Categories
Life

I know what I’m doing

Selama bertahun-tahun sebelumnya gue nggak pernah segitunya sama artis. Biasa aja. Ada sih yang sangat gue antisipasi karyanya, tapi ya gitu. Nggak segitunya.

Beberapa orang mungkin tau kalo gue suka High School Musical. Tapi gue biasa aja sama artisnya. I mean, gue suka lagu-lagunya, disuruh nonton filmnya berkali-kali pun gue akan jabanin. Tapi gue nggak pernah kepo Zac Efron lagi nyiapin karya apa, gimana pendapat dia soal isu A isu B, dsb.

Atau, Camp Rock. Gue memang suka banget sama Jonas Brothers setelah gue nonton film ini. Tapi, ya udah, gitu aja. Gue masih hapal lagu-lagu lamanya kayak “When You Look Me in The Eyes”, tapi lagu barunya yang Sucker itu ya biasa aja. Gue memang sempat mengantisipasi mereka comeback di single itu, tapi ya udah. I think the excitement is still the same, tapi di benak gue setelah melihat mereka lagi, Joe, Nick, Kevin udah sangat berbeda. Gue sadar, excitement yang gue maksud pun sebetulnya hanya berdasar pada nostalgia saja. Makanya mungkin gue pikir masih sama padahal udah enggak sama sekali.

Intinya, sepanjang gue hidup dan bernapas, gue menikmati banyak karya seni dan sangat suka sama karya-karya itu, tapi nggak segitunya sama senimannya. If that makes sense.

Apalagi penyanyi. Nggak banyak suara yang gue suka segitunya di dalam hidup ini. Dulu sempet suka banget suaranya Adera. Sampe bela-belain nonton konsernya beberapa kali. Gue masih suka sampe sekarang, cuman ya gitu. Ga segitunya.

Sejak 2015 sampai pertengahan 2020 kemarin aja gue nggak punya lagu favorit. Out of nowhere gue nggak penasaran sama lagu apa sih yang lagi happening di 5 tahun itu? Gue cuma dengerin lagu-lagu yang memang udah gue denger sampai 2015 aja. Gue masih dengerin musik, tapi tiba-tiba ke-shuffle lagu baru, gue cuma akan dengerin dan lewatin. Nggak cari tau lebih lanjut setelah itu. Ga segitunya.

Nah, yuyur, kata ‘segitunya’ ini yang gue lagi coba proses juga di kepala ini. Apa ukurannya? Atau bisa diukur nggak? -_-

Sampailah gue dengerin lagu-lagu IU dan BTS (kalo nggak tau coba gugling)—yang gue lupa kapan persisnya, pokoknya tahun 2020 kemarin.

Sejak pandemi Maret 2020 lalu, gue jadi lebih punya banyak waktu luang. Kalo biasanya dalam 1 hari kerja bisa menghabiskan 3-4 jam hanya untuk perjalanan pulang-pergi, kerja di rumah membuat gue menghemat 3-4 jam itu dan mengisinya dengan hal lain. Nonton drama Korea contohnya.

Sama seperti pengalaman sebelum pandemi, gue sangat menikmati karya seni drama. Mau berbahasa apa pun, gue bisa enjoy, termasuk bahasa Korea. Film India dan Mexico aja gue nikmatin cuy, nggak jauh bedalah sama drama Korea. Apalagi, gue lebih bisa embrace konteks dan viewpoints mereka since masih sama-sama Asia. Poinnya, gue bukan newbie di perdrakoran, tapi, gue nggak pernah nonton lebih dari 2 drama dalam 1 tahun. Itu pun gue habisinnya bisa berhari-hari atau ya 2-3 hari untuk nonton kemudian di 6-7 bulan lagi.

Tapi jujur, tahun 2020 kemarin kayak banyak aja yang bisa ditonton sampe habis. Mulai dari Crash Landing on You, Hospital Playlist, dan The King: Eternal Monarch (3 itu banyak banget ya bund). Itu 3 drama baru yang gue bela-belain tonton pas lagi on-going. Terakhir kayak gini tahun 2016 pas drama Goblin tayang. Setelah itu gue kehilangan minat nonton drakor dan kalo pun nonton drama baru, gue nggak pernah bisa selesaiin. Berhenti di episode ke-6 atau 7.

Akhirnya gue mulai cari drama lama dan memutuskan nonton My Mister. Gue lupa kenapa gue nonton ini. Gue denger drama ini bagus dan menang sebagai drama terbaik di angkatannya dengan script terbaik pula. Jadi, ya gue coba aja. Ekspektasi gue setiap nonton drama memang cuma 2: kalo nggak sangat menghibur, ya pesannya deep. Bagus kalo dapat dua-duanya. Kalo salah satu pun biasanya gue masih punya dorongan yang kuat untuk nyelesaiin. Tapi gue nggak pernah nonton hanya untuk sekadar mengisi waktu luang. Karena gue akan memakai energi gue yang berharga di waktu luang itu; gue akan menatap layar selama beberapa puluh menit, gue akan membiarkan mindset gue ditantang/dibentuk, dan tentunya emosi gue diaduk-aduk. Jadi, gue nggak akan nonton untuk sekadar mengisi waktu luang atau so-called istirahat. Istirahat itu wajib, tapi istirahat hanya untuk dibuat letih lagi karena sesuatu yang nggak berguna ya gimana ya bund rasanya.

Gue senang gue memutuskan nonton My Mister. Ini drama yang menurut gue bagus untuk ditonton siapa pun yang mau merenungkan kehidupan dan realitasnya. Kalo yang nonton adalah orang-orang di usia 20-an akhir yang lagi struggle untuk bertahan hidup dan harus ngurusin keluarga, gue rasa drama ini akan membuat mereka merasa tidak sendiri. Bukan hanya itu, mungkin akan menolong mereka juga untuk tetap berjuang.

Singkat cerita, bukan hanya suka drama ini, gue pun jadi kepoin pemeran utamanya: IU (Lee Ji-eun), dan Lee Sun-Kyun. Khususnya IU, karena dulu sempet nonton Dream High, drama pertamanya, dan gue tau dia penyanyi, gue jadi kepoin lagu-lagunya—dan gue suka. Banget.

Setelah itu, gue jadi banyak cari tahu tentang dia dan entah kenapa bisa nemu fanmade video yang nge-ship dia dan salah satu member BTS, Jungkook. -_- Ternyata Jungkook ini sudah dikenal sebagai fanboy-nya IU. Makanya pas searching soal IU malah nyangkut di Jungkook. Jujur, itu kali pertama gue tahu wujud anggota-anggota BTS.

Akhirnya gue jadi kepoin BTS, berbarengan dengan gue kepoin IU, dan astaga… kombinasi IUxBTS itu bener-bener sesuatu. Di sinilah gue tau, gue akhirnya bisa segitunya sama artis.

Gue bukan hanya mencari informasi tentang karya-karya mereka, talenta mereka, tapi juga soal personality mereka. One thing I notice: khususnya IU & Jungkook, mereka berdua adalah artis yang dikenal sangat jujur dan apa adanya. Tentu, karena gue bukan kakaknya Jungkook atau sepupunya IU, gue nggak tahu seberapa akurat hal itu. Tapi setidaknya, soal ke-apa-adaannya seseorang, pasti bisa dilihat dari apa yang memang ditunjukkannya lewat perkataan atau tindakannya.

Gue memang senang orang-orang yang apa adanya. Gue pun berusaha untuk berlaku serupa. Bagi gue, nggak masalah kalo orang tahu kelemahan dan kesalahan atau kegagalan gue. Nggak masalah kalo gue harus menunjukkan vulnerability gue sampe titik tertentu yang proper dengan situasi dan kondisi yang ada. Gue selalu berusaha menyampaikan apa pun yang gue rasakan terhadap seseorang atau sesuatu. Sebisa mungkin, gap asumsi orang yang 1 dan yang lain—yang sama-sama kenal gue—tentang gue, harus sekecil itu. Tapi kalo pun ada yang salah mengerti gue, ya gapapa. Gue hidup bukan menuntut untuk dimengerti manusia.

Semakin gue mencari informasi tentang IU dan Jungkook, semakin gue merenungkan hidup gue; apa yang gue perjuangkan, cara gue memperjuangkannya, cara gue memperlakukan orang, cara gue memandang situasi, dan seterusnya. Salah satu yang gue suka dari IU adalah, dia orang yang filosofis dan puitis; dua kualitas yang gue suka dari seorang manusia. Dari salah satu wawancara IU juga gue berprinsip, “normalize getting excited at being older every year.”

Kenapa banyak orang yang memperlakukan usia-usia tertentu seperti hantu? Misal, memasuki kepala 3, kepala 4, dan seterusnya—dan being overly dramatic terhadap kemudaan? Nggak mau tua, nggak mau keriput, takut sama tanggung jawab karena usia?

Kalo kita menyadari bahwa Tuhan hadir di dalam hidup kita, seharusnya pertambahan usia pun disambut dengan penuh syukur—terlepas apa pun tuntutan lingkungan terhadap usia-usia tertentu. “Udah umur segini kok belum begini?”, tanya sebagian orang, memang. Akhirnya, berkat dan kesempatan yang sudah diberikan Tuhan di 1 tahun itu seolah menguap begitu saja gara-gara kesal dengan 1 pertanyaan tersebut. Dari IU gue belajar, normalize getting excited at being a year older every year…because it’s through that year God has been working in and outside of you. Shouldn’t you anticipate, and pray, and wait on Him to work more through you in the next year?

Gue rasa pelajaran itu sangat berkesan dan menolong gue menjalani hari-hari yang berat ini. Bukan untuk sekadar bertahan dan tidak pingsan, tapi untuk bertahan, tidak pingsan, dan tetap bahagia. Gue diciptakan untuk bekerja dan berkarya bagi Tuhan dan sesama. Gue hanya akan bahagia kalo gue hidup seturut tujuan gue diciptakan Tuhan. :3

Di sisi lain, dari Jungkook gue belajar untuk jadi sejujur itu terhadap apa yang ada di kepala gue. Tapi, nggak hanya itu, gimana caranya isi kepala gue adalah mostly amazing thoughts and principles. Wkwkwk, mirip-mirip IU. Gue perhatiin, banyak orang membenarkan diri untuk ngomong apa pun, atas nama apa adanya, dan akhirnya jadi beban pikiran buat orang lain. Ya gimana ya bund, no filter sih no filter, tapi kok bisa isi kepalanya begitu? Nah di bagian ini yang sulit.

Hasil observasi gue terhadap Jungkook mungkin hanya 1% dari gimana beliau aslinya. Tapi kalo 1% ini bagus, ya nggak ada salahnya dicontoh kan? Jujur gue bukan mengamati dari interview—apalagi BTS banyak bikin interview dari internal team—some may say itu scripted, tapi dari game-game di RUN BTS. Gue rasa sekalipun game-nya scripted, tapi how they behave during that game pasti jauh lebih realistis. Jadi memang setiap Selasa malam gue udah punya tontonan wajib: RUN BTS dan di situlah gue sangat mensyukuri kehadiran Jungkook di dunia ini. Sekocak itu, se-brilliant itu, dan apa adanya. Kayak memang nggak banyak kebusukan yang harus dia filter -_-. Selain itu dia juga pekerja keras. Dia dikenal sebagai salah satu member yang paling sering masih latihan di kala yang lain sudah istirahat. Idk apa motivasinya, tapi gue ambil aja poin kerja kerasnya.

Later on gue baru tau kalo emang udah jadi rahasia umum kalo BTS itu memang salah satu K-Pop idol yang dikenal jujur dan crackheads. Nggak jaim. Kira-kira gitu.

Gue nggak tau gimana artis Korea lain; gue nggak ngikutin, asli. Tapi seenggaknya di beberapa bulan terakhir gue sangat segitunya sama IU dan BTS. Selain karena gue mengizinkan mereka men-challenge prinsip-prinsip gue, mengizinkan mereka membentuk selera musik gue, mengizinkan mereka menambah informasi on how humans can live their lives, gue juga menabung untuk membeli barang-barang yang bisa mengidentifikasi gue sebagai penggemar mereka. Ini pertama kalinya gue menggunakan uang sendiri membeli hal-hal seperti itu. Itulah ukuran gue untuk kata segitunya.

And I think I know what I’m doing. Kalo gue ga hati-hati, gue bisa-bisa menjadi Elisabeth yang beragama IU dan BTS -_-. You are what you love, you worship what you love, bukan? Jadi, tulisan ini sekaligus menjadi pengingat untuk mengendalikan diri.

Gue akan menempatkan karya seni dan senimannya di mana mereka seharusnya: penunjuk kepada Allah, the ultimate Creator, yang sedang terus berkarya di dalam hidup gue. Yang constantly working bersama segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya. Semoga gue nggak berubah agama jadi IU dan BTS!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s