Hari ke-114: Dosen Pembimbing

Yak, tibalah saatnya saya menuliskan satu topik yang sangat sensitif dalam dunia penulisan tugas akhir. Dua kata. Hanya dua kata.

Dosen. Pembimbing.

Ngga usah pakai salah satu katanya saja sudah seram.

Dosen. Sosok yang lebih tinggi dari kita, yang secara hierarkis mengharuskan kita tunduk padanya. Sosok yang secara pengalaman lebih banyak makan asam-garam dibanding kita, membuat kita harus mau-tidak mau mendengarkannya. Sosok yang secara intelektualitas mungkin lebih pintar dari kita, membuat kita harus berharap dia akan mengajari kita.

Man, I mean, ini semua membuat kita akan sadar ngga sadar, bergantung sama dia.

Ditambah lagi dengan kata ‘pembimbing’? Makin seram.

Guys, dia adalah sosok yang membimbing kita. Itu secara implisit mau mengatakan bahwa kita tidak bisa mengerjakan ini sendirian. Kita clueless. Ibaratnya, kayak orang yang lagi outbond, matanya ditutup dengan kain, dan disuruh ngikutin orang yang megangin dia. Well, kita ngga sehitam itu sih ngelihat yang di depan kita, tapi tetep aja, hampir miriplah. Kenapa harus ada pembimbing? Ya karena kita ngga bisa skripsian sendiri.

Seram.

Waktu ujian masuk kemarin kita ngerjainnya sendirian, kenapa keluarnya harus dibimbing? Kurang adil.

Bukankah yang paling susah itu masuknya? Gimana mau keluar kalau belum masuk? -_-

(Tiba-tiba mulai sadar, beberapa kalimat di atas agak absurd).

Jadi, ya begitulah. Fenomena dosen pembimbing memang sudah sangat sering mewarnai dunia skripsi mahasiswa tingkat akhir. Bagi saya sendiri, ini sudah diprediksikan akan terjadi. Kesalahan saya adalah, menaruh harapan kepadanya ketika suara hati mengatakan, ‘do it yourself’. Kalau sudah begini, yang ada tinggal penyesalan, kan?

Saya tidak menyalahkan siapa pun kecuali diri saya sendiri. Ini sudah resiko yang harus saya ambil ketika meminta dosen pembimbing saya yang sangat kredibel dan sibuk tersebut untuk membimbing saya. Saya tidak perlu heran.

Karena itu, di hari minus 30 ini saya harus bekerja lebih keras. Argh, semoga ngga ada halangan untuk lulus semester ini. 😥

Tuhan, kepada Tuhan sajalah aku menaruh harapan. Kepada Tuhan sajalah aku mengutamakan bimbingan. Takut. 😥

Hari ke-114 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s