#SabtuCurhat #1

Elisabeth kecil (cie pernah kecil juga lau) sampai SMA kelas XI adalah sosok ambisius yang punya cita-cita jadi yang terbaik, jadi yang nomor 1, jadi yang paling terkenal di sekolah, paling pintar, paling dapat diandalkan, dan paling-paling yang lain. Uniknya, sebenarnya aku tidak pernah menyadari hal-hal tersebut, aku hanya melakukan hal-hal baik yang sepatutnya dilakukan oleh anak-anak seusiaku.

Aku selalu serius di kelas dan langsung merasa terganggu jika ada temanku yang ribut dan mengganggu jalannya proses belajar-mengajar. Aku langsung mencatat namanya di secarik kertas untuk diberikan ke wali kelasku agar mereka dimarahi. Iya, memang pada saat itu aku suka diminta menjadi tukang-catat-nama-yang-ribut. Anehnya, aku nggak ngerasa bangga atau apa pun. Aku hanya merasa itu adalah tugas yang baik yang sepatutnya dimiliki di setiap kelas. Siapa yang bisa belajar dengan serius kalau ada orang-orang yang selalu ribut dan tidak memerhatikan guru? Yang benar saja, pikirku.

Pulang sekolah, aku langsung mengerjakan PR (kadang-kadang tanpa mengganti dahulu seragam sekolahku). Anehnya, saat itu aku hanya merasa, aku suka dan semangat sekali mengerjakan PR tersebut. Seingatku, tidak ada perasaan-perasaan “ingin jadi yang terbaik”, “ingin jadi yang paling bagus PR-nya”, atau sejenisnya, pada masa itu. Aku sangat suka belajar. Aku mencintai pelajaran-pelajaran tersebut. Bahkan, aku rela diskusi dengan teman sekelasku melalui telepon rumah hanya untuk memastikan PR-ku benar dan aku mengerjakannya dengan teori/rumus yang benar. Teman yang kupilih untuk selalu kutelepon pun adalah ‘saingan’-ku di kelas, pemegang juara 2 di kelasku. Pikiranku saat itu hanyalah sebatas, “dia kan pintar, pasti aku bisa lebih enak diskusinya dengan dia”.

Aku jarang tidur siang. Setelah aku selesai mengerjakan PR, aku pasti membaca majalah; mulai dari majalah Bobo, Princess, sampai Gadis dan kaWanku. Aku juga suka membaca koran. Selain itu, aku juga membaca novel-novel, menonton televisi, browsing di internet, nonton youtube, main bola bekel, lompat tali, dan sebagainya. Ketika SMA, kegiatan itu ditambah dengan latihan paduan suara. Aku banyak mendapat inspirasi dan insight dari hal-hal tersebut yang kurasa membuatku bisa mendapat pengetahuan yang beragam. Tentunya, hal ini semakin membuatku merasa hidup dan bermakna. Walaupun saat itu aku nggak pernah menyadari hal itu.

Begini maksudku: kalau teman-teman di sekitarku belajar dan berjuang dengan keras (dan itu sangat kelihatan) disertai keluhan-keluhan dan protes sana-sini untuk akhirnya mendapatkan peringkat bagus atau prestasi cemerlang di sekolah, aku tidak merasa hal demikian terjadi padaku. Aku merasa aku hanya melakukan hal yang sewajarnya kulakukan, tanpa tekanan sama sekali, masih bisa senang-senang dengan hidup remaja, dan voila! aku mendapatkan peringkat 1. Aku juga ingat bahwa setiap malam aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk memberkatiku di sekolah. Benar-benar berdoa. Jadi, pada saat itu aku hanya merasa ini adalah buah dari kerja keras dari apa yang aku kerjakan. That’s all. Kalau ditanya lebih dalam in the sense of spiritual wisdom, aku nggak tahu harus jawab apa.

Tidak hanya soal akademis di sekolah, memenangi lomba dan ikut olimpiade, sebenarnya aku juga orang yang aktif di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler lainnya seperti: teater, tari, dan musik. Aku berkecimpung di dalamnya hanya karena aku suka dan itu adalah hobiku. Aku akan dengan sangat leluasa mengerjakan naskah drama dan menyusun pemeran-pemerannya lalu menjadi sutradara a la-a la. Aku juga senang mencari-cari musik iringan untuk pelajaran seni tari di kelas, serta maju saja dengan kelompok musik untuk membawakan lagu-lagu kesukaan. Tidak ada perasaan-perasaan ingin menjadi terkenal di sekolah, ingin dipuja atau apa pun itu.

Sampai ketika kelas XI aku mendapatkan suatu “malapetaka” di sekolah. Ini terjadi di dua ranah tadi: akademis dan non-akademis. Apa itu? Singkatnya, aku bukanlah yang terbaik di akademis dan non-akademis. Ada orang lain (bahkan orang-orang lain) yang ‘terpilih’ menduduki tempat tersebut. Peringkatku jatuh ke posisi 12/50 orang (meskipun aku ada di kelas unggulan, aku tetap menyebut ini jatuh–dengan interval nilai hanya 0,0 sekian dalam 1 kelas). Juga, aku tidak berangkat lomba paduan suara ke Bandung karena keputusanku untuk mengundurkan diri dari tim–sesuatu terjadi dengan pita suaraku). Tahun 2010 adalah semacam mimpi buruk untuk seorang Elisabeth pada masa itu.

Semenjak itu, Elisabeth berubah 180 derajat menjadi orang yang pesimis, pemalas, instan, iri hati, tidak punya semangat, pemurung, tidak lagi aktif, suka mengurung diri, tertutup, mudah kecewa dan tersinggung, dan banyak hal negatif lainnya. Bahkan aku pernah menyalahkan Tuhan di masa-masa itu. Aku yang awalnya merasa bahwa aku hanya mengerjakan hal-hal yang sepatutnya kulakukan, ternyata sesungguh-sungguhnya sedang membangun kerajaanku sendiri. Begitu semuanya hancur, meski tidak terlalu hancur untuk sebagian orang, aku pun ikut hancur. Aku benar-benar sedih. Aku merasa Tuhan tidak setia memberkatiku. Bagaimana pun, sulit bagiku menerima kekalahan (sesederhana itu) dengan pengalaman menangku yang banyak: sejak TK (usia 5 tahun) sampai SMA kelas X (16 tahun) titel juara 1, paling bisa diandalkan, paling pintar, dan banyak ‘mahkota’ lain sudah kukenakan. Ketika aku merasa harus melepaskan 1 saja mahkota itu, aku langsung sedih bukan main. Berlebihan sekali. Ya, tapi dulu aku tidak pernah merasa demikian. Ingat, aku hanya merasa aku melakukan hal-hal yang sudah sewajarnya kulakukan.

Perhatikan, motivasi moralku ternyata tidak bisa memberikan jaminan terhadap kebahagiaan dan kepuasanku. Aku sama sekali tidak melakukan cara-cara curang, tapi itu pun tidak cukup untuk menenangkanku ketika kemenangan itu tidak kuraih. Harus kuakui, aku tidak pernah dengan sadar mengizinkan Tuhan mengintervensi diriku sampai ke kedalaman hatiku. Sampai ke sebaik-baiknya moralku. Tidak pernah, sampai kekalahan itu datang.

Aku bersyukur Tuhan memberiku kesadaran untuk datang dan berdoa kepada-Nya. Aku bersyukur ada banyak firman dan lagu rohani yang menghibur dan perlahan-lahan membukakan hatiku akan apa yang dikehendaki Tuhan. Aku bersyukur Tuhan tetap menjadi tempatku pulang. Aku bersyukur.

Tetapi tetap, aku berubah menjadi orang yang tidak terlalu suka tampil. Aku mulai sering meragukan kemampuanku. Aku tidak percaya bahwa aku mampu melakukan suatu hal besar. Aku menutup diri dari spotlight. Meskipun kupikir aku sedang melibatkan Tuhan.

Sampai ketika aku berkenalan lebih dekat lagi dengan Tuhan di persekutuan mahasiswa Kristen di kampusku, FH UI, barulah aku semakin mengerti apa yang menjadi maksud Tuhan. Inilah alasan mengapa aku sangat mengasihi persekutuan ini dan orang-orang di dalamnya. Di sinilah tempat Tuhan menyatakan diri-Nya dengan jelas padaku secara pribadi dan di saat yang bersamaan menganugerahkanku hati yang mau mengenal dan mendekat pada-Nya. Di sinilah timing itu Tuhan adakan, yang tentunya dengan maksud dan hikmat-Nya yang tiada pernah terselami itu. Di sinilah pertama kalinya, aku dengan sadar mengakui dosa-dosaku di hadapan Tuhan dan percaya bahwa Yesuslah Penebus dan Penyelamatku yang mati sebagai ganti atas dosa-dosaku tersebut. Di sinilah pertama kalinya, aku secara sadar rindu mempersembahkan hidupku untuk Tuhan dan pekerjaan-pekerjaan baik yang disiapkan-Nya untukku.

Hal itu dimulai dengan Tuhan yang menggerakkanku untuk mengampuni beberapa orang yang di masa itu menjadi objek dosaku. Kedua orang ini adalah orang-orang yang aku sendiri bingung kenapa mereka begitu tidak suka dengan keberadaanku (oke ini adalah cerita lain yang nggak nyambung dengan paragraf-paragraf awal tulisan ini). Dengan bekas-bekas mahkota tadi, aku meresponsnya dengan defensif: bahwa mereka begitu karena iri. Turned out, aku merasa sombong dan sok hebat. Pada beberapa kesempatan, mereka secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan mereka dan itu membuatku membalasnya balik dengan kesombongan di dalam hati. Ya, di dalam hati saja, karena aku berusaha menutupinya. Tertutupnya aku membuat hatiku semacam tidak lega. Seperti ada banyak sampah yang menumpuk di dalamnya. Bagaimana tidak? Tumpukan itu umurnya sudah hampir 3 tahun pada masa itu.

Aku masih ingat, berkat dorongan Roh Kudus, aku mampu jujur akan dosa-dosa itu dan mengaku di hadapan Tuhan dalam doa memohon ampun. Aku masih ingat, di suatu malam, dengan hati yang seperti mengeluarkan banyak sampah, aku berdoa kepada Tuhan untuk tidak hanya memohon ampun, namun juga memohon Ia memberikanku kasih untuk mengasihi orang-orang ini. Aku masih ingat, di malam itu, aku menangis ketika mendoakan kedua orang tersebut untuk Tuhan berikan kebaikan di dalam hidupnya; sesuatu yang tidak pernah rela dikeluarkan oleh mulut dan hatiku sebelumnya. Aku benar-benar merasa Roh Kudus yang berdoa kepada Bapa, karena memang mana mungkin aku sendiri bisa mendoakan orang yang tidak suka padaku seperti itu.

Selesai berdoa, aku benar-benar merasa lega, seperti sampah-sampah tadi diangkut keluar sampai bersih oleh Tuhan. Tidak berhenti di situ, aku menghubungi kedua orang tersebut untuk meminta maaf (meskipun saat itu aku tahu bukan aku yang sepenuhnya bersalah di sini) dan menceritakan semua yang kurasakan sampai ketika aku mendoakan dan berhasil mengampuni mereka. Saat ini, kami sudah sama-sama clear dan bahkan bisa berteman seperti biasa.

Menurutku, titik mula ini adalah titik yang indah: tentang bagaimana Tuhan mengingatkanku untuk mengampuni sebagaimana Dia sudah mengampuniku. Permulaan yang manis.

Perlahan-lahan, pertobatan yang Tuhan kerjakan itu membuatku memiliki perspektif yang sama sekali baru akan hidup. Aku masih ingat, ketika itu, Roh Kudus selalu menggerakkanku untuk berpikir ulang tentang hal-hal tradisionil yang sudah, sedang, maupun akan kulakukan. Roh Kudus menggerakkanku untuk mengujinya dengan firman Tuhan. Beberapa prosesnya sudah pernah kutuangkan dalam Tumblr-ku dulu. Proses yang menurutku sangat menyehatkan pikiran dan hatiku, membentuk keduanya menjadi senada dengan melodi hati Tuhan, selaras dengan irama kehendak-Nya.

Aku diperbaharui hari lepas hari, karena aku juga jatuh hari lepas hari. Tetapi sampai sekarang, tidak pernah kurasakan Tuhan meninggalkanku. Terlebih saat banyak hal buruk yang menimpaku, tidak pernah kurasa tangan-Nya melepaskanku. Bahkan Dia selalu menyendengkan telinga-Nya kepada setiap permohonan dan doaku. Aku mulai belajar untuk tidak terutama menanti jawaban Tuhan, melainkan mendapatkan-Nya dan bagiku itu adalah jawaban dari segala pertanyaan.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang kasih, jika aku sulit mengasihi.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang setia, jika aku sulit bersabar.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang memberikan harapan, jika rasanya aku tidak tahu harus ke mana.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang menenangkan badai, jika hidupku terasa kacau.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang menyembuhkan, jika aku merasa sakit.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang rendah hati, jika aku merasa perlu memamerkan prestasiku.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang melayani, jika aku bingung apakah aku harus melayani atau tidak.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang percaya kepada Bapa, jika aku hanya ingin kehendakku yang terjadi.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang murah hati, jika aku mulai menahan-nahan berkat.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang tahu dan taat pada hukum Tuhan, jika aku mulai kompromi.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang sudah banyak menderita bagiku, jika aku harus menderita bagi sesamaku.

Aku tidak akan pernah bisa mengandalkan jawaban lain jika itu bukan Tuhan, karena jawaban itu hanyalah sementara meski itu menyukakanku. Pekerjaan, gaji, pacar, pelayanan, semuanya memang jawaban doa, tetapi itu bukan tempatku berdiri, berharap, dan bertahan. Fondasiku haruslah Tuhan Yesus dan firman-Nya. Aku haruslah mendengar Dia dan mengerjakan kehendak-Nya. Dengan itulah segala badai tidak akan menghancurkanku. Dengan itulah, mahkota-mahkota dunia yang datang dan pergi tidak pernah sedikit pun akan mengurangi percayaku pada-Nya.

Tulisan ini sebenarnya hasil refleksi panjang setelah pelayananku di PAKJ kemarin. Aku bersyukur, ketika Tuhan menghalauku dari berbagai suara iblis yang mulai bertanya-tanya di dalam hatiku, “Duh Beth, pelayananmu bagus nggak, ya?”, “Duh, ngangkat nggak ya, lagu-lagunya?”, “Tuh, coba inget, deh, kemarin kok bisa galau mau pakai palung/nggak? Jadi nggak yakin deh mimpinnya!”, “Ehem, udah ada yang puji belum?”, “Mereka diberkati nggak, ya, dengan pelayananmu, Beth?”.

Ada banyak cara yang bisa digunakan iblis untuk terus mengganggu fokus pelayananku kemarin. Soal ngangkat nggak ngangkat ini yang paling aneh. Nggak ngerti teologinya dari mana. Untuk ke sekian kalinya aku bersyukur ketika Tuhan menguatkanku bahwa kehadiran Tuhan adalah iman percaya bahwa jika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya, maka Ia hadir. Tentu ini tidak mendiskreditkan kemahahadiran Tuhan. Lalu, penyembah-penyembah yang benar adalah mereka yang menyembah Bapa yang mereka kenal dalam roh dan kebenaran. Itulah penyembah yang dikehendaki Tuhan. Bukan soal musiknya ngangkat/nggak atau yang paling ngeri, bulu kuduk merinding/tidak, lalu menentukan apakah Tuhan hadir/tidak.

Soal menanti-nantikan pujian? Aduh, iblis tidak pernah berhenti mengujiku di titik terlemahku ini. Percayalah. Tetapi aku bersyukur bahwa kemarin, aku nggak menanti-nantikan pujian siapa pun. Suara iblis langsung di-tackle dengan suara Tuhan. Begitu, kan, proses kita bertumbuh? Bukan dengan mengabaikan dosa, tapi melawan dosa dengan firman-Nya.

Sejujurnya, aku bersyukur bahwa aku tidak merasa puas dan bahagia atas pelayananku kemarin, melainkan merasa jelek dan tidak layak. Aku bersyukur kepuasan dan kebahagiaanku kemarin adalah karena Tuhan Yesus yang kulayani tetap mengasihiku sekalipun aku tidak layak. Tuhan Yesus adalah pribadi yang melihat hati dan kesungguhanku, motivasi dan kerinduanku. Di sanalah aku bergumul dengan setia. Tentunya pergumulan di titik terdalam sepatutnya menghasilkan output yang benar, toh? Lebih-kurangnya memanglah bagianku sebagai manusia.

Terakhir, aku berharap setiap jemaat memiliki fokus beribadah yang benar. Jangan pada yang bukan Yesus.

I Think, Each of Us Has An Issue with Ourselves

I think, each of us has an issue with ourselves.

Yet, we refuse to fix it.

Some may think they love themselves, but in fact, they’re being too hard. They keep scrolling up and down other people’s lives–not knowing why. They think they just adore those people, but deep down in their hearts, they’re envious.

Some people may think that they are not seeking anyone’s attention. But apparently, everything they do is done to save the love they never got. Even today, they may insist that they do feel loved and do not have to do anything to prove it.

Some others may feel insecure. They are afraid of being rivaled by people of their own kind, who work in a way similar to theirs. They can be a very supportive person for someone, but can be very unconcerned with others. Unfortunately, that’s just artificial ignorance. In fact, they almost never miss a mindless day to defeat those people.

Perhaps one of you feels that he or she can respond to each issue appropriately, but some of the things you do turn out to show that you failed.

Or maybe, some may feel that they are smart enough and responsive to this world. In fact, it is only a temporary spirit. They just do not want to look left-out and stupid. That is all. They do not even have a heart that prays for the world.

Some others can also feel that they have no serious problems with other people. They’re fine with you, so are you. Truth is, you do not know that you’ve hurt them and never felt guilty at all.

Over and over again you say that life is no longer about you, yourself, and all your existence, especially. But what you do instead shows that this is all about you. How you are seen as a good and useful person by others.

Some of us may feel like we are not living and being productive if we only do things that are usually considered non-alive and productive. Therefore, we feel the need to continue to show off to the world that we are alive and productive. That we contribute and play a role in life.

Listen, we don’t have to be like that. It doesn’t have to be that way.

We’re all having issues and we should learn how to fix those.

W e.  n e e d.  t o.  g r o w.  a l w a y s.

Sorry if I’m wrong. I just hope that I’m wrong.

Monolog

“Udah mau 1 Juni, nih. Udah jadi nulis buat Hari Pancasila?”

— Gohan Parningotan.


Aku bimbang, apakah aku harus menulisnya sekarang di kala pengetahuanku belum cukup untuk menulis tentang Pancasila sesuai dengan tujuan dan poin-poin sasaran yang ingin kubahas, ataukah aku tunda saja dan membiarkan momentum hari lahirnya Pancasila di tahun ini berlalu?

Tanpa perlu berlama-lama, nurani langsung menyuarakan maksudnya.

“Tidak usahlah menulis untuk tepat 1 Juni ini. Bukankah kau baru saja kepikiran beberapa hal lain yang mau diriset dan dianalisis lagi tentang Pancasila? Lagian, kalau mengandalkan buku-buku itu saja, tulisanmu nanti tak ubahnya salin-tempel saja. Sedihnya, kau sendiri belum paham betul. Kau juga masih menyisakan banyak halaman yang belum dibaca, kan? Keputusan terbijak yang bisa kauambil adalah menundanya. Kalau kau memaksakan menulis sekarang dengan waktu hanya 1 hari, kurasa kau hanya ingin mengejar ‘target’ dan momentum. Kasihan pembaca, 5 menitnya terbuang dengan tidak terlalu berkualitas. Sekalipun ini momen yang baik untuk menulis tentang Pancasila, hati-hati, jika terlalu kaku pada prinsip ini, kau tidak menganggap hari dan momen lain juga baik untuk membahas Pancasila. Hati-hati, semangatmu hanya semangat rutinitas perayaan. Padahal jauh sebelum Pak Jokowi protes soal terlalu monoton dan rutinitasnya kita, Bung Karno sudah mengingatkan dunia tentang itu di tahun 1960.

Lagi, kamu punya kesempatan untuk membaca-baca terlebih dahulu ulasan orang-orang terkait hari Pancasila nanti–percaya deh, pasti akan ada banyak tautan yang akan mengarahkanmu ke sana. Setelah kaubaca, kau bisa berusaha menambal lubang yang masih ada dari tulisan-tulisan mereka. Bukankah dengan begitu, kalian semua akan saling memperlengkapi? Asalkan kau tidak merasa tulisanmu yang paling benar. Sebab, perasaan paling benar seperti ini, berbahaya. Kau sudah lihat sendiri buktinya.

Selain karena alasan-alasan tersebut di atas, kau juga masih belum beres dalam menilai dan merespons tekanan. Kau tidak ingat kemarin kau baru saja bercerita panjang sambil menahan tangis yang akhirnya membuatmu sesak, tentang beberapa tekanan yang kaurasa? Tidak ingat berapa banyak kau mengeluh, marah, dan begitu egois kemarin? Iya, aku tahu, kau masih bingung apakah kondisi seperti ini adalah kondisi yang benar yang harus tetap kausyukuri dengan cara yang tepat, ataukah ini pertanda bahwa kau harus menghindari tekanan-tekanan seperti itu–entahkah kau harus berontak, atau pergi saja. Aku tahu kau bingung. Maka dari itu aku tak menyarankanmu untuk menulis di tengah tekanan dan kebingungan seperti itu. Apalagi kau punya topik yang kompleks seperti ini untuk ditulis. Jangan, tidak usah menulis dulu. Aku takut, kau menulis sebagai bentuk pelarian diri dari prioritas yang sesungguh-sungguhnya harus kauselesaikan. Aku takut, pikiranmu tidak jernih, tidak logis, dan tidak rendah hati dalam menulis nanti. Lagi-lagi, kasihan pembaca.

Wah, barusan lagi otakmu berargumen, “kau tidak sedang mengejar kesempurnaan pada tulisanmu nanti, kan?” Kau mau tahu jawabanku? Aku tidak akan pernah menjadi sempurna di dunia ini, pun tulisan-tulisanku juga demikian. Tetapi kalau kubilang aku mau mengejar kesempurnaan, itu berarti sebaik-baiknya aku menulis apa yang sesuai dengan maksud dan tujuanku, itu saja. Tidak perlu lagi berdebat soal kesempurnaan. Kau tidak sadar, memperdebatkan kesempurnaan berarti kau membuka ruang bahwa tidak ada satu cacat pun yang terjadi di dunia ini? Belum lagi berbicara tentang apa yang menjadi standarmu tentang kesempurnaan. Bagaimana bisa manusia yang tidak sempurna membuat standar tentang kesempurnaan? Atau jangan-jangan, kau merasa sempurna? Baiklah, otak, kau sudah tahu jawabannya sekarang. Aku hanya mau belajar lagi saja. Oh, ya. Juga, bersabar. Kau tahu karya yang dibuat dengan terburu-terburu sebenar-benarnya tengah melukai pembuatnya?

Lalu, apakah ini pembenaran bahwa aku gagal menulis hari ini? Bukan, ini adalah alasan mengapa aku gagal menulis hari ini. Aku bisa saja memaksakan diri. Tetapi untungnya, aku masih mau mengedukasi diri sendiri. Aku sadar, aku ini impulsif. Maka dari itu aku selalu waspada manakala monolog semacam ini tidak terjadi di jiwaku. Demikian juga bagi setiap orang, siapa pun yang mengaku manusia di dunia ini. Usahakan selalu berpikir dan memikirkan ulang sebelum melakukan apa pun, termasuk berkata-kata. Kita harus menguji segala sesuatunya, termasuk apa yang hendak kita perkatakan. Ujilah, ujilah dirimu, keinginanmu, motivasimu, ambisimu. Uji, ujilah ilmumu. Kendalikan dirimu. Kasihan pembaca jika tidak mendapat pengetahuan yang benar dari tulisanmu. Jika ia tidak mendapat arahan emosi yang tepat dari ulasanmu. Jika sudah demikian, tekunlah di dalam kesemuanya–dalam saling mencintai satu dengan yang lain: kau dan mereka yang akan membaca. Iya, kau tak pernah tahu seberapa baik tulisan bisa menjadi caramu mencintai. Mungkin juga, menjadi alasan mengapa kau dicintai. 

Kalau pun kau harus memaknai hari lahirnya Pancasila dengan bermonolog seperti ini, berterima kasihlah pada semesta dan Pencipta.

Monolog ini adalah inisiatif dan cara-Nya untuk memenuhi ‘kebutuhan’-mu (mungkin juga orang lain) hari ini.

Mazmur 131 dan 138: Kerendahan hati, Pengharapan, dan Iman Pak Ahok akan Janji Tuhan

605548_620
Sumber: Tempo

Saya memutuskan untuk mempelajari dan merenungkan firman Tuhan dalam Mazmur 131 dan Mazmur 138–Mazmur mana yang ayat-ayatnya dikutip oleh Pak Ahok dalam suratnya dari Rumah Tahanan Depok kemarin (Minggu, 21 Mei 2017).

Saya memutuskan untuk belajar dari kesaksian Pak Ahok tersebut pada hari kenaikan Tuhan Yesus Kristus ini–hari di mana pada masa itu Yesus juga berpesan kepada murid-murid-Nya untuk menjadi saksi bagi-Nya sampai ke ujung dunia.

Mari kita mulai!

[Teman-teman bisa sambil mendengarkan lagu (seperti) Doa Kami – True Worshippers untuk mengarahkan emosi teman-teman ke perenungan akan kondisi bangsa Indonesia dan orang-orang di dalamnya.] 

Mazmur 131

  1. Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. 
  2. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
  3. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Mazmur 131 ditulis oleh Daud, seorang Raja Israel yang sangat berjaya di zamannya. Mazmur ini termasuk ke Buku V (terdiri atas Pasal 107-150) dalam pembagian kitab Mazmur. Pasal 120-134 dimulai dengan kata-kata “Nyanyian Ziarah” atau “Songs of Ascent”; disebut juga nyanyian pendakian. Kemungkinan para pemazmur dalam pasal-pasal ini (termasuk Daud) menyanyikannya dalam perjalanan (pendakian) menuju Yerusalem untuk festival keagamaan tahunan umat Yahudi.

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul “Menyerah kepada Tuhan” untuk pasal ini; judul yang jelas untuk menunjukkan kondisi dan kedalaman hati Daud pada saat itu. Menurut saya, tinggi hati dan sombong dalam ayat 1 identik dengan suatu sikap hati yang menganggap diri lebih hebat (superior) dari orang lain; juga sikap hati menafikan keberadaan dan kehadiran Tuhan di dalam hidup seseorang.

Hm, pernah dengar istilah, “biar miskin, yang penting sombong?” atau, “biar jelek yang penting sombong?” Saya sering mendengar itu di kantor, hahaha. Kalimat-kalimat ini sering diucapkan oleh rekan-rekan saya sebagai semacam sinisme terhadap diri sendiri. Misalnya, seorang rekan senior di kantor pernah bilang bahwa dia tidak akan sekali-kali menerima bantuan orang lain untuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan pernikahannya–meskipun nggak sanggup, yang penting sombong dulu. Memikirkan perkataan itu, mungkin saja tinggi hati dan sombong dapat juga diartikan dengan sikap hati yang tidak mau mengakui keterbatasan dan ketidakmampuan diri–munculnya sikap overestimate terhadap kemampuan diri sendiri. Begitulah kura-kura. Boleh setuju, boleh tidak. Yang penting kita tetap bersaudara.

Dalam pasal ini Daud mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang seperti itu. Dia mengaku di hadapan TUHAN bahwa dia bukanlah orang yang tinggi hati atau pun sombong. Melanjutkan pengakuannya tersebut, Daud juga menyatakan bahwa dia tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau terlalu ajaib baginya, karena dia tidak mampu–itu tidak sesuai dengan kapasitasnya. Daud sadar dan realistis terhadap dirinya. NET Bible menerjemahkan bagian ini demikian, “I do not have great aspirations, or concern myself with things that are beyond me.” Daud tidak punya cita-cita besar yang terlalu sulit baginya atau pun menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang di luar jangkauannya.

Lalu, apa yang dilakukan Daud? Apa yang ia sibukkan?

Sesungguhnya, Daud telah menenangkan dan mendiamkan jiwanya. Mungkin ada banyak hal yang membuat jiwanya ‘berisik’. Mungkin ada banyak hal yang ‘menggoda’ Daud; banyak hal yang seolah-olah meminta dipikirkan dan dikejar oleh Daud. Namun di titik ini, Daud tahu dia tidak mampu, maka dia memilih menenangkan dan mendiamkan jiwanya. Keputusan yang diambil Daud merupakan salah satu tanda kedewasaan sekaligus kerendahan hatinya. Tidak banyak orang bisa mengenal kemampuannya dan mengakuinya di hadapan Tuhan. Tidak banyak orang berpikir bahwa menenangkan dan mendiamkan jiwa juga merupakan pilihan. Gambaran yang diberikan Daud di sini adalah seorang bayi yang berbaring di dekat ibunya; seperti itulah jiwa Daud. Begitu tenang seolah belum mengenal keruwetan dunia.

Ayat ke-3 dalam pasal ini menunjukkan apa dan siapa yang menjadi ‘sandaran’ Daud untuk ‘berbaring’–ke mana ia menenangkan dan mendiamkan jiwanya, sebagaimana digambarkannya pada ayat sebelumnya. Dialah TUHAN, kepada siapa Daud dan seluruh umat Israel sepatutnya berharap tidak hanya saat ini melainkan selama-lamanya.

Perhatikan baik-baik, Daud punya ‘pelarian’ yang tepat di tengah kondisi yang ia alami. Dia tahu bahwa hal-hal yang terlalu besar maupun terlalu ajaib untuk dirinya bukanlah sumber pengharapan bagi jiwanya. TUHAN yang menjadi sumber pengharapan Daud pun dipercayainya sebagai TUHAN yang penuh kasih sayang dan kepedulian, serta yang begitu menenangkan, layaknya seorang ibu.

Dari 3 ayat di atas saya belajar pentingnya memiliki kerendahan hati untuk mengenal kemampuan diri sendiri dan mengakui keterbatasan diri–serta apa yang harus kita lakukan dalam merespons hal tersebut. Orang yang seperti ini tidak lantas berhenti di situ, dia perlu menenangkan jiwanya di dalam Tuhan yang menjadi tempat berharap bukan hanya pada saat ini melainkan untuk selama-lamanya.

Mazmur 138

  1. Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.
  2. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
  3. Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
  4. Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu;
  5. mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.
  6. TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.
  7. Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.
  8. TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Mazmur ini juga ditulis oleh raja Daud. Bedanya, kali ini bukan merupakan nyanyian ziarah. 

Mazmur ini dimulai dengan kerinduan Daud untuk bersyukur dengan segenap hati kepada TUHAN dan sujud ke arah bait-Nya yang kudus dan memuji Dia. Dikatakan juga bahwa Daud akan bermazmur bagi TUHAN di hadapan para allah dunia ini. Bisa jadi allah dunia yang dimaksud Daud adalah para raja lain, hakim-hakim lain, maupun patung-patung dan berhala yang ada di masanya.

Daud melakukan hal-hal tersebut karena TUHAN menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya kepada Daud; sebab TUHAN menjawab seruan dan doa Daud yang membuat kuasa nama TUHAN dan janji-janji TUHAN nyata di dalam hidupnya. Menarik bagi saya, ketika Daud menyatakan bahwa jawaban doa dari TUHAN tidak hanya berisi penggenapan janji melainkan juga kekuatan rohani yang ditambahkan kepada jiwanya. 

Daud berharap bahwa kesaksiannya akan kebaikan dan kehebatan TUHAN yang menjawab doanya akan membuat raja-raja lain juga bersyukur kepada TUHAN dan bahkan memuji TUHAN karena kemuliaan TUHAN telah nyata bagi mereka.

Di bagian berikutnya Daud menyatakan bahwa meskipun TUHAN itu ‘tinggi’; begitu mulia dan hebat, Dia tetap memerhatikan orang-orang yang hina dan bahkan mengenal orang yang sombong dari jauh. Inilah keyakinan iman bahwa TUHAN tidak tidur. Keyakinan Daud akan TUHAN yang seperti ini membuatnya percaya bahwa TUHAN akan membangkitkannya di tengah kesesakan dan bahkan menolong dan melepaskannya dari amarah musuh-musuhnya. TUHAN akan menyelesaikan semua pergumulannya bagi Daud; TUHAN yang akan berperang untuknya, Daud akan diam saja. Sekali lagi di penutup pasal ini Daud menyatakan bahwa kasih dan kesetiaan TUHAN adalah untuk selama-lamanya.


Setelah membaca dan merenungkan kedua bagian ini tampaknya bukanlah suatu kebetulan jika Pak Ahok mengangkat 2 ayat dari pasal-pasal ini dalam merespons kejadian yang menimpanya dan situasi yang sedang dihadapinya. Pada bagian pertama dia mengisyaratkan kepada bangsa ini bahwa sesungguhnya apa yang sekarang terjadi di luar kemampuan dan kapasitasnya. Saya terharu sekali membayangkan pergumulan hati Pak Ahok ketika memutuskan untuk menyatakan bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang dapat diandalkannya di tengah pidana penistaan agama yang dijatuhkan atasnya. Dia seolah-olah mau bilang bahwa dia tidak bisa mengharapkan banding yang akan diajukannya nanti. Dia memutuskan untuk mundur dari ‘kebisingan’ kasus ini dan memilih mendiamkan dan menenangkan jiwanya di balik jeruji besi–dalam pangkuan Tuhan yang diyakininya tetap mengasihi dan peduli padanya. Tuhan, satu-satunya yang diharapkannya.

Selanjutnya saya membayangkan bahwa Pak Ahok mengimani janji Tuhan bahwa Tuhan akan terus memerhatikan beliau dan mendengar teriak minta tolong beliau yang mungkin tidak didengar oleh satu orang pun di balik jeruji besi itu. Pak Ahok memang memutuskan untuk mundur dari pertarungan ini dan percaya bahwa sekalipun ia mundur, ia diam, Tuhan tetap akan menyelesaikan perkara-perkara ini baginya. Tuhan akan berperang untuknya.

Inilah arah pengharapan Pak Ahok di bagian pertama tadi. Berharaplah kepada Tuhan, hai Indonesia, dari sekarang sampai selama-lamanya!” karena “Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.”


Mengagumkan sekali imanmu, Pak Ahok. :’ Semoga kau tetap setia, sebagai respons atas kesetiaan-Nya yang sampai selama-lamanya itu. Penjara bukanlah halangan untukmu tetap menjadi alat-Nya bagi bangsa ini, melainkan Tuhan merancangkan semua ini karena Dia ingin memakaimu dengan lebih signifikan lagi, saat ini dan di masa depan.

Terima kasih telah mengingatkan saya melalui kutipan ayat-ayat yang kaupilih ini–pasti Tuhan sendiri yang menyatakannya padamu untuk kausampaikan kepada kami.

“Kuberjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia.”

(semoga Roh Kudus menyempurnakan keterbatasan dan kelemahan saya dalam membagikan perenungan atas dua pasal Mazmur ini–di dalam hati masing-masing pembaca).

She Made Me Unsubscribe All the Beauty Vloggers

Judul yang cukup ekstrem, bukan?

Tapi ini sungguhan. Beginilah cara kerja otak saya hingga keputusan tersebut saya ambil. Kira-kiranya sajalah.


stock-vector-hand-drawn-makeup-items-collection-vector-doodle-set-with-brushes-palette-mascara-nail-polish-359961371

Tidak ada yang lebih kaget dari saya sendiri ketika menyadari bahwa saya mendadak suka bersolek (baca: kenal yang namanya foundation [awalnya saya pikir itu yayasan], bedak padat-tabur, eyeliner, pensil alis, contour kit, blush onlipstick, liptint, lipcream, lipbalm, dan lip-lip lainnya kecuali lippo cikarang).

Kenapa kaget? Jelaslah. Dulu aja saya ngga tau bedain mana pelembap muka, mana body lotion. Saya juga ngga paham doktrin-doktrin skincare dan step by step-nya. Pokoknya kalau udah keringetan, mandi aja udah, habis itu tidur atau ngapain kek.

Itu bermula ketika mendadak explore Instagram saya berisi foto-foto perempuan dengan wajah mulus-kayak-pori-porinya-udah-musnah, putih, tapi ada rona pink atau coral (ah elah ini juga baru tau ada warna coral), dan alisnya… beeeeeeh, logo Nike aja kalah cuy! Menukik tajam. Ya begitulah.

Ngga cuma itu, matanya juga kayak berat banget gitu. Kayak ada yang ganggu banget gitu. Bulu mata palsunya kayaknya nambahin berat badan 2 kilo kalau lagi nimbang deh. #hah

Mulailah click demi click berlangsung sampai akhirnya saya hapal banyak hal soal beginian–yang dulu saya rasa sangat asing, juga aneh. Saya jadi suka make-up.

Perlu digarisbawahi-italic-bold, saya suka make-up karena saya suka menggambar dan mewarnai. Kebahagiaan anak TK bangetlah pokoknya. Ngga kepikiran maksud apa-apa; misal, “wah kalau alisku begini, dia akan suka ngga ya?”, atau, “bagusan lipstick warna apa ya supaya ngobrolnya nyambung sama dia?”, atau lagi, “astaga! aku rasa aku butuh eyeliner dan bulu mata palsu agar dia bisa melihat mataku dengan jelas!”

Urusan apa cuy, warna lipstick sama nyambung/ngga-nya pas ngobrol?

Intinya, saya menggunakan make-up (dan suka dandan orang-orang) karena saya senang mengekspresikan kesukaan saya untuk menggambar dan mewarnai. Kalau ngga pake make-up, ngga masalah juga, ngga mengganggu keselamatan saya.

Lalu saya sadar, ekspresi tanpa batas adalah ego semata.

Setelah berkecimpung sekitar setahun di dunia suka-dandan, punya hobi nonton video-video dandan orang-orang yang disebut beauty vloggers, dan menyisihkan uang untuk membeli beberapa barang dandan yang diperlukan, saya mulai tidak tenang.

Tulisan ini bisa sampe besok kalau mau bahas kenapa saya tidak tenang, sementara saya tidak sedang ingin berfokus di sana. Intinya saya merasa perlu membatasi ekspresi saya tersebut.

Saya pun perlahan-lahan menyudahi kiprah saya di dunia suka-dandan dan beralih ke dunia suka-makan. #err. Saya mulai mengurangi ngecek video baru beauty vloggers, mulai ngurangi nongkrongin online-shop untuk beli make-up, dan udah ngga suka tiba-tiba dandan-padahal-ngga-mau-ke-mana-mana.

Semuanya masih perlahan-lahan sampai hari Jumat, 5 Mei 2017 kemarin.

She made me unsubscribe all the beauty vloggers on YouTube.

[Saya tidak akan cerita siapa dia selain bahwa dia adalah salah satu di antara beauty vloggers yang saya sempat kagumi.]

Hal itu bermula ketika saya melihat Instagram Story beliau dan menemukan beliau mempublikasikan foto yang menurut saya tidak baik untuk ditampilkan di muka umum. Nggak penting aja gitu. Meaningless, asli. Boro-boro bawa-bawa argumen “kita ini di Indonesia”, atau “ih kan dilarang agama”, buat saya, foto itu meaningless, tidak membawa manfaat bagi yang melihat, dan juga, malah menimbulkan kontroversi.

Kemudian dia melakukan semacam klarifikasi online (kan lagi ngetrend katanya) di Instagram Story-nya yang isinya pembenaran demi pembenaran yang makin membuat saya kurang respect sama dia, seperti:

  1. Ini akun gue, apa yang gue post jadi urusan gue.
  2. Ya kalau ngga suka, ngga usah dilihat. (Kalau gue bisa ngga suka tanpa lihat, hebat dong!)
  3. Ngga ada alasan tempat tinggal, di mana pun lo tinggal, lakukan aja apa yang menurut lo bikin lo senang dan bisa ningkatin kepercayaan diri lo.
  4. Mind your own business. Sementara beliau ngurusin orang lain juga.
  5. Ngga ngerugiin lo juga kan? Ngapain lo urusin?

Menurut saya, ini respons yang lumayan egois.

Benar, itu akunmu, tapi, kalau mau akun itu jadi urusanmu saja, jangan biarin siapa pun follow kamu, kunci saja Instagram-mu, dan uruslah urusanmu sendiri di sana. Sosial media menjadi kurang ‘sosial’ karena di dalamnya orang-orang nggak menempatkan prinsip-prinsip bersosialisasi dengan baik. Coba bayangin kalau ini terjadi di dunia nyata. Bukankah orang ini akan segera diperhadapkan dengan berbagai norma–yang membuatnya harus bertanggungjawab?

Klarifikasi nomor 2 di atas adalah klarifikasi yang paling absurd menurut saya. Kalau saya tahu saya nggak akan suka, nggak akan saya lihat, dong? -_-

Lalu, klarifikasi nomor 3 ini yang paling bikin sedih. What a selfish statement! Jadi misalnya, kalau kamu bisa senang dan percaya diri dengan ngebunuh orang, lakuin aja, post aja sesukamu. Ini akunmu. Begitulah kira-kira maksud beliau.

Saya suka menelisik lebih dalam apa sih maksud dari “mind your own business” ini? Apa sih definisi “your own business” itu? Kalau saya bilang urusan saya adalah mengenai apa yang orang lain tampilkan di sosial media–which is termasuk juga postingan mbaknya, lantas masih relevankah kalimat terkenal ini?

Kita suka lupa bahwa kita nggak hidup sendirian dan memang nggak bisa sendirian. Kita hidup berdampingan dengan sesama kita yang lain. Jadi kita ngga bisa bilang sesuka-hati untuk ‘memikirkan urusan kita sendiri’ saja. Dalam level tertentu, mungkin urusan kita masing-masing ada di himpunan yang sama dan bahkan beririsan. Seperti saya, hal-hal seperti ini menurut saya adalah bagian dari sekian banyak urusan saya: tentang apa yang ditampilkan figur publik (baik artis beneran, pejabat terkenal, artis Twitter, artis Instagram, artis-artis yang lain–yang di-follow banyak orang dan mungkin ‘dicontoh’ banyak orang. Coba bayangin, 200.000-an followers mbak ini manggut-manggut tentang ide si mbak soal postingannya tadi. Maka jadilah di masa depan kita akan melihat foto-foto yang lebih vulgar lagi tampil tanpa batas di ranah media sosial kita–dan yang paling mengerikan–itu terekam jelas sebagai kenyataan.

Saya sedih membayangkan hal itu terjadi. Banyaklah penyebabnya. Semuanya berkaitan dengan iman dan intelektualitas saya.

Saya akui saya menyayangkan sikap seperti itu. Bahkan di beberapa fotonya (yang cukup terbuka) beliau menulis judul yang seolah-olah sudah mengantisipasi komentar-komentar kontra atas fotonya. Kenapa harus begitu, ya?

Akhirnya, saya semakin malas berkecimpung di dunia suka-dandan, karena salah satu punggawanya memiliki sikap yang (sebutlah) tidak sesuai dengan prinsip saya. Mungkin ini generalisasi, mungkin juga memang saya murni sudah tidak berminat lagi menonton video-video mereka. Apa pun itu, ketertarikan saya pada hal-hal seperti ini langsung sirna. Totalitas kesirnaan.

Concern saya yang sebenarnya membuat saya mengambil keputusan ini adalah karena saya tidak mau hidup saya dipenuhi oleh ide-ide orang-orang yang prinsipnya bertentangan dengan saya. Bukan berarti saya hanya mau berurusan dengan mereka yang berprinsip sama dengan saya–tetapi untuk menjadi ‘subscriber’ mereka, it’s a big no.

Saya bertanggungjawab atas apa yang diterima oleh hati & pikiran saya.

Transformasi Digital dari Kacamata Seorang Awam

Di era digitalisasi yang tengah berkembang di dunia (secara umum) dan Indonesia (secara khusus), tampaknya aneh jika kita tidak menaruh perhatian terhadap transformasi digital padahal kita ada di dalam ekosistem yang dibangun (secara sadar atau tidak) oleh transformasi tersebut.

Transformasi digital tidak sesederhana membuat online-shop atau memiliki website perusahaan yang bahkan tidak terlalu dipedulikan. Transformasi digital adalah sebuah ide besar yang sebaiknya tidak disimplifikasi. “Digital transformation is a visible wholesale restructure to avoid a tipping point caused by digital technologies and downstream market effects”, kata Howard King.

Transformasi digital terasa sangat jelas di dunia bisnis. Hal ini terlihat dari produk-produk bisnis yang kita rasakan sehari-hari seperti Go-Jek, Uber, Grab, yang kini memudahkan kita untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bagi kita yang menganggapnya memudahkan.

Tidak hanya itu, Instagram, Path, Facebook, dan bahkan setiap perangkat keras yang kita gunakan adalah produk-produk bisnis yang telah dan akan terus menerapkan transformasi digital dalam pengembangannya.

Karena transformasi digital dekat dengan kehidupan kita, ada baiknya kita mengenal lebih jauh apa yang ditawarkannya kepada kita dan bagaimana kita menyikapinya.

What matters most?

Bagi pebisnis, transformasi digital tidak lain dan tidak bukan akan memberikan manfaat ekonomis bagi mereka. Meski tampaknya dunia bisnis saat ini seperti tengah mewujudkan transformasi digital, sebuah riset menemukan ternyata ada 40% perusahaan yang tidak siap dengan transformasi digital sekalipun 86%-nya berharap transformasi digital akan berperan penting bagi perusahaan mereka di masa depan. Ada 4 pilar utama yang harus ada dalam suatu bisnis untuk dikatakan telah mengalami transformasi digital: engaging customer, empowering employee, optimizing operations, dan transforming product.

Hal pertama yang tentunya mereka harus kuasai adalah pengenalan akan pelanggan/pengguna produk mereka. Cakupannya seperti menganalisis kesukaan, kebiasaan, ketidaksukaan, perilaku, dan karakter customer mereka. Customer mereka: saya.

Saya setuju dengan gagasan yang mengatakan bahwa transformasi/revolusi digital sebenarnya bukan tentang teknologinya yang terutama, melainkan orang-orangnya, entahkah pekerjanya maupun penggunanya. However, as most digital transformation across industries and countries continues to unfold, the people dimension of these transformations has emerged as the key to unlocking value and ensuring the sustainability of the changes.

Pekerja dan pengguna diharapkan memastikan keberlangsungan perubahan yang terwujud melalui transformasi digital tersebut. Inilah poin pembahasan saya yang sebenarnya.

Oke, saya persempit menjadi “pengguna dari transformasi ini muncul sebagai kunci untuk menemukan nilai dan memastikan keberlangsungan perubahan-perubahan yang sudah ada.”

Transformasi digital bisa memberi manfaat maupun mudharat bagi setiap pengguna, tergantung bagaimana si pengguna menyikapinya. Oh ya, definisi manfaat dan mudharat yang saya maksud tentunya berada di tatanan normatif dan spiritual sesuai dengan iman saya.

Ada banyak karakter pengguna yang akhirnya tampak akibat transformasi digital ini. Ada yang narsis, ada yang humoris. Ada yang jaim, ada yang alim. Ada yang seperti Karin Novilda, ada yang seperti Rachel Vennya, dan masih banyak lagi.

Jika pengguna adalah kunci bagi para pebisnis, maka saya asumsikan pemilik Instagram akan terus melakukan inovasi untuk terus mengeksplor karakter-karakter penggunanya. Saya ambil contoh: narsisme. Melihat kesuksesan Snapchat dengan fitur video-chat-nya, Instagram pun melakukan imitasi dengan Instagram Story-nya. Kenapa? Ternyata banyak pengguna yang senang menggunakan fitur-fitur yang membuat pengguna bisa bernarsis-ria. Saat ini, para pekerja di bagian product development Instagram pasti sedang sibuk meng-import data penggunanya dan melakukan analisis: fitur apa lagi ya yang harus kami keluarkan?

Tetapi, siapa sangka, ternyata ada juga pengguna yang menggunakan fitur live (seperti di Facebook) untuk merekam dirinya yang akan bunuh diri atau pun membunuh orang lain? Ya, ternyata ada pengguna yang menggunakan fitur tersebut entah untuk mencari perhatian atau karena dia adalah seorang psikopat. Hal-hal minor seperti ini mungkin tidak pernah mendapat perhatian khusus dari pebisnis.

Okelah, toh tentu itu bukan sepenuhnya miskalkulasi dari pebisnis, melainkan mungkin ketidaksiapan beberapa pengguna untuk menghadapi transformasi digital.

Perubahan akan terjadi juga, siap atau tidak siap. Transformasi digital akan terjadi juga, siap tidak siap. Tidak ada yang sedang berusaha menghentikannya—dan ternyata kita membutuhkannya demi alasan-alasan, misalnya, efisiensi. Karena itu penting bagi pengguna untuk belajar dan beradaptasi dengan transformasi digital agar mereka bisa memanfaatkan sebanyak-banyaknya keuntungan yang lahir dari transformasi ini.

Memanfaatkan Transformasi Digital

Tidak semua produk transformasi digital harus kita gunakan: itu kunci pertamanya. Kenali diri kita dengan baik dan kenali motivasi kita untuk menggunakan produk-produk tersebut. Titik awal inilah yang jarang dipikirkan oleh pengguna. Setiap inovasi yang ada rasanya ingin segera dicicipi. Saya masih ingat betapa impulsifnya saya dan teman-teman sekantor untuk menginstal aplikasi IMO dan melakukan group-call padahal kami berada di ruangan yang sama. Meski tak lama setelah itu, sebagian besar dari kami pun menghapus aplikasi tersebut karena merasa tidak perlu menggunakannya.

Tidak semua aplikasi belanja online, sosial media, atau ojek online perlu di-install. Percaya tidak percaya, ini akan memudahkan kita untuk menentukan pilihan, menghemat biaya, waktu, dan juga tenaga. Pilih satu atau dua aplikasi yang kalian tahu terbaik sesuai dengan spesifikasi yang kalian inginkan.

Selanjutnya, gunakan aplikasi-aplikasi tersebut dengan bijaksana: misalnya aplikasi media sosialmu. Keberadaanmu di sana seharusnya menjadi manfaat untuk orang-orang yang ada di sana. Bila perlu saya tegaskan, kamu harus tetap di sana jika di sanalah kamu bisa menyebarkan sebanyak-banyaknya kebenaran bagi orang banyak. Jangan hapus akunmu, jangan hapus aplikasimu. Imbangi dan bahkan kalahkan pengaruh buruk yang disebarkan (yang sedihnya selalu disebarkan) oleh akun-akun yang tidak bertanggungjawab dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ciptakan konten yang menarik orang-orang untuk terus-menerus menantikan manfaat yang akan kamu tawarkan. Serius. Pikirkan ini baik-baik.

Dunia tempat kita diutus adalah dunia yang jorok. Media sosial di mana kita bersosialisasi adalah media yang telah jatuh dalam dosa. Karena itu, keberadaan kebenaran sangat penting di sana. Tetap tinggal di sana, hanya jangan menjadi sama. Acuhkan saja orang-orang sekitar yang mungkin akan melabeli kamu dengan kata “pencitraan”. Tahu apa sih soal pencitraan? Kalau bisa terus mencitrakan gambar Allah, kenapa harus peduli? Di saat yang bersamaan, uruslah motivasi dan targetmu ketika melakukannya. Itu saja. Jangan jadi takut menyebarkan apa yang benar karena takut dianggap pencitraan.

Menjadi pengguna dalam tranformasi digital adalah peran yang diberi bagi kita di suatu ruang bernama “hikmat”.

Smart City

Transformasi digital juga sedang gencar dilakukan di pemerintahan–tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Konsep “kota pintar” atau smart-city sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kota pintar memerlukan data yang akan diubah menjadi informasi sehingga memberikan pengetahuan bagi penduduknya. Data-data ini nantinya berguna untuk banyak hal, termasuk menyoroti masalah-masalah potensial di kota tersebut bahkan sebelum ia terjadi, seperti kata Tuan Totty, seorang editor berita di The Journal Report, San Fransisco. Baca uraian selengkapnya di sini.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Pak Ahok telah menunjukkan kepeduliannya akan konsep ‘Jakarta Kota Pintar” yang diberi nama Jakarta Smart City. Tidak hanya itu, ada juga aplikasi Qlue yang terintegrasi dengan sistem Jakarta Smart City yang berguna untuk mengumpulkan data demi data yang nantinya sangat bermanfaat bagi kota Jakarta. Salah satu harapan saya pasca kepemimpinan Pak Ahok nanti adalah, konsep Jakarta Smart City ini bisa terus dikembangkan. Jangan diabaikan, please banget. :’

Bagian kita adalah, mari kita gunakan aplikasi Qlue dengan seefektif mungkin. Kita bisa menyampaikan berbagai keluhan/kritik/masukan/saran melalui aplikasi ini. Jangan hanya itu, kita juga bisa menyampaikan apresiasi kepada Jakarta melalui aplikasi ini. Informasi tambahan, saat ini Qlue tidak hanya beroperasi di Jakarta, warga kota Manado pun sudah dapat menggunakan aplikasi ini dengan adanya konsep Manado Smart City. Bahkan sebentar lagi kota Probolinggo dan Cilegon pun akan mengadopsi aplikasi ini. :”

Jadi?

Transformasi digital sedang dan akan terus terjadi dan kita berperan untuk menentukan transformasi seperti apa yang kita harapkan akan terjadi bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita, bahkan bagi kota dan bangsa kita. Kita perlu beradaptasi—ingat ya, beradaptasi—dengan transformasi ini. Jangan sampai transformasi digital hanya memberikan untung bagi pegiat bisnis saja, kita juga bisa mendapatkan manfaat melaluinya.

Selamat Pak Ahok!

Siang yang sangat terik itu menjadi puncak pemberian suara di pemilihan gubernur DKI Jakarta untuk periode jabatan 5 tahun ke depan. Saya sudah menggunakan hak pilih saya sebagai warga DKI Jakarta dan juga sudah mendoakan pilihan saya. Baru kali ini saya mendoakan–sungguh-sungguh mendoakan–calon pemimpin daerah di sepanjang hidup saya. Hal seperti ini tidak pernah terlalu saya pedulikan dulunya, sebelum Pak Jokowi dan Pak Ahok duduk di pemerintahan kota Jakarta sebagai gubernur & wakil gubernur.

Kali ini saya akan menyampaikan isi hati saya terkait Pak Ahok pasca kekalahannya di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Menyaksikan quick count dan menanti-nantikan hasilnya tidak pernah semendebarkan itu. Tidak pernah membuat saya se-lesu itu. Menjelang sore, saya melihat juga langit di luar agak murung. Tak lama kemudian ia menangis. Ah kebetulan yang menyayat hati. Saya sedih sekali. Benar-benar sedih sampai saya menangis mengetahui hasil QC yang menunjukkan kekalahan paslon 2 jagoan saya ini.

Saya mencoba berpikir positif di tengah lontaran-lontaran pertanyaan yang mucul di kepala saya akibat hasil QC tersebut. Apa ya maksud Tuhan mengizinkan kekalahan Pak Ahok ini terjadi? Tentu saya tidak punya jawabannya.

Saya hanya mengira-ngira: kondisi ini ada untuk menunjukkan beberapa hal yang ujungnya adalah kebaikan. Pertama, apakah paslon 3 akan berhasil membuat Jakarta lebih baik dengan cara-cara yang benar? Kedua, apakah kredibilitas paslon 3 akan teruji selama 5 tahun ke depan? Ketiga, apa rencana damai sejahtera yang Tuhan sedang siapkan untuk Pak Ahok?

Lima tahun ini pasti akan menjadi tahun-tahun yang membuat mata pendukung paslon 2 terbuka lebar, jika mereka adalah yang sungguh-sungguh ingin Jakarta lebih baik lagi. Akan ada banyak orang yang mengawasi jalannya kepemimpinan paslon 3. Saya melihat ini sebagai suatu kebaikan: titik tolak pedulinya warga Jakarta akan kota tempat tinggalnya.

Sekalipun semangat saya agak berkurang mengingat kekalahan jagoan saya, saya tetap bersyukur sudah mendapatkan banyak berkat melalui kepemimpinannya selama ini. Seperti ada suatu teladan baik yang dapat saya ikuti kebaikan-kebaikannya dalam berkontribusi bagi Jakarta.

Antusiasme warga DKI Jakarta akan pembangunan kotanya tidak boleh tidur. Matanya harus senantiasa mengawasi. Mulutnya tidak boleh nyinyir. Tidak usahlah lagi nyinyir soal DP-DP paslon 3 itu. (Mental-mental nyinyir ini bahaya banget, loh. Komen-komen kita akhirnya jadi mentok di emosi. Akhirnya minim diskusi yang esensial, minim solusi, dan ya habislah).

Saya setuju sama Pak Ahok bahwa tidak ada kekuasaan yang tanpa seizin Tuhan. Kalau saat ini paslon 3 telah unggul dan akan memimpin Jakarta, jadilah warga yang baik, yang juga tetap bekerja dan berdoa membantu pemerintahan mereka memajukan Jakarta. Doakan mereka agar tidak membawa kemunduran. Kritisi kinerjanya, kasih saran & masukan.

Ah, berat sekali ya mendoakan yang tidak didukung :”

Rencana Tuhan pasti indah untuk Pak Ahok. Orang sebagus beliau pasti bisa dipakai Tuhan dengan signifikan. Karena itu, selamat Pak Ahok! Ladang barumu sedang disiapkan Tuhan.

Selamat bekerja lagi!