#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – #1

Konsep keadilan yang murah hati seperti yang diulas di dalam buku ini merupakan hal yang tidak terlalu asing, namun juga tidak terlalu familiar dengan pemikiran saya. Karena tampaknya natur dari kata ‘adil’ dan ‘murah hati’ sedikit bertentangan. Jika ‘adil’ adalah seorang manusia, maka saya akan langsung berimajinasi bahwa dia adalah sosok yang kaku, sedikit kejam, dan suka mengernyitkan dahi. Sebaliknya, si ‘murah hati’ adalah dia yang selalu tersenyum dan tidak pernah marah kepada dunia sekalipun kelingking kakinya kepentok kaki meja. Mereka bagaikan 2 orang yang aneh jika ditemukan berjalan dan tertawa bersama. 

Belum lagi kalau membaca tulisan-tulisan filsuf ternama. Keadilan adalah sesuatu yang abstrak bagi kebanyakan orang. Konon lagi ingin disandingkan dengan kemurahan hati. Namun, sebagai seseorang yang perlu berpihak dan menentukan sikap, maka saya memutuskan untuk membaca buku ini dan (mencoba) menuangkan apa yang menurut saya patut dipikirkan lebih lanjut. 

Ada empat kategori pembaca yang disasar oleh penulis:

  1. Orang-orang yang menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap isu keadilan, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi kehidupan pribadi mereka, seperti penggunaan uang, memilih karir, hidup bersesama, dan termasuk, siapa yang mereka cari sebagai teman. Menurut penulis, orang-orang di dalam kategori ini belum memiliki motivasi yang diperlukan untuk mendorongnya konsisten dalam antusiasme terhadap isu-isu keadilan di sekitarnya. 
  2. Orang-orang yang melihat usaha-usaha untuk mewujudkan keadilan dengan penuh kecurigaan. 
  3. Orang-orang yang berpikir bahwa perubahan pendekatan terhadap doktrin-doktrin agama diperlukan jika manusia ingin terlibat di dalam penegakan keadilan.
  4. Orang-orang yang menganggap agama menjadi racun bagi segala sesuatu, terutama agama Kristen. Orang-orang di kategori ini biasanya menganggap bahwa agamalah yang justru menyebabkan maraknya ketidakadilan dan kekerasan di dunia ini.

Keempat kategori ini sebetulnya memiliki kesamaan, yakni, sama-sama gagal pada level tertentu untuk melihat bahwa ada suatu peristiwa historis yang memiliki daya luar biasa untuk mendorong seseorang (yang percaya pada peristiwa tersebut) begitu bergairah untuk mewujudkan keadilan di dunia ini, yakni karya keselamatan kekal melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. 

Penulis juga menegaskan bahwa Alkitab ialah buku yang sangat berkomitmen bagi penegakan keadilan di tengah dunia ini, dari awal sampai akhir. Alkitab tidak hanya memberikan pembacanya panggilan untuk peduli terhadap keadilan, melainkan juga memberikan segala yang diperlukan untuk mewujudkannya: motivasi, tuntunan, sukacita, dan kuasa. Ternyata, dibutuhkan sukacita untuk konsisten mewujudkan kehidupan yang adil. 

Penulis juga menjelaskan bahwa ada pengalaman pribadi yang membuatnya telah sangat serius mempelajari isu keadilan dan bahkan menuliskannya menjadi sebuah buku. Ia pernah menjauhi seorang teman yang menurutnya sangat miskin—kemiskinan yang tidak dapat didefinisikan atau dikategorikan—saking miskinnya. Hal tersebut dilakukannya karena ia tidak ingin diasosiasikan terhadap temannya itu. Di saat yang bersamaan, penulis juga ingin meningkatkan statusnya di tengah pergaulan. Beranjak dewasa, penulis juga menyaksikan kekerasan sistematis yang dilakukan oleh orang-orang berkulit putih terhadap ras kulit hitam di sekitarnya. Persoalannya, meskipun penulis dibesarkan secara ‘Kristen’, tetapi kekristenan kehilangan daya tariknya karena justru orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristuslah yang lebih passionate terhadap isu-isu keadilan yang ditemukan oleh penulis. Gereja ortodoks malah menganggap bahwa terlalu berharga energi yang dibuang untuk membahas isu-isu keadilan semacam itu. Bahkan, tokoh seperti Martin Luther King, Jr. pun dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat oleh gereja-gereja tersebut. 

Ketika penulis berkuliah, ia bertemu dengan sekelompok orang yang sangat bersemangat mengintegrasikan iman mereka dengan upaya-upaya untuk mewujudkan keadilan. Mereka berada pada suatu kelompok studi Alkitab di kampus. Ketika baru bergabung dengan kelompok tersebut, penulis hanya semacam memasukkan pemahamannya tentang keadilan dan menambahkannya kepada teologi yang dimilikinya. Barulah beberapa waktu kemudian penulis menyadari bahwa Alkitablah yang menyediakan dasar-dasar utama yang penting untuk mewujudkan keadilan. Contoh, kisah penciptaan di Alkitab merupakan ide awal dari hak asasi manusia di Barat, tulisan-tulisan nubuatan di dalam kitab nabi-nabi menggaungkan dengan jelas panggilan untuk melakukan keadilan. Bahkan, Civil Rights Movement pada tahun 1950-1960-an jauh lebih didasarkan pada pandangan kekristenan terhadap dosa dan keselamatan daripada pandangan sekularisme. 

Menurut pengamatan dan kesaksian yang didengarnya, orang-orang yang betul-betul mengalami dan meyakini karya keselamatan oleh Injil Yesus Kristus sebagai anugerah di dalam hidupnya adalah mereka yang paling sensitif terhadap ketidaksetaraan di sekitar mereka.

“I have observed over the decades that when people see the beauty of God’s grace in Christ, it leads them powerfully toward justice.” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s