Sekalipun Dagingku dan Hatiku Habis Lenyap

Untuk yang ke-sekian kalinya Tuhan menunjukkan bahwa hanya Dialah yang patut diandalkan, hanya Dialah yang mampu menambah kekuatan, dan hanya Dialah yang dapat memuaskan–dan aku bersyukur atas hal itu. Ini membuatku dapat memfokuskan kembali hati & pikiranku pada apa yang sesungguhnya Ia mau, apa yang sesungguhnya Ia kehendaki. Tuhan kembali menegaskan bahwa, manusia, dalam berbagai tingkat kedewasaannya, bukanlah gunung batuku dan bagianku. Manusia, dengan berbagai tingkat kedewasaannya, selalu saja bisa menimbulkan kekecewaan bagi kita, ketika kita menaruh harapan pada mereka.

Aku baru saja menangis. Karena apa? Tidak tahu. Ini kali pertama aku menangis begitu saja karena merasa begitu sesak di dalam hati–tanpa tahu penyebab jelasnya. Seperti semua jeritan kekecewaan dan teriakan minta tolong bersahut-sahutan dari dasar hati yang untungnya dapat diwakili oleh butiran-butiran air mata dengan mulut yang terkatup. Rasanya baru tadilah hatiku mampu menyuarakan pikirannya atas apa yang telah membuatnya sedih beberapa waktu ini. Bagiku, lebih susah menghadapi perkara batiniah seperti ini daripada persoalan jasmaniah. Meski keduanya berhak mendapat manajemen dan penanganan konflik yang sama & bersumber dari firman Tuhan, tetapi aku lebih kuat menghadapi kelelahan fisik daripada kesusahan hati seperti ini.

Rasanya ingin berpikir seperti ini: serius banget sih, Beth, mikirin ini doang? Ngga bisa dilupakan aja? Tetapi entahlah, aku ingin begitu serius dalam mengawasi setiap hal yang menjadi produk diri ini–sebutlah itu kehendak, pikiran, perkataan, sampai perbuatan–karena segala sesuatu perlu dilakukan seperti untuk Tuhan. Tidak bisa parsial. Itulah yang membuatku peka pada tiap-tiap rasa hati yang muncul. Itulah yang membuatku sadar bahwa saat ini, sedang ada begitu banyak hal yang mengusik kehendak, pikiran, perkataan, dan perbuatanku, dari apa yang membuatku seharusnya melakukannya seperti untuk Tuhan. Ada begitu banyak. Aku sampai lelah memikirkannya. Sesak sekali.

Bersyukurlah diri ini, karena tangisan tadi ditutup dengan teguran dan peringatan melalui firman Tuhan yang mengatakan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkanku, Tuhan tidak akan pernah membiarkanku. Rasanya seperti Tuhan sedang menyemangatiku mengerjakan ini semua hanya untuk Dia. Rasanya Tuhan kayak sedang ingatkan bahwa, “manusia dapat meninggalkan engkau dan membiarkanmu, Beth, tetapi Aku tidak.” Tuh kan, nangis lagi. Memang aku ini cengeng banget sebenernya. Sungguh-sungguhlah, kalau di tengah kecengengan dan kelemahan ini Tuhan masih mau pakai, itu semua hanya karena pekerjaan Tuhan harus dinyatakan. Ini tuh lagi klimaks banget sih persoalan batiniahnya, sehingga ketika jasmaniah pun lelah, makin afdol-lah capeknya.

Aku harus selalu beristirahat dalam Tuhan.

Aku harus dengan yakin berkata, “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”

“Selain Kau tiada yang lain ada padaku di Sorga
Selain Kau tiada yang lain yang kuingini di bumi
Yang kuingini di bumi
Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap
    Gunung Batuku dan bagianku
    Tetaplah Allah selama-lamanya!”

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s