Mazmur 131 dan 138: Kerendahan hati, Pengharapan, dan Iman Pak Ahok akan Janji Tuhan

605548_620
Sumber: Tempo

Saya memutuskan untuk mempelajari dan merenungkan firman Tuhan dalam Mazmur 131 dan Mazmur 138–Mazmur mana yang ayat-ayatnya dikutip oleh Pak Ahok dalam suratnya dari Rumah Tahanan Depok kemarin (Minggu, 21 Mei 2017).

Saya memutuskan untuk belajar dari kesaksian Pak Ahok tersebut pada hari kenaikan Tuhan Yesus Kristus ini–hari di mana pada masa itu Yesus juga berpesan kepada murid-murid-Nya untuk menjadi saksi bagi-Nya sampai ke ujung dunia.

Mari kita mulai!

[Teman-teman bisa sambil mendengarkan lagu (seperti) Doa Kami – True Worshippers untuk mengarahkan emosi teman-teman ke perenungan akan kondisi bangsa Indonesia dan orang-orang di dalamnya.] 

Mazmur 131

  1. Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. 
  2. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
  3. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Mazmur 131 ditulis oleh Daud, seorang Raja Israel yang sangat berjaya di zamannya. Mazmur ini termasuk ke Buku V (terdiri atas Pasal 107-150) dalam pembagian kitab Mazmur. Pasal 120-134 dimulai dengan kata-kata “Nyanyian Ziarah” atau “Songs of Ascent”; disebut juga nyanyian pendakian. Kemungkinan para pemazmur dalam pasal-pasal ini (termasuk Daud) menyanyikannya dalam perjalanan (pendakian) menuju Yerusalem untuk festival keagamaan tahunan umat Yahudi.

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul “Menyerah kepada Tuhan” untuk pasal ini; judul yang jelas untuk menunjukkan kondisi dan kedalaman hati Daud pada saat itu. Menurut saya, tinggi hati dan sombong dalam ayat 1 identik dengan suatu sikap hati yang menganggap diri lebih hebat (superior) dari orang lain; juga sikap hati menafikan keberadaan dan kehadiran Tuhan di dalam hidup seseorang.

Hm, pernah dengar istilah, “biar miskin, yang penting sombong?” atau, “biar jelek yang penting sombong?” Saya sering mendengar itu di kantor, hahaha. Kalimat-kalimat ini sering diucapkan oleh rekan-rekan saya sebagai semacam sinisme terhadap diri sendiri. Misalnya, seorang rekan senior di kantor pernah bilang bahwa dia tidak akan sekali-kali menerima bantuan orang lain untuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan pernikahannya–meskipun nggak sanggup, yang penting sombong dulu. Memikirkan perkataan itu, mungkin saja tinggi hati dan sombong dapat juga diartikan dengan sikap hati yang tidak mau mengakui keterbatasan dan ketidakmampuan diri–munculnya sikap overestimate terhadap kemampuan diri sendiri. Begitulah kura-kura. Boleh setuju, boleh tidak. Yang penting kita tetap bersaudara.

Dalam pasal ini Daud mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang seperti itu. Dia mengaku di hadapan TUHAN bahwa dia bukanlah orang yang tinggi hati atau pun sombong. Melanjutkan pengakuannya tersebut, Daud juga menyatakan bahwa dia tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau terlalu ajaib baginya, karena dia tidak mampu–itu tidak sesuai dengan kapasitasnya. Daud sadar dan realistis terhadap dirinya. NET Bible menerjemahkan bagian ini demikian, “I do not have great aspirations, or concern myself with things that are beyond me.” Daud tidak punya cita-cita besar yang terlalu sulit baginya atau pun menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang di luar jangkauannya.

Lalu, apa yang dilakukan Daud? Apa yang ia sibukkan?

Sesungguhnya, Daud telah menenangkan dan mendiamkan jiwanya. Mungkin ada banyak hal yang membuat jiwanya ‘berisik’. Mungkin ada banyak hal yang ‘menggoda’ Daud; banyak hal yang seolah-olah meminta dipikirkan dan dikejar oleh Daud. Namun di titik ini, Daud tahu dia tidak mampu, maka dia memilih menenangkan dan mendiamkan jiwanya. Keputusan yang diambil Daud merupakan salah satu tanda kedewasaan sekaligus kerendahan hatinya. Tidak banyak orang bisa mengenal kemampuannya dan mengakuinya di hadapan Tuhan. Tidak banyak orang berpikir bahwa menenangkan dan mendiamkan jiwa juga merupakan pilihan. Gambaran yang diberikan Daud di sini adalah seorang bayi yang berbaring di dekat ibunya; seperti itulah jiwa Daud. Begitu tenang seolah belum mengenal keruwetan dunia.

Ayat ke-3 dalam pasal ini menunjukkan apa dan siapa yang menjadi ‘sandaran’ Daud untuk ‘berbaring’–ke mana ia menenangkan dan mendiamkan jiwanya, sebagaimana digambarkannya pada ayat sebelumnya. Dialah TUHAN, kepada siapa Daud dan seluruh umat Israel sepatutnya berharap tidak hanya saat ini melainkan selama-lamanya.

Perhatikan baik-baik, Daud punya ‘pelarian’ yang tepat di tengah kondisi yang ia alami. Dia tahu bahwa hal-hal yang terlalu besar maupun terlalu ajaib untuk dirinya bukanlah sumber pengharapan bagi jiwanya. TUHAN yang menjadi sumber pengharapan Daud pun dipercayainya sebagai TUHAN yang penuh kasih sayang dan kepedulian, serta yang begitu menenangkan, layaknya seorang ibu.

Dari 3 ayat di atas saya belajar pentingnya memiliki kerendahan hati untuk mengenal kemampuan diri sendiri dan mengakui keterbatasan diri–serta apa yang harus kita lakukan dalam merespons hal tersebut. Orang yang seperti ini tidak lantas berhenti di situ, dia perlu menenangkan jiwanya di dalam Tuhan yang menjadi tempat berharap bukan hanya pada saat ini melainkan untuk selama-lamanya.

Mazmur 138

  1. Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.
  2. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
  3. Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
  4. Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu;
  5. mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.
  6. TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.
  7. Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.
  8. TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Mazmur ini juga ditulis oleh raja Daud. Bedanya, kali ini bukan merupakan nyanyian ziarah. 

Mazmur ini dimulai dengan kerinduan Daud untuk bersyukur dengan segenap hati kepada TUHAN dan sujud ke arah bait-Nya yang kudus dan memuji Dia. Dikatakan juga bahwa Daud akan bermazmur bagi TUHAN di hadapan para allah dunia ini. Bisa jadi allah dunia yang dimaksud Daud adalah para raja lain, hakim-hakim lain, maupun patung-patung dan berhala yang ada di masanya.

Daud melakukan hal-hal tersebut karena TUHAN menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya kepada Daud; sebab TUHAN menjawab seruan dan doa Daud yang membuat kuasa nama TUHAN dan janji-janji TUHAN nyata di dalam hidupnya. Menarik bagi saya, ketika Daud menyatakan bahwa jawaban doa dari TUHAN tidak hanya berisi penggenapan janji melainkan juga kekuatan rohani yang ditambahkan kepada jiwanya. 

Daud berharap bahwa kesaksiannya akan kebaikan dan kehebatan TUHAN yang menjawab doanya akan membuat raja-raja lain juga bersyukur kepada TUHAN dan bahkan memuji TUHAN karena kemuliaan TUHAN telah nyata bagi mereka.

Di bagian berikutnya Daud menyatakan bahwa meskipun TUHAN itu ‘tinggi’; begitu mulia dan hebat, Dia tetap memerhatikan orang-orang yang hina dan bahkan mengenal orang yang sombong dari jauh. Inilah keyakinan iman bahwa TUHAN tidak tidur. Keyakinan Daud akan TUHAN yang seperti ini membuatnya percaya bahwa TUHAN akan membangkitkannya di tengah kesesakan dan bahkan menolong dan melepaskannya dari amarah musuh-musuhnya. TUHAN akan menyelesaikan semua pergumulannya bagi Daud; TUHAN yang akan berperang untuknya, Daud akan diam saja. Sekali lagi di penutup pasal ini Daud menyatakan bahwa kasih dan kesetiaan TUHAN adalah untuk selama-lamanya.


Setelah membaca dan merenungkan kedua bagian ini tampaknya bukanlah suatu kebetulan jika Pak Ahok mengangkat 2 ayat dari pasal-pasal ini dalam merespons kejadian yang menimpanya dan situasi yang sedang dihadapinya. Pada bagian pertama dia mengisyaratkan kepada bangsa ini bahwa sesungguhnya apa yang sekarang terjadi di luar kemampuan dan kapasitasnya. Saya terharu sekali membayangkan pergumulan hati Pak Ahok ketika memutuskan untuk menyatakan bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang dapat diandalkannya di tengah pidana penistaan agama yang dijatuhkan atasnya. Dia seolah-olah mau bilang bahwa dia tidak bisa mengharapkan banding yang akan diajukannya nanti. Dia memutuskan untuk mundur dari ‘kebisingan’ kasus ini dan memilih mendiamkan dan menenangkan jiwanya di balik jeruji besi–dalam pangkuan Tuhan yang diyakininya tetap mengasihi dan peduli padanya. Tuhan, satu-satunya yang diharapkannya.

Selanjutnya saya membayangkan bahwa Pak Ahok mengimani janji Tuhan bahwa Tuhan akan terus memerhatikan beliau dan mendengar teriak minta tolong beliau yang mungkin tidak didengar oleh satu orang pun di balik jeruji besi itu. Pak Ahok memang memutuskan untuk mundur dari pertarungan ini dan percaya bahwa sekalipun ia mundur, ia diam, Tuhan tetap akan menyelesaikan perkara-perkara ini baginya. Tuhan akan berperang untuknya.

Inilah arah pengharapan Pak Ahok di bagian pertama tadi. Berharaplah kepada Tuhan, hai Indonesia, dari sekarang sampai selama-lamanya!” karena “Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.”


Mengagumkan sekali imanmu, Pak Ahok. :’ Semoga kau tetap setia, sebagai respons atas kesetiaan-Nya yang sampai selama-lamanya itu. Penjara bukanlah halangan untukmu tetap menjadi alat-Nya bagi bangsa ini, melainkan Tuhan merancangkan semua ini karena Dia ingin memakaimu dengan lebih signifikan lagi, saat ini dan di masa depan.

Terima kasih telah mengingatkan saya melalui kutipan ayat-ayat yang kaupilih ini–pasti Tuhan sendiri yang menyatakannya padamu untuk kausampaikan kepada kami.

“Kuberjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia.”

(semoga Roh Kudus menyempurnakan keterbatasan dan kelemahan saya dalam membagikan perenungan atas dua pasal Mazmur ini–di dalam hati masing-masing pembaca).
Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

2 thoughts on “Mazmur 131 dan 138: Kerendahan hati, Pengharapan, dan Iman Pak Ahok akan Janji Tuhan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s