Hari ke-80: Di mana Ada Niat, Di situ Ada Jalan

Hai, sudah lama sekali ya sejak cerita terakhirku tentang skripsi. Sekarang bahkan sudah hampir 100 hari aku mengerjakannya dan kau tahu, aku masih berada di Bab 3. Aku sedikit heran. Oh tidak, sangat heran. Kenapa harus selama itu ya untuk memproses data-data yang sudah tersedia? Kan, sudah ada buku-buku, artikel, jurnal, kamus, dan semua hal yang dibutuhkan? Masa sih, ngerjain Bab 2 dan 3 itu harus memakan waktu selama ini? Aku ingat lagi, timeline pribadiku tidak lagi berfungsi. Padahal aku berjanji akan menyelesaikan penulisan Bab 2 dan 3 itu dalam waktu 2 minggu sejak Bab 1 dan outline-ku disetujui. Pada waktu itu aku memang berpikir bahwa akan ‘semudah’ itu untuk menepati timeline itu. Ya… gimana ya… aku pernah menyelesaikan tugas makalah berjumlah 20 halaman dalam waktu 2 jam saja. Masakan untuk beberapa puluh halaman lainnya dalam 2 minggu itu tidak bisa? Ya, kan? Logis ngga?

Tapi… masalahnya bukan terletak pada sebanyak apa waktu yang kita miliki untuk mengerjakan skripsi kita tersebut. Namun, sebesar apa niat kita untuk mengerjakannya. Oh ya, satu lagi, sebesar apa ‘tekanan’ yang ada. Jujur saja, karena dosenku tidak memberikan deadline yang strict terhadap 2 bab ini, aku merasa sedikit mager untuk mengerjakannya. Setiap hari hanya berakhir di buka laptop, download jurnal, baca-baca dikit, udah. Buka YouTube, buka Blog, buka Facebook, Twitter, dan berbagai social-sites-yang-kurang-penting-untuk-saat-ini lainnya. Malahan aku menghabiskan waktu membaca hal yang kurang berhubungan dengan skripsi ini. Entah kenapa otakku memang lebih tertarik pada hal yang pada saat itu justru bukan menjadi hal yang prioritas. Seperti dulu waktu SMA, ketika seharusnya aku memberikan fokus dan hatiku pada mata pelajaran ilmu alam, aku malah berpikir untuk banting setir, putar haluan ke mata pelajaran IPS. Kebiasaan ini jauh berbeda dengan aku pada waktu aku masih TK, SD, dan SMP, di mana aku bisa fokus dengan apa pun yang diberikan padaku saat itu.

Hmmm, sejauh ini, memang ada juga hal lain yang membuat 46 hariku ke belakang sepertinya berlalu dengan kurang produktif. Terlalu banyak hal yang mencoba mengganggu pikiran. Sayangnya, aku terganggu. Rasanya ingin meminta kembali hari-hari yang kemarin kulalui dengan sia-sia. See? You will appreciate something when you lose it. Tapi itu bukan jadi pembenaran kalau aku bisa menelantarkan skripsiku. Satu-satunya yang harus disalahkan di sini adalah aku sendiri. Karena keputusan ada di tanganku. Seharusnya aku bisa memilih untuk ‘terganggu’ atau tidak. Ya, buat apa juga nyalah-nyalahin hal lain atau orang lain. Pekerjaan mencari kambing hitam adalah pekerjaan iblis. Selama ada niat, di situ pasti ada jalan. Tinggal milih, mau jalan atau engga.

Jadi, mari kita berjuang lagi. Berjuang untuk setia setiap harinya, setiap detiknya. Mari memperhatikan dengan seksama, bagaimana kita hidup, jadilah bijaksana. Pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat. Jangan sampai menyesalinya di kemudian hari.

Hari ke-80 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s