Leaving My Heart in South Korea

1

Advertisements

It Isn’t Me

When I did my morning devotion about two days ago from Our Daily Bread, I was moved by the insights I got from 1 Corinthians 15:1-11, especially what I learned from Paul’s example.

Paul is the one who never took God’s credits and cheers though he was such an inspiring & influencing apostle in his context & era. His faithfulness, his encouraging words, his firm & sound doctrines, his father-mother kind of love, and his determined & passionate heart to preach & teach, have been blessings to many of Christians now & then. He could boast & be absolutely proud of those qualities but he didn’t.

Not that he underestimated those excellent qualities, but he knew where he got it and realize much where the applause should fly to: God himself.

“But by the grace of God I am what I am: and his grace which was bestowed upon me was not in vain; but I laboured more abundantly than they all: yet not I, but the grace of God which was with me.”

This example is good for anyone especially for those who feel they have done many things for God (call it in a Christian ministry or on a daily basis), for those who sacrifice everything to God, who do their best in everything God called them to, for those who feel that they are spiritually healthy, for those who may see the fruit of their every faithfulness in following Christ.

Paul’s example is balance–uhm I think ‘balance’ is not quite suitable for what I mean. He didn’t stuck on these two extremes: first, being too proud of himself, or the second feeling too inferior (until it frustrates him) because of God’s grace.

I mean, God’s grace that is with us–is truth–and I always believe that truth sets us free. We know we can do many things with God’s grace & strength (I might add) without feeling superior when we’re fruitful, but we also won’t be ashamed & embarrassed if we’re not fruitful yet–by any reasons we could mention. Because our fruitfulness is also according to God’s grace–nothing we can do to decide when or where we could see that.

This is freedom, the true one: I’m just His messenger–yet not I, but the grace of God that is with me. Acknowledging God’s grace in everything is the sign of our spirituality–how we understand and know God in a way He wants us to.

Thus saith the LORD, Let not the wise man glory in his wisdom, neither let the mighty man glory in his might, let not the rich man glory in his riches: But let him that glorieth glory in this, that he understandeth and knoweth me, that I am the LORD which exercise lovingkindness, judgment, and righteousness, in the earth: for in these things I delight, saith the LORD.

Soli Deo Gloria.

Typically Me

Setelah melakukan social media detox yang ke-3 seperti pada post ini, saya memutuskan untuk melakukan social media detox kembali. Detox ini sudah dimulai sejak hari ini (Rabu, 6 Desember 2017) dan akan berlangsung selama 20 hari ke depan. Media sosial yang akan saya detox penggunaannya adalah Facebook, Instagram, WhatsApp Story, dan Twitter.

Cheers & see you!

P.S.:

Saya lagi nonton drama Korea “Two Cops” dan suka banget sama scene ini:

Penting nggak?

#latenightpost

Okay, ini bukan waktu yang cukup bijak untuk menulis sesuatu karena seharusnya saya tidur. Sekarang sudah pukul 12.20 AM, ngomong-ngomong. Tapi, saya belum ngantuk & sayangnya, ada sesuatu yang ingin saya tulis (mumpung saya lagi inget). Jadi, kita mulai saja!

Belakangan ini, saya lagi banyak berpikir tentang “perempuan”. Sebagai orang yang tingkat imajinasinya cukup tinggi (#percayadiri), saya suka membayangkan tentang “perempuan gimana sih yang saya kagumi?” Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Saya termasuk salah satu orang yang suka mengagumi sesuatu/seseorang, meski itu adalah hal yang kelihatannya biasa-biasa saja. Saya juga suka menyusun kriteria “idaman” saya (apa yang dapat membuat saya kagum) akan sesuatu/seseorang agar saya bisa mencari untuk memperolehnya.

Untuk kali ini, kriteria idaman tentang perempuan ini muncul ketika saya membayangkan tentang masa depan. Jika Tuhan berkehendak saya menikah dengan seseorang yg sudah dipastikan-Nya, saya membayangkan, kira-kira pasangan hidup seperti apa yang didambakan dan didoakan oleh pasangan hidup saya, ya? Anyway, saya tidak bicara soal pacaran. Saya bicara soal menikah. Ada lebih dari 1001 perbedaan yang akan kita alami ketika kita pacaran dan menikah. Meski saya belum menikah, saya bisa pastikan itu. Itu cukup logis untuk diperkirakan.

Selanjutnya, saya suka membayangkan, jika Tuhan berkehendak saya memiliki anak, kira-kira ibu seperti apa ya, yang didambakan oleh anak saya?

Mungkin sebagian orang bertanya, “kenapa harus memikirkan apa yang didambakan orang lain?” Pertama, pendekatan ini adalah pendekatan yang sering saya lakukan kepada orang-orang di sekitar saya–pendekatan yang memikirkan apa yang menjadi ekspektasi seseorang terhadap saya. Bukan untuk mengimitasi terang-terangan ekspektasi tersebut, tapi pertama-tama mengujinya dengan firman Tuhan dan menggunakan hasil ujian tersebut dalam menjalin relasi.

Di saat yang bersamaan, tidak dipungkiri, saya tetap rindu berserah kepada Sang Pembentuk kriteria, dihancurkan dan dibentuk kembali, menjadi seperti yang Ia dambakan saja.

Proses ini berjalan beriringan dan tidak seharusnya saling bertentangan–ketika semuanya dilakukan bersama Tuhan & firman-Nya. Semuanya ini saya lakukan demi semata-mata kasih dapat dinyatakan dengan tepat, tidak menimbulkan kecurigaan, kekhawatiran, dan sebagainya.

Karena, kadang-kadang kamu bermaksud mengasihi, namun beberapa orang tidak bisa handle & salah mengerti. It’s important to know your ‘audience’.

Lalu, setelah membayangkan kriteria-kriteria perempuan tersebut, saya tersenyum pada 1 puzzle yang sudah tersusun di kepala dan hati saya. Puzzle itu membentuk sebuah doa, “saya mau menjadi pasangan hidup yang terbaik untuk pasangan saya, menjadi ibu terbaik untuk anak(-anak) saya, demi hormat & kemuliaan Tuhan yang sudah dan selalu membentuk saya, amin.”

Catatan:

Kalau kekaguman pada seseorang membuatmu tidak semakin mengasihi Tuhan & melakukan perintah-Nya, membuatmu jauh dari logika, waspadalah. Kekaguman itu sudah menjadi berhala.

Tuhan Sembuhkanku

“Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan. Kekuatan perbuatan-perbuatan-Mu yang dahsyat akan diumumkan mereka, dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan.” – Mazmur 145:5-6

Seminggu lalu aku merasakan sakit di bagian dada yang membuatku cukup khawatir. Sakitnya tidak terlalu memberatkanku karena hanya timbul sesekali saja, misalnya jika aku meregangkan badan, jika aku tidur, jika aku menekuk badan, jika aku terlalu banyak berbicara, serta jika aku ingin bernapas kuat-kuat. Di luar itu, semuanya seperti baik-baik saja.

Aku sempat berpikir aneh-aneh, apakah ini angin duduk, TBC, ataukah beberapa penyakit lain yang di dalam keterbatasanku kupikir bisa saja sedang kuderita.

Tapi ada yang tidak biasa pada Selasa, 31 Oktober 2017 lalu. Kalau biasanya sakitnya hanya muncul sesekali, saat itu sakitnya malah konstan kurasakan, tidak peduli aku sedang apa. Aku tidak tenang karena kala itu sakitnya cukup menggangguku yang sedang berada di kantor. Salah seorang temanku menyarankan agar aku melakukan medical-checkup, manakala ada hal-hal yang lebih baik kuketahui sejak dini. Oke, saran itu akan kulakukan, tetapi permasalahannya saat itu aku butuh sesuatu untuk setidaknya meredakan rasa sakit yang ada.

Malamnya pun, aku jadi ragu apakah aku datang ke konser JPCC Worship “Made Alive” atau aku pulang saja dan beristirahat. Aku enggan pulang karena tidak nyaman jika kondisi sakitku harus kulewati sendirian di kamar. Tetapi pergi ke konser juga sebenarnya tidak terlalu baik karena itu berarti aku akan berdesak-desakan dengan banyak orang (setidaknya untuk masuk ke hall-nya) serta aku akan kena AC lagi. Masuk angin lagi deh.

Tapi aku tetap datang karena dorongan yang kuat untuk memuji Tuhan melalui beberapa lagu yang secara personal telah menjadi sarana-Nya dalam menguatkan satu keputusan yang telah kuambil saat itu.

Sakitnya belum membaik apalagi hilang.

Pada beberapa lagu di awal konser itu pun aku masih bernyanyi sambil meringis sakit dan memegangi sweater yang kupakai menutupi bagian depan badanku. Aku masih ingat saat itu aku bergumam kira-kira, “Lha, kok sakitnya malah jadi ngeselin, ya?”

Sampailah pada saat salah satu personil JPCC Worship mengajak kami untuk berdoa dan menyatakan syukur kepada Tuhan. Di saat yang lain mungkin sedang memanjatkan syukur, aku memutuskan berdoa memohon kesembuhan dari Tuhan.

Aku ingat pada saat itu aku bilang, “Tuhan, aku tahu saat ini Tuhan bisa sembuhkan sakit yang sedang kurasakan ini. Aku mohon, angkatlah sakit ini dan pulihkanlah aku ya Tuhan. Sakit ini membuatku khawatir sekali, Tuhan tahu itu, dan membuatku berpikir yang aneh-aneh. Tuhan, aku tahu Tuhan adalah Tabib di atas segala tabib dan Tuhan sanggup menyembuhkanku pada saat ini. Namun, jika pun Tuhan berkehendak lain, berilah aku kekuatan untuk melaluinya. Amin.”

Selesai berdoa, aku kembali menikmati konser seperti biasa. Masih ada sekitar 1,5 jam lagi sampai selesainya konser tersebut; waktu yang cukup panjang untuk kulewati jika masih harus dengan rasa sakit tadi. Aku memilih tidak mengkhawatirkan rasa sakitnya karena aku sudah menyerahkannya kepada Tuhan dan fokus menyanyikan lagu-lagu di sepanjang konser tadi. Aku tidak lantas menunggu-nunggu kapan doaku dijawab Tuhan dan lalu berhenti menyembah Tuhan melalui lagu-lagu di konser itu.

Selang beberapa menit, aku mulai tidak merasakan rasa sakit itu. Aku berpikir, “Hm, oke, jangan senang dulu, jangan banyak gerak dulu, nikmati saja kalau saat ini Tuhan memang sedang mengerjakan kesembuhan yang kau doakan tadi.” Meski begitu, tidak bisa kupungkiri aku jadi banyak senyum di sepanjang lagu. Sempat terucap, “Secepat itukah?” Sembari terus bernyanyi dan tidak berfokus pada rasa sakit tadi (dan bahkan kesembuhan yang mulai kurasakan), aku merasakan Tuhan menguatkanku dan benar-benar meneguhkanku atas keputusan yang telah kuambil beberapa waktu lalu serta mendapati diriku begitu rendah dan tidak bisa tidak memanjatkan syukur dan sembahku pada-Nya–tujuan awal aku bersemangat datang ke konser ini.

Ini lagu yang paling kuat berbicara untukku:

Konser pun selesai dan aku pulang. Biasanya di kamar aku akan mulai diganggu oleh rasa sakit itu tapi kali ini tidak. Tidak ada sedikit pun sakit bahkan ketika kucoba meregangkan badanku. Aku terharu. Aku berkata di dalam hati, “jika besok dan seterusnya tidak lagi kurasakan sakit itu, aku berjanji akan menceritakan ini kepada orang lain.”

Benar saja, bahkan sampai sekarang tidak ada lagi rasa sakit yang kurasakan. Bagaimana aku menjelaskan ini? Aku tidak melakukan pengobatan apa pun di sepanjang konser ketika rasa sakit itu masih nyata kurasakan. Bukan berarti pengobatan dan medical-checkup menjadi tidak penting, tetapi kalau memang Tuhan berkenan dan berkehendak menyembuhkan, dengan atau pun tanpa itu, kurasakan dia bisa hadirkan kesembuhan bagi kita.

Mungkin manusia bisa menjelaskan secara medis kesembuhan yang kualami, tetapi aku tetap akan percaya bahwa perbuatan tangan Tuhan sangat ajaib dan dahsyat, dan dengan ini kuumumkan kepada kalian.

Aku berdoa, semoga siapa pun yang membaca cerita ini, baik yang sedang sakit jasmani/rohani, atau pun memiliki orang-orang terkasih yang sedang mengalami sakit, tetap percaya dan mengandalkan Tuhan, tetap berserah dan tidak berhenti menyembah dan memuji Tuhan. Semoga kita yang dalam penantian akan kesembuhan-kesembuhan itu bisa mengenal Pribadi Tuhan dan dimampukan berserah kepada-Nya. Dengan begitu, sembuh atau pun tidak, kita sudah kenal bahwa Tuhan tidak bersalah dalam setiap keputusan-Nya. Itu adalah yang terbaik untuk kita.

Soli Deo Gloria.

 

Hidup di Masa Kini dengan Membuka Mata Lebar-Lebar

Hari-hari ke belakang sejujurnya berpotensi menyulitkan saya untuk memercayai bahwa Allah sungguh-sungguh memerhatikan saya. Beberapa hal yang menyulitkan saya tersebut di antaranya adalah kondisi-kondisi tidak ideal (salam kenal, saya ini idealis), yang tampaknya tidak ‘dihadiri’ Allah seperti: kerja lembur-lembur sampai pagi, orang-orang yang hobi marah-marah, mereka yang kurang peka dan peduli dengan nasib sesama, kebingungan-kebingungan di antara 2 pilihan, ego diri yang mengharapkan perhatian manusia–yang akhirnya dikecewakan oleh harapan itu, dan masih ada hal lain.

Namun saya bersyukur ada juga hal-hal yang menolong saya untuk memercayai perhatian-Nya. Hal-hal itu di antaranya: masih ada waktu-waktu teduh untuk diam dan tenang, kembali mengingat firman-firman Tuhan, membaca dan menggalinya, masih ada waktu untuk berdoa, mencari dan mendengarkan lagu-lagu rohani yang alkitabiah, berefleksi akan apa yang sudah dilalui di sepanjang hari dan mengingat kebaikan-kebaikan yang terjadi, serta menyadari kesehatan yang masih dapat dirasakan meski sepatutnya badan ini remuk dan mungkin saja jatuh sakit. Tidak hanya itu, saya ditolong kembali memercayai bahwa Allah memerhatikan saya melalui persekutuan rohani (hai, Persekutuan Oikumene FHUI, hai TPPM Perkantas!), di mana saya bisa mempunyai kesempatan emas untuk ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang bertumbuh dalam Kristus juga.

Pagi tadi saya memutuskan untuk melakukan penggalian Alkitab dari Matius 6:19-34 dibantu oleh buku PA karya Juanita Ryan dengan judul “BUSYNESS”. Saya menetapkan hati untuk melakukan ini karena saya benar-benar sangat sibuk sudah hampir sebulan ini dan hampir tidak punya waktu untuk berdiam mendengar Tuhan bercakap-cakap dengan saya, one on one, melalui penggalian Alkitab secara pribadi. Saya juga semangat memulai penggalian Alkitab ini karena saya yakin Tuhan mau menyatakan sesuatu untuk saya dan kesibukan saya saat ini.

Saya membaca Matius 6:19-34, bagian yang sudah cukup sering saya baca, tetapi tidak pernah berhenti mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik saya dalam kebenaran. Beberapa poin yang saya pelajari dari bagian tersebut akan saya tuangkan dalam tulisan ini, sesuai dengan poin pembahasan yang ada pada buku PA yang saya pakai.

Matius 6:19-24:

Yesus mengajar saya dan Anda untuk tahu apa yang menjadi prioritas bagi orang-orang yang mengaku dirinya pengikut Kristus yakni: mengumpulkan harta di surga, bukan di bumi–mencari kerajaan Allah dan kebenarannya.

Perbedaan antara harta di bumi dan harta di surga adalah bahwa di bumi, harta itu dapat dirusak oleh ngengat dan karat [by the way, tahu wujudnya ngengat itu gimana, ngga? Kalau ngga, klik di sini ((helpful banget kan))]. Harta di bumi juga bisa dibongkar sama pencuri dan…tentunya dicuri. Kalo dibongkar terus dipandang-pandangin doang sih ngga masalah, ya.

Yang terlintas di benak saya ketika memikirkan harta di bumi dan di surga adalah: harta di bumi ya literally harta di bumi yang notabene bernilai buat dunia ini seperti uang, materi, prestasi, pengakuan, penghargaan, kenyamanan hidup, dan sebagainya.

Harta di surga ini yang cukup kompleks buat saya. Ketika saya merenungkan apa sih yang dimaksud dengan harta di surga, saya teringat pada beberapa khotbah di bukit lainnya yang di dalamnya ada kata “upah”–kira-kira upah adalah harta kan, ya? Lalu saya coba menguraikan beberapa hal yang menghasilkan upah (harta) di surga, di antaranya:

  • dianiaya oleh sebab kebenaran (Mat 5:10-12)
  • mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka (Mat 5:44-48)
  • memberikan sedekah secara ‘tersembunyi’ (Mat 6:4)
  • berdoa tidak seperti orang munafik yang bertele-tele (Mat 6:5-7)
  • dan masih banyak lagi.

Poin menggelitik bagi saya dari masalah pengumpulan harta ini adalah: karena di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. Sungguh amat benar. Melalui kalimat Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Aramaic: ‘wealth’ atau ‘property)”, kita diajar untuk hanya mengabdi kepada Allah saja. Dengan itulah kita bisa benar-benar mengasihi-Nya dan setia kepada-Nya.

“Money is not instrinsically evil. The wise person works hard and makes financial provision for lean times (Prov 6:6-8). Believers have a responsibility to provide for their needy relatives (1 Tim 5:8) and to be generous with others in need (Prov 13:22; 2 Cor 12:14). We can enjoy what God has given us (1 Tim 4:3-4; 6-17). What Jesus forbade here was selfishness. Misers hoard more than they need (James 5:2-3). Materialists always want more. It’s the love of money that is a root of all kinds of evil (1 Tim 6:10).” – Constable’s Note.

Pernah menemukan diri seperti ‘biasa’ saja melakukan hal yang menyakiti hati-Nya? Pernah menemukan diri ‘putus-nyambung’ dalam berelasi dengan-Nya? Atau, pernah menemukan diri lebih suka melakukan dosa daripada melakukan firman-Nya? Jika ya, sepertinya kita tidak sungguh-sungguh hanya bertuhankan Kristus.


Hidup di masa kini berisi banyak godaan yang mungkin tidak terang-terangan, melainkan samar-samar maupun tersembunyi, terkait mengejar harta duniawi dan menjadi hamba uang. Saya pun tidak luput dari godaan itu. Dua hal yang sedang banyak menggoda saya adalah godaan membeli handphone baru (yang super mahal–ya ampun ada juga ya handphone semahal itu) karena melihat teman saya membeli handphone baru. Itu refleks aja sih, meskipun setelah saya pikir-pikir (dan melihat dompet) tampaknya saya baru saja bermimpi. Ketika itu saya sempat bertanya pada teman saya, “apa pendapat kalian terkait orang-orang yang mau membeli iPhone 8?” Salah satu dari mereka menjawab, “ya ngga apa-apalah, kalau uangnya ada 1 trilliun, ya ngga masalah mau beli iPhone 8.” Kemudian saya merenung, apakah perilaku kita sebagai konsumen ditentukan terutama oleh berapa uang yang kita miliki? Oke, mungkin saja. Tetapi sebagai konsumen kristiani, ada Roh Kudus yang mengambil peran utama dalam menentukan handphone mana yang sebaiknya kita beli. Roh Kudus yang bahkan sanggup menelisik sampai ke alasan dan motivasi terbesar kita untuk membeli. Ada pengendalian diri yang menjadi buah pertumbuhan rohani kita.

Godaan samar-samar kedua adalah ketika saya melihat foto-foto travelling di Instagram feed orang-orang, baik yang saya kenal maupun tidak. Saya harus akui, secara estetika memang bagus-bagus sih yang mereka post (ya iyalah, posenya di tempat-tempat bagus, coba mereka foto di sebelah tong sampah di bengkel tua Mexico City, pasti berasa lagi foto di sebelah Soto Ngawi Matraman deh -_-) Oke, balik ke godaannya. Beberapa kali (jujur, ngga sering sih) saya menggumam, wah pengen deh tahun depan ke situ, ke sana, ke mari, tanpa saya tahu kenapa dan untuk apa. Jangan-jangan cuma untuk di-post di Instagram. Duh, kehidupan masa kini.

Matius 6:25-34: Jangan kuatir akan hidupmu

Kita gagal mengutamakan dan hanya mengabdi kepada Allah karena kita sering kuatir akan hidup kita. Ini adalah wujud kealpaan kepercayaan pada Allah yang sesungguhnya sedang memelihara hidup kita. Kekuatiran kita tidak berdasar.

Pada bagian ini Yesus mengingatkan agar kita tidak kuatir akan hidup ini, akan apa yang hendak kita makan atau minum, dan agar tidak kuatir pula akan tubuh, akan apa yang hendak kita pakai. Yesus mengajak kita melihat dari perspektif-Nya–melihat pada pemeliharaannya akan dunia ini–dengan meminta kita memandang burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapa. Yesus juga meminta kita memerhatikan bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, yang bahkan Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

“God’s providential grace should not make the disciple lazy, but confident that He will similarly provide for His children’s needs. God often dresses the simplest field more beautifully than Israel’s wealthiest king could adorn himself. Therefore, anxiety about the essentials of life really demonstrates lack of (“little”) “faith” in God.” – Constable’s Note.

Kebanyakan dari kita sibuk mengumpulkan harta di dunia karena kita merasa kuatir akan masa depan kita. Ini yang membuat kita tidak menganggap perlu hal-hal yang spiritual, atau ya, terlibat sekadarnya saja. Ketika kuliah, kita tidak mau dibina di persekutuan mahasiswa Kristen karena kita selalu merasa sibuk dengan impian-impian dan ambisi-ambisi; kita kuatir CV kita tidak cukup meyakinkan para pemberi pekerjaan untuk hire kita. Lihatlah, kenapa ya kegigihan kita justru disetir oleh kekuatiran dan bukan karena persembahan bagi Allah, yang memberikan kesempatan kuliah buat kita?

Ketika sudah bekerja kita mulai meninggalkan persekutuan rohani (dan bahkan anak-anak rohani kita) karena kita berpikir, ini saatnya saya mempersiapkan masa depan saya; saya akan bekerja di sini selama sekian tahun, lalu ke sana sekian tahun, lalu akan menikah dengan orang yang seperti ini pada tahun sekian, dan sebagainya. Semua perencanaan itu kita dasarkan karena kita kuatir tidak punya harta cukup untuk hidup di dunia ini.

Akhirnya apa? Sudah terlalu sibuk untuk memikirkan harta di surga.

“The man who feeds his heart on the record of what God has done in the past will never worry about the future.” – Barclay.

Kekuatiran berdampak serius bagi iman kita. Saya copy Matius 13:22 (BIS):

Benih yang jatuh di tengah-tengah semak berduri ibarat orang-orang yang mendengar kabar itu, tetapi khawatir tentang hidup mereka dan ingin hidup mewah. Karena itu kabar dari Allah terhimpit di dalam hati mereka sehingga tidak berbuah.

Mungkin kita tetap membaca firman, tetapi kita kuatir tentang hidup kita. Dampaknya, firman itu terhimpit dan tidak menghasilkan pertumbuhan yang baik untuk memberi buah bagi kemuliaan Tuhan. Jelas dan sinkron, karena hidup yang penuh kekuatiran sebenarnya adalah hidup yang mengabaikan Allah dan pemeliharaan-Nya. Bagaimana bisa firman tersebut menjadi iman dan berbuah?

Yang terjadi jika saya dan Anda mengkuatirkan masa depan dan di saat yang bersamaan tidak tinggal dalam pemeliharaan Allah adalah hidup kita berangsur-angsur menjadi sama seperti orang yang tidak mengenal Allah, jauh dari persekutuan dengan Allah. Kita selalu mengabaikan-Nya.

“In the end, just as there are only two kinds of piety, the self-centered and the God-centered, so there are only two kinds of ambition: one can be ambitious either for oneself or for God. There is no third alternative.” – John Stott.

Bagi saya secara pribadi, perkataan Yesus mengenai kekuatiran ini berbicara bahwa yang terpenting dan yang terutama adalah sikap hati yang gigih untuk mencari terus kerajaan Allah di mana Allah-lah yang sungguh-sungguh menjadi Raja yang memerintah atas hidup kita dan kita mau melakukan kehendak-Nya. Semuanya akan ditambahkan pada kita. Tidak ada yang perlu dicemaskan tentang hari esok dan masa depan. Yang utama, hari ini, mari izinkan Allah mengatur, mengutak-atik, menghancurkan, membangun lagi, mendewasakan hidup kita, dan mari, hari ini kita lakukan kehendak-Nya.

Mari hidup di masa kini dengan membuka mata lebar-lebar akan apa yang penting dan terutama di dalam hidup kita.

 

“It is impossible to be a partially committed or part-time disciple; it is impossible to serve two masters, whether one of them be wealth or anything else, when the other master is meant to be God.” – Hagner.

The primary thought in the area of religion is— keep your eyes on God, not on people. Your motivation should not be the desire to be known as a praying person. Find an inner room in which to pray where no one even knows you are praying, shut the door, and talk to God in secret. Have no motivation other than to know your Father in heaven. It is impossible to carry on your life as a disciple without definite times of secret prayer.

Saturday, September 16.

utmost.org