Categories
Life

Self-discovery Journal (2)

Finally, 26!

Sejenak saya merasa tua apalagi ketika melihat vlog-nya Amanda Rawles yang bilang kalau dia baru berusia 18 tahun. Dalam hati saya ngomong, “yang bener aja nih cewek, gue pikir udah 20 something tapi ternyata…”

Padahal kalau saya ngomong gini di depan abang/kakak yang lebih tua saya bisa kena semprot, “heh, nggak usah ngomong-ngomong udah tua ya, lebih tua gue dari elu!”

Enough banding-bandinginnya.. jangan sampai terjadi demikian:

X: “enggak, kamu belum tua kok, masih tuaan aku”

Y: “ih enggak tau, aku yang lebih tua, kamu mah masih keliatan muda”

X: “ih jangan, aku aja yang tua”

Y: “nggak boleh gitu, aku aja yang tua..”

X: “aku”

Y: “aku aja”


Memasuki usia yang ke-26 ini, saya kembali menemukan hal yang unik tentang seorang Elisabeth. Ternyata, saya tuh nggak luput dari yang namanya “membanding-bandingkan diri dengan orang lain.” Tetapi pada kesempatan ini saya mau bilang, “masalahnya bukan pada tindakan membandingkan diri dengan orang lain, tetapi bagaimana kamu merespons hasil perbandingan tersebut.”

Kita ini manusia biasa, setiap melihat sesama kita, tidak bisa kita mematikan begitu saja natur untuk membandingkan diri dengan orang lain. Namun yang paling penting adalah menemukan mengapa kita sampai membandingkan diri kita dengan orang lain dan kemudian bagaimana kita merespons kalau kita ‘terlanjur’ membandingkan diri dengan orang lain.

Setidaknya dari penemuan saya akan diri ini, saya melihat adanya ketidakpuasan akan jalan yang sedang saya tempuh saat ini sebagai seorang full-timer. Namun ketidakpuasan itu tidak muncul kalau tidak ada pemicunya. Dalam kasus saya, pemicu itu bisa berupa achievements teman-teman seangkatan saya yang saya lihat misalnya di Instagram atau Linkedin.

Saya baru benar-benar menyadari bahwa teman-teman saya itu pintar-pintar banget. Sudah sangat banyak yang melanjutkan studi hukum di universitas-universitas dalam negeri dan bahkan luar negeri. Beberapa bahkan sudah menyelesaikan studi S2-nya. Nah, kalau sudah tiba di situasi seperti ini, besar kemungkinannya ketidakpuasan saya mencuat.

Saya sering bilang ke diri saya, “ayo, Beth, kamu juga harus seperti mereka!”

Saya tidak sadar kebiasaan demikian sangat tidak sehat dan baru berdampak di kemudian hari. Apa dampaknya? Kadang-kadang saya jadi mempertanyakan keputusan saya, pilihan ini, dan sebagainya. Biar bagaimana pun, 19 tahun saya hidup dengan berhala berupa “achievements“. Lebih spesifik lagi, achievements dalam hal akademis. Saya tidak bicara urusan financial, atau yang lain, seperti, nobel perdamaian. Hehe.

Tetapi tindakan saya ini jelas-jelas salah dan berdosa. Bagaimana mungkin saya membandingkan jalan saya dan jalan orang lain? Tentu saja berbeda. Ini yang Tuhan tetapkan untuk saya lewati, dengan waktu-Nya, dengan cara-Nya, dengan tujuan-Nya. Sementara teman-teman yang lain memiliki jalan, waktu, dan caranya masing-masing.

Namun, saya bersyukur sekali, menikmati ditolong oleh firman Tuhan setiap kali saya saat teduh dan mendengarkan khotbah di gereja. Saya belajar bagaimana menghadapi pencapaian-pencapaian orang lain di sekitar saya tanpa merasa diintimidasi olehnya. Saya juga belajar, dan inilah bagian yang paling saya suka, mendengarkan suara Tuhan dan bergantung pada pimpinan-Nya saja.

Kalian ingat kan, firman Tuhan adalah pelita bagi kaki dan terang bagi jalan kita? Tahu kan cara kerja pelita? Dia menerangi setapak demi setapak, supaya kita tetap hati-hati, tetap bergantung pada pelita itu, dan indahnya, tetap berjalan, bukan berhenti karena belum seluruh jalan itu terang.

antique board burnt close up
Photo by Pixabay on Pexels.com

Ujung dari jalan ini adalah kekekalan bersama Firman yang hidup, Sang Terang sejati. Sehingga saya tidak memisahkan apa yang sedang saya kerjakan saat ini dengan upah terbesar saya yang tidak akan saya dapat di dunia, melainkan di surga, bertemu dengan Pribadi yang menciptakan, menyelamatkan, dan memberikan hidup yang baru, tujuan yang baru, jalan yang baru bagi saya.

Penghayatan inilah yang menolong saya untuk pulih dari kebiasaan tidak sehat ketika membandingkan diri dengan orang lain. Sebab jawaban untuk kebiasaan ini bukanlah “jangan membanding-bandingkan diri” yang pertama, melainkan “kamu utuh, kamu bahkan tidak hanya cukup, kamu berlimpah di dalam kasih karunia.” Jawaban untuk kebiasaan ini bukan “good advice” melainkan “good news.”  Kristus sudah mati bagimu dan bagi jalanmu yang fana, dan perbandingan apa pun tidak relevan terhadap betapa berharga dan signifikannya keberadaanmu di dalam jalan dan rencana penyelamatan Allah bagi dunia.

Terpujilah Allah yang menerima seorang Elisabeth apa adanya dan bahkan memanggilnya sebagai rekan sekerja-Nya. Betapa kepercayaan yang ‘beresiko’. Namun itulah Allah yang kusembah. Di dalam resiko kejatuhan dan kegagalanku, Dia tetap menguatkan, menganggapku setia, dan bahkan memercayakan ladang milik-Nya. Agar di sepanjang jalan ini, nyatalah bahwa, “bukan aku, melainkan kasih karunia Allah yang ada padaku.”

Terima kasih, Tuhan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s