Virus Corona & Menikah (1)

Diem. Jangan ketawa. Aku tau judulnya emang kurang indah untuk disandingkan bersama.

Sabar. Jangan marah. Aku juga bukan bermaksud membuat clickbait. 

Tulisan ini bener-bener tentang kaitan antara virus corona dan pernikahan–something I never thought I’d ever written about. 


Salah satu hal yang tidak dijelaskan dengan detail tentang pernikahan ketika aku menghadiri seminar-seminar atau pembinaan-pembinaan rohani adalah betapa berisikonya pernikahan itu. Saking berisikonya, mungkin seseorang harus lebih berjaga-jaga saat akan memikirkan pernikahan, merencanakan atau bahkan akan menjalaninya–ketimbang saat ia mengawasi nilai investasi sahamnya.

Hm, begini, secara umum, adanya risiko dalam suatu hubungan pernikahan memang bukan hal yang asing bagi banyak orang. Namun sebagian besar risiko yang dimaksud adalah ketidakmampuan secara ekonomi dan pendidikan untuk membangun sebuah keluarga serta adanya kemungkinan perceraian di masa depan. Ternyata banyak sekali orang yang menjadikan alasan finansial sebagai dasar penundaan pernikahan atau bahkan untuk hidup selamanya sendirian.

Jujur, seminar-seminar dan pembinaan yang pernah kuikuti tidak terlalu banyak membahas mengenai hal itu. Sehingga sekalipun tahu, aku pribadi tidak pernah begitu memikirkannya dan menjadikan ‘iman’ dan ‘pemeliharaan Allah’ sebagai tamengku. Tanpa bermaksud mengecilkan iman dan pemeliharaan Allah, aku harus berkata, tanpa disadari, kebiasaan menutup diskusi dan pembahasan tentang hal-hal seperti itu ternyata menimbulkan keyakinan semu di kemudian hari.

Namun, yang ingin aku bahas di sini bukanlah risiko dalam pengertian di atas. Sebab, dan inilah kaitannya, wabah virus corona ini telah memberikan suatu kesempatan langka untukku dalam memikirkan risiko lain dalam pernikahan–yang bagiku, jauh lebih menakutkan daripada yang sebelumnya. Dikarantina karena corona selama berminggu-minggu ternyata bisa berdampak segininya.

Aku memulai dengan kalimat ini, “pernikahan menjadi menakutkan karena manusia telah jatuh ke dalam dosa dan bahkan tinggal di dunia yang belum sempurna karena dosa.”

Kesatuan yang dimiliki oleh Adam dan Hawa sebelum Kejadian 3 adalah kesatuan indah yang seharusnya menjadi pembuka bagi masa-masa indah bukan hanya bersama satu sama lain, namun juga bersama anak-anak mereka kelak, serta tentunya Allah. Ironis, kesatuan sempurna yang tidak akan pernah dialami oleh manusia-manusia berikutnya selama tinggal di dunia yang berdosa ini.

Dosa telah membuat maut menjadi satu-satunya kepastian bagi sang pembuat lagi penikmatnya. Pun mereka yang kemudian berbalik kepada Allah yang benar oleh Kristus, tidak dapat menghindari pertentangan antara keingingan daging dan keinginan Roh yang begitu nyata–sampai-sampai tidak jarang menjadi sama menyeramkannya dengan berada di ambang kematian. Kondisi ini benar-benar menjadikan pernikahan sebagai sebuah perjuangan panjang lagi berat sekalipun ada kesadaran bahwa Kristus yang memahami perjuangan tersebut–mendasari pernikahan orang percaya tersebut.

Aku akan membagi tulisan ini menjadi 2 bagian berdasarkan poin di atas, 1) maut sebagai kepastian dan 2) pertentangan antara keinginan daging-Roh dalam pernikahan yang banyak kupikirkan selama masa karantina ini.

Bagian (1): Maut sebagai Kepastian

Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku bergumam, “aku takut menikah.”

Bahkan jika boleh jujur, aku sempat bertanya, “haruskah aku menikah?”

Padahal dulu, bersama dengan segala risiko yang ada, aku tetap sangat excited memikirkan pernikahan (entah dengan siapa pun nanti, pikirku). Rasa-rasanya sudah tidak sabar mengurus rumah tangga sekalipun baru ada tangganya. -_-

Tapi, itu dulu.

Sekarang, bagiku, memasuki pernikahan berarti berkata “siap” untuk menguburkan siapa pun yang mendahului kita nantinya. Bukan hanya pasangan suami-istri, bahkan anak-anak yang kemudian menjadi keturunan di dalam pernikahan tersebut. Kalau ini hanya urusan teknis, mungkin mudah saja. Banyak seksi acara dan calon panitia yang bisa membantu. Kita bisa mendelegasikannya kepada mereka.

Tapi, bukankah sangat berat menjadi pihak yang ditinggalkan lebih dulu? Hati siapa yang tidak akan sesak mengetahui kekasih hatinya pergi selama-lamanya? Tubuh siapa yang tidak melemah ketika berpisah dengan anak-anak atau orang tuanya karena maut tersebut?

Aku, aku selalu kelu berbicara tentang kematian. Sekalipun aku tahu bahwa kematian bukanlah akhir di dalam iman Kristen, tapi dalamnya pengetahuan dan hebatnya praktik tetap bukanlah suatu hal yang otomatis terjadi. Ada banyak proses dan waktu yang diperlukan untuk menjalani hidup yang  pasti tidak sama lagi. Ada banyak pertanyaan-tanpa-jawaban yang setiap hari mungkin harus diutarakan sampai letih sendiri.

Namun aku bersyukur aku kelu membicarakannya. Sebab kematian bukanlah hal yang patut dimulia-muliakan–justru harus direngkuh kebenarannya, bahwa ia adalah sesuatu yang karena dosa, tidak bisa kita hindari. Itu adalah hukuman. Kematian adalah pengingat paling nyata bahwa ada kudeta terbesar dan tertua terjadi di dalam sejarah; manusia yang tidak cukup diciptakan dalam rupa Allah dan ingin menjadi Allah–upaya merebut kuasa Allah atas dirinya.

Pernikahan juga membuatku harus berpikir serius, mau dibawa ke mana keturunanku nantinya? Menghadapi kematian tanpa Kristus atau dengan Kristus? Tampak seperti biasa-biasa dan sama saja, terutama bagi mereka yang tidak memiliki pengharapan akan langit baru & bumi baru, tapi ya… pikirkan sajalah. Please, doubt your doubts. 

Saat ini aku masih terus memikirkan hal di atas. Ketika menulis pun aku sedang berproses, jauh dari mengerti dan menerima bahkan keyakinan-keyakinan iman yang ada. Masa-masa dan virus corona ini sendiri telah membuat hampir sebagian besar manusia harus menerima sekali lagi, bahwa kematian itu memang tidak enak. Kalau enak, kenapa sulit-sulit membuat kebijakan ini-itu? Kenapa stress kalau orang masih aja kumpul-kumpul?

Aku sedang terus menghadapi fakta dan pendapat kepalaku sendiri tentang kematian & mimpi buruk yang ia tawarkan. Masih tidak ingin mengulang kesalahan yang sama yakni membiarkan hal-hal nyata namun sulit ini berlalu begitu saja dan menimbun pasir-pasir keyakinan semu yang gampang terbawa angin dan arus nantinya.

Saat ini bisa dikatakan, prosesnya ternyata too intense to be true. Aku menyimpulkannya dalam 1 kalimat, “I think, in life, it’s better to attach nothing but files”. Aku jadi memikirkan ulang attachment yang sudah dan mungkin ada di dalam hidupku. Buat yang nggak ngeh, attachment yang kumaksud itu kira-kira bersinonim dengan pengertian ‘kedekatan” atau “keterikatan”. 

Semakin banyak kedekatan dan keterikatan dengan orang lain, semakin sulit menepis mimpi buruk karena kematian. Bukan begitu? Tentu saja, sebaliknya. Semakin sedikit attachment dengan orang lain, semakin kecil kemungkinan akan mengalami mimpi buruk tersebut.

Namun ketika memikirkan ini, aku juga ingat bahwa tidak ada kekristenan tanpa attachment yang proporsional dengan sesamanya. Sebab, ketika percaya kepada Kristus, kasih menjadi kata kerja wajib yang melekat dengan kita sebagai subjek. Sehingga, harus kuakui bahwa ketakutan untuk memiliki attachment ternyata erangan yang kuat dari daging yang lemah yang tidak mau berjuang mengasihi. Tidak mau berjuang hidup dalam relasi dengan orang lain karena sadar harus bertatapan dengan betapa pastinya kematian. 

Aku belum sanggup melanjutkannya. Aku masih terus merenungkan paragraf terakhir di atas. Tapi aku bersyukur bisa berbagi sampai di sini. Aku tidak takut memperlihatkan pergumulan ini karena aku percaya bukan hanya aku yang patut memikirkannya. Pernikahan dan hidup pada umumnya memanglah hal yang kompleks, dan aku hanya sedang menguraikan satu benang kecil yang kadang-kadang menjadi penyebab pernikahan tidak dipandang sebagaimana seharusnya.

Rangkullah suka dan dukanya, jika sedang mempertimbangkan untuk menikah.

Doakanlah, agar suka-duka itu menemukan maknanya di dalam Kristus. Semua ada waktunya, semua ada masanya. Tapi satu yang pasti, relasi pernikahan hanya ada di dunia ini. Di langit baru dan bumi yang baru tidak ada pernikahan. Bukankah terlalu sementara untuk memikirkan bahwa pernikahan itu bertujuan for the sake of pernikahan itu saja?

There’s something more to marriage–perhaps many divinely things.

Kalau kata salah satu buku berjudul Sacred Marriage, “pernikahan adalah sarana pengudusanmu sebagai anak Allah”.  Setiap orang yang diselamatkan Allah pasti akan dibentuk hari lepas hari, menikah atau tidak menikah. Jika menikah, pandanglah itu sebagai ‘arena’ pengudusan yang paling nyata yang bisa ditemukan oleh tiap-tiap ‘peserta janji’ di dalamnya.

Aku,

Aku mau melihatnya demikian.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s