Hidup di Masa Kini dengan Membuka Mata Lebar-Lebar

Hari-hari ke belakang sejujurnya berpotensi menyulitkan saya untuk memercayai bahwa Allah sungguh-sungguh memerhatikan saya. Beberapa hal yang menyulitkan saya tersebut di antaranya adalah kondisi-kondisi tidak ideal (salam kenal, saya ini idealis), yang tampaknya tidak ‘dihadiri’ Allah seperti: kerja lembur-lembur sampai pagi, orang-orang yang hobi marah-marah, mereka yang kurang peka dan peduli dengan nasib sesama, kebingungan-kebingungan di antara 2 pilihan, ego diri yang mengharapkan perhatian manusia–yang akhirnya dikecewakan oleh harapan itu, dan masih ada hal lain.

Namun saya bersyukur ada juga hal-hal yang menolong saya untuk memercayai perhatian-Nya. Hal-hal itu di antaranya: masih ada waktu-waktu teduh untuk diam dan tenang, kembali mengingat firman-firman Tuhan, membaca dan menggalinya, masih ada waktu untuk berdoa, mencari dan mendengarkan lagu-lagu rohani yang alkitabiah, berefleksi akan apa yang sudah dilalui di sepanjang hari dan mengingat kebaikan-kebaikan yang terjadi, serta menyadari kesehatan yang masih dapat dirasakan meski sepatutnya badan ini remuk dan mungkin saja jatuh sakit. Tidak hanya itu, saya ditolong kembali memercayai bahwa Allah memerhatikan saya melalui persekutuan rohani (hai, Persekutuan Oikumene FHUI, hai TPPM Perkantas!), di mana saya bisa mempunyai kesempatan emas untuk ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang bertumbuh dalam Kristus juga.

Pagi tadi saya memutuskan untuk melakukan penggalian Alkitab dari Matius 6:19-34 dibantu oleh buku PA karya Juanita Ryan dengan judul “BUSYNESS”. Saya menetapkan hati untuk melakukan ini karena saya benar-benar sangat sibuk sudah hampir sebulan ini dan hampir tidak punya waktu untuk berdiam mendengar Tuhan bercakap-cakap dengan saya, one on one, melalui penggalian Alkitab secara pribadi. Saya juga semangat memulai penggalian Alkitab ini karena saya yakin Tuhan mau menyatakan sesuatu untuk saya dan kesibukan saya saat ini.

Saya membaca Matius 6:19-34, bagian yang sudah cukup sering saya baca, tetapi tidak pernah berhenti mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik saya dalam kebenaran. Beberapa poin yang saya pelajari dari bagian tersebut akan saya tuangkan dalam tulisan ini, sesuai dengan poin pembahasan yang ada pada buku PA yang saya pakai.

Matius 6:19-24:

Yesus mengajar saya dan Anda untuk tahu apa yang menjadi prioritas bagi orang-orang yang mengaku dirinya pengikut Kristus yakni: mengumpulkan harta di surga, bukan di bumi–mencari kerajaan Allah dan kebenarannya.

Perbedaan antara harta di bumi dan harta di surga adalah bahwa di bumi, harta itu dapat dirusak oleh ngengat dan karat [by the way, tahu wujudnya ngengat itu gimana, ngga? Kalau ngga, klik di sini ((helpful banget kan))]. Harta di bumi juga bisa dibongkar sama pencuri dan…tentunya dicuri. Kalo dibongkar terus dipandang-pandangin doang sih ngga masalah, ya.

Yang terlintas di benak saya ketika memikirkan harta di bumi dan di surga adalah: harta di bumi ya literally harta di bumi yang notabene bernilai buat dunia ini seperti uang, materi, prestasi, pengakuan, penghargaan, kenyamanan hidup, dan sebagainya.

Harta di surga ini yang cukup kompleks buat saya. Ketika saya merenungkan apa sih yang dimaksud dengan harta di surga, saya teringat pada beberapa khotbah di bukit lainnya yang di dalamnya ada kata “upah”–kira-kira upah adalah harta kan, ya? Lalu saya coba menguraikan beberapa hal yang menghasilkan upah (harta) di surga, di antaranya:

  • dianiaya oleh sebab kebenaran (Mat 5:10-12)
  • mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka (Mat 5:44-48)
  • memberikan sedekah secara ‘tersembunyi’ (Mat 6:4)
  • berdoa tidak seperti orang munafik yang bertele-tele (Mat 6:5-7)
  • dan masih banyak lagi.

Poin menggelitik bagi saya dari masalah pengumpulan harta ini adalah: karena di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. Sungguh amat benar. Melalui kalimat Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Aramaic: ‘wealth’ atau ‘property)”, kita diajar untuk hanya mengabdi kepada Allah saja. Dengan itulah kita bisa benar-benar mengasihi-Nya dan setia kepada-Nya.

“Money is not instrinsically evil. The wise person works hard and makes financial provision for lean times (Prov 6:6-8). Believers have a responsibility to provide for their needy relatives (1 Tim 5:8) and to be generous with others in need (Prov 13:22; 2 Cor 12:14). We can enjoy what God has given us (1 Tim 4:3-4; 6-17). What Jesus forbade here was selfishness. Misers hoard more than they need (James 5:2-3). Materialists always want more. It’s the love of money that is a root of all kinds of evil (1 Tim 6:10).” – Constable’s Note.

Pernah menemukan diri seperti ‘biasa’ saja melakukan hal yang menyakiti hati-Nya? Pernah menemukan diri ‘putus-nyambung’ dalam berelasi dengan-Nya? Atau, pernah menemukan diri lebih suka melakukan dosa daripada melakukan firman-Nya? Jika ya, sepertinya kita tidak sungguh-sungguh hanya bertuhankan Kristus.


Hidup di masa kini berisi banyak godaan yang mungkin tidak terang-terangan, melainkan samar-samar maupun tersembunyi, terkait mengejar harta duniawi dan menjadi hamba uang. Saya pun tidak luput dari godaan itu. Dua hal yang sedang banyak menggoda saya adalah godaan membeli handphone baru (yang super mahal–ya ampun ada juga ya handphone semahal itu) karena melihat teman saya membeli handphone baru. Itu refleks aja sih, meskipun setelah saya pikir-pikir (dan melihat dompet) tampaknya saya baru saja bermimpi. Ketika itu saya sempat bertanya pada teman saya, “apa pendapat kalian terkait orang-orang yang mau membeli iPhone 8?” Salah satu dari mereka menjawab, “ya ngga apa-apalah, kalau uangnya ada 1 trilliun, ya ngga masalah mau beli iPhone 8.” Kemudian saya merenung, apakah perilaku kita sebagai konsumen ditentukan terutama oleh berapa uang yang kita miliki? Oke, mungkin saja. Tetapi sebagai konsumen kristiani, ada Roh Kudus yang mengambil peran utama dalam menentukan handphone mana yang sebaiknya kita beli. Roh Kudus yang bahkan sanggup menelisik sampai ke alasan dan motivasi terbesar kita untuk membeli. Ada pengendalian diri yang menjadi buah pertumbuhan rohani kita.

Godaan samar-samar kedua adalah ketika saya melihat foto-foto travelling di Instagram feed orang-orang, baik yang saya kenal maupun tidak. Saya harus akui, secara estetika memang bagus-bagus sih yang mereka post (ya iyalah, posenya di tempat-tempat bagus, coba mereka foto di sebelah tong sampah di bengkel tua Mexico City, pasti berasa lagi foto di sebelah Soto Ngawi Matraman deh -_-) Oke, balik ke godaannya. Beberapa kali (jujur, ngga sering sih) saya menggumam, wah pengen deh tahun depan ke situ, ke sana, ke mari, tanpa saya tahu kenapa dan untuk apa. Jangan-jangan cuma untuk di-post di Instagram. Duh, kehidupan masa kini.

Matius 6:25-34: Jangan kuatir akan hidupmu

Kita gagal mengutamakan dan hanya mengabdi kepada Allah karena kita sering kuatir akan hidup kita. Ini adalah wujud kealpaan kepercayaan pada Allah yang sesungguhnya sedang memelihara hidup kita. Kekuatiran kita tidak berdasar.

Pada bagian ini Yesus mengingatkan agar kita tidak kuatir akan hidup ini, akan apa yang hendak kita makan atau minum, dan agar tidak kuatir pula akan tubuh, akan apa yang hendak kita pakai. Yesus mengajak kita melihat dari perspektif-Nya–melihat pada pemeliharaannya akan dunia ini–dengan meminta kita memandang burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapa. Yesus juga meminta kita memerhatikan bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, yang bahkan Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

“God’s providential grace should not make the disciple lazy, but confident that He will similarly provide for His children’s needs. God often dresses the simplest field more beautifully than Israel’s wealthiest king could adorn himself. Therefore, anxiety about the essentials of life really demonstrates lack of (“little”) “faith” in God.” – Constable’s Note.

Kebanyakan dari kita sibuk mengumpulkan harta di dunia karena kita merasa kuatir akan masa depan kita. Ini yang membuat kita tidak menganggap perlu hal-hal yang spiritual, atau ya, terlibat sekadarnya saja. Ketika kuliah, kita tidak mau dibina di persekutuan mahasiswa Kristen karena kita selalu merasa sibuk dengan impian-impian dan ambisi-ambisi; kita kuatir CV kita tidak cukup meyakinkan para pemberi pekerjaan untuk hire kita. Lihatlah, kenapa ya kegigihan kita justru disetir oleh kekuatiran dan bukan karena persembahan bagi Allah, yang memberikan kesempatan kuliah buat kita?

Ketika sudah bekerja kita mulai meninggalkan persekutuan rohani (dan bahkan anak-anak rohani kita) karena kita berpikir, ini saatnya saya mempersiapkan masa depan saya; saya akan bekerja di sini selama sekian tahun, lalu ke sana sekian tahun, lalu akan menikah dengan orang yang seperti ini pada tahun sekian, dan sebagainya. Semua perencanaan itu kita dasarkan karena kita kuatir tidak punya harta cukup untuk hidup di dunia ini.

Akhirnya apa? Sudah terlalu sibuk untuk memikirkan harta di surga.

“The man who feeds his heart on the record of what God has done in the past will never worry about the future.” – Barclay.

Kekuatiran berdampak serius bagi iman kita. Saya copy Matius 13:22 (BIS):

Benih yang jatuh di tengah-tengah semak berduri ibarat orang-orang yang mendengar kabar itu, tetapi khawatir tentang hidup mereka dan ingin hidup mewah. Karena itu kabar dari Allah terhimpit di dalam hati mereka sehingga tidak berbuah.

Mungkin kita tetap membaca firman, tetapi kita kuatir tentang hidup kita. Dampaknya, firman itu terhimpit dan tidak menghasilkan pertumbuhan yang baik untuk memberi buah bagi kemuliaan Tuhan. Jelas dan sinkron, karena hidup yang penuh kekuatiran sebenarnya adalah hidup yang mengabaikan Allah dan pemeliharaan-Nya. Bagaimana bisa firman tersebut menjadi iman dan berbuah?

Yang terjadi jika saya dan Anda mengkuatirkan masa depan dan di saat yang bersamaan tidak tinggal dalam pemeliharaan Allah adalah hidup kita berangsur-angsur menjadi sama seperti orang yang tidak mengenal Allah, jauh dari persekutuan dengan Allah. Kita selalu mengabaikan-Nya.

“In the end, just as there are only two kinds of piety, the self-centered and the God-centered, so there are only two kinds of ambition: one can be ambitious either for oneself or for God. There is no third alternative.” – John Stott.

Bagi saya secara pribadi, perkataan Yesus mengenai kekuatiran ini berbicara bahwa yang terpenting dan yang terutama adalah sikap hati yang gigih untuk mencari terus kerajaan Allah di mana Allah-lah yang sungguh-sungguh menjadi Raja yang memerintah atas hidup kita dan kita mau melakukan kehendak-Nya. Semuanya akan ditambahkan pada kita. Tidak ada yang perlu dicemaskan tentang hari esok dan masa depan. Yang utama, hari ini, mari izinkan Allah mengatur, mengutak-atik, menghancurkan, membangun lagi, mendewasakan hidup kita, dan mari, hari ini kita lakukan kehendak-Nya.

Mari hidup di masa kini dengan membuka mata lebar-lebar akan apa yang penting dan terutama di dalam hidup kita.

 

“It is impossible to be a partially committed or part-time disciple; it is impossible to serve two masters, whether one of them be wealth or anything else, when the other master is meant to be God.” – Hagner.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

2 thoughts on “Hidup di Masa Kini dengan Membuka Mata Lebar-Lebar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s