EARC 2017 – Bagian 1

Ada yang menarik ketika saya mengetik judul tulisan ini: saya tersenyum lebar dan benar-benar merasa bahagia. Tidak seperti kebanyakan tulisan saya yang lain yang kemungkinan besar diawali dengan kening berkerut. Hehe :/

EARC (East Asia Regional Conference) 2017 adalah salah satu doa saya yang dikabulkan Tuhan. Tahun lalu, tepatnya pada bulan Oktober, saya sempat berbisik di dalam hati & berdoa agar saya diikutsertakan ke EARC 2017 yang diselenggarakan di Korea Selatan. Ketika itu saya spontan saja berdoa sehabis mendengar bahwa EARC akan diadakan kembali. Saya juga belum sempat menyelidiki apa motivasi saya di kala itu–dan nggak lama kemudian, saya berbisik lagi, "Ah, itu kan untuk mahasiswa. Kamu siapa, Beth?" Saya tidak berharap banyak dan memilih melupakannya saja.

Rupanya Tuhan menjawab doa tersebut dan mengizinkan saya diikutsertakan sebagai salah satu peserta perwakilan Indonesia untuk diperlengkapi dengan berlimpah-limpah melalui acara ini. Saya sangat yakin Tuhan nggak main-main melibatkan saya di sini. Ya sekalipun rencana-Nya tidak bergantung pada yakin/tidaknya saya, sih. Saya bersyukur dan tulisan ini adalah salah satu wujud rasa syukur saya kepada Tuhan karena di sini saya akan merangkum beberapa hal yang mengena di hati saya sebagai pengingat pribadi, serta berharap mereka yang membaca juga beroleh berkat.

Saya akan membaginya ke dalam 2 bagian: bagian 1 adalah tentang apa yang berkesan secara personal kepada saya melalui bible exposition & plenary session, dan bagian 2 adalah tentang all the fun I had in EARC.

Selamat membaca!

Karakter Nabi Yeremia
Yeremia adalah seorang nabi yang kreatif. Kreativitasnya ditunjukkan melalui caranya menyampaikan firman TUHAN: drawing pictures, making images, & using poetry. Ia juga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kondisi masyarakat (punya passion terhadap orang-orang), serta memiliki keyakinan yang kuat akan panggilannya. Belajar dari Yeremia, saya perlu mengenali dan mengevaluasi diri sendiri, apa yang saya belum miliki? Saya rasa ini penting mengingat konteks yang ada saat ini tidak persis sama dengan yang dihadapi Yeremia. Sebagai utusan Tuhan dalam melayani sesama, saya yakin Tuhan ingin kita menjadi relevan agar firman-Nya tetap dapat diterima tanpa mengurangi kedalaman pesannya. Lagi, sudah jarang saya berpikir kreatif untuk menyampaikan firman Tuhan–padahal itu dapat mempermudah sesama saya dalam memahaminya. Saya memilih menyampaikannya plek-plek-an saja tanpa memerhatikan apakah cara itu membuat sesama saya mengerti maksud Tuhan dalam firman tersebut. Saya menyadari bahwa seseorang yang mau menyampaikan firman Tuhan adalah seseorang yang tidak boleh tidak berpikir panjang dan dalam, semata-mata demi keutuhan firman dapat tetap disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. It's not enough to be masters in the word of God, we need to be also masters in the world of God.

The Weeping Prophet
Lima puluh tahun Yeremia menyampaikan firman TUHAN dan tidak ada satu pun yang percaya. Mereka memilih percaya kepada nabi-nabi palsu yang menyampaikan hal-hal palsu. Tetapi Yeremia tetap bertahan pada panggilan Tuhan baginya: menyampaikan apa yang TUHAN taruh di dalam hatinya. Yeremia banyak menangis dan kesal di sepanjang pelayanannya karena perilaku orang-orang ke mana TUHAN mengutusnya. Sekalipun begitu, Yeremia terus saja menyampaikan kebenaran. Truth matters than popularity. Dia ditolak, mengalami kesendirian, dihina, bahkan dipenjara dan hampir dibunuh, namun hal itu tidak membuat Yeremia mencari jalan aman. Benar adanya bahwa, we cannot follow God and stay on the margins & we cannot be disciples while staying neutral.

God is a God that can be provoked into anger
Yeremia adalah nabi yang serius merespons dosa yang dilakukan bangsanya. Dia menyampaikannya dengan jelas dan eksplisit. Tidak ada yang diperindahnya. Dosa pada hakikatnya adalah busuk, dan itulah yang ia ungkapkan. Rupanya status "bangsa perjanjian" telah dilupakan oleh bangsa pilihan ini dan mereka hanya mau berkat Tuhan tanpa ketaatan. Sungguh mirip dengan kita, ya? Yeremia menjadi utusan TUHAN untuk menyampaikan bahwa Ia marah akan dosa-dosa mereka dan jangan pikir itu membuat Allah terlihat jahat; justru itu adalah konfirmasi kasih-Nya kepada umat.

Knowing God means doing justice
Eksploitasi orang-orang yang lemah bukanlah hal baru. Kitab Yeremia sudah mencatatkan hal itu sebagai dosa yang dilakukan oleh umat TUHAN dan Ia membenci hal tersebut. Ia adalah Allah yang adil. Siapa pun yang mengaku mengenal Allah haruslah menegakkan keadilan. You can't claim to know God while not caring for the poor. Tidak harus berlangsung di pengadilan atau lembaga-lembaga berbau hukum lain, ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang melakukan cinta-kasih dan keadilan.

Di mana Tuhan? Kenapa rasanya Dia diam saja?
TUHAN di sana, bersama orang-orang Israel: God speaks in exile, God is not a tribal/national God, God is not bound by geography/a building, and God is now in exile with His people. Saya jadi semakin yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya karena keberadaan-Nya tidak bergantung pada saya, melainkan pada Dia sendiri. Manusia terlalu sok tahu ketika menuding Tuhan sedang diam atau pergi padahal bagian yang seharusnya ia lakukan adalah mencari dan datang kepada Tuhan, serta terus menyediakan waktu untuk berbicara kepada-Nya, apa pun kondisinya.

"Seek the peace and prosperity of the city"
Sejak awal, bagian ini adalah salah satu yang susah saya mengerti dan lakukan. Sebutlah saya sedang mengalami "pembuangan" ke mana saya merasa "dibuang". Saya pasti tidak serta-merta dapat memikirkan kesejahteraan tempat tersebut. Boro-boro, saya pasti ingin langsung pergi saja dari sana. Puji Tuhan, saya bukan Tuhan. Tuhan saya justru meminta saya mengusahakan kesejahteraan tempat itu karena kesejahteraannya adalah kesejahteraan saya juga. Tuhan saya meminta untuk tidak membalas kejahatan yang saya terima di tempat itu. Seperti Daniel, misinya bukanlah misi Babel, misinya adalah misi ke Babel dan dia tahu, misi itu datangnya dari Tuhan. Tuhan menempatkan saya di berbagai tempat bukan untuk duduk diam dan protes, mengeluh sana-sini, melainkan untuk bekerja.

IT'S OKAY TO CRY
Beberapa orang malu menangis karena merasa itu adalah pertanda bahwa ia lemah. Tetapi ternyata kita tetap perlu menangis & meratap. Ada 4 makna ratapan: 1) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana adanya, 2) ratapan sebagai cara melihat sesuatu yang bukan sebagaimana adanya, 3) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana ia seharusnya, dan 4) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana jadinya nanti. Lament is not only about grief but also hope. Kalau kita nggak sedih, mungkin saja kita belum merasa helpless dan membutuhkan Tuhan. Seperti Yeremia, hati yang hancur miliknya adalah hati yang hancur karena hal-hal yang juga menghancurkan hati Tuhan.

Masih Ada Harapan!
Harapan menjadi mungkin karena natur Tuhan. Ia adalah Tuhan yang menepati janji dan Tuhan yang kasih. He is the betrayed lover who continues to love. :") Remember, God is making all things new, not making all new things. Tuhan sanggup membawa pembaharuan terhadap setiap kerusakan yang sudah terjadi (baik di diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan seluruh dunia). Namun, kita tetap memerlukan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita. Forgiveness is needed for any new beginnings dan itulah yang dianugerahkan kepada kita melalui Kristus. Dialah Mesias yang melakukan setiap hal yang gagal dilakukan oleh raja-raja sebelumnya. He will deal wisely, do justice, righteousness, salvation and dwell securely. Sehingga, sebagai seorang murid, sudah sepantasnyalah kita mengikuti teladan Guru kita; menjadi instrumen-Nya dalam membawa pembaharuan di bidang kita masing-masing.

(Cont'd)

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s