Tentang Mengasihi Tuhan

Di kala dunia larut dengan berbagai definisinya tentang ‘kasih’, kekristenan justru memperkokoh pengertian saya tentang kasih. Ketika Firman Tuhan dalam Ulangan 6:5 menyatakan, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”, tentulah kita bertanya, bagaimana caranya mengasihi Tuhan? Setidaknya saya bertanya demikian. Karena kekristenan mengajarkan saya bahwa kasih kepada Tuhan bukan cuma perasaan, kasih bicara soal keyakinan dan komitmen (segenap hati), bicara soal segenap keberadaan kita (segenap jiwa), dan bicara soal kekuatan; kasih memerlukan kekuatan. Lebih dalam lagi, mengasihi Tuhan memerlukan kekuatan spiritual dalam anugerah-Nya.

Pertanyaan saya mengenai bagaimana caranya mengasihi Tuhan belumlah sepenuhnya terjawab; yang barusan tadi baru bicara soal dengan-apa-nya.

Lalu, bagaimana?

Firman Tuhan dalam Yohanes 14:21 mengingatkan saya ketika Yesus berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Mengasihi Tuhan sama dengan memegang perintah-Nya dan melakukannya. Senada dengan pengantar Ulangan 6 yang menuliskan bahwa perintah tersebut diberikan supaya umat Israel, seumur hidupnya, beserta anak cucunya, takut akan TUHAN, Allah, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya; ada tujuan perintah, ketetapan, dan peraturan tersebut diberikan.

Dua bagian firman ini sangat dalam, karena:

  1. Ketika kita diberikan perintah, ketetapan, dan peraturan, tentu kita akan semakin mengenal bahwa cara Tuhan, jalan Tuhan, rancangan Tuhan, janji Tuhan, waktu Tuhan, adalah terbaik. Masakan kita tidak takut akan Dia dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah tersebut? 
  2. Ketika kita takut akan Dia, berpegang pada segala ketetapan dan perintah tersebut, kita telah menunjukkan bahwa kita mengasihi Dia. Berarti, tidak pernah ada orang yang mengasihi Tuhan tanpa Firman-Nya. Tidak ada kasih kepada Tuhan tanpa menjadi pelaku Firman-Nya. Sehingga, manusia ternyata tidak mengasihi Tuhan dengan sendirinya, dibutuhkan Firman Tuhan–yang adalah anugerah itu–menjadi ‘cara’ manusia menyatakan kasihnya.
  3. Saya meyakini, tanpa Tuhan sendiri, sekalipun saya menerima Firman, membacanya, saya tidak melakukannya dengan kekuatan saya sendiri. Saya harus ditolong oleh Dia sendiri. Saya lebih suka berbuat dosa daripada berbuat yang dikehendaki Tuhan; tubuh dosa ini masih rentan jatuh. Saya butuh Tuhan setiap waktu.
  4. Poin 1, 2, dan 3 ini saya lakukan dengan penuh keyakinan dan komitmen (segenap hati), segenap keberadaan (jiwa) saya, serta segenap kekuatan saya (penebusan Kristus menjadi kasih karunia bagi saya untuk beroleh kekuatan dan berjuang bersama Dia dalam mengasihi-Nya).
  5. Tuhan akan menyatakan diri-Nya kepada mereka yang mengasihi Dia. Menjadi jelaslah bahwa, pengalaman bersama Tuhan hanya diperoleh melalui proses mengasihi-Nya; melalui firman, melalui perjuangan, komitmen, kekuatan, dan pastinya pertolongan Tuhan sendiri. 

Dengan demikian, sepertinya setiap kita yang merasa tidak ‘menikmati firman’ adalah kita yang tidak ‘mengalami Dia’; adalah kita yang tidak mencari Dia, tidak sungguh-sungguh mencari Dia.

Mungkinkah kasih kita yang kurang kepada-Nya, kalau begitu?

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s