Kuatkan Aku Tuhan

Beberapa kali dalam tahun ini aku menerima pujian dari orang-orang terdekatku bahwa aku adalah perempuan yang kuat hatinya. Pujian itu seringkali mereka utarakan ketika aku menceritakan sepenggal pengalaman hidupku. Kalau kau ingin tahu apa yang menjadi reaksiku, aku dengan senang hati akan berkata bahwa aku sama seperti orang lain ketika menerima pujian, “bahagia”.

Jujur, aku senang dipuji seperti itu. Tapi aku ingat sekali, selalu kesenangan itu dibarengi dengan ingatan-ingatan bagaimana aku bertahan dan berjuang bersama Tuhan melalui relasiku dengan-Nya.

Ketika aku bergumul untuk tidak pulang ke Medan pada masa liburan tengah tahun 2013 untuk menjadi panitia retreat, Tuhan meyakinkanku dengan jelas sekali, bahwa itu adalah pilihan yang tepat. Masa-masa liburan panjang itu kuisi dengan rangkaian penyambutan mahasiswa baru FH dan UI. Aku mengalami kesusahan-kesusahan sepanjang masa itu. Belum lagi pelayananku sebagai panitia yang mengharuskanku stay dari pagi sampai harus pulang malam selama beberapa minggu. Belum lagi pelayananku sebagai pengurus di FH, yang juga harus mempersiapkan konsep untuk semester baru. Aku kelelahan sekali. Tapi aku mengerti bahwa Tuhan selalu menemaniku. Aku melihat sendiri kok bagaimana Dia cukupkan dan kuatkan segala yang menjadi kebutuhanku pada masa itu. Melalui firman-Nya aku selalu segar dan yakin bahwa yang kukerjakan memang melelahkan namun ada kerajaan Allah yang sedang dibangun di sana.

Ketika aku (tanpa ditanyai lebih dulu) memutuskan dengan pasti bahwa aku akan meneruskan pelayananku di tahun 2014 sebagai tim inti FH, itu pun karena Tuhan yang menggerakkan hatiku. Belas kasihan-Nyalah yang ditaruh-Nya di dalam hatiku agar aku mengerjakan kehendak-Nya di FH. Aku ngga punya dalil untuk berontak. Karena jelas sekali panggilan itu kudengar. Meski aku bergumul keras dengan status sebagai tim inti–yang artinya adalah pemimpin, karena aku merasa tidak mempunyai karakter pemimpin yang kuat, pada akhirnya Tuhan juga yang meneguhkan dan memperlengkapiku. Bahkan dengan sangat tegas Dia pastikan bahwa jawabanku untuk menjadi tim inti adalah jawaban yang tepat.

Pelayanan sebagai pemimpin persekutuan kampus tidak pernah mudah. Aku berjuang untuk tetap memberikan yang terbaik juga di dalam studiku sebagai mahasiswa FH. Aku ingat, beberapa kali pada masa-masa ujian aku hanya tidur 2 jam. Aku sudah berupaya untuk tidak menjadi seorang deadliner, namun entah bagaimana ceritanya, tugas-tugas tetap banyak dan pelajaran semakin ber-bab-bab saja, ditambah pelayanan sebagai tim inti dan ketua divisi acara yang (sekali lagi, entah bagaimana caranya) tetap saja membuat waktu tidurku berkurang. Sebut sajalah manajemen waktuku yang memang buruk. Tapi, tidak ada yang kusesalkan dari segala perjuangan ini. Aku bersyukur karena Tuhan berkati studi dan juga pelayananku, serta kesehatanku.

Ketika akan memasuki liburan tengah tahun 2014, aku dihadapkan pada dilema apakah aku akan magang ataukah aku akan menginvestasikan diriku secara penuh di dalam penyambutan mahasiswa Kristen UI 2014. Pergumulan yang cukup dalam, aku ingat. Beberapa malam dalam doaku aku sempat menangis berupaya mematikan kehendak pribadiku dan memilih mendengar kata Tuhan yang memanggilku untuk melayani penuh di rangkaian penyambutan ini. Tiga bulan kuisi dengan segala persiapan dan pelayanan penyambutan mahasiswa baru. Namun satu hal yang pasti, aku bersyukur aku memilih jalan ini. Karena dengan cara itulah Tuhan membicarakan isi hati-Nya dengan begitu jelas kepadaku sepanjang tahun 2014 kemarin. Tiga bulan itu adalah sekolah iman, sekolah pengharapan, dan sekolah kasih yang terbaik yang pernah ada sepanjang sejarahku menjadi Kristen. Ingin kuceritakan dengan lengkap bagaimana suka dan duka yang terjadi pada masa 3 bulan itu menurunkan hujan berkat bagiku. Ah ya, aku sudah pernah menceritakannya di tumblr-ku dulu. Aku benar-benar memfokuskan hatiku untuk melayani penuh dan tidak magang, serta tidak dulu memikirkan skripsi. Ya, memang inilah jalan yang sudah kupilih dan kuyakini Tuhan sertai.

Memasuki akhir tahun 2014, aku semakin menyadari kalau saja aku tidak menuruti kehendak Tuhan pada masa liburan 3 bulan kemarin, pastilah aku jatuh ketika menghadapi pergumulan yang terjadi di akhir tahun 2014 itu. Pastilah tidak akan ada kasih dan damai sejahtera yang kurasakan di tengah betapa jelas dan hebohnya patah hatiku pada waktu itu. Tapi memang kasih Tuhan itu ajaib, sanggup membuatku tidak mengasihani diriku sendiri melainkan berbalik kepada Dia saja. Aku memang cukup sedih, itu patah hati terdalam yang pernah terjadi di dalam hidupku, tapi entah bagaimana caranya Tuhan tidak mengizinkan aku untuk berlarut dalam emosi negatif dan ketiadaan kasih. Entah bagaimana caranya, Tuhan kawal hatiku dengan begitu hebatnya. Dia katakan bahwa kasih-Nya lebih dari cukup untuk memulihkan hatiku. Aku pun menjalani hidupku dengan baik seperti tidak terjadi apa-apa. Aku bukan sedang menjadi palsu, melainkan menjadi lebih dewasa dalam menyikapi segala kondisi.

Memasuki tahun 2015, aku harus berjuang dalam penulisan skripsi. Segala prosesnya sudah kutuliskan di blog ini juga. Bersama pengerjaan skripsi itu, aku pun juga melayani dalam kepanitiaan penyambutan mahasiswa baru Kristen UI 2015 sebagai divisi Acara. Banyak alasan sebenarnya untuk menjawab tidak, tapi bahkan sebelum diajak untuk bergabung pun, aku sudah yakin dipanggil dalam pelayanan itu. Tetap, Tuhan yang dengan jelas memanggilku melalui firman-Nya yang kudengar pada suatu ibadah minggu. Tidak mudah skripsian dan pelayanan seperti itu. Namun aku sudah berkali-kali menyaksikan bagaimana Tuhan tidak pernah tinggalkan jika Dia sudah memanggil, dan aku pun yakin Dia masih akan melakukan hal yang sama terhadap yang satu ini. Ada sukacita tersendiri dalam pelayananku kali ini. Tentang bagaimana Tuhan membicarakan bahwa Dia selalu punya rencana yang besar untukku–rencana yang lebih besar daripada rencanaku sendiri. Dia tidak izinkan aku sibuk terus membereskan hatiku. Dia yang handle semuanya, aku tinggal nurut.

Aku pun lulus dengan predikat cumlaude. Pada tahun ini hanya ada 12 dari seratusan orang yang berhasil lulus dengan predikat ini dari fakultas makara merah, dan aku menjadi salah satunya. Cuma Tuhan yang memang berhak dipuji dalam hal ini. Dia yang izinkan aku terima predikat ini. Dia yang menolongku di tengah kebodohan dan kelemahan serta keterbatasanku untuk tetap memperjuangkan performa belajar yang baik–meski sampai pada kelulusan itu aku belum sepenuhnya mengerti akan jadi apa aku setelahnya.

Hingga pada akhir ini, setelah aku diizinkan-Nya bekerja di salah satu lawfirm di Jakarta, aku menjadi semakin yakin, bahwa ketika aku berjalan bersama pimpinan-Nya, damai sejahtera yang akan kurasakan. Karena apa? Rancangan-Nya bukan rancangan kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera. Dalam salah satu buku karya Elizabeth George dikatakan bahwa damai sejahtera tidaklah pernah merupakan suatu hal yang bergantung pada hal di luar diri kita, melainkan pada siapa yang bersemayam di hati kita. Ketika Roh Kudus dan firman-Nya yang tinggal di dalam hati kita, bersama kita pulalah damai sejahtera itu–itulah yang membuatku kuat, membuat hatiku kuat.

Sekarang aku akan segera memasuki tahun 2016. Aku ngga pernah tahu apa yang ada di depan sana, tapi aku tahu kalau aku berjalan bersama-Nya, hatiku akan terus dibentuk, akan terus dikuatkan. Kalau aku memilih untuk memikul salib dan mengorbankan diri demi mengikuti kehendak-Nya, di sanalah aku akan mendapat berkat-berkat rohani dari Surga. Di sanalah akan kudapat pelajaran hidup yang lebih berharga dari apa pun.

Aku tidak mau berhenti sampai di sini. Aku mau terus menjadi alat-Nya. Aku mau terus mengalami pertumbuhan rohani. Aku mau terus dihancurkan dan dibentuk kembali. Aku mau terus diajar dan dididik. Aku mau terus mematikan keakuanku. Aku mau berjuang untuk itu semua. Aku ingin bisa terus menyaksikan kepada orang-orang terdekatku yang memuji kuatnya hatiku, bahwa Tuhanlah yang bekerja di dalamnya melalui segala peristiwa yang kualami. Aku ingin saksikan terus bahwa itu adalah buah ketika kita mau ikut dalam kehendak-Nya yang disediakan-Nya di sepanjang waktu perjalanan kita.

Saat ini tantangan yang kuhadapi sudah berbeda. Tantangan tersebut sering membuatku bertanya, “kuatkah aku, Tuhan?”

Namun terus kuberdoa, kuatkan aku, Tuhan.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

2 thoughts on “Kuatkan Aku Tuhan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s