Categories
Self-discovery

Self-discovery Journal (1)

Sudah hampir selesai 8/12 tahun ini dan 1 hal yang sangat kusyukuri adalah betapa tidak terselaminya cara Tuhan dalam membentukku hingga saat ini. Kalau aku jadi Tuhan dan aku berhadapan dengan seseorang bernama Elisabeth, mungkin aku akan menyerah karena kelemahan-kelemahannya. Mungkin juga aku akan jijik tiap kali menemukan kegagalan dan kecacatannya. Setelah semua yang sudah terjadi, khususnya selama 2,5 bulan ke belakang, aku bersyukur aku masih bisa bertahan, karena Tuhan tidak pernah menyerah terhadapku.

Menjelang ulang tahunku yang ke-26 minggu depan, aku memutuskan untuk memeluk sekuat mungkin apa pun yang kutemukan tentang diriku–yang mungkin selama ini luput dari perhatianku. Baik/buruknya, aku akan catat di sini. Bukan untuk informasi bagi siapa pun, melainkan sebagai bentuk kesadaranku, bahwa, “Hai, Elisabeth, aku mengenalmu. Setidaknya, sejauh ini.”

Ada luka dan sakit hatiku yang sembuh.

Mengawali tahun dengan kesibukan dan tekanan membuatku mungkin merasa sudah banyak bekerja. Sehingga ketika aku menerima kritik dan dianggap tidak melakukan apa-apa, aku tidak terima. Ada kalimat yang menusuk begitu tajam sampai membuatku seperti mempertanyakan diriku & kompetensiku. Bagiku hal itu sangat serius, tapi bagi sebagian orang itu biasa saja. Bahkan bisa dijadikan bahan bercanda. Situasi ini juga yang membuatku semakin mempertanyakan diriku, “Beth, are you sure to act like this? Lebay nggak, sih?”

Aku cerita dengan beberapa orang, namun aku tidak merasa mereka cukup punya empati terhadap cerita itu. Karena itu aku menjadi malas untuk berbagi. Aku memutuskan untuk melewatinya sendiri. Ada 1 malam yang kuhabiskan dengan menangisi luka tersebut dan berdoa kepada Tuhan. Aku bilang semua kekecewaanku terhadap orang yang melontarkan kalimat tersebut dan bertanya kepada Tuhan, “kenapa dia seperti itu, Tuhan?”

Aku tidak menemukan jawabannya. Namun aku malah dibawa-Nya melihat apa yang menjadi kelemahanku, di dalam diriku. Dia membawaku melihat Elisabeth seperti apa yang sekarang ini sedang mencoba berargumen dengan-Nya. Perjalanan self-discovery itu berujung pada sebuah tulisan yang dapat dibaca di https://elisabethyosephine.com/2019/05/13/agak-rumit/.

Namun belum selesai, aku baru bisa berkata “aku tidak mengerti namun aku akan memaafkannya.” Aku belum bisa berkata, “lukanya sudah sembuh dan aku tetap mengasihimu.” Tetapi aku memutuskan ikut tuntunan-Nya. “Kamu harus terus menghadapi orang yang menyakitimu sehingga Roh Kudus dapat bekerja memperluas kapasitas kasihmu terhadapnya.” Ya, Tuhan sering melakukan hal seperti ini. Setiap kali aku terluka karena orang-orang tertentu, aku malah semakin sering bertemu dengan mereka. It’s not fun, it’s challenging. Tetapi kalau itulah cara-Nya mendewasakanku, aku mau ikut.

Bersyukur sekali, sampai saat ini, aku tidak lagi mengingat kesalahan-kesalahannya. Aku bisa dengan tulus menatap dan berbicara dengannya. Tanpa luka yang menuntut untuk diselesaikan, karena memang sudah selesai. Bahkan bekasnya pun, jika kau tusuk-tusuk lagi, tidak menimbulkan nyeri apa pun. Semua karena Tuhan. Ya, semua karena-Nya. Puji Tuhan.

Aku selalu mengingat bahwa salah satu keistimewaan seorang pengikut Kristus, yang membedakannya dengan the rest of people adalah ketika ia bisa mengasihi bahkan orang yang sulit untuk dikasihi. Di situlah aku merasa banyak dibentuk Tuhan di sepanjang hidup baruku. Sebisa mungkin aku ingin hidup damai dengan siapa pun. Bukan damai karena memang tidak pernah bergesekan, melainkan sekalipun saling bertentangan, tetap dalam kedamaian.

Aku ingin mengupayakan hidup dalam kelemah-lembutan; wujud nyata dari kasih. Sekalipun di sekelilingku banyak letupan-letupan amarah. Entah karena karakter, atau memang kebiasaan. Aku ingin melihat orang-orang di sekitarku sebagai orang-orang yang perlu kulayani. Kalau aku dibawa-Nya ke titik-titik tertentu di dalam irisan jalan hidup dengan orang lain, aku mau melayani orang-orang itu, dengan apa yang dapat kuberikan.

Kesanggupanku memandang seperti ini seharusnya lahir dari penghayatan yang teramat dalam bahwa Kristus hidup di dalamku.

Ke depan, jika ada lagi luka baru, aku akan kembali ke tulisan ini dan menambahkan ceritanya. Cerita bahwa Tuhan masih terus bekerja, membentukku, memperluas terus kapasitasku untuk mengasihi mereka yang melukaiku.

Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s