Si Sombong

“Humility is perfect quietness of heart. It is to expect nothing, to wonder at nothing that is done to me, to feel nothing done against me. It is to be at rest when nobody praises me, and when I am blamed or despised. It is to have a blessed home in the Lord, where I can go in and shut the door, and kneel to my Father in secret, and am at peace as in a deep sea of calmness, when all around and above is trouble.” 

Ini adalah kutipan dari Andrew Murray, seorang penulis, guru, dan pendeta Kristen Afrika Selatan. Pertama kali membacanya saya merasa kutipan ini berlebihan dan cenderung ke titik ekstrem yang sepertinya tidak akan pernah terjadi. Tetapi beberapa peristiwa belakangan ini menunjukkan kepada saya bahwa kutipan ini bisa menjadi bahan evaluasi yang baik bagi seseorang karena di baliknya ada pernyataan/pertanyaan tersirat yang sebenarnya berujung pada apa yang akhirnya disimpulkan Murray dalam kutipan ini.

Apakah mungkin seseorang mengalami ketenangan sempurna di dalam hatinya (perfect quietness of heart?) Ketenangan bagaimana? Murray melanjutkan.

Ketenangan hati di mana seseorang tidak berekspektasi apa pun–tidak bertanya-tanya pada apa pun yang diperlakukan orang terhadapnya; bisa tidak merasa apa pun yang dilakukan terhadapnya. Kerendahan hati adalah bisa merasa tenang dan beristirahat ketika tidak ada seorang pun yang memujinya, dan ketika pun seseorang itu disalahkan atau dihina.

Apakah hal ini benar merupakan gambar seseorang yang rendah hati? Ya, saya setuju. Lantas apakah orang yang rendah hati adalah orang yang mati rasa? Sebab gambaran ini seolah-olah menunjukkan demikian. Saya mencoba melihat ke diri saya dan apa yang saya alami beberapa waktu belakangan. Ternyata saya menemukan kondisi di mana saya pernah berekspektasi akan sesuatu dan alih-alih memikirkan bahwa tentu kamu butuh ekspektasi, saya malah menemukan ternyata ekspektasi itu berdasar pada alasan ‘agar saya dipandang baik ketika ekspektasi itu dipenuhi.’ BOOM!

That’s what an expectation can do to your life. 

Selain itu saya juga pernah jadi salah satu orang yang ‘baper’ ketika saya menemukan komentar-komentar yang dibuat orang terkait apa yang sedang saya kerjakan. Sebab komentar-komentar itu bukan komentar yang baik–melainkan komentar yang jelek dan membuat saya bertanya-tanya, “Emang saya salah di mana? Kok kamu bisa berpikir seperti itu sih?” Tebak, apa yang sebenarnya menjadi pernyataan terdalam saya?

“Kamu salah! Kamu yang tidak mengerti apa yang saya kerjakan. Kamu pikir saya tanpa pertimbangan memutuskan ini semua?!” BOOM! part 2.

Tadi kita sudah bicara tentang ‘komentar jelek’, lalu melanjutkan apa yang Murray katakan tentang kerendahan hati, saya juga menemukan saya terlalu bahagia ketika ada yang memuji pekerjaan saya dan diberkati oleh pekerjaan itu. Di saat bersamaan, saya juga bertanya-tanya, “Kok hanya segini yang memberi pujian? Kenapa dia dan yang lain tidak melakukan yang sama? Kenapa malah fokus sama hal jeleknya?” Saya mungkin tidak selalu mengatakan ini secara langsung, namun percayalah, ini beberapa isi pikiran saya pada waktu itu.

Pada waktu itu saya bersembunyi di balik kalimat-kalimat rohani seperti, “Harusnya kita bersyukur kepada Tuhan dan bukannya seperti ini”, padahal di hati saya yang terucap sebenarnya adalah “Kamu tidak tahu saya sudah bersusah-payah memikirkan ini dan kamu masih bisa bilang seperti itu? Kamu tidak menghargai saya!” BOOM! part 3.

Sampai di sini, saya sangat sadar, saya bukan orang yang rendah hati. Kenangan buruk di masa lalu membuat saya mudah memahami hal ini. I suffered a lot about humility in the past. Bertahun-tahun menjadi orang yang terbaik di keluarga dan sekolah dengan segudang prestasi telah membuat saya begitu sombong, sebelum kemudian di kelas XI, Tuhan menyatakan kepada saya apa yang dapat Ia lakukan terhadap itu semua. Itu sekolah pertama saya tentang kerendahan hati, di mana ternyata benar apa yang kata orang, “Tuhan bisa mengambil itu semua dalam sekejap.”

Sekolah kedua saya adalah ketika di kampus, masuk sebagai mahasiswa baru dengan 100 mimpi (literally 100 mimpi karena waktu itu panitia OKK UI 2011 mewajibkan kami membuat 100 mimpi–dari mimpi yang masuk akal sampai yang agak gila seperti ‘menonton langsung Piala Dunia 2014 di Brasil pun saya masukkan ke daftar itu. Semua cita-cita baik saya pada masa itu–yang ternyata juga dimotivasi oleh keinginan buruk yakni agar dipandang pintar–harus saya tinggalkan.

Lucu rasanya membayangkan perbedaan antara seorang Elisabeth sebelum dan ketika kuliah. Ah sudahlah.

“…It is to have a blessed home in the Lord, where I can go in and shut the door, and kneel to my Father in secret, and am at peace as in a deep sea of calmness, when all around and above is trouble.” 

Susah ya untuk menjadi pribadi yang rendah hati? Tentu saja. Tetapi saya rasa orang yang malah berfokus dan mengupayakan segala cara dan menganggap itu adalah kunci dari keberhasilannya menjadi rendah hati malah menunjukkan sebaliknya. Menurut saya kalimat terakhir di atas adalah rahasia yang sadar/tidak sadar dimiliki oleh seseorang yang terus bertumbuh dalam kerendahan hati: hubungan yang erat dan dalam antara dia dan Bapa di surga. Karena di sanalah hati manusia menemukan pemuasnya yang sejati: Tuhan, sang pencipta. Tidak akan pernah ia merasa kekurangan apa pun, yang ada hanya damai sejahtera meski di sekitarnya banyak masalah. Mungkinkah ini terjadi? Tentu saja.

Firman Tuhan sudah menyatakannya:

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. —Yohanes 14:27

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.– Filipi 4:7

Seseorang yang mengalami damai sejahtera yang sejati tidak akan pernah memusingkan segala sesuatu yang ujung-ujungnya hanya untuk dirinya sendiri, “aku, aku, dan aku.” Pujian, kritik, apa pun, semua yang ujungnya adalah tentang diri sendiri jelas bukanlah ciri dari kerendahan hati.

True humility is not thinking less of yourself; it is thinking of yourself less.

C. S. Lewis.

Saya bersyukur kutipan ini menolong saya mengevaluasi diri saya dan menawarkan saya cara terbaik untuk terus mengalami pertumbuhan rohani–termasuk kerendahan hati–yaitu berada dalam hubungan yang erat dan dalam dengan Tuhan. Saya tidak perlu menanti-nanti kapan saya akan mendapatkannya karena itu adalah kedaulatan Tuhan semata.

Lagipula, bukankah berelasi erat dengan Tuhan saja itu sudah cukup? Itu adalah rahasia dari segala hal baik yang dapat kita lakukan bagi diri sendiri dan dunia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s