Selamat Pak Ahok!

Siang yang sangat terik itu menjadi puncak pemberian suara di pemilihan gubernur DKI Jakarta untuk periode jabatan 5 tahun ke depan. Saya sudah menggunakan hak pilih saya sebagai warga DKI Jakarta dan juga sudah mendoakan pilihan saya. Baru kali ini saya mendoakan–sungguh-sungguh mendoakan–calon pemimpin daerah di sepanjang hidup saya. Hal seperti ini tidak pernah terlalu saya pedulikan dulunya, sebelum Pak Jokowi dan Pak Ahok duduk di pemerintahan kota Jakarta sebagai gubernur & wakil gubernur.

Kali ini saya akan menyampaikan isi hati saya terkait Pak Ahok pasca kekalahannya di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Menyaksikan quick count dan menanti-nantikan hasilnya tidak pernah semendebarkan itu. Tidak pernah membuat saya se-lesu itu. Menjelang sore, saya melihat juga langit di luar agak murung. Tak lama kemudian ia menangis. Ah kebetulan yang menyayat hati. Saya sedih sekali. Benar-benar sedih sampai saya menangis mengetahui hasil QC yang menunjukkan kekalahan paslon 2 jagoan saya ini.

Saya mencoba berpikir positif di tengah lontaran-lontaran pertanyaan yang mucul di kepala saya akibat hasil QC tersebut. Apa ya maksud Tuhan mengizinkan kekalahan Pak Ahok ini terjadi? Tentu saya tidak punya jawabannya.

Saya hanya mengira-ngira: kondisi ini ada untuk menunjukkan beberapa hal yang ujungnya adalah kebaikan. Pertama, apakah paslon 3 akan berhasil membuat Jakarta lebih baik dengan cara-cara yang benar? Kedua, apakah kredibilitas paslon 3 akan teruji selama 5 tahun ke depan? Ketiga, apa rencana damai sejahtera yang Tuhan sedang siapkan untuk Pak Ahok?

Lima tahun ini pasti akan menjadi tahun-tahun yang membuat mata pendukung paslon 2 terbuka lebar, jika mereka adalah yang sungguh-sungguh ingin Jakarta lebih baik lagi. Akan ada banyak orang yang mengawasi jalannya kepemimpinan paslon 3. Saya melihat ini sebagai suatu kebaikan: titik tolak pedulinya warga Jakarta akan kota tempat tinggalnya.

Sekalipun semangat saya agak berkurang mengingat kekalahan jagoan saya, saya tetap bersyukur sudah mendapatkan banyak berkat melalui kepemimpinannya selama ini. Seperti ada suatu teladan baik yang dapat saya ikuti kebaikan-kebaikannya dalam berkontribusi bagi Jakarta.

Antusiasme warga DKI Jakarta akan pembangunan kotanya tidak boleh tidur. Matanya harus senantiasa mengawasi. Mulutnya tidak boleh nyinyir. Tidak usahlah lagi nyinyir soal DP-DP paslon 3 itu. (Mental-mental nyinyir ini bahaya banget, loh. Komen-komen kita akhirnya jadi mentok di emosi. Akhirnya minim diskusi yang esensial, minim solusi, dan ya habislah).

Saya setuju sama Pak Ahok bahwa tidak ada kekuasaan yang tanpa seizin Tuhan. Kalau saat ini paslon 3 telah unggul dan akan memimpin Jakarta, jadilah warga yang baik, yang juga tetap bekerja dan berdoa membantu pemerintahan mereka memajukan Jakarta. Doakan mereka agar tidak membawa kemunduran. Kritisi kinerjanya, kasih saran & masukan.

Ah, berat sekali ya mendoakan yang tidak didukung :”

Rencana Tuhan pasti indah untuk Pak Ahok. Orang sebagus beliau pasti bisa dipakai Tuhan dengan signifikan. Karena itu, selamat Pak Ahok! Ladang barumu sedang disiapkan Tuhan.

Selamat bekerja lagi!

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s