She Made Me Unsubscribe All the Beauty Vloggers

Judul yang cukup ekstrem, bukan?

Tapi ini sungguhan. Beginilah cara kerja otak saya hingga keputusan tersebut saya ambil. Kira-kiranya sajalah.


stock-vector-hand-drawn-makeup-items-collection-vector-doodle-set-with-brushes-palette-mascara-nail-polish-359961371

Tidak ada yang lebih kaget dari saya sendiri ketika menyadari bahwa saya mendadak suka bersolek (baca: kenal yang namanya foundation [awalnya saya pikir itu yayasan], bedak padat-tabur, eyeliner, pensil alis, contour kit, blush onlipstick, liptint, lipcream, lipbalm, dan lip-lip lainnya kecuali lippo cikarang).

Kenapa kaget? Jelaslah. Dulu aja saya ngga tau bedain mana pelembap muka, mana body lotion. Saya juga ngga paham doktrin-doktrin skincare dan step by step-nya. Pokoknya kalau udah keringetan, mandi aja udah, habis itu tidur atau ngapain kek.

Itu bermula ketika mendadak explore Instagram saya berisi foto-foto perempuan dengan wajah mulus-kayak-pori-porinya-udah-musnah, putih, tapi ada rona pink atau coral (ah elah ini juga baru tau ada warna coral), dan alisnya… beeeeeeh, logo Nike aja kalah cuy! Menukik tajam. Ya begitulah.

Ngga cuma itu, matanya juga kayak berat banget gitu. Kayak ada yang ganggu banget gitu. Bulu mata palsunya kayaknya nambahin berat badan 2 kilo kalau lagi nimbang deh. #hah

Mulailah click demi click berlangsung sampai akhirnya saya hapal banyak hal soal beginian–yang dulu saya rasa sangat asing, juga aneh. Saya jadi suka make-up.

Perlu digarisbawahi-italic-bold, saya suka make-up karena saya suka menggambar dan mewarnai. Kebahagiaan anak TK bangetlah pokoknya. Ngga kepikiran maksud apa-apa; misal, “wah kalau alisku begini, dia akan suka ngga ya?”, atau, “bagusan lipstick warna apa ya supaya ngobrolnya nyambung sama dia?”, atau lagi, “astaga! aku rasa aku butuh eyeliner dan bulu mata palsu agar dia bisa melihat mataku dengan jelas!”

Urusan apa cuy, warna lipstick sama nyambung/ngga-nya pas ngobrol?

Intinya, saya menggunakan make-up (dan suka dandan orang-orang) karena saya senang mengekspresikan kesukaan saya untuk menggambar dan mewarnai. Kalau ngga pake make-up, ngga masalah juga, ngga mengganggu keselamatan saya.

Lalu saya sadar, ekspresi tanpa batas adalah ego semata.

Setelah berkecimpung sekitar setahun di dunia suka-dandan, punya hobi nonton video-video dandan orang-orang yang disebut beauty vloggers, dan menyisihkan uang untuk membeli beberapa barang dandan yang diperlukan, saya mulai tidak tenang.

Tulisan ini bisa sampe besok kalau mau bahas kenapa saya tidak tenang, sementara saya tidak sedang ingin berfokus di sana. Intinya saya merasa perlu membatasi ekspresi saya tersebut.

Saya pun perlahan-lahan menyudahi kiprah saya di dunia suka-dandan dan beralih ke dunia suka-makan. #err. Saya mulai mengurangi ngecek video baru beauty vloggers, mulai ngurangi nongkrongin online-shop untuk beli make-up, dan udah ngga suka tiba-tiba dandan-padahal-ngga-mau-ke-mana-mana.

Semuanya masih perlahan-lahan sampai hari Jumat, 5 Mei 2017 kemarin.

She made me unsubscribe all the beauty vloggers on YouTube.

[Saya tidak akan cerita siapa dia selain bahwa dia adalah salah satu di antara beauty vloggers yang saya sempat kagumi.]

Hal itu bermula ketika saya melihat Instagram Story beliau dan menemukan beliau mempublikasikan foto yang menurut saya tidak baik untuk ditampilkan di muka umum. Nggak penting aja gitu. Meaningless, asli. Boro-boro bawa-bawa argumen “kita ini di Indonesia”, atau “ih kan dilarang agama”, buat saya, foto itu meaningless, tidak membawa manfaat bagi yang melihat, dan juga, malah menimbulkan kontroversi.

Kemudian dia melakukan semacam klarifikasi online (kan lagi ngetrend katanya) di Instagram Story-nya yang isinya pembenaran demi pembenaran yang makin membuat saya kurang respect sama dia, seperti:

  1. Ini akun gue, apa yang gue post jadi urusan gue.
  2. Ya kalau ngga suka, ngga usah dilihat. (Kalau gue bisa ngga suka tanpa lihat, hebat dong!)
  3. Ngga ada alasan tempat tinggal, di mana pun lo tinggal, lakukan aja apa yang menurut lo bikin lo senang dan bisa ningkatin kepercayaan diri lo.
  4. Mind your own business. Sementara beliau ngurusin orang lain juga.
  5. Ngga ngerugiin lo juga kan? Ngapain lo urusin?

Menurut saya, ini respons yang lumayan egois.

Benar, itu akunmu, tapi, kalau mau akun itu jadi urusanmu saja, jangan biarin siapa pun follow kamu, kunci saja Instagram-mu, dan uruslah urusanmu sendiri di sana. Sosial media menjadi kurang ‘sosial’ karena di dalamnya orang-orang nggak menempatkan prinsip-prinsip bersosialisasi dengan baik. Coba bayangin kalau ini terjadi di dunia nyata. Bukankah orang ini akan segera diperhadapkan dengan berbagai norma–yang membuatnya harus bertanggungjawab?

Klarifikasi nomor 2 di atas adalah klarifikasi yang paling absurd menurut saya. Kalau saya tahu saya nggak akan suka, nggak akan saya lihat, dong? -_-

Lalu, klarifikasi nomor 3 ini yang paling bikin sedih. What a selfish statement! Jadi misalnya, kalau kamu bisa senang dan percaya diri dengan ngebunuh orang, lakuin aja, post aja sesukamu. Ini akunmu. Begitulah kira-kira maksud beliau.

Saya suka menelisik lebih dalam apa sih maksud dari “mind your own business” ini? Apa sih definisi “your own business” itu? Kalau saya bilang urusan saya adalah mengenai apa yang orang lain tampilkan di sosial media–which is termasuk juga postingan mbaknya, lantas masih relevankah kalimat terkenal ini?

Kita suka lupa bahwa kita nggak hidup sendirian dan memang nggak bisa sendirian. Kita hidup berdampingan dengan sesama kita yang lain. Jadi kita ngga bisa bilang sesuka-hati untuk ‘memikirkan urusan kita sendiri’ saja. Dalam level tertentu, mungkin urusan kita masing-masing ada di himpunan yang sama dan bahkan beririsan. Seperti saya, hal-hal seperti ini menurut saya adalah bagian dari sekian banyak urusan saya: tentang apa yang ditampilkan figur publik (baik artis beneran, pejabat terkenal, artis Twitter, artis Instagram, artis-artis yang lain–yang di-follow banyak orang dan mungkin ‘dicontoh’ banyak orang. Coba bayangin, 200.000-an followers mbak ini manggut-manggut tentang ide si mbak soal postingannya tadi. Maka jadilah di masa depan kita akan melihat foto-foto yang lebih vulgar lagi tampil tanpa batas di ranah media sosial kita–dan yang paling mengerikan–itu terekam jelas sebagai kenyataan.

Saya sedih membayangkan hal itu terjadi. Banyaklah penyebabnya. Semuanya berkaitan dengan iman dan intelektualitas saya.

Saya akui saya menyayangkan sikap seperti itu. Bahkan di beberapa fotonya (yang cukup terbuka) beliau menulis judul yang seolah-olah sudah mengantisipasi komentar-komentar kontra atas fotonya. Kenapa harus begitu, ya?

Akhirnya, saya semakin malas berkecimpung di dunia suka-dandan, karena salah satu punggawanya memiliki sikap yang (sebutlah) tidak sesuai dengan prinsip saya. Mungkin ini generalisasi, mungkin juga memang saya murni sudah tidak berminat lagi menonton video-video mereka. Apa pun itu, ketertarikan saya pada hal-hal seperti ini langsung sirna. Totalitas kesirnaan.

Concern saya yang sebenarnya membuat saya mengambil keputusan ini adalah karena saya tidak mau hidup saya dipenuhi oleh ide-ide orang-orang yang prinsipnya bertentangan dengan saya. Bukan berarti saya hanya mau berurusan dengan mereka yang berprinsip sama dengan saya–tetapi untuk menjadi ‘subscriber’ mereka, it’s a big no.

Saya bertanggungjawab atas apa yang diterima oleh hati & pikiran saya.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s