#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Apa yang Dimaksud dengan Keadilan? #2

Tidak seperti kelas filsafat hukum semasa kuliah dulu, buku ini langsung menegaskan apa yang dimaksud dengan ‘melakukan keadilan’. Justice is care for the vulnerable (keadilan adalah kepedulian terhadap mereka yang rentan). Itulah arti keadilan yang disimpulkan oleh penulis berdasarkan Mikha 6:8 yang berbunyi, 

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Bagi penulis, ayat ini menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara hidup yang mengenal Allah dan perjuangan untuk mewujudkan keadilan. Keterkaitan seperti itulah yang dikehendaki Yang Mahakuasa untuk dialami dan dilakukan oleh manusia. 

Di dalam Bahasa Inggris, ayat ini berbunyi demikian, 

“He has shown you, O mortal, what is good. 

And what does the Lord require of you? 

To act justly and to love mercy 

and to walk humbly with your God.

Kata ‘mercy’ di dalam Bahasa Ibrani adalah ‘chesedh’ yang artinya kasih karunia dan belas kasih Allah yang tanpa syarat. Sedangkan ‘justice’ atau ‘mishpat’ adalah memperlakukan setiap orang dengan setara atau memberikan apa yang harus diterima oleh seseorang; apakah itu hukuman ataukah perlindungan dan kepedulian.

Sehingga, untuk hidup di hadapan Allah, seseorang seharusnya merupakan pribadi yang berjuang untuk keadilan yang didorong oleh kemurahan hati Allah di dalam hidupnya. 

“To walk with God, then, we must do justice, out of merciful love.” 

Yang menarik dari hal ini, penulis langsung mengajak pembaca fokus kepada siapa yang kemudian menjadi sasaran perhatian jika mereka memang ingin memperjuangkan keadilan. Sasarannya adalah janda-janda, anak yatim, imigran, dan orang-orang miskin. Merekalah yang sering disebut sebagai ‘the quartet of the vulnerable’. 

Alkitab menunjukkan bahwa keadilan seringkali diuji atau dievaluasi dari bagaimana cara seseorang dan masyarakat dalam memperlakukan kelompok rentan tersebut. Di dalam buku ini, penulis lebih fokus kepada orang-orang miskin sebagai sasaran perhatian pembaca. Karena itu, absennya kepedulian atas kebutuhan dan kepentingan mereka bukan sekadar berarti kurangnya belas kasihan, melainkan suatu perkosaan terhadap keadilan. Sebab Alkitab menyatakan bahwa karena Allah mencintai dan membela mereka yang paling lemah baik secara ekonomi maupun status sosial, manusia pun harus demikian.

 Justice reflects the character of God. He identifies with the powerless, He takes up their cause. He is a God on the side of justice for the poor. 

Karena, di dalam banyak situasi, orang-orang yang paling rentan ditindas oleh penguasa dengan sewenang-wenang ialah mereka yang sejak awal tidak memiliki kekuatan apa-apa, khususnya, karena kemiskinannya. Inilah yang membedakan Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab dengan allah-allah lain di dunia kuno yang mengidentifikasi dirinya dengan kalangan elit, bangsawan, dan penguasa. Sehingga, kalau keadilan adalah refleksi atas karakter Allah, maka siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya. Sedangkan siapa yang menaruh belas kasih kepada orang miskin, memuliakan Dia.

Selain merupakan refleksi atas karakter Allah, keadilan tampak melalui hidup dengan relasi yang benar dengan sesama manusia. Boom! Hidup menjadi manusia yang benar itu tidak sesempit hidup suci dalam disiplin-disiplin rohani saja, melainkan juga bagaimana kehidupan hari lepas hari di mana seseorang berelasi dengan satu sama lain (keluarga, teman, masyarakat) dengan menunjukkan kesetaraan dan kemurahan hati.

Penulis mengambil contoh dari kehidupan Ayub untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang yang benar pada praktiknya (Ayub 29:12-17 dan Ayub 31:13-28). Perbuatan-perbuatan Ayub menunjukkan bahwa dia bukan hanya sekadar memberikan handouts kepada orang-orang yang membutuhkan tentang bagaimana keluar dari situasi mereka. Ayub bahkan menyerahkan dirinya sendiri untuk membawa mereka keluar dari situasi itu. Ayub tidak ingin menganggap bahwa kondisi orang-orang tersebut merupakan hal yang permanen sehingga tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk mereka. Dia betul-betul ingin memenuhi kebutuhan mereka agar mereka tidak lagi berada pada kategori kelompok rentan. 

Itulah ulasan awal penulis untuk menunjukkan bahwa kekristenan sangat mendukung upaya-upaya perwujudan keadilan sosial, lebih dalam daripada konsep apa pun yang dapat dijelaskan oleh doktrin-doktrin lain terkait hal yang sama. 

“The just person lives a life of honesty, equity, and generosity, in every aspect of his/her life.” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s