Hari-hari Kelabu

Apa yang selama ini kuantisipasi akhirnya terjadi. Sayangnya, aku tidak berhasil menghadapinya dengan bijak. Kupikir perasaanku bahwa keputusan ini adalah tepat cukup untuk menjadi modal dalam menghadapi apa yang terjadi kemarin. Kupikir imanku bahwa ini adalah jalan yang harus kutempuh membebaskanku dari situasi sulit yang menghadang di sepanjang perjalanan ini.

Aku salah besar.

Lelah juga aku melewati malam-malam yang mendung dan harus kuisi dengan tangisan. Sebagai seseorang yang memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bagi orang lain, aku tidak bisa memungkiri bahwa sisa-sisa waktu yang seharusnya dapat kupakai untuk ‘merawat’ diri ini harus kulewati dengan sedih.

Cukup menyakitkan.

Aku bertanya-tanya, kenapa ini harus terjadi? Bukankah mama sudah setuju? Bukankah mama sudah sepakat akan mendukungku di sini? Kenapa perdebatan ini harus terjadi lagi? Aku lelah menghadapinya karena itu berarti menghadapi kekecewaannya–perempuan yang paling kukasihi.

Seumur hidup, sebelum akhir-akhir ini, memang hampir tidak pernah kami berselisih paham terhadap berbagai keputusan yang kuambil. Mama selalu mengenalku sebagai anaknya yang paling dapat dipercaya dan diandalkan. Bagaimana tidak? Pencapaian dan prestasi-prestasiku di masa lampau yang kuperoleh dengan mandiri bahkan tanpa harus diawasi orang tua telah membuatnya begitu berharap akan masa depanku.

“Harusnya kan kau bisa masuk sana”

“Kalau waktu itu kau gagal aku yakin itu bukan karena kau bodoh tapi karena kau memang nggak mau masuk ke sana, kan?”

“Kau nggak ingat dulu kita bahagia sekali waktu lihat pengumuman masuk kuliah?”

“Apa sih yang ada di pikiranmu sampai kau nggak mau bekerja di dunia hukum?”

“Mama nggak habis pikir.”

😥

Bahkan untuk mengetik kalimat-kalimat di atas sudah membuat hatiku sangat sesak. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan mama. Dia sangat pantas untuk melontarkannya. Yang membuatku juga sesak untuk menjawab satu per satu pertanyaan itu adalah karena aku juga tidak dapat mendeskripsikan dengan jelas kenapa semuanya berubah. Satu hal yang kutahu, perubahan tersebut pun lumayan menyakiti diriku tatkala membayangkan apa-apa saja yang harus kutinggalkan untuk saat ini.

Yang juga membuatku sesak adalah pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku yang seolah menudingku sebagai orang yang tidak mau berpartisipasi di lahan yang sulit di bidang-bidang hukum, menudingku bahwa aku memang tidak mau berjuang lebih keras, karena aku memilih menyangkali kemampuan dan kekuatan Tuhan, menudingku seolah aku hanya memilih jalan yang lebih mudah.

Lebih mudah? Siapa bilang pilihan ini lebih mudah daripada berbakti di bidang hukum? Sama sekali tidak. Bahkan aku lebih banyak stress menghadapi tanggung jawabku di pilihan ini dibandingkan dulu ketika aku masih di kantor hukum.

Namun sesakit apa pun batin ini menghadapi hari-hari, satu hal yang selalu kurindu adalah bergerak seturut pimpinan-Nya. Ke mana pun dan kapan pun, aku hanya ingin menjalaninya dengan iman. Karena sejatinya, hidupku adalah karena kasih karunia. Di dalam tiap-tiap detiknya, aku tahu kemuliaan hanya bagi-Nya, baik aku di gedung nan megah di daerah elit ibukota, atau pun di sekolah dan kampus-kampus sederhana. Baik aku dipuji orang maupun dipertanyakan orang. Baik aku berlebih maupun pas-pasan. Yang kutahu Tuhan tetap pegang tanganku.

Hari-hari kelabu ini tidak akan pernah sanggup mengaburkanku dari keyakinan bahwa terlebih utama Dia yang memanggilku sebelum pilihan-pilihan itu. Akhir hidupku dalam apa pun pilihan tersebut, adalah kekekalan bersama-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s