Rewind 2016

Tulisan ini dibuat demi menjadi pengingat betapa besarnya penyertaan Tuhan di dalam hidup seorang Elisabeth–yang diwujudkan-Nya dalam berbagai bentuk, baik suka maupun duka. Tulisan ini akan menjadi tulisan yang (cukup) singkat, padat, jelas, dan jujur.

Januari

Saya memulai tahun 2016 dengan suatu perasaan takut; takut karena saya baru sekali di dunia alumni yang kata orang keras. Rengginang keleus, keras. Bulan ini adalah bulan ke-2 saya bekerja and yeah I was still that kind of cheerful newbie in my office. Saya juga sedang mempersiapkan Retreat Koordinator XV bersama teman-teman panitia kesayangan yang juga adalah para fresh-graduated. Ini juga adalah bulan di mana frekuensi pertanyaan “udah punya pacar belum?” mengalahkan pertanyaan “di mana kerjanya sekarang?” atau “gimana kerjaannya?”, yang selalu saya jawab dengan “masih kesasar kayaknya, hehehe” diiringi cengiran sok bahagia a la Elisabeth.

Februari

Semakin sering ditanya “kapan punya pacar?” membuat saya semakin termotivasi untuk mendoakan hal tersebut. “Tuhan, tahun ini punya pacarlah ya, yang terbaik dari Tuhan dan bisa main gitar”. Banyak yang mungkin nggak tau kenapa ‘bisa main gitar’ jadi salah satu permintaan. Mau tau ngga alasannya? Ah sudahlah, biarlah menjadi rahasia di antara langit dan saya #elah. Sebenarnya di bulan ini saya memulai proyek ketaatan “Konsistensi Doa yang Penuh Iman” khusus mendoakan pacar. He he he. Apalagi ceng-cengan punya pacar semakin membabi-buta di perhelatan Retreat Koordinator yang membuat saya semakin sering nyengir “masih kesasar kayaknya, hehehe”. Mendoakan hal perpacaran ini menjadi semakin sensitif dari biasanya buat saya, karena saya pernah mendoakan hal semacam ini beserta objeknya selama 2 tahun, yang dijawab-Nya dengan tidak. Akibatnya dibutuhkan iman dan semangat tingkat tinggi untuk mulai mendoakan lagi dengan serius dan konsisten.

Penyertaan Tuhan nyata sekali ketika RK XV selesai diadakan. Saya pribadi bersyukur ada di acara ini, menjadi yang mempersiapkan, terlebih lagi. Banyak berkat rohani dari Surga turun atas saya selama mempersiapkan dan mengikuti retreat ini. Pelayanan ini pun menjadi bukti bahwa bekerja di law firm tidak serta-merta membuat saya tidak bisa melayani di pelayanan mahasiswa. Ini menjadi cara Tuhan mengingatkan saya bahwa saya masih bisa memberikan diri saya untuk menjadi alat-Nya, dalam berbagai keterbatasan saya.

Maret

Saya mengalami perang dingin dengan salah satu rekan saya di kantor. Jika dia membaca ini (karena dia pernah bilang dia suka membaca blog saya) (yang saya yakini agak tipu-tipu wakaka), saya ingin mengingat momen ini sebagai momen terkonyol di 2016 yang nggak mau saya alami lagi di tahun yang baru. Perang dingin ini adalah bukti bahwa saya juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati~ Iya, saya gagal menjadi pembawa damai sebagai komitmen setelah menghadiri salah satu ibadah Natal di tahun 2015.

Saya diangkat menjadi junior associate di kantor dan mengalami kenaikan gaji. Puji Tuhan 🙂

Maret adalah salah satu bulan paling berkesan di tahun ini. Saya sudah mencatatnya dengan sangat detil di bit.ly/ceritaelisabeth. Ini adalah bulan yang membuat saya tidak berhenti terharu bahagia karena Tuhan menjawab doa dengan begitu detil dan indah.

April

Proyek pertama saya sebagai kapten pun dimulai. Saya juga sudah mencatat rangkumannya di sini. Saya juga memulai pelayanan di HUT salah satu lembaga pelayanan di Jakarta. Peran saya adalah ketua panitia–peran yang sering saya hindari dari dulu karena saya selalu pesimis dengan kapasitas kepemimpinan saya. Tetapi rupanya Tuhan ingin saya keluar dari zona nyaman saya untuk yang ke-sekian kali dan ini membuat saya sangat gentar dalam memulai perjalanan pelayanan ini.

Waktu itu di tanggal 22, seseorang yang pernah saya doakan sejak 22 April 2015 mampir ke rumah saya. Saya tanya, “ngapain ke sini?” Dia cuma ngejawab, “kan mau ngerayain ulang tahun doamu.”

Saya mau pingsan dan mimisan seketika. Aduh ini momen bikin berasa kayak lagi syuting FTV deh.

Mei

Saya terserang batuk setelah saya dibersinin muka-ke-muka oleh seorang ibu di KRL. Saya sedih sama orang-orang kayak gini; kenapa nggak mikirin orang lain sih… mbok ya pakai masker gitu, atau tutup mulutlah. Ini… emang dia pikir muka saya tempat penampungan bersin apa?

Sedihnya, pas banget saya juga lagi nggak pakai masker 😦 Padahal saya biasanya pakai masker 😦 Itu beneran deh, literally besoknya saya langsung sakit 😦

Bulan ini juga menjadi bulan yang manis karena bulan ini saya tidak perlu lagi nyengir “masih kesasar” sama orang-orang. Ehehe, tahulah ya apa.

Juni

Kehidupan di kantor menjadi agak berat karena beberapa hal. Peran sebagai kapten mulai membuat saya capek. Beberapa kali saya tidak tidur karena melanjutkan pekerjaan yang saya bawa dari kantor ke rumah, agar saya tidak perlu lembur di kantor. Buat apa lembur? Toh nggak ada uang lembur? Rumah jauh, pulangnya ribet, sendirian pula, ngapain lembur? Loh kok saya jadi marah? Oke, kalem.

Pokoknya ini bulan yang keras sis.

Pelayanan saya sebagai ketua panitia tadi pun mencapai puncaknya di bulan ini. Ah ya, saya belum pernah curhat tentang betapa mengujinya pelayanan ini ketika beberapa hal membuat saya begitu sedih dan kecewa di dalamnya, entah karena diri saya sendiri, maupun orang lain. Tapi sudahlah, di penghujung bulan ini saya benar-benar cuma bisa merendahkan diri dan memohon pengampunan Tuhan atas kesalahan dan ketidaksetiaan saya yang mungkin Ia dapati selama saya mempersiapkan pelayanan ini.

Juli

Ibadah ulang tahun lembaga pelayanan tadi berlangsung dengan baik, menurut saya :’) Saya terharu bagaimana Tuhan patahkan segala ketakutan saya dan mengubahnya menjadi sorak dan puji yang kembali saya naikkan bagi-Nya. Kalau boleh jujur, ibadah ini adalah ibadah yang puji-pujiannya paling melekat di hati saya dengan segala aransemennya yang rapih dan menarik. Ibadah ini membuat saya nggak ingin berhenti bernyanyi, saking hidupnya puji-pujian itu di dalam jiwa saya. Saya juga bersyukur atas firman yang diberitakan di ibadah ini–meskipun bagi beberapa orang ada evaluasi di sana-sini, tapi puji Tuhan, ada suara Tuhan yang saya tangkap dari firman yang disampaikan.

Driven by Vision, aku merasa sangat disertai Tuhan di sana.

Saya juga bersyukur atas penyertaan Tuhan ketika memakai saya sebagai pemimpin pujian di Konferensi Pengutusan Mahasiswa. Saya merasakan berkat yang banyak karena saya belum pernah hadir di konferensi sejenis yang sebelum-sebelumnya pernah diadakan. Saya ditegur dan dinasihati akan banyak hal, seperti saya sedang menjadi mahasiswa kembali melalui pelayanan saya kali ini.

Agustus

Ulang tahun ke-23 adalah ulang tahun yang sangat berkesan bagi saya. Saya terharu melihat beberapa teman saya meluangkan waktunya untuk bikin kejutan ini-itu untuk saya. Mereka baik sekali. Saya sangat bersyukur memiliki mereka. Ah ya, saya adalah tipikal orang yang akan selalu mengusahakan bond di antara saya dan teman-teman saya; saya sering menjadi inisiator pertemuan-pertemuan dengan teman-teman saya. Namun beberapa waktu ke belakang saya sudah jarang melakukan hal semacam itu–bahkan saya tidak lagi intens menjaga komunikasi saya dengan mereka. Tetapi mereka mau menunjukkan kasih dan kepedulian mereka bagi saya, huhuhu. Manis sekali.

September

Proyek kantor sebagai kapten pun menemui ujungnya. Akhirnya dia terselesaikan juga setelah melalui lika-liku perjuangan yang sebenarnya sampai saat ini masih membuat saya bertanya-tanya. Saya lega, karena kemuakan dan kelelahan saya paid off. Walaupun klien yang bersangkutan tidak mengajak saya gala dinner tapi ya sudahlah :’) yang penting kalian bahagia. :’) Aku senang kalau kalian senang. #apansi

Saya diminta menjadi pemimpin pujian di Natal salah satu lembaga pelayanan di Jakarta. Saya bersyukur sekali karena saya sudah mendoakannya sejak bulan Juli :’) Lagi-lagi Tuhan menjawab doa saya hehehe.

Oktober

Tugas di kantor sedang tidak begitu banyak. Kalau pun ada sifatnya lebih ke perbantuan, hahaha. Ini selalu membuat saya ‘ogah-ogahan’ mengerjakannya. Tidak boleh ditiru. Ternyata setelah cukup termotivasi selama hampir setahun, saya tiba juga di titik ‘jenuh’. Saya menghargai fase ini sebagai bagian dari proses yang harus saya lewati dan pelajari. Saya banyak mengevaluasi kehidupan pasca alumni ini dan beberapa kali tercetuslah rencana ini dan itu yang saya akan doakan di tahun 2017 untuk tidak menjadi wacana.

November

Masih bulan November namun aroma pulang kampung sudah mencuat ke permukaan.

Bulan ini adalah bulan di mana pergumulan hati cukup banyak–khususnya dalam pelayanan saya sebagai pemimpin pujian di Natal nanti. Sejujurnya, saya takut sekali. Tuhanlah yang tau betapa bergumulnya pagi dan malam saya dalam mempersiapkan pelayanan ini. Kalau boleh jujur, baru kali ini saya susah ngejayus di antara orang-orang baru (hehehe). Hm poinnya, baru kali inilah saya merasa susah dapat chemistry di antara rekan sepelayanan. Saya bingung apa yang sedang diajarkan Tuhan sama saya pada waktu itu. Satu hal yang saya imani, kesatuan itu adalah anugerah Tuhan, dan itu sudah ada di antara kami. Chemistry, apa itu chemistry?

Di bulan ini saya juga mengalami salah-paham di keluarga saya, hehehe. Saya sempat nangis sejadi-jadinya sampai saya malah terserang flu karena nangis di Trans-Jakarta. Ada hubungannya nggak? Nggak sih. Sebenarnya inilah yang membuat munculnya tulisan saya mengenai Pilek, Air mata, dan Iman kemarin.

Desember

Pelayanan menjadi pemimpin pujian pun selesai dan saya bersyukur bisa melewatinya karena Tuhan menyertai saya dan teman-teman pelayanan lain dengan…pas aja gitu. Memang saya tetap nggak bisa ngejayus seperti biasa dengan mereka, tetapi kesatuan yang Tuhan anugerahkan dan bagaimana Dia memakai kami untuk saling melengkapi dalam melayani-Nya jelaslah lebih indah dari chemistry apa pun. Kalau boleh jujur, saya ingin mengulang waktu dan berbalik dari keluhan-keluhan saya menuju sukacita demi sukacita.

Pulang kampung setelah 1,5 tahun mengajarkan saya bahwa rumah tetaplah tempat yang istimewa, keluarga adalah yang tidak akan pergi, dan Medan masih penuh dengan makanan enak.


Itulah beberapa peristiwa besar yang saya ingat selama 2016 ini dan saya tahu, beriringan dengan itu semua ada banyak momen kecil yang tetap tidak kalah berartinya karena saya tahu di sana pun Tuhan ada dan menyertai.

Saya bersyukur melewati tahun 2016 ini dengan berbagai ceritanya bersama Tuhan yang membuat saya mengimani bahwa Dia tetap akan menyertai tahun 2017 saya.

Ketika 2015 membuat saya harus menulis ini sebagai bentuk pengakuan diri bahwa saya lemah dan butuh dikuatkan Tuhan–dan Dia membuktikannya, saya pun tetap mengakui hal yang sama di akhir tahun ini, dan berdoa semoga Tuhan selalu menguatkan saya di tahun mendatang.

Amin.

Selamat menyambut tahun 2017!

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s