Ngomongin Y dalam 2+Y=4

Dari dulu, aku selalu suka cerita tentang mama. Kalau orang-orang nanya, aku bisa dengan detil dan berulang-ulang nyeritain tentang mama. Ngga akan pernah bosan, ngga akan pernah berhenti. Ya, aku rasa sebagian besar anak juga merasakan hal yang sama denganku. Bagiku sendiri, menceritakan tentang mama adalah motivasi yang baik.

Aku tidak akan menceritakan siapa mamaku, seperti… namanya, umurnya, asal kampusnya, pekerjaannya, dan sebagainya. Tidak juga akan kuceritakan tentang bagaimana kepribadiannya. Aku tidak akan menceritakan kelebihan-kelebihan mamaku–karena aku sedang tidak ingin bermegah-megah di sana. Tidak bijak pula jika kuceritakan kelemahan-kelamahan mamaku–yang karenanya mungkin bisa kujadikan dalih sebagai ‘pembentukku’.

Aku hanya akan menceritakan missing-link di antara aku dan mama. Missing-link yang kumaksud di sini bukan semacam yang diungkapkan dalam teori pre-evolusi yang menghasilkan pemikiran bahwa semua makhluk hidup di bumi ini pada dasarnya saling berhubungan. Itu terlalu teoritis, hahaha. Tapi, missing-link yang kumaksud di sini adalah besaran nilai pengaruh mama dalam hidupku. Ah, pernah memikirkan hal ini tidak?

Seseorang dengan identitas lengkap mungkin memiliki tujuh puluh tujuh kali kelebihan. Namun, dia tidak ada pengaruhnya bagimu. Sama sekali. Seseorang dengan identitas lengkap tersebut pun mungkin pula memiliki seribu satu kelemahan. Namun, kau tidak akan pernah memedulikannya. Jadi, jikalau mama adalah “X” dengan nilai 2, dan aku adalah “X + Y” dengan nilai 4, maka yang akan kuceritakan adalah nilai Y tersebut.


Karena hidupku bukanlah jenis-jenis bilangan, maka sulit bagiku memberi nilai angka bagi pengaruh tersebut. Namun yang jelas, keberadaan mama sanggup memberikan rasa aman bagiku; aman dalam banyak hal. Tanpa bermaksud meletakkan keamanan tertinggi pada manusia,  aku rasa aku harus mengakuinya, bahwa keamanan tersebut adalah pengaruh pertama bagiku. Aku tidak pernah merasa terancam jika ada mama di dekatku. Untuk urusan pendidikan, keuangan, makanan-minuman, pakaian (aku telah sampai pada titik memercayakan proses pembuatan kebaya wisuda tanpa rasa kuatir sedikit pun akan ukuran, model, dan segala derivatif lainnya pada mama–tanpa aku beri tahu model kesukaanku, tanpa ada pengukuran ini dan itu, pokoknya aku aman kalau mama sudah ikut campur), sepatu (ah, ini juga, aku sangat terkejut ketika mama selalu membelikan sepatu yang sesuai dengan seleraku dan cocok dari segi ukuran serta warna), tempat tinggal, dan seterusnya. Nilai pertama yang terjadi sebagai salah satu faktor pembentuk Y di atas adalah rasa aman. Dan ini pastilah karena ada kepercayaan di dalam diriku akan diri mama. Ah, ya. Saking amannya, aku bahkan tidak pernah kuatir kalau-kalau di rumah terjadi kerusakan alat elektronik, hubungan arus pendek, guci-guci pecah atau retak–semua akan segera kembali berfungsi karena mama.

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, nilai pertama di atas adalah turunan dari rasa percaya yang kumiliki terhadap mama. Bagiku, ini adalah hal yang penting untuk dirasakan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Kalau tidak ada rasa percaya, maka sia-sialah segala kelebihan orang tua tersebut. Kalau tidak ada rasa percaya, maka terlalu jahatlah setiap kelemahan orang tua. Beberapa anak yang tumbuh dewasa sebagai sosok yang terlalu tertutup mungkin dulunya pernah memiliki trust issue–entah terhadap siapa pun–namun rasanya besar pengaruh dari orang-orang terdekat–termasuklah orang tua. Maka sekali lagi, aku bersyukur aku percaya kepada mama. Aku juga ingat, ada yang berkata bahwa, the best proof of love is trust. Bicara tentang rasa percaya, ada beberapa hal yang kuperhatikan; dia tidak didapat begitu saja, butuh bertahun-tahun untuk menghasilkannya, dan objeknya bukan semata pada perkataan maupun perbuatan, namun pada integrasi keduanya dalam pola berkehidupan seseorang. Singkatnya, rasa percaya timbul ketika kita melihat konsistensi integritas seseorang. Jadi, berbahagialah orang tua yang berhasil memberikan rasa percaya bagi anak-anak mereka. Serta sebaliknya, memiliki rasa percaya kepada anak-anak mereka pula; dan aku pun mengalami hal ini.

Keberadaan mama juga memberikan aku ruang untuk takut. Takut dalam hal ini bukanlah takut karena hal negatif, namun karena aku memiliki rasa hormat terhadap mama. Aku bersyukur diberikan ruang tersebut. Ruang bentukan mama yang aku masuki sendiri–sukarela. Aku bersyukur sejak kecil dididik dengan sedemikian rupa sehingga aku bisa nyaman berada di dalam ruangan ini. Salah satu hasilnya adalah masalah preferensi. Preferensi mama adalah salah satu preferensiku pula, tidak pernah aku berdaya mengabaikan pendapatnya. Namun di saat yang bersamaan, karena mama percaya, aku leluasa untuk tidak setuju pada preferensinya. Satu hal, respect is gained from character. Aku bisa menghormati mama tentu karena aku telah mengenal karakter mama, dan aku bersyukur akan hal tersebut. Mama adalah teladan seorang wanita yang sesungguhnya bagiku, dan itu yang membuatku menghormati teladan mama dengan belajar melakukannya pula di dalam hidupku. 


Aku rasa, ketiga hal di ataslah nilai Y di dalam persamaan 2+Y=4 tadi; rasa aman, rasa percaya, dan rasa hormat. Inilah yang menjadi missing-link-yang-sekarang-sudah-tidak-missed-lagi-hahaha di dalam relasiku dengan mama. Sekali lagi kukatakan, aku bersyukur bisa merasakan hal tersebut terhadap mama. Kalau kata salah satu quote, kesemua hal tersebut akan menghasilkan kesetiaan pada akhirnya. Doaku adalah, semoga aku akan setia sebagai anaknya.

…karena… apa lagi yang paling manis di dalam suatu relasi selain kesetiaan?

2015_0830_14510100
Mama, thank you for who I am. Thanks for being God’s tool to raise me and care for me.
Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s