Tidak banyak yang akan menyangka bahwa di balik kehebohan seorang Elisabeth dan juga kejayusannya, sesungguh-sungguhnya setiap malam ia banyak menghabiskan waktu untuk merenung yang sering berujung pada tangisan. Apa lagi sejak beberapa bulan ke belakang ini. Kalau dihitung-hitung, rasanya ada banyak hal yang membuatku bersedih, bukan hanya di kantor, namun juga di kehidupan pelayanan rohani.

Rasa-rasanya aku ingin menguraikan semua kesedihan itu dengan mendetil di halaman ini, namun kubatalkan karena jika kulakukan, tidak mungkin aku tidak ‘mencemarkan’ mereka di ranah publik seperti ini—dan tentulah itu tidak pernah merupakan pilihanku. Biarlah kesedihan itu diselesaikan di tempat pribadi dan sekarang aku berfokus pada bagaimana aku mengahadapinya. Ini bukan kesedihan satu atau dua hari, melainkan kesedihan sejak berbulan-bulan lalu. Aku tidak tahu apa kalian bisa membayangkan seberapa ‘berat’ pikiran dan hatiku saat ini dan tentunya, seberapa ‘lega’ aku ketika itu berhasil diangkat dariku.

Hal pertama yang kulakukan manakala kesedihan demi kesedihan itu datang adalah berdiam diri. Ini kulakukan bukan hanya karena aku seorang INFJ (lah emang INFJ suka diem -_-), haha, tetapi memang karena aku percaya bahwa di dalam diam itu aku bisa menenangkan diriku, menelisik apa yang sedang terjadi dan memilah-milah, mana yang pantas disedihkan dan yang tidak. Banyak orang tidak mengerti mengapa aku diam, sebagian mungkin menganggap aku sedang marah, semarah itu. Padahal tidak demikian adanya. Diam tidak sama dengan marah. Diam justru merupakan salah satu bentuk penundukan diri yang bisa membuka ruang penyerahan diri yang lebar bagi intervensi Roh Kudus agar tidak diam-diam lalu stress dan depresi. Diam bagiku adalah langkah menguasai diri supaya tidak jatuh dalam dosa.

Di dalam masa-masa diam itu aku mendengar tangisan hatiku dengan lebih jelas dan mendengar apa yang Tuhan ajarkan di sepanjang tangisan itu. Ya, aku bersyukur, melalui itu aku mengerti bahwa yang kutangisi ini memang patut ditangisi dan tentunya, patut diperjuangkan kembali. Memang ada beberapa hal yang sampai saat ini belum dapat kumengerti dan tentunya belum bisa membuatku melangkah lebih jauh. Yang kumengerti adalah di dalam ketidakmengertian pun, aku tetap harus taat pada firman Tuhan. (Mau tidak mau harus ada sedikit clue ternyata) Meskipun sulit dan menyakitkan, pemuridan harus tetap dikerjakan dengan kerendahan hati dan kebergantungan penuh kepada Allah. Meskipun aku dihina dan kepadaku difitnahkan segala yang jahat (lah, berlebihan, tapi ada benernya dikit), tetapi aku harus tetap mengampuni dan maju mengasihi. Meskipun pekerjaan menumpuk dan menguras energi, aku harus tetap bersyukur dan mengevaluasi diri. Meskipun tidak ada yang tampaknya sungguh-sungguh memberi perhatian kepadaku, tetapi aku harus tetap taat pada Allah yang perhatiannya berlimpah-limpah bagiku, dan tidak menjadi manja di hadapan dunia ini.

Tempat di sekitarku gelap sekali, aku tidak boleh bersembunyi di bawah gantang.

Akhirnya, di dalam waktu diam dan menjadi tenang itulah aku pun mampu berdoa. Biarlah Tuhan saja yang tahu seberapa cengengnya Elisabeth dan seberapa rumitnya pikirannya, serta seberapa bapernya hatinya. Biarlah Tuhan sendiri yang mendidik Elisabeth juga di masa-masa bersedih ini dan menunjukkan apa yang harus dilakukannya, ke mana ia harus melangkah, mengapa ia harus melakukan ini dan itu. Di dalam doa-doa itu juga aku justru menyadari bahwa jawaban doa tidak lebih utama daripada Allah. Dialah kekuatan hatiku dan bagianku selama-selamanya.

Dengan demikian, aku bersyukur atas semua kesedihan yang sudah terjadi belakangan ini—terutama kesedihan yang sedikit memendungi momen EARC 2017 kemarin. Karena melalui itu aku justru semakin melihat bahwa memang hanya Tuhanlah yang menjadi kekuatan dan bagianku. Kekecewaan karena manusia justru konfirmasi besar bahwa hanya Tuhan yang dapat diandalkan dan hanya Ia tempat berlindung. Dengan demikianlah kutanamkan di dalam hatiku bahwa di dalam dunia ini aku akan bersedih selalu, namun hatiku akan dikuatkan-Nya karena Ia telah mengalahkan dunia.

Damai sejahtera Tuhan bagiku dan bagimu.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s