#Komentar “You Are Not Enough (and That’s Okay): Escaping the Toxic Culture of Self-Love” oleh Allie Beth Stuckey

Buku ini merupakan upaya Stuckey untuk membahas 5 mitos tentang diri yang sering membahayakan kaum milenial, Kristen dan non-Kristen. Dia menyebut bahwa buku ini adalah tentang membongkar berbagai kebohongan atas budaya ‘self-love’ dan menggantinya dengan kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab. Ada 5 hal yang disebutnya sebagai mitos, yaitu: 1) you are enough, 2) you determine your truth, 3) you’re perfect the way you are, 4) you’re entitled to your dreams, dan 5) you can’t love others until you love yourself.

Mitos #1 You are enough

Penulis memulai tulisannya dengan mengatakan bahwa proses menjadi ‘orang dewasa’ membuat manusia merasa bahwa ternyata mereka tidak memiliki hal-hal yang diperlukan untuk mencapai impiannya. Berbeda dengan masa kanak-kanak di mana kebanyakan anak kecil biasanya sangat percaya diri terhadap cita-cita, ambisi, dan impiannya. Walaupun menurut saya tidak semuanya demikian, namun ide ini tidak asing bagi saya. Saya ingat saya tidak pernah ragu mengatakan ingin jadi apa saya ketika besar nanti. Saya memang seorang pemimpi ulung. Buku harian saya penuh dengan daftar cita-cita dan impian. Saya tidak terlalu memikirkan apakah itu realistis atau tidak. Namun setelah beranjak remaja dan dewasa, keraguan akan kapasitas diri pun tampak nyata. Mendadak impian yang tadinya tidak terkesan memalukan sama sekali menjadi begitu memalukan ketika saya melihatnya dengan kacamata keterbatasan saya.

Namun dunia berusaha memberikan ‘obat’ untuk perasaan ‘tidak cukup’ tersebut dengan menolaknya sama sekali. “You are enough”, katanya. Menurut penulis, obat ini datang bersamaan dengan resep ‘self-love’ yang dipakai untuk menguatkan manusia dengan berkata bahwa mereka tidak membutuhkan siapapun untuk mencintai dirinya dan membuat dirinya merasa puas. Manusia diajar untuk memantrai dirinya bahwa mereka hanya membutuhkan diri mereka sendiri untuk merasa cukup dan sempurna. 

Penulis menjelaskan bahwa berkaitan dengan mitos pertama ini, budaya ‘self-love’ seperti di atas akan memberikan siklus yang melelahkan. Siklusnya seperti ini: ketika seseorang merasa insecure/anxious atas dirinya (bergumul dengan ketidakcukupannya), datanglah kebohongan yang berkata, “tidak, kamu cukup apa adanya, kamu tidak memerlukan orang lain untuk menolongmu di situasi ini”. Untuk semakin meyakini bahwa itulah resep yang tepat atas insecurity, maka muncullah berbagai buku, video, podcast, bahkan lagu-lagu masa kini yang memperkenalkan apa itu ‘self-love’ dan bagaimana manusia dapat mengaktualisasikannya di dalam kehidupannya. Tetapi anehnya, manusia tidak pernah merasa benar-benar sembuh dari insecurity-nya. Pergaulan yang erat dengan berbagai guru ‘self-love’ yang dunia ini berikan tidak sanggup membuat manusia berhenti merasa tidak cukup dengan dirinya sendiri. 

Penulis berkata, kalau benar kita cukup dengan apa adanya kita, seharusnya kita tidak perlu berusaha terlalu keras untuk meyakinkan orang lain bahwa itu benar. Sementara, hal inilah yang terjadi di dalam siklus yang melelahkan itu. 

Mitos ini perlu dihentikan. Karena itu penulis dengan sangat yakin menegaskan bahwa manusia tidak diciptakan untuk merasa cukup dengan dirinya sendiri. Jika demikian, manusia tidak akan pernah merasa membutuhkan Allah dan sesamanya. Hal inilah yang bertentangan dengan rancangan penciptaan Allah atas manusia berdasarkan iman kristiani. 

Namun saya pikir penulis perlu mengelaborasi lebih lanjut ide tersebut. Penulis perlu mengasumsikan bahwa pembaca adalah orang-orang dari berbagai latar belakang keyakinan. Saya sendiri memiliki argumen berkaitan dengan hal ini. Menurut saya, ada pendekatan lain yang lebih tepat terutama jika ditujukan kepada orang-orang percaya, apalagi mereka yang sudah dimuridkan lebih jauh di dalam kekristenan. 

Melihat apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus melalui percakapannya dengan Perempuan Samaria di dalam Injil Yohanes 4:14, “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal“, in a sense of being ‘content’, atau merasa puas dan tenang, seorang yang percaya kepada Kristus adalah pribadi-pribadi yang cukup.

Memang benar bahwa kecukupan/ketidakcukupan yang dimaksud oleh penulis sebelumnya lebih ke arah hal-hal teknis seperti keahlian, talenta, kesempatan-kesempatan, dan seterusnya. Namun jika penulis kemudian mengarahkan jawabannya kepada rancangan penciptaan Allah (bahwa manusia membutuhkan Allah dan sesama), pendekatan ini harus ditambahkan. Artinya, orang percaya harus melihat keberadaan dirinya sebagai ciptaan yang ditebus oleh Kristus dan dengan demikian memberikannya rasa cukup dan puas yang dibutuhkan jiwanya. 

Orang percaya tidak boleh dilihat sebagai pribadi yang terpisah dari Allah penciptanya, sebab kini Kristuslah yang hidup di dalamnya, Roh kudus berkuasa di dalamnya. 

And Christ lives within you, so even though your body will die because of sin, the Spirit gives you life because you have been made right with God. The Spirit of God, who raised Jesus from the dead, lives in you. And just as God raised Christ Jesus from the dead, he will give life to your mortal bodies by this same Spirit living within you. Romans 8:10-11.

Dengan demikian pernyataan “we are not enough” tentu valid dalam pengertian jika manusia tidak percaya kepada Kristus. Ini menjadi titik tolak yang membuat manusia baru dan manusia lama akan berbeda dalam memandang talenta, bakat, kesempatan, dan apapun yang ada di dalamnya. Di saat bersamaan, tidak menolak kebenaran bahwa yang namanya kerja keras dalam mengembangkan dan mengusahakannya tetaplah diperlukan. Namun semuanya dilakukan dengan kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita yang percaya. Jika orang Kristen tidak secara sadar dan intensional mengingatkan dirinya bahwa Kristuslah yang hidup di dalamnya, maka perlahan tapi pasti dia dapat lupa bagaimana seharusnya dia memandang dirinya sebagai seorang pribadi–individual dan sosial di saat yang bersamaan.

Mitos #2: You Determine Your Truth

Dunia ini membuat kita tunduk pada kebenaran subjektif yang tidak memerhatikan ukuran apa pun, baik secara ilmiah, alkitabiah, sejarah, dan seterusnya. Sementara, apa yang kita percaya akan memengaruhi keputusan-keputusan pribadi yang kita ambil serta relasi-relasi yang kita bangun. Penulis berkata jika manusia tunduk pada kebenaran subjektif tersebut, maka yang terjadi hanyalah hal-hal yang buruk. Inilah mitos kedua yang muncul bersama dengan budaya ‘self-love’. 

Dia memberikan contoh melalui kisah seseorang bernama Chloe. Singkat cerita, Chloe mengalami pelecehan seksual semasa kuliah, lalu dia frustrasi dan mengatasinya dengan alkohol, seks bebas, serta obat-obatan terlarang. Dia pun masuk panti rehabilitasi dan di sana dia mulai membaca Alkitabnya lagi (karena dia dibesarkan sebagai Kristen). Setelah rehab, dia mulai bingung bagaimana caranya memperbaiki ulang hidupnya; apa yang harus dilakukannya, dan bagaimana dia mengenal kehendak Tuhan. Sayangnya, kebingungan tersebut diisinya dengan mengikuti cara teman-temannya menemukan tujuan hidup: travelling. Dia merasa itulah cara supaya dia menemukan dirinya dan tujuan hidupnya sesungguhnya. Namun, di setiap kota yang dia kunjungi, dia terlibat hubungan seksual dengan laki-laki di sana. Sampai akhirnya dia hamil di luar nikah dan memutuskan kembali ke Texas, kota asalnya. Dia melahirkan anaknya dan menjadi seorang ibu. Namun dia berkata bahwa dia menyesal kenapa ia masuk ke kehidupan seorang ibu melalui cara tersebut. Dalam upayanya menemukan dirinya, dia malah tersesat. 

Kisah Chloe ini menunjukkan bahwa kita tidak cukup baik dalam menciptakan kebenaran kita sendiri. Sebab pikiran-pikiran kita seringkali membingungkan kita sendiri. Intuisi kita seringkali salah. Perasaan-perasaan kita sering menipu kita. Keinginan-keinginan kita seringkali salah tempat. Sederhananya, mendasarkan kebenaran pada persepsi pribadi seringkali membuat kita tidak tahu harus melangkah ke mana. Kita mungkin berpikir kita sudah berada di jalan yang tepat, terutama kalau kita merasa senang berada di sana. Namun ternyata ujungnya maut.

Penulis berkata bahwa manusia perlu mengganti kebenarannya dengan Allah dan kebenaran-Nya. Kebenaran manusia biasanya terasa baik, sedangkan kebenaran Allah sudah pasti baik. Kebenaran Allah di dalam perkataan-perkataan-Nya tidak pernah berubah, melainkan tetap selama-lamanya. Artinya, tetap baik, selama-lamanya. 

Menurut saya ini adalah hal yang kompleks. Pertama, keyakinan bahwa manusia adalah ciptaan yang dengan demikian memiliki kemampuan berpikir dan menciptakan ide pun berarti bagian dari rancangan penciptaan yang membuat manusia harus menyadari bahwa ide-ide tersebut perlu diterangi oleh firman Allah. Saya melihat banyak orang memiliki kemampuan berpikir yang baik dan itu selalu membuat saya sadar bahwa kalau bukan Allah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya, tidak akan mungkin manusia dapat berpikir sedemikian rupa. Ini tidak melulu benar pada orang Kristen saja, melainkan seluruh manusia yang adalah ciptaan Allah. 

Sehingga saya kurang setuju dengan cara penulis menyatakan bahwa kebenaran kita (our truths) biasanya adalah kebohongan-kebohongan dari Setan. Mengatakan itu sebagai hal yang ‘biasanya’ tampak keliru jika melihatnya dari kacamata manusia baru. Di dalam Kristus kita sekarang mengenal kebenaran yang sejati sebab Dialah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Siapapun yang mengalami kesatuan dengan-Nya diberikan kepekaan untuk tahu membedakan mana yang benar dan mana yang salah–dan lebih dalam lagi–mana yang sempurna dan sesuai dengan kehendak Allah.

Kepekaan itu muncul ketika manusia-manusia baru yang mengalami kuasa Roh Kudus tersebut membaca dan merenungkan firman-Nya. Disiplin ini sangat penting dalam memperbarui cara pandang manusia, mengoptimalkan kemampuan berpikirnya, dan terutama mempersembahkannya bagi kemuliaan nama Tuhan. Inilah disiplin yang perlu dilakukan dengan ketekunan dan makna yang jelas setiap harinya. Sebab perubahan pola pikir dan bahkan keyakinan untuk tunduk pada kebenaran tersebut bukanlah hal yang otomatis, melainkan pekerjaan Allah yang dinamis dan berdaulat berdasarkan hikmat dan rencana-Nya bagi kita. Inilah hal yang tidak dapat dilakukan jika manusia masih menjadi hamba dosa yang hanya akan memercayai iblis, bapa segala dusta. 

Penulis menyorot 2 trend yang ada di masyarakat berkaitan dengan mitos kedua ini: cancel culture dan social justice warrior. Keduanya dapat muncul sebagai usaha-usaha untuk membenarkan diri sendiri atau sekelompok orang berdasarkan pada kebenaran subjektif, bukan kebenaran mutlak di dalam Alkitab. Sehingga semua orang tanpa terkecuali, apa pun agamanya, dapat terjebak dalam kesalahan-kesalahan trend tersebut. 

Manusia kerapkali menjadikan opini publik sebagai legitimasi atas perlakuannya terhadap seseorang maupun sekelompok orang. Itulah mengapa muncul budaya ‘cancel’. Terlepas perlu diujinya opini publik itu, yang namanya sudah membudaya, artinya hal itu sudah mempersempit ruang untuk mendengar dan memaafkan serta memberi kesempatan kedua kepada orang-orang yang cancelled. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan prinsip kebenaran mutlak di dalam firman Allah. Sementara itu, social justice yang dimengerti oleh dunia ini adalah kerapkali adalah upaya untuk menyamakan hasil akhir dari sesuatu, bukan menyamakan kesempatan menuju ke sana. Sehingga upaya-upaya menegakkan keadilan yang seperti ini malah akan sangat rentan terhadap ketidakadilan bagi pihak lain yang tidak diperjuangkan.

While most people build their value system based on what feels good and what’s convenient, Christians are called to a higher standard—one that guarantees self-denial and difficulty. That means there will always be tension between us and the world. That’s good. We’re supposed to be uncomfortable here. This isn’t our home; heaven is. And as we work to ensure that God’s will is done “on earth as it is in heaven,” we can expect pushback and persecution.

The toxic culture of self-love tells us that we are “enough” to determine our own truths. But as we’ve discussed, this just leads to unsustainable confusion. It’s not our or society’s truth that matters, it’s God’s. That’s because he’s perfect, and we’re not.

Allie Beth Stuckey

Mitos #3: You’re Perfect the Way You Are

Penulis membuka penjelasannya terkait mitos ke-3 ini dengan mengungkapkan paradoks perfeksionisme. Apa maksudnya? Mirip dengan apa yang sudah diutarakannya di mitos pertama tentang siklus meletihkan dari ‘self-love’, kali ini dia menjelaskan bahwa perempuan, khususnya, seringkali terjebak di dalam paradoks perfeksionisme. Maksudnya, para perempuan terbiasa mendengar dan percaya bahwa mereka sempurna apa adanya, namun di saat bersamaan ada sesuatu lain yang perlu mereka lakukan atau miliki untuk membuat mereka sempurna. Untuk mendukung hal tersebut, penulis mengutip perkataan seorang penulis buku bernama Jon Sincero: who you are on the inside—who you really are— is perfect. And all you have to do is manifest that perfection, and you’ll be happy, successful, and whole. 

Menurut penulis, yang memotivasi paradoks ini ialah adanya filosofi yang memandang bahwa self-discovery adalah jalan untuk menerima diri sendiri atau aktualisasi dari kesempurnaan manusia. Berdasarkan perspektif seperti ini, manusia dibuat percaya bahwa sebetulnya mereka tidak memiliki kekurangan apa pun, yang ada hanyalah kualitas-kualitas yang kurang dihargai sebelumnya. 

Kalimat seperti “you’re perfect the way you are” membuat kita menerima bagian-bagian diri kita yang sebenarnya harus kita tolak. Ini juga membiasakan kita membuat excuses pada hal-hal yang seharusnya kita tinggalkan dan menolak bertobat atas hal tersebut. Budaya ‘self-love’ dengan mengatakan bahwa manusia sempurna apa adanya ini adalah budaya yang toxic dan hanya akan memberikan kesenangan sementara. Kita merasa tidak ada yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan ditinggalkan. 

Penulis mengarahkan pembaca untuk melihat kepada firman Allah yang menyatakan bahwa di dalam Alkitab hanya ada 2 jenis kepribadian: manusia lama dan manusia baru. Manusia lama diperbudak dosa, mencari cinta dan kepuasan di tempat-tempat yang salah, musuh Allah, dan memerlukan penebus. Manusia baru ialah pribadi yang telah ditebus melalui pengorbanan Kristus dan dengan demikian bebas dari ikatan dan belenggu dosa. Manusia baru ialah mereka yang diperdamaikan dengan Allah dan dibenarkan di hadapan-Nya, untuk selama-lamanya. 

Sehingga jika kita adalah orang-orang percaya, maka perlu bagi kita untuk menyadari kepribadian diri seperti apa yang seharusnya kita rindukan untuk terwujud: yaitu manusia yang hidupnya semakin sesuai dengan panggilan Injil. Allah memiliki rencana bagi kita: pengudusan kita. Untuk mencapai itu kita perlu taat pada kehendak Allah dan memandangnya sebagai ‘batasan’ yang akan membawa kebaikan bagi kita–ditetapkan oleh Bapa yang mengasihi kita. The true self is the person God calls us to be. 

Di saat bersamaan, Alkitab juga tetap mengajarkan, karena itu, setiap manusia baru seharusnya memerhatikan bagaimana dia hidup dan melakukan hal-hal yang secara praktis adalah keputusan-keputusan bijaksana yang akan sangat berguna bagi hidupnya dan memuliakan Allah. Namun itu bukan berarti menjamin apa yang dunia maksud sebagai ‘our best life’. Itu adalah buah dari ketaatan kita sebagai manusia baru, bukan manifestasi dari our best self.

Salah satu hal menarik di dalam bab ke-3 ini ialah pendapat penulis tentang Enneagram Personality Type. Penulis sangat tegas mengatakan bahwa ini tidak alkitabiah sama sekali. Enneagram test di dalam lingkungan orang Kristen ini bermula dari ide untuk melihat kehidupan Yesus dan menemukan ada 9 sisi di dalam diri Yesus Kristus. Penulis mengatakan ide bahwa Allah, sang Pencipta ini, dibatasi oleh 9 tipe kepribadian buatan manusia adalah sangat konyol dan suatu bentuk penghujatan. Dia menambahkan bahwa enneagram bukanlah sumber pengetahuan kita tentang Allah, melainkan firman-Nya. Introspeksi, seperti yang muncul di dalam praktik enneagram ini, bukanlah jalan yang harus kita tempuh kepada pengudusan. Itu adalah suatu peninggalan dari filosofi New Age. 

Selain itu, penulis juga menambahkan bahwa seseorang bernama Oscar Ichaso dan muridnya, Claudio Naranjo, mengembangkan ide tentang kepribadian berdasarkan enneagram ini yang dipandang sebagai alat untuk menganalisis kepribadian dengan tujuan untuk menolong observasi terhadap diri sendiri dan menghadapi penderitaan. Ichaso mengklaim bahwa enneagram ini dinyatakan kepadanya oleh “Metatron, pangeran dari malaikat agung”, ketika dia sedang kesurupan. Murid-murid Naranjolah yang kemudian membawa enneagram ini ke komunitas Katolik dan masih dipromosikan saat ini di gereja-gereja Katolik, demikian juga di tengah-tengah orang Kristen injili.

As it turns out, the Enneagram is a relic of New Age philosophy. It was first made known by the early twentieth-century Russian-Armenian mystic philosopher and occultist George Gurdjieff, who believed that humans exist in what he called “waking sleep,” and that they can awaken the true, full self by learning the discipline of uniting body, mind, and spirit to achieve a higher consciousness.

Allie Beth Stuckey

Jujur jika ini benar, maka saya adalah orang yang paling perlu bertobat. Sebab saya pernah memberikan teman-teman saya buku ‘rohani’ dari toko buku ‘rohani Kristen’ yang mempromosikan buku tentang enneagram ini. Sebetulnya saya tidak tahu bahwa ada sejarah seperti ini di balik tes kepribadian menggunakan enneagram. Saya juga tidak cari tahu apa tipe saya. Saya sudah lama tidak peduli dengan tes-tes kepribadian seperti ini, seperti MBTI, enneagram, dan satu tes lain yang pernah saya ikuti namun saya lupa namanya. 

Menurut saya, jalan menemukan siapa diri ini dan harus seperti apa diri ini cukup dengan mengenal Sang Pencipta dan kehendak-kehendak-Nya. Tentu ini saya yakini setelah beberapa kejenuhan saya terhadap penemuan-penemuan akan diri yang sepertinya semakin membuat saya fokus pada diri sendiri dan bukan pada Allah serta kehendak-Nya. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh penulis di dalam bagian ini: 

To constantly focus on our unique attributes is to totally miss the point of what God calls us to do. God calls each of us not to be our “best selves,” but to be filled with the fruit of the spirit, which, according to Galatians, is made up of love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, and self-control. We are called to embody all of these qualities, not only the ones that come naturally to us. No matter how much we introspect, we will never find our good and perfect selves, because they don’t exist.

The call for Christians is not to be the best version of their personality type, but to be like Christ. No matter what our natural inclinations, strengths, or deficits may be, we are all called to live holy lives. We are all to repent sin. We are all to be obedient. No quirk or characteristic makes us exempt from the standards God has set for us.

Allie Beth Stuckey

Kecuali manusia menyadari bahwa alasan keberhargaan dirinya ialah karena Allah menciptakan mereka dan mengutus Kristus untuk mati bagi mereka, manusia akan terus-menerus berlari di lintasan menuju kesempurnaan yang semu. 

Namun menurut saya penulis terlalu ekstrem dengan berkata bahwa manusia tidak dipanggil untuk introspeksi diri. Karena pemazmur sendiri melakukan hal tersebut. Pemazmur meminta agar Allah menyelidiki hatinya. Inilah cara yang tepat untuk introspeksi diri di dalam kekristenan: melakukannya di dalam kebergantungan kepada Allah.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:23-24)

Ketika kita melihat ke dalam diri kita sendiri, kita menemukan diri kita yang tidak sanggup tanpa Penciptanya. Identitas, signifikansi, serta kepercayaan diri kita bukan datang dari apa yang kita lihat di depan cermin atau apa yang kita temukan di media sosial kebanyakan, melainkan dari Allah yang berkata bahwa kita adalah ciptaan-Nya yang berharga. 

Mitos #4: You’re Entitled to Your Dreams

Mitos ke-4 karena budaya ‘self-love’ ialah manusia dibuat percaya bahwa mereka berhak atas mimpi-mimpi mereka. Mereka yang percaya pada mitos ini merasa tidak perlu terlalu bekerja keras dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai cita-citanya. Berkaitan dengan mitos sebelumnya, karena mereka merasa mereka sempurna apa adanya, mereka tinggal ikuti kata hatinya dan terapkan saja ‘kebenaran-kebenaran subjektif’ yang menyukakan telinga mereka. 

Penulis menceritakan bahwa dia mengalami sendiri bahwa dia tidak berhak atas mimpi-mimpinya. Dia merasa dia sangat baik di bidang yang ditekuninya di pekerjaan tetapi itu bahkan tidak cukup untuk menjamin kesuksesannya di bidang tersebut. Sebelumnya dia berpikir bahwa kesuksesan itu terjadi begitu saja dan dengan cara itu dia akan merasa puas atas pekerjaannya. “I thought I was enough to get what I wanted on my own terms, on my own timeline”, katanya. 

Penulis menegaskan beberapa hal penting terkait hal ini berdasarkan firman Allah:

  1. Tidak terlalu penting apakah pekerjaan tersebut ‘bermakna’–jika dimengerti sebagai sesuatu yang dilakukan karena itulah impian kita. Pekerjaan yang baik ialah pekerjaan yang dilakukan untuk Allah dan untuk sesama, memenuhi apa yang menjadi kebutuhan sesama. Dia berkata bahwa dia tidak harus menyukai atau mencintai pekerjaannya untuk menjadikan pekerjaan tersebut baik dan penting. 

Colossians 3:23 says, “Whatever you do, work heartily, as for the Lord and not for man.” We don’t have to have the perfect job to glorify God with our work.

The work that honors him only has to meet three qualifications: it’s done well, it meets a real need, and it contributes to the good of those around us.

Allie Beth Stuckey
  1. Bekerja itu sendiri adalah berkat dan baik adanya karena itulah panggilan Allah untuk manusia pertama di dalam rancangan penciptaan-Nya (Kejadian 2:15). Dosa yang ada dan merusak dunia membuat manusia dipanggil untuk bekerja tetapi tidak dijamin untuk sukses melaluinya. Budaya ‘self-love’ yang ada saat ini membawa manusia kepada 2 ekstrem yang berbahaya. Pertama, bahwa mereka tidak butuh bekerja untuk memiliki hidup yang bermakna. Kedua, pekerjaan kita ialah identitas kita. Sementara firman Allah mengatakan yang berbeda sama sekali: bekerja itu penting, tetapi itu tidak akan pernah cukup untuk memuaskan kita. 

You—your talents, your goal-reaching abilities, your dreams—still aren’t enough. If your plan is to make your success your identity, you’ll end up empty. No person and no role can replace the longing our Creator alone can meet.

Allie Beth Stuckey

Allah yang berdaulat atas hidup manusia berkata bahwa pekerjaan hadir untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan manusia. Selain itu Ia juga menjamin bahwa meskipun pekerjaan kita tidak selalu berhasil atau mencapai kesuksesannya, Dia tetap setia. Dia tidak berjanji bahwa seluruh impian kita akan menjadi kenyataan atau setiap target kita akan tercapai, tetapi dia tetap meminta agar kita taat kepada-Nya dan memberikan yang terbaik di dalam pekerjaan tersebut. Sekalipun itu bukanlah dream job kita. Apapun itu, kita bisa tenang karena kita tahu bahwa kita sanggup melakukan tujuan kita untuk memuliakan Allah melalui setiap peran yang dipercayakan kepada kita di pekerjaan.

Mitos #5: You can’t love others until you love yourself

Mitos ke-5 sekaligus terakhir dari buku ini akibat budaya ‘self-love’ ialah adanya ide bahwa manusia tidak dapat mengasihi orang lain sebelum ia mengasihi dirinya sendiri. Mitos yang beredar ialah bahwa mengasihi diri sendiri merupakan sebuah prerequisite atau prasyarat untuk bisa mengasihi orang-orang di sekitar kita. Menurut penulis, hal ini akan membuat excuse yang baik untuk manusia yang ingin fokus ke dirinya sendiri daripada melihat kebutuhan sesamanya di sekitar. Apalagi jika mereka mengklaim tindakannya tersebut dengan merujuk pada ajaran Yesus Kristus untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. 

Dia mengusulkan ide lain yang lebih baik daripada self-love yaitu ‘self-forgetfulness’. Dia menggunakan buku Timothy Keller berjudul The Freedom of Self Forgetfulness: The Path to True Christian Joy untuk mendukung argumennya. 

In this short and punchy book, best-selling author Timothy Keller, shows that gospel humility means we can stop connecting every experience, every conversation with ourselves and can thus be free from self condemnation. A truly gospel humble person is not a self-hating person or a self-loving person, but a self-forgetful person.

Amazon

Sementara itu, menurut saya, tetaplah penting bagi manusia untuk (belajar) mengasihi dirinya sendiri. Amsal 19:8 berkata, “Siapa memperoleh akal budi, mengasihi dirinya; siapa berpegang pada pengertian, mendapat kebahagiaan.” New English Translations memberi keterangan untuk ‘mengasihi dirinya’ ini sebagai bentuk bahwa dia memerhatikan kebutuhan-kebutuhannya dan mengurus hidupnya sendiri. Selain itu, orang yang mengasihi dirinya berarti menganggap dirinya adalah ‘his/her own best friend’–dalam pengertian karena dialah yang paling mengerti apa yang tepat dilakukannya atas hidupnya. Karena itu, mengasihi diri sendiri di dalam konteks ayat tersebut berkaitan dengan hikmat. Hanya mereka yang memiliki hikmatlah yang sanggup mengasihi dirinya dengan benar.  

Bicara hikmat, tidak mungkin dipisahkan dari takut akan Allah, karena itulah permulaan hikmat dan pengetahuan. Sehingga jika pengertian untuk mengasihi diri sendiri bukan lahir dari hikmat yang seperti ini, sudah pasti itu adalah bentuk-bentuk lain dari keegoisan. 

Takut akan Allah ditunjukkan dengan hidup yang tunduk kepada Kristus, Raja segala raja. Di dalam kerendahan hati dan penyerahan diri seperti inilah kita memahami perintah untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Yesus Kristus, melalui perintah tersebut, mengasumsikan pendengarnya sebagai orang-orang yang mengasihi diri sendiri. Karena itu, sebagaimana mereka mengasihi dirinya, kasihilah sesama yang lain. 

Contoh paling baik untuk menjelaskan bagaimana mengasihi sesama seperti diri sendiri dapat kita lihat di dalam Lukas 10:25-37 tentang orang Samaria yang baik hati. Di dalam perikop ini Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang bertanya untuk membenarkan dirinya setelah Yesus berkata, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” “Siapa sesamaku manusia?”, tanya ahli Taurat itu. Kemudian Yesus menjawab melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Poin dari perumpamaan itu adalah Yesus ingin menunjukkan bahwa mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah seperti orang Samaria yang digerakkan oleh belas kasih untuk menolong orang yang sudah setengah mati setelah dirampok dan dipukul habis-habisan oleh para penyamun. Dia membalut luka-lukanya sesudah menyiramnya dengan minyak dan anggur, menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Bahkan menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan untuk merawat orang tersebut. Kalau dua dinar itu kurang, ia berjanji akan menggantinya ketika ia kembali. Di dalam perumpamaan tersebut, Yesus bertanya kepada ahli Taurat itu, “menurut pendapatmu, siapakah di antara imam, orang Lewi, dan orang Samaria ini yang merupakan sesama manusia dari orang yang jatuh itu?” Dan ia pun menjawab, “orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kemudian Yesus berkata, “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan juga. Namun dosa telah merusak kesadaran itu, sehingga bahkan kita pun bisa saja menginginkan yang buruk terhadap diri kita sendiri. Banyak orang bahkan bunuh diri untuk menghilangkan rasa sakit di dalam hidupnya dan bayangkan jika itu dijadikannya ukuran yang baik untuk memperlakukan orang. Mungkin bunuh diri akan menjadi hal yang lumrah. Karena itu, asumsi Yesus bahwa manusia memiliki kesadaran untuk melakukan yang baik bagi dirinya perlu diterangi oleh Injil keselamatan.

Yesus Kristus telah menunjukkan bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan orang lain. Ia datang untuk melayani, bukan dilayani. Memberitakan kabar keselamatan ialah misi- Nya karena manusia akan binasa oleh dosanya, tanpa iman kepada Kristus. Kasih kepada sesama ditunjukkan-Nya bahkan dengan tidak menyayangkan Diri-Nya sendiri, ketika memang itulah yang harus Ia lakukan agar manusia yang percaya beroleh selamat. Tidak terpikir bagaimana jika Yesus memakai pengertian self-love seperti yang kita miliki di Instagram. Tidak terpikir bagaimana jika Yesus sangat menyayangkan Diri-Nya bahkan nyawa-Nya, dan tidak taat sampai mati di kayu salib demi keselamatan kamu dan saya.

Dengan demikian, menurut saya, pengertian ‘self-love’ yang ada saat ini sangat jauh dari apa yang seharusnya kita perjuangkan yakni: sacrificial-love. Kasih yang rela berkorban. Tuhan Yesus telah menunjukkannya bagi kita. Kita tidak perlu mencari sumber lain untuk mengerti bagaimana kita seharusnya memandang nilai diri kita. Harga yang dibayar untuk menebus kita dari dosa tidak sanggup diganti dengan timbunan emas, perak, atau apapun. Sebab kita ditebus oleh darah Kristus yang mahal dan tidak ternilai harganya. Dengan begitu, kamu tidak perlu kuatir akan kekurangan kasih untuk dirimu sehingga harus melakukan ini dan itu dalam upaya-upaya self-love yang keliru. Kamu diterima dan dikasihi oleh Allah di dalam Kristus. Namun Dia tidak ingin kita berhenti di sana. Dia ingin kita hidup mengasihi Dia dan sesama kita.

Rasul Paulus berkata di dalam Filipi 2:3. “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji- pujian yang sia-sia. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri tetapi kepentingan orang lain juga.”

Murid-murid Kristus dipanggil untuk mengutamakan sesamanya dengan tidak mencari kepentingan diri yang berujung pada puji-pujian yang sia-sia. Sebab self-love sering menjadi alasan kita tidak melayani dengan lebih giat, tidak berjuang lebih keras dalam mengasihi sesama. Karena self-love, kita lebih mengutamakan tidur-tiduran daripada membantu orang tua di rumah atau mempersiapkan pelayanan/pekerjaan dengan baik. Atau, justru self-love menjadi kamuflase untuk self-actualization ketika kita berada di pelayanan atau kegiatan-kegiatan/aktivitas sosial. Kita menjadikan pelayanan rohani dan kegiatan sosial sebagai sarana untuk menutupi insecurities kita atas nama self-love, tapi sebetulnya kita tidak sedang sungguh-sungguh melayani orang lain di sana.

Seperti Kristus yang mengasihi kita bahkan dengan tidak menyayangkan nyawa-Nya sendiri, demikian kita dipanggil untuk mengasihi sesama kita—bahkan jika nyawa pun menjadi taruhannya. Tentu ini adalah standar kasih yang jauh lebih tinggi dari pada apa pun yang pernah dirumuskan manusia. Apakah berat? Tentu. Apakah mustahil? Tidak. 

Sejarah kekristenan telah mencatatkan ada banyak sekali kesaksian bahwa para rasul pun telah hidup dalam sacrificial-love; kasih yang rela berkorban. Hidup di dalam belas kasih yang sangat dalam kepada sesamanya manusia, sampai-sampai kematian pun rela mereka hadapi, karena betapa besarnya kasih yang Kristus sudah berikan kepada mereka. Bagi para rasul yang mati sebagai martir, hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Inilah ajaran yang sangat mengakar kuat di dalam kekristenan. Sayangnya kita sering mengabaikannya atau bahkan memolesnya agar lebih nyaman untuk kita dengar. Kita bersembunyi di balik alasan “aku belum bisa mengasihi diriku, bagaimana bisa aku mengasihi orang lain?”, atau “aku belum bisa mengurus diriku, bagaimana bisa aku mengurus orang lain?”

Banyak orang tidak mau terlibat terlalu dalam di persekutuan/gereja karena merasa belum cukup baik untuk mengurus diri sendiri. Tentu, kita perlu diperlengkapi, perlu belajar, perlu berlatih, perlu hikmat bagaimana menjadi ‘sahabat terbaik’ diri kita sendiri. Namun bukan berarti kita menjadikan alasan ketidaksanggupan diri untuk lari dari panggilan Allah demi kasih dan pelayanan terhadap sesama kita. Mari kita ingat kembali, perintahnya ialah, “kasihilah sesamammu” bukan “kasihilah dirimu sendiri”. Untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, Kristus telah menunjukkan kepada kita ukuran belas kasih terbesar yang pernah ada di dunia. Dengan demikian, mintalah kekuatan dan pertolongan dari-Nya agar dimampukan hidup mengasihi sesama sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Jika mengasihi sesama dipandang sebagai sesuatu yang hanya dapat dilakukan sesudah kita merasa mengasihi diri sendiri maka ada 3 hal yang terjadi: kita tidak taat kepada Allah dengan menolak kebutuhan sesama, sesama kita terlantar di tengah kehadiran kita, dan ketiga, kita melewatkan pengalaman-pengalaman yang akan membawa kita semakin serupa dengan Kristus. 

Anytime we deny our own wants, needs, and priorities to show kindness and share Christ with someone else, we glorify God. And not only do we not have to wait until we’ve accomplished self-love to do it, helping others even when we feel our worst fosters a joy that self-absorption can’t give.

It is through the self-forgetfulness found in Christ and the humility of following his commands that we find life—nowhere else. When we recognize him as God, removing ourselves from the center, we find the “enoughness” we’ve been craving.

Allie Beth Stuckey

Demikianlah komentar ini saya tulis dengan cara saksama dan dalam tempo yang tidak singkat sama sekali. Semoga memberi insight bagi para pembaca budiman. Segala kemuliaan bagi Tuhan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s