Membuang Sampah, Menyambut Anugerah

Tidak selamanya apa yang kita sebut ‘sampah’ adalah hal-hal yang jelek, tidak berguna, dan tidak kita perlukan lagi. Pernahkah saudara berpikir bahwa ‘sampah’ juga dapat berupa hal-hal yang baik dan sebenarnya diperlukan dan berguna dalam kehidupan kita? Apa maksudnya?

Mari membuka Alkitab pada bagian Surat Paulus kepada jemaat di Filipi, pasal ke-3 ayat 1-16.


Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus untuk jemaat di Filipi, suatu jemaat pertama yang ia bangun di Eropa. Hal ini dapat kita lihat dalam Kisah Para Rasul pasal 16:6-40. Pada saat itu, dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan supaya jemaat menurutinya. Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia, begitu pula ketika mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, Roh Kudus tidak mengizinkan mereka. Pada malam hari, tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan di mana ada seorang Makedonia berdiri dan berseru, memintanya untuk menyeberang dan menolong orang-orang Makedonia. Dari penglihatan inilah Paulus dan Silas menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil mereka untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di Makedonia, dan mereka pergi ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia, yang merupakan kota perantauan orang Roma.

Dalam Filipi 3:1-2 Paulus berpesan agar jemaat Filipi berhati-hati terhadap anjing-anjing, yakni pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat palsu. Siapakah yang Paulus maksud dengan anjing-anjing tersebut? Mereka adalah kaum Yudaisme. Beberapa orang Yahudi ini juga suka menjuluki orang-orang non-Yahudi dengan sebutan ‘anjing’ yang mana sering mereka anggap ‘jorok’. Namun ironinya, Paulus membalikkan julukan tersebut kepada orang-orang Yahudi itu sendiri dan bahkan menyebut mereka juga sebagai pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat palsu.

Apa yang mereka lakukan sehingga Paulus menjuluki mereka demikian?

Hal tersebut dapat kita lihat dalam ayat ke-3, mereka manaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Hal-hal lahiriah dalam ayat ini sama dengan kedagingan (flesh dalam terjemahan Inggris). Kalimat dalam ayat 3 ini “karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus” memberi kita gambaran apa yang sebenarnya dipercayai oleh kaum Yudaisme ini: yakni sunat, dan inilah yang menjadi salah satu ancaman bagi jemaat di Filipi akan kepercayaan mereka yang mana disebut Paulus sebagai orang-orang bersunat sesungguhnya yakni yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus.

Tiga ayat pertama dalam Pasal 3 ini memberi pesan peringatan sekaligus penegasan akan status jemaat Filipi serta apa yang menjadi sumber status tersebut: yakni oleh Roh Allah dan di dalam Kristus Yesus. Sangat berbeda dengan apa yang menjadi kepercayaan kaum Yudaisme: yakni hal lahiriah semacam sunat.

Selanjutnya pada ayat 4-6 Paulus seolah ingin mengatakan “hei, kalau pun kalian, kaum Yudaisme, ingin percaya pada hal-hal lahiriah seperti itu, aku pun bisa saja, bahkan aku lebih layak untuk membanggakannya!” Di dalam 3 ayat ini Paulus mendaftarkan 7 hal lahiriah yang ia miliki. Tujuh hal ini terdiri dari 2 kategori, kategori pertama adalah being-nya dalam artian apa yang memang menjadi keberadaannya, yakni:
  1. disunat pada hari ke-8
  2. dari bangsa Israel
  3. dari suku Benyamin
  4. orang Ibrani asli
  5. Farisi

Lalu 2 hal berikutnya; tentang kegiatan, adalah penganiaya jemaat, dan tentang kebenaran mentaati hukum Taurat, ia tidak bercacat.

Tujuh hal ini sesungguhnya dapat menjadi alasan kuat bagi Paulus untuk percaya dan bermegah di dalamnya. Bagaimana tidak? Orang Yahudi mana yang tidak ingin memiliki ke-Yahudi-an seperti Paulus? Paulus disunat pada hari ke-8, sesuai dengan peraturan dalam Perjanjian Lama, tepatnya dalam Imamat 12:3. Ia berasal dari bangsa Israel, tepatnya dari suku Benyamin, ia orang Ibrani asli. Ia juga berasal dari kelompok agama yang paling strict. Kamus Alkitab memberi penjelasan tentang orang Farisi sebagai kelompok orang yang menaati seluruh hukum dan peraturan secara mutlak.

Tidak hanya itu, Paulus juga menegaskan status atau being-nya tersebut dengan tindakan nyata, yakni sebagai penganiaya jemaat (pengikut Kristus) serta sungguh-sungguh tidak bercacat dalam mentaati hukum Taurat.

Kesempurnaan Paulus tampaknya tidak dapat ditandingi oleh orang Yahudi mana pun termasuk mereka yang menjadi ancaman bagi jemaat di Filipi.

Namun ada yang menarik pada ayat 7 ketika dikatakan bahwa “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi.” Paulus jelas mengakui bahwa 7 hal yang ia miliki tadi adalah hal yang menguntungkan baginya. Tapi itu dulu.

Jika kita kembali melihat 7 hal yang dimiliki oleh Paulus di atas, kesamaan apa yang saudara lihat dari hal-hal tersebut?

Itu adalah hal-hal yang baik. Paulus memiliki warisan keluarga Yahudi yang jelas, status sosial yang baik, bahkan pemahaman firman yang baik (secara, dia Farisi), bahkan dia sangat gigih dalam kegiatan-kegiatan keagamaannya, serta secara moral, tidak bercacat. Ini adalah kebaikan yang sangat sempurna. Tetapi itu dulu. Bagaimana Paulus memandang hal-hal tersebut sekarang?

RUGI. LOSS.

“sekarang kuanggap rugi” ayat 7.

Why? Apa yang membuat Paulus berubah pikiran? Ayat 8 melanjutkan, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.”

Bukan hanya ke-7 hal tadi yang dianggap Paulus sebagai kerugian, melainkan sekarang, segala sesuatu dianggapnya rugi karena 1 hal. Satu hal yang sangat powerful karena sanggup membuat Paulus berubah perspektif yakni: pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan, yang lebih mulia dari pada semuanya itu.

Pastor David Platt mengatakan dalam kotbahnya tentang perikop ini, “it weren’t bad things that keep Paul away from Christ, it were good things.” Bukan hal-hal yang buruk yang menjauhkan Paulus dari Yesus, Sang Mesias, dan Allah yang sejati. Melainkan hal-hal yang baik. Bukan hal-hal yang buruk yang menjadi sampah bagi Paulus, melainkan hal-hal yang baik. Kata ‘sampah’ ini sendiri dalam bahasa aslinya lebih tepat diartikan dengan “kotoran”.

Bayangkan, bagaimana bisa Paulus menganggap hal-hal menguntungkannya sebagai orang Yahudi sebagai kotoran? Dalam hal ini Paulus seolah menantang siapa pun kaum Yudaisme yang ingin mengadu ‘kesalehan’ dalam Yahudi, dengannya.

Paulus menekankan bahwa saat ini, ketika ia sudah menyadari kemuliaan pengenalan akan Yesus Kristus dibanding seluruh kesalehannya, ia pun mengakui bahwa itu ia peroleh bukan dengan kebenarannya sendiri karena mentaati hukum Taurat. Jadi tidak ada ‘sambilan’ atau ‘sekaligus’ atau hubungan ‘sebab-akibat’ antara kesalehan Paulus dan bagaimana ia kini berada di dalam Kristus. Di dalam ayat 9 Paulus menyatakan, “dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.”

Anugerah; sebuah kata kunci yang menjadi alasan Paulus berada di dalam Kristus, yang berarti, menerima keselamatan. Anugerah, alasan ia pun beroleh pengenalan akan Kristus yang jauh lebih mulia dari segala kesalehan yang ia miliki. Ternyata, kesalehan Paulus pada masa lampau tidak sampai membuatnya mengenal siapa Mesias yang dijanjikan. Sebaliknya, ia dibutakan oleh kesalehannya, dan menganiaya Kristus.

Ayat 10-11 memberi kita pengertian tentang apa yang menjadi kehendak Paulus saat ini, karena anugerah tersebut. Ia ingin mengenal Kristus, dan kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana ia menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian-Nya supaya ia beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Pengenalan akan Kristus yang dianugerahkan Allah kepadanya membuat Paulus makin ingin mengenal Kristus, dan mengenal Kristus berarti mengenal bahwa Kristus adalah Mesias yang menderita bahkan sampai mati, demi misinya bagi umat manusia. Pengenalan yang sejati akan Kristus akan membuahkan kerinduan untuk menjadi serupa dengan-Nya. Paulus yang dahulu menganiaya pengikut Kristus, kini seolah ingin mengatakan “kalau pun aku juga harus dianiaya karena Kristus, aku rela, karena Kristus sendiri pun telah dianiaya karena aku.” Paulus tidak bisa melihat hal ini dulu ketika ia begitu salehnya beragama, ketika ia begitu bermoralnya di kalangannya.

Ayat 1-11 ini menjadi sebuah pesan yang sangat powerful bagi jemaat di Filipi ketika Paulus meminta mereka berhati-hati terhadap orang-orang yang mau mengguncang iman mereka dengan segala daya upaya menyuruh mereka harus melakukan ini dan itu untuk selamat, untuk memperoleh kebenaran, untuk memperoleh hidup. Powerful karena Paulus, yang saat penulisan surat ini sedang berada di dalam tahanan rumah di Roma, dan seumur hidupnya yang baru di dalam Kristus, telah mengalami banyak penderitaan karena Kristus dan Injil-Nya. Pesan ini menjadi powerful karena Paulus dengan nyata menunjukkan bahwa ia memang melepaskan keuntungan-keuntungannya terdahulu dan menganggapnya sampah. Ia tidak lagi bermegah dalam ke-Yahudi-annya, melainkan dalam Kristus dan pekerjaan baik yang sudah Ia siapkan baginya. Ia memberitakan Injil ke begitu banyak orang, begitu banyak tempat pada masa itu. Pesan Paulus ini bukanlah omong kosong apalagi omong doang.


Perikop ini ditutup dengan penjelasan Paulus bahwa anugerah Allah baginya juga diresponsnya dengan tepat ketika dalam ayat 12-14 Paulus menyatakan bahwa dia bukannya sudah sempurna, melainkan ia terus berproses; Allah terus berproses di dalamnya, dan ia perlu merespons dengan terus mengarahkan dirinya kepada panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Paulus menunjukkan bahwa ia melepaskan segala hal yang dulu merupakan keuntungan baginya namun kini tidak ada apa-apanya dibanding dengan pengenalan akan Yesus Kristus dan persekutuan dengan-Nya.


Brian Littrell adalah salah satu anggota grup band terkenal asal Amerika, The Backstreet Boys, yang meniti popularitasnya sejak tahun 1993-2001. Di dalam kesuksesan band-nya, Brian dengan jelas mengatakan bahwa itu adalah berkat Tuhan baginya. Ketika ia pun memutuskan untuk memulai debut solonya di musik kristiani, ia tidak segan untuk menunjukkan iman percayanya kepada Kristus. Dia mengatakan bahwa imannya selalu menjadi benteng dalam hidup dan keluarganya. Bagi Brian, Tuhanlah yang telah memberinya kesempatan luar biasa untuk menyentuh orang lewat musik melalui Backstreet Boys maupun karir solonya.Di saat banyak artis populer meninggalkan iman Kristen dan mengejar banyak keuntungan dalam dunia hiburan, Brian Littrel melakukan yang sebaliknya. Dia memilih tetap memperjuangkan imannya dan akhirnya meninggalkan ketenarannya di dunia musik populer.

Sekalipun banyak orang menganggap Brian telah berjalan mundur dalam hidupnya, Brian malah menganggap dia justru sedang maju dan melangkah terus ke mana Tuhan memimpinnya. Banyak lagu kristiani yang ia ciptakan, salah satunya yang terkenal adalah ‘In Christ Alone’—yang menceritakan tentang popularitas, ketenaran, atau kebanggaan apa pun tidak dapat menandingi kasih karunia di dalam Kristus.

Apa yang saat ini saudara anggap menjadi keuntungan? Status sosial? Prestasi di kampus? Prestasi di pelayanan? Kesalehan-kesalehan yang mengagumkan? Apakah saudara dapat menganggap itu semua sampah dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus Yesus? Apa yang menyulitkan saudara?

Berdoa, dan mintalah anugerah kepada Allah, serta responslah dengan tepat. Buanglah sampah, sambutlah anugerah.
Advertisements

Published by

Elisabeth Yosephine

Not an open book. I tell things I want people to know. Even so, I tell them in different viewpoints according to what response I want to get.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s