A Lesson from Fated to Love You

Akhirnya kopi kembali membuatku tetap terjaga dengan begitu segar pada jam-jam rawan seperti ini. Jam-jam di mana seharusnya orang-orang sedang menikmati istirahat yang lelap pada kasur empuk dan bantal guling serta selimut yang mungkin menutupi seluruh tubuh. Jam-jam di mana segala hal bisa datang ke dalam pikiranmu, entah itu hal baik atau pun hal buruk, entah itu inspirasi atau pun konspirasi. Jam-jam di mana pola hidup di sekitar kita menunjukkan bahwa di saat-saat inilah saat yang paling ‘tepat’ untuk berefleksi ria.

Itu sedang terjadi padaku saat ini.

Sore tadi aku telah sampai pada kesimpulan bahwa, manusia memanglah makhluk yang kerapkali menyusahkan dirinya sendiri dengan berbagai pikiran yang tidak perlu. Aku mencontohkan diriku saja yang (puji Tuhan) termasuk ke dalam kategori makhluk yang diciptakan pada hari ke-6 dalam sejarah penciptaan. #ya

Aku jarang berada pada suatu kondisi yang tidak-sedang-berpikir. Meskipun kebanyakan yang kupikirkan tidak selalu terucapkan. Kedengarannya bagus, ya? Eh, bukan kedengaran deng. Kebacaannya bagus, ya? Tidak selalu. Aku menghabiskan 22 tahun hidupku dengan berbagai pikiran di kepala ini. Pikiran yang perlu, dan pikiran yang tidak perlu. Aku (secara khusus) memfokuskan tulisan ini dalam 2 kategori barusan, perlu dan tidak perlu.

bde04c4593bd503eec31095ee846b10e


Sekalipun aku sudah sering mengatakannya kepada diriku sendiri, tapi kali ini aku pastikan akan mengatakannya sekali lagi sehingga seluruh sel di dalam diriku mengetahui bahwa, ketiadaan filter dalam berpikir berdampak tidak baik bagi kehidupan. Sama seperti Kim Mi Young dalam drama Korea Fated to Love You, hidup dengan sebegitu polosnya akan apa yang sedang dihadapi memberikan kebaikan yang lebih banyak di dalam hidupnya. Polos yang kumaksud dalam hal ini adalah, sekalipun ada kesempatan untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk, memilih berfokus pada pikiran yang baik adalah pilihan yang lebih baik. 

Kim Mi Young tidak pernah menempatkan asumsi-asumsi buruk tentang kehidupan di dalam core thinking-nya. Kim Mi Young tahu bahwa banyak orang yang memanfaatkan kebaikannya, kemurahan hatinya dalam membantu mereka, tetapi dia memilih tetap setia membantu, sekalipun dia tidak dipedulikan. Dia tetap rendah hati terhadap siapa pun, sekalipun orang-orang malah menganggapnya rendahan. Dia bisa menempatkan dirinya pada posisi orang lain yang sedang menyakitinya, sehingga dia bisa berkata, “tidak, dia mungkin lebih sedih dari pada aku.”

8030e8ba930c4b57a4c533ce3748d68c

Meskipun begitu, kehidupannya telah menjadi berkat untuk banyak orang, dan dia bisa tetap tersenyum karena dia percaya bahwa dia hanya akan memikirkan hal yang baik, dan benarlah, hal-hal baiklah yang datang kepadanya.

Tetapi, yang namanya manusia, ketika sudah mencapai batasnya, tanpa mereka sadari, mereka telah berubah dari bagaimana mereka sebelumnya. Manusia kalau udah sakit hati tuh begitu.

Kim Mi Young mulai berkalkulasi seolah-olah hidup ini adalah lahan bisnis. Dia tidak mau lagi menghadapi kesulitan dengan pikiran positif, melainkan lari dari padanya atas asumsi-asumsi yang belum tentu kebenarannya. Dia memenangkan pikiran negatifnya, pikiran yang tidak perlu. Solusi untuk hal ini cuma satu, bertanyawhich is easier to do than running away from your problemsKarena toh pada akhirnya segala asumsi memang harus dibuktikan ketepatannya kepada pihak lain. Itu yang tidak dilakukan Kim Mi Young ketika masalah antara dirinya dan suaminya terjadi. Tiga tahun dia menjalani hidup dengan kebenaran yang dibuatnya sendiri. Bahwa suaminya tidak peduli padanya dan anak mereka, bahwa suaminya hanya menganggap anaknya sama dengan uang, dan sebagainya, tanpa tahu bahwa suaminya begitu mengasihi dia dan anak mereka, bahwa ada alasan mengapa hal-hal pada saat itu tampaknya berseberangan. Ah ya, Kim Mi Young pun lebih percaya kepada orang lain daripada bertanya langsung kepada suaminya.

Sejak saat itu, hidupnya menjadi lebih murung dari biasanya. Seperti ada karakter yang terbunuh dari Kim Mi Young. Dia seperti bukan Kim Mi Young yang sesungguhnya. Tidak ada lagi senyum yang benar-benar tulus, tidak ada lagi kerendahan hati dan kemurahan hati seperti dulu, dan tidak ada lagi pikiran-pikiran positif seperti dahulu. Dengan pikiran negatif dan tidak perlu seperti itu rasanya seperti ada yang membusuk di dalam hati dan kepalanya, sehingga itu terpancar ke luar. Sedih. Tapi memang, pada akhirnya Tuhan pun tidak pernah tega membiarkan kita tidak belajar dari kesedihan. Just don’t miss the lesson.

Ketika kebenaran terungkap, seketika Kim Mi Young pun merasa bersalah. Pasti. Sehingga terjadilah antiklimaks yang begitu mengharukan dan sempat membuat air mata ini menetes. #hiks

Dia ‘menemukan’ dirinya lagi. Kebahagiaan di dalam hatinya memancar ke luar, menjadi berkat yang menyejukkan siapa pun yang ada di sekitarnya. Perlu 3 tahun baginya untuk menyadari hal itu dan kembali ke tempat di mana dia seharusnya berada yang membuat drama ini pun berakhir dengan sangat manis.

Dan yah… aku bahag(y)a akhirnya seperti ini!

photo483530


Inilah yang sedang aku pelajari; meletakkan pikiranku pada perkara-perkara yang positif–yang bernilai kekal–dan berhenti memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Gampang sih ngetiknya. Normatif banget malah. Hanya aku merasa perlu selalu untuk mengingat hal ini, karena sulit mengerjakannya.

Men’s thoughts are like boomerang. Don’t get hit yourself.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s