Halo, apa kabar?

Saat ini saya sedang merasa seperti Kathleen Lights yang guilty abis karena udah lama nggak upload beauty video ke channel YouTube-nya. Sungguh. Setelah bulan-bulan yang cukup sibuk ini akhirnya saya memutuskan menulis beberapa hal yang lagi kepikiran di kepala saya. Biasalah, random thoughts, super-scattered thoughts on different topics, yang emang biasa terjadi di kepala orang-orang yang kebanyakan mikir tapi nggak memanfaatkan ruang & waktu untuk membagikannya. Sekaligus juga untuk membagi kabar saya kepada pembaca-pembaca saya yang budiman dan budiwoman.

Pertama, saya harus mengingatkan sekali lagi, bahwa tulisan ini akan menjadi tulisan yang nggak punya flow, cukup messy, dan agak tidak terstruktur. Saya rasa beginilah beberapa orang memulai kembali kebiasaan menulisnya yang sudah cukup lama ditinggalkan.

Kedua, saya akan bicara soal rekonsiliasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi 1 arti untuk rekonsiliasi (/re·kon·si·li·a·si/ /rékonsiliasi/ n) sebagai perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan. Saya lebih akrab dengan definisi lain dari kata ini: pendamaian. Saya harus mengakui bahwa absennya rekonsiliasi di antara 2 atau lebih pihak terkait apa pun yang mengakibatkan perubahan hubungan yang semula, akan menghasilkan perasaan-perasaan yang nggak enak. Apalagi jika itu dipendam baik intentionally or not. Saya menyayangkan sikap manusia yang demen berpura-pura, pura-pura semuanya fine, menyenangkan, tidak bermasalah, dan sebagainya.

Kalau kau merasa ada yang tidak beres, bicaralah. Jangan lukai orang lain bahkan ketika itu masih berada di dalam pikiranmu saja dengan membelokkan fakta lewat asumsi-asumsimu, di dalam pikiranmu yang kotor. Bagi saya itu cukup tidak manusiawi. Kalau kau memutuskan nggak akan membicarakan masalah itu, setidaknya bertanggungjawablah kepada dirimu sendiri dengan memaklumi (bahkan memaafkan orang lain dan situasi tersebut). Ini persoalan integritas, bukan? Segala pikiran, perasaan, perbuatan, dan perkataanmu menyatu dalam cerita yang sama. Belakangan ini begitu marak kalimat “berdamai dengan diri sendiri”, tetapi entah apa pengertian orang-orang di balik kalimat tersebut, atau setidaknya pada kata ‘berdamai’ itu sendiri. Jelas-jelas, seperti kata KBBI, rekonsiliasi/pendamaian itu merupakan perbuatan menyelesaikan perbedaan-perbedaan, maka, pandanglah, di bagian mana di dalam dirimu kau sedang tidak selaras dalam 1 cerita yang sama. Jangan buru-buru menempatkan orang lain pada meja preparatmu, berbaringlah sendiri di sana.

Ketiga, saya ingin berbicara soal dikotomi ibadah dan kehidupan sehari-hari. Beberapa orang menganggap ibadah ritual lebih rohani dibanding dengan segala aktivitas sehari-hari. Beberapa yang lain menganggap lebih baik berfokus pada dunia yang sedang menuju kesudahannya ini daripada menumpuk di dalam rumah-rumah peribadatan. Saya tidak berada pada kedua pihak ini. Bagi saya, (thanks to #WOWC2018 yang sudah menjawab pergumulan belakangan) tindakan membeda-bedakan tersebut bukanlah cara kita menempatkan perspektif. Ini sederhana, Tuhan tidak menciptakan manusia mula-mula dalam kurungan dinding-dinding rumah ibadah. Adam & Hawa diciptakan di dalam taman yang jelas-jelas dipenuhi hadirat Allah; mereka hidup dalam penyembahan yang sejati lewat diri mereka sendiri kepada Allah yang menciptakan mereka seturut gambar dan rupa-Nya. Adam & Hawa dibentuk untuk menyembah Allah dan mewujudkannya dengan mengerjakan mandat budaya mereka di taman Eden, bagi bumi yang sudah Ia ciptakan.

Maka, jangan biarkan kejatuhan mereka ke dalam dosa mengaburkan perspektif kita yang utuh tentang hidup–karena bahkan Allah sendiri telah mendamaikan kita (yang percaya kepada Kristus) dengan diri-Nya supaya kita kembali memandang diri kita sebagaimana awalnya kita dirancang.

Hiduplah menyembah Tuhan dan mewujudkan karakter-Nya yang kaulihat di dalam penyembahanmu itu di dalam kehidupanmu ber-dunia. Beribadah secara ritual sama pentingnya dengan berkehidupan di dunia ini. Semuanya satu-kesatuan yang berakar dan bermuara pada Allah dan segenap kehendak-Nya. Bergerejalah, ber-PMK-lah, bersekutulah, karena di sana ada kasih karunia berlimpah yang menyatakan Allah dan kehendak-Nya secara eksplisit lewat firman dan kesatuan tubuh Kristus. Karena di dalam ibadah ritual yang kaumaknai sungguh-sungguh ini, kau tahu bahwa Allah mau kaunyatakan Ia kepada sesamamu di luar gedung-gedung ibadah tersebut, di luar kelompok-kelompok orang tersebut.

Jangan terlalu sering menghakimi orang yang sungguh-sungguh mau beribadah & bahkan mendedikasikan dirinya di dalam pelayanan ibadah ritual–dengan mengatakannya sok kudus. Dia memang kudus–dikuduskan.

Tidak hanya itu, hiduplah ber-dunia dengan sungguh-sungguh juga. Kautahu apa yang Tuhan mau bagi dunia, kaumengerti hati-Nya bagi dunia ini, kasih & kemurahan-Nya, kerendahan hati serta kedaulatan-Nya, hiduplah menyatakan itu kepada orang-orang di sekitarmu–bukan hanya kepada sesamamu yang seiman, namun juga kepada sesamamu yang tidak seiman. Pada hakikatnya kita semua sama-sama orang yang berdosa. Perbuatan baik apa pun tidak membuat kita lebih diperkenan Allah–sekalipun Ia memanggilmu untuk berbuat baik. Lagi-lagi, hanya Roh-Nya yang memampukanmu melakukannya, jikalau pun kaumelakukannya. Lihat dunia dalam perspektif ibadah, bahwa di tengah-tengahnya kau sedang menunjukkan siapa yang kausembah sesungguh-sungguhnya.

Berhentilah mengagung-agungkan aksi sosial, kalau sebenarnya kita tidak sampai pada pemahaman bahwa Allah mengasihi dunia ini. Berhentilah, jika aksi sosialmu sebenarnya hanyalah wujud lain dari kecintaanmu terhadap diri sendiri–upayamu mengaktualisasikan diri, saja.

Keempat, saya ingin menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan. Biarlah ini menjadi kesaksian bagi setiap kalian yang membaca bahwa hidup yang diserahkan kepada Tuhan adalah hidup yang memang melelahkan, tentu saja, tetapi begitu penuh sukacita dan damai sejahtera yang tidak tergambarkan. Saya bersyukur karena ada begitu banyak pengetahuan yang Ia berikan kepada saya untuk menunjang pekerjaan saya saat ini bagi kaum intelektual muda. Tantangan terbesar bagi saya adalah bagaimana untuk tetap rooted (in God’s word) and relevant (in reaching out today’s generation); menolak dengan tegas pemikiran-pemikiran abu-abu di area hitam dan putih, sekalipun begitu ‘baik’ tampaknya. Hidup di zaman post-truth benar-benar menguji iman dan pengetahuan akan apa yang diimani.

Note to self: jangan rooted di perubahan zaman dan dunia, lalu malah ‘merelevan-relevan’-kan firman Tuhan–padahal tidak membicarakan hal yang sama maupun seimbang.

Kelima, saya merasakan sekali lagi dan berkali-kali lagi, betapa sesak dan ‘menyedihkan’-nya Jakarta. Sudah seminggu ini saya diperhadapkan dengan kesenjangan sosial yang nyata lewat cerita seorang driver Grabbike yang baru saja kecurian motor (pada waktu itu ia memakai motor saudaranya) dan betapa semakin susahnya ia mencari nafkah mengingat cicilan motor itu pun belum lunas. Kemudian lewat wajah senyum beberapa driver ojek online ketika menerima kelebihan ongkos dari saya, padahal bagi saya mungkin itu tidak seberapa. Serta dari wajah seorang bapak tua yang menjual sandal di pinggir Plaza Kalibata yang di tengah teriknya matahari menampilkan senyumnya ketika saya juga menambahkan sedikit dari harga sandal yang saya beli. Kembali ke kalimat pertama dalam paragraf ini, sepertinya bukan hanya di Jakarta, ya? :”( Indonesia kita memang begini keadaannya dan itu cukup memilukan hati. Itu baru 3 contoh, belum lagi contoh-contoh yang lain yang tidak saya lihat.

Jujur saja, ketika melihat wajah mereka pada waktu itu, saya tidak tahan untuk tidak menangis, maka saya pun langsung buru-buru membalikkan badan saya sementara mereka masih tersenyum. Saya merenungkan perjuangan mereka yang sulit bahkan untuk hidup sehari-hari diri mereka sendiri, belum lagi bagi mereka yang berkeluarga. Di sisi yang sama saya bersyukur Tuhan yang baik kepada semua orang itu memelihara mereka lewat cara-cara-Nya yang sederhana–dan sekaligus mengajarkan kepada saya apa yang harus saya lakukan sebagai sesama manusia. Saya memang tidak berbuat hal-hal spektakuler, tetapi bahkan itu menghasilkan pemahaman dan pelajaran yang besar bagi saya.


 

Keenam, saya ingin menyampaikan bahwa saya akan kembali melakukan detoks sosial media. Tetapi kali ini adalah yang terlama, yakni 2 bulan. Dimulai dari hari ini, 3 Juni 2018 sampai dengan 3 Agustus 2018. It’s sooooo exciting ketika saya tiba di keputusan ini setelah pertimbangan yang cukup panjang. Sebenarnya alasan saya kali ini adalah karena saya mau reorienting mindset & behavior saya dalam penggunaan sosial media–mengingat semakin ke sini, saya semakin tidak semangat–meski pada faktanya saya cukup sering menggunakannya. Saya mulai merasa seperti autopilot saja dalam bersosial-media.

Sebagai seorang INFJ sejati, hahahaha, dan mengingat beberapa tugas, mandat, panggilan yang harus saya kerjakan di sepanjang 2 bulan ini, saya merasa perlu banyak waktu untuk bersosial-realita saja.

(Duh, saya rasa alasan saya terlalu lebay, padahal sebenarnya saya cuma lagi capek aja sih, -_-).

Sosial media yang akan saya tidurkan penggunaannya adalah Instagram, WhatsApp Story, Facebook, dan Twitter. Jika ada yang perlu dan kamu tidak punya kontak seluler pribadi saya, kamu bisa menghubungi saya di email elisabethyosephine@yahoo.com.

So, that’s all! Thank you for reading.

Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s