Insp #1

Kemarin, aku ngelihat Abby ngepost sesuatu yang mencerminkan rasa syukurnya pada Tuhan di salah satu akun sosial media. Aku memberikan komentar, “DID I MISS SOMETHING?”, seperti yang juga diucapkan oleh sahabatku, Ica. Aku bingung dan ngga tau sama sekali tentang apa postingan itu. Pembelaanku adalah karena belakangan ini aku kurang aktif di sosmed itu mengingat gagal install-nya si aplikasi sosmed. Lalu aku membuka Facebook dan menemukan postingan seperti gambar di atas. Aku pun membacanya dan merinding. Oh iya, jantungku juga semacam berdesir gitu, hahaha. Berlebihankah? Aku rasa engga sih. Ini kan reaksi refleks ya, jadi sistem motorik emang langsung bekerja begitu aja, menandakan itu respon yang… tidak disengaja. Ah, begitulah. Aku udah lupa sistem kerja saraf-saraf manusia dan sejenisnya. Hehehe -_-

Aku bangga. Bangga dan terharu. Aku dan Abby kuliah di universitas berbeda, bahkan berbeda kota. Dia di Bandung, aku di Depok. Aku ngga tau keseharian Abby, ngga tahu detil hidup Abby, ngga tahu perjuangan-perjuangan Abby secara utuh di sana. Kalau kita ketemu, pembicaraan kita jarang sekali mengenai hal berbau akademis seperti itu. Lebih banyak masalah hati dan kawan-kawannya, hahaha. Kalau kita chatting, hal yang dibahas pun jarang sekali mengenai ini. Pantaslah, aku kaget membaca berita bahagia di atas.

Abby adalah orang yang sedari dulu memang salah satu sahabat terhebat yang aku miliki. Nanti aku akan bercerita juga tentang sahabat-sahabatku yang lain (Ica, Odet, Grace, Jovita, Ira dan Niken) di postingan-postingan berikutnya. Waktu SMA, aku terbiasa menyaksikan keberhasilan Abby dalam banyak hal. Biar kukatakan pada kalian, Abby adalah salah satu jenius yang tersisa di abad ini. Aku ngga pernah bisa mengerti betapa orang yang ‘tampaknya biasa-biasa saja’ ini punya potensi yang sangat besar di dalam dirinya. Abby bukan tipikal pinter-hectic yang ada di sekolah. She played too. Dia menghabiskan waktu pulang sekolahnya juga di paduan suara. Dia kelihatannya nggak seserius itu. But again, ini kelihatannya aja lho. Deep inside, aku tahulah Abby adalah salah satu orang yang striving for the best untuk apa pun yang dipercayakan padanya. Ambisius terselubung? Ah, let’s just say, genuinely genius or born to be genius. 😉

Abby bukan tipikal orang yang sombong, even in that ‘good way’ . Cara yang baik di sini maksudku, bukan tipikal orang yang merendah-untuk-diroketkan, atau biasa kusebut dengan humblebrag (cara pamer yang terselubung-red). She is just being real. At least, itu yang kudapatkan dan kuyakini. Dia itu bagaikan quote ini “The sky doesn’t need to explain that it is high above. People know you’re good if you’re good.” Abby nggak pernah merasa ingin membuktikan apa pun kepada khalayak ramai, karena khalayak ramai udah tahu betapa terbuktinya Abby, hahaha.

Kembali ke prestasi ini, sedari awal Abby membuka cerita tentang apa yang ingin dijadikannya sebagai skripsi, aku sudah sangat tertarik. Aku juga bisa melihat passion-nya ketika menceritakan. Seemed like, she really wanted to write about that and I’m glad and motivated to do the same too. Dari awal aku udah ngeh, how unusual her way of thinking is. Kemampuan berpikir mendalamnya memang hebat, kemampuan menganalisisnya jangan diragukan lagi. Kalau belakangan ini aku lagi digilai dengan bacaan mengenai practical wisdom, aku rasa Abby punya itu. Kemampuan framing-nya adalah salah satu hal yang kuacungi jempol. Keempat jempolku kalau bisa. Atau kuminta jempol teman-temanku yang lain. She can turn every puzzle into one good picture. Sebenarnya aku nggak tau sedalam apa dan sememusingkan apa proses penulisan skripsinya. Yang aku tau, dia berjuang keras untuk bertahan. Dia menulisnya sedari tahun lalu. Aku menyaksikan bagaimana dia bolak-balik Jakarta-Bandung demi data-data si skripsi. Aku cuma tahu, Abby sedang menulis sesuatu yang terkait dengan behavioral economics, yang pada saat itu juga sedang menjadi salah satu tema dari kebanyakan bacaan online-ku. Waktu itu aku sering membacanya di HarvardBiz. Lalu tibalah beberapa saat sebelum akhirnya Abby ditetapkan untuk sidang skripsi, aku menemukan foto abstract skripsinya di-post oleh seseorang. Aku pun membacanya dan setelah itu cuma satu kata yang tergumam dari bibirku.

“Awesome.”

She is awesome(ly) awesome.

Kurasa Abby orang pertama yang menulis hal itu (ngga tau sih sebenernya, tapi beneran bukan hal mainstream yang ditulisnya guysso I hope that’s true). 

Pada akhirnya, proses memang tidak pernah mengkhianati hasil. Skripsinya diikutsertakan dalam ajang Singapore Economic Review Conference dan berhasil lolos. They also believe that Abby’s way of thinking is awesomazing. Can’t be any prouder than this. Ini bukan satu-satunya prestasinya, aku yakin. Tapi untuk masa-masa penulisan skripsi seperti ini, prestasi di bidang ini menjadi hal yang sangat berpengaruh buatku dalam menulis skripsiku. Prestasi ini juga sedang menginspirasiku. Kurasa Abby juga bisa berpikir untuk menjadikannya buku. Hahaha.

Jadi, selamat, sahabatku! Selamat untuk setiap upah dari kerja keras dan ketekunanmu. Terima kasih sudah menginspirasi, dulu, sekarang, dan semoga selamanya. 🙂

FIGHTING! >_<

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s