Maria: Memercayai Hal yang Mustahil

“Kita sering mendengar atau menggunakan ungkapan “Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil.” Maria tidak hanya mendengar atau memakai ungkapan ini, tetapi memercayainya. Kehamilan saudara sepupunya Elisabet merupakan tanda yang diberikan oleh malaikat Gabriel kepada Maria bahwa Tuhan dapat melakukan segala sesuatu. Jika mungkin bagi Allah perempuan mandul hamil, maka Dia juga dapat melakukan hal yang sama kepada seorang perawan. Iman dan kerajaan Allah merupakan tema utama dalam bagian ini.” 

Sebuah pengantar dari buku Pendalaman Alkitab “Tokoh Perempuan dalam Perjanjian Baru; yang Taat dan yang Sesat” karya Phyllis J. Le Peau, diterbitkan oleh Literatur Perkantas.

Pendalaman Alkitab kali ini dimulai dengan pertanyaan pembuka tentang, “kapan kita mengalami kesulitan untuk memercayai Allah?” Demikianlah juga saya berharap bahwa teman-teman sekalian mengingat kembali, kapan teman-teman mengalami kesulitan untuk memercayai Allah.

Baca: Lukas 1:26-38, 46-56. 

  1. Jika saya memosisikan diri sebagai Maria, seorang perawan yang mengalami pertemuan dengan malaikat Tuhan, Gabriel, mungkin saya akan pingsan terlebih dahulu. Kagetlah pasti. Sama seperti yang Maria alami ketika ia ditemui oleh Gabriel. Hm dia ngga pingsan sih, tapi kaget. Selain karena fakta bahwa ia dihampiri malaikat, yang lebih mengagetkan adalah pesan yang disampaikan oleh malaikat tersebut. Oh iya, di dalam Alkitab, Gabriel dikenal sebagai malaikat utusan Tuhan yang bertugas menyampaikan pewahyuan atau berita/pemberitahuan, dan sejenisnya. (Coba lihat Daniel 8:15-16; 9:21). Jadi, kalau teman-teman pernah ‘merasa’ seperti sedang ‘diberitahukan sesuatu’ oleh Tuhan, mungkin malaikat Gabriel juga sedang diutus Tuhan untuk kita. Puji Tuhan!
  2. Apa yang disampaikan oleh malaikat Gabriel tersebut? Pertama, bahwa Maria adalah perawan yang dikaruniai dan yang disertai Tuhan. Kedua, bahwa sesungguhnya Maria akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki yang harus dinamainya Yesus. Ketiga, Yesus akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Yesus akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya  tidak akan berkesudahan.
  3. Mendengar perkataan pertama dari malaikat Tuhan membangkitkan kekagetan Maria. Dalam Alkitab New English Translation bahkan diartikan sebagai greatly troubled; sangat kesusahan (29). Maria bertanya dalam hati apa arti perkataan itu–yang kemudian terjawab melalui perkataan berikutnya dari malaikat Gabriel. Setelah itu, Maria makin bingung bagaimana dia akan mengalami hal itu mengingat dia belum bersuami. 
  4. Malaikat Gabriel pun menyampaikan bagaimana caranya Maria, si perawan itu, akan mengandung seorang anak laki-laki. Tidak lupa disampaikannya cerita tentang saudaranya Elisabet, yang saat itu sedang memasuki 6 bulan masa kehamilannya. Malaikat Gabriel juga menyampaikan kalimat iman, “Sebab, bagi Allah tidak ada yang mustahil!” Setelah itu, Maria memiliki respon yang baik terhadap perkataan malaikat Gabriel tersebut dengan berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Ini menunjukkan Maria memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan yang melaluinya Maria sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba Tuhan, serta dengan tegas bisa berkata, “jadilah kepadaku menurut perkataanmu itu” kepada malaikat Gabriel. Ini menujukkan suatu relasi yang dekat dan dalam antara Maria dan Tuhan. Dia memiliki keyakinan dan penyerahan diri kepada Tuhan yang menjadi tuannya, ketika sebenarnya dia tengah menghadapi suatu kondisi yang rumit; membingungkan dan berpotensi membangkitkan ketidakpercayaan. Coba deh yang perempuan bayangin kalau di usia muda begini, belum nikah pula, jangankan nikah, gebetan aja ngga punya, kita dikatakan akan melahirkan seorang anak laki-laki. Ga sanggup. Tetapi respon Maria selanjutnya ini membuatku terhenyuk; Maria yang awalnya kaget, ketakutan, bahkan sangat kesusahan ketika ditemui oleh malaikat, lalu memilih tidak menomorsatukan energi negatif itu dan mau percaya pada perkataan Tuhan melalui malaikat-Nya, serta berserah diri. Imannya berbuat, guys. 
  5. Yang perlu diingat lagi, kepercayaan Maria tadi tidak hanya berfokus pada pesan bahwa ia akan mengandung seorang anak dari Roh Kudus, namun juga mencakup kepercayaan atas pesan bahwa Putranya itu adalah Raja yang kerajaan-Nya tidak berkesudahan alias kekal selamanya. Ini adalah iman yang hebat yang dikaruniakan Allah kepada Maria. Iman yang jauh ke depan, iman yang berpengharapan. Penglihatan manusiawi tidak akan sanggup memercayai hal seperti ini. Sebagian orang bisa menganggap ini mustahil. Tetapi Maria memercayai Allah atas hal yang “mustahil” tersebut.
  6. Tidak berhenti di situ, iman Maria pun membuahkan nyanyian pujian kepada Allah atas apa yang telah diterimanya pada saat itu. Maria bisa saja menyombongkan diri atas perkataan malaikat yang disampaikan kepadanya. Bahaya juga kalau ada Path atau Facebook pada masa itu……. Syukurnya, Maria menunjukkan kerendahan hatinya dengan mengembalikan segala puji, hormat, dan syukur kepada Allah melalui pujiannya.
  7. “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya”. Luar biasa sekali syair ini. Ada jiwa yang memuliakan Tuhan, ada hati yang bergembira karena Allah, Sang Juruselamat. Ini mau menunjukkan bahwa Maria mengakui kebutuhannya sendiri akan keselamatan, dialah orang berdosa yang memerlukan Kristus sebagai “Juruselamat”. Jadi, kepercayaan bahwa Maria sendiri dikandung secara tak bernoda dan hidup tanpa dosa tidak pernah diajarkan di dalam Alkitab (bd. Rom 3:9,23). Di syair berikutnya Maria memuji Tuhan yang Maha Kuasa, yang melakukan perbuatan-perbuatan besar di dalam hidupnya, sepanjang sejarah nenek moyangnya, dan untuk selama-lamanya. Maria memuji Allah yang memakainya menjadi bagian dari rencana Tuhan dalam sejarah masa lalu maupun masa depan, yakni ibu yang mengandung Sang Juruselamat tersebut, Yesus Kristus. 

Demikianlah teladan yang dapat kita pelajari dari Maria; imannya dalam masa rumit dan kemustahilan, serta sikap hatinya dalam menerima karunia Tuhan. Kiranya kita juga bisa meneladani Maria di dalam kehidupan kita sehari-hari. Ingat, Maria memiliki relasi yang baik dengan Allah; kunci iman dan sikap hati yang baik. 

Selamat belajar dan mengaplikasikan!

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s