Day 10: Write It Without Editing

I feel sorry to myself because I didn’t post my day 10 challenge due to tiredness that hit me yesterday (it was a 18-hour-non-stop day). But I am excited enough to write something without editing, so here it is.

Saya pikir lebih baik saya menulis tantangan hari ini dengan bahasa Indonesia karena saya tidak begitu baik dalam berbahasa Inggris dan itu akan sangat tidak asyik jika saya harus kesusaajhan mengerik astaga barusan saya salah ketik dan saya tidak bisa hapus. Oke mari kita ulang. Itu akan sangat tidak asyik jika saya harus kesusahan mengetik dengan bahasa Inggris apalagi saya tidak bisa melakukan editing.

Saat ini saya memutuskan untk cerita tentang sesuatu yang kebetulan sangat memenuhi pikiran saya seharian ini. Saya sakit perut sekali btw 😦

Kadang-kafang saya suka berpikir, apakaj kita pernah benar-benar jujur pada diri kita sendiri atas satu hal maupun beberapa hal. Apakah yang tampak dari pekrataan kita sesuai dengan apa yang ada di dalam hati kita yang terdalam. Soti itu harusnya diakhiri dengan tanda tanya. Sori lagi, yang barusan harusannya sori. Yang barusan juga harusnya harusnya.AAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!

I am pretty much reckless. 

Saya berpikir, mungkinkah kita sedang menyiksa hati kita sendiri demi apa pun itu, dengan tidak mengatakan apa yang sebetulnya ingin kita katankan? Mungkinkah kita sedang menyiksa hati kita sendiri dengan menjadi yang bukan kita? Saya tahu, dalam level tertentu, hal ini mungkin lebih baik diambil sebagai pilihan jika dengan itu kita bermaksud taat pada kehendak Tuhan, namun bagaimana jika sebenarnya kita sedang mengerjakan kehendak sendiri? Ternyata Tuhan tidak ingin kita melakukan itu?

Saya belajar tentang ini sudah sejak lama; tentang mengatakan yang sesungguhnya Anda pikirkan dan rasakan, dengan cara yang tepat, waktu yang teoat, dan kepada orang yang tepat. Saya tahu persis ga enaknya dibohongi hehehehe kok begini amat dah.

Maka dari itu saya tidak ingin orang merasakan hal tersebut dari saya.

Meski begitu, saya kerapkali merasa berada di lingkungan yang tidak demikian dan itu membuat saya sedih. Saya menyaksikan beberapa orang yang ‘tersisksa’ karena tidak bisa bilang apa yang di a ingin bilang (ckck kzl uga typo mulu(). <<—- apaan tuh.

Melalui postingan tanpa editan ini, yang filosofinya sesuai dengan isi tulisannya, saya mengajak dan memotivasi teman-teman untuk berani bilang apa yang teman-teman sangat ingin sampaikan, tanpa ‘mempernmanis’, atau ‘memperpahit’ isinya, just say it, dengan motivasi yang murni, demi kebangunan bersama, pus (I mean plus) dengan cara yang tidak perlu marah-marah (kalau misalnya isinya adalah kekesalan). Ah ya, apakah menyampaikan ; ‘kemarahan’ dengan ‘tidak marah-marah’ berarti palsu? Menurut saya tidak. Orisinalitas itu bicara isi, bukan kemasan.

Seperti tantangan hari ini yang tidak boleh di-edit, tampil apa adanya, terlihat tupo (haha typo)-nya, kelihatan jelek dan tidak sempurnanya, mari berkata yang sesungguhnya, apa adanya. Karena dengan cara itulah, isi yang kita sampaikan mendapatkan koreksi yang paling efektif dari sekitar. Kita pun akan semakin maju.

Yeay!

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s