Categories
Life

Dear Guy: “My friends and I bond by complaining, but it’s getting me down” — ideas.ted.com

Welcome to “Dear Guy,” TED’s advice column from psychologist Guy Winch. Every month, he answers readers’ questions about life, love and what matters most. Please send them to dearguy@ted.com; to read his previous columns, go here. Dear Guy: By starting to examine my own life in the context of the thoughts that rise and fall…

via Dear Guy: “My friends and I bond by complaining, but it’s getting me down” — ideas.ted.com

Aku makin yakin bahwa Tuhan itu tahu setiap kegelisahan yang kualami. Bukan hanya tahu, Dia juga mau menolongku memahami dan menghadapi kegelisahan tersebut. Dia pun bisa menolongku dengan banyak cara, contohnya melalui artikel yang kutemukan di dashboard blog ini.

Belakangan ini aku sering berada pada suatu emosi yang jujur sulit untuk kuidentifikasi. Dibilang kesal, nggak juga. Dibilang marah, nggak juga. Dibilang stress, hmm, nggak juga. Intinya, emosi itu bukan emosi yang menyenangkan. Ketika kupikir-pikir apa yang menjadi pemicunya, aku sampai ke suatu kesimpulan: aku tidak tahan mendengar orang-orang yang suka complain–to be precise, yang kerjaannya hanya complain, complain, dan complain. 

Setiap aku membuka Twitter, emosi itu muncul. Setiap aku berbicara dengan sekelompok orang dan orang-orang tertentu, emosi yang sama juga muncul. Sebab kesamaan yang dimiliki Twitter dan sekelompok orang ini adalah: sebagian besar isinya hanyalah complain.

Sebelum membaca tulisan di atas, aku memang sempat berpikir, “lha, nggak mungkinlah hidup nggak ada complain-nya? Justru beberapa hal harus memang harus di-complain, bukan?”

Aku terus berpikir apa batasan sampai kemudian complain menjadi tidak sehat bagi seseorang dan bahkan membuat orang sepertiku tidak nyaman. Apakah aku tidak nyaman karena hidupku absen dari complain? Tidak juga. I complain too. Tapi ternyata penting untuk belajar how to complain and how to respond to complain, plus, when to stop. 

Aku senang, ternyata kegelisahanku bukan suatu keanehan, melainkan dapat dijelaskan secara ilmiah. Salah satu takeaway dari tulisan ini adalah: hidup yang melulu berisi keluhan ternyata bisa menjadi pertanda bahwa seseorang sedang mengalami depresi dan/atau gangguan kecemasan.

Kalian juga perlu membaca artikel ini supaya diri dan lingkungan kita jadi lebih sehat dan less-depressing. Please!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s