Bagi-bagi Cerita

Sesuai judulnya, hari ini saya akan membagikan beberapa hal yang saya pelajari ketika mengikuti rapat kerja komponen pelayanan suatu lembaga pelayanan kristiani di mana saya melayani di dalamnya.

Tulisan ini adalah tentang pelayanan kristiani yang mungkin membuat beberapa orang nggak nangkep “apa sih maksudnya?”, “apa sih tujuannya?”, “kok mau sih repot-repot ngelakuinnya?” Sebelum masuk ke poin-poin catatan saya dari rapat kemarin, saya mau bilang bahwa saya pribadi melakukan pelayanan kristiani atas kesadaran penuh bahwa hidup yang melayani adalah panggilan saya. Saya rasa perlu menekankan kalimat “kesadaran penuh” untuk menunjukkan bahwa saya melayani bukan karena ada waktu kosong, bukan karena saya dipaksa, dan bukan karena otak saya dicuci. Emang laundry-an?

Ketika saya memutuskan untuk percaya kepada Yesus Kristus, bertobat, berpaling dari cara-cara hidup saya yang dulu sebelum percaya kepada-Nya, dan berkomitmen memulai cara hidup yang baru yang dikaruniakan oleh-Nya, alasan utama saya melakukan pelayanan kristiani adalah karena saya punya mimpi di depan sana semakin banyak orang yang mengalami hal serupa dengan saya. Saya punya mimpi orang-orang di luar sana hidup bukan demi kepuasan dirinya sendiri, tapi hidup sebagaimana Yesus kehendaki. Saya muak lihat dunia yang begitu rakus.

Di mana saya memulainya? Di kampus saya. Kenapa? Karena kampus adalah tempat orang-orang pintar yang potensial untuk mengadakan perubahan baik dalam skala kecil maupun besar. Bisa bayangkan apa jadinya jika kampus diisi oleh orang-orang pintar yang hidup untuk kepuasan dirinya sendiri? Perubahan apa yang akan dia buat? Coba deh pikirin.

Seiring berjalannya waktu, pelayanan kristiani yang saya atau pun teman-teman lakukan pasti mengalami kesulitan yang menggeser nilai-nilai dasar pelayanan tersebut. Saya pernah mengalami hal tersebut namun saya bersyukur ada banyak reminder yang Tuhan sediakan untuk mengembalikan fokus saya tadi. Inilah yang saya ingin bagikan di cerita berikut:

Pelayanan kristiani yang tanpa visi adalah pelayanan yang cepat atau lambat hanya akan menjadi monumen. Tidak lagi bertumbuh, tidak lagi dinamis, hanya peninggalan. Penting bagi kita yang melayani untuk memiliki visi, mengalami visi, dan menyelidiki visi tersebut. Apa sih visi?

Visi itu melihat–melihat apa yang jauh di depan. Karena itu perlu bergantung pada firman Tuhan dan doa yang sungguh-sungguh meminta kepada Tuhan. Kalo dekat mah jalan kaki aja. Visi nggak sekadar bicara mengenai masuk sorga, namun juga moralitas yang diubahkan serta pertumbuhan spiritual yang dinamis. Tidak punya visi sama seperti orang buta menuntun orang buta–keduanya akan masuk jurang, sama dengan Alice in Wonderland (terima kasih Gohan untuk ilustrasinya), yang nggak tau mau ke mana–yang penting jalan. Sama juga kayak lagu “mau di bawa ke manaaah hubungan kitaaaah”. Makan bareng iya, nonton bareng iya, ke persekutuan bareng iya, tapi gitu-gitu doang, nggak ada ketegasan, wakakak.

Penting juga bagi kita untuk secara aktif dan berkesinambungan membagikan visi tersebut agar mereka yang kita bagikan visi mengerti respon seperti apa yang harus mereka berikan–semata-mata demi kita bersama-sama mengerjakan pelayanan atas visi tersebut. Nggak usah takut kalo sering curhat pelayanan, mungkin sampe nangis, bagi saya itu adalah salah satu cara membagikan visi. Ini akan mendorong orang lain untuk mengerti visi pelayanan yang kita punya dan mereka turut ambil bagian. Jangan kita hanya tergerak, namun juga mari bergerak.

Inilah pentingnya pelayanan kita memiliki leaders of vision yang melihat Tuhan, apa yang Tuhan lihat, dan melihat rencana Tuhan. Ciri-cirinya adalah mengalami panggilan Tuhan (dia tau bahwa dia adalah hamba Tuhan dan bukan hamba program, hamba manusia, hamba uang, apalagi hambalang), dia juga memiliki fokus ladang pelayanan; bukan semua pelayanan dikerjakan, berkomitmen berjuang mengerjakan misi menuju visi, serta dia pasti mengalami kuasa dan anugerah Allah bekerja di dalam diri dan pelayanannya.

Pelayanan kristiani yang digerakkan oleh visi pasti memiliki kehidupan persekutuan yang cinta firman Tuhan, suka berdoa, mau memberitakan Injil, rindu memuridkan orang lain, semangat dalam melayani, antusias, berjuang dalam kesulitan, dan juga on fire. *insert emote api here* Hati-hati dengan penggerak palsu yang bukan visi. Pastilah orientasinya adalah program atau tradisi dan bahkan keduanya.

Pelayanan kristiani adalah pelayanan kepada orang sehingga seharusnya dilahirkan persekutuan yang berkualitas. Persekutuan yang di dalamnya ada sukacita, relasi yang dalam, kesehatian, kuasa Tuhan dan berkat Tuhan yang melimpah. Bagaimana tidak? Ini adalah tubuh-Nya? Kehidupan persekutuan/persahabatan yang baik ditandai dengan banyak hal seperti relasi interpersonal yang dalam, ada teman-teman persekutuan di dalam hati dan doa kita (ada dia yang ketemunya di persekutuan juga boleh), ada saling berbagi, ada sharing visi yang kontinu. Hati-hati, kegembiraan games menggantikan sukacita persekutuan, familiarity menggantikan intimacy, dan basa-basi basi menggantikan perhatian dan doa.

Pelayanan kristiani juga sebaiknya mewujudkan good governance pula. Mau tidak mau mesti ada pengaturan yang baik, teliti, dan spesifik mengenai ordo, pengambilan keputusan, distribusi kepemimpinan meliputi hak dan tanggung jawab, job-description, dan aturan-aturan tertentu yang dibuat demi mencapai visi yang dimiliki.

Pelayanan kristiani tidak lepas dari tantangan  yang dapat datang dari mana saja dan kapan saja. Kita harus terus bergerak dan berdoa dalam menghadapi tantangan tersebut. Kita juga harus membuat strategi pelayanan yang jelas dan konkrit, melibatkan setiap anggota dalam pelayanan kita agar tidak ada yang hanya menjadi penonton, serta tetap mengerjakan bagian masing-masing dengan maksimal.

Saya pikir itulah poin-poin penting yang saya pelajari pada rapat kemarin dan saya berdoa siapa pun yang membacanya digerakkan Tuhan untuk melayani dengan lebih baik lagi di mana pun dia melayani.

Semangat!

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s