Gemerlap Natal di Sedihnya Dunia

Aku memulai Desember tahun ini dengan melakukan daily challenge bertagar #capturingdecemberchallenge di Instagram. Aku punya panduannya dari akun Instagram salah satu temanku.

Jujur, sampai hari ke-29 ini, kebanyakan postingan tersebut merepresentasikan Desember yang penuh dengan ornamen dan tradisi Natal. Indah-indah sekali dipandang mata manusia. Kelap-kelip cahaya pohon natal memenuhi feed Instagramku. Pokoknya begitulah.

Beberapa hari menjelang tanggal 25 pun aku sudah menemukan berbagai foto perayaan Natal orang-orang yang dilakukan di hotel-hotel berbintang kejora, restoran-restoran mahal, dengan dress code dan bando-bando rusa. Aku pun termasuk yang melakukan foto-foto berbando rusa tersebut bersama AKK-ku, meski memang kemarin tujuannya bukan ‘merayakan Natal’.

Jujur, beberapa selebrasi Natal yang kuikuti lebih membuatku merenung daripada bersorak.

Tuker kado, is it wrong? Enggak juga. Tetapi apakah sudah memberikan ‘kado’ kepada bayi kudus yang lahir itu? Jika tuker kado adalah respon orang-orang yang telah menyadari ‘kado’ yang Tuhan kasih buat mereka, sehingga mereka rindu membagikan ‘kado’ juga buat sesama, aku lebih setuju itu.

Makan-makan besar, di hotel berbintang kejora (hehe) atau restoran-restoran heboh yang mengakomodir kepentingan #makancantik kita, bagaimana? Perenungannya, apakah setiap harinya sudah datang ke roti hidup itu dan sungguh-sungguh percaya kepada-Nya?

Bagiku secara pribadi dan sebutlah aku ‘kuno’, kalau benar-benar menghayati makna Natal yang sesungguhnya, kita nggak akan merayakannya dengan hedonisme dan narsisme (atau isme-isme lain yang tidak sejalan dengan makna Natal tersebut). Ya kalaupun tetap ada perwujudannya, semoga itu berdasar pada suatu pertimbangan teknis dan logis sehingga isme-isme tersebut tidak sedang menjadi paham yang mendasari perayaan kita. Pertimbangan esensinya tetap terpaut pada ‘bagaimana kita bisa menghayati kelahiran Yesus dengan baik dan memiliki iman serta komitmen nyata atasnya’.

Semacam itulah, ribet juga ngejelasinnya. (Butuh kebijaksanaan tingkat tinggi untuk hal-hal praktis kayak gini).

Intinya, dunia ini sangat gemerlap dengan perayaannya; aku pun tetap mensyukuri itu, karena setidaknya, di dalam keterbatasan kita, ada suatu kesadaran tentang bayi yang lahir ke dunia tersebut. Itu bisa jadi titik awal menuju pembaharuan/kedalaman makna selanjutnya.

Kupikir semuanya baik-baik saja sampai aku mendengar berita pembunuhan di Pulomas dan cerita hari ini, tentang teman lamaku yang mengucapkan selamat Natal namun tidak ber-Natal di hatinya.

Sebenarnya tidak pernah baik-baik saja, sih. Aku ingat peristiwa dugaan penistaan agama sampai saling menista sesama yang dilakukan penduduk dunia ini. (Aku heran, agama itu sesuatu yang ‘abstrak’ kan, tetapi kenapa dia seolah-olah lebih ‘dihargai’ daripada manusia-manusia pemeluknya yang jelas-jelas ‘nyata’ di depan mata seperti ini?)

Listrik dan lampu sudah ditemukan, tetapi kita masih saja tidak melihat. Hehe.

Benarlah bahwa diperlukan mata iman untuk bisa benar-benar melihat. Tidak kabur, tidak pilih kasih, tidak salah.

Dunia ini sedang sangat-sangat bersedih, aku bisa merasakan itu. Kekacauan di berbagai belahan bumi, luka di segala penjuru hati, tangis di negeri, dan ketiadaan kasih kian merajai.

Apakah kita yang merayakannya dengan gemerlap ini mampu melihat dan memberi hati untuk itu? 

Tidak mudah memadukan ‘sukacita’ dan ‘pengendalian diri’ di saat bersamaan, padahal keduanya adalah buah Roh. Maksudnya, tidak mudah untuk merayakan sukacita Natal ini dengan pengendalian diri yang tepat terhadap bagaimana cara merayakannya.

Selama segala sesuatunya dilakukan seperti untuk Tuhan, aku yakin…

Nggak akan berfokus pada baju dan sepatu baru,

Nggak akan berfokus pada make-up christmas tutorial terbaru,

Nggak akan berfokus pada mesti makan di mana,

Karena Tuhan mau lihat hati kita yang pertama; karena dari hati terpancar kehidupan kita.

Maybe our hearts really long for sparks so we celebrate His birth with lots of sparks; it explains much, no?

Apalagi di era digital saat ini yang mana seakan memaksa kita untuk menjadi live, menjadi online, sampai-sampai kita lupa untuk benar-benar ‘hadir’ saat merayakan kelahiran-Nya di dunia. 

Orang majus dan para gembala zaman dulu pastilah menikmati dengan maksimal gegap-gempita sesungguhnya dari kelahiran Sang Bayi itu. Ada takjub, haru, bahagia, takut, di saat bersamaan.

Untunglah mereka ngga punya Instagram atau Path dan ngga sibuk share ke sana. 

Hm, perenungan-perenungan ini yang muncul saat menghayati Natal tahun ini. Aku mesti menjaga hatiku dengan segala kewaspadaan agar aku tidak larut dalam definisi Natal dunia ini, atau definisi-definisi dunia lainnya.

Tuhan, ampunilah sikap hati dan caraku yang salah dalam menyambut hadir-Mu di dunia ini.

 

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s