Menjelang 28 #2

Sejak kapan berelasi menjadi tentang kewajiban memberi tahu orang lain apa yang sedang terjadi di hidupmu?

Menempatkan beban pada orang yang sudah berat menanggung hidupnya sendiri demi istilah “menjaga relasi”, baguskah begitu?

Jika dia diam, itu haknya. Kau tidak berhak marah.

Jika ketika sudah bertanya dan dia bercerita seperlunya, itu juga haknya. Tugasmu adalah memastikan, bahwa kau benar-benar peduli dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang sebetulnya bisa saja semakin memberatkannya.

Apalagi jika kau terus-menerus mengajukannya.

Kalau dia kesal dan berhenti bercerita, itu urusannya. Tugasmu dengan pertanyaan-pertanyaan itu sudah selesai.

Sebab, katanya, hanya sebagian orang yang dapat menunjukkan dirinya sebagai ‘tempat aman’ untuk menampung cerita-cerita tertentu.

Tapi, coba kita pikirkan ulang. Benarkah ada yang sungguh-sungguh aman? Tahukah kita, apa yang muncul pertama kali di kepalanya ketika kita menceritakan ketololan kita? Sesuaikah ekspresi tenangnya dengan apa yang berkecamuk di pikirannya tentang kita?

Tidak ada yang benar-benar tahu.

Apakah istilah “tempat aman” pada sesama manusia hanyalah fatamorgana dan faktanya, bukan itu yang kita perlukan?

Bercerita kepada manusia adalah langkah yang berani–siapa pun mereka. Sehingga persoalan bercerita, bagiku, bukan tentang siapa yang akan mendengar, melainkan, kesiapan untuk menanggung risiko. Tidak ada telinga, hati, dan pikiran manusia yang benar-benar aman untuk menampung cerita-ceritaku. Tapi, jika benar bahwa bukan pada manusia aku menaruh harap dan nilai diri, aku tidak perlu takut untuk bercerita kepada siapa pun.

Siapa yang benar-benar tahu, mereka orang yang tepat atau tidak?

Siapa yang benar-benar tahu, cerita-cerita tertentu akan tetap aman dari prasangka buruk? Tidak ada, kan?

Sayangnya, manusia lebih banyak berlari kepada sesamanya manusia, daripada kepada Allah. Ditambah lagi, menjadi frustrasi karena tidak ada manusia yang mau mendengar, menerima, dan mengerti persoalan pelik di dalam hidupnya.

Bukankah itu sebuah kepastian?

Sejak kapan berelasi dengan manusia adalah tentang untuk selalu dimengerti? Kau pikir apa manusia yang lemah itu? Ilahi?

Menjelang 28, aku mengerti sedikit lagi tentang relasi. Akulah yang datang untuk memberi dan belajar mengerti. Jika pemberian dan prosesku untuk mengerti tidak dipahami, itu perjuangan pihak lain untuk mengerti, sedikit lagi tentang relasi.

Kalau tidak, semua ini hanya akan berujung pada frustrasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s