Membawanya Pulang

Beberapa orang takut dengan masa lalunya. Mereka takut ketika harus berkunjung ke lembaran-lembaran usang yang ternyata masih sangat berkesan. Sebagian menjadi sangat marah bila ada orang yang mengungkit hal-hal yang membuka luka lamanya. Seberapa sering pun mereka berkata “aku sudah pulih”, tidak jarang reaksi dan respons mereka menunjukkan yang sebaliknya. Sebagian lagi kembali mengasihani diri sendiri, menuntut orang lain juga turut mengasihaninya. Mungkin.

Aku pun termasuk dari beberapa orang tersebut; beberapa orang yang pernah takut dengan masa lalunya. Sebab di masa lalu itu pernah terjadi suatu peristiwa yang tidak pernah kuharapkan. Begitulah manusia dengan ekspektasinya. Jika itu melebihi ekspektasi, seolah nilai dan keberhargaannya bertambah. Jika jauh di bawah dari ekspektasi, dia mulai bingung dan menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan yang paling sering, Tuhan.

Waktu itu Tuhan membawaku melihat bagaimana rasanya realitas yang berada di bawah ekspektasi. Tentu tidak enak. Tuhan yang sebelumnya membawaku menjadi yang terbaik di sekolah, membawaku juga menempati tempat yang bukan terbaik. Jiwa ambisiusku meronta-ronta mengingat kok bisa sontak daya juangku seperti mati? Apakah itu memukulku begitu kuat, ya? Salah satu guruku pernah bertanya kepada orang tuaku, “Ibu, Elisabeth ini kenapa ya? Apa dia bekerja terlalu keras di rumah? Ibu membebankan dia dengan hal-hal yang berat? Kenapa nilainya turun semua?”

Ketika ibu menyampaikan hal itu kepadaku, aku hanya bergumam tidak jelas dan melengos pergi.

Ketika aku membuat tulisan ini, sebenarnya aku sedang sembari mengingat-ingat, “emang kenapa sih waktu itu nilai gue turun?” Aku memilah-milih kenangan dan ingatan; mana yang tepat untuk diletakkan sebagai penyebab semua ini. Aku mencoba meyakinkan diri, “Apa? Yang benar saja? Masa gara-gara itu?”

Aku putus cinta.

Benar, kamu tidak salah baca. Tunggu-tunggu, jangan buru-buru ambil ember untuk muntah, setelah ini kisahnya akan lebih serius. Jujur saja, saat ini aku sedang malu pada diriku. Kamar doa di Rumah Doa Bethel Bandung menjadi saksinya. Juga bungkus Fitbar cokelat di sebelah laptop yang kupakai.

Anak laki-laki itu berinisial G. Beberapa orang terdekat pasti sudah mengetahuinya. Perkenalan kami terjadi ketika SMP dan tragedi ala drama musikal tersebut terjadi ketika aku naik kelas XI. Aku tidak menyebut kami berpacaran, hanya saling taksir-menaksir. Udah kayak di pasar. Eh sorry, aku terlalu percaya diri, sebenarnya cuma aku yang naksir. Singkat cerita, sepertinya semangatku hilang pelan-pelan. Dari peringkat 4, peringkat 12 menuju tidak berperingkat. Wali kelas kami kasihan pada anak-anak yang kalau peringkatnya sudah terlalu jauh, angkanya nggak enak dilihat. Memang aku ada di kelas unggulan dan ini yang selalu menjadi topeng untuk menutupi bahwa ketahanan akademisku menurun. Aku selalu bilang, “Ma, nilai rata-rataku masih 89, di kelas lain aku sudah juara minus 1 kayaknya.”

Tetapi sejak itu memang daya juangku menurun drastis, kepercayaan diriku juga seperti hilang entah ke mana, dan itu berdampak pada beberapa aspek lain. Makanya aku berulangkali bilang bahwa sungguhlah anugerah yang besar ketika setelah masa-masa SMA yang sulit (termasuk kesulitan ekonomi) itu aku masih bisa masuk ke kampusku yang bagus itu.

Barusan aku sedang berjalan-jalan ke masa lalu yang sebenarnya sangat kelam. Tetapi kali ini aku sudah bisa mengunjunginya dengan cengiran-cengiran dan beberapa guyonan lama. Aku pulih. Namun ada yang aku harus bawa pulang dari hasil kunjunganku ke masa lalu itu. Aku perlu membawa semangat dan daya juang serta self-esteem yang baik selama aku TK sampai kelas X SMA, ada kurang lebih 11 tahun yang baik yang kunikmati karena Tuhan. Jika dibanding dengan 2 tahun masa kelas XI dan XII yang kelam itu, apalah artinya?

I’m bringing back my old self. Elisabeth yang memiliki daya juang yang tinggi. Elisabeth yang rajin, yang tidak takut salah, yang berani menjawab pertanyaan-pertanyaan guru karena mempersiapkan diri begitu rupa di rumah. Elisabeth yang selalu mengerjakan tugas in advance even sebelum guru memberikannya. Elisabeth yang sudah rajin baca koran sejak SD, sudah rajin mengumpulkan berita-berita untuk kliping pribadinya. Elisabeth yang tidak takut mengeksplor tulisan-tulisan imajinatif yang ditulis dengan konteks budaya lain. Elisabeth yang, oh tidak, aku nggak percaya aku menulis ini, yang berani menciptakan lagu -_- Elisabeth yang sudah menulis-tangan 13 cerita bersambung sejak SD untuk diberikan kepada teman-teman. Look, I was a little (self-claimed) author and a story-teller, dude. 

I’m bringing back my talents which I left there, in those dark places. Aku harus ingat bahwa Tuhan sudah memberikannya dan tentu saja perlu terus kukembangkan. Jangan karena satu peristiwa, lantas aku melupakan banyak peristiwa bersejarah yang juga sama-sama membentuk aku yang sekarang.

I’m bringing back God’s works and miracles which had happened in my life long long ago and put them as a reminder: that same God will do greater things in me, this time. 

Jikalau ketika aku belum berpaling kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan belum mengenalnya dengan lebih dalam saja Dia sudah menunjukkan kedaulatan dan kuasa yang begitu rupa? Mungkinkah sekarang Dia meninggalkan dan acuh pada hidupku?

Dia Imanuel.

Allah yang menyertai kita, menyertaiku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s