Perempuan yang Berbuat Dosa: Hati yang Diampuni

Hi!

Ketemu lagi bareng aku, Elisabeth, dalam acara…tralala-trililiiiiii~ *yeay *drum-roll *confetti *petasan *kembang api *tahu wakwaw

Tunggu.

Apa itu tadi?

Ah sudahlah~

Kali ini kita akan melanjutkan postingan belajar bersama dengan mempelajari kisah salah satu perempuan lain dalam Alkitab. Kita akan belajar dari Lukas 7:36-50. Kebalikan dari Herodias yang memilih dikungkung oleh kepahitan dan dosanya, ada seorang perempuan berdosa lain yang mencari dan menerima pengampunan dari Tuhan YesusYuk, dibaca dulu perikopnya! πŸ™‚


Perempuan ini ditunjukkan sebagai seorang yang berdosa. Namanya Maria (Yohanes 12:3); apakah ini Maria saudara Marta, belum jelas demikian. Berdasarkan Injil Yohanes, peristiwa ini terjadi di Betania, tempat tinggal Lazarus, yang dibangkitkan Yesus dari kematian. Bagi kaum Farisi pada masa itu, seorang yang berdosa berarti seorang yang tidak melakukan hukum Tuhan dengan benar. Meski status sosial yang diberikan masyarakat padanya waktu itu adalah ‘orang berdosa’, Maria tidak malu untuk datang menghampiri Yesus begitu dia mendengar bahwa Yesus diundang makan di rumah Simon, orang Farisi, yang berpenyakit kusta itu (Matius 26:6). Sedangkan Simon, tampak sebagai orang yang lebih rohani dibanding perempuan ini, meski dia berpenyakit kusta. Tapi begitulah, kadang-kadang orang yang ‘dipandang rohani’ ternyata adalah orang yang paling tidak rohani dalam memandang orang lain.

Ketika mencoba menempatkan diri di posisi Maria, rasanya seperti berbeban berat banget sih. Kayak dapat serangan dari mana-mana; baik secara sosial (punya julukan sebagai si berdosa–hiy :(), secara budaya, secara psikologi, apalagi secara rohani. Rasanya kayak udah ngga layak bangetlah masuk sorga. Kayak neraka udah di depan mata (gosong dong). ‘Penderitaan’ yang dialami Zaskia Got*k karena salah sebut Pancasila jelas ngga sebanding dengan yang dirasakan Maria. Kalau aku jadi si perempuan ini… rasanya sulit untuk menunjukkan diri ke hadapan orang lain, apalagi harus sok-sok masuk ke rumah seorang Farisi tanpa diundang. Kalau kata Maudy Ayunda, tahu diri. Kalau pun memberanikan diri masuk ke rumahnya, aku rasa aku akan di pojokan aja deh…

Tapi Maria? Apa yang malah dilakukannya?

“Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.” (ayat 38)

Dia sudah mempersiapkan suatu pelayanan untuk Yesus. :’)

Tafsiran dalam SABDA mengatakan bahwa karena kasihnya kepada Yesus, perempuan ini membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Menangis dapat merupakan ungkapan kesedihan dan dukacita atau ungkapan kasih yang berterima kasih kepada Yesus. 

Catatan: Mari kita sama-sama langsung meletakkan kata ‘menangis’ pada tatanan ungkapan yang menunjukkan betapa seseorang begitu bersungguh-hati akan sesuatu, agar tidak perlu bias apakah ini tangisan buaya/tidak.

Tidak dituliskan dengan jelas apa yang membuat Maria sebegitunya kepada Yesus. Minyak wangi yang dipersiapkannya adalah minyak narwastu Murni yang mahal harganya (Markus 14:3). Namun tindakan Maria tersebut menunjukkan suatu sikap hati yang tunduk, hormat, dan penuh kasih kepada Yesus. Bandingin ajalah sama Simon sebagaimana yang dikatakan Yesus dalam perikop ini:

“Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku,  tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku  dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.”

  • Bagian barusan ini mengingatkan juga tentang bagaimana kita dalam menyambut kehadiran Yesus di dalam hati kita; apakah masih dengan sikap hati yang tunduk, hormat, serta penuh kasih? Ataukah sama kayak Simon, yang tidak melakukan apa-apa, tidak mempersiapkan “minyak narwastu murni yang mahal”–pelayanan terbaik–untuk Yesus? Bagian ini juga kembali mengingatkanku secara pribadi dalam pelayanan yang Tuhan percayakan kepadaku. Apakah karena sudah begitu sering melayani, lantas lupa memiliki sikap hati seperti Maria? Apakah karena merasa sudah diselamatkan, dan sudah ‘berjalan dalam hidup yang benar’ lantas lupa, betapa “seorang berdosa”-nya diri ini?

Respon yang hadir pada masa itu beragam-ragam. Simon, yang merasa tidak berdosa, lantas meragukan ke-Nabi-an Yesus dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” Dalam Injil Sinoptiknya yang lain juga dituliskan bahwa murid-murid menjadi gusar dan memarahi perempuan itu. Bahkan seorang murid yang bernama Yudas melontarkan keklisean masa itu dengan berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yohanes 12:5-6), padahal itu karena dia mata duitan. Yud, Yud…

Sangat menarik ketika Yesus menunjukkan bukan hanya ke-Nabi-annya, namun juga ke-Allah-annya dengan mengetahui pikiran mereka (Matius 26:10) dan berkata kepada Simon, “ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Kira-kira Simon deg-deg-an ngga ya? Kayak dipanggil bos ke ruangannya gitu, misal… #oke

Kemudian Yesus menceritakan mengenai perumpamaan tentang dua orang yang berhutang dengan jumlah hutang yang berbeda (50 dinar dan 500 dinar) untuk menunjukkan bahwa Maria (yang dianggap berhutang banyak–berdosa banyak) telah diampuni sebab telah banyak dia berbuat kasih. Poin ini bukan menyatakan bahwa kita diampuni karena kasih kita, melainkan kasih kita kepada Yesus terjadi sebagai respon pengampunan yang telah kita terima. Dalam hal ini berarti Maria begitu merasakan pengampunan Yesus yang besar atas dosa-dosanya dan penerimaan Yesus yang luar biasa atas dirinya yang banyak ditolak orang. Hati yang diampuni itu… indah sekali… :”)

Kisah perempuan yang diampuni lain pun dapat kita lihat dalam Yohanes 8:1-11:

8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.  8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” 8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa , hendaklah ia yang pertama melemparkan batu  kepada perempuan itu.” 8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. 8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” 8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau .Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

  • “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” <– baca ini bikin nangis πŸ˜₯ Merasa dibela banget sama Tuhan di kala semua orang benci, ngga suka, mau membunuh dengan batu-batu πŸ˜₯ Di mana lagi mendapatkan penerimaan yang begitu besar seperti ini? Siapa yang punya kasih begitu besar yang bahkan sanggup mengampuni dosa sebesar apa pun selain Tuhan Yesus? πŸ˜₯

Di kala orang lain heboh dengan apa yang dilakukan Maria kepada Yesus dan mengapa Yesus memperlakukan Maria seperti itu, bahkan sanggup berkata bahwa Ia mengampuni dosanya, Yesus malah berkata kepada Maria, “Imanmu telah menyelamatkan engkau,  pergilah dengan selamat!”. Ini memperjelas poin pengampunan yang diungkapkan Yesus melalui perumpamaannya, bahwa Maria diselamatkan karena imannya yang bertindak–menerobos orang-orang yang menolaknya demi menunjukkan kasihnya kepada Yesus melalui pengurapan yang dilakukannya dengan minyak terbaik, serta air mata yang menunjukkan kesungguhan hatinya. Orang lain tidak memiliki fokus seperti Yesus; bahwa Ia adalah Tuhan yang datang untuk menyelamatkan orang berdosa yang percaya dengan imannya.

Apa yang menjadi fokus pelayanan kita? Apakah kita masih sibuk memikirkan apakah ‘orang berdosa’ di sekitar kita tidak layak menerima pengampunan? Apakah pertobatan yang sejati tidak lagi menjadi fokus pelayanan kita? Apakah tidak ada lagi sikap mengurapi Yesus dengan minyak narwastu murni dan tangisan sebagai gambaran sikap hati yang sungguh-sungguh? 

.

.

.

…dan secara pribadi, apakah kita masih menghadirkan hati yang diampuni, dalam kehidupan kita bersesama melalui pengampunan yang kita berikan kepada orang yang bersalah kepada kita?

Mari belajar banyak hal dari perempuan yang berdosa ini.

 

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s