Membawanya Pulang

Beberapa orang takut dengan masa lalunya. Mereka takut ketika harus berkunjung ke lembaran-lembaran usang yang ternyata masih sangat berkesan. Sebagian menjadi sangat marah bila ada orang yang mengungkit hal-hal yang membuka luka lamanya. Seberapa sering pun mereka berkata “aku sudah pulih”, tidak jarang reaksi dan respons mereka menunjukkan yang sebaliknya. Sebagian lagi kembali mengasihani diri sendiri, menuntut orang lain juga turut mengasihaninya. Mungkin.

Aku pun termasuk dari beberapa orang tersebut; beberapa orang yang pernah takut dengan masa lalunya. Sebab di masa lalu itu pernah terjadi suatu peristiwa yang tidak pernah kuharapkan. Begitulah manusia dengan ekspektasinya. Jika itu melebihi ekspektasi, seolah nilai dan keberhargaannya bertambah. Jika jauh di bawah dari ekspektasi, dia mulai bingung dan menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan yang paling sering, Tuhan.

Waktu itu Tuhan membawaku melihat bagaimana rasanya realitas yang berada di bawah ekspektasi. Tentu tidak enak. Tuhan yang sebelumnya membawaku menjadi yang terbaik di sekolah, membawaku juga menempati tempat yang bukan terbaik. Jiwa ambisiusku meronta-ronta mengingat kok bisa sontak daya juangku seperti mati? Apakah itu memukulku begitu kuat, ya? Salah satu guruku pernah bertanya kepada orang tuaku, “Ibu, Elisabeth ini kenapa ya? Apa dia bekerja terlalu keras di rumah? Ibu membebankan dia dengan hal-hal yang berat? Kenapa nilainya turun semua?”

Ketika ibu menyampaikan hal itu kepadaku, aku hanya bergumam tidak jelas dan melengos pergi.

Ketika aku membuat tulisan ini, sebenarnya aku sedang sembari mengingat-ingat, “emang kenapa sih waktu itu nilai gue turun?” Aku memilah-milih kenangan dan ingatan; mana yang tepat untuk diletakkan sebagai penyebab semua ini. Aku mencoba meyakinkan diri, “Apa? Yang benar saja? Masa gara-gara itu?”

Aku putus cinta.

Benar, kamu tidak salah baca. Tunggu-tunggu, jangan buru-buru ambil ember untuk muntah, setelah ini kisahnya akan lebih serius. Jujur saja, saat ini aku sedang malu pada diriku. Kamar doa di Rumah Doa Bethel Bandung menjadi saksinya. Juga bungkus Fitbar cokelat di sebelah laptop yang kupakai.

Anak laki-laki itu berinisial G. Beberapa orang terdekat pasti sudah mengetahuinya. Perkenalan kami terjadi ketika SMP dan tragedi ala drama musikal tersebut terjadi ketika aku naik kelas XI. Aku tidak menyebut kami berpacaran, hanya saling taksir-menaksir. Udah kayak di pasar. Eh sorry, aku terlalu percaya diri, sebenarnya cuma aku yang naksir. Singkat cerita, sepertinya semangatku hilang pelan-pelan. Dari peringkat 4, peringkat 12 menuju tidak berperingkat. Wali kelas kami kasihan pada anak-anak yang kalau peringkatnya sudah terlalu jauh, angkanya nggak enak dilihat. Memang aku ada di kelas unggulan dan ini yang selalu menjadi topeng untuk menutupi bahwa ketahanan akademisku menurun. Aku selalu bilang, “Ma, nilai rata-rataku masih 89, di kelas lain aku sudah juara minus 1 kayaknya.”

Tetapi sejak itu memang daya juangku menurun drastis, kepercayaan diriku juga seperti hilang entah ke mana, dan itu berdampak pada beberapa aspek lain. Makanya aku berulangkali bilang bahwa sungguhlah anugerah yang besar ketika setelah masa-masa SMA yang sulit (termasuk kesulitan ekonomi) itu aku masih bisa masuk ke kampusku yang bagus itu.

Barusan aku sedang berjalan-jalan ke masa lalu yang sebenarnya sangat kelam. Tetapi kali ini aku sudah bisa mengunjunginya dengan cengiran-cengiran dan beberapa guyonan lama. Aku pulih. Namun ada yang aku harus bawa pulang dari hasil kunjunganku ke masa lalu itu. Aku perlu membawa semangat dan daya juang serta self-esteem yang baik selama aku TK sampai kelas X SMA, ada kurang lebih 11 tahun yang baik yang kunikmati karena Tuhan. Jika dibanding dengan 2 tahun masa kelas XI dan XII yang kelam itu, apalah artinya?

I’m bringing back my old self. Elisabeth yang memiliki daya juang yang tinggi. Elisabeth yang rajin, yang tidak takut salah, yang berani menjawab pertanyaan-pertanyaan guru karena mempersiapkan diri begitu rupa di rumah. Elisabeth yang selalu mengerjakan tugas in advance even sebelum guru memberikannya. Elisabeth yang sudah rajin baca koran sejak SD, sudah rajin mengumpulkan berita-berita untuk kliping pribadinya. Elisabeth yang tidak takut mengeksplor tulisan-tulisan imajinatif yang ditulis dengan konteks budaya lain. Elisabeth yang, oh tidak, aku nggak percaya aku menulis ini, yang berani menciptakan lagu -_- Elisabeth yang sudah menulis-tangan 13 cerita bersambung sejak SD untuk diberikan kepada teman-teman. Look, I was a little (self-claimed) author and a story-teller, dude. 

I’m bringing back my talents which I left there, in those dark places. Aku harus ingat bahwa Tuhan sudah memberikannya dan tentu saja perlu terus kukembangkan. Jangan karena satu peristiwa, lantas aku melupakan banyak peristiwa bersejarah yang juga sama-sama membentuk aku yang sekarang.

I’m bringing back God’s works and miracles which had happened in my life long long ago and put them as a reminder: that same God will do greater things in me, this time. 

Jikalau ketika aku belum berpaling kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan belum mengenalnya dengan lebih dalam saja Dia sudah menunjukkan kedaulatan dan kuasa yang begitu rupa? Mungkinkah sekarang Dia meninggalkan dan acuh pada hidupku?

Dia Imanuel.

Allah yang menyertai kita, menyertaiku.

 

Advertisements

Agak Rumit

Sudah lama kusadari bahwa tindakan seseorang harus lebih bermakna daripada prinsip-prinsip yang dianutnya. Sejatinya, kau tidak akan menyebut sesuatu sebagai prinsip jika itu tidak terwujud dengan nyata lewat tindakaannya, bukan? Prinsip-prinsip apa pun barulah hidup melalui kehidupan seseorang yang menganutnya.

Tidak munafik. Itu maksudku dari tadi.

Lama sudah berlalu sejak peristiwa berkesan itu, namun nilai yang kudapat dari sana tidak pernah lalu. Aku tidak suka kemunafikan jenis apa pun, yang dilakukan oleh siapa pun. Demikianlah aku meletakkan pernyataan itu di bumi, setelah beberapa saat menenggelamkan diri dalam rasa kecewa.

Tidak heran, sejak itu aku tidak pernah mudah untuk mengatakan bahwa aku sudah memahami seseorang. Aku selalu berani merangkul setiap kesempatan dan menempuh setiap jalan untuk menguraikan peristiwa demi peristiwa demi melihat bagaimana seseorang berperilaku. Bagi beberapa orang, aku terkesan ‘lamban’. Tapi tidak apa, aku lebih suka menyebutnya ‘sabar’.

Sejak itu aku menjadi tidak mudah untuk mengagumi seseorang, seperti dulu. Karena kini, tidak pernah lagi untaian ayat kitab suci yang diselipkannya di media sosial atau tulisannya membuatku kagum pada pribadinya. Bagiku itu tidak menentukan apa-apa. Atau, pertemuan-pertemuan singkat di tempat-tempat pelayanan rohani tidak lantas menjadi alat bukti bagiku atas keimanan seseorang yang kutemui di sana. Itu tidak menyimpulkan apa-apa.

Aku teringat, ada salah satu kalimat dari seseorang di peristiwa tersebut yang membuatku sebenarnya ingin marah. Aku ingin membantah, ingin menggugatnya saja. Jika kutuliskan di sini aku takut akan menimbulkan perkara. Tapi itu adalah kalimat yang tidak bijak. Kalimat yang sampai kapan pun akan ditentang oleh orang bijak dari belahan bumi mana pun, dari latar belakang apa pun. Kusampaikan saja sedikit argumenku, “justru ketika kau semakin lama mengenal seseorang, di situlah tingkat penerimaanmu terhadapnya akan terlihat.” Bukan sebaliknya. Aku tahu dia ingin mengatakan sesuatu yang lebih bijak saat itu, namun mungkin dia tidak sempat berpikir.

Aku senang melalui banyak proses dan waktu yang panjang untuk berkenalan dengan berbagai ciptaan termulia di bumi ini. Sekalipun beberapa di antaranya membuatku sedih dan bingung, namun tidak masalah. Aku tahu aku juga tidak lebih baik dari mereka. Aku tidak lebih baik dari orang-orang yang menganggapku tidak berbuat apa-apa dan tidak berpengaruh apa-apa. Aku tidak lebih baik dari orang-orang yang mempertanyakan kompetensiku. Aku tidak lebih baik dari orang-orang yang lebih percaya kepada penilaian orang lain terhadapku daripada mengenalku langsung. Aku tidak lebih baik daripada mereka yang terintimidasi dengan keberadaanku. Aku tidak lebih baik dari mereka yang pernah memandangku dari luarnya saja. Aku tidak lebih baik dari mereka yang mempertanyakan kesungguhan hatiku. Aku tidak lebih baik dari mereka yang berpura-pura baik di depanku. Aku tidak lebih baik dari mereka yang menghakimiku di dalam pikiran mereka. Aku tidak lebih baik dari mereka yang berhenti menerimaku apa adanya.

Aku tidak lebih baik dari mereka. Bahkan dari abang-abang GOJEK atau Grab yang selalu bertanya posisiku di mana atau ingin dijemput di mana padahal sudah ada peta pun, aku tidak lebih baik. Aku tidak lebih baik daripada ibu-ibu yang ingin masuk lebih cepat ke KRL padahal aku belum keluar. Aku tidak lebih baik daripada bapak-bapak yang kupikir akan memberikan tempat duduk–namun tidak memberikannya–ketika melihat wajah lelahku di KRL. Aku tidak lebih baik dari mereka yang sering membuatku bad mood. Aku tidak bisa menentukan bagaimana mereka hanya lewat 1-2 kali pertemuan dan peristiwa dan tentu tidak perlu merespons seolah-olah mereka demikian hanya dari 1-2 peristiwa tersebut.

Kata orang, “everyone has their own struggles” tapi bagiku, setiap orang memang berbeda. Seringkali kita berharap semua orang menampilkan bentuk yang kita gambar sendiri di kepala kita. Itu adalah usaha menjaring angin. Sia-sia. Kegagalan manusia untuk saling memengaruhi dalam prinsip-prinsip yang bernilai luhur bagi kemanusiaan adalah karena kita tidak berani mengakui bahwa kita berbeda. Prinsip yang luhur bisa ditanamkan jika ada penerimaan manusia yang satu terhadap manusia lainnya. Namun bagaimana jika belum apa-apa kita sudah terlalu cepat menyimpulkan bagaimana seseorang? Nilai penerimaan kita akan sangat ditentukan dari pengenalan kita terhadap mereka.

Jadi, ini untuk diri sendiri, tidak masalah kalau memang harus tertatih saat ini. Tidak semuanya juga harus dimengerti. Nanti, kalau ada kesempatan untuk mengenal mereka lebih dalam, kalau ada jalan untuk bertukar cerita, mungkin di sana penilaianmu akan berubah. Kalau saat ini kebanyakan jeleknya yang kau lihat, simpan saja dulu. Tapi ingat, itu tidak lantas mewakili siapa mereka seutuhnya.

Kau juga tidak mau kan dilihat jeleknya saja?

 

Ironi Pernikahan

Pernikahan Ananias dan Safira bukan jenis pernikahan yang aku impikan. Jelas aku tidak akan mau bersepakat dengan seseorang yang berbohong, apalagi untuk urusan persembahan kepada Tuhan. Aku tidak mau menghakimi mereka, namun apa pun alasan di balik tindakan mereka yakni menahan sebagian hasil penjualan tanahnya untuk diri mereka padahal mereka sudah mengatakan untuk memberikan semuanya kepada Tuhan, jelas salah. Di luar hakku untuk menghakimi mereka, itu adalah persepakatan yang jahat. Mereka tidak punya kewajiban untuk menjual tanahnya dan memberikan hasil penjualannya kepada Tuhan, tapi kenapa mereka harus berbohong? Toh, orang-orang di sekitar mereka pada saat itu melakukan penjualan tanah dan berbagi dengan sesamanya karena ketulusan dan kerelaan hati, kok. Rasul-rasul juga tidak memaksa mereka untuk memberikan hasil penjualan tanahnya. Tapi entah apa yang mereka pikirkan sampai mereka malah berbuat yang sebaliknya.

Aku membayangkan misalnya mereka menjual tanahnya dengan alibi untuk diberikan sebagai persembahan kepada Tuhan. Lalu memang, kita tidak tahu siapa yang membelinya. Namun kalau yang membeli adalah salah satu jemaat dari kumpulan orang percaya, pastilah ia sangat senang membelinya karena uang hasil penjualannya akan diberikan semuanya kepada Tuhan. Kita nggak tahu akan bagaimana kisah transaksi jual-beli tanah ini berlangsung kalau Ananias dan Safira tidak mengatakan bahwa mereka akan memberikan hasil penjualannya kepada Tuhan. Mungkin ada yang tetap membeli, mungkin juga tidak ada. Mungkin ada yang rela membayar dengan harga mahal karena untuk Tuhan, mungkin juga harganya biasa saja.

Anyway, poinnya adalah, mereka mendustai Roh Kudus, mendustai Allah sendiri. Apalagi ketika Safira ditanyakan “apakah dengan harga segini kau jual tanahmu?” dan ia mengatakan ‘betul’. Padahal dia dan suaminya sudah menahan sebagian hasil penjualan tanahnya dan hanya sebagiannyalah yang mereka berikan kepada Tuhan. Ini adalah bentuk persekutuan suami-istri yang salah; bukannya bersekutu dengan Roh Kudus, melainkan dengan iblis.

Persekutuan dengan Roh Kudus tidak mungkin menghasilkan dusta karena dusta adalah produk Iblis; dialah bapa segala dusta. Ini menegurku begitu keras. Adakah di dalam perjalanan hidup ini aku berbohong dan berdusta namun aku masih hidup? Jika demikian, berarti aku mengalami belas kasihan yang begitu besar dari Tuhan. Tidak dapat kubayangkan kalau aku langsung mengalami kematian seperti yang Ananias dan Safira alami ketika aku berbohong.

Hidup sebagai orang Kristen sangat memerlukan kebijaksanaan. Efesus 5:15 berkata, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Kita memerlukan kepekaan untuk melihat pertentangan daging dan Roh yang ada di dalam diri dan berjuang untuk mematikan apa yang merupakan keinginan daging.

Aku tidak tahu apakah Ananias dan Safira betul-betul orang percaya yang sudah bertobat oleh Injil ataukan orang percaya palsu. Namun kisah kematian mereka begitu signifikan sampai perlu dicatatkan oleh Lukas untuk menunjukkan bagaimana bentuk perbuatan daging dan apa konsekuensinya serta bagaimana perbedaannya dengan buah dari mereka yang bersekutu dengan Roh Kudus.

Sebagai perempuan, Safira seharusnya menolong Ananias untuk hidup sesuai kehendak Allah, namun kali ini, seperti Hawa, dia malah turut menjerumuskan suaminya ke dalam dosa.

Ini adalah pelajaran berharga bagi para istri dan calon istri. Hiduplah kuat oleh kasih karunia Tuhan dan ikutlah pada pimpinan Roh Kudus setiap hari. Karena sungguh, istri yang cakap dan bijaksana, siapakah yang mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata.

Hosea 1:1-3 #BibleReading

Nama Hosea berasal dari kata kerja yang sama dengan nama “Yosua” dan “Yesus” yakni “untuk menyelamatkan atau untuk membebaskan”.

Ketika Hosea diperintahkan TUHAN untuk menikahi seorang perempuan yang akan tidak setia kepadanya, saya membayangkan betapa sulit dan tidak enaknya posisi Hosea pada saat itu. Siapa yang mau menikahi seseorang yang tidak akan setia kepada kita? Hosea bukannya tidak tahu lho apa yang akan terjadi dengan pernikahannya, dia tahu betul, karena TUHAN sudah mengatakannya. Kecuali TUHAN menyembunyikan hal itu darinya, mungkin saja perintah tersebut tidak akan sesulit ini.

Saya berpikir, “Hosea is nothing like me.” Saya tidak akan mau menikahi seseorang yang saya tahu akan berbuat zina di dalam pernikahan kami. Namun Hosea tetap melakukannya juga, meski tidak dicatat bagaimana pergulatan emosinya ketika mentaati perintah TUHAN tersebut.

TUHAN memerintahkan pernikahan semacam itu karena sebuah alasan, “karena negeri ini bersundal hebat dan membelakangi TUHAN.” Israel, secara khusus suku Efraim, merekalah yang menjadi objek di mana Hosea menjadi nabi. Persundalan yang dilakukan oleh Israel di kerajaan Utara bersama Baal-baal tersebutlah yang menjadi latar belakang tugas kenabian Hosea. Sungguh waktu yang malang baginya, dari sekian banyak nabi, entah mengapa harus dirinya.

Ada 2 hal yang dapat saya pelajari:

  1. Tetap taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan di dalam firman-Nya
  2. Meskipun perintah itu menyulitkan/menyakitkan/perlu penyangkalan diri yang dalam

Tidak mudah untuk melakukan 2 hal ini, apa lagi jika harus melakukan seperti yang Hosea lakukan: to love someone unfaithful. 

What’s the point, then? 

Finding my serenity: life & friendship

I thought a lot about life for some time. Gosh, life?

I mean, I thought about what I was currently doing as my job, I thought about how long I would work in that place, I also thought about what vision I had at this time when I decided to attend staff orientation in the middle of this year?

Err, not planning to go further with that, okay, it’s a quite serious topic.

I also think a lot more about people. I just realised I had lost a lot of relationships in my 25. Some of the best friends I had in the past, have really been beyond reach. Some of the people I used to fight for, I have to give up now because in fact, I’m not strong enough to hold them. I had too much to handle right now until I finally had to let go of a few, or maybe this is just…the right time to do so. I used to insist on keeping everything in my hands and the idea of ​​giving them up was a bad thing back then. However, for some reason that kind of thing no longer exists. I begin to accept it.

Maybe my thoughts about these people have taken up more portions in recent days. For example, I no longer have excessive sadness when I see some old friends upload their photos or videos about their lives right now. Though they are the ones who have filled my days with happiness since my elementary days, middle school, high school, and even college days, I’m fine. Before getting to this point, I had several times found myself saddened by the reality that this friendship wouldn’t last long. Not because I don’t love them anymore, but sometimes I feel they also can’t stand this friendship with me. I don’t know of any factors, but that’s the reality I saw. I hope I wasn’t assuming.

I’ve heard people say, the older we get, the smaller our circle of friends. Whether it’s true or not, it looks like it’s going to happen to me, at this perfect now. As someone who struggles to be sincere in any friendship, I initially insisted on rejecting that saying, even though over time, the words sounded even more real. Because it turns out, friendship, a deeper one, demands the same commitment and totality from both parties. If I say I am a friend of someone, I need to think again, do I commit? A question rises then, what standard is used to define whether I am a committed friend or not?

I choose the Bible among many standards that this world has to offer. I could choose other books, but I believe the Bible will explain it more fundamentally to me. Of course. The Bible is the authority that determines all standards in my life. One of the things the Bible says about being a friend is “a friend loves at all times”.

From this point I thought, “have I become a friend who loves at all times?” and if yes, “to whom do I give that love?” These two questions helped me to see whether I was a friend of someone or a handful of people. Then I thought about the next question, “who are the people who love me at all times?”, because hey, they are my friends. Hi, guys-I-have-in-mind!

I am not sad and I won’t be, if I find the fact that only a few people have the same commitment as me about this friendship thingy. Still going to thank God that I have them anyway. They are my literally “through thick and thin” friends. Time reveals.

So, it’s okay to have smaller (s)inner-circle, it’s okay, we’re just human who are too limited to be true. It’s okay to choose the ones you want to keep; make sure to keep those who sharpen you. It’s okay to lose some (not-really-our) friends–in the light of this context–it is really okay. The best we can do is, to love at all times those we choose to be our friends.

Phew, I’m relieved.

Si Sombong

“Humility is perfect quietness of heart. It is to expect nothing, to wonder at nothing that is done to me, to feel nothing done against me. It is to be at rest when nobody praises me, and when I am blamed or despised. It is to have a blessed home in the Lord, where I can go in and shut the door, and kneel to my Father in secret, and am at peace as in a deep sea of calmness, when all around and above is trouble.” 

Ini adalah kutipan dari Andrew Murray, seorang penulis, guru, dan pendeta Kristen Afrika Selatan. Pertama kali membacanya saya merasa kutipan ini berlebihan dan cenderung ke titik ekstrem yang sepertinya tidak akan pernah terjadi. Tetapi beberapa peristiwa belakangan ini menunjukkan kepada saya bahwa kutipan ini bisa menjadi bahan evaluasi yang baik bagi seseorang karena di baliknya ada pernyataan/pertanyaan tersirat yang sebenarnya berujung pada apa yang akhirnya disimpulkan Murray dalam kutipan ini.

Apakah mungkin seseorang mengalami ketenangan sempurna di dalam hatinya (perfect quietness of heart?) Ketenangan bagaimana? Murray melanjutkan.

Ketenangan hati di mana seseorang tidak berekspektasi apa pun–tidak bertanya-tanya pada apa pun yang diperlakukan orang terhadapnya; bisa tidak merasa apa pun yang dilakukan terhadapnya. Kerendahan hati adalah bisa merasa tenang dan beristirahat ketika tidak ada seorang pun yang memujinya, dan ketika pun seseorang itu disalahkan atau dihina.

Apakah hal ini benar merupakan gambar seseorang yang rendah hati? Ya, saya setuju. Lantas apakah orang yang rendah hati adalah orang yang mati rasa? Sebab gambaran ini seolah-olah menunjukkan demikian. Saya mencoba melihat ke diri saya dan apa yang saya alami beberapa waktu belakangan. Ternyata saya menemukan kondisi di mana saya pernah berekspektasi akan sesuatu dan alih-alih memikirkan bahwa tentu kamu butuh ekspektasi, saya malah menemukan ternyata ekspektasi itu berdasar pada alasan ‘agar saya dipandang baik ketika ekspektasi itu dipenuhi.’ BOOM!

That’s what an expectation can do to your life. 

Selain itu saya juga pernah jadi salah satu orang yang ‘baper’ ketika saya menemukan komentar-komentar yang dibuat orang terkait apa yang sedang saya kerjakan. Sebab komentar-komentar itu bukan komentar yang baik–melainkan komentar yang jelek dan membuat saya bertanya-tanya, “Emang saya salah di mana? Kok kamu bisa berpikir seperti itu sih?” Tebak, apa yang sebenarnya menjadi pernyataan terdalam saya?

“Kamu salah! Kamu yang tidak mengerti apa yang saya kerjakan. Kamu pikir saya tanpa pertimbangan memutuskan ini semua?!” BOOM! part 2.

Tadi kita sudah bicara tentang ‘komentar jelek’, lalu melanjutkan apa yang Murray katakan tentang kerendahan hati, saya juga menemukan saya terlalu bahagia ketika ada yang memuji pekerjaan saya dan diberkati oleh pekerjaan itu. Di saat bersamaan, saya juga bertanya-tanya, “Kok hanya segini yang memberi pujian? Kenapa dia dan yang lain tidak melakukan yang sama? Kenapa malah fokus sama hal jeleknya?” Saya mungkin tidak selalu mengatakan ini secara langsung, namun percayalah, ini beberapa isi pikiran saya pada waktu itu.

Pada waktu itu saya bersembunyi di balik kalimat-kalimat rohani seperti, “Harusnya kita bersyukur kepada Tuhan dan bukannya seperti ini”, padahal di hati saya yang terucap sebenarnya adalah “Kamu tidak tahu saya sudah bersusah-payah memikirkan ini dan kamu masih bisa bilang seperti itu? Kamu tidak menghargai saya!” BOOM! part 3.

Sampai di sini, saya sangat sadar, saya bukan orang yang rendah hati. Kenangan buruk di masa lalu membuat saya mudah memahami hal ini. I suffered a lot about humility in the past. Bertahun-tahun menjadi orang yang terbaik di keluarga dan sekolah dengan segudang prestasi telah membuat saya begitu sombong, sebelum kemudian di kelas XI, Tuhan menyatakan kepada saya apa yang dapat Ia lakukan terhadap itu semua. Itu sekolah pertama saya tentang kerendahan hati, di mana ternyata benar apa yang kata orang, “Tuhan bisa mengambil itu semua dalam sekejap.”

Sekolah kedua saya adalah ketika di kampus, masuk sebagai mahasiswa baru dengan 100 mimpi (literally 100 mimpi karena waktu itu panitia OKK UI 2011 mewajibkan kami membuat 100 mimpi–dari mimpi yang masuk akal sampai yang agak gila seperti ‘menonton langsung Piala Dunia 2014 di Brasil pun saya masukkan ke daftar itu. Semua cita-cita baik saya pada masa itu–yang ternyata juga dimotivasi oleh keinginan buruk yakni agar dipandang pintar–harus saya tinggalkan.

Lucu rasanya membayangkan perbedaan antara seorang Elisabeth sebelum dan ketika kuliah. Ah sudahlah.

“…It is to have a blessed home in the Lord, where I can go in and shut the door, and kneel to my Father in secret, and am at peace as in a deep sea of calmness, when all around and above is trouble.” 

Susah ya untuk menjadi pribadi yang rendah hati? Tentu saja. Tetapi saya rasa orang yang malah berfokus dan mengupayakan segala cara dan menganggap itu adalah kunci dari keberhasilannya menjadi rendah hati malah menunjukkan sebaliknya. Menurut saya kalimat terakhir di atas adalah rahasia yang sadar/tidak sadar dimiliki oleh seseorang yang terus bertumbuh dalam kerendahan hati: hubungan yang erat dan dalam antara dia dan Bapa di surga. Karena di sanalah hati manusia menemukan pemuasnya yang sejati: Tuhan, sang pencipta. Tidak akan pernah ia merasa kekurangan apa pun, yang ada hanya damai sejahtera meski di sekitarnya banyak masalah. Mungkinkah ini terjadi? Tentu saja.

Firman Tuhan sudah menyatakannya:

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. —Yohanes 14:27

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.– Filipi 4:7

Seseorang yang mengalami damai sejahtera yang sejati tidak akan pernah memusingkan segala sesuatu yang ujung-ujungnya hanya untuk dirinya sendiri, “aku, aku, dan aku.” Pujian, kritik, apa pun, semua yang ujungnya adalah tentang diri sendiri jelas bukanlah ciri dari kerendahan hati.

True humility is not thinking less of yourself; it is thinking of yourself less.

C. S. Lewis.

Saya bersyukur kutipan ini menolong saya mengevaluasi diri saya dan menawarkan saya cara terbaik untuk terus mengalami pertumbuhan rohani–termasuk kerendahan hati–yaitu berada dalam hubungan yang erat dan dalam dengan Tuhan. Saya tidak perlu menanti-nanti kapan saya akan mendapatkannya karena itu adalah kedaulatan Tuhan semata.

Lagipula, bukankah berelasi erat dengan Tuhan saja itu sudah cukup? Itu adalah rahasia dari segala hal baik yang dapat kita lakukan bagi diri sendiri dan dunia ini.

Setidaknya hari ini saya mengerti satu hal: saya berada di jalan yang tepat. Setidaknya dalam keterbatasan saya, saya yakin tidak ada jalan lain yang lebih baik dari ini. Setidaknya saya dibuat yakin, bahwa Dia yang sempurna tidak pernah salah berencana.