Dengar!

Ibrani 3:7-19


Kita mungkin sering mendengar kisah orang Kristen yang pindah agama. Alasannya bisa macam-macam. Mungkin karena tertarik dengan agama lain, pasangan hidup, atau karena menolak apa yang kekristenan ajarkan kepadanya. Lalu kita bertanya, “Bagaimana dengan orang yang seperti itu? Apakah keselamatan mereka hilang?”, “Bukankah mereka sudah percaya dan berada di dalam Kristus?”

Hari ini kita akan belajar dari firman Tuhan di dalam Ibrani 3:7-19 dan melihat berdasarkan ayat-ayat di dalam perikop tersebut, “bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang itu sungguh-sungguh percaya kepada Kristus?”

Kita tidak mengetahui siapa penulis surat Ibrani, namun dari pengajaran yang terdapat di dalamnya, kita melihat bahwa pengajaran tersebut sesuai dengan ajaran para Rasul. Banyak orang mengatakan penulisnya adalah Paulus, namun kalau diperhatikan sungguh-sungguh, terdapat beberapa perbedaan gaya menulis serta cara mengajukan argumen antara penulis dan Paulus. Namun tampaknya ia adalah seseorang yang dekat dengan rasul dan rekan sepelayanan para rasul. Sebagai contoh, di penutup surat ini penulis menyebut nama ‘Timotius’ yang diyakini kuat sebagai Timotius yang kita kenal sebagai rekan pelayanan Paulus.

Namun kita bisa mengetahui dengan jelas siapa penerima surat ini. Mereka adalah orang-orang Kristen-Yahudi. Hal itu dapat kita ketahui dengan melihat banyaknya referensi ke Perjanjian Lama yang dikutip oleh penulis dan dengan demikian kita mengasumsikan bahwa penerima suratnya pasti mengetahui isi Perjanjian Lama dengan baik.

Bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang sungguh-sungguh percaya kepada Allah?

  1. Tidak mengeraskan hatinya terhadap suara Allah
  2. Teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman sejak semula di dalam Kristus

Tidak mengeraskan hatinya terhadap suara Allah

Penulis surat Ibrani mengutip Mazmur 95:7-11 untuk menunjukkan kegagalan orang Israel saat mereka keluar dari Mesir. Generasi ini gagal merespons dengan setia penebusan dan penyelamatan yang sudah Allah lakukan untuk mengeluarkan mereka dari perbudakan di Mesir.

Bangsa Israel ini adalah bangsa yang selalu bersungut-sungut di hadapan Allah, selalu protes pada cara Allah membebaskan mereka. Mereka bahkan merasa lebih baik tetap hidup sebagai budak di tanah Mesir, menikmati kehidupan yang nyaman, daripada kemerdekaan sebagai umat pilihan Allah dan mengikuti pembentukan iman serta karakter yang Allah berikan selama mereka mengembara di padang gurun.

Pada kitab Keluaran dan Bilangan kita membaca dengan jelas bagaimana umat ini seperti umat yang tidak bersyukur atas keselamatan yang Allah sudah berikan. Padahal Allah sudah menunjukkan berbagai macam perbuatan ajaib untuk menyelamatkan mereka. Ke-10 tulah di Mesir untuk membuat Firaun membiarkan orang Israel pergi, tiang awan, tiang api, terbelahnya laut Teberau ketika bangsa Mesir mengejar mereka, manna sebagai makanan mereka, namun bangsa ini tetap dikatakan mencobai Allah dan tidak mau mendengarkan suara-Nya.

Apa tanggapan Allah terhadap bangsa yang seperti ini? Ayat 16-19: mereka telah membangkitkan amarah Allah, dimurkai Allah selama 40 tahun lamanya, berbuat dosa dan dibinasakan di padang gurun. Merekalah generasi yang tidak taat dan ayat 19, “demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.’ Mereka bukanlah orang yang percaya kepada Allah. Mereka mengeraskan hatinya terhadap suara Allah; tidak mendengarkannya dan mentaatinya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Allah di dalam Kristus yang sudah menyelamatkan kita dari perbudakan dosa? Apakah kita masih mengeraskan hati jika kita mendengarkan suara Allah melalui firman-Nya, memanggil kita untuk bertobat dan percaya kepada-Nya?

Jika di masa itu Allah berbicara melalui hamba-Nya, Musa, bahwa Allah ingin menyelamatkan bangsa Israel, bagaimana dengan kita, yang di masa kini mendengarkan Allah telah menyelamatkan kita dari perbudakan dosa, melalui Kristus yang berkorban di kayu salib? Kristus yang adalah firman Allah yang hidup? Kalau kamu sungguh-sungguh percaya, kamu akan menyadari bahwa hatimu tidak dikeraskan terhadap firman Allah. Bagaimana kita mengetahui apakah kita sungguh-sungguh orang percaya kepada Allah? Ketika kita mau mendengarkan suara-Nya dan mentaatinya.

Orang yang mengeraskan hati adalah orang yang lebih percaya pada kebohongan yang dikatakan dosa daripada kepada kebenaran yang dinyatakan firman Allah. Dosa berkata, “Ah, Tuhan itu tidak patut kamu sembah”, “Ah, Tuhan itu tidak layak mendapatkan totalitas hidupmu”, “Ah, lebih enak, kan, hidup sesuka hati dan berbahagia di dalam dosa-dosa kita?” Dengan itulah hati kita menjadi keras terhadap suara Allah dan tidak mau percaya kepada-Nya.

Di ayat 12 penulis mengatakan, “waspadalah!”. Ini adalah warning bagi setiap pembaca di masa itu dan di masa sekarang. Apakah bisa di antara persekutuan atau jemaat seperti ini ada orang yang tidak percaya? Tentu saja. Karena itu, peringatan ini adalah ajakan penulis supaya pembacanya menguji dirinya sendiri di hadapan Allah, “apakah aku orang yang sungguh-sungguh percaya?”

Teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman sejak semula di dalam Kristus

Kemudian yang ke-2, bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang sungguh-sungguh percaya kepada Allah? Yakni jika ia teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan imannya yang sejak semula di dalam Kristus. Apa artinya? Kalau ia setia sampai akhir kepada Kristus. Itu yang dapat kita lihat di ayat 13-14.

Kehidupan orang Kristen yang sejati akan ditunjukkan melalui ketabahan/ketahan-ujian imannya di sepanjang perjalanan hidupnya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa keselamatan orang percaya di dalam Kristus tidak akan hilang. Keselamatan orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus adalah pasti. Itu jaminan yang kita imani dari Yohanes 10:27-29.

Keteguhan iman kita terwujud ketika kita menghadapi kesulitan, pencobaan, serta penderitaan. Baca Yakobus 1:2-4. Sehingga, seringkali Allah membiarkan kita menghadapi banyak kesulitan untuk menunjukkan siapa Allah yang kita sembah dan bagaimana iman percaya kita kepada-Nya. Seperti yang Ia lakukan terhadap bangsa Israel, pengembaraan mereka yang berat di padang gurun dilakukan Allah untuk menunjukkan bahwa Allahlah yang menuntun mereka dengan kekuatan-Nya, bahwa Allah tidak pernah salah dalam berencana demi kebaikan umat-Nya, bahwa Allah ingin umat Israel tahu bagaimana kesungguhan iman mereka kepada Allah.

Namun kenyataannya apa? Pengembaraan itu diisi dengan banyak sungut-sungut dari umat Israel. Mereka bahkan pernah berkata, “adakah Allah di tengah-tengah kita?” Padahal sudah jelas-jelas Allah menunjukkan diri dan kekuatan-Nya melalui banyak cara dan mukjizat. Apa yang kita lihat dari sini? Mereka tidak taat karena mereka tidak percaya. Mereka tidak teguh berpegang pada iman mereka sejak semula karena mereka tidak percaya.

Kita bisa membaca di dalam kitab Bilangan bagaimana generasi ini binasa di padang gurun karena tidak percayanya. Bahkan dari ke-12 pengintai ke Kanaan, hanya Kaleb dan Yosua yang memasuki tanah perjanjian beserta umat lain yang Allah tentukan untuk tetap memasuki tanah Kanaan. Sungut-sungut mereka dicatat sebagai ‘mencobai Allah’ dan itu adalah dosa di hadapan Allah. Mereka meragukan keberadaan Allah dan meragukan kekuasaan-Nya atas mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sedari awal tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Allah karena mereka tidak teguh di dalam iman mereka dan malah memberontak dan mencobai Allah.

Orang Kristen yang sejati tidak akan mengeraskan hati, melainkan bertekun, setia sampai akhir kepada Kristus. Mendengarkan suara Allah dengan memegang firman-Nya, janji-Nya, dan melakukannya. Tanpa ketekunan iman dan ketaatan sampai akhir, kita meragukan apakah seseorang sungguh-sungguh telah percaya dan beroleh bagian di dalam Kristus. You can fake your Christian ritual, but you can’t fake your salvation. Karena keselamatan itu adalah anugerah Tuhan dan bagian kita adalah percaya.

Apa yang dapat kita lakukan sebagai sesama umat percaya di dalam persekutuan mahasiswa? Lihat ayat 13, “nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya (keras hatinya) karena tipu daya dosa.” Inilah perintah yang diberikan penulis bagi kita. Karena itu penting sekali ada pemuridan yang berpusat pada Injil. Pemuridan yang terus-menerus diisi oleh Firman Tuhan. Dengan cara apa kita menjauhkan diri dari tipu daya dosa? Tentu dengan cara mendekatkan diri kepada kebenaran yang berkuasa mengubahkan hidup kita.

Kehadiran teman-teman yang percaya dan saling membangun di dalam firman dipakai Allah untuk menolong kita. Pertama, menolong kita mengevaluasi iman percaya kita kepada Allah, apakah ketika firman Allah (suara Allah) diperdengarkan, saya mau mendengar dan melakukannya? Ataukah saya mengeraskan hati? Kedua, menolong kita bertekun di dalam iman kepada Kristus sampai akhir.

Di dalam persekutuan yang berpusat pada firman Allah-lah kita saling menguatkan dan mengingatkan kalau pencobaan, kesulitan, dan kejatuhan kita dalam dosa mulai membuat kita lupa pada janji-janji Allah. Kalau kita lupa pada janji Allah, pada kebenaran, bahwa Allah menjamin hidup kita, Allah sanggup mengangkat dan menolong kita, kita bisa berlarut di dalam dosa. Sehingga, perdengarkanlah suara Allah melalui firman-Nya di dalam persekutuanmu, dalam relasimu satu dengan yang lain. Serta, janganlah menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan di mana kamu dapat mendengarkan suara Allah. Hadir dan berikanlah dirimu dikuatkan dan dijaga oleh firman itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s