Menjelang 28 #1

Ada beberapa keputusan yang saya ambil melalui proses berpikir yang panjang menjelang usia saya yang ke-28 tahun ini. Salah satunya adalah berhenti menulis hal-hal yang mengekspos saya secara pribadi. Artinya, saya tidak akan menulis hal-hal yang bersifat curhat yang dapat membuat orang berprasangka baik positif maupun negatif terhadap kehidupan saya. Apalagi, sebagian besar orang tersebut tidak mengenal saya dan sulit untuk mengonfirmasi prasangkanya terhadap realitas yang ada. Apa yang memicu saya memutuskan seperti ini? Bohong kalau saya bilang tidak ada atau sekadar iseng. Namun saya tidak merasa perlu menjelaskannya di blog ini.

Bukan hanya di blog ini, hal serupa juga akan saya lakukan terhadap akun media sosial saya yang lain seperti Instagram, WhatsApp, Facebook, dan Twitter. Saya tidak akan mengunggah apa pun yang berkaitan dengan kehidupan pribadi saya. Sebetulnya saya sudah mengambil langkah awal yakni mengurangi intensitas saya berbagi di akun-akun tersebut, sehingga tidak sulit bagi saya untuk berhenti sama sekali.

Jika suatu saat kamu rindu sama saya (buset pede betul bocah), hubungi saja. Kalau saya rindu kamu, saya pun akan menghubungimu. Selain dari itu, kita tidak akan tahu kabar apa pun lagi dari satu sama lain.

Kalau kamu tidak mengenal saya secara pribadi dan mungkin merasa akan merindukan saya, tenang, rindukanlah mereka yang lebih pantas kamu rindukan. (Eww! Geli sama kalimat sendiri asli)

Salam sehat!

(Salam edisi pandemi)

27; it was what it was.

This is a conversation I start with myself,

Cuz I got no one right now, oh well

—-

Looking back, I feel like I’m ready to mock and pity myself so much. Not that I hate her, but I’m just excited enough to wake her up.

Days, even months passed away, no good memories to stay.

Ain’t I living myself to the fullest? Or is it just impossible? Why am I having regrets?

Who told you to be stressed out if some things just wouldn’t happen? Who forced you to figure out everything and scared of discovering mysteries in the end?

It was what it was. It was black, it was white. Somewhen grey, somewhere you stop calling it by its color. Because why should you?

It was just what it was.

It was as okay as it could be.

—-

The journey from 25-27 was rough, right? But maybe it was meant to remind you the beauty of being in a journey. You might find ways, you might get lost just as soon as you feel it’s gonna be alright.

You felt too deep, they said. You thought too much, you said. So what? There are times you didn’t even want to do anything, just sleeping.

It was what it was. As okay as it could be.

You are not bound to any of this world’s should haves or should have nots.

We love to stay away from troubles

As clear as the title, as easy as we nod.

But, who doesn’t? I think none in this world consciously loves troubles and even plans some things just to welcome troubles into their lives. We’re not here to clear up the mess, or think hard what have we done to get such unwanted miseries in this life.

None of our journal books is worthy of those thoughts tidying up sentences. We prefer gratitude list to why, why, and why, question marks.

No wonder most of our technology development goal is focused on making our lives easier. We love anything instant. We demand everything to come fast, faster. We are always in a rush, thinking that the earlier, the better. Or, it’s better late than never.

We define easy lives by how much we can do in a day. It means that all things seem to work alongside us and our timeline and so we like it. A late response chat would be so bothering to us because we become more sensitive and easily irritated by everything.

But, truth has to be spoken. It ain’t life if no troubles. It is either graveyard or heaven.

National Training Event 2018

AUSSIE 2018

I wanted to post this picture to my Instagram feed, thought it was really beautiful and yeah quite fancy but I didn’t. Because I want to keep this ‘excitement’ just for me and that means, I am the one & only human being who knows what’s behind these pictures (and many more pictures in my gallery).

First of all, this is not a holiday for me. I was attending a training for student ministry in Australia located in Canberra, specifically in Exhibition Park in Canberra, or EPIC. And yes that’s superbly epic to be one of more than 2000 participants in this training. Second, I think some people think this was for free and I just need to get my bags off and, voila! This is Australia. No, it wasn’t. Me & my friends do fundraising and use our own (little) money because we’re not going to Bogor. Third, it’s not full exciting experiences I had there actually, to be honest, some are sad and on some nights my heart screamed “I want to go homeeee!” I still remember those days in Clovelly. Oh and that screaming happened in Randwick Avenue Apartment by the way.

But, I still want to thank God for this opportunity. You know guys, there was a lot of things happened that made me feel like it’s not going to happen. Even right before our departure, I left my phone in online car transportation, overweighed baggage, late check-in, but He made it through. I also thank God for speaking to me in every kind of situation there. I went with questions and thankfully go back with answers. I have faith that this training will help me much here in Indonesia.

Sincerely,

Missing Macquarie and Epping so much.

#Rangkul25: Tanpa Penyesalan

Suatu kali seseorang datang dan bertanya kepada perempuan itu, “apa yang membuatmu begitu kuat seperti ini, setelah semua yang telah kau alami?” Perempuan itu pun menjawab,

Aku tidak pernah berpikir bahwa aku telah begitu kuat. Karena yang sehari-hari aku lakukan adalah berdiam diri dan merenungkan berbagai pertanyaan. Aku bertanya-tanya, “kenapa harus seperti ini? Ternyata aku sesalah itu, ya? Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa orang-orang harus mengorbankanku dengan menimpakan kesedihan ini kepadaku? Tidak bisakah dipilihnya saja orang lain?”

Sehari-hari aku banyak menangis, meratapi nasib, kata orang. Bahkan, kadang-kadang air mata itu mengalir begitu saja tanpa pernah aku rencanakan. Aku lagi belajar, air mataku menetes. Aku lagi makan, air mataku juga menetes. Aku bahkan merasa jangan-jangan ketika aku tidur pun ada air mata yang menetes. Aku dikuras habis pada waktu itu.

Aku jadi bingung, kenapa kau bilang aku sekuat ini? Kalau kau tau yang sebenarnya, kau akan berpikir ulang untuk mengatakan itu.

Yang kuingat adalah aku telah menjadi begitu lemah. Tidak ada lagi bagian dari diriku yang sanggup aku andalkan. Seluruh akalku dipatahkan, segenap perasaanku diputarbalikkan. Semua yang kupikir akan terjadi, tidak terjadi. Aku betul-betul cupu pada waktu itu. Untuk menghadapi matahari pagi saja aku ragu. Begitu juga dengan malam, hampir selalu dapat kupastikan, aku melewati malam dengan tertidur karena menangis.

Aku makin bingung, di bagian mana kau lihat aku kuat?

Namun, ada 1 hal yang kusaksikan. Pada waktu itu aku betul-betul berserah kepada Allah, Tritunggal Maha Berkarya, dalam setiap pertanyaan dan air mataku. Dalam pertanyaan-pertanyaanku, aku menyerah bahwa aku tidak punya jawabannya. Sedikit pun. Dalam tetes demi tetes air mata itu aku menyerah bahwa aku tidak bisa mengendalikan apa pun. Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku menyerah, semenyerah-menyerahnya. Tidak bersisa.

Di saat itulah, dalam keraguanku menatap pagi, aku mampu juga melewatinya. Bahkan masih dengan senyum, yang sederhana. Di saat itulah, dalam keenggananku mendapatkan malam, aku tetap tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk apa pun.

Aku tidak ingin bilang bahwa aku bahagia pada waktu itu. Aku bukan orang yang pintar berpura-pura dan bermulut manis. Tetapi jika kau minta aku memilih untuk harus mengalami itu ataukah tidak, aku tetap akan memilih “harus”. Kulihat, dengan cara itulah Allah meneruskan karya-Nya di dalamku hingga aku tiba di usia ke-25 ini.

Aku akan terus berserah di hadapan-Nya. Karena aku tau, buahnya manis dan dengan ini kuingatkan kau, buah itu tidak dapat direka-reka. Orang-orang pun dapat membedakan, mana yang sejati, mana yang dibuat-buat. Penyerahan diri ini tidak akan meninggalkan penyesalan.

#Rangkul25

Semua Karena Keripik Pisang

Ini adalah cerita tentang pengalaman saya menjalani operasi kecil pencabutan gigi yang diakibatkan oleh kebanyakan makan keripik pisang. Saya akan berusaha menceritakannya sesingkat dan sejelas mungkin. Bersiaplah, jika akhirnya tidak singkat dan agak kurang jelas. -_-


Beberapa tahun lalu gigi geraham bungsu sebelah kiri saya mulai tumbuh. Tumbuhnya tidak sakit, hanya ngilu-ngilu sedikit. Menurut beberapa orang, tumbuhnya gigi geraham bungsu akan menimbulkan rasa sakit yang cukup mengesalkan, namun saya rasa hal itu tidak terjadi pada saya. Memang ada hal yang sedikit aneh ketika gigi itu tumbuh: dia seperti tidak bisa keluar sepenuhnya karena ada gusi di atasnya. Akhirnya, gusi itu pun seperti sedikit menutupi permukaan mahkota gigi geraham bungsu saya. Saya pengen kasih gambarnya, tapi lebih baik tidak. Ngeri.

Saya tidak pernah terlalu peduli dengan kondisi itu karena saya nggak ngerasain ada gangguan apa pun juga (meskipun sebenarnya gusi yang menutupi geraham tadi semacam bisa dibuka-buka kayak tudung saji gitu, kebayang nggak?). Pengabaian itu berlangsung sampai beberapa waktu lalu terjadilah hal yang tidak diinginkan.

Ceritanya saya lagi makan (((keripik pisang))) super keras, lebih keras dari kehidupan ini. Makannya cukup banyak. Pas lagi ngunyah, rasanya seperti ada yang sakit gitu, tapi saya biarin aja. Saya tetap makan dengan bersemangat. Pesona keripik pisang memang luar biasa. Keesokan harinya, saya ngerasa gusi sebelah kiri saya tadi sakit dan agak bengkak, tapi lagi-lagi, saya biarin begitu saja. Hari berikutnya bengkaknya pun mulai membuat khawatir, sampai kelihatan dari luar pipi kiri–semacam ada buah sawo nempel di dinding mulut. Males banget :{

Akhirnya saya cuma minum ponstan. Saya nggak kepikiran macem-macem karena…ya elah gusi bengkak mah biasa. Yang bikin saya khawatir sebenarnya 2 hari ke depan saya akan memimpin ibadah alumni dan gimana coba kalau gusinya makin bengkak. :”( Saya nggak mau disangka lagi makan mic…

Saya tetap latihan walaupun dengan kondisi gusi bengkak dan pipi agak gembung (biasanya juga gembung sih). Saya berdoa sama Tuhan; yang saya minta cuma supaya gusinya nggak bengkak lagi waktu saya mimpin ibadah nanti. Tuhan mengabulkan doa saya dan beneran deh, gusinya nggak bengkak (bahkan nggak ngilu sama sekali) di hari Jumat itu–hari di mana saya harus memimpin ibadah. Memang Tuhan bisa aja. Ajaib.

Lalu saya mulai merasa di atas angin. Hari Sabtunya saya memutuskan untuk makan McD, minum es krim, dan minum chatime–tanpa saya sadari ternyata gusi tadi belum sepenuhnya sembuh–dan saya tidak berhati-hati ketika mengunyah sehingga gigi atas saya berulangkali menggigit gusi saya tersebut dan jadilah di hari Minggunya pipi saya gembung lagi. *hosh* *tarik napas* *panjang juga* Saya sedih.

Sakit kali ini berbeda dengan yang kemarin–ini lebih parah. Kalau yang kemarin saya masih bisa latihan alias harus nyanyi-nyanyi tanpa gangguan berarti, kali ini bahkan untuk membuka mulut pun rasanya cukup sakit. Tetapi saya memang susah dibilangin, saya malah tetap makan Ikkudo Ichi pedas dan panas serta minum ocha dingin. Saya pikir tidak akan terjadi apa-apa.

Hari Rabu pagi–hari pertama libur lebaran kantor saya–saya mendapati pembengkakan gusi tadi semakin menjadi-jadi; kali ini disertai darah dan ada bagian yang sudah menghitam. 😥 Saya histeris karena saya juga ngeri melihat gigi geraham bungsu tadi seperti akan tenggelam karena ditutupi gusi yang semakin membengkak. Saya langsung berpikiran yang aneh-aneh. Hari pertama libur pun saya jalani dengan konsultasi ke dokter gigi di bagian periodental Paviliun Khusus RSGM UI Salemba (hasil rekomendasi teman saya).

Konsultasi di bagian periodental – Paviliun Khusus RSGM UI Salemba

Mulut saya dibuka lebar-lebar–saya tidak pernah ingat pernah membuka mulut selebar itu–ya iyalah–dan dokter pun memeriksa bagian gusi yang bengkak. Beliau mengatakan bahwa terjadi infeksi di gusi saya yang diakibatkan oleh terlalu tajamnya gigi bagian atas yang sejajar dengan gusi itu sehingga ketika mengunyah, akan terasa sakit karena mereka bersinggungan. Dokter juga bilang tumbuhnya gigi geraham bungsu di balik gusi itu sebenarnya tidak pada posisi yang tepat karena ruangan yang sempit sehingga dia membuat gusi saya membengkak. Berdasarkan rekomendasi dokter, saya diminta melakukan observasi dulu selama seminggu sambil menggunakan obat kumur Tantum Verde sepanjang observasi. Jika masih sakit, maka saya harus menjalani operasi kecil pencabutan gigi geraham bungsu. Katanya, harus ada sedikit gusi dan sedikit tulang yang dipotong. Saya ngeri membayangkannya.

Tapi saya tidak puas. Saya merasa lebih baik sekarang saja dioperasi. Di sisi lain saya memilih mengikuti kata dokter untuk observasi dulu selama seminggu ini. Tiba-tiba saya kepikiran untuk scalling gigi karena sudah lama tidak scalling. Ya, biar sepulangnya dari RSGM ini ada sesuatu yang signifikan terjadi di rongga mulut saya. Dokter itu pun mengizinkan scalling keseluruhan gigi saya dan saya bisa pulang dengan sedikit bahagia.

Sesampainya di kost, saya makan nasi padang yang saya sudah beli sebelumnya. Bisa-bisanya saya berani memutuskan untuk makan nasi dan rendang yang pedas itu. Saya nggak habis pikir. Jangan ditiru ya. Akibatnya gusi saya makin pedih. Saya mencoba menggunakan obat kumur tadi dan berharap ada sesuatu yang signifikan terjadi, misalnya, gusi saya langsung kempes dan sakitnya hilang–ha ha ha–bercanda.

Sore harinya, kondisi gusi saya bukan membaik, malahan memburuk dan saya menyaksikan sendiri ada darah keluar dari bagian gusi yang bengkak itu. Saya makin histeris dan akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi kecil keesokan harinya. Apalagi setelah berkonsultasi dengan teman-teman saya yang lulusan FKG UI, kondisi gusi karena gigi impaksi (itu namanya) tadi memang cepat/lambat akan menimbulkan keluhan dan mau tidak mau harus tetap dilakukan pencabutan gigi yang impaksi. Saya mengumpulkan keberanian karena… pertama kali dalam hidup ini, saya berurusan dengan dokter dan rumah sakit, harus operasi (meskipun namanya operasi kecil), lalu… jauh dari orang tua dan keluarga. Saya bersyukur Gohan mau nemenin saya untuk operasi dan bahkan ngebawain makanan buatan mamanya untuk saya makan di hari operasi itu. Katanya saya akan kesulitan makan setelah operasi sehingga sebelum operasi dilangsungkan saya harus makan yang banyak.

Operasi Kecil di Bagian Bedah Mulut Residen RSGM UI Salemba

Yang paling saya takutkan adalah saya tidak bisa menahan kengerian yang divisualisasikan otak saya sepanjang proses operasi berlangsung.

“Yak.. kita potong dulu ya Mbak gusinya sedikit…”

“Sekarang kita mau potong tulangnya sedikit dulu ya Mbak…”

“Nah udah deh, sekarang kita mau cabut giginya ya Mbak…”

Saya ngeri membayangkan itu di kepala saya. Saya menangis di sepanjang operasi karena saya takut mereka tidak memberikan obat bius yang baik, peralatannya tidak steril… atau mereka salah potong. 😥 Bukan underestimate sih, tapi namanya manusia bisa aja salah, kan…

Saya berdoa sama Tuhan dan berharap Tuhan yang lancarkan proses operasi ini dan memberikan dokter terbaik, peralatan terbaik, dan obat bius terbaik untuk membawa kebaikan dan kesembuhan bagi saya. Saya juga berdoa supaya Tuhan memberikan obat anti radang dan antibiotik terbaik untuk saya supaya gusi saya tidak membengkak pasca operasi. Saya tidak tahu proses biologisnya, yang saya tahu dan saya mau, jangan sampai ada pembengkakan dan jangan ada rasa sakit yang terlalu menyedihkan pasca operasi. Tuhan tahu banget saya ngeri membayangkan kalau sampai pembengkakan itu terjadi karena 5 orang yang saya tanya (yang pernah mengalami hal yang sama dengan saya) bilang bahwa mereka selalu mengalami pembengkakan pasca operasi. Sebenarnya adalah hal yang wajar sebagai reaksi dari tubuh.

Pasca Operasi

Efek anestesi masih terasa selama beberapa hari ke depan (disuntikkan cukup banyak karena saya nangis kesakitan mulu katanya) sehingga saya masih bisa makan tanpa keluhan yang cukup berarti. Hanya sedikit perih kalau bagian bekas operasi tadi terkena minuman/makanan. Tapi saya tetap cuma bisa makan yang lembut, dingin, tidak pedas dan tidak asam. Sulit banget untuk nyari makanan yang seperti itu di tengah bulan puasa kemarin. Yang bikin sulit sebenarnya entah kenapa nafsu makan saya tidak berkurang sama sekali. Bahkan meningkat. 😥

Saya terus memerhatikan manakala ada pembengkakan yang tidak diinginkan pasca operasi ini seperti yang teman-teman saya bilang. Ternyata, tidak ada pembengkakan sama sekali sampai saya kembali ke RSGM UI untuk buka jahitan. Saya jadi bingung. Saya bertanya ke dokter yang menangani operasi saya, ke teman-teman FKG saya, dan bahkan ke teman saya yang dokter umum–apakah kondisi yang saya alami ini termasuk wajar atau malah ada sesuatu yang aneh. Saya bersyukur dari jawaban mereka sebenarnya kondisi saya adalah hal yang wajar yang bisa terjadi jika memang peralatan yang digunakan ketika operasi steril, tidak terlalu banyak gusi/tulang yang dipotong–sehingga radangnya sedikit, obat anti radangnya bagus, antibiotiknya bekerja dengan bagus, dan tentunya sanitasi di rongga mulut yang juga bagus (saya jadi ingat sebelumnya saya memutuskan untuk scalling gigi dan saya benar-benar teratur kumur-kumur).

Selain karena hal-hal itu, saya percaya bahwa pemulihan gusi saya terjadi karena Tuhan sendiri yang bekerja bersama segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi saya. Saya masih ingat doa yang saya ucapkan di setiap pagi dan malam pasca operasi,

“Tuhan, buatlah obat anti radang dan antibiotik ini bekerja dengan bagus supaya bekas operasi ini bisa pulih dengan cepat tanpa menimbulkan rasa sakit yang parah. Tuhan, aku takut kalau sampai bengkak, itu pasti sakit banget, kan? Karena itu, sepanjang biusnya masih ada, tolong Tuhan percepat regenerasi tulang dan gusi yang dipotong tadi serta beberapa luka yang disebabkan sepanjang operasi tadi. Berikanlah sel terbaik untuk mengganti apa yang sudah dipotong tadi dan izinkanlah aku mengalami kesembuhan total dengan cepat. Aku percaya, Tuhan yang membentuk setiap sel dalam tubuhku dan Tuhan pasti tahu cara untuk memulihkannya dengan sempurna seperti sedia kala.”

Begitulah kira-kira. Saya memang khawatir sekali pasca operasi kemarin. Mungkin berlebihan bagi sebagian orang–tapi saya bersyukur memiliki Tuhan yang mengerti kekhawatiran saya & memberi kelegaan untuk saya. Tuhanku baik! :’) Puji Tuhan.

Sekarang

Saya makin memerhatikan kebersihan rongga mulut saya. Saya tidak mau lagi membiarkan keluhan/keanehan di gusi/gigi yang mungkin akan saya rasakan di depan nanti. Saya juga makin memerhatikan apa yang saya makan dan minum karena selama ini saya sudah mengabaikan kesehatan gigi dan gusi saya,

…dan kini, saya tidak bisa lagi memandang keripik pisang dengan cara yang sama.

Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

Berbagai pikiran muncul manakala melihat diri maupun orang lain tidak melakukan hal yang berkenan kepada Tuhan. Alih-alih menghakimi orang lain, saya terduduk diam, termenung-menung, menelisik diri sendiri, dan bertanya, “apa penyebabnya?”

Sudah sejak lama saya gelisah dan banyak berpikir apakah pertumbuhan rohani yang Tuhan sedang kerjakan mengalami hambatan karena dosa dan ketidaktaatan saya. Saya lalu terhenti pada ayat firman Tuhan pada Mazmur 1:1-3 yang berbunyi sebagai berikut:

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Dari 150 pasal di kitab Mazmur, pernyataan berkat atas mereka yang suka Firman Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam mengambil posisi pertama untuk disampaikan. Saya suka membayangkan betapa Allah ingin saya dan kamu mengingat hal ini dengan baik. Boro-boro bicara kasih, pengampunan, pengorbanan, dan sebagainya, kalau hal ini saja tidak beres, begitu pikir saya.

Sejak menyadari bisingnya dunia saat ini pun, saya jadi gelisah memikirkan bagaimana suara Tuhan dalam firman-Nya dapat tetap kita dengar dengan jelas. Karena kalau suara-Nya saja tidak jelas kita dengar, bagaimana kita bisa bilang bahwa kita suka pada firman-Nya itu? Lebih tidak masuk akal lagi kalau kita bilang kita bisa merenungkan firman itu siang dan malam.

Suka tanpa mendengar, merenung tanpa mendengar jelas, hm, saya meragukan kebenarannya.

Sekarang, saya akan fokus pada ayat 3 yang berkata, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” 

Ada 3 ciri orang yang suka firman Tuhan & merenungkannya siang dan malam:

  1. menghasilkan buahnya pada musimnya;
  2. tidak layu daunnya;
  3. apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Keren banget ngga, tuh?

Menghasilkan buah pada musimnya. Saya suka memikirkan buah seperti apa yang dimaksud di sini. Lalu saya teringat pada Galatia 5:22-23 yang menyampaikan tentang buah Roh.

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Orang ini pastilah orang yang kasihnya meluas, menembus lapisan sosial, agama, suku, dan ras apa pun yang ada. Pastilah dia dimampukan mengampuni orang yang bersalah sekalipun tidak pernah meminta maaf–bahkan tidak tahu bahwa ia salah–kepadanya. Dia bukanlah orang yang pemurung & tidak mampu bersyukur. Dalam kesehariannya, kondisi tidak enak tidak bisa merampas sukacita dan damai sejahtera yang dikerjakan Tuhan baginya. Meskipun ada orang-orang yang sangat membuatnya kesal, dia dimampukan untuk bersabar terhadap orang tersebut. Dia tidak pelit bantuan, entah materi atau pun non-materi, ketika dia memang bisa memberikannya. Dia berjuang untuk memberi pertolongan dan kebaikan bagi orang-orang yang memerlukannya. Sekalipun banyak alasan untuk membuatnya tidak setia, namun ia memilih setia, pada Tuhan dan pekerjaan baik yang disiapkan Tuhan baginya. Meski tampaknya taburan benih firman yang dikerjakannya belum berbuah, serta ia tidak tahu apakah dia bisa menuai/tidak, dia tetap setia. Dia tidak tenggelam dan larut dalam kesulitan yang ada, dia tetap berfokus pada Tuhan dan apa yang ingin dikerjakan Tuhan baginya. Kadangkala dia merasa sudah mencapai puncaknya dan ingin marah saja melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini (hehe), tetapi dia bisa menguasai diri dan tetap lemah lembut dalam berkata dan bertindak. Sekalipun bisa hidup dengan amburadul, dia memilih menguasai diri. Seperti itulah kira-kira buah yang terlihat dari mereka yang suka pada firman Tuhan serta yang merenungkannya siang dan malam. Tidak ada hukum yang menentang itu. Tidak ada pengadilan yang bisa memutus bersalah atas itu.

Tidak layu daunnya. Kalau membayangkan daun pada bagian ini adalah daun hijau yang memiliki klorofil, kita akan berbicara mengenai fotosintesis yang dilakukan di sana. Ini menarik karena melalui fotosintesis inilah terjadi transformasi air dan karbondioksida dengan pertolongan sinar matahari. Kalau tidak ada fotosintesis, tidak akan ada buah. Saya menghayati mereka yang suka firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam akan mengalami transformasi hidup–karena melalui itulah Roh Kudus dapat bekerja dengan optimal–sehingga orang ini pun berbuah. Mereka yang tidak layu daunnya, menurut saya adalah mereka yang terus mengandalkan Roh Kudus dalam setiap aspek hidupnya.

Apa saja yang diperbuatnya berhasil. Manis dan membangkitkan iman sekali, bukan? Orang ini tidak perlu mengejar keberhasilan; keberhasilan akan menjadi miliknya ketika dia meletakkan kesukaannya pada firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam. Ini tidak bisa dibalik karena kita juga mau meletakkan keberhasilan yang dimaksud sebagai keberhasilan yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Belum tentu mereka yang berhasil adalah berhasil dalam kehendak Tuhan. Iya, kan?

Karena itu, mari mengevaluasi diri sendiri. Sudahkah firman Tuhan menjadi kesukaan kita dan kita mau merenungkan firman itu siang dan malam?

Tambahan:
Persekutuan Besar Penilik yang diselenggarakan oleh Tim Pendamping Pelayanan Mahasiswa juga baru saja membahas mengenai bible movement. Kami menyusun Buku Acara yang di dalamnya terdapat 2 artikel yang membahas mengenai Disiplin Rohani dan Merenungkan Firman Tuhan Siang dan Malam. Silakan download di bawah ini, ya!
Buku Acara PB Penilik Maret 2017
Semoga menjadi berkat!

4995CCB9F53313CFBA768152C9B576B6

30-Day Social Media Detox

30-day-social-media-detox

Saya selalu membayangkan bagaimana hidup saya tanpa sosial media (baca: Twitter, Facebook, Instagram, Path, Snapchat). Saya selalu penasaran, apa yang akan terjadi di dalam diri saya (terutama) tanpa penggunaan sosial media tersebut. Percaya tidak percaya, sekalipun saya terbilang cukup aktif di sosial media, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati saya, saya lebih suka tidak menggunakan sosial media. Saya juga belum tahu pasti alasannya. Mungkin alasan terbesar saya adalah karena saya termasuk tipikal orang yang introvert. Alasan berikutnya mungkin karena saya tidak suka ‘dibaca’ oleh siapa pun. Cukup aneh, ya? Ya, saya rasa juga begitu. Maka dari itu, jika saya membagikan apa pun (dan dalam bentuk apa pun) ke sosial media, sebisa mungkin saya mengusahakan bahwa itu bukan tentang saya, atau yang bukan terutama tentang saya, melainkan apa yang saya pelajari, apa yang dilakukan orang kepada saya, apa yang Tuhan lakukan terhadap saya, untuk apa saya melakukan sesuatu, dan sebagainya; hal-hal yang saya pikir dapat memberi perspektif baru yang menginspirasi orang-orang. Sekalipun mau tidak mau, akan ada irisan-irisan ‘tentang saya’ di dalamnya. Seperti tulisan ini, hahaha.

Saya juga tidak terlalu suka berinteraksi di sosial media. Kalau ada di antara kalian yang pernah memerhatikan, kalian akan menemukan fakta bahwa saya jarang like post Instagram following saya, saya juga jarang view Instagram Story following saya, atau left sticker di update-an Path teman-teman saya–saya bahkan jarang menambah teman terlebih dahulu di sosial media apa pun yang saya punya. I prefer doing that after I feel I really close with someone, in real life. Saya tidak sedang ingin menganalisis apakah yang saya lakukan ini benar/salah, baik/tidak, ini hanyalah sebuah kenyataan tentang saya. Saya sering dibilang sombong karena kenyataan ini. -_-

Setelah beberapa hari berpikir, saya ingin mencoba tantangan ini–yang saya dapat ketika iseng-iseng googling dengan keyword “30 days without social media”–dan bertemu dengan sharing dari orang-orang yang pernah melakukan tantangan ini di “https://jasondoesstuff.com/social-media-detox/“, https://stevecorona.com/how-30-days-without-social-media-changed-my-life, dan https://www.elephantjournal.com/2015/08/i-quit-social-media-for-30-days-this-happened/. Saya tertarik dan memutuskan untuk melakukannya juga.

Saya berharap saya dapat belajar banyak hal dari detox ini. Satu hal yang menarik, saya akan mengganti waktu-waktu yang biasa saya lakukan untuk menggunakan sosial media dengan hal lain seperti membaca buku, melakukan pendalaman Alkitab, menelepon orang-orang terkasih, menikmati detik demi detik yang biasanya saya gunakan untuk scrolling down feeds sosial media saya dengan berdiam di hadapan Tuhan. Menikmati sesuatu dalam diam, kapan terakhir kali melakukan ini, ya?

Berdasarkan pengalaman saya dulu (saya pernah tidak menggunakan Path dan Twitter selama hampir setahun karena saya menghapus akun saya dan saya pernah tidak menggunakan Instagram selama sekitar 2 minggu dan sebulan), hal positif yang saya dapatkan adalah saya merasakan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata, hahaha. Terlebih karena, di masa-masa itu saya jadi lebih banyak membaca buku rohani, buku-buku lain kesukaan saya, serta artikel-artikel menarik lainnya, saya juga banyak melakukan pendalaman Alkitab, dan satu lagi, karena ketika itu saya juga sedang menghapus semua lagu di ponsel saya (ya, bahkan sampai sekarang saya hidup tanpa lagu apa pun di ponsel saya) dan saya mulai mencari lagu-lagu rohani baru, saya merasa ‘dipulihkan’ lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan atas suatu kondisi yang cukup menguras emosi pada masa itu. Memang saya juga kehilangan update tentang kehidupan teman-teman saya, tapi ya sudahlah. Saat itu saya memang memilih demikian.

Maka dari itu, ketika saya sedang dalam kondisi emosi yang saya rasa ‘cukup baik’ seperti saat ini, saya penasaran apa yang dapat dilakukan tantangan ini terhadap diri saya. Ah ya, saya juga sedang akan mengerjakan beberapa hal yang saya taruh sebagai prioritas saya selama sebulan ke depan, sehingga saya harap detox ini membantu saya untuk fokus pada apa yang harus saya kerjakan–dan tentunya bisa mendengar suara Tuhan dengan jelas tanpa gaungan notifikasi apa pun dari akun sosial media saya–karena waktu untuk berdiam di hadapan Tuhan yang saya nikmati di depan akan bertambah.

Semoga Tuhan beserta saya! 🙂

A Review: Lima Bulan bareng POJK 32/POJK.04/2015

Gue adalah orang bodoh. Gue sadar betul akan hal itu, terkhusus selama 5 bulan ke belakang ketika gue ditunjuk sebagai kapten (aku seorang kapiten mempunyai pedang panjang~) untuk proyek right issue suatu perusahaan terbuka. Bahkan gue sangat tidak familiar dengan apa itu right issue. Apakah itu semacam isu hak? #jeng

Gue mau curhat sedikit. Biasanya kalo gue bilang sedikit, temen-temen gue langsung pasang stopwatch sih. Karena menurut mereka itu hanyalah fiktif belaka ketika gue bilang mau curhat sedikit.

Ya, jadi begini. Waktu gue kuliah dulu, gue pernah ambil mata kuliah Hukum Pasar Modal yang entah kenapa bisa-bisanya digabung dengan Hukum Investasi. Gue excited untuk ambil matkul ini karena menurut gue di sanalah letak kehukuman gue sesungguhnya. Namun apa hendak dikata, gue nggak ngerti banyak hal dari matkul yang bersangkutan. Gue nggak mau nyalahin apa pun kecuali diri gue yang tidak berusaha menerobos sistem dan malah tenang dan cukup dengan pemasukan ilmu yang gue terima. Alhasil, gue hampir pindah negara waktu gue kelar ujian akhir semester Pasar Modal karena gue nggak ngerti apa yang barusan gue jawab. Bayangin, jawabannya aja gue bingung, apalagi pertanyaannya? Imagine that. Gue ngeri.

Waktu itu nilai gue B+ dan itu rasanya kayak magic. Gue pengen langsung nyanyi lagu Rude waktu itu. Gue pasti tampak sangat biasa aja dibanding temen-temen seangkatan gue yang udah malang-melintang di dunia Pasar Modal dan mungkin saat itu mereka sedang protes keras kenapa mereka bisa-bisanya dapet A-.

Oke, sebelum berhadapan dengan right issue ini, gue berurusan dengan IPO (Initial Public Offering) yang secara ajaib tampak sangat nyata dibanding dulu ketika gue kuliah. Bagi gue dulu, IPO itu hanya soal mau ngubah perusahaan tertutup jadi perusahaan terbuka. Tapi gue ngga tau kuncinya di mana dan gimana ngebukanya. Stupid.

Right issue yang gue maksud di sini adalah nama keren dari penawaran umum terbatas (PUT) dengan HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu).

Iya, gue udah bilang gue bodoh dan karena gue nggak mau tetap bodoh, gue memutuskan untuk merangkum beberapa hal penting terkait hubungan gue dengan POJK 32/POJK.04/2015 yang udah berlangsung selama 5 bulan ke belakang. Gue bener-bener berharap, gue nggak stupid lagi dan bisa expert dalam memahami POJK 32/2015 ini. Setidaknya buat gue dululah.

POJK 32/POJK.04/2015 adalah peraturan yang dipakai untuk melaksanakan penambahan modal perusahaan terbuka dengan memberikan HMETD. Kegiatan ini terbatas pada perusahaan-perusahaan yang sudah melakukan penawaran umum (public offering) saja sehingga efek yang dapat dipesan terlebih dahulu yang dimaksud terjadi bagi para pemegang saham yang sudah ada dan yang baru (pembeli siaga atau standby buyer) yang akan membeli sisa efek setelah dipesan oleh pemegang saham lama.

Secara hukum, right issue adalah hak yang melekat pada saham yang memberi kesempatan pemegang saham yang bersangkutan untuk membeli saham dan/atau Efek Bersifat Ekuitas lainnya baik yang dapat dikonversikan menjadi saham atau yang memberikan hak untuk membeli saham, sebelum ditawarkan kepada pihak lain (Pasal 1 angka 1 POJK 32/2015).

Right Issue bisa dilakukan baik dalam setiap klasifikasi saham secara proporsional, maupun hanya pada 1 klasifikasi saham. Juga, pada semua klasifikasi saham namun tidak proporsional atau dilakukan melalui Penawaran Umum atas Efek Bersifat Ekuitas lain, baik yang dapat dikonversi menjadi saham maupun yang memberikan hak untuk membeli saham. Kedua cara ini harus memperoleh persetujuan dari pemegang saham mayoritas dari masing-masing klasifikasi saham yang mengalami penambahan modal. Dalam proyek kemarin, perusahaan yang gue handle hanya melakukan penambahan modal pada 1 klasifikasi saham saja, sehingga menurut pasal 5 POJK 32/2015, pemegang saham wajib diberi HMETD sesuai dengan persentase kepemilikan sahamnya dalam Perusahaan Terbuka tersebut.

Oke, sekarang kita masuk ke persyaratan penambahan modalnya.

Pertama-tama, perusahaan wajib mengadakan RUPS dengan agenda persetujuan penambahan modal dengan memberikan HMETD, termasuk pada klasifikasi saham mana penambahan tersebut akan dilakukan. Berdasarkan pengalaman gue, konsultan hukum akan selalu diminta untuk me-review pengadaan RUPS ini mulai dari pemanggilan, agendanya, sampai ketika akta RUPS-nya udah jadi. Bagaimana pun lo kan sarjana hukum, lo dianggap yang paling bener untuk ngecek apakah pengadaan RUPS ini udah sesuai dengan peraturan yang ada. Untuk perusahaan terbuka lo mesti cek ke POJK tentang Rencana dan Penyelenggaraan RUPS nomor 32/POJK.04/2014. Mudah diinget ya, cuma beda tahun sama POJK HMETD. #penting

Karena dalam right issue menggunakan peraturan yang baru banget diberlakukan pada 22 Desember 2015 kemarin, mungkin beberapa orang masih belum ngeh soal RUPS ini. Sebelum peraturan ini diberlakukan, yakni ketika peraturan yang dipakai masih Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-26/PM/2003 tentang HMETD beserta peraturan nomor IX.D.1 yang merupakan lampirannya, dan Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-08/PM/2000 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Pernyataan Pendaftaran dalam Rangka Penerbitan HMETD beserta Peraturan Nomor IX.D.2 yang merupakan lampirannya, *hosh* *capek* RUPS dilakukan setelah proses pernyataan pendaftaran ke OJK, sedangkan saat ini, RUPS dapat dilakukan terlebih dahulu baru kemudian diajukan pernyataan pendaftaran ke OJK (Pasal 8 POJK 32/2015). Perubahan mekanisme RUPS ini membuat proses penambahan modal dengan HMETD menjadi lebih fleksibel, sebab, RUPS tidak perlu menunggu-nunggu sampai pernyataan pendaftaran (biasa disebut registrasi) dinyatakan efektif. Dengan demikian, semua proses bisa berjalan secara parallel tanpa harus saling menunggu. Ngadain RUPS lumayan gede juga sih biayanya, apalagi kalau udah diadakan di hotel berbintang lima. Belum lagi kalau misalnya diundur karena proses registrasi yang belum selesai, berarti harus ubah lagi mengenai surat pemberitahuan dan pemanggilan kepada pemegang sahamnya.

Jangka waktu antara tanggal persetujuan RUPS sebagaimana POJK 32/2015 ini sampai dengan efektifnya registrasi OJK tidak adalah 12 bulan (Pasal 8 POJK 32/2015). Jadi jangan bikin RUPS hari ini terus berniat efektif 4 tahun lagi. Emang kuliah…

Perlu dipastikan juga penyetoran saham yang mau ditambahkan sebagai modal tersebut akan dilakukan dalam bentuk apa: bisa dalam bentuk uang, bisa juga dalam bentuk selain dari uang, yang penting terkait dengan penggunaan dana. Apa itu penggunaan dana? Simply, untuk apa penambahan modal dengan memberikan HMETD tersebut dilakukan. Jangan lupa juga jika melakukan penyetoran saham dalam bentuk selain uang, berarti diperlukan Penilai (KJPP) untuk menentukan berapa nilai wajar dari bentuk tersebut, yang mana harus dinilai pada 6 bulan sebelum dilakukannya penyetoran saham dimaksud (Pasal 9 POJK 32/2015). Jangan lupa juga harus disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang mengatur bentuk lain selain uang tersebut. Hal ini penting karena dalam Opini Hukum nanti, OJK mengkehendaki agar Konsultan Hukum memberikan pendapat mengenai bentuk penyetoran saham dalam penambahan modal dengan memberikan HMETD ini.

Sekarang kita akan bicara mengenai penggunaan dana yang sempat disinggung tadi, untung dia nggak tersinggung. Kebanyakan perusahaan akan menggunakan dana hasil penambahan modal dengan memberikan HMETD ini untuk menambah modalnya sendiri atau untuk menambah modal di anak-anak perusahaannya. Emang rata-rata yang ngelakuin aksi korporasi ini bertujuan untuk ‘menyelamatkan’ perekonomian perusahaannya sih. Kalau penggunaan dananya digunakan untuk suatu transaksi yang berafiliasi, maka perusahaan terbuka wajib memenuhi ketentuan POJK dan peraturan perundang-undangan di sektor Pasar Modal yang mengatur mengenai Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu (Pasal 13 POJK 32/2015). Sama halnya dengan ketika penggunaan dana tersebut untuk suatu transaksi yang material, maka perusahaan perlu tunduk kepada peraturan perundang-undangan di sektor pasar modal yang mengatur mengenai Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.

Lo perlu ngecek, apa yang jadi kegiatan usaha utama perusahaan terbuka yang mau right issue. Kalo ternyata transaksi tersebut sama dengan kegiatan usaha utama perusahaan terbuka, maka lo akan mendapat berbagai pengecualian. Contohnya, lo nggak perlu minta persetujuan RUPS atas transaksi afiliasi dan material terkait penggunaan dana lo. Loop-hole-nya, POJK belum mengatur apa yang harus dilakukan ketika RUPS tetap dilakukan . Let’s say lo udah minta persetujuan RUPS karena lo nggak perhatiin ketentuan pengecualian itu, terus proses registrasi juga udah berjalan. Lantas bagaimana? Mungkin ngga terlalu bermasalah kalo jangka waktu laporan keuangan yang dipake dan tanggal efektif masih jauh dari 6 bulan (bandingkan Pasal 19 huruf I POJK 32/2015). Maksudya, lo masih punya banyak waktu untuk batalin RUPS kemarin dan bikin RUPS baru. Intinya, masih ada kekurangan dari POJK ini. Ngga ada yang sempurna di dunia ini.

Hal yang nggak kalah penting untuk diperhatikan adalah mengenai Keterbukaan Informasi (disclosure). Sebenernya lo akan bekerjasama juga sih dengan profesi penunjang lain seperti Financial Advisor dan KJPP dalam membuat Keterbukaan Informasi. Oh iya, KI ini dilakukan di RUPS ya. Lo bisa lihat apa aja prinsip keterbukaan dalam Pasal 15 POJK 32/2015. Dalam hal ini biasanya lo akan diminta untuk review kembali pengumuman KI yang dimaksud yang nantinya akan dilakukan paling sedikit melalui 1 surat kabar harian berbahasa Indonesia atau Situs Web Bursa Efek, dan situs Web Perusahaan Terbuka. Yang perlu lo perhatiin adalah, apakah prinsip-prinsip keterbukaan sudah dicantumkan, apakah hal-hal material terkait penambahan modal dengan memberikan HMETD ini sudah dicantumkan, atau apakah ada informasi-informasi khusus yang berdampak bagi pemegang saham atas transaksi ini yang perlu diketahui oleh mereka. Jangan lupa cek juga redaksi katanya, pilihlah bahasa yang baku, hukum, dan akademis. Ini penting mengingat jarang sekali orang memerhatikan hal seperti itu.

Selanjutnya mengenai pernyataan pendaftaran (registrasi OJK). Sepengelaman gue, ada 3 kali proses registrasi ke OJK sampai akhirnya final untuk dinyatakan efektif. Yang perlu disampaikan dalam registrasi OJK ini adalah surat pengantar pernyataan pendaftaran (formatnya ada di Lampiran POJK 32/2015), prospektus, dan dokumen lain sebagai bagian dari pernyataan pendaftaran. Nah, di sinilah letak dokumen yang lo siapkan sebagai Konsultan Hukum. Lo harus mempersiapkan dokumen Legal Audit dan Legal Opinion serta akta-akta dan dokumen-dokumen penting yang mendukung isi audit dan opini lo. Lo nggak boleh skip bagian ini dan lo perlu baca semua yang dikasih perusahaan ke lo. Lo harus rajin update pending document karena biasanya perusahaan tuh kalo ngga di-push bisa ngga gencar gitu untuk kasih dokumen-dokumen mereka. Kita juga akan terhambat mau bikin audit dan opini. Dalam meng-audit dan membuat opini, lo harus selalu mencantumkan peraturan hukum mana yang lo pakai sebagai dasar. Karena lo nggak sedang curhat atau bikin novel. Lengkapnya, lo bisa cek di Pasal 19 dan 20 POJK 32/2015 untuk tau dokumen pendukung apa yang perlu disiapkan dalam registrasi OJK tersebut. Oh iya, cek juga Pasal 21-nya.

Note: dalam membuat legal audit dan legal opinion, in case perusahaan yang lo handle melakukan perjanjian dengan pihak lain yang mana di dalamnya ada klausul negative covenant, lo mesti cepet-cepet notice apa aja yang dibatasi di sana. Lo harus cek, mana poin yang berpotensi memengaruhi pemegang saham dengan adanya perjanjian tersebut, yang tentunya perjanjian yang masih berlaku ya. Yang lalu biarlah berlalu. Habis lo cek, lo catet poin-poinnya, dan lo sampein ke perusahaan terbuka supaya mereka ambil langkah sigap terhadap negative covenant tersebut. OJK akan sangat tegas mengenai keberadaan negative covenant ini. #curhat


Kurang lebih itulah hal penting yang bisa gue petik (caelah emang cabe) dari berurusan dengan POJK 32/2015 selama 5 bulan ini, terutama dalam kaitannya dengan peran gue sebagai profesi penunjang segi hukum. Gue bersyukur belajar banyak hal dari proyek ini. Gue pernah ngerasa disepelekan di meeting bersama profesi-profesi penunjang lain. Gue sadar diri, gue baru lulus kuliah kurang dari 1 tahun waktu proyek ini dikasih ke gue, dan emang bener, gue bodoh. Tapi gue janji gue akan kasih yang lebih baik lagi dari ini kalo seandainya gue diminta jadi kapten lagi untuk proyek-proyek ke depan. Gue sekarang ngerti krusialnya baca peraturan dengan detil dan punya otak yang logikanya mantep untuk bisa dengan efektif jadi profesi penunjang. Karena kalo nggak, lo hanya akan jadi profesi penghambat.

Oh iya, ini gue jadiin untuk menjawab tantangan hari ini. Awalnya gue berpikir untuk melakukan review drama Korea yang lagi gue tonton, atau buku yang lagi gue baca. Tapi… entah kenapa POJK 32/2015 ini lebih menarik hati dan emang udah dari sebulan lalu pengen ditulis.

Terima kasih Tuhan yang tak henti memberikan pengetahuan kepada hamba. :’)