Serba-Serbi RK XV

Retret Koordinator atau yang biasa dikenal dengan RK sudah menjadi alat kasih karunia Tuhan yang sangat aku syukuri sejak pertama kali mengikutinya di tahun 2014. Waktu itu retret ini diadakan di Wisma Aloysius, Bandung. Pada titik itu, panggilan Tuhan untuk mengutusku menjadi tim inti persekutuan mahasiswa Kristen di kampus terdengar sangat jelas melalui sesi demi sesi yang dipersiapkan.

Hal yang sama juga kualami ketika pada tahun 2015 aku mengikuti retret ini. Pada waktu itu menurutku aku merasa sedang berada di titik terendah di dalam hidup, titik di mana aku membutuhkan, sangat membutuhkan hadirat kuasa Roh Allah menguasaiku. Melalui setiap pemahaman dalam eksposisi Galatia serta berbagai sesi lainnya, aku dikuatkan kembali dan merasa bersyukur kalau aku boleh menginjakkan kakiku di titik terendah tersebut, agar dengan demikian tak ada sedikit pun asaku untuk mengandalkan diri sendiri.

Itulah yang membuatku tidak bisa menolak ketika diajak bergabung di dalam kepanitiaan Retret Koordinator tahun 2016 yang berlangsung pada 11-14 Februari kemarin di Wisma Kinasih, Caringin-Bogor. Aku juga mau teman-teman yang lain merasakan dan mendapatkan berkat yang sama bahkan lebih banyak dari apa yang pernah kudapatkan. Pastilah enak diteguhkan, dikuatkan, dihibur oleh kehadiran acara pembinaan seperti ini di saat-saat kita memang sangat perlu diperlengkapi untuk bisa melayani Tuhan dengan efektif. Tidak perlu berpikir-pikir panjang untuk aku pun mengiyakan menjadi salah satu orang yang mau memperjuangkannya.

September 2015 adalah bulan pertama persiapan pelayanan ini dimulai. Bulan yang masih sangat santai karena aku baru selesai wisuda dan belum bekerja di mana pun. Persiapan pelayanan terasa ‘mulus’ dan ‘lancar’; tidak ada kesulitan yang cukup berarti. Waktu? Ada. Banyak malah. Tenaga? Otomatis. Pengangguran coy. Dua hal yang cukup mendasar ini masih mendukungku untuk mengerjakan kerinduan tadi. Dimulai dari bible reading Kitab Kisah Para Rasul, catat poin-poin pentingnya, pelajari alur kisahnya, fokus ceritanya, dan sebagainya. Lalu mulai menyusun pembagian-pembagian eksposisi, PA, memikirkan tema, nama-nama pelayan mimbar, dan beberapa hal lainnya.

Sampailah aku diterima bekerja di salah satu kantor hukum pada bulan November 2015. Awalnya masih terasa semangat itu. Namun tak lama kemudian, ketika beban di kantor mulai bertambah, waktu di kantor cukup banyak dihabiskan, jarak kantor yang jauh dari rumah, yang membuat harus sampai sekitar pukul 10-11 malam, mulai membuatku bertanya apakah sebenarnya Tuhan memang menginginkanku menerima pelayanan ini. Kok rasanya capek sekali dan waktu sedikit di tengah banyaknya yang harus dipersiapkan. Sekitar 2 minggu aku meyakinkan diriku atas panggilan ini dan bersyukur karena Tuhan jawab bahwa, “Dia mengkehendaki adik-adikku, pemimpin-pemimpin pelayanan mahasiswa Kristen di kampus-kampus diperlengkapi dengan firman Tuhan melalui RK XV”. Semenjak saat itu, apa pun tantangan yang kuhadapi selalu berusaha kuserahkan di hadapan Allah. Allahlah yang tahu kesulitan demi kesulitan yang ada sepanjang aku mempersiapkan acara bersama beberapa rekanku yang lain.

Menjadi seksi acara adalah hal yang sudah melekat dalam diriku. Namun, menjadi seksi acara RK XV memiliki cerita dan tantangannya sendiri. Acara ini sangat besar. Pesertanya sampai 300-an orang–yang itu pun adalah pemimpin-pemimpin kampus. Fokusnya berat dan tentunya persiapannya banyak.

Waktu tidur selalu sedikit, tenaga selalu terkuras. Tapi bersyukur ada visi Allah yang begitu jelas yang membuatku ga boleh mengasihani diri sendiri. Banyak sekali perjuangan, pergumulan, miskomunikasi, yang terjadi di seksi acara. Banyak timeline yang akhirnya mundur, dan membuat persiapan menjadi terganggu.

Lalu terwujudlah RK XV dengan tema Mission Possible; ready to Action!

Doaku untuk sesi demi sesi adalah bagaimana setiap yang hadir bisa berjumpa dengan Allah secara pribadi, mengalami kuasa Allah secara pribadi, sehingga hatinya diubahkan, diperbaharui, untuk dibentuk bagi kemuliaan Tuhan. Secara pribadi, banyak banget berkat yang aku dapatkan dari firman Tuhan dalam sesi demi sesi. Aku bersyukur aku ga menjadi panitia yang tidak menikmati apa yang dikerjakan karena awalnya aku sempat khawatir aku akan terlalu sibuk memikirkan hal teknis. Aku juga menikmati bagaimana memuji dan menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran melalui setiap lagu yang dinyanyikan di sepanjang RK. Banyak sekali aku diteguhkan melalui kisah Rasul Petrus, Paulus dan rasul-rasul lain yang membuatku melihat dengan jelas bahwa pelayanan di kampus melalui penginjilan dan pemuridan sangat penting untuk terus diperjuangkan. Tidak hanya itu, aku belajar mengingat tentang bagaimana penyertaan dan kuasa Allah dinyatakan di dalam kelemahan umat manusia. Itu sangat kurasakan ketika menjadi pemimpin pujian pada sesi Persekutuan Doa dan Malam Kesaksian-Kesehatian. Yang kupunya hanyalah kerinduan untuk berdoa serta beban terhadap kondisi yang didoakan. Selebihnya? Aku baru latihan perdana dengan pemusik pada setengah jam di hari H. Juga, mendadak meminta 1 pemusik tambahan di 15 menit menjelang acara.

Tapi aku bersyukur bisa menyaksikan jemaat Tuhan berdoa. Kiranya Tuhan yang terus eratkan persekutuan kita sehingga itu menjadi kekuatan kita menjadi batu hidup bagi Kerajaan Allah. Juga bersyukur bahwa tim musik menikmati persahabatan di dalam tim. Aku ngerasain ada ikatan Roh Kudus. Bersyukur dapet temen baru, dapet kenalan banyak.

Pada akhirnya, segala hormat dan sembah hanya bagi nama Allah yang menunjukkan kepadaku betapa besar dan mulianya misi-Nya bagi dunia. Aku terhenyuk oleh banyak sekali kesaksian dan pengalaman hidup pembicara utama. Ajaib Kau, Tuhan!

Doaku adalah, semua kita yang hadir dalam Retret Koordinator kemarin disegarkan Tuhan untuk mengerjakan kehendak Tuhan dalam membangun kerajaan-Nya di dunia ini. Mari kita berperan sesuai panggilan kita masing-masing untuk mewujudkan orang-orang yang merajakan Kristus di dalam hidupnya. Semoga ada banyak hati yang dibangkitkan rohnya dengan Roh Kudus yang maha suci, yang akan terus menyala-nyala bagi kemuliaan nama Tuhan.

Semoga lahir orang-orang yang memikirkan apa yang Tuhan pentingkan, dan mengabaikan apa yang Tuhan benci. Semoga setiap kita yang hadir di dalam retret ini bisa menjadi pribadi yang bermisi di kampus, kota, bahkan bangsa dan negara kita, serta dunia. Mari kita bersama-sama alami kuasa Roh Kudus yang memampukan kita mengerjakan misi itu.

“Tidak ada tantangan yang terlalu berarti jika berjalan bersama Tuhan” – Pak Mangapul Sagala.

MISSION POSSIBLE: READY TO ACTION!

cats

Salam hangat,

Elisabeth Yosephine.

 

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s