Menuju 29 di 1-9

Rasanya lega memasuki tahun ke-29 di bumi tanpa beban yang tidak perlu. Bukan karena nggak ada yang membebani, tetapi kurasa aku udah lebih ngerti gimana menghadapinya. Entah kenapa, hatiku sangat tenang dan damai sejahtera menjalani hari setelah 28 tahun sudah berkutat dengan berbagai disintegrasi ekspektasi dan realitas. Sampai rasanya, nggak akan terlalu banyak lagi hal yang bisa bikin aku kaget setelah ini.

Aku sudah terbiasa mengalami banyak hal dan aku nggak mau mundur lagi. Karena aku harus siap menghadapi beberapa hal yang baru nantinya.

Slow response chats tidak lagi menggangguku. Short response chats sudah biasa. Tidak diperlakukan sama seperti yang kulakukan terhadap seseorang tidak membuatku kenapa-kenapa lagi. Dianggap mengecewakan tidak lagi menghancurkanku. Tidak diingat perbuatan-perbuatan baiknya tidak lagi membuatku bingung.

Dilupakan tidak lagi membuatku kesal.

Aku tidak berharap apa-apa lagi dari orang lain. Tidak ada lagi hal signifikan yang kugantungkan pada siapapun saat ini. Aku tidak berharap disukai. Aku tidak berharap dikagumi. Pujian tidak lagi membuatku berbunga-bunga. Semua itu hanya sementara. Bahkan, beberapa kali aku berharap dianggap bodoh, untuk tahu rasanya diremehkan. Supaya aku tidak meremehkan siapapun.

Aku tidak merasa perlu membuktikan apa-apa. Aku hanya berusaha sekuat tenaga. Aku tidak selalu termotivasi, tidak selalu bersemangat. Tetapi aku nggak merasa itu hal yang terlalu pelik.

Hidup masih seperti semangkuk sup panas dan aku masih seperti sebuah garpu.

Bekerja tetaplah sulit, tetapi itu tidak lagi mengejutkanku. Berelasi dengan manusia adalah menabung risiko dan potensi sakit hati, tetapi aku nggak peduli lagi. Semua sakit hati itu pun hanya sementara. Untuk apa dijadikan beban seolah selamanya?

28 tahun ini adalah perjuanganku menghadapi diri sendiri. Ternyata memang seperti itu adanya. Aku sangat bahagia ada di titik ini. Anehnya, bukan karena apa yang ada padaku, melainkan karena apa yang kini tidak ada lagi padaku, karena ada yang tahu, itu tidak perlu.

Yang kusebut berkat ialah ketika aku tidak memiliki apa yang tidak perlu itu.

Sehingga, kurasa perjalanan ke depan akan lebih tentang membuang terus apa yang tidak perlu; hal-hal buatan sendiri yang membebani. Biarlah yang terus dikejar ialah apa yang tidak akan sementara.

I want to celebrate every opportunity light-heartedly.

P.S.:

Happy birthday too, Jeon Jungkook! What an unexpected journey of knowing someone who lives his life so genuinely like you. The idea you constantly give about how someone should BE really inspires me. I’m still processing how I become so sure about my admiration (not romantically) toward someone I barely know. But, it’s something wonderful about human connection, isn’t it?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s