Perempuan Kanaan: Bertekun dalam Doa

Setelah mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, lalu belok ke pantai dan teriakku, akhirnya saya bisa melanjutkan kembali seri Belajar Bersama dari buku Pendalaman Alkitab “Tokoh Perempuan dalam Perjanjian Baru” ini! Yeay!

Itu tadi ada Ninja Hatori lagi syuting AADC, guys. Sorry.

Kali ini kita akan belajar dari salah satu tokoh perempuan yang disebut dengan Perempuan Kanaan melalui firman Tuhan dalam Matius 15:21-28. 

Kadang-kadang, ketika saya sedang berdoa, saya merasa seolah-olah surga terbuka dan saya dapat merasakan langsung kehadiran Allah. Saya tahu Dia ada di sana, Dia tidak sabar menanti untuk menjawab doa saya. Di saat lain, surga seolah-olah seperti jauh sekali, rasanya usaha saya untuk mendekat kepada Allah tidak dapat lebih tinggi dari langit-langit kamar saya, lalu jatuh menimpa lagi jiwa saya yang berbeban berat. Jika seperti yang pertama sedang terjadi, sama sekali tidak sulit rasanya untuk berdoa. Tetapi, ketika surga seakan jauh sekali, bertekun dalam doa menjadi pekerjaan yang sulit. Iman dalam doa perempuan Kanaan ini menjadi teladan bagi kita di saat kita merasa doa-doa kita sepertinya hambar dan biasa-biasa saja.

Pertanyaan refleksi:

Kapan kalian merasa Tuhan sepertinya ‘mengabaikan’ doa kalian?


Perempuan dalam kisah ini adalah seorang perempuan Kanaan yang berasal dari daerah di Tirus dan Sidon. Pada bagian Alkitab lain, perempuan ini adalah seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Dia memiliki seorang anak perempuan yang sedang kerasukan setan dan sangat menderita. Adalah penting bagi kita untuk mengetahui bahwa perempuan ini adalah bangsa Kanaan, sebab bangsa Kanaan adalah orang kafir (tidak mengenal Tuhan) serta musuh orang Israel dalam tradisi Perjanjian Lama.

Hal menarik dari perempuan ini adalah dia menyebut Yesus sebagai Anak Daud (ayat 22) yang mengindikasikan bahwa perempuan ini mengenali Yesus sebagai Mesias bangsa Yahudi.

Pada masa itu ada ketegangan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi, dan seorang perempuan tidak diizinkan mendekati laki-laki (Hm, kalo sekarang gimana, guys? Ehehehe). Sehingga percakapan seperti yang tertulis dalam perikop ini pastilah percakapan yang cukup mengekang, sarat kritikan, menjadi pusat perhatian, dan mengherankan.

Meski begitu, isi permohonan perempuan tersebut dapat menjadi model yang sangat baik tentang bagaimana seharusnya kita datang kepada Yesus.

Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.

Permohonannya tersebut menunjukkan sikap hati yang ‘rentan’–menunjukkan ketidakberdayaan–serta keberserahan. Dia meminta Tuhan berbelas-kasihan padanya. Permohonan tersebut juga menunjukkan pengakuannya bahwa Yesus adalah Tuhan. Kemudian dia menyampaikan kebutuhannya.

Namun, Yesus sama sekali tidak menjawabnya (ayat 23). Sedih ya. Udah nggak dijawab, malah diusir sama murid-murid Yesus. Padahal si perempuan ini mengikuti mereka dengan berteriak-teriak. Coba bayangin deh. Maksimal banget ngga sih, “malu”-nya? Saya rasa kalau saya yang jadi perempuan ini, lebih baik saya cari timing yang pas; yang ngga rame, ngga ada murid-murid Yesus, atau kalau bisa, ya pelan-pelan sajalah. Udah orang Kanaan, minta tolongnya sama orang Yahudi. Sikap diam Tuhan Yesus pada saat itu membuat saya berpikir bahwa, lebih baik Tuhan secara tegas mengatakan ‘iya’ atau ‘tidak’, dari pada harus diam seperti itu. Tapi, lebih senang lagi kalau Tuhan bilang, ‘iya’. Hehehe.

Manusia tuh rentan sama penolakan. Jelas. Pride manusia akan jatuh. Misalnya, ditolak sama abang GO-JEK. Err. Jikalau saya yang menerima penolakan seperti perempuan ini mungkin saya akan mundur, malu, lalu showeran sambil nangis. Hiks.

Setelah murid-murid meminta Yesus mengusir perempuan itu, Yesus mengatakan bahwa Ia datang hanya untuk domba-domba yang hilang dari umat Israel. Tanggapan Yesus ini seharusnya telah menghapuskan harapan perempuan ini. Namun, apa yang dilakukan oleh perempuan ini? Dia malah mendekat dan menyembah Yesus dan tetap meminta tolong (ayat 25). Kembali, Yesus semakin ‘menyakiti’ hatinya dengan menyamakan orang kafir dengan anjing. Dalam bahasa aslinya, kata ‘anjing’ yang dipakai di sini berarti ‘anjing rumah’. Mungkin terdengar kasar, tapi metafor ini ingin menjelaskan bahwa sebenarnya prioritas pelayanan Yesus saat itu adalah kepada orang Yahudi.

Namun jawaban perempuan ini seperti dalam ayat ke-27 sungguh rendah hati. Jawaban tersebut  mengakui bahwa prioritas dari misi Yesus adalah untuk bangsa Israel, namun ia memohon perluasannya bagi bangsa lain. Constable Note, menafsirkannya demikian:

In her reply the woman said, “for even,” not “but even” (Gr. kai gar). This is an important distinction to make, because she was not challenging what Jesus had said. She acknowledged the truthfulness of what He said, and then appealed to Him on the basis of its implications. Her words reveal great faith and spiritual wisdom. She did not ask for help because her case made her an exception, or because she believed she had a right to Jesus’ help. She did not argue about God’s justice in seeking the Jews first. She simply threw herself on Jesus’ mercy without pleading any merit.

Inilah yang membuat Yesus kagum pada iman si perempuan ini dan akhirnya mengabulkan permohonannya dan bahkan berkata kepada si perempuan ini bahwa, “besar imanmu, maka jadilah padamu seperti yang engkau kehendaki.” Lalu, anak perempuannya pun sembuh dari kerasukan setan.

Teladan iman dari perempuan ini menolong saya untuk memperjuangkan kehidupan doa ketika saya sedang berada pada masa sulit, dan di tengah-tengah situasi yang tampaknya tidak ada harapan. Tuhan bisa saja menjawab ‘iya’ atau ‘engga’ sesuka hati  dan cara-Nya, hanya saja, mintalah terlebih dahulu.

Konsistensi doa yang penuh iman, saya pernah dan sedang memperjuangkan itu. Semoga kita senantiasa dengan yakin menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan, sebab Tuhan memerhatikan orang yang bertekun dalam doa.

Semangat!

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s