Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

Berbagai pikiran muncul manakala melihat diri maupun orang lain tidak melakukan hal yang berkenan kepada Tuhan. Alih-alih menghakimi orang lain, saya terduduk diam, termenung-menung, menelisik diri sendiri, dan bertanya, “apa penyebabnya?”

Sudah sejak lama saya gelisah dan banyak berpikir apakah pertumbuhan rohani yang Tuhan sedang kerjakan mengalami hambatan karena dosa dan ketidaktaatan saya. Saya lalu terhenti pada ayat firman Tuhan pada Mazmur 1:1-3 yang berbunyi sebagai berikut:

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Dari 150 pasal di kitab Mazmur, pernyataan berkat atas mereka yang suka Firman Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam mengambil posisi pertama untuk disampaikan. Saya suka membayangkan betapa Allah ingin saya dan kamu mengingat hal ini dengan baik. Boro-boro bicara kasih, pengampunan, pengorbanan, dan sebagainya, kalau hal ini saja tidak beres, begitu pikir saya.

Sejak menyadari bisingnya dunia saat ini pun, saya jadi gelisah memikirkan bagaimana suara Tuhan dalam firman-Nya dapat tetap kita dengar dengan jelas. Karena kalau suara-Nya saja tidak jelas kita dengar, bagaimana kita bisa bilang bahwa kita suka pada firman-Nya itu? Lebih tidak masuk akal lagi kalau kita bilang kita bisa merenungkan firman itu siang dan malam.

Suka tanpa mendengar, merenung tanpa mendengar jelas, hm, saya meragukan kebenarannya.

Sekarang, saya akan fokus pada ayat 3 yang berkata, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” 

Ada 3 ciri orang yang suka firman Tuhan & merenungkannya siang dan malam:

  1. menghasilkan buahnya pada musimnya;
  2. tidak layu daunnya;
  3. apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Keren banget ngga, tuh?

Menghasilkan buah pada musimnya. Saya suka memikirkan buah seperti apa yang dimaksud di sini. Lalu saya teringat pada Galatia 5:22-23 yang menyampaikan tentang buah Roh.

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Orang ini pastilah orang yang kasihnya meluas, menembus lapisan sosial, agama, suku, dan ras apa pun yang ada. Pastilah dia dimampukan mengampuni orang yang bersalah sekalipun tidak pernah meminta maaf–bahkan tidak tahu bahwa ia salah–kepadanya. Dia bukanlah orang yang pemurung & tidak mampu bersyukur. Dalam kesehariannya, kondisi tidak enak tidak bisa merampas sukacita dan damai sejahtera yang dikerjakan Tuhan baginya. Meskipun ada orang-orang yang sangat membuatnya kesal, dia dimampukan untuk bersabar terhadap orang tersebut. Dia tidak pelit bantuan, entah materi atau pun non-materi, ketika dia memang bisa memberikannya. Dia berjuang untuk memberi pertolongan dan kebaikan bagi orang-orang yang memerlukannya. Sekalipun banyak alasan untuk membuatnya tidak setia, namun ia memilih setia, pada Tuhan dan pekerjaan baik yang disiapkan Tuhan baginya. Meski tampaknya taburan benih firman yang dikerjakannya belum berbuah, serta ia tidak tahu apakah dia bisa menuai/tidak, dia tetap setia. Dia tidak tenggelam dan larut dalam kesulitan yang ada, dia tetap berfokus pada Tuhan dan apa yang ingin dikerjakan Tuhan baginya. Kadangkala dia merasa sudah mencapai puncaknya dan ingin marah saja melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini (hehe), tetapi dia bisa menguasai diri dan tetap lemah lembut dalam berkata dan bertindak. Sekalipun bisa hidup dengan amburadul, dia memilih menguasai diri. Seperti itulah kira-kira buah yang terlihat dari mereka yang suka pada firman Tuhan serta yang merenungkannya siang dan malam. Tidak ada hukum yang menentang itu. Tidak ada pengadilan yang bisa memutus bersalah atas itu.

Tidak layu daunnya. Kalau membayangkan daun pada bagian ini adalah daun hijau yang memiliki klorofil, kita akan berbicara mengenai fotosintesis yang dilakukan di sana. Ini menarik karena melalui fotosintesis inilah terjadi transformasi air dan karbondioksida dengan pertolongan sinar matahari. Kalau tidak ada fotosintesis, tidak akan ada buah. Saya menghayati mereka yang suka firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam akan mengalami transformasi hidup–karena melalui itulah Roh Kudus dapat bekerja dengan optimal–sehingga orang ini pun berbuah. Mereka yang tidak layu daunnya, menurut saya adalah mereka yang terus mengandalkan Roh Kudus dalam setiap aspek hidupnya.

Apa saja yang diperbuatnya berhasil. Manis dan membangkitkan iman sekali, bukan? Orang ini tidak perlu mengejar keberhasilan; keberhasilan akan menjadi miliknya ketika dia meletakkan kesukaannya pada firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam. Ini tidak bisa dibalik karena kita juga mau meletakkan keberhasilan yang dimaksud sebagai keberhasilan yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Belum tentu mereka yang berhasil adalah berhasil dalam kehendak Tuhan. Iya, kan?

Karena itu, mari mengevaluasi diri sendiri. Sudahkah firman Tuhan menjadi kesukaan kita dan kita mau merenungkan firman itu siang dan malam?

Tambahan:
Persekutuan Besar Penilik yang diselenggarakan oleh Tim Pendamping Pelayanan Mahasiswa juga baru saja membahas mengenai bible movement. Kami menyusun Buku Acara yang di dalamnya terdapat 2 artikel yang membahas mengenai Disiplin Rohani dan Merenungkan Firman Tuhan Siang dan Malam. Silakan download di bawah ini, ya!
Buku Acara PB Penilik Maret 2017
Semoga menjadi berkat!

#hiddenthoughts

Belakangan mikirin hal-hal ini dan mau meletakkannya di sini agar tidak menumpuk di kepala.

  1. Get annoyed easily ketika mendengar kata-kata seperti “anjir”, “anying”, “shit“, “daym”, “dem”, “dayum”, dan sejenisnya. Ada satu radar di kepalaku yang akan secara otomatis membuat alisku mengernyit saat mendengarnya. Aku bisa pusing kalau kebanyakan dengar yang seperti ini–apalagi misalnya lagi out of nowhere ngeliat instagram story beberapa selebgram, salah satunya yang baru aja diverifikasi sama Instagram. Meh. Aku melihat kesantunan dalam berbicara sebagai salah satu aspek penting yang harus diupayakan oleh setiap orang–yaah ini standar dan prinsip yang terbentuk di diriku. Aku pun sedang mengusahakan itu. Karena perkara santun dalam berbicara tidak terbatas pada digunakan atau tidaknya kata-kata di atas, tapi juga dalam segala hal–misalnya merespons berita. Bagaimana cara kita memberi komentar di kolom-kolom berita, apa yang kita soroti, apa latar belakang komen kita, apa tujuan kita berkomentar seperti itu, dan sebagainya. Salah satu masalah yang masih tetap menjadi masalah di Indonesia adalah tendensi menyoroti keburukan orang, membumbuinya, mengawetkannya, dan membagikannya selagi hangat, all at once. Apalagi yang ngasih komentar tanpa solusi. Nyinyir. Ini bukan perkara mudah di tengah rona demokrasi yang dipancarkan konstitusi. Ini perkara sulit karena menuntut hikmat. How you tell your opinions without being judgmental and harsh. Susah kan? Itu baru bicara cara, gimana lagi kalau bicara motif? Nah ini yang jarang dipikirin sebelum ngomong. Well yeah, aku berharap kita bisa sama-sama belajar menjadi orang yang santun dalam berbicara. And to me personally, aku gamau gede nanti jadi mamak-mamak penggosip di gerobak tukang sayur komplek.
  2. Aku selalu bertanya-tanya, “kenapa ya, sedikit orang yang mau jadi pengurus atau pemimpin kelompok kecil? Kenapa ya, sedikit mantan pengurus yang mau berkomitmen menjadi penilik kampus yang setia? Kenapa ya, bahkan ada yang menganggap persekutuan Kristen itu ngga gaul? Apakah benar, Tuhan memang tidak menganugerahkan ‘kerinduan’ itu kepada mereka? Ataukah mereka yang tidak mengambil anugerah itu?” Aku tau dan ingat firman Tuhan yang bilang bahwa pertumbuhan rohani itu sumbernya adalah Tuhan. Siapa pun bisa menabur dan menuai, tapi tetap Tuhan yang memberikan pertumbuhan itu. Banyak juga yang bilang, titik klik masing-masing orang tersebut berbeda-beda. Aku setuju juga dengan itu. Karena itu aku tidak sedang membicarakan mereka yang belum percaya kepada Tuhan sebagai Juruselamatnya. Aku membicarakan kita yang mengaku percaya dan telah diselamatkan dari kubangan dosa yang membawa kepada maut. Aku sering bertanya-tanya, “jika memang kita merasakan kasih Tuhan yang besar yang menyelamatkan kita, dan kita bahkan ‘bermegah’ dalam perasaan kita tersebut, kenapa sedikit yang mau menjadi gembala (pengurus dan Pemimpin Kelompok Kecil) di persekutuan mahasiswa (misalnya) di kampusnya untuk kembali lagi membagikan dan menyaksikan kasih tersebut ke teman-temannya? Kenapa banyak dari kita yang berhenti di titik ‘aman’ saja–yang penting aku sudah percaya, sisanya aku hanya perlu ‘membereskan’ hidupku agar sesuai dengan kehendak Allah–tanpa punya semangat seperti perempuan Samaria yang sampai lupa membawa tempayannya dan pergi menemui orang-orang untuk menyaksikan perbuatan Tuhan baginya? Aku tidak lantas mengatakan semua harus jadi pengurus. Tetapi aku rasa untuk menjadi pembuat murid (misalnya PKK), itu bagian yang harus digumulkan setiap kita yang mengaku pengikut Kristus–alias Kristen–alias murid. Aku takut, ada yang hilang dari kekristenan kita.
  3. Sementara itu, aku juga banyak merenung tentang pelayanan-pelayanan yang sedang kukerjakan saat ini. Aku mengaku dengan jujur di hadapan Tuhan bahwa aku tidak sempurna dalam mengerjakan pelayanan tersebut. Rasanya ingin menjadikan kesibukan kerja sebagai faktor yang membuatku tidak bisa maksimal dalam pelayanan. Aku takut, KTB-KTB yang kupimpin hanya jadi kelompok-kelompok yang tanpa pertumbuhan rohani dan transformasi hidup. Aku takut, kehadiran kelompok itu hanya dianggap signifikan jika sedang butuh saja–alias biar ada temen sharing, ada yang ngedoain, dan sebagainya. Aku takut, pertemuan-pertemuan yang diadakan hanya untuk di-share ke Path atau Instagram, atau hanya untuk dijadikan ‘pemuas’ kebutuhan spiritual, sampai-sampai kita lupa untuk mencari dan menemukan Tuhan dalam kelompok-kelompok yang kita adakan. Kalau kelompok tumbuh bersama atau kelompok kecil atau kelompok apa pun lah yang kausebut tidak membuatmu semakin serupa dengan Kristus–ini saatnya bertanya, siapa yang sedang kita ikuti? Kalau kelompok tumbuh bersama tetap membuatmu menjadi pribadi yang egois, hanya memikirkan cita-citanya yang sekalipun baik, tidak punya kerinduan membawa orang lain mengenal Kristus, selalu khawatir akan masa depan, menjadi pemalas dalam kuliah maupun pekerjaan, selalu terlambat kalau janji sama siapa pun, menganggurkan chat penting yang padahal bisa kaubalas, masih suka mengeluarkan kata-kata yang tidak membangun dan tanpa faedah, senang melihat orang lain menderita, suka mencari perhatian orang lain, selalu ingin lebih diakui daripada orang lain, senang menggosip, tidak pernah merasa bersalah dan perlu meminta maaf kepada orang yang kamu lukai hatinya, munafik, iri hati, dan segala hal yang tidak mencerminkan Kristus, mari, saatnya mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan di dalam kelompok-kelompok tersebut.
  4. Dari tahun ke tahun, dosa pride memang tak kunjung lenyap, bahkan muncul dengan berbagai bentuk yang kelihatannya baik dan tanpa masalah. Aku mau mengevaluasi diri sendiri saja terkait hal ini. Saat ini aku sedang berhati-hati sekali kalau aku mau menulis sesuatu. Kenapa? Karena belakangan ini beberapa orang menyampaikan pujiannya terkait tulisan yang kubuat. Aku sadar betul, aku memang senang menulis dan membagikan perspektif yang prinsipil kepada orang lain. Aku selalu merasa, “wah, hal ini bagus sekali dan kalian harus juga mengetahuinya!” makanya aku menulis. Aku tidak pernah merasa tulisanku bagus–dan aku bersyukur atas perasaan ini–pengalaman jatuh dalam kesombongan dan ditebus Tuhan dari sana membuatku terlatih untuk tidak over-valuing diri & potensi yang ada. Aku perlu terus mengevaluasi motivasiku dalam menulis. Bisa jadi aku menulis hanya untuk mencari puji-pujian yang sia-sia dari manusia. Apa bedanya aku dengan orang farisi? Jangan-jangan, karena pikiran-pikiran itu aku menjadi sangat perfeksionis. Bukan karena aku takut aku tidak membagikan apa yang benar, melainkan karena takut tulisanku tidak cukup bagus untuk dipuji oleh orang-orang. Sejujurnya aku juga berharap setiap yang menulis bisa juga melakukan evaluasi semacam–namun tidak terbatas pada–ini. Ketika kita menjadikan tulisan sebagai cara dan alat menyatakan Tuhan, bodohlah kita kalau kita tidak juga menggunakan kekuatan dari kasih karunia-Nya ketika menulis. Celakalah kita, kalau kita lupa bahwa dalam menulis pun kita hanyalah bejana tanah liat–yang jelas dibentuk hanya dengan pertolongan Tuhan–dan menganggap kesalahan/ketidaksempurnaan adalah hal yang perlu diprioritaskan, lalu kehilangan pemahaman dan penghayatan bagaimana Allah memroses kita melalui tulisan demi tulisan kita. Tak kalah celaka, kalau tulisan tersebut malah kita jadikan mezbah bagi kemegahan diri sendiri dan lupa bahwa harusnya Tuhanlah yang kita tinggikan di sana.

To be continued…

Faithful in small things

“It’s important to show up–to engage in faithful, regular deeds, even if those deeds are small–as a way of claiming our priorities. It is not necessary to do everything, but do not fail to do something. As you are able, act. If you cannot act, speak up; if you cannot speak up, listen. If you can neither act, speak up, nor listen, by all means pray. Remain faithful in small things, and trust your acts will be echoed by others, achieving a cumulative effect. We’re in this for the long haul, and there is a need for all sorts of acts and activism.”

Beautiful :”)

Hoarded Ordinaries

Spartan

Stove and two chairs

Desk with guestbook

Thoreau's snowshoes

Thoreau's bed and desk

Weathered

Peace

Adirondack Writers' Guild

Henry David Thoreau's grave

February

View original post

30-Day Social Media Detox

30-day-social-media-detox

Saya selalu membayangkan bagaimana hidup saya tanpa sosial media (baca: Twitter, Facebook, Instagram, Path, Snapchat). Saya selalu penasaran, apa yang akan terjadi di dalam diri saya (terutama) tanpa penggunaan sosial media tersebut. Percaya tidak percaya, sekalipun saya terbilang cukup aktif di sosial media, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati saya, saya lebih suka tidak menggunakan sosial media. Saya juga belum tahu pasti alasannya. Mungkin alasan terbesar saya adalah karena saya termasuk tipikal orang yang introvert. Alasan berikutnya mungkin karena saya tidak suka ‘dibaca’ oleh siapa pun. Cukup aneh, ya? Ya, saya rasa juga begitu. Maka dari itu, jika saya membagikan apa pun (dan dalam bentuk apa pun) ke sosial media, sebisa mungkin saya mengusahakan bahwa itu bukan tentang saya, atau yang bukan terutama tentang saya, melainkan apa yang saya pelajari, apa yang dilakukan orang kepada saya, apa yang Tuhan lakukan terhadap saya, untuk apa saya melakukan sesuatu, dan sebagainya; hal-hal yang saya pikir dapat memberi perspektif baru yang menginspirasi orang-orang. Sekalipun mau tidak mau, akan ada irisan-irisan ‘tentang saya’ di dalamnya. Seperti tulisan ini, hahaha.

Saya juga tidak terlalu suka berinteraksi di sosial media. Kalau ada di antara kalian yang pernah memerhatikan, kalian akan menemukan fakta bahwa saya jarang like post Instagram following saya, saya juga jarang view Instagram Story following saya, atau left sticker di update-an Path teman-teman saya–saya bahkan jarang menambah teman terlebih dahulu di sosial media apa pun yang saya punya. I prefer doing that after I feel I really close with someone, in real life. Saya tidak sedang ingin menganalisis apakah yang saya lakukan ini benar/salah, baik/tidak, ini hanyalah sebuah kenyataan tentang saya. Saya sering dibilang sombong karena kenyataan ini. -_-

Setelah beberapa hari berpikir, saya ingin mencoba tantangan ini–yang saya dapat ketika iseng-iseng googling dengan keyword “30 days without social media”–dan bertemu dengan sharing dari orang-orang yang pernah melakukan tantangan ini di “https://jasondoesstuff.com/social-media-detox/“, https://stevecorona.com/how-30-days-without-social-media-changed-my-life, dan https://www.elephantjournal.com/2015/08/i-quit-social-media-for-30-days-this-happened/. Saya tertarik dan memutuskan untuk melakukannya juga.

Saya berharap saya dapat belajar banyak hal dari detox ini. Satu hal yang menarik, saya akan mengganti waktu-waktu yang biasa saya lakukan untuk menggunakan sosial media dengan hal lain seperti membaca buku, melakukan pendalaman Alkitab, menelepon orang-orang terkasih, menikmati detik demi detik yang biasanya saya gunakan untuk scrolling down feeds sosial media saya dengan berdiam di hadapan Tuhan. Menikmati sesuatu dalam diam, kapan terakhir kali melakukan ini, ya?

Berdasarkan pengalaman saya dulu (saya pernah tidak menggunakan Path dan Twitter selama hampir setahun karena saya menghapus akun saya dan saya pernah tidak menggunakan Instagram selama sekitar 2 minggu dan sebulan), hal positif yang saya dapatkan adalah saya merasakan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata, hahaha. Terlebih karena, di masa-masa itu saya jadi lebih banyak membaca buku rohani, buku-buku lain kesukaan saya, serta artikel-artikel menarik lainnya, saya juga banyak melakukan pendalaman Alkitab, dan satu lagi, karena ketika itu saya juga sedang menghapus semua lagu di ponsel saya (ya, bahkan sampai sekarang saya hidup tanpa lagu apa pun di ponsel saya) dan saya mulai mencari lagu-lagu rohani baru, saya merasa ‘dipulihkan’ lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan atas suatu kondisi yang cukup menguras emosi pada masa itu. Memang saya juga kehilangan update tentang kehidupan teman-teman saya, tapi ya sudahlah. Saat itu saya memang memilih demikian.

Maka dari itu, ketika saya sedang dalam kondisi emosi yang saya rasa ‘cukup baik’ seperti saat ini, saya penasaran apa yang dapat dilakukan tantangan ini terhadap diri saya. Ah ya, saya juga sedang akan mengerjakan beberapa hal yang saya taruh sebagai prioritas saya selama sebulan ke depan, sehingga saya harap detox ini membantu saya untuk fokus pada apa yang harus saya kerjakan–dan tentunya bisa mendengar suara Tuhan dengan jelas tanpa gaungan notifikasi apa pun dari akun sosial media saya–karena waktu untuk berdiam di hadapan Tuhan yang saya nikmati di depan akan bertambah.

Semoga Tuhan beserta saya! 🙂

I Am So Not Into Valentine’s Day

Pada dasarnya saya tidak terbiasa dengan perayaan jenis apa pun dan atas dasar apa pun. Saya tidak pernah merayakan ulang tahun saya (di keluarga) dengan definisi perayaan yang coba saya pikirkan telah menjadi kebiasaan di dunia ini. Hal yang paling mungkin saya lakukan bersama keluarga adalah makan bersama di rumah, dengan seluruh masakan yang dibuat oleh ibu saya, dan tentunya ada ikan mas arsik di sana. Cara saya merayakan ulang tahun saya berbeda dengan beberapa orang di sekitar saya. Saya bahkan tidak mengundang siapa pun.

Selain tidak pernah ‘merayakan’ ulang tahun di keluarga saya, saya juga tidak pernah mendapat hadiah ulang tahun dari keluarga saya. Terkait hadiah, saya juga tidak pernah mendapat apa-apa jika saya menjadi juara 1 di sekolah, atau ketika saya mendapatkan beasiswa sejak TK sampai SMP dan berkesempatan menjadi peserta olimpiade fisika di masa itu, atau ketika saya menjadi perwakilan sekolah memenangkan lomba matematika di kota saya, atau ketika saya masuk sekolah swasta terbaik di kota, serta berhasil masuk ke kelas unggulan di sana, atau berbagai prestasi baik lainnya–bahkan ketika saya masuk kampus yang bagus di negeri ini. Bagi saya, hal-hal tersebut adalah pencapaian-pencapaian yang bisa diapresiasi dengan ‘hadiah’ di masa itu, tetapi faktanya, saya tidak pernah mendapatkan apa-apa.

Kebiasaan tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang tidak menganggap satu hari lebih spesial dari hari yang lain, atau pencapaian yang satu menjadi lebih tinggi daripada pencapaian yang lain. Saya menyadari, sekalipun di masa itu saya sedih karena tidak mendapatkan apresiasi seperti teman-teman saya yang bisa dibelikan sepeda ketika dia naik kelas, I just keep going with my life. Saya menjadi orang yang bisa tetap berjuang meski tidak akan “diapresiasi” oleh orang lain. 

Salah satu perwujudan sikap saya terhadap perayaan terlihat ketika Valentine’s Day kemarin. Orang-orang mungkin akan berdebat tentang boleh/tidaknya merayakan Valentine, atau bagaimana seharusnya kita merayakan Valentine jika kita boleh merayakannya, atau mungkin memperdebatkan sejarah Valentine’s Day mana yang benar, yang sebenar-benarnya. I leave all the answers to them, karena sungguh, I don’t really care about it. 

Saya tidak merasakan apa-apa di hari Valentine kemarin; saya tidak merasa harus berbuat apa-apa di hari Valentine kemarin dan saya tidak sadar bahwa ternyata hari itu telah berlalu. Saya juga tidak sedang ingin menekankan bahwa setiap hari adalah Valentine, atau Valentine terbesar adalah ketika Tuhan rela menjadi kutuk demi menebus dosa-dosa umat-Nya. Saya tidak suka mensubstitusi satu budaya dengan makna lain. You got what I mean?

Tetapi saya tenang, karena dulu di setiap malam saya mendengar ibu saya berdoa kepada Tuhan untuk saya dan keluarga saya dengan begitu seriusnya, sampai dia menangis tersedu-sedu. Saya juga tenang karena ibu saya peka dengan memasak makanan kesukaan saya setiap kali saya pulang ke rumah. Saya juga tenang ketika ayah saya percaya kepada saya atas keputusan-keputusan penting yang saya ambil di dalam hidup saya. Saya juga dibentuk menjadi pribadi yang mensyukuri setiap hari dan setiap pencapaian, sebesar/sekecil apa pun dia menurut ukuran dunia ini. Saya juga tenang karena saya merasa tenang dengan keadaan yang seperti ini. 

Saya akui, hal-hal seperti ini yang sekarang membuat saya mudah belajar bersyukur di kondisi apa pun, sparkling or not, membuat saya selalu merasakan kasih sayang (khususnya) orang tua saya setiap harinya, serta membuat saya terbiasa dengan hal-hal sederhana yang tidak se-pinky Valentine’s Day.

I’m so not into Valentine’s day, karena pemaknaan saya pribadi terhadap hari ini tidak berbeda dengan hari-hari lain, dan ya, setiap orang berbeda-beda. Saya tidak sedang memusingkan hal lain selain, “what makes you feel the opposite with me, if that’s the case?” Karena setelah tahu jawabannyalah baru kita bisa memperdebatkan Valentine’s Day lebih jauh dan lebih dalam lagi.

But, don’t get it wrong. I am not an anti towards celebrations or gifts or something, because I personally really love to organize a celebration for my dearest people’s birthdays and I love to appreciate them with gifts, too! 

Goblin finale episode finally out, every buddy!

This drama captured my heart at its very first episode (it didn’t happen often to me) and always made me curious about what next. It also carried my feeling to what it tried to show–sadness, happiness, sorrow, or anything in between. I think that’s a sign of a good masterpiece could do.

I nominate this drama as the best Korean drama of all time (when I don’t even watch many Korean Dramas–but I bet you’ll agree with me). I like how it taught me about cherishing life and also about loving the ones you love, truly. Families, friends, lovers, everyone.

It has good original soundtracks too; Goblin is perfect–nah I think I was blinded by how I love this one so much–but whatever. I’d rather be blinded after all.

The ending tho, brought me in tears, but for a good reason. It was a happy ending, I mean the happiest ending that could ever happen to the Goblin & his bride.

Definitely will rewatch this, some time.

View on Path