Herodias: Buah dari Kepahitan

Baca: Markus 6:14-29.

Sewaktu membaca kembali cerita pembunuhan Yohanes Pembaptis ini, sejujurnya saya merasa sangat ngeri. Kayak, astaga, ternyata cerita-cerita macam ini bukan hanya ada di sinetron Indonesia atau telenovela-telenovela gitu ya…


Herodias. Dia adalah isteri Herodes, yang adalah isteri dari saudaranya sendiri, Filipus. Ngga kebayang sih perawakannya gimana, tapi hatinya itu, lho.. penuh dendam. Saya selalu berimajinasi soal hati yang penuh dendam itu bagaikan hati yang busuk, ada ulatnya, lalu berbau sangat amis.

“19 Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat” 

Padahal, Yohanes cuma bilang yang benar ke Herodes, suaminya. Bahwa, tidak baik jika Herodes mengambil Herodias sebagai isteri, yang adalah isteri Filipus. Kadang-kadang manusia itu gitu ya. Dikasih tahu yang benar, malah marah. Ngga dikasih tahu, dibilang ngga peduli. Jadi bingung kan, Jimmy Neutron…


Yak, tujuan PA Tokoh ke-3 ini adalah untuk mengerti bahwa buah kepahitan itu merusak, dan berkanjang dalam dosa akan menuntun kita kepada dosa-dosa berikutnya.

Kepahitan merupakan hasil dari kegagalan bersandar dan menanggapi kasih karunia Tuhan, yang kemudian disebarkan ke lingkungan sekitarnya. Musa membicarakan hal ini dalam Ulangan 29:18; ia memperingatkan seseorang yang hatinya berpaling dari Allah dan menyembah ilah lain dan menyebarkan racun yang mencemari seluruh jemaat.

Ketika hati kita berpaling dari kasih karunia Tuhan, kita juga berpaling dari saudara-saudara kita, maka kepahitan akan muncul. Selama masih ada kemarahan yang tidak terselesaikan dengan baik kepada Tuhan maupun kepada orang lain, kepahitan akan berlanjut. Di saat Herodias diperhadapkan kepada kasih karunia Tuhan melalui hidup dan pelayanan Yohanes Pembaptis, dia menjadi marah dan pahit kepada Yohanes.

Menurut saya, kepahitan bisa dikenali dari munculnya beberapa hal seperti hati yang penuh amarah akan seseorang/kondisi, merasa insecure atas keberadaan orang tersebut/adanya kondisi tersebut, merasa perlu mengalahkan mereka yang kepadanya kita merasa kepahitan, adanya ucapan-ucapan sarkas, sinis, penuh emosi yang tidak sehat, dan yang tadi, hati ini rasanya seperti ada yang mengganjal. Tidak damai sejahtera atas seseorang/beberapa orang/suatu kondisi yang membuat kita kepahitan.

Berdasarkan perikop ini, kita dapat mengetahui bahwa Yohanes Pembaptis adalah sosok yang tegas dalam menyatakan kebenaran, dia adalah orang yang benar dan suci–bahkan Herodes sendiri segan terhadapnya, ingin melindunginya, dan suka mendengarkannya. Herodes aja bisa gitu. Tapi, kok bisa-bisanya nih si Herodias aneh yak? Sampai tidak bisa objektif dalam menilai sosok Yohanes, karena disinggung hatinya atas ucapan yang sebenarnya benar, dari Yohanes? Padahal, kan, baik Herodes dan Herodias (btw, cie ngetz namanya kembaran gitu), mereka sama-sama tidak kenal Tuhan? Bisa bayangin, apa yang mungkin saja terjadi pada kerohanian Herodes jika Yohanes Pembaptis tetap hidup? Herodes senang mendengarnya, lho…

Huft, Herodias. Hati-hati juga tuh bagi kita. Kepahitan membuat kita jadi orang yang over-judging, undervaluing, dan tidak netral dalam menghadapi hal yang membuat kita kepahitan. Bahkan, jadi orang yang kejam. Syerem qaqa~

Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang menyimpan dendam yang akhirnya berujung pada kepahitan. Yang pasti, orang yang menyimpan dendam adalah orang yang sedang melayani keinginan dagingnya sendiri. Kenapa yang disimpen harus dendam? Sedih kan? Kembalilah menilik hati masing-masing, siapa yang sedang kita layani, Tuhan, ataukan diri sendiri. Kita ngga bisa mengontrol apa yang orang katakan/perbuat/apalagi pikirkan kepada dan terhadap kita. Tetapi kita bisa mengendalikan apa yang akan kita katakan, perbuat, dan bahkan pikirkan tentang orang dan kondisi sekitar kita dengan pertolongan Roh Kudus. Maka dari itu, biarlah Roh Kudus memimpin kita dalam kesemuanya itu agar buah Roh boleh tumbuh dari pohon hidup kita.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” – Galatia 5:22-26.

Di mana letak dendam, jika kita berserah penuh menjadi milik Kristus Yesus dan membiarkan kita dipimpin oleh Roh seperti penggalan ayat di atas?


Herodias dalam kepahitannya sangat menanti-nantikan kesempatan untuk membunuh Yohanes. Dendamnya tidak hanya pada hari ketika ia ‘disinggung’ oleh Yohanes. Tetapi sampai beberapa hari setelahnya. Maka dari itu, penting juga bagi kita untuk cepat-cepat minta ampun sama Tuhan by the time kita merasa tersinggung/marah atas ucapan/teguran seseorang regardless bagaimana pun tegurannya. Firman Tuhan sendiri berkata amarah manusia itu tidak mengerjakan apa pun yang benar di hadapan Allah dan sebaiknya cepat-cepat diselesaikan, kalaupun kita menjadi marah. (Yakobus 1:20 dan Efesus 4:26).

Kepahitan yang dirasakan oleh Herodias berdampak luas. Dimulai dari dirinya sendiri yang mencari-cari kesempatan untuk membunuh Yohanes, menghasut putrinya untuk menjadi jalan pembuka bagi dibunuhnya Yohanes, sampai seorang pengawal yang diperintahkan Herodes untuk memenggal kepala Yohanes di penjara–yang menyebabkan meninggalnya sosok yang benar dan suci di hadapan Tuhan tersebut. Begitulah cara kerja kepahitan, banyak dosa lanjutan yang mengikuti.

Karena itu, teman-teman. Mari kenakanlah kasih (karunia Kristus), sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kolose 3:14) dalam kehidupan kita bersesama dengan setiap orang.

BUANGLAH DENDAM PADA TEMPATNYA!

KALO PAHIT, KASIHIN GULA AJA!

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s