Hari ke-150: Sudah Selesai

Hari Jumat pagi, aku terbangun pada pukul setengah 5. Just had 4 hours of sleeping. Masih belum merasa bahwa hari ini adalah hari eksekusi si solusi. Masih belum ngeh kalau hari ini aku akan segera melepas status sebagai jomblo.. eh maksud saya sebagai mahasiswa. Kondisinya kurang lebih begini: perut mules, lutut lemes, anggota motorik lamban, dan hati hampa. Loh… kok bisa hampa ya. Entahlah. Aku memulai hari dengan saat teduh. Kemudian aku latihan presentasi lagi. Oke, kondisi tambahan: suaraku lebih mirip suara kaleng usang daripada suara manusia.

Pukul 7 aku sudah tiba di Depok. Ini adalah pertanda betapa tingginya insecurity terhadap hari ini. Karena aku belum sempat sarapan di rumah, aku memutuskan untuk makan di restoran rakyat a.k.a warteg untuk mengisi amunisi perang hari ini. Ngga lucu kalau pas lagi sidang jobdesc dosen penguji ditambah dengan menggotong mahasiswa pingsan. Oke, aku tidak selera makan. Bukan karena tidak enak, memang alam bawah sadarku sedang tidak ingin aku menyantap apa pun pagi ini. Tapi tetap kuusahakan untuk menikmati santapan itu. Kemudian datanglah seniorku tercinta, Kak Eta, dengan baju tidurnya (hahaha) menghampiriku di restoran rakyat tersebut untuk mendoakanku. Ckck bahagia banget ya punya kakak seperti ini :’) Berbahagialah dikau, Bang Hardi! :p

Sidangku dimulai sekitar pukul 09.00. Awalnya, bukan aku yang maju duluan. Namun entah mengapa di saat sedang galau-galaunya di toilet, temenku malah teriak-teriak kalau aku akan sidang di urutan pertama. (Heh, jangan mikir kotor ya). Jantungku seperti hendak keluar. Ah, lebay. Tapi begitulah. Aku menggumam… “Me? Ok. Who’s afraid? (Siapa takut, dalam bahasa Indonesia).

Aku pun maju dan menyampaikan presentasi terkait topik ini:

Untitled

Aku bahagia karena akhirnya bisa mempresentasikan hal ini. Aku tidak peduli pada apa pun pertanyaan dari dosen penguji. Aku percaya, aku cukup menguasai apa yang kupresentasikan. Iya, dong. Kan skripsinya bikin sendiri, bukan beli di toko bangunan.

Oke. Sekitar 15 menitan berlalu, tibalah saat-saat keramat tersebut. Tanya-jawab dengan dosen penguji.

Ada 3 orang dosen yang mengujiku, dengan kondisi 2 di antaranya adalah dosen pembimbing. Di luar dugaan, salah satu dosen pembimbingku malah mengujiku lebih banyak. 😦 Ya tidak apalah. Bahkan beliau memintaku menggambar kapal-kapal dan skema asuransinya serta menjelaskan sekali lagi apa yang kumaksud di dalam presentasi tadi. Wah, aku tidak mempersiapkan cara menggambar kapal yang baik. Di saat aku hendak mulai menggambar, terbayang di kepala ini, manakah yang lebih baik untuk digambar, kapal Titanic, ataukah kapal nelayan biasa. Beruntung akal sehat ini kembali ke tempatnya, mengingat aku sedang ujian skripsi dan bukan lomba menggambar tingkat kecamatan, aku pun memutuskan untuk menggambar kapal…kapalan. Ya, you define it lah.

Selesai menggambar dan menjelaskan, mulailah diskusi yang lebih sengit terjadi. Para penguji ini, selain dosen pembimbing utamaku, tidak familiar dengan topik ini. Padahal menurut mereka urgensinya tinggi untuk Indonesia. Karena itu pertanyaan-pertanyaan mereka lebih ke arah.. ingin tahu saja. Tapi, aku bersyukur, ternyata dari sidang ini, banyak hal lagi yang bisa dikaji terkait dengan topik ini. (Kalau ada yang berminat menulis mengenai asuransi kapal, call me! 🙂 I’ll tell you something).

Setelah menunggu 3 orang temanku yang lain selesai sidang, tibalah pengumuman hasil. Tanpa drum roll dan tanpa confetti, kami berempat pun dinyatakan lulus sidang dengan nilai yang baik! Aaaaak, puji Tuhan. Aku bahagia karena eksekusi ini berjalan dengan lancar. Aku bahagia karena aku bisa merasakan betapa Tuhan begitu menenangkan dan membuatku yakin bahwa segalanya akan berjalan lancar. Aku berbahagia karena kita berempat berhasil menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa, bahagia sekali dengan keputusan Tuhan memberikan bapak ini sebagai dosen pembimbing kami.

1436545647525
Sansan, Bebeth, Pak Kornelius ‘keren’ Simanjuntak, Sam, Quin.

Di luar ruangan, sudah ada banyak teman-teman dan sahabat yang menunggu. Aku juga bahagia akan kenyataan ini. :’)

Lihatlah mereka, betapa niatnya mereka memberikan bunga seperti itu untuk menyemarakkan kelulusanku hari ini. :’) Terima kasih Abby, Jojo, dan Odett! Semoga Tuhan memberikan yang terbaik terus untuk kalian! :’)

Abby, Bebeth, Jojo, Odett.
Abby, Bebeth, Jojo, Odett.

Ada juga anak-anak kelompok kecil tercinta yang begitu aku selesai sidang dan belum dinyatakan S.H., langsung meminta foto bersama. :’) Ini adalah langkah iman, guys! Anyway, ternyata itu pipinya emang lebih mirip mochi daripada pipi deh.

IMG-20150710-WA0006
Tria dan Abi

Dan ini… beberapa warga PO FH UI tercinta, yang menjadi saluran kasih Tuhan, saluran semangat dari Tuhan untukku selama di kampus, terkhusus selama penulisan skripsi ini. Ah, bahagia sekali. :’)

IMG-20150710-WA0045
William, Yannes, Winner, Ocep, Mita, Jedev, Friska, Ivo, Pipin, Elka, Irene, Lidya, Ipul, Stefan, Kevin, dan Rama.

Terima kasih sekali lagi, kepada kalian semua. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu, tenaga, dan hati kalian untuk memikirkan dan memedulikanku. Aku hanya serbuk gergaji tanpa kalian. Aku berdoa semoga persaudaraan kita tetap terjalin di dalam Kristus Yesus! Amen.

Inilah akhir dari perjalanan 150 hari penulisan skripsi bersama Tuhan Yesus. Cantik sekali jumlahnya. Seperti jumlah pasal dalam Mazmur. *yayaya* Aku bersyukur karena memang kurasakan bahwa Tuhan berjalan bersamaku dalam setiap suka dan duka penulisan skripsi ini. Dalam setiap kepastian dan ketidakpastian, setiap harapan dan doa, setiap waktunya, setiap lembarnya. Di tengah banyaknya kemelut kehidupan, hahaha, Tuhan menyatakan diri-Nya dengan begitu tak terkatakan.

Inilah akhir dari perjalanan 150 hari penulisan skripsi bersama Tuhan Yesus. Mulai dari bagaimana Dia menempatkan topik ini di hatiku, bagaimana Dia mengingatkanku untuk tidak mengerjakan hal yang ‘ala kadarnya’. Bagaimana Dia menyatakan melalui dosenku bahwa topik ini bagus untuk diteliti, bagaimana Dia memberikan bahan demi bahan yang kuperlukan dalam menulis skripsi ini. Tuhan Yesus juga yang menolongku untuk mengerti tentang menggunakan setiap hari dengan bijaksana, karena hari-hari ini adalah jahat. Dia juga yang ingatkan aku bahwa Pembimbing nomor 1 haruslah Dia. Harapan dan kekuatan haruslah didasarkan pada-Nya. Untuk Dialah skripsi ini dikerjakan. Tuhan juga yang membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil di dalam nama-Nya dengan menggerakkan hati narasumber-narasumber untuk membantu penelitian ini. Bahwa sesibuk dan setenar apa pun mereka, kalau Tuhan sudah bilang bahwa mereka akan memberi waktu untukku, mereka pasti akan memberinya. Sungguh bahagia dengan setiap janji Tuhan yang digenapi-Nya selama khususnya 150 hari ini aku menulis skripsi.

Kalau bukan karena-Mu, Tuhan, mana mungkin semua yang sudah berakhir ini bisa kumulai. Mana mungkin kalau saat ini di belakang namaku telah bertengger gelar sarjana. :’)

Sekali lagi, terima kasih Tuhan. Kiranya Engkau menerima persembahanku ini. Biarlah nama Tuhan saja yang dimuliakan melalui gelar sarjana hukumku ini. Amen.

So, once again, congratulations on your graduation, self! 
IMG-20150710-WA0000 Sudah selesai. 🙂

Hari ke-150 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s