya.

“In the end, just as there are only two kinds of piety, the self-centered and the God-centered, so there are only two kinds of ambition: one can be ambitious either for oneself or for God. There is no third alternative.” – John Stott.

Bagi saya secara pribadi, perkataan Yesus mengenai kekuatiran ini berbicara bahwa yang terpenting dan yang terutama adalah sikap hati yang gigih untuk mencari terus kerajaan Allah di mana Allah-lah yang sungguh-sungguh menjadi Raja yang memerintah atas hidup kita dan kita mau melakukan kehendak-Nya. Semuanya akan ditambahkan pada kita. Tidak ada yang perlu dicemaskan tentang hari esok dan masa depan. Yang utama, hari ini, mari izinkan Allah mengatur, mengutak-atik, menghancurkan, membangun lagi, mendewasakan hidup kita, dan mari, hari ini kita lakukan kehendak-Nya.

Mari hidup di masa kini dengan membuka mata lebar-lebar akan apa yang penting dan terutama di dalam hidup kita.

 

“It is impossible to be a partially committed or part-time disciple; it is impossible to serve two masters, whether one of them be wealth or anything else, when the other master is meant to be God.” – Hagner.

The primary thought in the area of religion is— keep your eyes on God, not on people. Your motivation should not be the desire to be known as a praying person. Find an inner room in which to pray where no one even knows you are praying, shut the door, and talk to God in secret. Have no motivation other than to know your Father in heaven. It is impossible to carry on your life as a disciple without definite times of secret prayer.

Saturday, September 16.

utmost.org

PHDT: Pizza Hut Delivery Tips – 2

Maafin judulnya, ya.

Setelah pernah menulis tentang PHDT (Pasangan Hidup Dalam Tuhan) pada 2015 lalu (silakan klik di sini untuk membaca), saya merasa perlu menulis lagi versi lanjutannya di blog ini. Alasannya sederhana, saya merasa perlu membebaskan pikiran-pikiran dan perasaan saya mengenai hal ini; menguraikan benang kusut di kepala saya serta berharap setidak-tidaknya saya mengerti dengan lebih jelas apa yang saya tahu dan alami tentang ini. Jadi, mari kita mulai!

Bermula pada obrolan-obrolan yang membangkitkan ingatan saya akan beberapa kesedihan di masa lalu, saya memutuskan untuk membereskan ingatan-ingatan tersebut agar tidak lagi menorehkan luka baru di hati saya saat ini. Inilah cara saya membereskannya:

Dulu saya menganggap bahwa jawaban “tidak” yang berasal dari Tuhan adalah kesedihan yang begitu besar yang implikasinya terhenti pada saya dan diri saya sendiri: tentang bagaimana saya harus menangisi hal tersebut, menjalani hari-hari dengan ketegaran yang dibuat-buat, serta impian-impian agar segera melupakan dan move on. Betapa sempitnya cara saya melihat pekerjaan dan kedaulatan Tuhan pada masa itu. Saya berpikir ini semua tentang saya saja, padahal ini pun adalah tentang Tuhan dan apa yang mau Ia lakukan untuk menggenapkan rencana-Nya.

Ini adalah tentang Tuhan dan apa yang mau Ia lakukan untuk menggenapkan rencana-Nya.

Kalau Tuhan tidak ingin saya berpacaran dengan dia, tentulah itu karena Tuhan ingin menggenapkan rencana-Nya bagi saya–dan rencana-Nya selalulah damai sejahtera, bukan kecelakaan. Di bagian mana saya punya justifikasi untuk terlarut dalam kesedihan? (cie, larut, kayak garam)

Sudah, saya sudah menangis, bahkan, banyak menangis untuk hal itu. Sudah, saya pun sudah lama sekali berhenti menangisinya. Semua itu karena Tuhan menaruh di dalam hati saya damai sejahtera yang Ia maksudkan. Sehingga sekalipun obrolan-obrolan pembangkit cerita itu datang lagi, saya sudah tidak merasakan lagi kesedihan yang sama. Malahan saya bersyukur dan bisa berkata, “memang harus seperti ini ya, Tuhan.”

Oke, kembali ke Tuhan yang mau menggenapkan rencana-Nya, termasuk melalui relasi anak-anak yang dikasihi dan mengasihi-Nya.

Saya tidak tahu dengan kalian, tetapi bagi saya, jauh di dalam lubuk hati saya, saya selalu rindu pada akhirnya nanti akan memiliki pasangan hidup yang juga melayani Tuhan dan sesama–spesifik sekali, yakni menggembalakan sesama. Saya berdoa kepada Tuhan semoga ini bukan ambisi pribadi namun memang respons saya terhadap panggilan Tuhan bagi saya dan pasangan hidup saya nantinya. Terlepas dari apa pun yang kami kerjakan, mandat Injil tetaplah harus kami lakukan. Itulah doa dan kerinduan hati saya. Sepertinya terlalu tidak tahu diri jika saya berhenti meneruskan kasih Tuhan yang menyelamatkan saya dan yang menganugerahkan hidup yang sangat berharga dan kekal ini.

Dengan itu jugalah saya akan menguji calon pasangan hidup yang Tuhan izinkan berlalu-lalang di masa belum menikah ini. Kalau kita mengerti betul hal di atas, saya rasa kita akan lebih objektif dalam menjalani hari-hari dan tidak akan membiarkan perasaan semata (sehidung, setelinga) memimpin kita. Secara individu, kita sebaiknya sudah sadar bahwa kepuasan sejati kita hanya ada di dalam Tuhan, bahwa mengenal Dia secara pribadi dan mengalami kuasa kebangkitan-Nya adalah satu-satunya kemegahan kita, bahwa yang menjadi tempat perlindungan dan sumber kekuatan kita adalah Tuhan saja, serta tidak ada yang kita sembah selain Tuhan. Apa yang membuat berpacaran (dan bahkan menikah) mengubah iman dan pengakuan-pengakuan kita tersebut? Tidak ada. Pasangan yang tidak membuat kita semakin mengimani dan melakukan hal-hal tersebut bukanlah pasangan yang tepat. Hubungan pacaran dan pernikahan nanti haruslah mengarahkan kita untuk semakin mengasihi Tuhan yang terutama dan semakin taat kepada-Nya.

Ini jugalah yang akan menentukan sikap hati dan penundukan kita dalam menetapkan kriteria pasangan hidup. Cantik? Ganteng? Pintar? Berwawasan luas? Banyak uang? Satu suku? Satu Nusa? Satu Bangsa? Satu Bahasa Kita? Apa pun itu, jikalau kita melupakan kriteria yang paling menentukan separuh hidup kita yakni apakah (singkatnya) ia seorang murid yang mau bertumbuh dan yang setia pada Tuhan/tidak–kita akan tertatih-tatih memenuhi panggilan Tuhan dalam hidup kita. Banyak orang menempatkan kriteria-kriteria sekunder sebagai yang utama dan menggampangkan kriteria kerohanian. Bahkan, menyamakan kebaikan-kebaikan moral dengan pertumbuhan rohani di dalam Tuhan.

Ini jugalah yang akan menentukan tindakan, kesabaran dan kewaspadaan kita akan penantian pasangan hidup yang sungguh-sungguh dari Tuhan, bukan dari setan. Kita nggak akan terburu-buru dalam bertindak, tidak akan merasa hopeless kalau di usia segini belum punya pacar, dan bahkan tahu kapan harus memulai lebih dahulu (uhuk! cemangat ea!). Ketika kita menyadari bahwa kita sedang mencari partner untuk mengusahakan berbagai hal dalam mengerjakan panggilan Tuhan, segera saja kita akan menempatkan gengsi dan ego diri sendiri ini di nomor ke-sekian. Ini untuk Tuhan, kan?

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya bahas lagi, tetapi saya hentikan di sini saja. Kalau ada yang ingin bertanya, silakan di kolom comment, ya!

Selamat mencari dan menguji!

EARC 2017 – Bagian 1

Ada yang menarik ketika saya mengetik judul tulisan ini: saya tersenyum lebar dan benar-benar merasa bahagia. Tidak seperti kebanyakan tulisan saya yang lain yang kemungkinan besar diawali dengan kening berkerut. Hehe :/

EARC (East Asia Regional Conference) 2017 adalah salah satu doa saya yang dikabulkan Tuhan. Tahun lalu, tepatnya pada bulan Oktober, saya sempat berbisik di dalam hati & berdoa agar saya diikutsertakan ke EARC 2017 yang diselenggarakan di Korea Selatan. Ketika itu saya spontan saja berdoa sehabis mendengar bahwa EARC akan diadakan kembali. Saya juga belum sempat menyelidiki apa motivasi saya di kala itu–dan nggak lama kemudian, saya berbisik lagi, "Ah, itu kan untuk mahasiswa. Kamu siapa, Beth?" Saya tidak berharap banyak dan memilih melupakannya saja.

Rupanya Tuhan menjawab doa tersebut dan mengizinkan saya diikutsertakan sebagai salah satu peserta perwakilan Indonesia untuk diperlengkapi dengan berlimpah-limpah melalui acara ini. Saya sangat yakin Tuhan nggak main-main melibatkan saya di sini. Ya sekalipun rencana-Nya tidak bergantung pada yakin/tidaknya saya, sih. Saya bersyukur dan tulisan ini adalah salah satu wujud rasa syukur saya kepada Tuhan karena di sini saya akan merangkum beberapa hal yang mengena di hati saya sebagai pengingat pribadi, serta berharap mereka yang membaca juga beroleh berkat.

Saya akan membaginya ke dalam 2 bagian: bagian 1 adalah tentang apa yang berkesan secara personal kepada saya melalui bible exposition & plenary session, dan bagian 2 adalah tentang all the fun I had in EARC.

Selamat membaca!

Karakter Nabi Yeremia
Yeremia adalah seorang nabi yang kreatif. Kreativitasnya ditunjukkan melalui caranya menyampaikan firman TUHAN: drawing pictures, making images, & using poetry. Ia juga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kondisi masyarakat (punya passion terhadap orang-orang), serta memiliki keyakinan yang kuat akan panggilannya. Belajar dari Yeremia, saya perlu mengenali dan mengevaluasi diri sendiri, apa yang saya belum miliki? Saya rasa ini penting mengingat konteks yang ada saat ini tidak persis sama dengan yang dihadapi Yeremia. Sebagai utusan Tuhan dalam melayani sesama, saya yakin Tuhan ingin kita menjadi relevan agar firman-Nya tetap dapat diterima tanpa mengurangi kedalaman pesannya. Lagi, sudah jarang saya berpikir kreatif untuk menyampaikan firman Tuhan–padahal itu dapat mempermudah sesama saya dalam memahaminya. Saya memilih menyampaikannya plek-plek-an saja tanpa memerhatikan apakah cara itu membuat sesama saya mengerti maksud Tuhan dalam firman tersebut. Saya menyadari bahwa seseorang yang mau menyampaikan firman Tuhan adalah seseorang yang tidak boleh tidak berpikir panjang dan dalam, semata-mata demi keutuhan firman dapat tetap disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. It's not enough to be masters in the word of God, we need to be also masters in the world of God.

The Weeping Prophet
Lima puluh tahun Yeremia menyampaikan firman TUHAN dan tidak ada satu pun yang percaya. Mereka memilih percaya kepada nabi-nabi palsu yang menyampaikan hal-hal palsu. Tetapi Yeremia tetap bertahan pada panggilan Tuhan baginya: menyampaikan apa yang TUHAN taruh di dalam hatinya. Yeremia banyak menangis dan kesal di sepanjang pelayanannya karena perilaku orang-orang ke mana TUHAN mengutusnya. Sekalipun begitu, Yeremia terus saja menyampaikan kebenaran. Truth matters than popularity. Dia ditolak, mengalami kesendirian, dihina, bahkan dipenjara dan hampir dibunuh, namun hal itu tidak membuat Yeremia mencari jalan aman. Benar adanya bahwa, we cannot follow God and stay on the margins & we cannot be disciples while staying neutral.

God is a God that can be provoked into anger
Yeremia adalah nabi yang serius merespons dosa yang dilakukan bangsanya. Dia menyampaikannya dengan jelas dan eksplisit. Tidak ada yang diperindahnya. Dosa pada hakikatnya adalah busuk, dan itulah yang ia ungkapkan. Rupanya status "bangsa perjanjian" telah dilupakan oleh bangsa pilihan ini dan mereka hanya mau berkat Tuhan tanpa ketaatan. Sungguh mirip dengan kita, ya? Yeremia menjadi utusan TUHAN untuk menyampaikan bahwa Ia marah akan dosa-dosa mereka dan jangan pikir itu membuat Allah terlihat jahat; justru itu adalah konfirmasi kasih-Nya kepada umat.

Knowing God means doing justice
Eksploitasi orang-orang yang lemah bukanlah hal baru. Kitab Yeremia sudah mencatatkan hal itu sebagai dosa yang dilakukan oleh umat TUHAN dan Ia membenci hal tersebut. Ia adalah Allah yang adil. Siapa pun yang mengaku mengenal Allah haruslah menegakkan keadilan. You can't claim to know God while not caring for the poor. Tidak harus berlangsung di pengadilan atau lembaga-lembaga berbau hukum lain, ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang melakukan cinta-kasih dan keadilan.

Di mana Tuhan? Kenapa rasanya Dia diam saja?
TUHAN di sana, bersama orang-orang Israel: God speaks in exile, God is not a tribal/national God, God is not bound by geography/a building, and God is now in exile with His people. Saya jadi semakin yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya karena keberadaan-Nya tidak bergantung pada saya, melainkan pada Dia sendiri. Manusia terlalu sok tahu ketika menuding Tuhan sedang diam atau pergi padahal bagian yang seharusnya ia lakukan adalah mencari dan datang kepada Tuhan, serta terus menyediakan waktu untuk berbicara kepada-Nya, apa pun kondisinya.

"Seek the peace and prosperity of the city"
Sejak awal, bagian ini adalah salah satu yang susah saya mengerti dan lakukan. Sebutlah saya sedang mengalami "pembuangan" ke mana saya merasa "dibuang". Saya pasti tidak serta-merta dapat memikirkan kesejahteraan tempat tersebut. Boro-boro, saya pasti ingin langsung pergi saja dari sana. Puji Tuhan, saya bukan Tuhan. Tuhan saya justru meminta saya mengusahakan kesejahteraan tempat itu karena kesejahteraannya adalah kesejahteraan saya juga. Tuhan saya meminta untuk tidak membalas kejahatan yang saya terima di tempat itu. Seperti Daniel, misinya bukanlah misi Babel, misinya adalah misi ke Babel dan dia tahu, misi itu datangnya dari Tuhan. Tuhan menempatkan saya di berbagai tempat bukan untuk duduk diam dan protes, mengeluh sana-sini, melainkan untuk bekerja.

IT'S OKAY TO CRY
Beberapa orang malu menangis karena merasa itu adalah pertanda bahwa ia lemah. Tetapi ternyata kita tetap perlu menangis & meratap. Ada 4 makna ratapan: 1) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana adanya, 2) ratapan sebagai cara melihat sesuatu yang bukan sebagaimana adanya, 3) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana ia seharusnya, dan 4) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana jadinya nanti. Lament is not only about grief but also hope. Kalau kita nggak sedih, mungkin saja kita belum merasa helpless dan membutuhkan Tuhan. Seperti Yeremia, hati yang hancur miliknya adalah hati yang hancur karena hal-hal yang juga menghancurkan hati Tuhan.

Masih Ada Harapan!
Harapan menjadi mungkin karena natur Tuhan. Ia adalah Tuhan yang menepati janji dan Tuhan yang kasih. He is the betrayed lover who continues to love. :") Remember, God is making all things new, not making all new things. Tuhan sanggup membawa pembaharuan terhadap setiap kerusakan yang sudah terjadi (baik di diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan seluruh dunia). Namun, kita tetap memerlukan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita. Forgiveness is needed for any new beginnings dan itulah yang dianugerahkan kepada kita melalui Kristus. Dialah Mesias yang melakukan setiap hal yang gagal dilakukan oleh raja-raja sebelumnya. He will deal wisely, do justice, righteousness, salvation and dwell securely. Sehingga, sebagai seorang murid, sudah sepantasnyalah kita mengikuti teladan Guru kita; menjadi instrumen-Nya dalam membawa pembaharuan di bidang kita masing-masing.

(Cont'd)

Monolog

“Udah mau 1 Juni, nih. Udah jadi nulis buat Hari Pancasila?”


Aku bimbang, apakah aku harus menulisnya sekarang di kala pengetahuanku belum cukup untuk menulis tentang Pancasila sesuai dengan tujuan dan poin-poin sasaran yang ingin kubahas, ataukah aku tunda saja dan membiarkan momentum hari lahirnya Pancasila di tahun ini berlalu?

Tanpa perlu berlama-lama, nurani langsung menyuarakan maksudnya.

“Tidak usahlah menulis untuk tepat 1 Juni ini. Bukankah kau baru saja kepikiran beberapa hal lain yang mau diriset dan dianalisis lagi tentang Pancasila? Lagian, kalau mengandalkan buku-buku itu saja, tulisanmu nanti tak ubahnya salin-tempel saja. Sedihnya, kau sendiri belum paham betul. Kau juga masih menyisakan banyak halaman yang belum dibaca, kan? Keputusan terbijak yang bisa kauambil adalah menundanya. Kalau kau memaksakan menulis sekarang dengan waktu hanya 1 hari, kurasa kau hanya ingin mengejar ‘target’ dan momentum. Kasihan pembaca, 5 menitnya terbuang dengan tidak terlalu berkualitas. Sekalipun ini momen yang baik untuk menulis tentang Pancasila, hati-hati, jika terlalu kaku pada prinsip ini, kau tidak menganggap hari dan momen lain juga baik untuk membahas Pancasila. Hati-hati, semangatmu hanya semangat rutinitas perayaan. Padahal jauh sebelum Pak Jokowi protes soal terlalu monoton dan rutinitasnya kita, Bung Karno sudah mengingatkan dunia tentang itu di tahun 1960.

Lagi, kamu punya kesempatan untuk membaca-baca terlebih dahulu ulasan orang-orang terkait hari Pancasila nanti–percaya deh, pasti akan ada banyak tautan yang akan mengarahkanmu ke sana. Setelah kaubaca, kau bisa berusaha menambal lubang yang masih ada dari tulisan-tulisan mereka. Bukankah dengan begitu, kalian semua akan saling memperlengkapi? Asalkan kau tidak merasa tulisanmu yang paling benar. Sebab, perasaan paling benar seperti ini, berbahaya. Kau sudah lihat sendiri buktinya.

Selain karena alasan-alasan tersebut di atas, kau juga masih belum beres dalam menilai dan merespons tekanan. Kau tidak ingat kemarin kau baru saja bercerita panjang sambil menahan tangis yang akhirnya membuatmu sesak, tentang beberapa tekanan yang kaurasa? Tidak ingat berapa banyak kau mengeluh, marah, dan begitu egois kemarin? Iya, aku tahu, kau masih bingung apakah kondisi seperti ini adalah kondisi yang benar yang harus tetap kausyukuri dengan cara yang tepat, ataukah ini pertanda bahwa kau harus menghindari tekanan-tekanan seperti itu–entahkah kau harus berontak, atau pergi saja. Aku tahu kau bingung. Maka dari itu aku tak menyarankanmu untuk menulis di tengah tekanan dan kebingungan seperti itu. Apalagi kau punya topik yang kompleks seperti ini untuk ditulis. Jangan, tidak usah menulis dulu. Aku takut, kau menulis sebagai bentuk pelarian diri dari prioritas yang sesungguh-sungguhnya harus kauselesaikan. Aku takut, pikiranmu tidak jernih, tidak logis, dan tidak rendah hati dalam menulis nanti. Lagi-lagi, kasihan pembaca.

Wah, barusan lagi otakmu berargumen, “kau tidak sedang mengejar kesempurnaan pada tulisanmu nanti, kan?” Kau mau tahu jawabanku? Aku tidak akan pernah menjadi sempurna di dunia ini, pun tulisan-tulisanku juga demikian. Tetapi kalau kubilang aku mau mengejar kesempurnaan, itu berarti sebaik-baiknya aku menulis apa yang sesuai dengan maksud dan tujuanku, itu saja. Tidak perlu lagi berdebat soal kesempurnaan. Kau tidak sadar, memperdebatkan kesempurnaan berarti kau membuka ruang bahwa tidak ada satu cacat pun yang terjadi di dunia ini? Belum lagi berbicara tentang apa yang menjadi standarmu tentang kesempurnaan. Bagaimana bisa manusia yang tidak sempurna membuat standar tentang kesempurnaan? Atau jangan-jangan, kau merasa sempurna? Baiklah, otak, kau sudah tahu jawabannya sekarang. Aku hanya mau belajar lagi saja. Oh, ya. Juga, bersabar. Kau tahu karya yang dibuat dengan terburu-terburu sebenar-benarnya tengah melukai pembuatnya?

Lalu, apakah ini pembenaran bahwa aku gagal menulis hari ini? Bukan, ini adalah alasan mengapa aku gagal menulis hari ini. Aku bisa saja memaksakan diri. Tetapi untungnya, aku masih mau mengedukasi diri sendiri. Aku sadar, aku ini impulsif. Maka dari itu aku selalu waspada manakala monolog semacam ini tidak terjadi di jiwaku. Demikian juga bagi setiap orang, siapa pun yang mengaku manusia di dunia ini. Usahakan selalu berpikir dan memikirkan ulang sebelum melakukan apa pun, termasuk berkata-kata. Kita harus menguji segala sesuatunya, termasuk apa yang hendak kita perkatakan. Ujilah, ujilah dirimu, keinginanmu, motivasimu, ambisimu. Uji, ujilah ilmumu. Kendalikan dirimu. Kasihan pembaca jika tidak mendapat pengetahuan yang benar dari tulisanmu. Jika ia tidak mendapat arahan emosi yang tepat dari ulasanmu. Jika sudah demikian, tekunlah di dalam kesemuanya–dalam saling mencintai satu dengan yang lain: kau dan mereka yang akan membaca. Iya, kau tak pernah tahu seberapa baik tulisan bisa menjadi caramu mencintai. Mungkin juga, menjadi alasan mengapa kau dicintai. 

Kalau pun kau harus memaknai hari lahirnya Pancasila dengan bermonolog seperti ini, berterima kasihlah pada semesta dan Pencipta.

Monolog ini adalah inisiatif dan cara-Nya untuk memenuhi ‘kebutuhan’-mu (mungkin juga orang lain) hari ini.

Mazmur 131 dan 138: Kerendahan hati, Pengharapan, dan Iman Pak Ahok akan Janji Tuhan

605548_620
Sumber: Tempo

Saya memutuskan untuk mempelajari dan merenungkan firman Tuhan dalam Mazmur 131 dan Mazmur 138–Mazmur mana yang ayat-ayatnya dikutip oleh Pak Ahok dalam suratnya dari Rumah Tahanan Depok kemarin (Minggu, 21 Mei 2017).

Saya memutuskan untuk belajar dari kesaksian Pak Ahok tersebut pada hari kenaikan Tuhan Yesus Kristus ini–hari di mana pada masa itu Yesus juga berpesan kepada murid-murid-Nya untuk menjadi saksi bagi-Nya sampai ke ujung dunia.

Mari kita mulai!

[Teman-teman bisa sambil mendengarkan lagu (seperti) Doa Kami – True Worshippers untuk mengarahkan emosi teman-teman ke perenungan akan kondisi bangsa Indonesia dan orang-orang di dalamnya.] 

Mazmur 131

  1. Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. 
  2. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
  3. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Mazmur 131 ditulis oleh Daud, seorang Raja Israel yang sangat berjaya di zamannya. Mazmur ini termasuk ke Buku V (terdiri atas Pasal 107-150) dalam pembagian kitab Mazmur. Pasal 120-134 dimulai dengan kata-kata “Nyanyian Ziarah” atau “Songs of Ascent”; disebut juga nyanyian pendakian. Kemungkinan para pemazmur dalam pasal-pasal ini (termasuk Daud) menyanyikannya dalam perjalanan (pendakian) menuju Yerusalem untuk festival keagamaan tahunan umat Yahudi.

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul “Menyerah kepada Tuhan” untuk pasal ini; judul yang jelas untuk menunjukkan kondisi dan kedalaman hati Daud pada saat itu. Menurut saya, tinggi hati dan sombong dalam ayat 1 identik dengan suatu sikap hati yang menganggap diri lebih hebat (superior) dari orang lain; juga sikap hati menafikan keberadaan dan kehadiran Tuhan di dalam hidup seseorang.

Hm, pernah dengar istilah, “biar miskin, yang penting sombong?” atau, “biar jelek yang penting sombong?” Saya sering mendengar itu di kantor, hahaha. Kalimat-kalimat ini sering diucapkan oleh rekan-rekan saya sebagai semacam sinisme terhadap diri sendiri. Misalnya, seorang rekan senior di kantor pernah bilang bahwa dia tidak akan sekali-kali menerima bantuan orang lain untuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan pernikahannya–meskipun nggak sanggup, yang penting sombong dulu. Memikirkan perkataan itu, mungkin saja tinggi hati dan sombong dapat juga diartikan dengan sikap hati yang tidak mau mengakui keterbatasan dan ketidakmampuan diri–munculnya sikap overestimate terhadap kemampuan diri sendiri. Begitulah kura-kura. Boleh setuju, boleh tidak. Yang penting kita tetap bersaudara.

Dalam pasal ini Daud mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang seperti itu. Dia mengaku di hadapan TUHAN bahwa dia bukanlah orang yang tinggi hati atau pun sombong. Melanjutkan pengakuannya tersebut, Daud juga menyatakan bahwa dia tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau terlalu ajaib baginya, karena dia tidak mampu–itu tidak sesuai dengan kapasitasnya. Daud sadar dan realistis terhadap dirinya. NET Bible menerjemahkan bagian ini demikian, “I do not have great aspirations, or concern myself with things that are beyond me.” Daud tidak punya cita-cita besar yang terlalu sulit baginya atau pun menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang di luar jangkauannya.

Lalu, apa yang dilakukan Daud? Apa yang ia sibukkan?

Sesungguhnya, Daud telah menenangkan dan mendiamkan jiwanya. Mungkin ada banyak hal yang membuat jiwanya ‘berisik’. Mungkin ada banyak hal yang ‘menggoda’ Daud; banyak hal yang seolah-olah meminta dipikirkan dan dikejar oleh Daud. Namun di titik ini, Daud tahu dia tidak mampu, maka dia memilih menenangkan dan mendiamkan jiwanya. Keputusan yang diambil Daud merupakan salah satu tanda kedewasaan sekaligus kerendahan hatinya. Tidak banyak orang bisa mengenal kemampuannya dan mengakuinya di hadapan Tuhan. Tidak banyak orang berpikir bahwa menenangkan dan mendiamkan jiwa juga merupakan pilihan. Gambaran yang diberikan Daud di sini adalah seorang bayi yang berbaring di dekat ibunya; seperti itulah jiwa Daud. Begitu tenang seolah belum mengenal keruwetan dunia.

Ayat ke-3 dalam pasal ini menunjukkan apa dan siapa yang menjadi ‘sandaran’ Daud untuk ‘berbaring’–ke mana ia menenangkan dan mendiamkan jiwanya, sebagaimana digambarkannya pada ayat sebelumnya. Dialah TUHAN, kepada siapa Daud dan seluruh umat Israel sepatutnya berharap tidak hanya saat ini melainkan selama-lamanya.

Perhatikan baik-baik, Daud punya ‘pelarian’ yang tepat di tengah kondisi yang ia alami. Dia tahu bahwa hal-hal yang terlalu besar maupun terlalu ajaib untuk dirinya bukanlah sumber pengharapan bagi jiwanya. TUHAN yang menjadi sumber pengharapan Daud pun dipercayainya sebagai TUHAN yang penuh kasih sayang dan kepedulian, serta yang begitu menenangkan, layaknya seorang ibu.

Dari 3 ayat di atas saya belajar pentingnya memiliki kerendahan hati untuk mengenal kemampuan diri sendiri dan mengakui keterbatasan diri–serta apa yang harus kita lakukan dalam merespons hal tersebut. Orang yang seperti ini tidak lantas berhenti di situ, dia perlu menenangkan jiwanya di dalam Tuhan yang menjadi tempat berharap bukan hanya pada saat ini melainkan untuk selama-lamanya.

Mazmur 138

  1. Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.
  2. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
  3. Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
  4. Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu;
  5. mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.
  6. TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.
  7. Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.
  8. TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Mazmur ini juga ditulis oleh raja Daud. Bedanya, kali ini bukan merupakan nyanyian ziarah. 

Mazmur ini dimulai dengan kerinduan Daud untuk bersyukur dengan segenap hati kepada TUHAN dan sujud ke arah bait-Nya yang kudus dan memuji Dia. Dikatakan juga bahwa Daud akan bermazmur bagi TUHAN di hadapan para allah dunia ini. Bisa jadi allah dunia yang dimaksud Daud adalah para raja lain, hakim-hakim lain, maupun patung-patung dan berhala yang ada di masanya.

Daud melakukan hal-hal tersebut karena TUHAN menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya kepada Daud; sebab TUHAN menjawab seruan dan doa Daud yang membuat kuasa nama TUHAN dan janji-janji TUHAN nyata di dalam hidupnya. Menarik bagi saya, ketika Daud menyatakan bahwa jawaban doa dari TUHAN tidak hanya berisi penggenapan janji melainkan juga kekuatan rohani yang ditambahkan kepada jiwanya. 

Daud berharap bahwa kesaksiannya akan kebaikan dan kehebatan TUHAN yang menjawab doanya akan membuat raja-raja lain juga bersyukur kepada TUHAN dan bahkan memuji TUHAN karena kemuliaan TUHAN telah nyata bagi mereka.

Di bagian berikutnya Daud menyatakan bahwa meskipun TUHAN itu ‘tinggi’; begitu mulia dan hebat, Dia tetap memerhatikan orang-orang yang hina dan bahkan mengenal orang yang sombong dari jauh. Inilah keyakinan iman bahwa TUHAN tidak tidur. Keyakinan Daud akan TUHAN yang seperti ini membuatnya percaya bahwa TUHAN akan membangkitkannya di tengah kesesakan dan bahkan menolong dan melepaskannya dari amarah musuh-musuhnya. TUHAN akan menyelesaikan semua pergumulannya bagi Daud; TUHAN yang akan berperang untuknya, Daud akan diam saja. Sekali lagi di penutup pasal ini Daud menyatakan bahwa kasih dan kesetiaan TUHAN adalah untuk selama-lamanya.


Setelah membaca dan merenungkan kedua bagian ini tampaknya bukanlah suatu kebetulan jika Pak Ahok mengangkat 2 ayat dari pasal-pasal ini dalam merespons kejadian yang menimpanya dan situasi yang sedang dihadapinya. Pada bagian pertama dia mengisyaratkan kepada bangsa ini bahwa sesungguhnya apa yang sekarang terjadi di luar kemampuan dan kapasitasnya. Saya terharu sekali membayangkan pergumulan hati Pak Ahok ketika memutuskan untuk menyatakan bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang dapat diandalkannya di tengah pidana penistaan agama yang dijatuhkan atasnya. Dia seolah-olah mau bilang bahwa dia tidak bisa mengharapkan banding yang akan diajukannya nanti. Dia memutuskan untuk mundur dari ‘kebisingan’ kasus ini dan memilih mendiamkan dan menenangkan jiwanya di balik jeruji besi–dalam pangkuan Tuhan yang diyakininya tetap mengasihi dan peduli padanya. Tuhan, satu-satunya yang diharapkannya.

Selanjutnya saya membayangkan bahwa Pak Ahok mengimani janji Tuhan bahwa Tuhan akan terus memerhatikan beliau dan mendengar teriak minta tolong beliau yang mungkin tidak didengar oleh satu orang pun di balik jeruji besi itu. Pak Ahok memang memutuskan untuk mundur dari pertarungan ini dan percaya bahwa sekalipun ia mundur, ia diam, Tuhan tetap akan menyelesaikan perkara-perkara ini baginya. Tuhan akan berperang untuknya.

Inilah arah pengharapan Pak Ahok di bagian pertama tadi. Berharaplah kepada Tuhan, hai Indonesia, dari sekarang sampai selama-lamanya!” karena “Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.”


Mengagumkan sekali imanmu, Pak Ahok. :’ Semoga kau tetap setia, sebagai respons atas kesetiaan-Nya yang sampai selama-lamanya itu. Penjara bukanlah halangan untukmu tetap menjadi alat-Nya bagi bangsa ini, melainkan Tuhan merancangkan semua ini karena Dia ingin memakaimu dengan lebih signifikan lagi, saat ini dan di masa depan.

Terima kasih telah mengingatkan saya melalui kutipan ayat-ayat yang kaupilih ini–pasti Tuhan sendiri yang menyatakannya padamu untuk kausampaikan kepada kami.

“Kuberjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia.”

(semoga Roh Kudus menyempurnakan keterbatasan dan kelemahan saya dalam membagikan perenungan atas dua pasal Mazmur ini–di dalam hati masing-masing pembaca).