Categories
Life

Cuma Cerita

Dalam hitungan beberapa bulan lagi saya resmi menjalani 10 tahun sebagai anak kosan yang harus merantau jauh dari keluarga. Sepuluh tahun yang tidak mudah, bisa dibilang. Homesick demi homesick sudah dilalui sejak 2011. Sampai-sampai sudah terbiasa hidup tidak merasakan langsung kasih dan perhatian orang tua secara nyata. Kalau saya boleh memilih, terutama ketika saya menyimpulkan bagaimana rasanya 10 tahun ke belakang, ingin rasanya mengulang kembali waktu dan tinggal bersama mereka saja di kampung halaman.

Jakarta is not that great anyway, hehe.

Tapi, sudah jalan-Nya seperti ini. Semuanya sudah terjadi di dalam kedaulatan-Nya.

—-

Sepuluh tahun ini adalah tahun-tahun yang sulit; penuh dengan jatuh-bangun yang rumit. Di luar, saya bisa seperti baik-baik saja, tapi ketika tiba di kosan yang sunyi itu, nggak ada mamak yang bertanya, “kenapa baru pulang jam segini?”, “kok mutung mukamu?”, “udah makan belum?”, “itu mamak masak daging babi arsik tadi, makanlah”.

Saya mengurus diri sendiri. Saya yang bertanya ke diri sendiri, “mau makan apa kita di hari yang sulit ini, Beth?”

Atau, bapak yang selalu menelepon dan menyuruh pulang (entah dari mana pun) padahal jam baru menunjukkan pukul 19.00 WIB. Bapak yang standby di depan untuk menginterogasi kenapa baru nyampe rumah jam 9 malam.

Awalnya, hidup sendiri tampak sebagai kebebasan. Saya tidak memungkiri sisi itu, terutama jika melihat 10 tahun ke belakang yang lebih banyak dihabiskan di pelayanan mahasiswa. Mungkin, saya tidak akan bisa melayani sebebas itu kalau saya tinggal bersama orang tua. Mungkin akan terjadi banyak sekali konflik dengan mereka.

Namun ada dampak lain yang harus dialami dengan kebebasan itu. Ketiadaan perhatian yang konstan hari lepas hari, kritik dan protes yang dilontarkan langsung ketika akan pergi dan pulang pelayanan, atau, absennya konflik-konflik karena harus melayani, telah memberikan ketahanan yang nyata namun terkadang juga semu pada jiwa saya.

Hidup sendiri telah membuat saya mengurus semua kesulitan yang ada pun sendirian. Tidak ada sahabat yang mengetahui beban pikiran saya setelah sehari penuh yang membuat saya susah tidur di malam-malam tertentu. Pun ketika saya pada akhirnya ketiduran begitu saja karena memang terlalu lelah dengan seluruh perjuangan hidup hari itu. Mungkin sahabat-sahabat saya tahu beberapa hal yang saya alami, jika mereka bertanya atau saya bercerita, tapi jelas, kehadiran mereka pada saat itu tidak bisa menggantikan kebutuhan saya akan keluarga yang hadir dan tinggal bersama.

Selama 10 tahun ini ada banyak persoalan yang saya pikir sudah mampu saya hadapi—sekalipun benar, saya mengakuinya dalam kesadaran akan anugerah Allah. Namun sesungguhnya saya sudah melaluinya dengan sangat kesulitan. Tidak jarang, ketika persoalan yang satu belum selesai, sudah datang persoalan lain. Di saat yang bersamaan, kuliah, pelayanan, kerja, harus tetap berjalan.

Seringkali saya mau tidak mau harus menguatkan hati untuk tidak terlarut pada persoalan diri. Mengesampingkan kepentingan diri adalah perjuangan biasa hari lepas hari. Beberapa orang heran dengan cara hidup saya yang seperti ini. Namun beberapa orang lagi masih menuntut saya untuk memberi lebih.

Seperti sekarang ini. Just another day.

Namun apakah saya akan berhenti berjuang untuk hidup demikian? Tidak akan pernah. Saya akan terus belajar dan berjuang untuk tidak berhenti memberikan yang terbaik sekalipun itu berarti menguras diri saya sepenuh-penuhnya. Apakah saya akan dilemahkan oleh kegagalan saya memenuhi ‘tuntutan’ mereka? Apakah kegagalan dan kesalahan saya akan membuat saya menghilang dari panggilan Allah untuk hidup bagi sesama dan bukan diri sendiri? Tidak akan pernah. Saya akan terus memohon pertolongan-Nya untuk memampukan saya hari lepas hari supaya sekalipun saya lemah, saya menyaksikan pembentukan dan topangan-Nya.

Apakah saya akan berhenti menyaksikan bahwa saya adalah orang yang ‘rohani’ hanya karena tingkah laku saya kadang kala tidak sesuai dengan iman saya? Tidak akan pernah. Bagi saya itu bukan akhir dari segalanya, melainkan awal transformasi dari Allah.

Saya tidak akan takut jika saya melihat ke belakang dan menemukan kebodohan serta ketololan saya. Saya akan bilang dengan tegas, “wah kamu jatuh di bagian ini”, “wah kamu tidak jadi teladan di bagian itu”. Namun saya juga akan datang dengan berani ke hadapan Allah, melalui Kristus yang adalah Imam Besar saya. Saya akan memohon pengampunan-Nya dan bersedia ditegur, dididik, dan diajari-Nya, sekali lagi, dan berkali-kali lagi.

Saya tahu Allah mengasihi dan memanggil saya untuk hidup demikian bukan karena Dia yakin saya akan berhasil, namun karena Kristus telah menang. Kenapa saya harus hidup terintimidasi oleh kegagalan saya ketika Tuhan saya sudah menang?

Perjuangan saya untuk taat dan hidup demikian pun bukan saya mulai karena perhitungan logis bahwa saya yakin pada kemampuan saya. Ketika bagi beberapa orang saya belum menunjukkan teladan yang terbaik, saya kurang memberikan yang seharusnya saya berikan, baik, akan saya terima dan akan saya perbaiki. Saya akan menjadikan itu cambuk bagi diri saya sendiri untuk melihat kepada Kristus dan meneladani-Nya, sekuat tenaga saya, sesuai kasih karunia-Nya yang bekerja di dalam saya.

Namun saya sangat yakin, sebaik apa pun perbaikan itu nantinya, menantikan pujian dan terima kasih dari manusia tetap bukan tujuan saya. Saya melakukannya karena saya mau hidup menyenangkan-Nya. Jika karena 1 dan lain hal saya masih gagal dan kurang bagi sebagian orang, tidak masalah. Tuhan yang tahu apa yang saya perjuangkan. Saya tentu tidak diciptakan untuk menjadi pahlawan di seluruh timeline hidup orang-orang. Saya memiliki peran saya sendiri.

Kehadiran saya adalah penyalur kasih-Nya, ketidakhadiran saya ialah penunjuk bahwa hanya Allah yang akan selalu ada bagi mereka.

Saya tidak akan berhenti mengasihi. Saya tidak akan menuntut dikasihi. Saya tidak akan berhenti melayani. Saya tidak akan menuntut dilayani. Jika saya disalahmengerti, saya tidak akan membenci. Saya akan memaklumi dan mengampuni. Jika saya diberi kesempatan sekali lagi, saya akan berjuang lebih baik lagi.

Bukan cara hidup yang mudah dan enak untuk diungkapkan atau dituliskan. Namun inilah prinsip saya menghadapi realitas kehidupan ini melalui 10 tahun perjalanan panjang hidup sendirian. Saya sering wondering apakah hidup akan jadi lebih mudah jika kesulitan, kelemahan, dan kegagalan itu saya hadapi dengan kehadiran keluarga setiap hari. Namun, saya yakin, Tuhan telah mengizinkan ini semua terjadi, karena Dia ingin menyatakan Diri-Nya lebih lagi. Hidup sendiri makin membuat nyata, it’s always been Him from the very beginning to the end.

Saya yakin dan percaya, ada sikap hati yang akan Dia murnikan melalui ini semua. Ada kapasitas mengasihi yang sedang Ia luaskan. Ada pengenalan akan Allah yang sedang Ia terangkan.

More than that, saya semakin menyadari bahwa saya hanyalah manusia biasa yang selalu memerlukan-Nya. That mighty Elisabeth some people always thought about me is a myth. I’m a human being; wicked yet saved. Once lost, now found; was blind, now see. Saya pun dibuat mengerti, saya juga melayani manusia-manusia yang memerlukan-Nya. None of us is better at this. None of us needs Him less or more. We all have the same need of Him, of His grace, day by day.

Last but definitely not least, chin up, Elisabeth. God loves you at your darkest. Jadi sekarang, jika kamu bukan lagi di dalam kegelapan, apa yang kamu takutkan?

Dia tetap mengasihimu lebih dari yang dapat kamu bayangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s