Categories
Life

Menyerah

Ketika mengingat bahwa aku akan menyampaikan perenungan firman di weekend doa panitia Retret Koordinator XVIII besok, aku takut. Aku berusaha mengelak. Aku tidak berani mengambil tugas yang begitu penting di tengah kondisiku yang sedang tidak baik ini. Apa yang harus kubagikan? Keyakinan akan bagian firman mana yang harus aku sampaikan? Masalahnya, aku sedang ragu. Aku sedang tidak punya kepercayaan yang kuat bahwa Tuhan sanggup menyelesaikan ini bagiku. Aku sedang bertanya-tanya, apakah ini semua sesuai dengan kehendak Tuhan? Aku bertanya-tanya, Tuhan ada di mana di dalam persiapan retret ini? Kenapa aku sering merasa sendirian dalam mengerjakannya? Kenapa aku sering tertekan di dalam jiwaku setiap kali aku memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan retret ini?

Aku tidak tahu dengan panitia yang lain, tapi ini yang sedang kurasakan. Aku tidak malu mengakuinya. Aku betul-betul sedang berada dalam fase aneh yang jarang sekali terjadi padaku. Aku sampai lupa kapan terakhir kali seperti ini. Beberapa malam belakangan ini kulalui dengan berurai air mata, setiap kali aku mengingat betapa besar tanggung jawab yang kupikul di dalam retret ini. Air mata kian mengalir setiap kali aku menyadari ada begitu banyak ekspektasi yang tidak sesuai dengan realitas. Aku kecewa terhadap beberapa kondisi dan di saat bersamaan aku mengecewakan beberapa orang, mungkin. Aku menangis tiap kali menghadapi pergantian hari karena itu berarti semakin dekatlah hari penyelenggaraan retret ini.

Dalam kondisi yang seperti ini, sulit sekali untukku datang kepada Tuhan di dalam doa yang jujur. Jujur mengakui bahwa si hamba ini telah menjadi begitu lemah dan ragu saat ini. Di kepalanya muncul berjuta tudingan iblis yang berbisik, “berani-beraninya kamu membuat retret dengan tema “Berjumpa dengan Kristus, Memimpin bagi Kristus”? “Kau pikir itu adalah sesuatu yang bisa kau pastikan?” “Kau tahu, kan, perjumpaan itu kedaulatan Allah?”

Sekilas pertanyaan-pertanyaan itu tidak begitu bertentangan dengan firman Tuhan, kecuali 1 kata ulang pertama. “Berani-beraninya”. Kata inilah yang telah mematahkan semangatku berulang-ulang tiap kali aku mengingat apa yang menjadi tema retret ini. Kata inilah yang dimanipulasi iblis menjadi pengguncang imanku.

“Berani-beraninya.”

Di tengah keraguan dan ketakutan yang ada, aku bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apakah Engkau menerima keberadaanku saat ini, yang sedang terus bertanya-tanya kepada-Mu? Tuhan apakah Engkau akan memaklumi kondisiku & membawaku keluar dari sini? Tuhan, adakah seorang hamba tidak boleh mengalami kebingungan-kebingungan akan pelayanannya?”

Aku melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu sambil terus membuka Alkitabku, sekilas membaca judul-judul perikop yang tertangkap mataku.

Sampai kemudian aku tiba pada Mazmur 131. Hanya 3 ayat, namun 3 ayat yang menyimpulkan apa yang kuperlukan saat ini.

Menyerah kepada TUHAN, itulah judul perikop ini. Itulah aku, itulah yang sebenarnya dilontarkan hatiku yang terdalam. Itulah yang sebenarnya menjadi ucapan batinku di balik semua ragu & tanya yang tersampaikan mulutku. Aku menyerah kepada-Mu, Tuhan. 

Mazmur 131

Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Bagian pembuka Mazmur ini menggambarkan kerendahan hati layaknya seorang yang beriman: hati & matanya tidak ia angkat sebagaimana ekspresi dari kesombongan dan kebanggaan diri. Dia juga tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang terlalu besar dan ajaib baginya–dalam arti–segala hal di luar kesanggupan pemahaman manusia. Seperti apa yang dimaksudkan di dalam ayat ini:

Ulangan 29:29 

Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.

Hal-hal besar dan ajaib bagi Pemazmur bukan tentang apa yang bisa dilihat mata, bukan hal yang masih berada dalam jangkauannya sebagai manusia, melainkan sebaliknya, apa yang tidak lagi menjadi bagiannya. Aku teringat dengan lagu ini: I stand in awe of You.

You are beautiful beyond description. Tuhan, Engkau indah, melampaui segala deskripsi.
Too marvelous for words. Terlalu menakjubkan untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Too wonderful for comprehension. Terlalu hebat untuk dipahami.
Like nothing ever seen or heard. Bagaikan sesuatu yang tidak pernah dilihat atau didengar.
Who can grasp you infinite wisdom? Siapa yang bisa memahami hikmat-Mu yang tak terbatas?
Who can fathom the depth of your love? Siapa yang bisa mengukur kedalaman cinta-Mu?
You are beautiful beyond description. Engkau indah, melampaui segala deskripsi.
Majesty enthroned above. Keagungan yang dinobatkan di surga.

And I stand, I stand in awe of you. Dan aku berdiri, berdiri dalam kekaguman akan Engkau.
I stand, I stand in awe of you. Aku berdiri, berdiri dalam kekaguman akan-Mu.
Holy God to whom all praise is due. Allah yang Kudus, yang kepada-Nya seluruh pujian disampaikan. 
I stand in awe of you. Aku berdiri dalam kekaguman akan Engkau. 


Aku mengizinkan iblis menakut-nakutiku dengan tudingan “berani-beraninya kamu membuat retret dengan tema “Berjumpa dengan Kristus, Memimpin bagi Kristus”? “Kau pikir itu adalah sesuatu yang bisa kau pastikan?” “Kau tahu, kan, perjumpaan itu kedaulatan Allah?”

Sekali lagi kutekankan, kata “berani-beraninya”. Kata-kata ini seolah membuatku memikirkan ulang apa yang sudah kudoakan dan kupersiapkan dalam retret ini. Dalam beberapa malam ketika tudingan ini terlintas, aku mengakui bahwa aku menjawabnya dengan “aku tidak berani, aku takut.” Padahal, yang pertama-tama adalah, itu sama sekali bukan tudingan yang tepat dalam konteks retret ini. Ini bukan tentang berani atau tidak berani, ternyata.

Perjumpaan dengan Kristus jelas bukan dalam kendaliku. Perjumpaan dengan Kristus jelas tidak pernah bergantung padaku, itu betul, sepenuhnya kedaulatan Allah. Ini adalah salah satu hal yang sudah jelas, seperti pemazmur katakan, hal yang terlalu besar dan terlalu ajaib bagiku, dan aku tidak sepatutnya menyibukkan diriku dengan itu.

Berani-beraninya? Ini bukan tentang berani/tidak. Ini tentang mengerti betul bahwa semuanya adalah kedaulatan Allah, dan kami sebagai panitia hanyalah mereka yang mempersiapkan ruang bagi perjumpaan itu. Berjumpa dengan Kristus dan Memimpin bagi Kristus adalah doa kami seraya kami mempersiapkan ruang-ruang perjumpaan.

Yesaya 55:6-7

Seperti kata Ulangan 29:29 tadi, apa yang dinyatakan ialah bagi kita… maka inilah salah satu yang Ia nyatakan: umat diminta mencari-Nya selama Ia berkenan ditemui, diminta berseru kepada-Nya selama Ia dekat…. sebab Ia memberi pengampunan dengan limpah-Nya.

Kami hanyalah orang-orang yang menyediakan akomodasi, transportasi, ruang-ruang ibadah, pelayan firman, pemimpin pujian, pemusik, dan pendoa di mana peserta dapat mencari Allah, di mana peserta dapat terus berseru kepada Allah. Kami hanyalah orang-orang yang menyiapkan tempat tidur terbaik serta makanan dan minuman yang bergizi agar mereka bisa beristirahat dengan baik dan bisa mencari Allah dengan segenap kekuatannya.

Kami hanyalah orang-orang yang mencari dana agar semua ini dapat disediakan.


Aku tidak perlu takut lagi. Ini bukan tentang berani-beraninya, atau tidak berani-tidak beraninya. Ini adalah soal mengerti betul apa yang Allah nyatakan dalam firman-Nya dan mengimani hal tersebut. Karena yang kutahu, terlalu tidak terbatas hikmat-Nya dan terlalu dalam kasih-Nya. Ketakterbatasan dan kedalaman itu pun melampaui apa yang bisa kuukur dan kubayangkan. Di luar deskripsi apa pun tentang berhikmat dan kasih. “Berjumpa dengan Kristus, Memimpin bagi Kristus” adalah doa yang kami sampaikan sebagai anak-anak Allah kepada Bapa kami di surga. Kami tahu relasi inilah yang membuat kami dapat menaikkan doa dan kerinduan hati kami kepada-Nya.

Kami anak-anak-Nya, Dia adalah Bapa kami.


“Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.”

Pemazmur telah menenangkan dan mendiamkan dirinya seperti seorang bayi yang begitu tenang dalam pelukan ibunya, hanya dengan adanya kehadiran sang ibu di dekatnya. Seperti itulah sepatutnya orang yang benar dan yang beriman kepada Allah di mana ia dapat tenang dalam hadirat Allah, bahkan sekalipun ia memiliki banyak hal yang ia harapkan dapat dijelaskan Tuhan kepada-Nya.

Ketenangan dan keyakinan seperti itulah yang membuat pemazmur dapat mengatakan ayat ke-3 ini: Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya! Ia meletakkan pengharapannya pada seorang Pribadi, Pribadi yang tepat, bukan pada hal-hal yang ia sibukkan. Bukan pada hal yang bukan Allah.

Tentu, inilah yang juga kini menjadi keyakinanku dalam mempersiapkan retret ini. Aku tidak akan lagi menyibukkan diriku dengan perkara-perkara yang tersembunyi yang merupakan milik Allah. Aku akan berdiam dengan tenang di dalam hadirat-Nya dan berharap penuh kepada Allah, Pribadi yang setia, Pribadi yang tidak berubah. Pribadi yang tetap mencari anak-anak-Nya yang hilang, Gembala yang tetap mencari domba-dombanya yang hilang, yang mungkin saja ada di daftar peserta retret ini.

Aku berharap kepada-Mu, Tuhan!

Aku menyerah, untuk berserah, pasrah sempurna kepada Allah.

Soli Deo Gloria.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s