Hari ke-44: First Impression

First impression, dalam Teori Pembentukan Kesan di psikologi sangat penting untuk diperhatikan oleh orang-orang yang pekerjaannya adalah seorang public speaker. Tetapi menurut saya, it’s all about first impression, ngga peduli mau kerjaannya sebagai public speaker atau private speaker (haha). Menurutku, first impression akan bertahan selamanya. A good lasting first impression will benefit us. Ini ngga sekadar general speaking ya, beneran deh. Walaupun, seiring berjalannya waktu, bisa aja banyak hal yang berubah. But, first impression is our start line, our starting point.

So.. yep, I want to share something about ‘creating a good (probably lasting) first impression’ when I visited my lecturer’s office two days ago. 

Here he is, a very outstanding lecturer, I can say. From the very beginning of this thesis thingy, I really wish he could be my adviser. Because, he is the one who masters the things about my under-graduated thesis. And thank God, he can. I remember that he seldom be in my campus, and I probably will find difficulties to meet him. But, even though I have to always go find him myself at his office or wheresoever he might be, I will pay the bill. It doesn’t matter at all because I am sure that it’ll all be paid off, with a very comprehensive writing of mine. 

Two days ago, I visited him at his office, with my friends, who will be advised by him too. We waited him for almost two hours, but at this time, there’s no big problem about waiting, for the very first time in forever, haha.

So he came, and asked my three friends about their proposal. Bla, bla, blah, now that was my turn, I was the last. He read the title of my proposal. 

“Bla..bla..bla… hmm ini topik yang bagus ya, hmm. Topik bagus ini.” Katanya sambil ngangguk-ngangguk.

And I smiled widely. Thank You, Lord. Aku bahagia begitu beliau mengatakan demikian. Bukan perkara karena topikku dipuji oleh seorang yang sangat hebat saja, tetapi lebih kepada… cerita dibalik topik itu.

Malam itu, 44 hari yang lalu, aku hampir putus asa karena ngga nemu juga topik yang sesuai dengan sisi realisku dan realita yang ada di lapangan. Ada sih beberapa topik yang aku dapatkan dari saran teman-temanku. Tapi… aku ngga terlalu suka ngerjain apa yang bukan berasal dari hasil perjuanganku sendiri. Hahaha. Tapi sebenernya kalo aja saat itu aku ngga nemu juga, aku bakalan pakai yang disaranin temen-temenku sih. Empat puluh empat hari yang lalu aku hampir tidur saja sekitar jam 11 malam, padahal berdasarkan timeline pribadiku, esoknya aku harus sudah mendapatkan topik dan memulai riset dan pengerjaan proposal. Apa lagi dalam 2 hari kemudian, selama 4 hari aku akan pergi retreat. Mana mungkin aku mikirin hal-hal beginian saat retreat. Hahaha.

Sudahlah, pasrah saja. Lalu aku mencoba untuk memejamkan mata dan tidur. Sayang sekali, dewi tidur belum berpihak padaku. Selama kurang-lebih 90 menit aku cuma gegulingan di tempat tidur. NGGA BISA TIDUR COY. Aseli. Ini lebih ngegalauin dari pada perkara cinta bertepuk tangan apa pun yang ada di dunia. Eh, bertepuk sebelah tangan maksudnya. Aku berharap bisa menemukan ilham, walaupun sebenernya si Ilham ga ke mana-mana. #hm

Tapi yang ada… aku malah laper… dan ngebayangin makanan apa yang bakalan aku makan di pagi hari nanti. Duh, bener-bener imajinasi yang kurang berguna. Lalu, hatiku bilang, “Beth, bangun gih, riset sekali lagi, kali ini bakalan nemu kok, percaya deh. Tanggung banget coy.” Ya sudah, aku turuti saja. Dan memang, aku ngga ngantuk sama sekali–walaupun aku sedang kelelahan sekali pada saat itu. Bukankan ini sebuah pertanda untuk tetep meleq? Hahaha.

Aku menyalakan laptop dan menyiapkan cokelat panas. (Caelah, sok iye banget). Sebenernya cokelat panas ini berfungsi untuk menetralisir kekosongan yang terjadi di dalam lambung saya a.k.a ngeganjel perut. Kenapa mesti cokelat panas dan ngga kopi saja? Ya simpel sih, karena saya ngga punya kopi saat itu, brosist.

Aku memulainya dengan berdoa. Aku berharap kali ini aku bisa menemukan sesuatu yang lebih penting dari pada imajinasi makanan-makanan lezat yang sedari tadi kupikirkan. Aku tahu, perkara seperti ini cuma hal kecil untuk Tuhan. 🙂

Lima menit berjalan. Aku memulai riset pukul 2 pagi. Memang otakku aktif di jam-jam seperti ini. Bahagianya, semuanya mengalir begitu saja. Ngga ada perasaan ngeluh atau takut. Mau buka website apa aja bebas, ngetik kata kunci apa aja juga bebas. Bener-bener ngerasain kalo saat itu Tuhan lagi pimpin. Hehehe. Ngga sampe 10 menit, aku udah dapet sesuatu yang aku cari-cari itu. Yang ngga hanya sesuai dengan sisi realisku, tapi sesuai juga dengan realita yang ada, dan sangat dibutuhkan untuk dibahas pada saat ini. Bahkan aku menemukan related topics yang banyak sekali dari hal ini. Bahagia ngga? Sepuluh menit doang, loh. :’) Padahal sebelumnya udah hampir seharian aku ngga nemu-nemu juga. Bahkan waktu nemu sesuatu ini, aku langsung hampir nangis. Terharu hahaha. Untung aja aku ngga jadi tidur!

“Hmm.. ini topik yang bagus ya..”

Terngiang selalu di kepalaku first impression yang diberikan beliau atas proposalku saat itu. Tuhan memang baik banget. Mana mungkin bisa dapetin itu kalo bukan karena Tuhan yang pimpin. Tuhan jawab doaku.

First impression will benefit us. 

Apa buktinya?

Beliau bertanya kepadaku apa yang ingin kugali dari topik ini. Aku mencoba menjelaskan sesederhana yang aku bisa. Aku ngga mau berpanjang-panjang ria, untuk menunjukkan kepadanya ‘kemampuanku’. Karena aku yakin, dia udah tau lebih banyak dari pada aku. Ya kan.. Ya udah, aku coba jelasin. Di sinilah aku merasakan berkat lagi atas topik ini. Tanpa tedeng aling-aling, beliau langsung melihat rumusan masalahku, lalu memperbaiki redaksi kata dan menambahi pokok pembahasan yang kuperlukan untuk diigali. Belum selesai, beliau juga menawarkan untuk aku melakukan penelitian empiris saja terkait hal ini, padahal aku ngga berani pada awalnya. Tetapi beliau bilang bahwa beliau bersedia menjadi perantaraku dengan perusahaan-perusahaan yang ‘provide‘ hal seperti ini, dan juga mengantarkan surat-surat yang kubutuhkan kalau aku ingin melakukan penelitian empiris. Baik banget! :”)

Aku ngga berhenti-berhentinya senyum. Dia memang salah satu dosen favoritku, walaupun aku hanya sempat diajar selama 2 kali selama di kampus. Tapi, buku yang ditulis olehnya adalah buku kesukaanku di kampus ini. Dulu aku bahkan bisa menghapal argumen-argumen yang ditulisnya di buku itu dengan baik, karena aku memang menyukai cara beliau menjelaskan di buku itu. Sebenernya dari sini aku mulai merasa bahwa ini adalah pertanda bahwa sebaiknya aku menulis topik ini sebagai skripsiku.

Kesan pertama yang didapat beliau bukanlah kesan yang kubuat-buat pada saat hari H. Kesan pertama itu adalah hasil dari pergumulan dan doa yang berserah kepada Tuhan. Kesan pertama itu adalah karya Tuhan yang memilihkan topik ini untukku. Biarlah segalanya kupersembahkan kembali kepada Tuhan. Aku berjanji akan menuliskan yang terbaik. Percuma dong, kalau aku yang suka nulis dan suka latihan terus soal EYD, suka nganalisis, suka topik ini, dan suka memecahkan masalah ini, ngasih yang setengah-setengah. Semangat, Beth! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Hari ke-44 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.


Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s