Hari ke-15: Menepati Janji

Begitu mendapat titik cerah dari salah satu dosen pada tanggal 13 Februari kemarin untuk membuat saja proposal terkait topik yang ingin kuangkat tersebut, aku langsung berlonjak kegirangan. Literally, berlonjak kegirangan–di depan cermin di kamar tempat aku menginap pada perhelatan Retreat Koordinator ke-14. Sebelumnya, aku ragu akan mendapat balasan yang positif dari beliau namun mengingat bahwa Allah berkuasa atas segalanya, termasuk hati sang dosen, aku berdoa dan menyerahkan saja kepada-Nya keinginanku terhadap topik itu untuk disetujui. Aku ngga taulah ya, aku ngga punya kekuatan apa pun untuk memastikan apa pun, selain pengharapan dan keteguhan di dalam Tuhan. Beneran deh. Bahkan sebenarnya aku sedang maju dengan sedikit nekat untuk topik ini, mengingat fakta bahwa aku akan lumayan berjibaku mencari data-data terkait si topik–yang minim di Indonesia. Tambahan, perlu keterampilan membaca cepat dan mengartikan cepat bahasa Inggris, karena topik ini. Ah, aku malas.

WAIT. HOW DARE YOU!

Kemarin, 24 Februari 2015 aku sudah mengumpulkan proposal keramat tersebut. Aku juga sudah menuliskan judulku di lembaran nomor 38 Buku Judul Skripsi PK-4. Clueless. Clueless dengan apa yang akan terjadi di depan. Tiba-tiba disuruh ganti judul? Bisa. Ganti perusahaan? Bisa. Ganti rumusan masalah? Bisa. Apa pun bisa terjadi dan sudah kubayangkan betapa aku akan menangis semalaman jika itu terjadi.

#eh #tunggu

Engga deng, air mataku udah kering di bulan Februari ini. Udah terlalu banyak yang ditangisi. Walaupun airmataku bukan air mata buaya, tapi lama-lama capek juga nangis sob. Jadi ya paling aku akan sedikit lebih hiperaktif aja untuk ngemil, jika asumsi-asumsi di atas terjadi. Tidak terlalu buruklah, ya?

Proposal yang kubuat dengan sedikit setengah hati. Itulah judul yang tepat untuk pengerjaan proposal kemarin. Aku sedih mengingatnya dan aku berjanji akan langsung saja memikirkan revisiannya, bahkan mungkin sebelum diperintahkan. Aku kurang mengeksplor topik yang kumaksud. Aku termakan kata-kata temanku, “buat sederhana aja dulu, yang dilihat sama dosen itu adalah judul dan rumusan masalahmu.” Ah aku benci mengakui bahwa untuk pertama kali dalam 1 tahun ini aku terpengaruh oleh kata-kata orang. Padahal aku masih punya waktu untuk memberikan yang terbaik, kenapa ngga aku lakukan? Kesel juga sama ke-fragile-an diri sendiri. Lemah banget, elah.

Well, ngga ada guna juga untuk menyesali yang sudah terjadi, kan? Pokoknya, atas dasar “persembahkanlah skripsimu bagi Tuhan dan dunia hukum” aku akan memperbaikinya.

Tapi, ada 1 hal yang kusesali terjadi pada saat pengumpulan proposal kemarin. Aku tidak menepati janji kepada adik kelasku.

Aku dan beberapa pengurus baru PO FH UI 2015 telah bersepakat akan pergi ke PMKJ tepat pukul 15.30 dari suatu tempat. Bahkan, aku sendiri yang bilang. Tapi karena aku harus mengumpulkan proposal itu, aku jadi telat 20 menit dan aku merasa menyesal. Itu membuat kami terlambat ke PMKJ. Saat itu aku mulai merasa bahwa aku ini memikirkan diri sendiri. Jika saja aku tidak berleha-leha di kamar dan jalan lebih cepat 20 menit dari kost-an ke kampus, pasti ini tidak akan terjadi. Kenapa sih hal sekecil ini harus kuperbesar? Oh ralat, bukan kuperbesar, aku hanya ‘terlalu’ memusingkan hal sekecil itu. Jawabannya, karena dari hal-hal kecillah datang hal-hal besar.

Kebakaran besar datangnya dari percikan-percikan kecil api. Banjir datangnya dari akumulasi sampah-sampah kecil di sungai/kali. Hujan lebat datangnya dari kondensasi-kondensasi kecil yang terjadi di beberapa titik.

Aku memercayai peribahasa yang menyatakan, “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.”

Maka dari itu, hal kecil tidak pernah berlalu begitu saja di hidupku. Termasuklah kesalahan ‘kecil’ karena tidak menepati janji kemarin. Kalau aku tidak cepat-cepat menyadari itu, aku bisa jamin 100%, di depan nanti akan terjadi kesalahan-kesalahan lain yang (mungkin saja) menimbulkan penyesalan yang lebih besar. Hal yang paling tidak kuingini adalah, aku menjadi orang yang memikirkan diri sendiri. Sungguh, aku ngga suka. Terserahlah apa pun anggapan orang melihatku yang seperti ini. Sok baik? Sok malaikat? Terserah, aku sudah lama tidak melandaskan hidupku pada apa pun pendapat orang tentangku.

Menepati janji adalah bagian dari integritas. May we be a people, a people of integrity, being who we say we are and doing what we say, sepenggal lirik lagu favorit ini pun mengingatkanku. Doing what we say. Kalau bilang ketemu jam 15.30, lakukan. Datang lewat dari situ, hanyalah akan menghasilkan excuse-excuse semata dan orang ngga penting untuk tau. Basic skill-nya? Manajemen waktu dan itu susah.

Satu hal lagi yang pengen aku sampein, kamu boleh skripsian, tapi skripsian itu bukan hal yang luar biasa sehingga kamu perlu mendramatisir segala keadaan untuk seolah-olah membuat kamu berhak diperlakukan berbeda dari orang-orang yang tidak skripsian. Skripsian itu hal BIASA untuk kamu bisa lulus dari kampus ini. Yang luar biasa itu adalah, kamu bisa lulus tanpa syarat lulus yang ditetapkan kampus. Jadi, ngga usah merasa perlu mengubah diri menjadi sok hectic dan tidak bisa menepati janji.

Ngerti, Beth?

Hari ke-15 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s