Persembahan Seorang Janda: Kemurahan Hati yang Melampaui Perpuluhan

poor-widow
Source: Pinterest

Saya hampir lupa kapan terakhir kali sharing hasil Pendalaman Alkitab tentang Tokoh Perempuan dalam Perjanjian Baru yang masih tersisa 7 bab lagi ini. Saya tidak tahu apakah saya harus minta maaf karena penundaan ini (seperti yang biasa dilakukan oleh beauty vlogger favorit saya kepada followers atau subscribers-nya) atau berhenti sok-sok terkenal dan langsung saja memulai sharing-nya.

Kalau begitu, saya meminta maaf sama diri sendiri saja karena sudah menunda-nunda pekerjaan baik ini.

Maafin ya, Beth.

Oke, Beth!


Baca Markus 12:38-44.

Cerita tentang Persembahan Janda Miskin adalah salah satu kisah yang sangat terkenal dalam kehidupan kekristenan umat manusia. Saya mendengarnya untuk pertama kali ketika saya masih sangat cilik dan belum gendut, tepatnya ketika saya berusia sekitar 7 tahun. Waktu itu saya merasa kagum ketika Tuhan Yesus memuji sikap si janda miskin dalam memberikan persembahannya–yang sempat membuat saya juga merasa bangga hanya dengan memberi 2 keping uang logam 100 rupiah (ceritanya saya sotoy itu sama dengan 2 peser di kisah Alkitab ini, huft) sewaktu sekolah minggu pada saat itu. Namanya juga anak kecil.

Malam ini saya mau share prinsip apa yang sebenarnya terdapat pada sikap janda miskin tersebut. Sebelum itu, bagi kalian semua yang lagi main ke blog ini, silakan ambil posisi paling enak, ambil cemilannya, ambil Alkitabnya, kemudian ambil buluh sebatang… potong sama panjang, raut dan ikat dengan benang, eh kok kita jadi main layang-layang ya…?

#maaf


Coba ingat dan renungkan kembali suatu waktu ketika seseorang yang kelihatannya lebih membutuhkan daripada kita (secara emosi, kerohanian, fisik, atau bahkan keuangan), tetapi sangat bermurah hati kepada kita! 


Pendalaman Alkitab ini dimulai dengan nasihat Yesus untuk berhati-hati terhadap para ahli Taurat. Ahli Taurat yang bagaimana? Mereka adalah para ahli Taurat yang:

  • suka berjalan-jalan memakai jubah panjang (ih kebayang deh, ini pasti jalannya sambil ngeletakin kedua tangan di belakang badan, lalu langkahnya pelan-pelan biar berwibawa gitu, terus tatapannya angkuh berasa abis juara olimpiade);
  • suka menerima penghormatan di pasar (lah yang begini pasti yang nunggu-nunggu disapa gitu deh, ngga mau nyapa duluan, pura-pura main hape);
  • suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan (bangku yang berada di depan tabut yang berisi gulungan, dan ((karena bangkunya menghadap ke orang-orang)) merupakan lokasi yang sangat diinginkan kalau memang mau dilihat orang);
  • menelan rumah janda-janda (maksudnya menggasak/mengganyang rumah janda-janda. Bagian ini mau ngejelasin bahwa selain sikap angkuh dan pamer di atas, ternyata moralitas mereka juga rusak);
  • mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang (salah satu penafsir berkata bahwa mereka pura-pura doa panjang-panjang supaya dikira sangat mengasihi Allah, padahal mereka kayak gitu supaya jemaat menyukai mereka).

Di bagian ini Tuhan Yesus mau mengingatkan bahwa para ahli Taurat tersebut tidak sedang memberikan teladan yang baik. Bukannya bertindak layaknya pelayan, mereka malah bertingkah seolah tuan. Motivasi mereka adalah kemuliaan diri mereka sendiri.

Membaca bagian ini membuat saya teringat akan bagian firman Tuhan yang lain dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi tentang nasihat untuk bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus:

“dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”

Filipi 2:3

Dengan melihat apa yang Yesus cela, kita dapat melihat nilai-nilai yang Yesus pegang. Dia berkata, mereka yang mencari status dan perhatian orang lain, melahap rumah janda-janda, dan berdoa hanya untuk pamer kerohanian, akan menerima hukuman yang lebih berat. Mereka menyukai kekuasaan, sementara Yesus menyalahkan sifat cinta kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan. Dia juga menyalahkan perbuatan pamer kesalehan mereka padahal dalam kenyataannya mereka menganiaya janda-janda. Kasihan banget ngga sih, para janda ini? Nggak heran kalau di dalam Alkitab, Tuhan sangat concern dengan nasib janda-janda; ternyata ada pihak-pihak yang memang memperlakukan mereka dengan tidak baik seperti para ahli Taurat ini.

Firman ini masih sangat relevan bagi dunia saat ini. Tidak terhitung sudah berapa kali kita sebenarnya sedang ‘berjalan-jalan memakai jubah panjang’ ala kita. Jubah panjang yang bisa berupa ambisi tidak sehat, perasaan benci tanpa alasan atas suatu hal, atau segala bentuk eksklusivisme yang kita bangun. Tidak terhitung sudah berapa kali kita mencari puji-pujian dari sesama kita dan merasa sangat ingin dihargai serta dipandang di masyarakat. Sadar atau tidak, jangan-jangan kita adalah ahli Taurat masa kini dengan beberapa penyesuaian terhadap budaya zaman saja. Ahli-ahli Taurat yang suka main Instagram dan Path, if you get what I mean. Untuk itu kita perlu memohon kepada Allah agar selalu sadar dan memercayai Dia untuk mengevaluasi motivasi kita yang salah. Rasa bertanggung jawab dan berdoa dengan orang lain dalam komunitas Kristen juga akan sangat menolong. Keterbukaan dan merasa hidup ini rapuh sama pentingnya dengan keinginan agar hidup kita termotivasi oleh nilai-nilai kekal Kerajaan Surga.

Terkait pesta demokrasi Jakarta yang sebentar lagi akan diadakan, saya rasa kita juga perlu mendoakan hal yang sama bagi calon gubernur yang akan memimpin ibukota negara ini ke depan. Kita perlu membangun awareness bahwa pilihan adalah bentuk keputusan yang diambil dalam kesadaran penuh–and that’s required pengenalan yang baik akan siapa yang kita pilih. Kita tentu tidak mau dipimpin oleh orang-orang yang cinta kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan, karena bukan masyarakat Jakarta yang akan dilayani, melainkan diri mereka sendiri. Kita juga perlu berdoa agar Tuhan menyatakan otoritas dan cinta-Nya untuk Jakarta dengan memberikan Jakarta pemimpin yang melayani rakyat dengan cara yang benar.

Selanjutnya kita membaca cerita tentang Yesus yang duduk di depan peti persembahan dan memerhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu; banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Di sinilah Yesus juga melihat janda miskin yang memasukkan 2 peser. Perempuan ini bukan hanya seorang janda, namun ia juga miskin. Mungkin itu terlihat jelas dari pakaiannya yang berbeda dengan orang-orang lain pada waktu itu–apalagi dari orang-orang kaya yang memberi banyak itu.

Berbeda dengan kita yang kalau kepo ngga tau mau diapakan hasil keponya, Yesus langsung memanggil murid-murid-Nya dan memberikan suatu pengajaran kepada mereka.

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Markus 12:43-44

Kisah ahli-ahli Taurat di atas dan janda yang miskin ini memiliki kesamaan. Dalam kisah yang pertama, kita melihat bagaimana para pemimpin yang seharusnya memberi perhatian bagi kebutuhan orang banyak dan memberikan diri untuk memenuhinya, malahan mengambil dari orang miskin untuk kekayaan pribadi dan lebih terobsesi dengan kekayaan, kekuasaan, dan jabatan daripada melayani. Dalam kisah janda ini, kita melihat bahwa perkara memberi berkaitan dengan kepemilikan harta pribadi. Kedua cerita ini berkaitan dengan memberi dan motivasi dalam memberi. Keduanya juga berkaitan dengan hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah, atau sebaliknya, menolak nilai-nilai tersebut. 

Salah satu artikel di desiringgod.com mengatakan:

One way to paraphrase this story would be to say, “The rich took no risk with their money for the cause of God, but the widow did.”

Now why did Jesus point this out? And why did Luke think the story important enough to record it for us? I think the reason is simple: Jesus wants his people to take risks with their money for the cause of God.

When we give our offerings, does it feel risky? 

Mungkin akan ada saat di mana memberi tidak membuat kita merasa ‘kesusahan’, tapi ada juga saat di mana ketika memberi rasanya sulit karena kita pun tidak punya banyak. Saya yakin saat ini Tuhan Yesus sedang mengajarkan sikap hati yang berani memberi dari keterbatasan kita–selama itu adalah apa yang kita miliki, tentunya.

Aplikasinya tidak hanya berkaitan dengan uang, uang, dan uang. Waktu juga bisa, misalnya.

Tahun 2016 adalah tahun di mana Tuhan menganugerahkan saya beberapa pelayanan yang membuat hampir semua weekends saya diisi dengan kegiatan pelayanan tersebut. Saya sangat bersyukur karena memang itulah yang saya doakan pada tahun 2015 ketika saya berada di penghujung tahun. Jujur saja, saya mengalami kelelahan dan ada beberapa hal yang belum bisa saya lakukan karena komitmen pelayanan tersebut. Itu sempat membuat saya berpikir apakah tahun ini saya masih akan mengambil kesempatan pelayanan demi pelayanan yang Tuhan sudah siapkan bagi saya atau tidak. Saya mempertimbangkan beberapa hal yang mostly berkaitan dengan karir dan cita-cita saya…

…sampai kemudian firman ini menampar saya–seolah sedang berkata bahwa saya sudah terlalu GR bahwa Tuhan masih akan mempercayakan pelayanan-Nya bagi saya, itu yang pertama–sehingga saya sok-sok-an langsung curi start untuk berpikir akankah saya mengambil kesempatan itu/tidak. Kedua, firman ini mengajarkan saya untuk memberi waktu saya bagi Tuhan, sekalipun rasanya itu beresiko bahwa saya akan kelelahan lagi dan sulit membagi waktu untuk mengejar cita-cita saya, dan bahkan keluarga saya. Tetapi harusnya saya melihatnya dari perspektif lain. Melayani adalah panggilan hidup setiap orang Kristen–dan melayani dalam pelayanan kristiani adalah panggilan dan janji saya kepada Tuhan jika Dia memberi saya kesempatan untuk berkuliah di UI. Saya tidak berniat untuk meninggalkan apa yang sudah menjadi bagian dari jiwa saya ini. Lalu apa? Hal yang saya harus pelajari adalah bagaimana menjadi perempuan yang berhikmat dalam hidup–khususnya dalam hal time and energy management. 

Saya percaya Tuhan tidak meminta apa yang tidak kita punya–kalau Dia meminta, dan itu yang kita imani, kita mesti percaya juga bahwa pasti ada sesuatu yang kita miliki untuk kita berikan. Maka dari itu, hal memberi dengan motivasi yang benar ini tidak pernah terlepas dari hal mengetahui kehendak Allah. Janda miskin tersebut tahu bahwa Allah mengkehendaki persembahan yang demikian–yang berangkat dari hati yang tulus dan keberserahan penuh kepada Allah (doi pasti yakin Allah akan mencukupkan dia, karena kalau ngga, pasti dia ngga akan mau ngasih dari kekurangannya), maka dia memberi. Dia tahu bahwa Allah yang memeliharanya adalah Pribadi yang murah hati, maka dia pun meneladani-Nya dengan juga bermurah hati. Sedangkan si ahli-ahli Taurat, memiliki banyak–setidaknya lebih banyak dari janda miskin ini, namun masih saja melahap bagian orang lain.


See? 

Giving is not just a state of mind–it’s an action. 

And to remind us, it’s more blessed to give than to receive. (Acts 20:35).

Selamat memberi dengan murah hati!

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s