Day 24: Some Things You Never Forget

Menulis telah menjadi bagian hidup saya sejak saya kelas 3 SD. Pada waktu itu saya menulis berbagai cerita bersambung di buku tulis Kiki 30 lembar dengan pulpen hitam merk Standard kesukaan saya. Sesekali saya menggunakan pensil juga. Cerita bersambung yang saya tulis terinspirasi dari beberapa hal seperti novel Lima Sekawan karya Enid Blyton dan juga telenovela-telenovela yang pernah saya tonton, misalnya Alegrijes y Rebugos. Saya juga terinspirasi dari banyak kartun yang rutin saya saksikan di Minggu pagi sebelum saya berangkat Sekolah Minggu atau pun setelah saya pulang dari sana. Saya menulis 1 episode per hari dan saya bagikan ke teman-teman saya untuk mereka baca secara bergiliran. Kalau ditotal, ada sekitar 10 judul cerita bersambung yang saya tulis.

Memasuki dunia SMP, saya mulai menulis di blog, tepat pada tahun 2005. Tulisan saya berubah dari cerita bersambung menjadi curahan hati anak remaja, yang saya pun lupa apa saja intinya. Saya barusan berpikir, waktu masih SD tulisan saya bernuansa imajinatif, namun ketika beranjak SMP, nuansanya mendadak sensitif. Ah, pertumbuhan itu memang nyata. Saya tidak ingin kehilangan daya imajinatif itu saat ini, di usia 23 ini.

Kemudian saya menjalani hidup sebagai anak SMA yang mulai menghadapi berbagai tekanan, entah di keluarga, entah di sekolah, di mana pun. Lalu tulisan di blog saya mulai berubah nuansa menjadi asertif, yang cenderung judgmental. Terlihat sekali sedang mencari “jati diri”-nya, padahal jati diri nggak ke mana-mana. Dia diam dan tinggal di hati saya.

Saya menghapus semua blog lama tersebut dan memulai blog baru ketika saya memasuki fase kuliah tingkat pertama. Di sinilah saya berusaha mengubah nuansa tulisan saya menjadi tulisan yang cenderung informatif dan edukatif, hm, mungkin sedikit garing.

Itu berlangsung sampai saat ini.

Saya mencegah menulis hal-hal sensitif berbumbu asertif terutama yang berkaitan dengan kehidupan pribadi saya di blog karena saya menyadari blog adalah ranah umum yang bisa dibaca oleh siapa pun. Lalu kenapa? Persoalannya bukan terletak pada “emang nggak boleh nulis kayak gitu?”, tapi pada “apa yang akan dilakukan oleh pembaca ketika membaca tulisan itu?”

Saya tidak bisa menggeneralisir tipe pembaca karena saya tahu setiap pembaca memiliki latar belakang berbeda yang membuat mereka memiliki perspektif berbeda serta daya saring yang berbeda. Saya takut, bila saya tidak menulis dengan bertanggungjawab atas sensitivitas yang saya bangun, mereka ketularan hal tersebut. Saya marah, mereka marah, saya sedih, mereka sedih, saya bahagia, mereka bahagia, tanpa alasan yang benar.

Atau mereka tidak menerima nuansa asertif yang saya tawarkan dan malah bernegatif ria di kepala dan hatinya.

Atau, ada yang tersakiti ketika membaca tulisan saya.

Saya tidak mau hal itu terjadi. Saya memilih menulis hal-hal demikian di jurnal pribadi saya.

Kalau pun saya menulisnya di blog, saya berusaha membungkusnya dengan informasi/edukasi yang saya dapat dari peristiwa terkait, yang sekiranya bermanfaat bagi pembaca.

Lalu, dalam menghasilkan tulisan yang informatif dan edukatif, tentu penulis dituntut untuk bertanggungjawab. Di sinilah saya merasa peran suatu tulisan yang seharusnya. Tulisan harus membangun masyarakat, membangun jemaat. Tulisan harus memajukan iman dan mendewasakan mental pembaca. Tulisan harus menjadi alat penulis dalam berkontribusi bagi kemanusiaan dan memuliakan Tuhan. Tidak banyak yang dapat dilakukan sensitivitas tanpa batas, imajinasi tanpa batas, bahkan asertif tanpa batas, untuk mewujudkan itu. Saya percaya, tulisan informatif dan edukatiflah yang berada di barisan terdepan. Sebab di sanalah letak pengetahuan dan kebenaran yang akan membangun pembaca.

Jangan menulis di blog, jika bukan untuk itu.

Dalam level-level tertentu, tulisan imajinatif, sensitif, asertif, atau apa pun itu, dapat dipakai, jika itu akan membantu pembaca memahami informasi/edukasi yang jadi poin utama suatu tulisan. Jangan dibalik. Nanti pembaca menjadi bias akan kebenaran. Karena kita menulis untuk bangsa Indonesia, bangsa yang besar, bangsa yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang filter-nya berbeda. Jika ingin mewujudkan keadilan sosial, bantulah dengan pengajaran dan pengetahuan yang tepat guna, dengan imajinasi/sensitivitas yang tepat, yang akan membantu masyarakat memahami tulisanmu. Jangan biarkan masyarakat termakan omonganmu yang tidak bertanggungjawab. Ajak pembaca mengambil tindakan berdasarkan daya nalarnya yang sudah kamu edukasi.

Saya memutuskan menyampaikan hal ini karena belakangan ini saya banyak membaca tulisan-tulisan yang membuat saya sedih dan marah (sebut saja tulisan di kolom komen pemberitaan tentang peristiwa 4 November 2016 kemarin). Saya tahu negara ini menganut sistem demokrasi, bebas berpendapat katanya. Tapi kebebasan yang tidak bertanggungjawab, apakah itu maknanya? Atau kebebasan yang tanpa batas, itukan kebebasan sejati?

Maka dari itu, saya mendorong teman-teman untuk menjadi penulis blog yang bertanggungjawab, yang isi tulisannya bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s