Salah

Dia mengerutkan dahi, berulangkali, mencoba menyusun idealismenya dalam bentuk penggalan-penggalan kalimat sederhana. Sebut saja ia sedang berada pada suatu proses aktualisasi diri. Kali ini, perlu dia pikir untuk meneggakkan bingkai rupa hatinya, agar tak perlu sesak menerima anggapan orang lain. 

Gadis itu menegaskan, dia memiliki standar akan segala sesuatunya. Tidak seperti gadis-gadis lain pada umumnya yang hanya memiliki standar bagi pria-pria mana yang pantas untuknya–dia punya standar, akan apa yang pantas masuk ke dalam hati & pikirannya.

Gadis itu tahu, tidak semua produk mulut manusia perlu diterima, bahkan lebih baik diacuhkan saja. Dia tahu, tidak perlu segala ide manusia masuk ke dalam sel-sel otak dan otot-otot hatinya. Dia tahu, mana yang berguna bagi kebangunan keduanya–demi suatu ketenangan dan kedewasaan yang diidam-idam serta doakan. Dia sangat tahu. 

Mungkin tampak bagi sebagian orang, dia adalah sosok yang membuka mata pada semua hal, tetapi tidak. Mungkin tampak bagi sebagian orang, dia terlalu peduli atas drama hidup orang lain, tetapi tidak. Mungkin tampak bagi sebagian orang, bahwa ia terlalu penasaran akan ide orang lain, tetapi tidak. Sekali-kali tidak. 

Dia hanya membuka mata pada hal yang bisa membuat hatinya semakin dewasa–karena dari mata jatuh ke hati, kan, katamu? Dia tidak pernah peduli pada drama hidupmu, sekalipun dia tahu kau hobi berdrama. Satu-satunya drama yang dipedulikannya adalah drama sejati–dalam layar kaca, hahaha. Kau ingin hidup, hidup saja dengan jujur, juga tulus, serta sebagaimana keberadaanmu. Tak perlu, kan, naskah manusia serta suruhan manusia? 

Dia juga tidak pernah penasaran pada apa yang tidak membuat otaknya semakin lentur dan penuh. Dia sibuk mengisinya dengan aneka ide yang membuat otaknya tunduk pada kedaulatan Sang Pencipta. Apa lagi mengenai omong kosong dunia ini? Tak pernah dia penasaran. Tulisan-tulisan tidak bernilai kekal dan hanya penuh intrik kelicikan hati manusia? Tak pernah ia peduli. 

Jadi, lupakanlah pikiran bahwa ia telah terganggu, karena sesungguhnya tak pernah ia peduli mau bagaimana pun mereka dan ide mereka. 

Hati dan pikiran ini harus dijaga. 

Siapa mereka, menganggap dipedulikan? Maaf, untuk hal yang penting saja dia masih berjuang keras memahaminya. Tidak punya waktu untuk hal yang tidak penting. 

Di dalam kerendahan hati, gadis itu mengirimkan isi hati kepada Sang Pencipta. Hanya sekalimat. 

“Jagalah aku.”

Amin.”

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s