16.43 WIB

My life is being surrounded by influencers. Entah itu di dunia maya atau pun tidak. Mereka adalah orang-orang yang aktif di bidangnya masing-masing dengan kesukaannya masing-masing. Mereka membuat instagram story tentang kegiatan yang mereka ikuti atau tentang pendapat mereka atas sebuah isu (atau beragam isu). Mereka mengunggah foto-foto likeable di feed instagram mereka–foto-foto yang sangat inspiratif, menggugah keinginan untuk membaca caption mereka yang panjang-panjang dan kemudian meletakkan komentar: “panutanqu”, atau “junjunganqu”, atau “inspirasiqu” di unggahan tersebut. Sorry, not being sarcastic, I try.

Sementara aku? Jika kulihat-lihat lagi feed instagram-ku, kebanyakan isinya adalah foto diriku sendiri dengan caption yang mengundang emosi: karena tidak lucu. Belakangan ini aku memang jarang berminat nge-post sesuatu yang serius-serius dengan caption panjang-panjang andalanku, atau menunjukkan isi kegiatanku (yang kebanyakan adalah pelayanan ke sekolah/kampus di sekitaran Jakarta), atau opiniku terhadap isu-isu yang sedang banyak di bangsa ini. Jujur saja, aku tidak tertarik lagi melakukannya. Aku juga bingung apa alasannya.

Berulangkali aku ingin seperti teman-teman yang aktif tersebut, misalnya dengan menceritakan apa yang sedang kukerjakan di sepanjang hari, merekam jejak-jejak pelayananku setiap hari, mengunggah foto-foto inspiratif berjudul pendapatku terhadap situasi terkini bangsa, dan sebagainya, namun kuurungkan juga niat itu. Entahlah, aku sedikit bermasalah dengan motivasiku belakangan ini. Setelah kutelaah lagi isi hatiku, tidak kutemukan ketulusan di beberapa motivasi tersebut. Tidak jarang bahkan, aku hanya ingin memeroleh ‘perhatian’ lewat respons orang-orang; baik melalui like maupun komentar mereka. Bahkan, pernah juga aku ingin melakukannya agar followers-ku bertambah. Ya, ini adalah salah satu kelemahanku. Sejak kecil aku sering berada di mana ‘spot-light’ berada sehingga aku mudah tergiur untuk melakukan hal-hal yang mengundang perhatian seperti itu.

But please don’t mess my sharing with any comment like “tapi kan sebagai seorang Kristen kamu memang harus ‘terlihat’?” Karena ini bukan tentang itu, namun tentang motivasi. Ini mirip dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus ketika Ia berkhotbah di bukit tentang ‘tidak melakukan kewajiban-kewajiban agama (seperti bersedekah dan berdoa) dengan tujuan untuk dilihat orang’. So, to me, if I do something, it has to be such work that I do with enthusiasm, as to the Lord and not for people. Masalahnya bukan terletak pada ‘aku tidak mau dilihat orang’ namun terletak di ‘kenapa aku mau dilihat orang’, dan yang terakhir ini benar-benar menggangguku.

Not saying it’s everyone’s problem, maybe it’s just me, but I’d rather stop than continuing in such manner. To be honest, I’m done thinking myself to influence people, that’s not the case. My being is already influential, because I’m saved and I’m the salt and the light of the world. It’s not what I do that makes me influential, it’s why & how I do it. Itu yang membedakan semua buah yang akan dihasilkan dan kepada siapa hormat & kemuliaan itu dihaturkan. God knows, surely knows, buddies.

Ini sangat membebaskanku. Aku tidak lagi tertekan terhadap tuntutan-tuntutan generasi atau zaman di dunia tanpa batas ini, aku dianugerahkan hikmat dan Roh Kudus yang terus-menerus sanggup memurnikanku dari segala motivasi buruk dan menuntunku kepada apa yang harus kulakukan di dalam hidup ini, serta tentunya bagaimana aku melakukannya.

Kalau aku hidup, aku hidup untuk memberi buah dan itu tidak bergantung pada platform mana yang kugunakan (sekalipun setiap platform dapat berkontribusi sesuai levelnya masing-masing).

I don’t want to just influence, I want to give, to truly give my life to other people. I don’t want to just influence, I want to sow even if none truly cares, none considered it’s influential.

Advertisements

Not Bewilderment

I don’t know how it feels to be crucified on a cross. Yet I know that it was the worst form of executing and I feel terribly sad. My Lord was accused of being a criminal by the real criminals. I can’t hold my tears. But, the torment of Him, though being anticipated by him at the garden Gethsemane, which was the way He had to go through, fulfilling His purpose on coming down to this earth, really inconceivable.

What then happened? The curtain between the Holy Place and the Most Holy place was torn in two. At the same time, earthquake. God’s wrath and His love for the world He created was shown. He offers forgiveness to the world by forsaking his only Son on that gloomy Friday.

Did my Lord die just to make me cry this time?

Did my Lord die just to make me realise no other love like that?

No.

My Lord died for me to come into the fellowship with God the Father, to embrace the plan He has for me eternally.

Hari-hari Kelabu

Apa yang selama ini kuantisipasi akhirnya terjadi. Sayangnya, aku tidak berhasil menghadapinya dengan bijak. Kupikir perasaanku bahwa keputusan ini adalah tepat cukup untuk menjadi modal dalam menghadapi apa yang terjadi kemarin. Kupikir imanku bahwa ini adalah jalan yang harus kutempuh membebaskanku dari situasi sulit yang menghadang di sepanjang perjalanan ini.

Aku salah besar.

Lelah juga aku melewati malam-malam yang mendung dan harus kuisi dengan tangisan. Sebagai seseorang yang memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bagi orang lain, aku tidak bisa memungkiri bahwa sisa-sisa waktu yang seharusnya dapat kupakai untuk ‘merawat’ diri ini harus kulewati dengan sedih.

Cukup menyakitkan.

Aku bertanya-tanya, kenapa ini harus terjadi? Bukankah mama sudah setuju? Bukankah mama sudah sepakat akan mendukungku di sini? Kenapa perdebatan ini harus terjadi lagi? Aku lelah menghadapinya karena itu berarti menghadapi kekecewaannya–perempuan yang paling kukasihi.

Seumur hidup, sebelum akhir-akhir ini, memang hampir tidak pernah kami berselisih paham terhadap berbagai keputusan yang kuambil. Mama selalu mengenalku sebagai anaknya yang paling dapat dipercaya dan diandalkan. Bagaimana tidak? Pencapaian dan prestasi-prestasiku di masa lampau yang kuperoleh dengan mandiri bahkan tanpa harus diawasi orang tua telah membuatnya begitu berharap akan masa depanku.

“Harusnya kan kau bisa masuk sana”

“Kalau waktu itu kau gagal aku yakin itu bukan karena kau bodoh tapi karena kau memang nggak mau masuk ke sana, kan?”

“Kau nggak ingat dulu kita bahagia sekali waktu lihat pengumuman masuk kuliah?”

“Apa sih yang ada di pikiranmu sampai kau nggak mau bekerja di dunia hukum?”

“Mama nggak habis pikir.”

😥

Bahkan untuk mengetik kalimat-kalimat di atas sudah membuat hatiku sangat sesak. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan mama. Dia sangat pantas untuk melontarkannya. Yang membuatku juga sesak untuk menjawab satu per satu pertanyaan itu adalah karena aku juga tidak dapat mendeskripsikan dengan jelas kenapa semuanya berubah. Satu hal yang kutahu, perubahan tersebut pun lumayan menyakiti diriku tatkala membayangkan apa-apa saja yang harus kutinggalkan untuk saat ini.

Yang juga membuatku sesak adalah pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku yang seolah menudingku sebagai orang yang tidak mau berpartisipasi di lahan yang sulit di bidang-bidang hukum, menudingku bahwa aku memang tidak mau berjuang lebih keras, karena aku memilih menyangkali kemampuan dan kekuatan Tuhan, menudingku seolah aku hanya memilih jalan yang lebih mudah.

Lebih mudah? Siapa bilang pilihan ini lebih mudah daripada berbakti di bidang hukum? Sama sekali tidak. Bahkan aku lebih banyak stress menghadapi tanggung jawabku di pilihan ini dibandingkan dulu ketika aku masih di kantor hukum.

Namun sesakit apa pun batin ini menghadapi hari-hari, satu hal yang selalu kurindu adalah bergerak seturut pimpinan-Nya. Ke mana pun dan kapan pun, aku hanya ingin menjalaninya dengan iman. Karena sejatinya, hidupku adalah karena kasih karunia. Di dalam tiap-tiap detiknya, aku tahu kemuliaan hanya bagi-Nya, baik aku di gedung nan megah di daerah elit ibukota, atau pun di sekolah dan kampus-kampus sederhana. Baik aku dipuji orang maupun dipertanyakan orang. Baik aku berlebih maupun pas-pasan. Yang kutahu Tuhan tetap pegang tanganku.

Hari-hari kelabu ini tidak akan pernah sanggup mengaburkanku dari keyakinan bahwa terlebih utama Dia yang memanggilku sebelum pilihan-pilihan itu. Akhir hidupku dalam apa pun pilihan tersebut, adalah kekekalan bersama-Nya.

#Rangkul25: Tanpa Penyesalan

Suatu kali seseorang datang dan bertanya kepada perempuan itu, “apa yang membuatmu begitu kuat seperti ini, setelah semua yang telah kau alami?” Perempuan itu pun menjawab,

Aku tidak pernah berpikir bahwa aku telah begitu kuat. Karena yang sehari-hari aku lakukan adalah berdiam diri dan merenungkan berbagai pertanyaan. Aku bertanya-tanya, “kenapa harus seperti ini? Ternyata aku sesalah itu, ya? Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa orang-orang harus mengorbankanku dengan menimpakan kesedihan ini kepadaku? Tidak bisakah dipilihnya saja orang lain?”

Sehari-hari aku banyak menangis, meratapi nasib, kata orang. Bahkan, kadang-kadang air mata itu mengalir begitu saja tanpa pernah aku rencanakan. Aku lagi belajar, air mataku menetes. Aku lagi makan, air mataku juga menetes. Aku bahkan merasa jangan-jangan ketika aku tidur pun ada air mata yang menetes. Aku dikuras habis pada waktu itu.

Aku jadi bingung, kenapa kau bilang aku sekuat ini? Kalau kau tau yang sebenarnya, kau akan berpikir ulang untuk mengatakan itu.

Yang kuingat adalah aku telah menjadi begitu lemah. Tidak ada lagi bagian dari diriku yang sanggup aku andalkan. Seluruh akalku dipatahkan, segenap perasaanku diputarbalikkan. Semua yang kupikir akan terjadi, tidak terjadi. Aku betul-betul cupu pada waktu itu. Untuk menghadapi matahari pagi saja aku ragu. Begitu juga dengan malam, hampir selalu dapat kupastikan, aku melewati malam dengan tertidur karena menangis.

Aku makin bingung, di bagian mana kau lihat aku kuat?

Namun, ada 1 hal yang kusaksikan. Pada waktu itu aku betul-betul berserah kepada Allah, Tritunggal Maha Berkarya, dalam setiap pertanyaan dan air mataku. Dalam pertanyaan-pertanyaanku, aku menyerah bahwa aku tidak punya jawabannya. Sedikit pun. Dalam tetes demi tetes air mata itu aku menyerah bahwa aku tidak bisa mengendalikan apa pun. Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku menyerah, semenyerah-menyerahnya. Tidak bersisa.

Di saat itulah, dalam keraguanku menatap pagi, aku mampu juga melewatinya. Bahkan masih dengan senyum, yang sederhana. Di saat itulah, dalam keenggananku mendapatkan malam, aku tetap tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk apa pun.

Aku tidak ingin bilang bahwa aku bahagia pada waktu itu. Aku bukan orang yang pintar berpura-pura dan bermulut manis. Tetapi jika kau minta aku memilih untuk harus mengalami itu ataukah tidak, aku tetap akan memilih “harus”. Kulihat, dengan cara itulah Allah meneruskan karya-Nya di dalamku hingga aku tiba di usia ke-25 ini.

Aku akan terus berserah di hadapan-Nya. Karena aku tau, buahnya manis dan dengan ini kuingatkan kau, buah itu tidak dapat direka-reka. Orang-orang pun dapat membedakan, mana yang sejati, mana yang dibuat-buat. Penyerahan diri ini tidak akan meninggalkan penyesalan.

#Rangkul25

Three Reasons Why You Shouldn’t Do Social Media Detox

For some reasons, doing social media detox is a great idea, but there are some other reasons why you should not do that anymore. Or at least, too much. Please have your seat here, listening to this old grandma speaking.

1. You need social media to live

We can’t undo technology development. It goes somewhere each day. People use social media to socialize in this era. You also read news mostly through the link/share on social media these days and I am not planning to be left out by the world. Not because the fear of missing out but I need to socialize to live. Man is a homo-socius, right? Take it away of your life, and you somehow feel empty. We, human, are called to socialize, to have a companion, to create a relationship and yes to maintain it, and, today we do it through social media.

2. You’re called to share.

Following my first point above, in order to maintain a relationship, you have to share. We share our thoughts, to sharpen others’ and be sharpened. We share our encouragement to strengthen others’ faith. We share our struggle, to be cheered & strengthened. We share jokes, to feel joy. We share dreams, to recognize hope. And yes, we share love, to love. A relationship lasts because we share, and we can do it through social media.

3. You love through social media.

What is the biggest and the most important thing among faith, hope, and love? It is love. If I speak with human eloquence and angelic ecstasy but don’t love, I’m nothing but the creaking of a rusty gate. If I speak God’s Word with power, revealing all his mysteries and making everything plain as day, and if I have faith that says to a mountain, “Jump,” and it jumps, but I don’t love, I’m nothing. If I give everything I own to the poor and even go to the stake to be burned as a martyr, but I don’t love, I’ve gotten nowhere. So, no matter what I say, what I believe, and what I do, I’m bankrupt without love.

And believe it or not, social media is created for us also to love. Show your love when you see people’s need they’ve shown on social media. Don’t be busy judging them.

At least those are three reasons I found during my already half-way period of doing my social media detox. I feel drained. At first I thought this is a bad sign of me and my behavior, you know, am I taking social media use too much with bad motives or something?

But then I realize, it’s not. But commitment is a commitment, I will enjoy some days ahead still detoxing. I learn and experience many things tho lately.

#250WordsToday – Hati-hati, hati.

Ketika TUHAN menetapkan akan memilih Daud sebagai raja bagi Israel, ada yang menarik bagi saya. Ini pasti menarik juga bagi kebanyakan dari kita karena prinsip yang dipakai TUHAN untuk memilih Daud adalah melihat hatinya dan bukan penampakannya dari luar. Padahal, tetap dicatat juga bahwa Daud itu berparas elok, matanya indah, serta kemerah-merahan. Ini menunjukkan bahwa mau tidak mau kita akan melihat penampilan luar, jelas, itu yang berada dalam ‘jangkauan’ kita sebagai manusia. Dalam penerapan lebih luas, itu bisa saja bukan hanya perkara fisik, tetapi apa pun yang dapat kita lihat dengan jelas dari diri kita maupun orang lain.

Tetapi, kita tidak dapat memungkiri bahwa Tuhan melihat hati kita.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa dimulai dari penglihatannya, buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula, pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Dari mata jatuh ke hati, huft.

Setelah kisah memilukan ini muncullah kisah hati lain seperti pada Kain (Kej 4:5–“hati Kain menjadi sangat panas”), kondisi manusia sebelum TUHAN menurunkan air bah (Kej 6:5–“segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”), dan seterusnya.

Prinsip ‘Tuhan melihat hati’ ini seringkali diterapkan dalam masa-masa pemberian tugas pelayanan/regenerasi pelayanan kristiani sehingga membuat pekerjaan ini betul-betul krusial karena kita harus bertanya kepada Tuhan, “Siapakah yang Kaupilih dan Kausebut nama-Nya?” karena hanya Ia yang bisa melihat hati manusia yang berdosa.

Tetapi kali ini, saya belajar menerapkan prinsip ini bagi diri saya sendiri. Seperti kata Mazmur 139:23, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”

Mungkin saja saya pun salah melihat diri sendiri.

Membuang Sampah, Menyambut Anugerah

Tidak selamanya apa yang kita sebut ‘sampah’ adalah hal-hal yang jelek, tidak berguna, dan tidak kita perlukan lagi. Pernahkah saudara berpikir bahwa ‘sampah’ juga dapat berupa hal-hal yang baik dan sebenarnya diperlukan dan berguna dalam kehidupan kita? Apa maksudnya?

Mari membuka Alkitab pada bagian Surat Paulus kepada jemaat di Filipi, pasal ke-3 ayat 1-16.


Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus untuk jemaat di Filipi, suatu jemaat pertama yang ia bangun di Eropa. Hal ini dapat kita lihat dalam Kisah Para Rasul pasal 16:6-40. Pada saat itu, dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan supaya jemaat menurutinya. Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia, begitu pula ketika mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, Roh Kudus tidak mengizinkan mereka. Pada malam hari, tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan di mana ada seorang Makedonia berdiri dan berseru, memintanya untuk menyeberang dan menolong orang-orang Makedonia. Dari penglihatan inilah Paulus dan Silas menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil mereka untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di Makedonia, dan mereka pergi ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia, yang merupakan kota perantauan orang Roma.

Dalam Filipi 3:1-2 Paulus berpesan agar jemaat Filipi berhati-hati terhadap anjing-anjing, yakni pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat palsu. Siapakah yang Paulus maksud dengan anjing-anjing tersebut? Mereka adalah kaum Yudaisme. Beberapa orang Yahudi ini juga suka menjuluki orang-orang non-Yahudi dengan sebutan ‘anjing’ yang mana sering mereka anggap ‘jorok’. Namun ironinya, Paulus membalikkan julukan tersebut kepada orang-orang Yahudi itu sendiri dan bahkan menyebut mereka juga sebagai pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat palsu.

Apa yang mereka lakukan sehingga Paulus menjuluki mereka demikian?

Hal tersebut dapat kita lihat dalam ayat ke-3, mereka manaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Hal-hal lahiriah dalam ayat ini sama dengan kedagingan (flesh dalam terjemahan Inggris). Kalimat dalam ayat 3 ini “karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus” memberi kita gambaran apa yang sebenarnya dipercayai oleh kaum Yudaisme ini: yakni sunat, dan inilah yang menjadi salah satu ancaman bagi jemaat di Filipi akan kepercayaan mereka yang mana disebut Paulus sebagai orang-orang bersunat sesungguhnya yakni yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus.

Tiga ayat pertama dalam Pasal 3 ini memberi pesan peringatan sekaligus penegasan akan status jemaat Filipi serta apa yang menjadi sumber status tersebut: yakni oleh Roh Allah dan di dalam Kristus Yesus. Sangat berbeda dengan apa yang menjadi kepercayaan kaum Yudaisme: yakni hal lahiriah semacam sunat.

Selanjutnya pada ayat 4-6 Paulus seolah ingin mengatakan “hei, kalau pun kalian, kaum Yudaisme, ingin percaya pada hal-hal lahiriah seperti itu, aku pun bisa saja, bahkan aku lebih layak untuk membanggakannya!” Di dalam 3 ayat ini Paulus mendaftarkan 7 hal lahiriah yang ia miliki. Tujuh hal ini terdiri dari 2 kategori, kategori pertama adalah being-nya dalam artian apa yang memang menjadi keberadaannya, yakni:
  1. disunat pada hari ke-8
  2. dari bangsa Israel
  3. dari suku Benyamin
  4. orang Ibrani asli
  5. Farisi

Lalu 2 hal berikutnya; tentang kegiatan, adalah penganiaya jemaat, dan tentang kebenaran mentaati hukum Taurat, ia tidak bercacat.

Tujuh hal ini sesungguhnya dapat menjadi alasan kuat bagi Paulus untuk percaya dan bermegah di dalamnya. Bagaimana tidak? Orang Yahudi mana yang tidak ingin memiliki ke-Yahudi-an seperti Paulus? Paulus disunat pada hari ke-8, sesuai dengan peraturan dalam Perjanjian Lama, tepatnya dalam Imamat 12:3. Ia berasal dari bangsa Israel, tepatnya dari suku Benyamin, ia orang Ibrani asli. Ia juga berasal dari kelompok agama yang paling strict. Kamus Alkitab memberi penjelasan tentang orang Farisi sebagai kelompok orang yang menaati seluruh hukum dan peraturan secara mutlak.

Tidak hanya itu, Paulus juga menegaskan status atau being-nya tersebut dengan tindakan nyata, yakni sebagai penganiaya jemaat (pengikut Kristus) serta sungguh-sungguh tidak bercacat dalam mentaati hukum Taurat.

Kesempurnaan Paulus tampaknya tidak dapat ditandingi oleh orang Yahudi mana pun termasuk mereka yang menjadi ancaman bagi jemaat di Filipi.

Namun ada yang menarik pada ayat 7 ketika dikatakan bahwa “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi.” Paulus jelas mengakui bahwa 7 hal yang ia miliki tadi adalah hal yang menguntungkan baginya. Tapi itu dulu.

Jika kita kembali melihat 7 hal yang dimiliki oleh Paulus di atas, kesamaan apa yang saudara lihat dari hal-hal tersebut?

Itu adalah hal-hal yang baik. Paulus memiliki warisan keluarga Yahudi yang jelas, status sosial yang baik, bahkan pemahaman firman yang baik (secara, dia Farisi), bahkan dia sangat gigih dalam kegiatan-kegiatan keagamaannya, serta secara moral, tidak bercacat. Ini adalah kebaikan yang sangat sempurna. Tetapi itu dulu. Bagaimana Paulus memandang hal-hal tersebut sekarang?

RUGI. LOSS.

“sekarang kuanggap rugi” ayat 7.

Why? Apa yang membuat Paulus berubah pikiran? Ayat 8 melanjutkan, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.”

Bukan hanya ke-7 hal tadi yang dianggap Paulus sebagai kerugian, melainkan sekarang, segala sesuatu dianggapnya rugi karena 1 hal. Satu hal yang sangat powerful karena sanggup membuat Paulus berubah perspektif yakni: pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan, yang lebih mulia dari pada semuanya itu.

Pastor David Platt mengatakan dalam kotbahnya tentang perikop ini, “it weren’t bad things that keep Paul away from Christ, it were good things.” Bukan hal-hal yang buruk yang menjauhkan Paulus dari Yesus, Sang Mesias, dan Allah yang sejati. Melainkan hal-hal yang baik. Bukan hal-hal yang buruk yang menjadi sampah bagi Paulus, melainkan hal-hal yang baik. Kata ‘sampah’ ini sendiri dalam bahasa aslinya lebih tepat diartikan dengan “kotoran”.

Bayangkan, bagaimana bisa Paulus menganggap hal-hal menguntungkannya sebagai orang Yahudi sebagai kotoran? Dalam hal ini Paulus seolah menantang siapa pun kaum Yudaisme yang ingin mengadu ‘kesalehan’ dalam Yahudi, dengannya.

Paulus menekankan bahwa saat ini, ketika ia sudah menyadari kemuliaan pengenalan akan Yesus Kristus dibanding seluruh kesalehannya, ia pun mengakui bahwa itu ia peroleh bukan dengan kebenarannya sendiri karena mentaati hukum Taurat. Jadi tidak ada ‘sambilan’ atau ‘sekaligus’ atau hubungan ‘sebab-akibat’ antara kesalehan Paulus dan bagaimana ia kini berada di dalam Kristus. Di dalam ayat 9 Paulus menyatakan, “dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.”

Anugerah; sebuah kata kunci yang menjadi alasan Paulus berada di dalam Kristus, yang berarti, menerima keselamatan. Anugerah, alasan ia pun beroleh pengenalan akan Kristus yang jauh lebih mulia dari segala kesalehan yang ia miliki. Ternyata, kesalehan Paulus pada masa lampau tidak sampai membuatnya mengenal siapa Mesias yang dijanjikan. Sebaliknya, ia dibutakan oleh kesalehannya, dan menganiaya Kristus.

Ayat 10-11 memberi kita pengertian tentang apa yang menjadi kehendak Paulus saat ini, karena anugerah tersebut. Ia ingin mengenal Kristus, dan kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana ia menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian-Nya supaya ia beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Pengenalan akan Kristus yang dianugerahkan Allah kepadanya membuat Paulus makin ingin mengenal Kristus, dan mengenal Kristus berarti mengenal bahwa Kristus adalah Mesias yang menderita bahkan sampai mati, demi misinya bagi umat manusia. Pengenalan yang sejati akan Kristus akan membuahkan kerinduan untuk menjadi serupa dengan-Nya. Paulus yang dahulu menganiaya pengikut Kristus, kini seolah ingin mengatakan “kalau pun aku juga harus dianiaya karena Kristus, aku rela, karena Kristus sendiri pun telah dianiaya karena aku.” Paulus tidak bisa melihat hal ini dulu ketika ia begitu salehnya beragama, ketika ia begitu bermoralnya di kalangannya.

Ayat 1-11 ini menjadi sebuah pesan yang sangat powerful bagi jemaat di Filipi ketika Paulus meminta mereka berhati-hati terhadap orang-orang yang mau mengguncang iman mereka dengan segala daya upaya menyuruh mereka harus melakukan ini dan itu untuk selamat, untuk memperoleh kebenaran, untuk memperoleh hidup. Powerful karena Paulus, yang saat penulisan surat ini sedang berada di dalam tahanan rumah di Roma, dan seumur hidupnya yang baru di dalam Kristus, telah mengalami banyak penderitaan karena Kristus dan Injil-Nya. Pesan ini menjadi powerful karena Paulus dengan nyata menunjukkan bahwa ia memang melepaskan keuntungan-keuntungannya terdahulu dan menganggapnya sampah. Ia tidak lagi bermegah dalam ke-Yahudi-annya, melainkan dalam Kristus dan pekerjaan baik yang sudah Ia siapkan baginya. Ia memberitakan Injil ke begitu banyak orang, begitu banyak tempat pada masa itu. Pesan Paulus ini bukanlah omong kosong apalagi omong doang.


Perikop ini ditutup dengan penjelasan Paulus bahwa anugerah Allah baginya juga diresponsnya dengan tepat ketika dalam ayat 12-14 Paulus menyatakan bahwa dia bukannya sudah sempurna, melainkan ia terus berproses; Allah terus berproses di dalamnya, dan ia perlu merespons dengan terus mengarahkan dirinya kepada panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Paulus menunjukkan bahwa ia melepaskan segala hal yang dulu merupakan keuntungan baginya namun kini tidak ada apa-apanya dibanding dengan pengenalan akan Yesus Kristus dan persekutuan dengan-Nya.


Brian Littrell adalah salah satu anggota grup band terkenal asal Amerika, The Backstreet Boys, yang meniti popularitasnya sejak tahun 1993-2001. Di dalam kesuksesan band-nya, Brian dengan jelas mengatakan bahwa itu adalah berkat Tuhan baginya. Ketika ia pun memutuskan untuk memulai debut solonya di musik kristiani, ia tidak segan untuk menunjukkan iman percayanya kepada Kristus. Dia mengatakan bahwa imannya selalu menjadi benteng dalam hidup dan keluarganya. Bagi Brian, Tuhanlah yang telah memberinya kesempatan luar biasa untuk menyentuh orang lewat musik melalui Backstreet Boys maupun karir solonya.Di saat banyak artis populer meninggalkan iman Kristen dan mengejar banyak keuntungan dalam dunia hiburan, Brian Littrel melakukan yang sebaliknya. Dia memilih tetap memperjuangkan imannya dan akhirnya meninggalkan ketenarannya di dunia musik populer.

Sekalipun banyak orang menganggap Brian telah berjalan mundur dalam hidupnya, Brian malah menganggap dia justru sedang maju dan melangkah terus ke mana Tuhan memimpinnya. Banyak lagu kristiani yang ia ciptakan, salah satunya yang terkenal adalah ‘In Christ Alone’—yang menceritakan tentang popularitas, ketenaran, atau kebanggaan apa pun tidak dapat menandingi kasih karunia di dalam Kristus.

Apa yang saat ini saudara anggap menjadi keuntungan? Status sosial? Prestasi di kampus? Prestasi di pelayanan? Kesalehan-kesalehan yang mengagumkan? Apakah saudara dapat menganggap itu semua sampah dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus Yesus? Apa yang menyulitkan saudara?

Berdoa, dan mintalah anugerah kepada Allah, serta responslah dengan tepat. Buanglah sampah, sambutlah anugerah.