Menuju 29 di 1-9

Rasanya lega memasuki tahun ke-29 di bumi tanpa beban yang tidak perlu. Bukan karena nggak ada yang membebani, tetapi kurasa aku udah lebih ngerti gimana menghadapinya. Entah kenapa, hatiku sangat tenang dan damai sejahtera menjalani hari setelah 28 tahun sudah berkutat dengan berbagai disintegrasi ekspektasi dan realitas. Sampai rasanya, nggak akan terlalu banyak lagi hal yang bisa bikin aku kaget setelah ini.

Aku sudah terbiasa mengalami banyak hal dan aku nggak mau mundur lagi. Karena aku harus siap menghadapi beberapa hal yang baru nantinya.

Slow response chats tidak lagi menggangguku. Short response chats sudah biasa. Tidak diperlakukan sama seperti yang kulakukan terhadap seseorang tidak membuatku kenapa-kenapa lagi. Dianggap mengecewakan tidak lagi menghancurkanku. Tidak diingat perbuatan-perbuatan baiknya tidak lagi membuatku bingung.

Dilupakan tidak lagi membuatku kesal.

Aku tidak berharap apa-apa lagi dari orang lain. Tidak ada lagi hal signifikan yang kugantungkan pada siapapun saat ini. Aku tidak berharap disukai. Aku tidak berharap dikagumi. Pujian tidak lagi membuatku berbunga-bunga. Semua itu hanya sementara. Bahkan, beberapa kali aku berharap dianggap bodoh, untuk tahu rasanya diremehkan. Supaya aku tidak meremehkan siapapun.

Aku tidak merasa perlu membuktikan apa-apa. Aku hanya berusaha sekuat tenaga. Aku tidak selalu termotivasi, tidak selalu bersemangat. Tetapi aku nggak merasa itu hal yang terlalu pelik.

Hidup masih seperti semangkuk sup panas dan aku masih seperti sebuah garpu.

Bekerja tetaplah sulit, tetapi itu tidak lagi mengejutkanku. Berelasi dengan manusia adalah menabung risiko dan potensi sakit hati, tetapi aku nggak peduli lagi. Semua sakit hati itu pun hanya sementara. Untuk apa dijadikan beban seolah selamanya?

28 tahun ini adalah perjuanganku menghadapi diri sendiri. Ternyata memang seperti itu adanya. Aku sangat bahagia ada di titik ini. Anehnya, bukan karena apa yang ada padaku, melainkan karena apa yang kini tidak ada lagi padaku, karena ada yang tahu, itu tidak perlu.

Yang kusebut berkat ialah ketika aku tidak memiliki apa yang tidak perlu itu.

Sehingga, kurasa perjalanan ke depan akan lebih tentang membuang terus apa yang tidak perlu; hal-hal buatan sendiri yang membebani. Biarlah yang terus dikejar ialah apa yang tidak akan sementara.

I want to celebrate every opportunity light-heartedly.

P.S.:

Happy birthday too, Jeon Jungkook! What an unexpected journey of knowing someone who lives his life so genuinely like you. The idea you constantly give about how someone should BE really inspires me. I’m still processing how I become so sure about my admiration (not romantically) toward someone I barely know. But, it’s something wonderful about human connection, isn’t it?

#Komentar “You Are Not Enough (and That’s Okay): Escaping the Toxic Culture of Self-Love” oleh Allie Beth Stuckey

Buku ini merupakan upaya Stuckey untuk membahas 5 mitos tentang diri yang sering membahayakan kaum milenial, Kristen dan non-Kristen. Dia menyebut bahwa buku ini adalah tentang membongkar berbagai kebohongan atas budaya ‘self-love’ dan menggantinya dengan kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab. Ada 5 hal yang disebutnya sebagai mitos, yaitu: 1) you are enough, 2) you determine your truth, 3) you’re perfect the way you are, 4) you’re entitled to your dreams, dan 5) you can’t love others until you love yourself.

Mitos #1 You are enough

Penulis memulai tulisannya dengan mengatakan bahwa proses menjadi ‘orang dewasa’ membuat manusia merasa bahwa ternyata mereka tidak memiliki hal-hal yang diperlukan untuk mencapai impiannya. Berbeda dengan masa kanak-kanak di mana kebanyakan anak kecil biasanya sangat percaya diri terhadap cita-cita, ambisi, dan impiannya. Walaupun menurut saya tidak semuanya demikian, namun ide ini tidak asing bagi saya. Saya ingat saya tidak pernah ragu mengatakan ingin jadi apa saya ketika besar nanti. Saya memang seorang pemimpi ulung. Buku harian saya penuh dengan daftar cita-cita dan impian. Saya tidak terlalu memikirkan apakah itu realistis atau tidak. Namun setelah beranjak remaja dan dewasa, keraguan akan kapasitas diri pun tampak nyata. Mendadak impian yang tadinya tidak terkesan memalukan sama sekali menjadi begitu memalukan ketika saya melihatnya dengan kacamata keterbatasan saya.

Namun dunia berusaha memberikan ‘obat’ untuk perasaan ‘tidak cukup’ tersebut dengan menolaknya sama sekali. “You are enough”, katanya. Menurut penulis, obat ini datang bersamaan dengan resep ‘self-love’ yang dipakai untuk menguatkan manusia dengan berkata bahwa mereka tidak membutuhkan siapapun untuk mencintai dirinya dan membuat dirinya merasa puas. Manusia diajar untuk memantrai dirinya bahwa mereka hanya membutuhkan diri mereka sendiri untuk merasa cukup dan sempurna. 

Penulis menjelaskan bahwa berkaitan dengan mitos pertama ini, budaya ‘self-love’ seperti di atas akan memberikan siklus yang melelahkan. Siklusnya seperti ini: ketika seseorang merasa insecure/anxious atas dirinya (bergumul dengan ketidakcukupannya), datanglah kebohongan yang berkata, “tidak, kamu cukup apa adanya, kamu tidak memerlukan orang lain untuk menolongmu di situasi ini”. Untuk semakin meyakini bahwa itulah resep yang tepat atas insecurity, maka muncullah berbagai buku, video, podcast, bahkan lagu-lagu masa kini yang memperkenalkan apa itu ‘self-love’ dan bagaimana manusia dapat mengaktualisasikannya di dalam kehidupannya. Tetapi anehnya, manusia tidak pernah merasa benar-benar sembuh dari insecurity-nya. Pergaulan yang erat dengan berbagai guru ‘self-love’ yang dunia ini berikan tidak sanggup membuat manusia berhenti merasa tidak cukup dengan dirinya sendiri. 

Penulis berkata, kalau benar kita cukup dengan apa adanya kita, seharusnya kita tidak perlu berusaha terlalu keras untuk meyakinkan orang lain bahwa itu benar. Sementara, hal inilah yang terjadi di dalam siklus yang melelahkan itu. 

Mitos ini perlu dihentikan. Karena itu penulis dengan sangat yakin menegaskan bahwa manusia tidak diciptakan untuk merasa cukup dengan dirinya sendiri. Jika demikian, manusia tidak akan pernah merasa membutuhkan Allah dan sesamanya. Hal inilah yang bertentangan dengan rancangan penciptaan Allah atas manusia berdasarkan iman kristiani. 

Namun saya pikir penulis perlu mengelaborasi lebih lanjut ide tersebut. Penulis perlu mengasumsikan bahwa pembaca adalah orang-orang dari berbagai latar belakang keyakinan. Saya sendiri memiliki argumen berkaitan dengan hal ini. Menurut saya, ada pendekatan lain yang lebih tepat terutama jika ditujukan kepada orang-orang percaya, apalagi mereka yang sudah dimuridkan lebih jauh di dalam kekristenan. 

Melihat apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus melalui percakapannya dengan Perempuan Samaria di dalam Injil Yohanes 4:14, “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal“, in a sense of being ‘content’, atau merasa puas dan tenang, seorang yang percaya kepada Kristus adalah pribadi-pribadi yang cukup.

Memang benar bahwa kecukupan/ketidakcukupan yang dimaksud oleh penulis sebelumnya lebih ke arah hal-hal teknis seperti keahlian, talenta, kesempatan-kesempatan, dan seterusnya. Namun jika penulis kemudian mengarahkan jawabannya kepada rancangan penciptaan Allah (bahwa manusia membutuhkan Allah dan sesama), pendekatan ini harus ditambahkan. Artinya, orang percaya harus melihat keberadaan dirinya sebagai ciptaan yang ditebus oleh Kristus dan dengan demikian memberikannya rasa cukup dan puas yang dibutuhkan jiwanya. 

Orang percaya tidak boleh dilihat sebagai pribadi yang terpisah dari Allah penciptanya, sebab kini Kristuslah yang hidup di dalamnya, Roh kudus berkuasa di dalamnya. 

And Christ lives within you, so even though your body will die because of sin, the Spirit gives you life because you have been made right with God. The Spirit of God, who raised Jesus from the dead, lives in you. And just as God raised Christ Jesus from the dead, he will give life to your mortal bodies by this same Spirit living within you. Romans 8:10-11.

Dengan demikian pernyataan “we are not enough” tentu valid dalam pengertian jika manusia tidak percaya kepada Kristus. Ini menjadi titik tolak yang membuat manusia baru dan manusia lama akan berbeda dalam memandang talenta, bakat, kesempatan, dan apapun yang ada di dalamnya. Di saat bersamaan, tidak menolak kebenaran bahwa yang namanya kerja keras dalam mengembangkan dan mengusahakannya tetaplah diperlukan. Namun semuanya dilakukan dengan kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita yang percaya. Jika orang Kristen tidak secara sadar dan intensional mengingatkan dirinya bahwa Kristuslah yang hidup di dalamnya, maka perlahan tapi pasti dia dapat lupa bagaimana seharusnya dia memandang dirinya sebagai seorang pribadi–individual dan sosial di saat yang bersamaan.

Mitos #2: You Determine Your Truth

Dunia ini membuat kita tunduk pada kebenaran subjektif yang tidak memerhatikan ukuran apa pun, baik secara ilmiah, alkitabiah, sejarah, dan seterusnya. Sementara, apa yang kita percaya akan memengaruhi keputusan-keputusan pribadi yang kita ambil serta relasi-relasi yang kita bangun. Penulis berkata jika manusia tunduk pada kebenaran subjektif tersebut, maka yang terjadi hanyalah hal-hal yang buruk. Inilah mitos kedua yang muncul bersama dengan budaya ‘self-love’. 

Dia memberikan contoh melalui kisah seseorang bernama Chloe. Singkat cerita, Chloe mengalami pelecehan seksual semasa kuliah, lalu dia frustrasi dan mengatasinya dengan alkohol, seks bebas, serta obat-obatan terlarang. Dia pun masuk panti rehabilitasi dan di sana dia mulai membaca Alkitabnya lagi (karena dia dibesarkan sebagai Kristen). Setelah rehab, dia mulai bingung bagaimana caranya memperbaiki ulang hidupnya; apa yang harus dilakukannya, dan bagaimana dia mengenal kehendak Tuhan. Sayangnya, kebingungan tersebut diisinya dengan mengikuti cara teman-temannya menemukan tujuan hidup: travelling. Dia merasa itulah cara supaya dia menemukan dirinya dan tujuan hidupnya sesungguhnya. Namun, di setiap kota yang dia kunjungi, dia terlibat hubungan seksual dengan laki-laki di sana. Sampai akhirnya dia hamil di luar nikah dan memutuskan kembali ke Texas, kota asalnya. Dia melahirkan anaknya dan menjadi seorang ibu. Namun dia berkata bahwa dia menyesal kenapa ia masuk ke kehidupan seorang ibu melalui cara tersebut. Dalam upayanya menemukan dirinya, dia malah tersesat. 

Kisah Chloe ini menunjukkan bahwa kita tidak cukup baik dalam menciptakan kebenaran kita sendiri. Sebab pikiran-pikiran kita seringkali membingungkan kita sendiri. Intuisi kita seringkali salah. Perasaan-perasaan kita sering menipu kita. Keinginan-keinginan kita seringkali salah tempat. Sederhananya, mendasarkan kebenaran pada persepsi pribadi seringkali membuat kita tidak tahu harus melangkah ke mana. Kita mungkin berpikir kita sudah berada di jalan yang tepat, terutama kalau kita merasa senang berada di sana. Namun ternyata ujungnya maut.

Penulis berkata bahwa manusia perlu mengganti kebenarannya dengan Allah dan kebenaran-Nya. Kebenaran manusia biasanya terasa baik, sedangkan kebenaran Allah sudah pasti baik. Kebenaran Allah di dalam perkataan-perkataan-Nya tidak pernah berubah, melainkan tetap selama-lamanya. Artinya, tetap baik, selama-lamanya. 

Menurut saya ini adalah hal yang kompleks. Pertama, keyakinan bahwa manusia adalah ciptaan yang dengan demikian memiliki kemampuan berpikir dan menciptakan ide pun berarti bagian dari rancangan penciptaan yang membuat manusia harus menyadari bahwa ide-ide tersebut perlu diterangi oleh firman Allah. Saya melihat banyak orang memiliki kemampuan berpikir yang baik dan itu selalu membuat saya sadar bahwa kalau bukan Allah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya, tidak akan mungkin manusia dapat berpikir sedemikian rupa. Ini tidak melulu benar pada orang Kristen saja, melainkan seluruh manusia yang adalah ciptaan Allah. 

Sehingga saya kurang setuju dengan cara penulis menyatakan bahwa kebenaran kita (our truths) biasanya adalah kebohongan-kebohongan dari Setan. Mengatakan itu sebagai hal yang ‘biasanya’ tampak keliru jika melihatnya dari kacamata manusia baru. Di dalam Kristus kita sekarang mengenal kebenaran yang sejati sebab Dialah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Siapapun yang mengalami kesatuan dengan-Nya diberikan kepekaan untuk tahu membedakan mana yang benar dan mana yang salah–dan lebih dalam lagi–mana yang sempurna dan sesuai dengan kehendak Allah.

Kepekaan itu muncul ketika manusia-manusia baru yang mengalami kuasa Roh Kudus tersebut membaca dan merenungkan firman-Nya. Disiplin ini sangat penting dalam memperbarui cara pandang manusia, mengoptimalkan kemampuan berpikirnya, dan terutama mempersembahkannya bagi kemuliaan nama Tuhan. Inilah disiplin yang perlu dilakukan dengan ketekunan dan makna yang jelas setiap harinya. Sebab perubahan pola pikir dan bahkan keyakinan untuk tunduk pada kebenaran tersebut bukanlah hal yang otomatis, melainkan pekerjaan Allah yang dinamis dan berdaulat berdasarkan hikmat dan rencana-Nya bagi kita. Inilah hal yang tidak dapat dilakukan jika manusia masih menjadi hamba dosa yang hanya akan memercayai iblis, bapa segala dusta. 

Penulis menyorot 2 trend yang ada di masyarakat berkaitan dengan mitos kedua ini: cancel culture dan social justice warrior. Keduanya dapat muncul sebagai usaha-usaha untuk membenarkan diri sendiri atau sekelompok orang berdasarkan pada kebenaran subjektif, bukan kebenaran mutlak di dalam Alkitab. Sehingga semua orang tanpa terkecuali, apa pun agamanya, dapat terjebak dalam kesalahan-kesalahan trend tersebut. 

Manusia kerapkali menjadikan opini publik sebagai legitimasi atas perlakuannya terhadap seseorang maupun sekelompok orang. Itulah mengapa muncul budaya ‘cancel’. Terlepas perlu diujinya opini publik itu, yang namanya sudah membudaya, artinya hal itu sudah mempersempit ruang untuk mendengar dan memaafkan serta memberi kesempatan kedua kepada orang-orang yang cancelled. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan prinsip kebenaran mutlak di dalam firman Allah. Sementara itu, social justice yang dimengerti oleh dunia ini adalah kerapkali adalah upaya untuk menyamakan hasil akhir dari sesuatu, bukan menyamakan kesempatan menuju ke sana. Sehingga upaya-upaya menegakkan keadilan yang seperti ini malah akan sangat rentan terhadap ketidakadilan bagi pihak lain yang tidak diperjuangkan.

While most people build their value system based on what feels good and what’s convenient, Christians are called to a higher standard—one that guarantees self-denial and difficulty. That means there will always be tension between us and the world. That’s good. We’re supposed to be uncomfortable here. This isn’t our home; heaven is. And as we work to ensure that God’s will is done “on earth as it is in heaven,” we can expect pushback and persecution.

The toxic culture of self-love tells us that we are “enough” to determine our own truths. But as we’ve discussed, this just leads to unsustainable confusion. It’s not our or society’s truth that matters, it’s God’s. That’s because he’s perfect, and we’re not.

Allie Beth Stuckey

Mitos #3: You’re Perfect the Way You Are

Penulis membuka penjelasannya terkait mitos ke-3 ini dengan mengungkapkan paradoks perfeksionisme. Apa maksudnya? Mirip dengan apa yang sudah diutarakannya di mitos pertama tentang siklus meletihkan dari ‘self-love’, kali ini dia menjelaskan bahwa perempuan, khususnya, seringkali terjebak di dalam paradoks perfeksionisme. Maksudnya, para perempuan terbiasa mendengar dan percaya bahwa mereka sempurna apa adanya, namun di saat bersamaan ada sesuatu lain yang perlu mereka lakukan atau miliki untuk membuat mereka sempurna. Untuk mendukung hal tersebut, penulis mengutip perkataan seorang penulis buku bernama Jon Sincero: who you are on the inside—who you really are— is perfect. And all you have to do is manifest that perfection, and you’ll be happy, successful, and whole. 

Menurut penulis, yang memotivasi paradoks ini ialah adanya filosofi yang memandang bahwa self-discovery adalah jalan untuk menerima diri sendiri atau aktualisasi dari kesempurnaan manusia. Berdasarkan perspektif seperti ini, manusia dibuat percaya bahwa sebetulnya mereka tidak memiliki kekurangan apa pun, yang ada hanyalah kualitas-kualitas yang kurang dihargai sebelumnya. 

Kalimat seperti “you’re perfect the way you are” membuat kita menerima bagian-bagian diri kita yang sebenarnya harus kita tolak. Ini juga membiasakan kita membuat excuses pada hal-hal yang seharusnya kita tinggalkan dan menolak bertobat atas hal tersebut. Budaya ‘self-love’ dengan mengatakan bahwa manusia sempurna apa adanya ini adalah budaya yang toxic dan hanya akan memberikan kesenangan sementara. Kita merasa tidak ada yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan ditinggalkan. 

Penulis mengarahkan pembaca untuk melihat kepada firman Allah yang menyatakan bahwa di dalam Alkitab hanya ada 2 jenis kepribadian: manusia lama dan manusia baru. Manusia lama diperbudak dosa, mencari cinta dan kepuasan di tempat-tempat yang salah, musuh Allah, dan memerlukan penebus. Manusia baru ialah pribadi yang telah ditebus melalui pengorbanan Kristus dan dengan demikian bebas dari ikatan dan belenggu dosa. Manusia baru ialah mereka yang diperdamaikan dengan Allah dan dibenarkan di hadapan-Nya, untuk selama-lamanya. 

Sehingga jika kita adalah orang-orang percaya, maka perlu bagi kita untuk menyadari kepribadian diri seperti apa yang seharusnya kita rindukan untuk terwujud: yaitu manusia yang hidupnya semakin sesuai dengan panggilan Injil. Allah memiliki rencana bagi kita: pengudusan kita. Untuk mencapai itu kita perlu taat pada kehendak Allah dan memandangnya sebagai ‘batasan’ yang akan membawa kebaikan bagi kita–ditetapkan oleh Bapa yang mengasihi kita. The true self is the person God calls us to be. 

Di saat bersamaan, Alkitab juga tetap mengajarkan, karena itu, setiap manusia baru seharusnya memerhatikan bagaimana dia hidup dan melakukan hal-hal yang secara praktis adalah keputusan-keputusan bijaksana yang akan sangat berguna bagi hidupnya dan memuliakan Allah. Namun itu bukan berarti menjamin apa yang dunia maksud sebagai ‘our best life’. Itu adalah buah dari ketaatan kita sebagai manusia baru, bukan manifestasi dari our best self.

Salah satu hal menarik di dalam bab ke-3 ini ialah pendapat penulis tentang Enneagram Personality Type. Penulis sangat tegas mengatakan bahwa ini tidak alkitabiah sama sekali. Enneagram test di dalam lingkungan orang Kristen ini bermula dari ide untuk melihat kehidupan Yesus dan menemukan ada 9 sisi di dalam diri Yesus Kristus. Penulis mengatakan ide bahwa Allah, sang Pencipta ini, dibatasi oleh 9 tipe kepribadian buatan manusia adalah sangat konyol dan suatu bentuk penghujatan. Dia menambahkan bahwa enneagram bukanlah sumber pengetahuan kita tentang Allah, melainkan firman-Nya. Introspeksi, seperti yang muncul di dalam praktik enneagram ini, bukanlah jalan yang harus kita tempuh kepada pengudusan. Itu adalah suatu peninggalan dari filosofi New Age. 

Selain itu, penulis juga menambahkan bahwa seseorang bernama Oscar Ichaso dan muridnya, Claudio Naranjo, mengembangkan ide tentang kepribadian berdasarkan enneagram ini yang dipandang sebagai alat untuk menganalisis kepribadian dengan tujuan untuk menolong observasi terhadap diri sendiri dan menghadapi penderitaan. Ichaso mengklaim bahwa enneagram ini dinyatakan kepadanya oleh “Metatron, pangeran dari malaikat agung”, ketika dia sedang kesurupan. Murid-murid Naranjolah yang kemudian membawa enneagram ini ke komunitas Katolik dan masih dipromosikan saat ini di gereja-gereja Katolik, demikian juga di tengah-tengah orang Kristen injili.

As it turns out, the Enneagram is a relic of New Age philosophy. It was first made known by the early twentieth-century Russian-Armenian mystic philosopher and occultist George Gurdjieff, who believed that humans exist in what he called “waking sleep,” and that they can awaken the true, full self by learning the discipline of uniting body, mind, and spirit to achieve a higher consciousness.

Allie Beth Stuckey

Jujur jika ini benar, maka saya adalah orang yang paling perlu bertobat. Sebab saya pernah memberikan teman-teman saya buku ‘rohani’ dari toko buku ‘rohani Kristen’ yang mempromosikan buku tentang enneagram ini. Sebetulnya saya tidak tahu bahwa ada sejarah seperti ini di balik tes kepribadian menggunakan enneagram. Saya juga tidak cari tahu apa tipe saya. Saya sudah lama tidak peduli dengan tes-tes kepribadian seperti ini, seperti MBTI, enneagram, dan satu tes lain yang pernah saya ikuti namun saya lupa namanya. 

Menurut saya, jalan menemukan siapa diri ini dan harus seperti apa diri ini cukup dengan mengenal Sang Pencipta dan kehendak-kehendak-Nya. Tentu ini saya yakini setelah beberapa kejenuhan saya terhadap penemuan-penemuan akan diri yang sepertinya semakin membuat saya fokus pada diri sendiri dan bukan pada Allah serta kehendak-Nya. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh penulis di dalam bagian ini: 

To constantly focus on our unique attributes is to totally miss the point of what God calls us to do. God calls each of us not to be our “best selves,” but to be filled with the fruit of the spirit, which, according to Galatians, is made up of love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, and self-control. We are called to embody all of these qualities, not only the ones that come naturally to us. No matter how much we introspect, we will never find our good and perfect selves, because they don’t exist.

The call for Christians is not to be the best version of their personality type, but to be like Christ. No matter what our natural inclinations, strengths, or deficits may be, we are all called to live holy lives. We are all to repent sin. We are all to be obedient. No quirk or characteristic makes us exempt from the standards God has set for us.

Allie Beth Stuckey

Kecuali manusia menyadari bahwa alasan keberhargaan dirinya ialah karena Allah menciptakan mereka dan mengutus Kristus untuk mati bagi mereka, manusia akan terus-menerus berlari di lintasan menuju kesempurnaan yang semu. 

Namun menurut saya penulis terlalu ekstrem dengan berkata bahwa manusia tidak dipanggil untuk introspeksi diri. Karena pemazmur sendiri melakukan hal tersebut. Pemazmur meminta agar Allah menyelidiki hatinya. Inilah cara yang tepat untuk introspeksi diri di dalam kekristenan: melakukannya di dalam kebergantungan kepada Allah.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:23-24)

Ketika kita melihat ke dalam diri kita sendiri, kita menemukan diri kita yang tidak sanggup tanpa Penciptanya. Identitas, signifikansi, serta kepercayaan diri kita bukan datang dari apa yang kita lihat di depan cermin atau apa yang kita temukan di media sosial kebanyakan, melainkan dari Allah yang berkata bahwa kita adalah ciptaan-Nya yang berharga. 

Mitos #4: You’re Entitled to Your Dreams

Mitos ke-4 karena budaya ‘self-love’ ialah manusia dibuat percaya bahwa mereka berhak atas mimpi-mimpi mereka. Mereka yang percaya pada mitos ini merasa tidak perlu terlalu bekerja keras dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai cita-citanya. Berkaitan dengan mitos sebelumnya, karena mereka merasa mereka sempurna apa adanya, mereka tinggal ikuti kata hatinya dan terapkan saja ‘kebenaran-kebenaran subjektif’ yang menyukakan telinga mereka. 

Penulis menceritakan bahwa dia mengalami sendiri bahwa dia tidak berhak atas mimpi-mimpinya. Dia merasa dia sangat baik di bidang yang ditekuninya di pekerjaan tetapi itu bahkan tidak cukup untuk menjamin kesuksesannya di bidang tersebut. Sebelumnya dia berpikir bahwa kesuksesan itu terjadi begitu saja dan dengan cara itu dia akan merasa puas atas pekerjaannya. “I thought I was enough to get what I wanted on my own terms, on my own timeline”, katanya. 

Penulis menegaskan beberapa hal penting terkait hal ini berdasarkan firman Allah:

  1. Tidak terlalu penting apakah pekerjaan tersebut ‘bermakna’–jika dimengerti sebagai sesuatu yang dilakukan karena itulah impian kita. Pekerjaan yang baik ialah pekerjaan yang dilakukan untuk Allah dan untuk sesama, memenuhi apa yang menjadi kebutuhan sesama. Dia berkata bahwa dia tidak harus menyukai atau mencintai pekerjaannya untuk menjadikan pekerjaan tersebut baik dan penting. 

Colossians 3:23 says, “Whatever you do, work heartily, as for the Lord and not for man.” We don’t have to have the perfect job to glorify God with our work.

The work that honors him only has to meet three qualifications: it’s done well, it meets a real need, and it contributes to the good of those around us.

Allie Beth Stuckey
  1. Bekerja itu sendiri adalah berkat dan baik adanya karena itulah panggilan Allah untuk manusia pertama di dalam rancangan penciptaan-Nya (Kejadian 2:15). Dosa yang ada dan merusak dunia membuat manusia dipanggil untuk bekerja tetapi tidak dijamin untuk sukses melaluinya. Budaya ‘self-love’ yang ada saat ini membawa manusia kepada 2 ekstrem yang berbahaya. Pertama, bahwa mereka tidak butuh bekerja untuk memiliki hidup yang bermakna. Kedua, pekerjaan kita ialah identitas kita. Sementara firman Allah mengatakan yang berbeda sama sekali: bekerja itu penting, tetapi itu tidak akan pernah cukup untuk memuaskan kita. 

You—your talents, your goal-reaching abilities, your dreams—still aren’t enough. If your plan is to make your success your identity, you’ll end up empty. No person and no role can replace the longing our Creator alone can meet.

Allie Beth Stuckey

Allah yang berdaulat atas hidup manusia berkata bahwa pekerjaan hadir untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan manusia. Selain itu Ia juga menjamin bahwa meskipun pekerjaan kita tidak selalu berhasil atau mencapai kesuksesannya, Dia tetap setia. Dia tidak berjanji bahwa seluruh impian kita akan menjadi kenyataan atau setiap target kita akan tercapai, tetapi dia tetap meminta agar kita taat kepada-Nya dan memberikan yang terbaik di dalam pekerjaan tersebut. Sekalipun itu bukanlah dream job kita. Apapun itu, kita bisa tenang karena kita tahu bahwa kita sanggup melakukan tujuan kita untuk memuliakan Allah melalui setiap peran yang dipercayakan kepada kita di pekerjaan.

Mitos #5: You can’t love others until you love yourself

Mitos ke-5 sekaligus terakhir dari buku ini akibat budaya ‘self-love’ ialah adanya ide bahwa manusia tidak dapat mengasihi orang lain sebelum ia mengasihi dirinya sendiri. Mitos yang beredar ialah bahwa mengasihi diri sendiri merupakan sebuah prerequisite atau prasyarat untuk bisa mengasihi orang-orang di sekitar kita. Menurut penulis, hal ini akan membuat excuse yang baik untuk manusia yang ingin fokus ke dirinya sendiri daripada melihat kebutuhan sesamanya di sekitar. Apalagi jika mereka mengklaim tindakannya tersebut dengan merujuk pada ajaran Yesus Kristus untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. 

Dia mengusulkan ide lain yang lebih baik daripada self-love yaitu ‘self-forgetfulness’. Dia menggunakan buku Timothy Keller berjudul The Freedom of Self Forgetfulness: The Path to True Christian Joy untuk mendukung argumennya. 

In this short and punchy book, best-selling author Timothy Keller, shows that gospel humility means we can stop connecting every experience, every conversation with ourselves and can thus be free from self condemnation. A truly gospel humble person is not a self-hating person or a self-loving person, but a self-forgetful person.

Amazon

Sementara itu, menurut saya, tetaplah penting bagi manusia untuk (belajar) mengasihi dirinya sendiri. Amsal 19:8 berkata, “Siapa memperoleh akal budi, mengasihi dirinya; siapa berpegang pada pengertian, mendapat kebahagiaan.” New English Translations memberi keterangan untuk ‘mengasihi dirinya’ ini sebagai bentuk bahwa dia memerhatikan kebutuhan-kebutuhannya dan mengurus hidupnya sendiri. Selain itu, orang yang mengasihi dirinya berarti menganggap dirinya adalah ‘his/her own best friend’–dalam pengertian karena dialah yang paling mengerti apa yang tepat dilakukannya atas hidupnya. Karena itu, mengasihi diri sendiri di dalam konteks ayat tersebut berkaitan dengan hikmat. Hanya mereka yang memiliki hikmatlah yang sanggup mengasihi dirinya dengan benar.  

Bicara hikmat, tidak mungkin dipisahkan dari takut akan Allah, karena itulah permulaan hikmat dan pengetahuan. Sehingga jika pengertian untuk mengasihi diri sendiri bukan lahir dari hikmat yang seperti ini, sudah pasti itu adalah bentuk-bentuk lain dari keegoisan. 

Takut akan Allah ditunjukkan dengan hidup yang tunduk kepada Kristus, Raja segala raja. Di dalam kerendahan hati dan penyerahan diri seperti inilah kita memahami perintah untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Yesus Kristus, melalui perintah tersebut, mengasumsikan pendengarnya sebagai orang-orang yang mengasihi diri sendiri. Karena itu, sebagaimana mereka mengasihi dirinya, kasihilah sesama yang lain. 

Contoh paling baik untuk menjelaskan bagaimana mengasihi sesama seperti diri sendiri dapat kita lihat di dalam Lukas 10:25-37 tentang orang Samaria yang baik hati. Di dalam perikop ini Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang bertanya untuk membenarkan dirinya setelah Yesus berkata, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” “Siapa sesamaku manusia?”, tanya ahli Taurat itu. Kemudian Yesus menjawab melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Poin dari perumpamaan itu adalah Yesus ingin menunjukkan bahwa mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah seperti orang Samaria yang digerakkan oleh belas kasih untuk menolong orang yang sudah setengah mati setelah dirampok dan dipukul habis-habisan oleh para penyamun. Dia membalut luka-lukanya sesudah menyiramnya dengan minyak dan anggur, menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Bahkan menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan untuk merawat orang tersebut. Kalau dua dinar itu kurang, ia berjanji akan menggantinya ketika ia kembali. Di dalam perumpamaan tersebut, Yesus bertanya kepada ahli Taurat itu, “menurut pendapatmu, siapakah di antara imam, orang Lewi, dan orang Samaria ini yang merupakan sesama manusia dari orang yang jatuh itu?” Dan ia pun menjawab, “orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kemudian Yesus berkata, “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan juga. Namun dosa telah merusak kesadaran itu, sehingga bahkan kita pun bisa saja menginginkan yang buruk terhadap diri kita sendiri. Banyak orang bahkan bunuh diri untuk menghilangkan rasa sakit di dalam hidupnya dan bayangkan jika itu dijadikannya ukuran yang baik untuk memperlakukan orang. Mungkin bunuh diri akan menjadi hal yang lumrah. Karena itu, asumsi Yesus bahwa manusia memiliki kesadaran untuk melakukan yang baik bagi dirinya perlu diterangi oleh Injil keselamatan.

Yesus Kristus telah menunjukkan bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan orang lain. Ia datang untuk melayani, bukan dilayani. Memberitakan kabar keselamatan ialah misi- Nya karena manusia akan binasa oleh dosanya, tanpa iman kepada Kristus. Kasih kepada sesama ditunjukkan-Nya bahkan dengan tidak menyayangkan Diri-Nya sendiri, ketika memang itulah yang harus Ia lakukan agar manusia yang percaya beroleh selamat. Tidak terpikir bagaimana jika Yesus memakai pengertian self-love seperti yang kita miliki di Instagram. Tidak terpikir bagaimana jika Yesus sangat menyayangkan Diri-Nya bahkan nyawa-Nya, dan tidak taat sampai mati di kayu salib demi keselamatan kamu dan saya.

Dengan demikian, menurut saya, pengertian ‘self-love’ yang ada saat ini sangat jauh dari apa yang seharusnya kita perjuangkan yakni: sacrificial-love. Kasih yang rela berkorban. Tuhan Yesus telah menunjukkannya bagi kita. Kita tidak perlu mencari sumber lain untuk mengerti bagaimana kita seharusnya memandang nilai diri kita. Harga yang dibayar untuk menebus kita dari dosa tidak sanggup diganti dengan timbunan emas, perak, atau apapun. Sebab kita ditebus oleh darah Kristus yang mahal dan tidak ternilai harganya. Dengan begitu, kamu tidak perlu kuatir akan kekurangan kasih untuk dirimu sehingga harus melakukan ini dan itu dalam upaya-upaya self-love yang keliru. Kamu diterima dan dikasihi oleh Allah di dalam Kristus. Namun Dia tidak ingin kita berhenti di sana. Dia ingin kita hidup mengasihi Dia dan sesama kita.

Rasul Paulus berkata di dalam Filipi 2:3. “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji- pujian yang sia-sia. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri tetapi kepentingan orang lain juga.”

Murid-murid Kristus dipanggil untuk mengutamakan sesamanya dengan tidak mencari kepentingan diri yang berujung pada puji-pujian yang sia-sia. Sebab self-love sering menjadi alasan kita tidak melayani dengan lebih giat, tidak berjuang lebih keras dalam mengasihi sesama. Karena self-love, kita lebih mengutamakan tidur-tiduran daripada membantu orang tua di rumah atau mempersiapkan pelayanan/pekerjaan dengan baik. Atau, justru self-love menjadi kamuflase untuk self-actualization ketika kita berada di pelayanan atau kegiatan-kegiatan/aktivitas sosial. Kita menjadikan pelayanan rohani dan kegiatan sosial sebagai sarana untuk menutupi insecurities kita atas nama self-love, tapi sebetulnya kita tidak sedang sungguh-sungguh melayani orang lain di sana.

Seperti Kristus yang mengasihi kita bahkan dengan tidak menyayangkan nyawa-Nya sendiri, demikian kita dipanggil untuk mengasihi sesama kita—bahkan jika nyawa pun menjadi taruhannya. Tentu ini adalah standar kasih yang jauh lebih tinggi dari pada apa pun yang pernah dirumuskan manusia. Apakah berat? Tentu. Apakah mustahil? Tidak. 

Sejarah kekristenan telah mencatatkan ada banyak sekali kesaksian bahwa para rasul pun telah hidup dalam sacrificial-love; kasih yang rela berkorban. Hidup di dalam belas kasih yang sangat dalam kepada sesamanya manusia, sampai-sampai kematian pun rela mereka hadapi, karena betapa besarnya kasih yang Kristus sudah berikan kepada mereka. Bagi para rasul yang mati sebagai martir, hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Inilah ajaran yang sangat mengakar kuat di dalam kekristenan. Sayangnya kita sering mengabaikannya atau bahkan memolesnya agar lebih nyaman untuk kita dengar. Kita bersembunyi di balik alasan “aku belum bisa mengasihi diriku, bagaimana bisa aku mengasihi orang lain?”, atau “aku belum bisa mengurus diriku, bagaimana bisa aku mengurus orang lain?”

Banyak orang tidak mau terlibat terlalu dalam di persekutuan/gereja karena merasa belum cukup baik untuk mengurus diri sendiri. Tentu, kita perlu diperlengkapi, perlu belajar, perlu berlatih, perlu hikmat bagaimana menjadi ‘sahabat terbaik’ diri kita sendiri. Namun bukan berarti kita menjadikan alasan ketidaksanggupan diri untuk lari dari panggilan Allah demi kasih dan pelayanan terhadap sesama kita. Mari kita ingat kembali, perintahnya ialah, “kasihilah sesamammu” bukan “kasihilah dirimu sendiri”. Untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, Kristus telah menunjukkan kepada kita ukuran belas kasih terbesar yang pernah ada di dunia. Dengan demikian, mintalah kekuatan dan pertolongan dari-Nya agar dimampukan hidup mengasihi sesama sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Jika mengasihi sesama dipandang sebagai sesuatu yang hanya dapat dilakukan sesudah kita merasa mengasihi diri sendiri maka ada 3 hal yang terjadi: kita tidak taat kepada Allah dengan menolak kebutuhan sesama, sesama kita terlantar di tengah kehadiran kita, dan ketiga, kita melewatkan pengalaman-pengalaman yang akan membawa kita semakin serupa dengan Kristus. 

Anytime we deny our own wants, needs, and priorities to show kindness and share Christ with someone else, we glorify God. And not only do we not have to wait until we’ve accomplished self-love to do it, helping others even when we feel our worst fosters a joy that self-absorption can’t give.

It is through the self-forgetfulness found in Christ and the humility of following his commands that we find life—nowhere else. When we recognize him as God, removing ourselves from the center, we find the “enoughness” we’ve been craving.

Allie Beth Stuckey

Demikianlah komentar ini saya tulis dengan cara saksama dan dalam tempo yang tidak singkat sama sekali. Semoga memberi insight bagi para pembaca budiman. Segala kemuliaan bagi Tuhan!

Not A ‘Murderer’

I agree with John Stott (like, who am I not to) when he said that 1 John is a letter about assurance, a brief book in which the Apostle John outlines (over and over) three signs that confirm what John already knows: namely, that the recipients of his epistles are beloved children of God.

  • The first sign is theological. You should have confidence if you believe in Jesus Christ the Son of God (5:11-13).
  • The second sign is moral. You should have confidence if you live a righteous life (3:6-9).
  • The third sign is social. You should have confidence if you love other Christians (3:14).

Of course these are not the things we do to earn the salvation, but the indicators that God has indeed saved us.

Starting from this chapter (1 John 3:11-24) we will look at the third sign, which of course is a unity with the other 2 signs, whether we are truly believers. You should have confidence if you love other Christians (1 John 3:14).

The lesson on loving others may be very familiar to us that sometimes we feel like we’re done with it and perhaps get a little bit bored. We have a tendency to think there is nothing else we need to respond to the same preaching. We feel like we have given the best response, to the point that it feels like we are done at that part and we can move on to another one. Whatever the reason, we need to be careful if God’s word no longer somehow causes us to be taught, declared wrong, and sadly, trapped in the complacency of our faith.

For the Apostle John, loving one another is essential in the life of a believer and needs serious reflection. He gave two profound examples of what it is not and what it is to love one another through Cain and Jesus Christ. These two examples are in stark contrast to each other.

The first example is about Cain who did not love his brother, Abel, so he killed him. The word ‘kill’ used there also has a very horrible feeling (brutally murdered, or to slaughter) which is more often used for animals. Full of violence and no mercy there. John even adds that Cain’s actions show that he actually came from the evil one. Cain is not of God, not a child of God, as we learned in the previous passage. For those who are of God will do righteousness. There is nothing in between. If it doesn’t come from God, it comes from the devil.

John chose to use Cain as a negative example appears to show that, apart from God, even one’s own siblings could commit such a heinous crime. No wonder that for the Jews and early Christians, Cain was often used as an example of how people behaved from the evil one. Humans can be that depraved without God.

Why did Cain kill Abel? This passage explains why: “And why did he murder him? Because his own actions were evil and his brother’s were righteous.” What does it mean? In the light of 1 John, we are familiar with the way John explains that a person’s deeds are the evidence of someone’s faith. Therefore, it seems that John just wants to emphasize once again that Cain and all his evil deeds are a man of the evil one, and Abel, with all his righteous deeds, is a man of God. Hebrews 11:4 even mentions that “by faith Abel offered God a greater sacrifice than Cain, and through his faith he was commended as righteous, because God commended him for his offerings.”

The evil one cannot stand it if the truth is being shown. The evil one will be disturbed to see the righteous doing something in line with Christianity. So the negative examples through Cain shouldn’t make us feel, “oh okay, I never really wanted to kill anyone, then I’m safe from this lecture.” Don’t we sometimes have a spirit like Cain? We hate those who are more righteous than ourselves. Therefore when we face our neighbor who shows us our sins or faults, we are uncomfortable. In fact, it is difficult for us to accept rebukes and process them with thanksgiving. “Wow, I need to learn more in this section. I need to grow and mature in this aspect.”

When the truth of God’s word conveyed by others is faced with our mistakes and omissions, there is always a desire to defend ourselves and justify ourselves. Some generations don’t like being compared to other generations. Some generations feel that what worked in their day must work in the same way today. So what will be blurry after these two tensions is the biblical truth—and that’s what the devil likes.

The devil can use any means to deceive believers. Jesus said the devil is the father of lies. He doesn’t like the truth. And do we realize that the fellowship of believers is the most disturbing place for the devil? Why? Because through a strong bond with each other, the truth of the Word learned together can be more strongly expressed. If someone is weak in understanding the Word, there is a spiritual sister/brother who will teach them. They will sharpen each other according to God’s truth. The fellowship with believers is a place where it seems that the devil will work harder to obscure God’s word.

We may not kill each other. However, we can cultivate the spirit of Cain with hatred which is actually quite similar to killing. Remember when we find it hard to love certain people. Ain’t we sometimes hope not to see that person? It feels like life is better if you don’t meet him or don’t see him. In short, it’s better not to have him around than to suffer all the time to love them. We are not murderers, but we hate their presence around us—because we don’t love them the way we should. I remember this saying I heard years ago, “I don’t hate you. I am just not necessarily excited about your existence.” You know, that’s the spirit of Cain.

Later on, it says, “don’t be surprised if the world hates you.” The word ‘world’ means something contrary to God—which is not from God. It is the clear consequence that will be experienced by God’s children who continue to strive to love and show the truth in their lives. Isn’t that what we see in the history of Jesus Christ’s ministry, where He was even rejected by His own because He had a different definition of love than they wanted? Isn’t that also what we see in the ministry of the apostles? They were hated and killed because they loved people so dearly that this world can’t understand. So dearly that the only way to do it is to share the Gospel so they will be saved from the eternal judgment. Your love for the truth, for people, is so disturbing that somehow this wicked world will hate you because of it.

And we often think we can make a different deal with the world. We messed up the truth and love. We don’t take the right path because it’s hard to do both and prefer one over the other. We adopt a world-view of loving others which is actually half-true of what the Lord Jesus taught us.

Verses 14-15 says, “We know that we have crossed over from death to life because we love our fellow Christians.The one who does not love remains in death. Everyone who hates his fellow Christian is a murderer, and you know that no murderer has eternal life residing in him.”

In evangelism, we need to preach the Gospel, so they will be saved by grace, through faith, transferred from death to life. So that loving others becomes something that appears in the lives of those we evangelize. Even if they don’t kill, they long for the presence of the most unlovely, undeserving, and ungrateful brothers and sisters around them. In discipleship, for those of us who are continually being discipled and making disciples. Let’s ask God’s help, so our lives continue to radiate love for others with a quality that is renewed day by day; become the living testimony that we are God’s children who have been given eternal life.

After giving a negative example through Cain, the Apostle John then invites us to look at the positive example of Jesus Christ himself. We will look at the quality of love for neighbor that should emerge in the believer.

Verses 16-17, “We have come to know love by this: that Jesus laid down his life for us; thus we ought to lay down our lives for our fellow Christians. But whoever has the world’s possessions and sees his fellow Christian in need and shuts off his compassion against him, how can the love of God reside in such a person? But whoever has worldly possessions and sees his brother in need but closes the door of his heart to his brother, how can the love of God remain in him? My children, let us love neither in word nor with the tongue, but in deed and in truth.

Instead of taking His brothers’ lives, Jesus gives His own life to them, so they live. Jesus Christ was hated but He still loved them. He still loves me. He still loves you. That’s how we learn that we are not called to love those we think we can love only. Even our enemies are the recipients of love with the quality that is equal to our own lives. Therefore, we will not know what true love is outside of Christ.

When I listen to BTS’s speech and songs about love, there is a kind of confusion to find out where the true one is. By the way, I am their fan. BTS was invited by UNICEF to speak in the Love Yourself campaign. BTS themselves have started their Love Myself campaign with their albums. 

What kind of confusion is depicted in the songs? They realize that they need to love themselves to know how to look at life properly and to love others. So far, it seems that it is in line with the truth of God’s word. But then, they think they find the answer through music, through this universe, through their fans, and so on. They think it is music that primarily makes them known, recognized, and therefore valuable.

But, true love is only found in Jesus Christ. Our ability to see ourselves right, to love ourselves right, never starts with anything but Jesus Christ. The life He gave is what makes us live and function as He created us, for His glory. Other than that, there will always be inconsistencies in our lives. Like BTS who later said to their fans, “Thank you for loving us. It looks a bit like we use you to love ourselves. So please use us to love yourself.”

While this may seem very romantic, it actually shows that apart from Christ, love for other people will look like a trade-off. We seem to use those who love us to love ourselves, thinking it is how we produce the seeds of love within us. In fact, we will only have exclusive love, only to those we like and find beneficial. We will also have this tendency to close our hearts to those who hate us.

What is interesting? Many of this generation are deeply comforted and strengthened by their songs that speak of this kind of love. Some people even confess that they stopped suicidal thoughts because they finally felt loved through BTS songs.

What does it mean? This generation, like other generations, is in desperate need of true love, unlike a profit-and-loss transaction. Something that will make us continue to love even though we can’t get anything in return–and we think we had found it somewhere else and not in Jesus Christ.

When I listen to their songs, I amazingly reflect on Jesus Christ, who loves me and makes me convinced that I am known, seen, and acknowledged by the Owner of this life. I don’t need anyone’s approval to feel accepted and loved because Jesus Christ has shown me very clearly how much I am loved. But most people who listen to their songs have not heard that the answer to what they are looking for is in Jesus Christ only.

We won’t know what love truly is apart from Jesus. Of course, we can’t love one another as we should, apart from Him.

What’a next? Loving our neighbor as Christ loved us asks us to die to ourselves. Even though life is difficult, we are carrying various wounds, the burdens of life are crushing, the calling remains the same: love one another. Love those who will even take advantage of you without using them back, not because you can’t, but because you don’t want to.

The Apostle John makes a very concrete application of love for one’s neighbor that is not comparable to what Christ gave previously. If you have worldly possessions and see that your neighbor suffers from a need, but you close your heart and refuse to help them, it is doubtful that you have experienced God’s love through Christ’s sacrifice. The point is, to love others is to love them in deeds and in truth. Not always asking for our lives right away, but never less than that.

We need to constantly ask God how we can help our neighbors. Sometimes it’s not that we refuse to be generous, but we don’t know there are actually people who need our generosity around us. Because it turns out that our heart is closed to them—especially those we find hard to love. We enjoy our individual life too much and we become so ignorant.

Verses 19-24 says, “This is how we know that we belong to the truth and how we set our hearts at rest in his presence: If our hearts condemn us, we know that God is greater than our hearts, and he knows everything. Dear friends, if our hearts do not condemn us, we have confidence before God and receive from him anything we ask, because we keep his commands and do what pleases him. And this is his command: to believe in the name of his Son, Jesus Christ, and to love one another as he commanded us. The one who keeps God’s commands lives in him, and he in them. And this is how we know that he lives in us: We know it by the Spirit he gave us.”

This is the conclusion of what we have learned earlier. If we love one another, we have confidence before God that we are children of God, people of God, and God dwells in us. Our love for others is God’s work through His Spirit. It is also the basis of our courage to come and pray before God to wait for Him to reveal His will through us. Therefore, our presence should help people around us to grow and bear fruit in their love for others. And that is very possible because the all-powerful God dwells in those who believe in Christ.

This generation needs true love, and in fact, needs to love one another with biblical understanding. Please show them you don’t have the spirit of Cain–you are not a ‘murderer’.

Soli Deo Gloria.

Just, kind of

A kind of person who is sentimental enough to find happiness in any tiniest possible moment. Easy to smile. Laugh freely with his eyes smiling to the extent that his cheeks become like loaves of bread because of it!


A joyful person that even puppies also love being around him. Because you know? He talks with them like best friends.


The kind of person who is sentimental enough to cry honestly about anything that touches his heart. Not because he is weak, but because he puts his heart into everything he does. That’s why he is a hard-working person since his love towards life flows abundantly inside-out.


A thoughtful person whose sadness is primarily because of his people’s hardships. He puts others first before himself.


A thoughtful person who is slow to speak, but loves to listen. He knows what to say and when to do so.


A kind of person who is sentimental enough to find it easy to be immersed in arts. He has a good sense of colors & meanings. He pays attention to forms & shapes. That’s why he is also neat & tidy.


But, he is also the kind of person who is constantly giving jokester energy to people he’s close to–to those he’s comfortable with. Or, when he’s about to catch someone’s attention. He prefers being silly to show off other things necessary.


Whenever he speaks, it’s either poetic or chaotic.


A kind of person who is just, kind of,
my type.

Menjelang 28 #2

Sejak kapan berelasi menjadi tentang kewajiban memberi tahu orang lain apa yang sedang terjadi di hidupmu?

Menempatkan beban pada orang yang sudah berat menanggung hidupnya sendiri demi istilah “menjaga relasi”, baguskah begitu?

Jika dia diam, itu haknya. Kau tidak berhak marah.

Jika ketika sudah bertanya dan dia bercerita seperlunya, itu juga haknya. Tugasmu adalah memastikan, bahwa kau benar-benar peduli dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang sebetulnya bisa saja semakin memberatkannya.

Apalagi jika kau terus-menerus mengajukannya.

Kalau dia kesal dan berhenti bercerita, itu urusannya. Tugasmu dengan pertanyaan-pertanyaan itu sudah selesai.

Sebab, katanya, hanya sebagian orang yang dapat menunjukkan dirinya sebagai ‘tempat aman’ untuk menampung cerita-cerita tertentu.

Tapi, coba kita pikirkan ulang. Benarkah ada yang sungguh-sungguh aman? Tahukah kita, apa yang muncul pertama kali di kepalanya ketika kita menceritakan ketololan kita? Sesuaikah ekspresi tenangnya dengan apa yang berkecamuk di pikirannya tentang kita?

Tidak ada yang benar-benar tahu.

Apakah istilah “tempat aman” pada sesama manusia hanyalah fatamorgana dan faktanya, bukan itu yang kita perlukan?

Bercerita kepada manusia adalah langkah yang berani–siapa pun mereka. Sehingga persoalan bercerita, bagiku, bukan tentang siapa yang akan mendengar, melainkan, kesiapan untuk menanggung risiko. Tidak ada telinga, hati, dan pikiran manusia yang benar-benar aman untuk menampung cerita-ceritaku. Tapi, jika benar bahwa bukan pada manusia aku menaruh harap dan nilai diri, aku tidak perlu takut untuk bercerita kepada siapa pun.

Siapa yang benar-benar tahu, mereka orang yang tepat atau tidak?

Siapa yang benar-benar tahu, cerita-cerita tertentu akan tetap aman dari prasangka buruk? Tidak ada, kan?

Sayangnya, manusia lebih banyak berlari kepada sesamanya manusia, daripada kepada Allah. Ditambah lagi, menjadi frustrasi karena tidak ada manusia yang mau mendengar, menerima, dan mengerti persoalan pelik di dalam hidupnya.

Bukankah itu sebuah kepastian?

Sejak kapan berelasi dengan manusia adalah tentang untuk selalu dimengerti? Kau pikir apa manusia yang lemah itu? Ilahi?

Menjelang 28, aku mengerti sedikit lagi tentang relasi. Akulah yang datang untuk memberi dan belajar mengerti. Jika pemberian dan prosesku untuk mengerti tidak dipahami, itu perjuangan pihak lain untuk mengerti, sedikit lagi tentang relasi.

Kalau tidak, semua ini hanya akan berujung pada frustrasi.

Menjelang 28 #1

Ada beberapa keputusan yang saya ambil melalui proses berpikir yang panjang menjelang usia saya yang ke-28 tahun ini. Salah satunya adalah berhenti menulis hal-hal yang mengekspos saya secara pribadi. Artinya, saya tidak akan menulis hal-hal yang bersifat curhat yang dapat membuat orang berprasangka terhadap kehidupan saya. Ataupun berasumsi sesukanya. Apalagi, sebagian besar orang tersebut tidak mengenal saya dan sulit untuk mengonfirmasi prasangkanya terhadap realitas yang ada. Apa yang memicu saya memutuskan seperti ini? Bohong kalau saya bilang tidak ada atau sekadar iseng. Namun saya tidak merasa perlu menjelaskannya di blog ini.

Bukan hanya di blog ini, hal serupa juga akan saya lakukan terhadap akun media sosial saya yang lain seperti Instagram, WhatsApp, Facebook, dan Twitter. Saya tidak akan mengunggah apa pun yang berkaitan dengan kehidupan pribadi saya. Sebetulnya saya sudah mengambil langkah awal yakni mengurangi intensitas saya berbagi di akun-akun tersebut, sehingga tidak sulit bagi saya untuk berhenti sama sekali.

Jika suatu saat kamu rindu sama saya (buset pede betul bocah), hubungi saja. Kalau saya rindu kamu, saya pun akan menghubungimu. Selain dari itu, kita tidak akan tahu kabar apa pun lagi dari satu sama lain.

Kalau kamu tidak mengenal saya secara pribadi dan mungkin merasa akan merindukan saya, tenang, rindukanlah mereka yang lebih pantas kamu rindukan. (Eww! Geli sama kalimat sendiri asli)

Salam sehat!

(Salam edisi pandemi)

27; it was what it was.

This is a conversation I start with myself,

Cuz I got no one right now, oh well

—-

Looking back, I feel like I’m ready to mock and pity myself so much. Not that I hate her, but I’m just excited enough to wake her up.

Days, even months passed away, no good memories to stay.

Ain’t I living myself to the fullest? Or is it just impossible? Why am I having regrets?

Who told you to be stressed out if some things just wouldn’t happen? Who forced you to figure out everything and scared of discovering mysteries in the end?

It was what it was. It was black, it was white. Somewhen grey, somewhere you stop calling it by its color. Because why should you?

It was just what it was.

It was as okay as it could be.

—-

The journey from 25-27 was rough, right? But maybe it was meant to remind you the beauty of being in a journey. You might find ways, you might get lost just as soon as you feel it’s gonna be alright.

You felt too deep, they said. You thought too much, you said. So what? There are times you didn’t even want to do anything, just sleeping.

It was what it was. As okay as it could be.

You are not bound to any of this world’s should haves or should have nots.

We love to stay away from troubles

As clear as the title, as easy as we nod.

But, who doesn’t? I think none in this world consciously loves troubles and even plans some things just to welcome troubles into their lives. We’re not here to clear up the mess, or think hard what have we done to get such unwanted miseries in this life.

None of our journal books is worthy of those thoughts tidying up sentences. We prefer gratitude list to why, why, and why, question marks.

No wonder most of our technology development goal is focused on making our lives easier. We love anything instant. We demand everything to come fast, faster. We are always in a rush, thinking that the earlier, the better. Or, it’s better late than never.

We define easy lives by how much we can do in a day. It means that all things seem to work alongside us and our timeline and so we like it. A late response chat would be so bothering to us because we become more sensitive and easily irritated by everything.

But, truth has to be spoken. It ain’t life if no troubles. It is either graveyard or heaven.

National Training Event 2018

AUSSIE 2018

I wanted to post this picture to my Instagram feed, thought it was really beautiful and yeah quite fancy but I didn’t. Because I want to keep this ‘excitement’ just for me and that means, I am the one & only human being who knows what’s behind these pictures (and many more pictures in my gallery).

First of all, this is not a holiday for me. I was attending a training for student ministry in Australia located in Canberra, specifically in Exhibition Park in Canberra, or EPIC. And yes that’s superbly epic to be one of more than 2000 participants in this training. Second, I think some people think this was for free and I just need to get my bags off and, voila! This is Australia. No, it wasn’t. Me & my friends do fundraising and use our own (little) money because we’re not going to Bogor. Third, it’s not full exciting experiences I had there actually, to be honest, some are sad and on some nights my heart screamed “I want to go homeeee!” I still remember those days in Clovelly. Oh and that screaming happened in Randwick Avenue Apartment by the way.

But, I still want to thank God for this opportunity. You know guys, there was a lot of things happened that made me feel like it’s not going to happen. Even right before our departure, I left my phone in online car transportation, overweighed baggage, late check-in, but He made it through. I also thank God for speaking to me in every kind of situation there. I went with questions and thankfully go back with answers. I have faith that this training will help me much here in Indonesia.

Sincerely,

Missing Macquarie and Epping so much.