#latenightpost

Okay, ini bukan waktu yang cukup bijak untuk menulis sesuatu karena seharusnya saya tidur. Sekarang sudah pukul 12.20 AM, ngomong-ngomong. Tapi, saya belum ngantuk & sayangnya, ada sesuatu yang ingin saya tulis (mumpung saya lagi inget). Jadi, kita mulai saja!

Belakangan ini, saya lagi banyak berpikir tentang “perempuan”. Sebagai orang yang tingkat imajinasinya cukup tinggi (#percayadiri), saya suka membayangkan tentang “perempuan gimana sih yang saya kagumi?” Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Saya termasuk salah satu orang yang suka mengagumi sesuatu/seseorang, meski itu adalah hal yang kelihatannya biasa-biasa saja. Saya juga suka menyusun kriteria “idaman” saya (apa yang dapat membuat saya kagum) akan sesuatu/seseorang agar saya bisa mencari untuk memperolehnya.

Untuk kali ini, kriteria idaman tentang perempuan ini muncul ketika saya membayangkan tentang masa depan. Jika Tuhan berkehendak saya menikah dengan seseorang yg sudah dipastikan-Nya, saya membayangkan, kira-kira pasangan hidup seperti apa yang didambakan dan didoakan oleh pasangan hidup saya, ya? Anyway, saya tidak bicara soal pacaran. Saya bicara soal menikah. Ada lebih dari 1001 perbedaan yang akan kita alami ketika kita pacaran dan menikah. Meski saya belum menikah, saya bisa pastikan itu. Itu cukup logis untuk diperkirakan.

Selanjutnya, saya suka membayangkan, jika Tuhan berkehendak saya memiliki anak, kira-kira ibu seperti apa ya, yang didambakan oleh anak saya?

Mungkin sebagian orang bertanya, “kenapa harus memikirkan apa yang didambakan orang lain?” Pertama, pendekatan ini adalah pendekatan yang sering saya lakukan kepada orang-orang di sekitar saya–pendekatan yang memikirkan apa yang menjadi ekspektasi seseorang terhadap saya. Bukan untuk mengimitasi terang-terangan ekspektasi tersebut, tapi pertama-tama mengujinya dengan firman Tuhan dan menggunakan hasil ujian tersebut dalam menjalin relasi.

Di saat yang bersamaan, tidak dipungkiri, saya tetap rindu berserah kepada Sang Pembentuk kriteria, dihancurkan dan dibentuk kembali, menjadi seperti yang Ia dambakan saja.

Proses ini berjalan beriringan dan tidak seharusnya saling bertentangan–ketika semuanya dilakukan bersama Tuhan & firman-Nya. Semuanya ini saya lakukan demi semata-mata kasih dapat dinyatakan dengan tepat, tidak menimbulkan kecurigaan, kekhawatiran, dan sebagainya.

Karena, kadang-kadang kamu bermaksud mengasihi, namun beberapa orang tidak bisa handle & salah mengerti. It’s important to know your ‘audience’.

Lalu, setelah membayangkan kriteria-kriteria perempuan tersebut, saya tersenyum pada 1 puzzle yang sudah tersusun di kepala dan hati saya. Puzzle itu membentuk sebuah doa, “saya mau menjadi pasangan hidup yang terbaik untuk pasangan saya, menjadi ibu terbaik untuk anak(-anak) saya, demi hormat & kemuliaan Tuhan yang sudah dan selalu membentuk saya, amin.”

Catatan:

Kalau kekaguman pada seseorang membuatmu tidak semakin mengasihi Tuhan & melakukan perintah-Nya, membuatmu jauh dari logika, waspadalah. Kekaguman itu sudah menjadi berhala.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s