I Once Thought I Knew So Much About This Samaritan Woman

Samaritan…turns out I’m wrong. Masih ada banyak sekali yang belum saya ketahui dan dapat saya pelajari serta terapkan melaluinya.

Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria ini “stands out” setidaknya karena 3 hal:

  • Percakapan terpanjang yang dicatat antara Yesus dan siapa pun bahkan dengan murid-murid-Nya
  • Letak pasal ini setelah percakapan Yesus dengan Nikodemus. Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi. Namanya dicatat di Yohanes 3. Dia pasti religius, bermoral, dan berpengaruh. Sedangkan perempuan Samaria ini, tidak diketahui namanya, satu-satunya highlight tentang dia dari perikop kita adalah ketidakbermoralannya. Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa “there’s no one beyond the needs of grace and there’s no one beyond the rich of grace”. Nikodemus dan perempuan Samaria, dua tipe orang yang paling berlawanan; bermoral dan tidak, berpengaruh, serta bahkan harus menimba di sumur di jam-jam paling sepi.
  • Mengonfirmasi tujuan Injil Yohanes dicatat: Yohanes 20:30-31. Supaya pembaca percaya bahwa Yesuslah Mesias yang dinantikan itu, Dialah Anak Allah, yang menyelamatkan pendosa-pendosa, dan supaya oleh iman, mereka yang percaya itu beroleh hidup di dalam nama-Nya

Beroleh hidup di dalam nama-Nya. Ini mengindikasikan bahwa mereka, siapa pun, yang di luar Kristus, pada hakikatnya adalah mati. Tentu bukan mati secara jasmani, melainkan secara rohani. Injil Yohanes menunjukkan betapa pentingnya Yesus Kristus untuk diberitakan, bahwa Ia adalah Mesias yang memberikan hidup dan itulah yang dialami oleh perempuan Samaria ini; hidup.

Yohanes memulai catatannya dengan menjelaskan setting/latar dari percakapan tersebut, pada ayat 1-3. Catatan ini mengingatkan kita pada apa yang terjadi sebelumnya di pasal 3:25-26 tentang murid-murid Yohanes Pembaptis yang berselisih karena melihat banyak yang dibaptis oleh Yesus (yang kemudian di perikop hari ini kita ketahui bahwa bukan Yesus yang membaptis melainkan murid-murid-Nya). Kemudian, Yesus memutuskan meninggalkan Yudea untuk kembali ke Galilea. Kita tahu, di awal Injil Yohanes dicatatkan bahwa Yesus telah melayani di Galilea dan mengadakan mukjizat air menjadi anggur di Kana.

Yesus memilih rute tercepat untuk berangkat ke Galilea, yakni melalui Samaria. Rute tercepat ini bukan rute yang biasa diambil oleh orang Yahudi karena harus melintasi Samaria. Hal itu terjadi karena mereka tidak mau tercemar dengan orang Samaria yang bukan Yahudi asli. Sudah ada percampuran budaya dengan non-Yahudi dan pernikahan dengan para penjajah Mesopotamia. Akibatnya, orang Yahudi biasanya harus memutar dari sebelah timur menyeberangi sungai Yordan untuk tiba di Galilea.

Namun, penggunaan kata ‘harus’ atau ‘had to pass’ mengindikasikan adanya kepentingan ilahi. Kata ‘dei’ dalam bahasa Yunani untuk kata ‘harus’ ini sering digunakan untuk menunjukkan kepentingan ilahi. Yesus memiliki rencana di dalam kedaulatan Allah. Sehingga keputusan Yesus untuk melewati Samaria bukan semata karena geographical reason, melainkan kerena Dia sedang on mission.

Ketika Yesus tiba di sebuah kota di Samaria, yakni Sikhar, yang letaknya di dekat tanah yang diberikan Yakub kepada anaknya, Yusuf, Yohanes mencatat bahwa Yesus sangat letih. Panas terik, tidak hujan badai, jam 12 siang, pasti haus sekali. Ingat, dulu belum ada Go-Jek atau Go-Food. Yesus kemungkinan berjalan kaki di siang hari, dan itu pasti sangat melelahkan. Ini menunjukkan meskipun Dia adalah Mesias, Anak Allah yang memberi hidup, Dia adalah manusia sejati. Dia bisa letih, bisa haus. Firman menjadi daging.

Ibrani 4:15, “sebab Imam Besar yang kita miliki, yaitu Yesus Kristus, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Saya dikuatkan oleh ayat ini dan catatan Yohanes yang mengonfirmasi bahwa Yesus yang memanggil kita untuk melayani-Nya adalah Yesus yang dapat merasakan keletihan kita, kelaparan dan kehausan kita. Dia mengerti dan karena itu kita dapat terus dengan penuh keberanian, menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Itulah setting sebelum percakapan di antara Yesus dan perempuan Samaria itu dimulai. Percakapan tersebut dapat kita lihat di ayat 7-26. Percakapan itu sendiri dapat dibagi menjadi 2 bagian besar: 1) 7-15 tentang air hidup, 2) 16-26 tentang penyembahan.

Kita melihat di ayat 7 perempuan Samaria yang datang hendak menimba air, siang-siang, sekitar pukul 12. Mungkin dia nggak expect akan ketemu Yesus. Tapi di sanalah Yesus, memutuskan melewati Samaria, karena ada perempuan ini yang membutuhkan hidup. Sebenarnya tidak ada masalah dengan jam yang ia pilih. Hanya saja, itu bukanlah waktu yang umum di mana perempuan pergi untuk menimba air. Biasanya perempuan pergi pagi-pagi atau sore-sore. Yang lebih menarik dari masalah jamnya adalah, apa yang dikatakan Yesus kepada perempuan itu.

“Berilah Aku minum.” Yesuslah yang memulai percakapan tersebut. Percakapan ini sebenarnya sangat kontroversial. Ibarat kata kalau zaman sekarang mungkin bisa masuk ke Instagram gossip seperti Lambe Turah. Kontroversialnya bisa kita lihat dari jawaban perempuan itu berikutnya, penegasan dari Yohanes, dan juga dari respons murid-murid Yesus sekembalinya mereka dari shopping.

Respons perempuan itu terdapat di ayat 9 yang ditegaskan lagi oleh Yohanes, seolah-olah respons perempuan ini belum cukup untuk menunjukkan betapa tidak biasanya hal tersebut. Setidaknya ada beberapa alasan: Yesus orang Yahudi, perempuan itu orang Samaria, Yesus laki-laki, perempuan itu ya perempuan (-.-). Alasan ini masing-masing saja sudah tidak biasa dan mengherankan, apalagi digabung: laki-laki Yahudi meminta minum dari perempuan Samaria. Tidak ada di pikiran Yesus tentang pencemaran karena asimilasi budaya whatsoever.

Namun yang menarik lagi di ayat 10 kita melihat tadinya Yesus asking for water, sekarang malah offering water. Dari percakapan sederhana tentang air minum, menjadi sebuah percakapan yang deep dan bermakna. “Jika kamu tahu…. niscaya engkau telah meminta.” If you knew…. you would have asked.” Karunia Allah = the gift of God. Kalau kamu tahu, berarti kamu telah meminta. Jadi, air hidup yang Yesus berikan membuat perempuan ini tahu pemberian dan membuatnya tahu siapa Yesus Kristus. Di dalam Yohanes 17:3 dikatakan hidup kekal adalah mengenal Bapa dan Kristus yang Ia utus, itulah hidup yang kekal. Jadi ayat 10 ini tidak sekadar berbicara tentang air biasa, melainkan dikatakan air hidup, karena berarti hidup yang kekal.

Namun tidak berbeda dengan Nikodemus yang sangat beragama sekalipun, perempuan Samaria ini juga tidak dapat mengerti apa yang dibicarakan oleh Yesus. Yesus berbicara tentang hal-hal rohani, namun perempuan ini menyangka bahwa Yesus masih berbicara tentang air dari sesuatu seperti sumur Yakub. Mungkin perempuan ini berpikir, “lah, bukannya dia tadi minta air minum sama gue, kenapa sekarang dia mau ngasih air? Berarti dia sebenarnya punya timba atau mungkin dia lebih hebat kali ya dari Yakub, punya tanah sendiri yang sumur yang airnya lebih berlimpah?”

Yesus melanjutkan pembicaraan di ayat 13-14 tentang sumber dan natur air hidup itu. Pertama, itu bersumber dari Diri-Nya sendiri, Dialah yang memberikannya. Kedua, air hidup itu akan sangat memuaskan bahkan membuat hidup orang yang memilikinya seperti mata air yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Tidak akan haus untuk selama-lamanya, tapi bahkan segar seperti mata air yang terus-menerus, memancar sampai kehidupan kekal. Enak kali ya, minum sekali, puas selama-lamanya dan tetap segar seperti mata air, tidak dehidrasi.

Apa yang dimaksud dengan air hidup ini adalah Roh Kudus, Allah sendiri (Yoh 7:37-38). Begitulah hidup seseorang yang memiliki Roh Kudus di dalam hidupnya. Tidak akan haus untuk selama-lamanya, dan menjadi mata air yang terpancar terus lewat buah Roh dan karunia-karunia Roh di dalam hidupnya. Saya sangat diingatkan lewat bagian ini, terutama ketika saya mulai mencari lagi air minum rohani di tempat lain selain Yesus. Ini tuh bukan kayak minum air biasa yang mana ada masa akan haus lagi, lalu butuh minum. Ini adalah kebenaran identitas mereka yang percaya. Jadi, kalau ada perasaan-perasaan “apa aku mulai mencari kepuasan di tempat lain?” melawannya adalah dengan mengingat ayat ini bahwa kita sudah dipuaskan, ada Roh Kudus di dalam kita. Bagian kita adalah berserah untuk dipimpin-Nya tiap-tiap hari.

Di ayat 15 perempuan ini masih merespons, bahkan mengingat ucapan Yesus di ayat 10 untuk meminta. Namun dia masih belum mengerti. Jesus keeps talking about heavenly things, she keeps responding with earthly things.

Namun Yesus tabah, Dia meminta perempuan itu memanggil suaminya. Tentu, ini dilakukan Yesus dengan tujuan untuk membuka realita terdalam dari perempuan tersebut. Untuk mengalami indahnya kabar baik, kehidupan kekal dari Allah, kita perlu menyadari busuknya dosa-dosa kita. H. B. Charles mengatakan “Good news, if it’s to be enjoyed, must be preceded by us embracing the bad news of sins.” Untuk bisa melihat amazing grace, kita perlu melihat dan mengakui betapa kita adalah pendosa yang besar.

Itulah yang Yesus lakukan selanjutnya, menolong si perempuan ini melihat kenyataan hidupnya. Dia berkata “aku tidak bersuami” dan benar, tepat, itulah jawaban yang dikehendaki Yesus. Sehingga Yesus berkata “tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami.” Dari sinilah Yesus menunjukkan keilahiannya. Yesus tahu dahaga jiwa perempuan yang ingin diberikan-Nya hidup ini.

Apa yang menjadi respons perempuan tersebut? Dia mulai melihat Yesus sebagai nabi. Yesus yang kelelahan dan kehausan ini adalah juga Allah, karena Ia maha tahu. Bahkan masa lalu seseorang pun Ia tahu. Begitu perempuan ini menganggap Yesus sebagai nabi, ia mulai switch ke masalah penyembahan. Namun di ayat ke-21-24 Yesus menegaskan, bahwa penyembahan yang sejati tidak bergantung pada tempat. Penyembahan sejati dilakukan di dalam roh dan kebenaran, dilakukan karena pengenalan kepada Allah yang menyelamatkan. Itu terjadi ketika Allah berinkarnasi, Sang Firman yang menjadi daging, menjumpai pendosa-pendosa yang sering menggali kolam bocor bagi dirinya. Penyembahan dimulai karena Allah yang mencari manusia-manusia berdosa, memberikan karunia-Nya, melahirkan kembali, memberi Roh-Nya, untuk dapat menyembah Allah yang adalah Roh. Karena Allah adalah Roh, maka penyembahan kepada-Nya tidak dapat dibatasi oleh ritual, tempat, upacara keagamaan, budaya, seperti yang dipahami oleh perempuan Samaria tersebut. Bukankah itu memberikan kejutan baginya dan bagi orang-orang Yahudi yang membaca? Dengan demikian, dengan percaya kepada Kristus (21), semua orang, tanpa sekat-sekat suku dan ras, golongan dan stereotip, adalah penyembah-penyembah Allah yang benar. Ini mengantisipasi keesaan gereja secara universal. (Saya bertanya-tanya apakah Yesus akan menanyakan “apa denominasi gerejamu?” ketika orang percaya berjumpa dengan-Nya muka dengan muka).

Menyembah di dalam kebenaran berarti berdasarkan pada penyataan ilahi Allah melalui firman-Nya, melalui Yesus Kristus Sang Firman yang hidup, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Penyembahan orang percaya didasarkan pada iman kepada Kristus. Di luar itu, mungkin ada banyak yang menyebut dirinya sebagai penyembah, namun Alkitab menegaskan, itu bukanlah penyembah Allah yang benar.

Di ayat ke-25 dan 26 kita melihat perempuan ini mulai berpikir apakah Yesus itulah Kristus, Mesias yang dinantikan yang akan memberitakan segala sesuatu kepada manusia. Tadi dia mengatakan bahwa Yesus adalah nabi, kini Ia mulai berpikir apakah Yesus itu Mesias? Kemudian Yesus mengonfirmasi di ayat 26. “I am He”, Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau. Inilah yang mengawali 7 I am di dalam Injil Yohanes. Pasal 6, I am the bread of life, Pasal 8 dan 9, I am the light of the world, Pasal 10, I am the door of the sheep, I am the good shepherd, Pasal 11, I am the resurrection and the life, Pasal 14, I am the way, the truth, and the life, Pasal 15, I am the true vine. Tujuh kali Injil Yohanes mencatat bahwalah Jesus is The Great I Am. Ia ada bahkan sebelum Abraham ada (Yoh 8:58), Dialah Firman yang ada sejak semula, yang bersama-sama dengan Allah, dan yang adalah Allah. The Great I am itu datang untuk memberi hidup kekal bagi mereka yang percaya, the great sinners.

Kiranya Dialah yang selalu menjadi berita yang kita bagikan di dalam pelayanan kita. Kiranya kita bisa menolong orang yang seperti perempuan ini ‘bercakap-cakap’ dengan Yesus. Mereka yang immoral, broken reality, atau mereka yang seperti Nikodemus, sangat beragama dan terpandang, namun kedua mati di luar Kristus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s